Anda di halaman 1dari 23

Tugas Biofarmasi Terapan dan Farmakokinetika Klinik

Kelarutan dan Permeabilitas


Disusun oleh :

Kelompok 2

Emma Rahmawati

260112130508

Berty Puspitasari

260112130512

Rahmad Noor Budi

260112130518

Gigih Aditya Pamungkas

260112130526

Sri Marleni Listiani

260112130529

Niki Nastiti Prafita D.

260112130530

Nurul Ulya

260112130550

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2014

KELARUTAN DAN PERMEABILITAS


I. Teori Kelarutan dan Permeabiltas
a.

Kelarutan
Kelarutan suatu zat aktif sangat penting artinya karena ketersediaan suatu

obat sangat tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media
pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh. Kelarutan didefinisikan dalam besaran
kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur
tertentu, dan secara kualitatif didefenisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau
lebih zat untuk membentuk dispersi molekuler homogen. Larutan dinyatakan
dalam mili liter pelarut yang dapat melarutkan satu gram zat (Martin et.al, 1990).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan adalah:
-

pH
Zat aktif yang digunakan dalam sediaan farmasi pada umumnya bersifat asam

dan basa lemah. Kelarutan suatu zat asam atau basalemah sangat dipengaruhi pH.
Untuk menjamin suatu larutan homogen yang jernih dan keefektifan terapi
maksimumnya, maka pembuatan sediaan farmasi harus disesuaikan dengan pH
optimumnya.
Kelarutan asam-asam lemah akan meningkat dengan meningkatnya pH
larutan, karena berbentuk garam yang mudah larut. Sedangkan kelarutan basabasa lemah akan brtambah dengan menurunnya pH larutan.
-

Suhu
Kenaikan temperatur akan meningkatkan kelarutan zat yang proses

melarutnya melalui penyerpan panas/kalor (reaksi endotermik), dan akan


menurunkan kelarutan zat yang proses melarutnya dengan pengeluaran
panas/kalor(reaksi eksotermik).
-

Jenis Pelarut dan Konstanta Dielektrik.


Polaritas pelarut sangat mempengaruhi kelarutan suatu zat. Pelarut polar akan

melarutkan zat-zat polar dan ionik, hal ini disebabkan tetapan dielektrik pelarut
polar yang tinggi sehingga dapat dengan mudah melarutkan zat-zat yang memiliki
tetapan dielektrik yang hampir sama/ mendekati. Sedangkan zat yang bersifat
nonpolar sukar larut didalamnya.

Pelarut polar bertindak sebagai pelarut dengan mekanisme, sebagai berikut:


a. Mengurangi

gaya

tarik

antara

ion

berlawanan

dalam

kristal

Memecah ikatan kovalen elektrolit-elektrolit kuat, karena pelarut ini bersifat


amfiprotik.
b. Membentuk ikatan hidrogen dengan zat terlarut.
Pelarut nonpolar memiliki konstanta dielektrik yang rendah, sehingga dapat
melarutkan zat-zat yang besifat nonpolar. Pelarut nonpolar melarutkan zat-zat
nonpolar dengan tekanan internal yang sama melalui induksi antaraksi dipol.
Besarnnya konstanta dielektrik pelarut dapat diatur dengan menambahkan
pelarut lain. Konstanta dielektrik suatu campuran pelarut merupakan hasil
penjumlahan dari konstanta dielektrik masing-masing pelarut setelah
dikalikan dengan presentase volume masing-masing komponen pelarut.
c. Fenomena dimana suatu zat lebih mudah larut dalam pelarut campur daripada
pelarut tunggalnya dikenal dengan fenomena dengan fenomena kosolven.
Pelarut-pelarut yang umum digunakan dalam bidang farmasi sebagai pelarut
campur (cosolvent) terutama dalam pembuatan eliksir adalah air, etanol,
gliserin dan propilan glikol.
d. Bentuk dan ukuran Partikel Zat Terlarut
Ukuran partikel dapat mempengaruhi kelarutan , karena semakin kecil
partikel, rasio antara luas permukaan dan volume meningkat. Meningkatnya
luas permukaan memungkinkan interaksi antara solut dan solvent lebih besar.
e. Adanya zat lain
Penambahan zat lain yang mempengaruhi kelarutan diantaranya adalah ion
sejenis dan penambahan surfaktan. Ion sejenis akan memurunkan kelarutan
senyawa elektrolit yang non polar, karena mempengarui harga ksp.
Surfaktan merupakan molekul ampifil yang mengendung gugus polar dan non
polar. Pada konsentrasi rendah dalam suatu larutan akan berada pada permukaan /
antarmuka larutan dan memberikan efek menurunkan tegangan permukaan. Pada
konsentrasi diatas KMK akan membentuk misel yang berperan dalam solubilisasi
miselar. Solubilisasi miselar adalah suatu pelarut spontan yang terjadi pada
molekul zat yang sukar larut air melelui interaksi yang irreversible dengan misel

pada surfaktan sehingga membentuk suatu larutan yang strabil secara


termodinamika. (Hudayana, 2010).
Dalam formulasi sediaan-sediaan farmasi, data kelarutan suatu zat dalam air
sangat penting untuk diketahui, karena sediaan cair atau likuida seperti sirup,
eliksir, obat tetes mata, injeksi, dan lain-lain dibuat dengan menggunakan
pembawa air. Bahkan untuk sediaan solida seperti tablet atau kapsul, data
kelarutan sangat penting untuk memperhitungkan kemampuan atau kecepatan
absorbsi dalam saluran cerna. Oleh karena itu salah satu cara untuk meningkatkan
ketersediaan hayati suatu sediaan dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya di
dalam air (Hudayana, 2010).
Kelarutan suatu zat (solut) dapat ditingkatkan dengan berbagai cara, antara lain:
1.

