Anda di halaman 1dari 26

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

Pemahaman terhadap komponen strategi pembelajaran satu persatu


secara persial, merupakan hal yang penting untuk dapat menguasai rangkaian
strategi pembelajaran sebagai satu set yang lengkap (a complet set of startegy)
yang merupakan model pembelajaran yang dapat menghasilkan output/
outcomes yang efektif dan efesien.
Jadi model pembelajaran (intructional model) merupakan 'an integrated
set of strategy components, yaitu : a) cara mengajarkan konsep dan gagasan,
b) cara penggunaan rangkaian teori dan contoh-contoh, c) cara penggunaan
contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari, dan d) cara menggunakan strategi
dalam memotisivasi peserta didik didik.
Model-model pembelajaran dapat dipahami bahkan dikuasai dengan baik
untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Pengajaran yang baik meliputi; a)
bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berpikir dan bagaimana
memotivasi peserta didik program pendidikan kesetaraan. Dengan kata lain,
jika tutor telah menguasai model-model pembelajaran, maka tutor dapat
membantu peserta didik mengenai bagaimana belajar, sehingga akan terbentuk
peserta didik atau warga belajar yang mandiri.
Mengajarkan pada peserta didik, bagaimana belajar merupakan suatu
tujuan pendidikan yang sangat penting dan merupakan tujuan utama
pembelajaran. Sangat ironis apabila kita mengharapkan peserta didik kita
belajar, namun jarang atau tidak sama sekali mengajarkan mereka tentang
bagaimana peserta didik itu belajar. Kita sering mengharapkan peserta didik
kita dapat memecahkan masalah, namun sebaliknya kita tidak pernah
mengajarkan bagaimana tentang pemecahan masalah tersebut.
Penguasaan model-model pembelajaran oleh tutor berdasarkan pada
anggapan bahwa keberhasilan peserta didik sebagian besar bergantung pada
kepandaian tutor membelajarkan peserta didik untuk belajar secara mandiri
dan sekaligus memonitor hasil belajar mereka. Hal tersebut memperkuat alasan
mengapa model-model pembelajaran mutlak mutlak perlu dikuasai secara
khusus oleh masing-masing tutor bidang studi.

PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH


A. Pengertian Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan model pembelajaran
yang mengikuti pola top-down. Pembelajaran yang demikian ini merupakan
implementasi dari teori belajar konstruktivisme. Penerapan pembelajaran
ini adalah memecahkan masalah keseharian (authentik) sehingga peserta
didik sudah dibiasakan dengan situasi nyata sehari-hari.
Selain itu, dengan pembelajaran berdasarkan masalah, tutor dapat
melatih peserta didik untuk menjadi pembelajar mandiri, meniru peran
orang dewasa dan terbiasa memandang suatu masalah dari berbagai sudut
pandang disiplin ilmu yang berbeda.
Pembelajaran Berdasarkan Masalah dikenal melalui berbagai nama
seperti

Pembelajaran

Projek

(Project

Based

Learning),

Pendidikan

Berdasarkan Pengalaman (Experienced Based education), Belajar autentik


(Autentic learning), Pembelajaran Berakar pada kehidupan nyata (Anchored
instruction).
Secara garis besar Pembelajaran Berdasarkan Masalah terdiri dari
menyajikan kepada peserta didik situasi masalah yang autentik dan
bermakna yang dapat memberikan kemudahan kapada mereka untuk
melakukan penyelidikan dan pikiran. Untuk memberi gambaran tentang
konsep ini,
Pada pembelajaran ini tutor melakukan scaffolding, yaitu suatu
kerangka dukungan yang memperkaya pikiran dan pertumbuhan intelektual.
Belajar

memecahkan

masalah

tidak

dapat

terjadi

tanpa

tutor

mengembangkan lingkungan ruang belajar yang memungkinkan terjadinya


pertukaran ide cerita terbuka.
Lingkungan belajar Pembelajaran Berdasarkan Masalah berpusat pada
peserta didik, mendorong peserta didik untuk terbuka dan berfikir bebas.
Seluruh

proses

belajar

mengajar

yang

berorientasi

Pembelajaran

Berdasarkan Masalah adalah membantu peserta didik untuk menjadi


mandiri. Peserta didik yang mandiri (otonom) yang percaya diri pada
keterampilan intelektual mereka sendiri

