Anda di halaman 1dari 23

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................... 1


BAB I ...................................................................................................................... 2
PENDAHULUAN .................................................................................................. 2
A. Latar Belakang ............................................................................................. 2
B. Tujuan .......................................................................................................... 3
BAB II ..................................................................................................................... 4
TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................... 4
A. Energi Surya ................................................................................................. 4
B. Energi Surya non-photovoltaic (Energi surya termal) ................................. 4
C. Kelebihan dan Kekurangan Energi Surya Termal dibandingkan dengan
Energi Sel Surya (Photovoltaic).......................................................................... 9
D. Pemanfaatan Matahari Sebagai Pembakit Listrik ........................................ 9
E. Prinsip kerja siklus rankine ........................................................................ 10
F. Penerapan siklus rankine pada pembangkit listrik energi solar thermal .... 11
G. Lup (Kaca Pembesar) ................................................................................. 12
BAB III ................................................................................................................. 14
METODE PENELITIAN ...................................................................................... 14
A. Prosedur kerja............................................................................................. 14
BAB IV ................................................................................................................. 15
PEMBAHASAN ................................................................................................... 15
A. Kesimpulan ................................................................................................ 21
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 22

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Energi mempunyai peranan yang penting terhadap kehidupan manusia.
Ditinjau dari sudut penyediaannya, sumber

energi

dari

bumi

dapat

dikelompokkan dalam 2 jenis yaitu energi terbarukan atau energi non fosil
dan energi tak terbarukan atau energi fosil seperti minyak bumi, batu bara dan
gas alam. Energi terbarukan adalah sumber energi yang dihasilkan dari
sumber daya energi yang secara alammiah tidak akan habis dan dapat
berkelanjutan jika dikelola dengan baik, antara lain: energi panas bumi,
energi matahari, biofuel, aliran air sungai, panas surya, angin, biomassa,
biogas, ombak laut dan suhu kedalaman laut.
Energi fosil khususnya minyak bumi, merupakan sumber energi utama
Negara . Penggunaan energi di Indonesia meningkat pesat sejalan dengan
pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Terbatasnya sumber
energi fosil menyebabkan perlunya pengembangan energi terbarukan. Yang
dimaksud dengan energi terbarukan di sini adalah energi non-fosil yang
berasal dari alam dan dapat diperbaharui. Bila dikelola dengan baik, sumber
daya itu tidak akan habis.
Pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia dapat digolongkan dalam
tiga kategori. Yang pertama adalah energi yang sudah dikembangkan secara
komersial, seperti biomassa, panas bumi dan tenaga air. Yang kedua adalah
energi yang sudah dikembangkan tetapi masih secara terbatas, yaitu energi
surya dan energi angin. Dan yang terakhir adalah energi yang sudah
dikembangkan, tetapi baru sampai pada tahap penelitian, misalnya energi
pasang surut.
Energi panas matahari merupakan salah satu energi yang potensial
untuk dikelola dan dikembangkan lebih lanjut sebagai sumber cadangan
energi terutama bagi negara-negara yang terletak di khatulistiwa termasuk
2

Indonesia, dimana matahari bersinar sepanjang tahun. Untuk memanfaatkan


potensi energi surya ada dua macam teknologi yang sudah diterapkan, yaitu
energi surya fotovoltaik dan energi surya fototermik.
Memasak menjadi suatu kegiatan rutin dalam kehidupan manusia.
Kompor tenaga surya dapat menjadi alat memasak alternatif yang dapat
digunakan oleh penduduk yang mengalami kesulitan akses terhadap kompor
gas, listrik, minyak tanah dan kayu bakar.
Demikian juga dalam bidang pertanian. Salah satu keberhasilan hasil
panen adalah pada proses pengeringan. Pengeringan yang tidak maksimal
akan mempengaruhi hasil panen tersebut. Selama ini, pemanfaatan energi
surya termal di Indonesia masih dilakukan secara tradisional. Para petani dan
nelayan di Indonesia memanfaatkan energi surya untuk mengeringkan hasil
pertanian dan perikanan secara langsung. Karena jika memakai mesin
pengering maka akan memakan biaya yang mahal.

B. Tujuan
1.

Tujuan
a) Mendapatkan salah satu solusi mengurangi pemakaian energi fosil
dalam kehidupan sehari-hari.
b) Mengenal beberapa aplikasi teknologi energi surya termal dan cara
kerja masing-masing alat.
c) Modifikasi alat konversi energi solar termal dengan menggunakan
lup

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Energi Surya
Energi surya adalah energi yang didapat dengan mengubah energi panas
surya (matahari) melalui peralatan tertentu menjadi sumber daya dalam
bentuk lain. Untuk memanfaatkan potensi energi surya tersebut, ada dua
macam teknologi yang sudah diterapkan, yaitu teknologi energi fototermik
dan energi surya fotovoltaik. Energi surya fototermik atau energi surya termal
pada umumnya digunakan untuk memasak (kompor surya), mengeringkan
hasil pertanian (perkebunan, perikanan, kehutanan, tanaman pangan) dan
memanaskan air. Energi surya fotovoltaik digunakan untuk memenuhi
kebutuhan listrik, pompa air, televisi, telekomunikasi, dan lemari pendingin.
B. Energi Surya non-photovoltaic (Energi surya termal)
Surya termal adalah teknologi yang mengubah radiasi matahari menjadi
energi panas dengan menggunakan alat pengumpul panas atau yang biasa
disebut Kolektor surya.
1.