Pembentukan Kompleks
Gaya antar molekuler yang terlibat dalam pembentukan kompleks adalah

gaya van der waals dari dispersi, dipolar dan tipe dipolar diinduksi. Ikatan
hidrogen memberikan gaya yang bermakna dalam beberapa kompleks molekuler
dan kovalen koordinat penting dalam beberapa kompleks logam. Salah satu faktor
yang penting dalam pembentukan kompleks molekuler adalah persyaratan ruang.
Jika pendekatan dan asosiasi yang dekat dari molekul donor dan molekul akseptor
dihalangi oleh faktor ruang, kompleks akan atau mungkin berbentuk ikatan
hidrogen dan pengaruh lain harus dipertimbangkan. Polietilen glikol, polistirena,
karboksimetil-selulosa dan polimer sejenis yang mengandung oksigen nukleofilik
dapat berbentuk kompleks dengan berbagai obat. Semakin stabil kompleks
organik molekuler yang terbentuk, makin besar reservoir obat yang tersedia untuk
pelepasan. Suatu kompleks yang stabil menghasilkan laju pelepasan awal yang
lambat dan membutuhkan waktu yang lama untuk pelepasan sempurna.
2.

Penambahan Kosolven
Kosolven adalah pelarut yang ditambahkan dalam suatu sistem untuk

membantu melarutkan atau meningkatkan stabilitas dari suatu zat, cara ini disebut
kosolvensi. Cara ini cukup potensial dan sederhana dibanding beberapa cara lain
yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan dan stabilitas suatu bahan.
Penggunaan kosolven dapat mempengaruhi polaritas sistem, yang dapat
ditunjukkan dengan pengubahan tetapan dielektrikanya.

Kosolven seperti etanol, propilen glikol, polietilen glikol dan glikofural telah
rutin digunakan sebagai zat untuk meningkatkan kelarutan obat dalam larutan
pembawa berair. Pada beberapa kasus, penggunaan kosolven yang tepat dapat
meningkatkan kelarutan obat hingga beberapa kali lipat, namun bisa juga
peningkatan kelarutannya sangat kecil, bahkan dalam beberapa kasus penggunaan
kosolven dapat menurunkan kelarutan solut dalam larutan berair. Efek
peningkatan kelarutan terutama disebabkan oleh polaritas obat terhadap solven
(air) dan kosolven. Pemilihan sistem kosolven yang tepat dapat menjamin
kelarutan semua komponen dalam formulasi dan meminimalkan resiko
pengendapan karena pendinginan atau pengenceran oleh cairan darah. Akibatnya,
hal ini akan mengurangi iritasi jaringan pada tempat administrasi obat.
3. Penambahan Surfaktan
Surfaktan atau zat aktif permukaan adalah molekul yang struktur kimianya
terdiri dari dua bagian dan mempunyai perbedaan afinitas terhadap berbagai
pelarut yaitu bagian hidrofobik dan hidrofilik. Bagian hidrofobik terdiri dari
rantai panjang hidrokarbon terhalogenasi atau teroksigenasi, bagian ini
mempunyai afinitas terhadap minyak atau pelarut non polar, sedangkan bagian
hidrofilik dapat berupa ion, gugus polar, atau gugus-gugus yang larut dalam air.
Oleh karena itu surfaktan seringkali disebut ampifil karena mempunyai afinitas
tertentu baik terhadap pelarut polar maupun non polar. Surfaktan secara dominan
terhadap hidrofilik, hidrofobik atau berada di antara minyak air. Ampifilik
merupakan sifat dari surfaktan yang menyebabkan zat terabsorpsi pada
antarmuka, apakah cair/gas, atau cair/cair. Agar surfaktan terpusat pada
antarmuka, harus diimbangi dengan jumlah gugus-gugus yang larut air dan
minyak. Bila molekul terlalu hidrofilik atau hidrofobik maka tidak akan
memberikan efek pada antarmuka. Adsorpsi molekul surfaktan di permukaan
cairan akan menurunkan tegangan permukaan dan adsorpsi di antara cairan akan
menurunkan tegangan antarmuka (Martin et.al, 1990).

b. Permeabilitas
Dalam ilmu biofarmasetika, permeabilitas membahas tentang kemampuan
suatu zat obat yang telah terlarut melewati suatu membran. Permeabilitas

merupakan rasio laju pengangkutan obat dalam kompartemen penerima (dm/dt)


dengan produk dari daerah membran (A) dan ruang konsentrasi obat apical (C)
(Wagh and Jatin, 2010). Permeabilitas melewati membran biologis merupakan
kunci utama absorbsi dan distribusi suatu obat, permeabilitas yang jelek dapat
menyebabkan absorbsi yang rendah pada mukosa GIT atau distribusi yang rendah
pada seluruh tubuh.

c. Sistem Klasifikasi Biofarmasetik (BCS)


BCS merupakan suatu metode untuk mengklasifikasikan obat berdasarkan
kelarutan air dan permeabilitas usus.
Kelas-kelas BCS
-

Kelas I

: permeabilitas tinggi, kelarutan tinggi

Kelas II

: permeabilitas tinggi, kelarutan rendah

Kelas III : permeabilitas rendah, kelarutan tinggi

Kelas IV : permeablitas rendah, kelarutan rendah

Dalam hal BE, diasumsikan bahwa permeabilitas membran yang tinggi,


kelarutan obat yang tinggi akan mempercepat disolusi suatu produk obat disebut
bioekuivalen dan bahwa, kecuali perubahan utama dibuat untuk perumusan, data
disolusi dapat digunakan sebagai pengganti data farmakokinetik untuk
menunjukkan BE dari dua produk obat. Sistem Klasifikasi Biofarmasetika
memungkinkan perusahaan mengurangi biaya pengujian ke beberapa produk obat
oral tanpa mengorbankan keselamatan masyarakat (Chavda, 2010).
Metode yang secara rutin digunakan untuk penentuan permeabilitas adalah
sebagai berikut:
a.