memerlukan keterlibatan aktif

dalam lingkungan yang berorientasi pada pikiran. Meskipun Pembelajaran


Berdasarkan Masalah memiliki Siklus yang terstruktur dengan tahapan yang

jelas, norma disekitar pembelajaran adalah pikiran terbuka dan bebas


mengemukakan pendapat.
B. Landasan Teoritis Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pembelajaran Berdasarkan Masalah berlandaskan pada psikologi
kognitif. Fokus pengajaran tidak begitu menekankan kepada apa yang
sedang dilakukan peserta didik didik (perilaku peserta didik) melainkan
kepada apa yang mereka pikirkan (kognisi) pada saat mereka melakukan
kegiatan itu. Oleh karena itu peran utama tutor pada PBM (Pembelajaran
Berdasarkan Masalah) adalah membimbing dan memfasilitasi sehingga
peserta didik dapat belajar berpikir dan memecahkan masalah oleh mereka
sendiri.
PBM dilandasi oleh tiga pikiran ahli, yaitu sebagai berikut :
1. John Dewey dan ruang belajar Demokrasi
Akar intelektual pembelajaran PBM adalah penelitian John Dewey.
Dalam tulisannya yang berjudul Demokrasi dan Pendidikan (1916),
Dewey mengemukakan pandangan bahwa satuan pendidikan seharusnya
mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan ruang belajar
merupakan laboratorium untuk pemecahan masalah yang ada dalam
kehidupan nyata. Dewey menganjurkan agar tutor memberi dorongan
kepada

peserta

didik

terlibat

dalam

proyek

atau

tugas-tugas

berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki masalahnya.


2. Bruner dan Pembelajaran Penemuan
Teori pendukung penting yang dikemukakan oleh Bruner terhadap
PBM adalah pembelajaran penemuan. Pembelajaran penemuan adalah
suatu model pengajaran yang menekankan pentingnya membantu
peserta didik didik memahami struktur/ide kunci dari suatu disiplin
ilmu.

Bruner

yakin

pentingnya

peserta

didik

terlibat

didalam

pembelajaran dan dia meyakini bahwa pembelajaran yang terjadi


sebenarnya melalui penemuan pribadi.
Menurut Bruner tujuan pendidikan tidak hanya meningkatkan
banyaknya pengetahuan peserta didik tetapi juga menciptakan
kemungkinan-kemungkinan

untuk

penemuan

peserta

didik.

Pembelajaran ini diterapkan dalam sains dan ilmu sosial, dikenal

dengan penalaran induktif dan proses-proses pikiran yang merupakan


ciri metode ilmiah.
Konsep lain Bruner adalah scaffoding yang didefinisikan sebagai
seseorang peserta didik dibantu menuntaskan masalah tertentu
melampaui kapasitas perkembangannya melalui bantuan dari seorang
tutor atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih.
C. Ciri-Ciri Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Ciri utama Pembelajaran Berdasarkan Masalah meliputi mengorientasikan peserta didik kepada masalah atau pertanyaan yang autentik, multi
disiplin, menuntut kerjasama dalam penyelidikan dan menghasilkan karya.
Dengan demikian secara terinci ciri Pembelajaran Berdasarkan Masalah
adalah :
1. Mengorientasikan peserta didik kepada masalah autentik.
Pada tahap ini tutor menyusun skenario yang dapat menarik
perhatian peserta didik , sekaligus memunculkan pertanyaan yang
benar-benar nyata di lingkungan peserta didik serta dapat diselidiki oleh
peserta didik didik kepada masalah yang autentik ini dapat berupa
cerita, penyajian fenomena tertentu, atau mendemontrasikan suatu
kejadian yang mengundang munculnya permasalahan atau pertanyaan.
Mendemonstrasikan

kejadian-kejadian

yang

memunculkan

konfliks

kognitif diyakini sangat baik untuk mengorientasikan peserta didik


kepada masalah ini.
2. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin.
Meskipun PBM berpusat pada pelajaran tertentu, misalnya biologi,
masalah yang dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya,
peserta didik dapat meninjau dari berbagi mata pelajaran yang lain.
Sebagai contoh masalah polusi pada contoh di atas, mencakup aspek
akademis dan terapan mata pelajaran ekonomi sosiologi, parawisata,
dll. Begitu pula pada masalah menyajikan makanan untuk kakek,
melibatkan biologi, kesehatan, kimia dan sebagainya.
3. Penyelidikan autentik.
Pembelajaran Berdasarkan Masalah mengharuskan peserta didik
melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata
terhadap masalah nyata. Mereka menganalisis dan mendefinisikan

masalah,

menyusun

informasi/data,

hipotesis,

melakukan

merumuskan simpulan.

mengumpulkan

percobaan,

dan

membuat

menganalisis
inferensi

dan

Metode yang digunakan sangat bergantung

kepada masalah yang sedang dipelajari.


4. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya.
Pembelajaran Berdasarkan Masalah menuntut peserta didik untuk
menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artifak
dan memamerkan. Karya tersebut dapat berupa rekaman debat,
laporan, model fisik, video dan program komputer.
D. Tujuan Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pembelajaran Berdasarkan Masalah utamanya dikembangkan untuk
membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan
masalah dan keterampilan intelektual, belajar berbagi peran orang dewasa
dengan melibatkan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi. PBM
juga membuat peserta didik didik menjadi pembelajar yang otonom,
mandiri. Secara terinci tujuan PBM adalah sebagai berikut :
1. Keterampilan

berpikir

dan

keterampilan

memecahkan

masalah.

Kerjasama yang dilakukan dalam PBM, mendorong munculnya berbagi


keterampilan pikiran dan dialog dengan demikian akan berkembang
keterampilan sosial dan berpikir.
2. Permodelan peranan orang dewasa
3. Pembelajar otonom dan mandiri
E. Siklus Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pembelajaran Berdasarkan Masalah terdiri dari lima tahap utama, yang
dimulai dengan tutor mengorientasikan peserta didik kepada situasi masalah
yang autentik dan diakhiri dengan penyajian karya. Jika jangkauan
masalahnya sedang-sedang saja, kelima tahapan tersebut dapat diselesaikan
dalam dua sampai tiga kali pertemuan. Namun masalah yang kompleks
mungkin akan membutuhkan setahun penuh untuk menyelesaikannya.

Siklus Pembelajaran Berdasarkan Masalah


Tahap

Aktivitas Tutor

Tahap-1
Tutor menjelaskan tujuan pembelajaran,
Orientasi peserta didik Menjelaskan
peralatan
yang
dibutuhkan,
kepada masalah
mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita
untuk memunculkan masalah, memotivasi peserta
didik untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang
dipilihnya
Tahap-2
Tutor membantu peserta didik mendefinisikan dan
Mengorganisasi peserta mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan
didik untuk belajar
dengan masalah tersebut
Tahap-3
Membimbing
penyelidikan individual
maupun kelompok

Tutor
mendorong
peserta
didik
untuk
mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan
eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalah

Tahap-4
Tutor membantu peserta didik dalam merencanakan
Mengembangkan dan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan,
menyajikan hasil karya video, dan model dan membantu mereka untuk
berbagi tugas dengan temannya
Tahap-5
Tutor membantu peserta didik untuk melakukan
Menganalisis
dan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka
mengevaluasi
proses dan proses-proses yang mereka gunakan
pemecahan masalah

PEMBELAJARAN LANGSUNG
Materi pengajaran langsung ini merupakan salah satu materi yang
diharapkan dapat menjadi pengayaan bagi tutor pendidikan kesetaraan untuk
menguasai kompetensi dalam perilaku pembelajaran. Salah satu harapan dari
penggunaan model ini, adalah membekali tutor dalam mendemonstrasikan
pengetahuan deklaratif dan prosedural di dalam ruang belajar.
A. Apakah Pengajaran Langsung Itu ?
Tujuan

pembelajaran

dapat

dicapai

melalui

berbagai

model

pengajaran, yang salah satunya adalah model pengajaran langsung atau


Direct Instruction model (Arends,1997). Model ini memfokuskan pada suatu
pendekatan mengajar yang dapat membantu peserta didik mempelajari
keterapilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan
selangkah demi selangkah.
Agar

efektif,

pengajaran

langsung

mensyaratkan

tiap

detail

keterampilan atau sisi informasi didefinisikan secara seksama. Demonstrasi


dan jadwal direncanakan dan dilaksanakan secara seksama. Keterampilan
dasar itu khususnya adalah pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan
tentang bagaimana melakanakakan sesuatu.
Pengetahuan lain yang termasuk dalam keterampilan dasar adalah
pengetahuan deklaratif, yaitu pengetahuan tentang sesuatu. Jadi model
pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan
belajar peserta didik tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan
deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat diajarkan selangkah demi
selangkah. Penekanan pada penguasaan pengetahuan prosedural dan
pengetahuan deklaratif peserta didik daripada penguasaan thinking skills.
Untuk memberikan gambaran bagaimana model pengajaran langsung,
berikut ini contoh rencana pelajaran yang disajikan khusus untuk mengajar
pengetahuan deklaratif dan prosedural dengan menggunakan model ini di
ruang belajar.

