Anda di halaman 1dari 4

Soal 1.

Absorpsi gas sintesa oleh suatu larutan amina


Suatu gas sintesa akan dimurnikan untuk pembuatan amoniak. Gas sintesa tersebut memiliki
komposisi 18,8 %vol N2, 56,2 %vol H2, dan 25 %vol CO2. Debit yang harus diolah adalah
sebesar 100 mol/detik, atau sekitar 8000 m3(PTN)/jam, gas ini tersedia pada 20 atm. Kadar sisa
CO2 yang diinginkan adalah 3x10-3 %volume. Kita akan menggunakan kolom berunggun tetap
yang diisi dengan cincin Raschig 1,5 in, yang dioperasikan dengan aliran secara berlawanan
arah. Fasa cairan akan berupa larutan MEA dalam air, dengan konsentrasi total 2,5 M.
Tentukan ukuran kolom yang dapat memberikan hasil seperti yang diinginkan diatas.
Catatan.
Untuk menjawab bagian pertama ini kita akan menganggap terlebih dahulu seolah-olah satusatunya yang belum diketahui adalah tinggi kolom.
Ambil harga numerik sebagai berikut : P = 1 atm, T = 35oC.
Kadar CO2 dalam larutan MEA yang masuk kolom adalah 0,15 mol CO2/mol amina.
Kadar CO2 dalam larutan MEA yang keluar kolom adalah 0,40 mol CO2/mol amina.
Debit fasa cairan F2= 40 liter/detik = 14,4 m3/jam, dengan penampang kolom S = 2,25 m2.
Diketahui data-data sebagai berikut :
kL = 0,02 cm/s
A = 1,4 cm-1
kG = 4,85x10-6 mol/(s.atm.cm2)
k = 13000 L/(mol.s)
DA = 1,6x10-5 cm2/s
DB = 0,8x10-5 cm2/s
H = 40 atm.L/mol
Untuk menyederhanakan perhitungan kita akan menggunakan harga rata-rata faktor percepatan
E yang akan dihitung menurut teori film.
Jawaban :
Untuk mengetahui sifat absorpsi didalam kolom, kita hitung bilangan HATTA pada ujungujung tersebut, melalui persamaan berikut :
=

. . 1

Pada puncak kolom : b1 = 1,75 mol/liter


[13000
=

L
cm2
] [1,6x10 5 s ] [1,75 mol/liter]
mol. s
= 30
0,02 cm/s

Pada dasar kolom : b1 = 0,5 mol/liter


[13000
=

L
cm2
] [1,6x10 5 s ] [0,5 mol/liter]
mol. s
= 16
0,02 cm/s

Kita akan menghitung pula :


1
.

Untuk mana harus kita hitung dulu ai
Untuk setiap titik di dalam kolom dapat kita tulis :
. . (1 ) = . . .
Sehingga dapat kita turunkan menjadi :
=

. 1
. + .

(1)

Pada puncak kolom : p1 = 6x10-4 atm


Karena harga p1 sangat kecil, berarti kita akan berada dalam rejim reaksi cepat pseudo orde
pertama. Kita akan mendapatkan E = Ha, dan dari kenyataan ini akan diperoleh :
mol
4
atm]
2 ] [6x10
s.
atm.
cm
=
[34][0,02 cm/s] + [4,85106 mol/(s. atm. cm2 )][ 40 atm. L/mol]
[4,85106

= 3,3106 /
Dimana :
1 1 1,75
. =
= 1,3105
4 3,3106
Berarti benar-benar kita berada dalam hal suatu reaksi pseudo orde pertama (lihat diagram Ha
vs E) dibawah ini.

Pada ujung kolom : p1 = 5 atm


Dalam hal ini persamaan (1) akan dapat dipecahkan dengan memperkirakan harga-harga E
secara berturutan dari kurva diatas.
ai = 0,1 mol/liter
dimana :
1 0,5
=
. 10 = 1,25

4
E = 2,25
Kita akan dapat membuat perhitungan untuk berbagai harga p1, bahkan dapat pula mengetahui
perubahan ai dan E sebagai fungsi p1.
Lalu kita akan dapat pula menulis neraca molar relatif terhadap CO2 dalam fasa gas dengan
inspirasi dari persamaan (147) pada pembahasan kuliah. Sementara itu, dalam hal ini kita tidak
akan dapat menganggap F1 sebagai konstan sepanjang kolom.
Kita akan dapat menuliskan juga neraca ini dalam cara berikut :
() ()+ =

. . 1 . .

Dimana n adalah fluks molar CO2 yang melewati penampang tegak lurus kolom (mol/detik),
Atau juga :

= . . . 1

Dengan :
1
1

+
=
.
Kita akan mendapatkan :
= [

+
]
. . . 1

Tambahan pula dapat kita peroleh :


1 =

Dimana N adalah debit inert (N2 + H2) dalam mol/detik = 75 mol/detik.


Maka akan kita dapatkan tingi kolom dengan cara integral sebagai berikut :
0

Dengan

n0 25


( +
) (1 + )
(2)
.
. .

nL = 2,25 x 10-3
bila kita ambil E konstan = 10, maka akan dapat kita tulis :
=

1
1

( +
) [ + log()]0
. . 10.

1
40
25
= 1,59 (
+
) (25 + (75)(2,3)
)
4,58 (10)(20)
2,25 103
= 470
Untuk mendapatkan harga L yang lebih tepat seharusnya kita melakukan integrasi grafik atau
numerik persamaan (2) dengan membaca E dari kurva bahan kuliah, setelah menghitung ai
dengan menggunakan persamaan (1).
b1 akan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut :
2( 0 ) = 2 (1 10 )
Yang tak lain adalah penterjemahan stoikiometri reaksi.
Perhitungan yang lebih persis akan memberikan harga yang sama dapat kita temukan dalam
pustaka. Demikianlah dengan perhitungan diatas kita dapat mengajukan perencanaan awal
absorber tersebut.