Metode farmakokinetik dengan subyek manusia dan BA absolut atau

metode permeabilitas usus


b.

Metode in vivo atau perfusi usus in situ dengan hewan uji yang sesuai

c.

Metode permeabilitas in vitro dengan menggunakan jaringan usus

d.

Sel epitel monolayer yang sesuai, misalnya sel Caco-2 atau sel TC-7

(Chavda, 2010).

II.

STUDI KASUS

a. Jurnal 1
SOLUBILITY AND DISSOLUTION ENHANCEMENT OF GLIPIZIDE
USING CYCLODEXTRIN INCLUSION COMPLEX
Hanwate R M *1, Dehghan M H G2, Saifee M 2, Kondapure A A1
1. Department of Pharmaceutics, Dr.Vedprakash Patil College of Pharmacy, Gevrai Tanda, Paithan
Road, Aurangabad, Maharashtra, India.
2. Department of Pharmaceutics, Y.B.Chavan College of Pharmacy, Dr. Rafiq Zakaria campus,
Aurangabad, Maharashtra, India.

ABSTRAK
Glipizid merupakan obat golongan sulphonylurea generasi kedua yang berfungsi
untuk menurunkan level glukosa darah pada manusia dan sering kali diresepkan dalam
pengobatan diabetes non insulin dependent. Secara praktis glipizid tidak larut dalam air.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan solubilitas dan kecepatan disolusi
dari glipizid dengan cyclodextrin complexation. Kompleks padat dari glipizid dan B
Cyclodextrin di buat dengan menggunakan metode proporsi molar berbeda dari B
cyclodextrin. Efek dari B cyclodextrin terhadap solubilitas dan kecepatan disolusi dari
glipizid dapat diketahui dengan mengevaluasi kompleks inklusinya. Spektrofotometri IR,
DSC dan studi disolusi in vitro digunakan untuk mengkarakteristik dari kompleks inklusi
yang terbentuk. Kompleks yang digunakan dalam penelitian ini ditemukan memiliki
kecepatan disolusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan obat standarnya. Dalam
penelitian ini terlihat bahwa kecepatan disolusi meningkat seiring dengan peningkatan
jumlah dari B cyclodextrin.
Pendahuluan

Sifat solubilitas dari suatu obat merupakan salah satu kunci yang
menentukan bioavailalbilitas oral dari obat tersebut. Dalam beberapa tahun
terakhir jumlah dari obat yang mempunyai solubilitas yang rendah meningkat
secara signifikan. Formulasi dari obat yang mempunyai solubilitas yang rendah
untuk sediaan oral merupakan tantangan bagi peneliti formulasi obat. Obat-obatan
yang sukar larut memberikan masalah bagi ketersediaan hayati hingga kecepatan
disolusi obat tersebut. Berbagai variasi tekhnik telah dipergunakan untuk
meningkatkan solubilitas dan kecepatan disolusi dari obat-obatan yang sukar larut.
Diantara variasi teknik tersebut, dispersi padat dan kompleksasi dengan
menggunakan cyclodextrin adalah yang paling sering digunakan. Kompleksasi
dengan cyclodextrin menggunakan langkah-langkah pembuatan yang sederhana,
efektif dalam biaya dan kelayakan industri.
Cyclodextrin merupakan cyclic (-1-4) terkait oligosakarida dari D
glucopyranose mengandung rongga pusat yang cenderung hydrophobic dan
permukaan luar yang bersifat hydrophylic. Selama dua dekade terakhir
cyclodextrin dan derivatnya telah menarik minat farmasis karena potensialnya

untuk membentuk kompleks dengan molekul obat yang bervariasi. Gilpizid


merupakan golongan sulfonil urea generasi kedua yang dapat menurunkan tingkat
glukosa darah pada manusia dengan menstimulasi pengeluaran insulin pada
pankreas dan biasa diresepkan pada penyakit diabetes melitus non dependend
insulin. Gilpizid merupakan agen hypoglikemik oral yang 100 kali lebih poten
dibandingkan tolbutamid, dimana digunakan untuk mengobati diabetes melitus
tipe 2. Sesuai dengan British Pharmacopeia, glipizid praktis tidak larut dalam air
(termasuk obat dengan BCS tingkat 2). Bentuk sediaan glipizid menunjukan
solubilitas dan kecepatan disolusi yang rendah sehingga merupakan langkah yang
menentukan absorbsinya pada saluran pencernaan\
Material dan Metode
1. Bahan
Glipizide merupakan sampel yang diperoleh dari pemberian USV ltd. Mumbai.
cyclodextrin dibeli dari Merck India Ltd , Mumbai. Semua bahan kimia yang
digunakan adalah grade reagen analitik. Selama penelitian berlangsung
menggunakan air suling yang masih segar.
2. Pembuatan Campuran Fisik
Physical Mixture (PM) dari Glipizide dengan cyclodextrin dalam 1:1, 1:2, 1:3,
1:4, 1:5 perbandingan molar diolah dengan cara mencampur bobot obat yang
kuantitatif dan pembawa di dalam mortar kaca dan lumpung alu selama 5
menit dan disimpan dalam desikator selama 24 jam.
3. Pembuatan cyclodextrin Kompleks
Pencampuran dari Glipizide dan cyclodextrin dalam perbandingan berat
molar dengan air dan peremasan yang dilakukan selama 30 menit dalam mortar
kaca. Pasta Kering yang terbentuk dikeringkan dalam vaccum selama 24 jam.
Serbuk kering diayak dengan ayakan no. 100 dan disimpan di dalam desikator
sampai evaluasi lebih lanjut. Formulasi diberi nama B1, B2, B3, B4, dan B5.
4. Determinasi Kandungan Obat
Persen kandungan obat pada tiap dispersi padat, ditentukan dengan
menggunakan serbuk yang setara dengan 50 mg Glipizide dan dilarutkan dalam
jumlah minimal methanol dan dibuat hingga volume 100ml menggunakan fosfat
buffer pH 7,4. Kemudian larutan disaring dengan menggunakan UV double
beam spectrophotometer pada 276 nm. Disiapkan dalam tiga kali replikasi dan
dilaporkan hasil rata-rata.
5. Studi Disolusi