B. Contoh Rencana Pelajaran Yang Mengajarkan Pengetahuan Deklaratif


1. Pendahuluan (10 menit)
a. Mengingatkan dan memotivasi dengan menanyakan kembali
pelajaran tentang reproduksi pada hewan invertebrata,
misalnya pada cacing tanah, pertanyaan diarahkan pada
organ-organ apa saja yang digunakan oleh cacing tanah
untuk bereproduksi.
b. Menyampaikan inti tujuan pembelajaran, meliputi produk dan
proses.

2. Inti Pembelajaran (30 menit)


a. Menyajikan informasi kepada peserta didik dengan meminta
peserta
didik
membuka
buku
ajar
lalu
tutor
mendemonstrasikan pengetahuan deklaratif sistem reprodruksi
pada pria langkah demi langkah dan juga fungsi organ pria
langkah demi langkah.
b. Meminta salah satu peserta didik untuk menjelaskan kembali
hal-hal yang telah didemonstrasikan oleh tutor, jika terdapat
kesalahan langsung diberikan umpan balik.
c. Meminta peserta didik untuk mengerjakan LKS tentang organ
reproduksi.
d. Meminta perwakilan peserta didik untuk mempresentasikan
hasil kinerjanya dan langsung diberikan umpan balik.

3. Penutup (5 menit)
Bersama-sama peserta didik merangkum kegiatan hari ini

C. Contoh Rencana Pelajaran Yang Mengajarkan Pengetahuan Prosedural


1. Pendahuluan (10 menit)
a. Memotivasi peserta didik dengan menanyakan kepada
peserta didik beberapa hal:

Apakah kalian sudah melihat mikroskop ?

Apakah kalian sudah dapat menggunakan mikroskop ?


b. Menyampaikan inti tujuan pembelajaran :
Yaitu mendemonstrasikan cara menggunakan mikroskop.

2. Inti Pembelajaran (30 menit)


a. Tutor
mendemonstrasikan
pengetahuan
prosedural
bagaimana cara menggunakan mikroskop yang baik dan
benar.
b. Meminta salah satu peserta didik untuk menjelaskan kembali
hal-hal yang telah didemonstrasikan oleh tutor, jika terdapat
kesalahan langsung diberikan umpan balik.
c. Meminta peserta didik untuk mengerjakan LKS tentang
mengamati sel bawang merah dengan mikroskop.
d. Meminta perwakilan peserta didik untuk mempresentasikan
hasil kinerjanya dan langsung diberikan umpan balik.

3. Penutup (5 menit)
Bersama-sama peserta didik merangkum kegiatan hari ini

Dari rencana pelajaran di atas dapat ditarik kesimpulan ternyata


ada lima fase pada langkah-langkah kegiatan-kegiatan pembelajaran
dengan model Direct Instruction. Langkah- langkah kegiatan atau siklus
model pengajaran langsung dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Siklus Model Pengajaran Langsung
No

Fase

Peran Tutor

1.

Menyampaikan tujuan dan


memper- siapkan peserta
didik didik.

Tutor menjelaskan tujuan,


informasi latar belakang pelajaran,
pentingnya pelajaran,
mempersiapkan untuk belajar.

2.

Mendemonstrasikan
pengetahuan atau
keterampilan.

Tutor mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau


menyajikan informasi tahap demi
tahap.

10

No

Fase

Peran Tutor

3.

Membimbing pembelajaran

Tutor merencanakan dan memberi


bimbingan pembelajaran awal.

4.

Mengecek pemahaman dan Mengecek apakah peserta didik


memberikan umpan balik
telah berhasil melakukan tugas
dengan baik, memberi umpan balik.

5.

Memberikan kesempatan

Tutor mempersiapakan kesempatan


melakukan pembelajaran lanjutan,
dengan perhatian khusus pada
penerapan kepada situasi lebih
kompleks dan kehidupan seharihari.

