Anda di halaman 1dari 2

Rujukan dan Alasan

Sifat Rujukan dan Alasan


Rujukan adalah segala sesuatu yang digunakan seorang pembicara untuk menyokong
atau memperkuat tuntutannya. Materi-materi rujukan mungkin faktual atau nonfaktual. Faktafakta sulit didfinisikan; tetapi Doughlas Ehninger (1974) menyatakan bahwa fakta adalah
sesuatu yang diyakini orang-orang sebagai hal yang sebenarnya, baik karena mereka telah
mengalami kenyataan-kenyataan dari dekat maupun karena mereka dianggap telah
melaporkan pengalaman orang lain yang sesungguhnya (h. 51-52). Sebaliknya, rujukan
nonfaktual merupakan rujuan yang digunakan untuk menjelaskan rjukan faktual,
menambhakan minat pada rujukan faktual, membuat rujukan faktual dapat dipercaya, atau
memperkuat rujukan faktual.
Rujukan faktual terdiri atas laporan observasi langsung (kesaksiaan), statistik, contohcontoh, dan objek-objek faktual. Rujukan nonfaktual terdiri atas cerita, contoh hipotesis,
kutipan-kutipan sastra, analogi, dan sebagainya. Rujukan nonfaktual tidak kalah penting
dengan rujukan faktual. Bagaimanapun, cara-cara kita menggunakan dan mengevaluasi dua
bentuk rujukan ini sangat berbeda. Freeley (1981) menjelaskan bahwa rujukan faktual
digunakan untuk menetapkan tingkat kemungkinan yang tinggi atau bukti biologis,
sedangkan rujukan nonfaktual dapat digolongkan sebagai bukti etisatau bukti emosional
(h,. 119).
Sumber materi rujukan pembicara, aktual maupun nonfaktual, adalah tempat
ditemukannya rujukan itu. Sumber rujukan mungkin berupa buku, majalah, laporan
perusahaan, wawancara, observasi seseorang, dan sebagainya. Pembicara diharapkan
melaporkan sumber-sumber informasi kepada penyimak mereka; kadang0-kadang pembicara
juga perlu memberikan sifat mengenai sumber-sumber mereka yaitu, menjelaskan mengapa
sumber-sumber tersebut dapat diandalkan.
Rieke dan Sillars (1984) menjelaskan bahwa materi rujukan faktual dan rujukan
nonfaktual muncul dalam tiga bentuk. Pertama, rujukan mungkin berbentuk bukti, seperti
contoh-contoh, statistik, dan kesaksian. Kedua, rujukan mungkin berbentuk nila-nilai yang
dianut oleh oarang-orang yang menerima argumentasi, yaitu para anggota khalayak. Sebagai
contoh, jika Anda berpikir bahwa mendapatkan suatu pekerjaan yang baik merupakan hal

yang sangat diinginkan atau seorang pembicara menjanjikan bahwa membaca buku tertentu
akan meningkatkan kemampuan Anda dalam menemukan jenis pekerjaan yang tepat, maka
pembicara tersebut akan berusaha mendukung keinginan membaca buku dengan nilai yang
Anda anut. Ketiga, rujukan mungkin berbentuk kredibilitas. Kredibilitas seorang pembicara
dapat meningkatkan penerimaan gagasannya.
Nilai-nilai dan kredibilitas mungkin didukung oleh materi-materi faktual atau
nonfaktual. Rujukan faktual dan nonfaktual mungkin digunakan bersama-sama dengan nilai
dan/atau rujukan kredibilitas. Sebagai contoh, seorang pembicara berpendapat bahwa para
pegawai harus diberi keuntungan tambahan karena hidup mereka tidak sejahtera. Nilai
pendukungnya adalah bahwa hidup tidak sejahtera merupakan hal yang buruk bagi pegawai.
Pembicara ini mungkin menyajikan rujukan faktual untuk menjelaskan mengapa para
pegawai tidak sejahtera. A juga menyajikan rujukan faktual dan nonfaktual untuk suatu nilai
yang menyatakan bahwa memiliki pegawai yang tidak sejahtera merupakan suatu hal yang
buruk.
Alasan merupakan masalah pencapaian kesimpulan yang diambil dari data And.
Sebagai contoh, anggaplah Anda menginginkan para penyimak sependapat dengan
kesimpulan anda yang menyatakan bahwa perusahaan akan mengalami penurunan
keuntungan yang besar. Anda menyebutkan buktu atau rujukan bahwa semangat juang
pegawai sangat rendah. Jadi, anda mengemukakan alasan adanya semangat juang pegawai
yang rendah menyebabkan penurunan keuntungan. Kesimpulan ini berdasarkan anggapan
bahwa kapanpun semangat juang rendah, maka keuntungan akan menurun. Sebagaimana
disarankan Infante (1988), pembicara menyajikan tuntutan atau kesimpulan bila ia
menginginkan penyimak dapat menerimanya. Kemudian, pembicara menyajikan bukti atau
data untuk mendukung tuntutan. Akhirnya, pembicara mengemukakan alasan mulai dari data
sampai tuntutan. Pada kasus ini, pengemukaan alasan menghasilkan kesimpulan yang
menyatakan bahwa dengan adanya semangat juang rendah keunungan akan menurun. Asumsi
yang menyatakan bahwa semangat juang yang menurun menodai keuntungan merupakan
generalisasi yang mendasari kesimpulan tersebut.

Peran Rujukan dan Alasan dalam Presentasi