Studi Disolusi diuji sesuai dengan metode Higuchi dan Cannors. Kelarutan asli
Glipizide dan dispersi padatnya ditentukan dengan menggunakan air suling dan
phosphate buffer pH 7.4. Glipizide dan disperse padatnya setara dengan 10 mg
dari obat yang diambil dan 10 ml dari masing-masing medium yang
ditambahkan dalam stopper volumetric flask dan dikocok selama 25 jam pada
RT di magnetic stirrer. Semua sampel harus terlindung dari cahaya dibungkus
dengan aluminium foil. Setelah 24 jam sampel disaring dengan menggunakan
Whatman filter paper no. 42 dan diencerkan dengan alikuot yang sesuai dan
diuji menggunakan Spectroscopically pada 276 nm. Masing-masing kelarutan di
replikasi sebanyak 3 kali dan dihitung nilai rata-ratanya.
6. Studi Disolusi Invitro
Studi Disolusi dilakukan dengan menggunakan USP rotating basket (apparatus-I
) (Electrolab) selama 2 jam dengan kecepatan pengadukan 100 rpm. Fosfat buffe
r pH 7,4 dan air suling digunakan sebagai medium (900 ml) dan tetap dipertahan
kan pada suhu 37 =/-50C. Sampel setara dengan 5 mg Glipizide yang diisikan ke
dalam kapsul bercangkang keras yang digunakan untuk studi disolusi. Sampel di
kumpulkan pada interval waktu yang regular dan diuji dengan dissolution
spectroscopically pada 276 nm. Masing-masing disolusi diulang 3 kali dan
dihitung nilai rata-rata.
7. Studi FTIR
Spektrum FTIR dari obat, siklodekstrin dan komplek inklusi dalam perbedaan
ratio yang direkam dengan FTIR Spectrophotometer. (Jasco V-6001). Sampel
disiapkan dengan menggunakan potassium bromide dan dilakukan pembacaan
absorbansi pada 4000-400/cm.
8. Perbedaan Pembacaan Kalorimetri
Pola DSC dari Glipizide, siklodekstrin, campuran fisik dan kompleks inklusi
siklodekstrin (1;5) tercatat menggunakan Shimadzu D 60 thermal analyzer
(Japan). Sampel ditutup menggunakan panci aluminium, tutupnya dapat
menembus dan termogram DSC dicatat pada kecepatan panas 200C/min dari 60
ke 2400C menggunakan nitrogen atmosfer.

Hasil dan Pembahasan


1. Kandungan Obat
Kandungan Glipizide tiap sampel diuji dengan menggunakan spektroskopi UV.

Hasil pengujian berkisar antara 97-99% dari nilai teoritis.


2. Studi Kelarutan
Profil kelarutan Glipizide dengan -siklodekstrin dapat dilihat pada tabel.
Kelarutan Glipizide dalam air dan buffer fosfat, tanpa -siklodekstrin sebesar
0,0365 mg/mL. Kelarutan Glipizide meningkat sebagai fungsi linear dari
konsentrasi
bahan pembawa. Semua kompleks inklusi menunjukkan
peningkatan kelarutan
tetapi lebih tinggi dalam kompleks -siklodekstrin
dengan rasio 1:5.
3. Studi Disolusi
Studi disolusi in vitro dilakukan untuk obat murni dan semua formulasi dalam
air suling dan buffer fosfat pH 7,4. Profil laju pelepasan diplot sebagai persent
ase terlarut dari Glipizide dari dispersi padat dan Glipizide murni berbanding
dengan waktu. Gambar 1 menunjukkan profil
kelarutan Glipizide siklodekstrin dengan rasio bahan pembawa yang berbeda. Pada obat
murni
sebesar 34,35% obat yang terlarut selama 2 jam dalam buffer fosfat pH 7,4
sedangkan pada kompleks inklusi (rasio 1:5) sebanyak 96,98% obat yang terlarut
selama 2 jam.
Pembuatan kompleks inklusi yang dibuat dengan metode kneading pada rasio
1:1 memiliki peningkatan disousi yang sedikit dibanding dengan pencampuran
fisik dan obat murni, tetapi pada rasio 1:4 dan 1:5 laju disolusi meningat secara
drastis. Dari data disolusi dapat disimpulkan bahwa laju disolusi meningkat
dengan metode kneading. Hal ini dikarenakan sifat hidrofilik yang lebih tinggi
dan mampu membasahi -siklodekstrin. Disolusi obat meningkat
dengan
peningkatan rasio bahan pembawa pada formulasi.
4. Studi FTIR
FTIR dilakukan pada Glipizide, -siklodekstrin dan kompleks inklusi siklodekstrin dengan bahan pembawa. Dispersi padat IR (Gambar 2)
menunjukkan semua puncak utama absorpsi IR dari Glipizide yaitu 3324 cm-1,
3051 cm-1, 1648 cm-1, 1396 cm-11. Kompleks inklusi obat dan semua bahan
pembawa menunjukkan bahwa semua puncak obat dan bahan pembawa
muncul dalam bentuk bebas. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada interaksi
antara Glipizide dan semua bahan pembawa yang digunakan dalam kompleks
inklusi.