11

PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Pembelajaran

kooperatif

merupakan

model

pembelajaran

yang

mengutamakan kerjasama di antara peserta didik untuk mencapai tujuan


pembelajaran. Model pengajaran kooperatif memiliki ciri-ciri :
1. Untuk menuntaskan materi belajarnya, peserta didik belajar dalam
kelompok secara kooperatif.
2. Kelompok dibentuk dari peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi,
sedang dan rendah.
3. Jika dalam ruang belajar, terdapat peserta didik yang terdiri dari beberapa
ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar
dalam tiap kelompokpun terdiri dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang
berbeda pula.
4. Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan
Pembelajaran kooperatif diharapkan dapat mengemban tiga tujuan
penting, yaitu:
1. Hasil Belajar Akademik
Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja peserta
didik dalam tugas-tugas akademik. Banyak ahli yang berpendapat bahwa
model kooperatif unggul dalam membantu peserta didik untuk memahami
konsep-konsep yang sulit.
2. Penerimaan Terhadap Keragaman
Model kooperatif bertujuan agar peserta didik dapat menerima temantemannya yang mempunyai berbagai macam perbedaan latar belakang.
Perbedaan tersebut antara lain perbedaan suku, agama, kemampuan
akademik, dan tingkat sosial.
3. Pengembangan Keterampilan Sosial
Model kooperatif bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial
peserta didik. Keterampilan sosial yang dimaksud dalam pembelajaran
kooperatif antara lain adalah: berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai
pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan
ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok, dan sebagainya.
Pada model pembelajaran kooperatif terdapat enam langkah utama,
dimulai dengan langkah tutor menyampaikan tujuan pembelajaran dan
memotivasi peserta didik untuk belajar hingga di akhiri dengan langkah
memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu.

12

Selanjutnya langkah-langkah pembelajaran kooperatif dari awal hingga akhir


dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Fase

Indikator

Aktivitas/Kegiatan Tutor

Menyampaikan tujuan
dan memotivasi
peserta didik

Tutor menyampaikan semua tujuan


pelajaran yang ingin dicapai pada
pelajaran tersebut dan memotivasi
peserta didik belajar.

Menyajikan informasi

Tutor menyajikan informasi kepada


peserta didik dengan jalan
demonstrasi atau lewat bahan
bacaan.

Mengorganisasikan
peserta didik ke dalam
kelompok-kelompok
belajar

Tutor menjelaskan kepada peserta


didik bagaimana caranya
membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok agar
melakukan transisi secara efisien.

Membimbing kelompok
bekerja dan belajar

Tutor
membimbing
kelompokkelompok belajar pada saat mereka
mengerjakan tugas.

Evaluasi

Tutor mengevaluasi hasil belajar


tentang materi yang telah dipelajari
atau masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya.

Memberikan
penghargaan

Tutor mencari cara-cara untuk


menghargai upaya atau hasil belajar
individu maupun kelompok.

Bila diperhatikan langkah-langkah model pengajaran kooperatif pada tabel


di atas maka tampak bahwa proses demokrasi dan peran aktif peserta didik di
ruang belajar sangat menonjol dibandingkan dengan model-model pengajaran
yang lain.
Seperti halnya pada model pengajaran langsung, dalam pengajaran
kooperatif

juga

diperlukan

tugas

perencanaan,

misalnya:

menentukan

pendekatan yang tepat, memilih topik yang sesuai dengan model ini,
pembentukan kelompok peserta didik, menyiapkan LKS atau panduan belajar
peserta didik, mengenalkan peserta didik kepada tugas dan perannya dalam
kelompok, merencanakan waktu dan tempat duduk yang akan digunakan.

13

Seperti telah dikemukakan diatas, salah satu tugas tutor pada model ini
adalah memilih pendekatan yang sesuai. Dalam pembelajaran kooperatif dapat
dilakukan melalui macam-macam pendekatan. Tutor dapat memilih pendekatan
yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Pendekatan-pedekatan pada
model kooperatif yaitu: tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions),
tipe Jigsaw, tipe investigasi kelompok dan tipe pendekatan struktural.
Pada tabel 2 akan ditunjukkan perbandingan diantara keempat pendekatan
tersebut.
Tabel 2.
Perbandingan Empat Pendekatan dalam Pembelajaran Kooperatif.
Pendekatan

STAD

JIGSAW

Kelompok
Penyelidikan

Pendekatan
Struktur

Tujuan
Kognitif

Informasi
akademik
sederhana

Informasi akademik Informasi


sederhana
akademik
tingkat tinggi
dan
keterampilan
inkuiri

Informasi
akademik
sederhana

Tujuan
Sosial

Kerjasama
dalam
kelompok

Kerjasama dalam
kelompok

Kerjasama
dalam
kelompok
kompleks

Keterampilan
kelompok dan
social

Struktur
Kelompok

Kelompok
heterogen
dengan 4-5
orang
anggota

Kelompok
heterogen dengan
5-6 anggota dan
meng-gunakan
kelompok asal dan
ahli

Kelompok
belajar
homogen
dengan 5-6
orang anggota

Bervariasi
berdua,
bertiga,
kelompok
dengan 4-6
orang anggota

14

Pemilihan Topik

Aktivitas

Aktivitas

Tugas Utama

Peserta didik
dapat
menggunakan
LKS dan saling
membantu
untuk
menuntaskan
materi
belajarnya

Peserta didik
mempelajari
materi dalam
kelompok ahli
kemudian
membantu
anggota
kelompok asal
mempelajari
materi itu

Penilaian

Tes mingguan Bervariasi,


misal tes
mingguan

Menyelesaikan Bervariasi
proyek dan
menulis
laporan, dapat
menggunakan
tes essay.