5. Studi DSC
Perilaku termal kompleks Glipizide -siklodekstrin diuji menggunakan DSC
untuk memastikan formasi dari kompleks padat. Thermogram DSC dari
kompleks Glipizide ditunjukkan pada gambar 3. Thermogram DSC Glipizide
terlihat puncak endothermic pada 210,11oC sesuai dengan titik lelehnya. Kurva
DSC memperlihatkan bahwa -siklodekstrin dan Glipizide masing-masing
puncak endhotermic memiliki suhu onset 116,80C dan 210,11C. Puncak titik
leleh ini menunjukkan sifat kristal dari kedua komponen. Thermogram dari
pencampuran fisik dan kompleks inklusi berbeda dari obat murni, yang memberi
kan bukti nyata adanya pembentukkan kompleks.
Kesimpulan
Kompleks inklusi dari Glipizide -siklodekstrin yang dibuat dengan
metode kneading memperlihatkan laju disolusi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan pencampuran fisik dan obat murni. Metode analisi dari spektrum IR
menunjukkan tidak adanya degradasi dari obat. Studi kelarutan dan disolusi
menunjukkan adanya kemungkinan peningkatan kelarutan dan disolusi dari Glipiz

ide melalui pembentukkan kompleks inklusi dengan penambahan -siklodekstrin.


Peningkatan maksimum laju disolusi ditemukan pada kompleks Glipizide siklodekstrin dengan rasio molar 1:5. Sehingga pembentukkan kompleks siklodekstrin menggunakan metode kneading menunjukkan laju disolusi yang
lebih cepat dibandingkan dengan obat biasa.
b. Jurnal 2
Optimizing Solubility and Permeability of a Biopharmaceutics
Classication System (BCS) Class 4 Antibiotic Drug Using Lipophilic
Fragments Disturbing the Crystal Lattice
UlrikaTehler, JonasH.Fagerberg, RichardSvensson, MatsLarhed,
PerArtursson, and ChristelA.S.Bergstrom
ABSTRAK
Esterifikasi digunakan untuk meningkatkan kelarutan dan permeabilitas
ciprofloxacin, termasuk dalam sistem klasifikasi biofarmasetik (BCS) kelas 4
(kelarutan yang rendah/permeabilitas rendah) dengan fase padat yang terbatas
pada kelarutan. Fleksibilitas molekul ditingkatkan dengan mengganggu kristal
lattice, menurunkan titik leleh, sehingga dapat meningkatkan kelarutan,
sedangkan lipofilik ditingkatkan untuk meningkatkan permeabilitas
usus. Perubahan struktur tersebut mengakibatkan analog BCS kelas 1 (kelarutan
tinggi/permeabilitas tinggi) yang ditekankan kimia medisinal sederhana dapat
meningkatkan kelarutan dan permeabilitas.
Pendahuluan
Kelarutan air yang rendah merupakan masalah utama yang harus diatasi
pada penemuan baru yang 40-70% dari keseluruhan, diperkirakan mempunyai
kelarutan yang rendah untuk mencapai absorbsi yang maksimal dari GIT. Pada
studi ini diselidiki hubungan molekul yang penting dengan kelarutan yang rendah
dan diidentifikasi perbedaan struktural antara senyawa yang kelarutan rendah
karena kristal lattice yang kuat dengan senyawa yang mempunyai hidrasi rendah
dalam lingkungan air. Molekul fase padat terbatas pada kelarutannya yang lebih
kecil, keras, dan datar. Struktur tersebut menyebabkan molekul menjadi padat
dalam kristal dan ikatan intermolekul yang kuat melalui interaksi van der walls,
ikatan , dan ikatan hidrogen. Secara tipikal mereka mempunyai lipofilik yang
tinggi, bentuk kecil, dan molekul yang keras dengan kapasitas ikatan hidrogen
kuat dengan Kristal lattice. Penggunaan sistem molekular pada kelarutan yang
rendah menginformasikan bahwa kimia medisinal dapat meningkatkan kelarutan
air.
Kelarutan dengan permeabilitas adalah bentuk dasar dari BCS, BCS terdiri
dari 4 kelas berdasarkan tinggi/rendahnya permeabilitas dan kelarutan, pada BCS

kelas 1 menunjukkan permeabilitas dak kelarutan yang tinggi sehingga absorbsi


sempurna setelah administrasi oral. Sebaliknya, pada kelas 4 mempunyai
kelarutan dan permeabilitas yang rendah.
Tujuan
Tujuan dari studi ini adalah untuk menyelidiki apakah kimia medisinal
menggunakan esterifikasi dapat digunakan untuk meningkatkan kelarutan dan
permeabilitas secara bersamaan pada ciprofloxacin, yaitu sebuah model yang
mencerminkan obat BCS kelas 4 dengan fase padat yang terbatas pada kelarutan.
Hipotesis
Kelarutan dan permeabilitas pada komponen ini dapat meningkat karena
esterifikasi yang menghasilkan turunan dengan kekuatan kristal lattice yang lebih
rendah dan meningkatkan lipofilik dan struktur tersebut memungkinkan posisi
derivate ester pada BCS kelas 1.
Experimental section
Sintesis Derivatif
Semua reaksi diaduk pada suhu kamar dan dipantau oleh TLC jika tidak
dinyatakan lain. Senyawa antara di sintesis dan di analisis lebih detil agar dapat
melihat Informasi pendukung. Kemurnian ditentukan dengan analisis RPHPLC MS dan analisis unsur. Sistem HPLC (Gilson) terhubung ke Finnigan Aqa
quadrupole spektrofotometer. Kolom Onyxmonolithic C18 (50 mm x 4,6 mm) dan
gradien CH3CN/H2O (0,05 % HCOOH) dengan laju alir yang digunakan 4 mL /
menit, dan pendeteksian dengan menggunakan sinar UV (DAD , 214 dan 254 nm)
dan MS (ESI). Analisis unsur dilakukan di Mikrokemi AB, Uppsala, Swedia.
Semua produk yang > 95 % murni sesuai dengan LC MS dan analisis unsur.
Microscopy (Nikon Eclipse TS100 , 40 perbesaran) digunakan untuk memeriksa
secara visual ukuran partikel yang diperoleh material. DSC (DSC6200 , Seiko ,
Jepang) menggunakan 0,5-1,0 mg setiap derivatif untuk menentukan suhu leleh
(Tm) dan menganalisis kemungkinan terjadinya bahan polimorf atau sisa pelarut
organik. Setiap sampel ditimbang di aluminium pan dan ditutup sebelum
dipanaskan sampai 50 C di atas suhu leleh yang diharapkan yaitu pada tingkat
10C/menit ketika sedang dibersihkan dengan nitrogen cair. Semua percobaan
dilakukan rangkap tiga.
Pengukuran kelarutan
Kelarutan jelas diukur di PhB7.4 , PhB6.5 , dan FaSSIF menggunakan metode
labu kocok kecil yang telah dijelaskan sebelumnya. PhB dibuat menurut USP 25.
PhB6.5 dan FaSSIF disiapkan sesuai dengan protokol yang dikembangkan oleh