Pengakuan

Lembar
pengakuan
dan publikasi
lain

Lembar
pengakuan
dan publikasi
lain

Publikasi lain

Aktivitas
Peserta didik
menyelesaikan soal
komplek

Aktivitas
Peserta didik
mengerjakan
tugas-tugas
yang diberikan
baik sosial dan
kognitif

Bervariasi

Namun perlu diketahui juga bahwa sebelum pembelajaran kooperatif


dimulai, sebaiknya kepada peserta didik diperkenalkan terlebih dahulu apa itu
pembelajaran

kooperatif

dan

bagaimana

aturan-aturan

yang

harus

diperhatikan. Agar pembelajaran dapat berjalan lancar, sebaiknya kepada


peserta didik diberitahukan petunjuk-petunjuk tentang yang akan dilakukan.
Petunjuk-petunjuk tersebut antara lain :
1. Apa saja yang akan dikerjakan peserta didik dalam kelompok?
2. Batas waktu untuk menyelesaikan tugas.
3. Jadwal pelaksanaan kuis untuk STAD dan Jigsaw.
4. Jadwal presentasi ruang belajar untuk kelompok penyelidikan.
5. Prosedur pemberian nilai penghargaan individu dan kelompok.
6. Format presentasi laporan.
Selain hal di atas, perlu juga diketahui bagaimana cara membentuk
kelompok, pedoman penilaian dan sistem penghargaan.

15

Tabel 3.
Pengelompokan Peserta didik berdasarkan Kemampuan Akademik
Kemampuan

Tinggi

Sedang

Rendah

No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

Nama

Rangking
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Kelompok
A
B
C
D
D
C
B
A
A
B
C
D
D
C
B
A

16

Tabel 4
Prosedur Penentuan Nilai Perkembangan Peserta didik
Langkah keIndikator
Operasional
1
Menetapkan skor
Setiap peserta didik diberikan skor
dasar
berdasarkan skor kuis yang lalu
2
Menghitung skor
Peserta didik memperoleh poin
kuis terkini
untuk kuis yang berkaitan dengan
pelajaran terkini
3
Menghitung skor
Peserta didik mendapatkan poin
perkembangan
perkem-bangan
yang
besarnya
ditentukan apakah skor kuis terkini
mereka menyamai atau melampaui
skor
dasar
mereka,
dengan
menggunakan skala yang diberikan
di bawah ini
Kriteria
Nilai Perkembangan
Lebih dari 10 poin di bawah skor
dasar
10 poin di bawah sampai 1 poin di
bawah skor dasar
Skor dasar sampai 10 poin di atas
skor dasar
Lebih dari 10 poin di atas skor
dasar
Pekerjaan sempurna (tanpa
memperhatikan skor dasar)

0 poin
10 poin
20 poin
30 poin
30 poin

17

Tabel 5.
Pengelompokan Peserta didik berdasarkan Kemampuan Akademik
Materi
..
Kelompo Nama Nilai Dasar Nilai Kuis
Nilai Perkembangan
k
Ana
90
100
30
Budi
85
82
10
A
Tuti
65
70
20
Rudi
55
40
0
Total
60
Rata-rata kelompok
60:4=15
Penghargaan
BAIK
Agus
95
100
30
Andi
80
82
10
B
Ike
70
70
20
Ina
40
100
30
Total
90
Rata-rata kelompok
90:4=22,5
Penghargaan
HEBAT
Nilai kelompok (N)
Penghargaan

15 N < 20
BAIK

20 N < 25
HEBAT

N 25
SUPER

18

PEMBELAJARAN KONSTEKSTUAL
Belajar akan lebih bermakna jika peserta didik mengalami apa yang
dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada
penguasaan materi terbukti berhasil, karena membekali peserta didik
memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang
Pendekatan

kontektual

(Contextual

Teaching

and

Learning/CTL)

merupakan konsep belajar yang membantu tutor menhubungkan antara materi


yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong mereka
untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupannya sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi
peserta didik. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan
peserta didik bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari
tutor ke peserta didik. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Dalam ruang belajar kontektual, tugas tutor adalah membantu peserta
didik mencapai tujuannya. Maksudnya, tutor lebih banyak berurusan dengan
strategi daripada memberi informasi. Tugas tutor mengelola ruang belajar
sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru
bagi anggota ruang belajar (peserta didik). Sesuatu yang baru datang dari
menemukan sendiri bukan dari apa kata tutor. Begitulah peran tutor di ruang
belajar yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
A. Pemikiran Tentang Belajar
Pendekatan

kontekstual

mendasarkan

diri

pada

kecenderungan

pemikiran tentang belajar sebagai berikut :


1. Proses belajar
Belajar

tidak

hanya

sekedar

menghafal.