Galia dan co - workers. Senyawa ditimbang ke dalam botol ( n = 3 ) dengan 500


L dari media kelarutan kemudian kocok ( 37 C ,300 rpm ) , dan setelah 4 jam (
dipilih untuk mencerminkan waktu yang diberikan untukpembubaran dalam usus
kecil in vivo ) suspensi disentrifugasi sebanyak dua kali pada 10 000g selama 10
menit untuk memisahkan bahan padat yang masih terlarut . Supernatan ditentukan
untuk konsentrasi dengan analisis LC-MS/MS . Derivatif stabil selama 4 jam
dalam semua pelarut. Standard error rasio kelarutan (SESR) dihitung dari :

di mana SR adalah rasio antara nilai rata-rata kelarutan derivatif ( SA ) dengan


rata-rata kelarutan ciprofloxcacin ( SB ) . SA dan SB adalah kesalahan standar
untuk kelarutan nilai rata-rata, masing-masing. Do dihitung dari :

dimana M0 adalah dosis , V0 adalah volume ( 250 mL ) , dan CS yang diukur .


dosis oral maksimum yang diberikan( menurut Swedia Dokter Desk Reference )
adalah 2,3 mmol ,yang digunakan untuk BCS .
Sel kultur dan Metabolisme
Sel Caco - 2 (Tissue AmerikaCollection, Rockville, MD) sebelumnya sel
dipertahankan dalam suasana udara 90 % dan 10 % CO2. Untuk penelitian
lanjutan,
lapisan tunggal terbentuk dari 3,3 105 sel unggulan yang
menggunakan sisipan saringan polycarbonate (12 mm diameter , ukuran pori 0,4
um ; Costar). eksperimen lanjutan dilakukan pada gradien pH 6.5/7.4 pada apical
ke arah basolateral pada suhu 37 C dan dimulai oleh penerapan larutan obat (10
M) ke sisi donor . Filter sisipan diaduk pada 500 rpm di chamber penerima sampel
terus menerus selama 60 menit (n=3) . Percobaan lanjutan diulang dengan 1 M
GF120918 , untuk secara khusus menghambat P - gp. Semua Sampel dianalisis
dengan LC-MS/MS langsung setelah percobaan selesai. Derivatif yang stabil
dalam uji transportasi (tidak deteksi ciprofloxacin) dan digunakan pada
konsentrasi beracun .Permeabilitas nyata (Papp) dihitung dari :

dimana Q / At adalah fluks steady-state (mol / s) , C0 adalah awal konsentrasi di


dalam ruang donor pada setiap interval waktu (mol /mL), dan A adalah luas
permukaan filter (cm2).
Metabolisme dari derivatif diteliti dengan menginkubasi turunannya ( 1 M)
selama 60 menit dalam 0,5 mg / mL mikrosom hati manusia( Invitrogen ) dan 0,5
106 sel / mL dan disiapkan hepatosit segar dari manusia pada 37 C mengikuti
aturan sebelumnya . Setelah terminasi dari eksperiment dengan MeCN ( 50 % v /
v ) sampel dianalisis untuk konsentrasi ciprofloxacin dan turunan induk derivatif
dengan LC-MS/MS . positif kontrol untuk esterase , CYP450 , dan aktivitas UGT
adalah p - nitrofenolasetat , dekstrometorfan , midazolam , diklofenak , dan 7OH coumarin.
BCS
Jika dosis oral maksimum ( 2,3 mmol , sesuai dengan 750mg ciprofloxacin ) larut
dalam 250 mL PhB6.5 dan PhB7.4 , derivatif dapat diartikan sangat larut . Nilai
permeabilitas yang dikoreksi untuk gradien pH dan kemudian dilapiskan ke dalam
korelasi media Papp dan fraksi diserap untuk menentukan tinggi atau rendahnya
permeabilitas.
Metode analitis
A ThermoFinnigan TSQ Quantum Penemuantriple- quadrupole (ionisasi
elektrospray) digabungkan ke instrumen Waters acquity UPLC yang digunakan
untuk penentuan konsentrasi .Gradien A digunakan (fase gerak B 1% sampai 90
% lebih dari 2 menit dari total) pada Waters HSS T3 1,8 pM kolom, 2 mm 50
mm dengan Sebuah fase gerak A yang terdiri dari 5 % MeCN dalam air (0,1 %
asam format) dan fase gerak B 100 % MeCN dengan 0,1 % asam format . Laju
aliran adalah 0,5 mL/menit. Sejumlah 5 uL sampel disuntikkan dan terdeteksi
dalam mode MRM. Batas kuantifikasi (LoQ) diperkirakan berdasarkan pada
konsentrasi yang menghasilkan rasio signal bising lebih dari >10 untuk senyawa
dengan sensitivitas terendah (ciprofloxacin) yang LoQ adalah 2nM.
Hasil
-

Senyawa

Tujuh senyawa ciprofloxacin disintesis oleh ciprofloxacin esterifikasi. oleh


pemanjangan rantai alkil secara bertahap (Me, Et, IPR, Pr, Bu, Hex, dan Bn,
lihat Gambar 1).