Peserta

didik

harus

mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri


Peserta didik belajar dari mengalami. Peserta didik mencatat sendiri
pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu
saja oleh tutor
Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu
terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang
sesuatu persoalan

19

Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau


proposisi yang terpisak, tetapi mencerminkan keterampilan yang
dapat diterapkan.
Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi
baru.
Peserta didik perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan
sesuatu yang berguna bagi didrinya, dan bergelut dengan ide-ide
Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak
itu

berjalan

terus

seiring

dengan

perkembangan

organisasi

pengetahuan dan keterampilan sesorang.


2. Transfer Belajar
Peserta didik belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian
orang lain
Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang
terbatas (sedikit demi sedikit)
Penting bagi peserta didik tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana
ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu
3. Peserta didik sebagai Pembelajar
Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang
tertentu, dan seorang peserta didik mempunyai kecenderungan untuk
belajar dengan cepat hal-hal baru
Strategi belajar itu penting. Peserta didik dengan mudah mempelajari
sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi
belajar amat penting
Peran orang dewasa (tutor) membantu menghubungkan antara yang
baru dan yang sudah diketahui.
Tugas tutor memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan dan menerapkan
ide mereka sendiri, dan menyadarkan peserta didik untuk menerapkan
strategi mereka sendiri.
4. Pentingnya lingkungan Belajar
Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada
peserta didik. Dari tutor akting di depan ruang belajar, peserta didik
menonton ke peserta didik akting bekerja dan berkarya, tutor
mengarahkan.

20

Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara peserta didik


menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih
dipentingkan dibandingkan hasilnya
Umpan balik amat penting bagi peserta didik, yang berasal dari proses
penilaian yang benar
Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu
penting.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah
konsep belajar yang membantu tutor mengaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong
peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan
melibatkan

tujuh

komponen

utama

pembelajaran

efektif,

yakni:

konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan


(Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling),
dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)
Dari penjelasan-penjelasan yang terdapat pada diatas, dapat kita
simpulkan bahwasannya, pengertian dari CTL, adalah :
1. Suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi peserta
didik untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya
dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka
sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga peserta didik
memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat
diterapkan

(ditransfer)

dari

satu

permasalahan/konteks

ke

permasalahan/konteks lainnya.
2. Konsep belajar yang membantu tutor mengkaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata
membuat

hubungan

antara

materi

dan mendorong pebelajar

yang

diajarkannya

dengan

penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan


masyarakat

21

Berdasarkan dari pengertian diatas, mari kita pahami peredaan


Pendekatan Kontekstual Dengan Pendekatan Tradisional
NO.

CTL

TRADISONAL

Selalu mengkaitkan informasi


dengan pengetahuan yang telah
1
dimiliki peserta didik

Memberikan tumpukan informasi


kepada peserta didik sampai
saatnya diperlukan

Cenderung mengintegrasikan
2 beberapa bidang

Cenderung terfokus pada satu


bidang (disiplin) tertentu

Peserta didik menggunakan waktu Waktu belajar peserta didik sebelajarnya untuk menemukan,
bagian besar dipergu-nakan untuk
menggali, berdiskusi, berpikir kritis, mengerjakan buku tugas,
3 atau mengerjakan proyek dan
mendengar ceramah, dan mengisi
pemecahan masalah (melalui kerja latihan yang membosankan
kelompok)
(melalui kerja individual)
Perilaku dibangun atas kesadaran
4 diri

Perilaku dibangun atas kebiasaan

Keterampilan dikembangkan atas


5 dasar pemahaman

Keterampilan dikembangkan atas


dasar latihan

Hadiah dari perilaku baik adalah


6 kepuasan diri

Hadiah dari perilaku baik adalah


pujian atau nilai (angka) rapor

Peserta didik tidak melakukan hal


yang buruk karena sadar hal tsb
7
keliru dan merugikan

Peserta didik tidak melakukan


sesuatu yang buruk karena takut
akan hukuman

Perilaku baik berdasar-kan motivasi


intrinsik
Pembelajaran terjadi di berbagai
9 tempat, konteks dan setting

Perilaku baik berdasarkan


motivasi ekstrinsik
Pembelajaran hanya terjadi
dalam ruang belajar

Hasil belajar diukur melalui


10 penerapan penilaian autentik.