Modifikasi struktural ciprofloxacin ini dilakukan dengan peningkatan fleksibilitas


dan rentang lipophilicity hampir 100.000 kali lipat (Tabel S1). Selanjutnya,
esterifikasi dieliminasi sifat zwiterionik dari ciprofloxacin, sehingga mengurangi
kapasitas ikatan hidrogen.
-

Karakterisasi Fase Padat

Pemindaian diferensial kalorimetri (DSC) thermograms menunjukkan bahwa


hanya satu polimorf yang diperoleh dari masing-masing turunan sintesis. Tidak
ada indikasi yang diperoleh dari formasi garam atau residu pelarut, dan produk
akhir yang diperoleh adalah basa bebas. Titik leleh turunan berkisar dari 255C
(5a, Me ester) menjadi 186C (5f, Hex ester) dibandingkan dengan titik leleh
266 C untuk ciprofloxacin. Suhu titik leleh dari ester alkil yang tidak
bercabang, misalnya, semua turunan kecuali IPR dan ester Bn, menurun dengan
meningkatnya panjang rantai (Gambar 2)

Kelarutan yang signifikan

Modifikasi kimia menyebabkan kelarutan yang lebih tinggi untuk tiga turunan
dari ciprofloxacin (Gambar 3). 5a Derivatif menunjukkan 48 -, 66 -, dan 111kelarutannya lebih tinggi pada pH 7,4 (PhB7.4),dan pada pH 6,5 (PhB6.5), dan
pada fase simulasi pencernaan yang kosong (FaSSIF, pH 6,5). 5b menunjukkan
2 - kelarutannya 3 kali lipat lebih tinggi di tiga media, sedangkan 5e
menunjukkan 4 -, 27 -, dan 10- kelarutannya lebih tinggi dibandingkan dengan
kelarutan ciprofloxacin di PhB7.4, PhB6.5, dan FaSSIF. Senyawa 5c dan 5d
yang ditampilkan memiliki kelarutan 0,5-1 adalah siprofloksasin. Untuk turunan
yang lebih lipofilik (5f dan 5g) kelarutannya berkurang secara signifikan
dibandingkan dengan ciprofloxacin, dengan senyawa yang memiliki 10 kelarutannya 30 kali lipat lebih rendah di semua media (Gambar 3).

Kelarutan yang signifikan dalam lipid tersedia secara alami dalam usus, seperti
yang disimulasikan dengan FaSSIF, hanya terlihat untuk senyawa yang paling
lipofilik (5f), yaitu turunan heksil dengan P log dari 3,3 (log DpH6.5 1,1; lihat
Gambar 2). Hal ini sesuai dengan temuan kami sebelumnya bahwa untuk senyawa
dengan lo P dari 3 atau lebih, kelarutannya meningkat secara signifikan dalam
cairan usus dibandingkan dengan air murni atau buffer.
Kelarutan yang jelas digunakan untuk menghitung dosis nomor (Do). Senyawa
yang kelarutannya jelas memiliki Do < 1. Senyawa 5a menunjukkan kelarutan
dari dosis maksimum di semua media, dan begitu pula 5e ketika diukur dalam
PhB6.5. Sebagai perbandingan, ciprofloxacin diperoleh Do > 7 di ketiga media.
Oleh karena itu, esterifikasi menggunakan metil dan butil rantai alkil mengubah
ciprofloxacin untuk terlarut di bawah kondisi fisiologis yang relevan. Hasil
pengukuran kelarutan yang nyata tidak dianggap sebagai hasil dari ukuran partikel
yang berbeda, karena distribusi ukuran partikel mirip dengan ciprofloxacin.

Permeabilitas

Semua turunannya menunjukkan permeabilitas yang lebih tinggi daripada


ciprofloxacin dan diperkirakan akan > 90% diserap (absorpsi tidak memberikan
kelarutan terbatas) berdasarkan korelasi dalam media antara Caco-2
permeabilitas dan fraksi diserap. Beberapa senyawa menunjukkan permeabilitas
secara signifikan lebih tinggi di basolateral ke apikal (b-a) daripada di apikal ke
basolateral (a-b), misalnya, turunan 5d menunjukkan permeabilitas 146 kali lipat
lebih tinggi di b-a. Rasio besar ini tidak bisa semata-mata dijelaskan dengan efek
perangkap ion yang disebabkan oleh gradien pH yang digunakan dalam
percobaan 6 dan hal ini menunjukkan bahwa transporter penghabisan aktif
terlibat dalam permeasi seluler. Rasio ini secara signifikan berkurang ketika
turunan yang dipakai bersamaan dengan P-gp inhibitor GF120918. Oleh karena
itu, dapat disimpulkan bahwa P-gp kontribusi terhadap rasio b-a/a-b besar yang
diamati.

BCS
BCS dari derivatif ditunjukkan pada Gambar 4. Pada pH dari cairan usus (pH
6,5) ester 5a dan 5e mengubah ciprofloxacin dari BCS kelas 4 sampai BCS
kelas 1. Semua turunan lainnya adalah BCS kelas 2, dengan formulasi yang
tepat akan mungkin menghasilkan BCS kelas 1 dengan kinerja in vivo.