Hasil belajar diukur melalui


kegiatan akademik dalam bentuk
tes/ujian/ulangan.

B. Penerapan Pendekatan Kontekstual Dalam Ruang Belajar


CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja,
dan ruang belajar yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam
ruang belajar cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut
ini.

22

1. Kembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna


dengan cara bekerja sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan
keterampilan barunya
2. Melaksanakan kegiatan inkuiri untuk semua topik
3. Kembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya
4. Ciptakan masyarakat belajar
5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
Dari

ketujuh

langkah

pembelajaran

CTL

tersebut,

dapat

kita

klasifikasikan kedalam tujuh komponen sebagai berikut :


1. Konstruktivisme
Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar
pada pengetahuan awal
Pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan
menerima pengetahuan
2. Inquiry
Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman
Peserta didik belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
3. Questioning (Bertanya)
Kegiatan tutor untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan
berpikir peserta didik
Bagi peserta didik yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran
yang berbasis inquiry
4. Learning Community (Masyarakat Belajar)
Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar
Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri
Tukar pengalaman
Berbagi ide
5. Modeling (Pemodelan)
Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan
belajar
Mengerjakan apa yang tutor inginkan agar peserta didik mengerjakannya
6. Reflection (Refleksi)
Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari

23

Mencatat apa yang telah dipelajari


Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
7. Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya)
Mengukur pengetahuan dan keterampilan peserta didik
Penilaian produk (kinerja)
Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual
Dari ketujuh kompenen tersebut, sekarang mari kita ketahui tentang
karakteristik pembelajaran
menyenangkan,

tidak

CTL, yaitu : kerjasama, saling menunjang,

membosankan,

belajar

dengan

bergairah,

pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber. peserta didik


aktif, Sharing dengan teman, Peserta didik kritis tutor kreatif. Dinding dan
lorong-lorong penuh dengan hasil kerja peserta didik, peta-peta, gambar,
artikel, humor dan lain-lain, Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor
tetapi hasil karya peserta didik, laporan hasil pratikum, karangan peserta
didik dan lain-lain
C. Menyusun Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual
Dalam

pembelajaran

kontekstual,

program

pembelajaran

lebih

merupakan rencana kegiatan ruang belajar yang dirancang tutor, yang berisi
skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama
peserta didiknya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam
program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan
tersebut,

materi

pembelajaran,

langkah-langkah

pembelajaran,

dan

authentic assessmennya.
Dalam konteks itu, program yang dirancang tutor benar-benar rencana
pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama peserta didiknya.
Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program
pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual.
Sekali lagi, yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program
pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang
akan

dicapai

pembelajaran

(jelas

dan

kontekstual

operasional),
lebih

sedangkan

menekankan

program
pada

untuk
skenario

pembelajarannya.

24

Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan


pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut.
1. Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan
kegiatan peserta didik yang merupakan gabungan antara Standar
Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok dan Pencapaian Hasil
Belajar
2. Nyatakan tujuan umum pembelajarannya
3. Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu
4. Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan peserta didik
5. Nyatakan authentic assessment-nya, yaitu dengan data apa peserta
didik dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran.

25

DAFTAR PUSTAKA
A.D. Roojjakkers, 1986. Mengajar dengan Sukses, Gramedia, Jakarta.
Anonimous, 1989. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, Usaha Nasional,
Surabaya.
Harjanto, 1997. Perencanaan Pengajaran, Rineka Cipta, Jakarta.
Jusuf Enoch, 1992. Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta.
M.I. Soelaeman, 1985. Menjadi Guru, Dipanegoro, Bandung.
Nana Sudjana, 1988. Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru, Bandung.
Oemar Hamalik, 1983. Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar, Tarsito,
Bandung.
Oemar Hamalik, 1990. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan
Sistem. Citra
Aditya Bakti, Bandung.
Oteng Sutisna, 1990. Administrasi Pendidikan, Angkasa, Bandung.
Slameto, 1989. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Bina Aksara,
Jakarta.
Sudirman, N.K., 1990. Ilmu Pendidikan, Remaja Karya, Bandung.
Suharsimi Arikunto, 1988. Penilaian Program Pendidikan, Bina Aksara, Jakarta.
Ujer Usman, 1990. Menjadi Guru Profesional, Remaja Karya, Bandung.
Wasty Soemanto, 1990. Psikologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta.
W.S. Winkel, 1990. Psikologi Pengajaran, Gramedia, Jakarta.

26