Pembahasan

Ciprofloxacin adalah senyawa padat dengan kemampuan melarut yang


rendah, oleh karena itu, kami memutuskan untuk meningkatkan kelarutan dengan
memperbesar ukuran, fleksibilitas rantai samping dan mengurangi kapasitas
ikatan hidrogen untuk mengganggu kristal lattice. Interaksi antar molekul dapat
diturunkan dengan pendekataan ini. Fleksibilitas rantai alkil akan mengganggu
kristal lattice dan kapasitas ikatan hidrogen akan berkurang sebagai akibat
esterifikasi fungsi asam karboksilat akan menghasilkan lebih sedikit permintaan
pola ikatan antar molekul. Sebuah pendekatan yang serupa pada struktur molekul
planar dari inhibitor fosfodiesterase-4 terganggu dengan sejumlah subtituen
sikloheksil yang baru saja dikeluarkan. Para penulis berpendapat bahwa kelarutan
yang lebih
tinggi dari turunannya adalah sebuah efek dari kurangnya
pembentukan kisi kristal. Namun, fase padat tidak dikarakterisasi untuk
membuktikan ini. Untuk turunan ciprofloxacin titik lelehnya digunakan untuk
pencarian bagaimana kisi kristal dipengaruhi oleh rantai alkil. Penurunan titik
leleh ditunjukan dengan peningkatan panjangnya rantai dan pengurangan suhu 80o
C untuk turunan dengan subtituen paling fleksibel (5f) dibandingkan dengan
senyawa induk. (5a) diturukan titik leleh dengan suhu 11o C, meskipun subtituen
tidak mengalami peningkatan secara signifikan jumlah konformasi yang
terbentuk. Namun metil ester dari blok ikatan hidrogen antar molekul yang
terbentuk antara fungsi hidroksil pada asam karboksilat dan karbonil pada
kuinolon yang kemungkinan akan mempengaruhi kemasan molekul dan struktur
ikatan hidrogen dalam kristal lattice. Kurangnya pembentukan dari kristal lattice
menghasilkan kelarutan yang sama atau lebih meningkat untuk 5a-e sedangkan 5f
dan 5g sebagai konsekuensi dari peningkatan lifofilisitis menunjukan 10-30
kalilipatkelarutan air yang lebih rendah dibandingkan dengan ciprofloxacin. Hasil
dari studi kelarutan dan permeabilitas digabungkan untuk mengurutkan senyawa
BCS. Semua analog yang permeabilitasnya tinggi, akan mendorong senyawa BCS
4 kedalam kelas 1 atau 2. 5a menunjukan kelarutan yang tinggi disemua media
studi dan oleh karena itu diurutkan sebagai BCS 1. 5e diurutkan sebagai BCS 2
pada pH 7,4 dan sebagai BCS 1 pada pH 6,5. Namun, semua turunan dari analog
BCS kelas 2 dan akan memungkinkan bertansformasi menjadi senyawa BCS kelas
1 melalui formulasi. Dari turunan BCS 2 yang dihasilkan, 5b yang paling menarik
untuk diambil karena Do nya rendah (3 dan 5 pada pH 7,4 dan 6,5) dan
perbandingan refluks rasionya.
Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan dampak kecil perubahan
melokul pada kristal lattice dan kelarutan air dan untuk desain secara terus
menerus molekul fragmen sehingga meningkatkan permeabilitas yang diperoleh.
Oleh karena itu, sedikit pertimbangan diberikan kepada efek biologis dan atau
toksisitas dari modifikasi struktur dan turunan yang tidak diuji toksisitas, potensi,
distribusi jaringan, atau eleminasi. Pengujian metabolisme in vitro yang dilakukan
menunjukan bahwa turunannya relatif stabil dengan 0,5% (5a) menjadi (5f)

ciprofloxacin terbentuk setelah 1 jam inkubasi dalam hepatosit. Senyawa-senyawa


yang juga stabil selama transportasi dan studi kelarutan.
Kesimpulan
Kimia medisinal klasik meningkatkan fleksibilitas molekul dan
lipofilisitas, sehingga meningkatkan kelarutan dan permeabilitas dari model
senyawa yang absorbsinya buruk. Penemuan ini dapat membimbing optimalisasi
kimia medisinal pada senyawa yang sukar larut, struktur terbatas fase padat
dengan penyerapan melalui sintesis senyawa dengan kurangnya pembentukan
kristal lattice menggunakan fleksibilitas, rantai samping lipofilik.

Daftar Pustaka

Chavda, HV. 2010. Biopharmacetics Classification System. Gujarat: Department


of Pharmaceutics and Pharmaceutical Technology. Available at:
www.article.asp.htm [diakses 24 februari 2014]
Martin, A., James S., Arthur C. 1990. Farmasi Fisika. Jakarta: Universitas
Indonesia Press.
RM, Hanwate et al., 2011., Solubility and Disolution Enhancement of Glipizide Using siklodextrin inclusion complex.,Internasional Journal of Intstitutional Pharmacy
and Life Science 1(3).

Shargel, L. 2004. Applied Biopharmaceutic and Pharmacokinetics. Fifth Edition.


Maryland: McGraw-Hills Access Pharmacy.
Tehler, ulika et al., 2013. Optimizing Solubility and Permeability of a

Biopharmaceutics Classication System (BCS) Class 4 Antibiotic Drug


Using Lipophilic Fragments Disturbing the Crystal Lattice. Journal of
medicinal chemistry.
Hudayana,Y.
2010.
Faktor
yang
mempengaruhi
kelarutan.
http://akmsmkn1pas.blogspot.com/2010/05/faktor-faktor-yangmempengaruhi. html [Diakses 24 Februari 2014].
Wagh, Milind P dan Jatin S. Patel. 2010. Biopharmaceutical classification system:
scientific basis for biowaiver extensions. Internatonal journal of pharmacy
and pharmaceutical sciences vol. 2, issue 1.