Kolektor Surya
Kolektor surya merupakan piranti utama dalam system surya termal
yang berfungsi mengumpulkan dan menyerap radiasi sinar matahari dan
mengkonversinya menjadi energi panas. Ketika cahaya matahari
menimpa absorber pada kolektor surya, sebagian cahaya akan
dipantulkan kembali ke lingkungan, sedangkan sebagian besarnya akan
diserap dan dikonversi menjadi energi panas, lalu panas tersebut
dipindahkan kepada fluida yang bersirkulasi di dalam kolektor surya
untuk kemudian dimanfaatkan pada berbagai aplikasi yang membutuhkan
panas. Kolektor surya yang pada umumnya memiliki komponenkomponen utama, yaitu
a) Cover, berfungsi untuk mengurangi rugi panas secara konveksi
menuju lingkungan

b) Absorber, berfungsi untuk menyerap panas dari radiasi cahaya


matahari.
c) Kanal, berfungsi sebagai saluran transmisi fluida kerja.
d) Isolator, berfungsi meminimalisasi kehilangan panas secara konduksi
dari absorber menuju lingkungan
e) Frame, berfungsi sebagai struktur pembentuk dan penahan beban
kolektor
2.

Tipe Kolektor Surya


Kolektor surya dapat dibuat dalam berbagai bentuk dan ukuran
tergantung pada aplikasi yang dibutuhkan.

a.) Kolektor Surya Plat Datar


Kolektor surya plat datar merupakan jenis kolektor yang saat ini sudah banyak
dipasaran. Kolektor ini umumnya digunakan untuk memanaskan air atau udara
dengan suhu operasi yang cukup rendah yaitu dibawah 80oC. Ciri khas kolektor
pelat datar adalah berupa kotak logam/baja terisolasi yang memiliki pelat
penyerap (absorber) berwarna hitam dan ditutupi oleh laisan kaca/plastic
transparan dan kemudian mentransfernya ke fluida cair atau udara. Keuntungan
kolektor surya jenis ini adalah tidak membutuhkan biaya yang tinggi dan dapat
menerima radiasi surya langsung maupun radiasi sebaran.

Gambar 1 Bentuk umum pemanas air dengan kolektor plat datar


Cara kerjanya Kolektor plat datar untuk pemnas air adalah ketika pagi hari air
dipompa dari sumur ke tangki penyimpan hingga penuh. Kemudian saat matahari
bersinar, pompa dibawah kolektor dihidupkan untuk menggerakkan fluida kerja.
Fluida kerja yang bersirkulasi tersebut akan mentransfer kalor dari kolektor ke
tangki penyimpan air. Setelah sore hari maka air hangat dari tangki penyimpan
dapat digunakan untuk mandi atau keperluan yang lain.

Gambar 2 Kolektor Surya Plat Datar untuk Pemanas Udara


Dari gambar 2, prinsip kerja kolektor surya pemanas udara tenaga matahari dapat
dijelaskan sebagai berikut. Berkas radiasi matahari yang menimpa kolektor
pertama akan menembus penutup transparan kemudian menimpa pelat. Sebaguian
6

radiasi akan dipantulkan kembali menuju penutup transparan dan sebagian lagi
akan diserap oleh pelat penyerap. Radiasi yang dipantulkan ke penutup beberapa
akan dipantulkan kembali ke pelat penyerap, sehingga terjadi pemantulan
berulang. Radiasi yang diserap olep pelat penyerap, akan dirubah menjadi energi
panas dan ditransmisikan ke fluida kerja yang mengalir di bawah pelat penyerap.
a) Kolektor Tabung Hampa
Penemuan yang paling kontemporer di abad 21 adalah pemanas air dengan
kolektor penyerap panas Sistem Tabung Vacuum yang sangat sensitif (cepat)
menyerap panas dan sangat efisien menyimpan panas. Tabung vacuum terdiri dari
dua tabung kaca yang membentuk lapisan. Tabung lapisan dalam dilapisi dengan
lapisan penyerap terbaik yang menyerap energi surya dengan sempurna dan
menahan pembuangan panas. Antara dua lapisan tersebut terbentuk suatu ruang
vacuum (hampa udara), yang dapat meminimalisasi pembuangan panas. Tabungtabung ini bekerja sangat baik dalam segala kondisi cuaca bahkan pada saat
mendung dan temperatur rendah (bersalju). Tabung ini terbuat dari 100% kaca
borosilicate (pyrex). Penyerapan panas pada sistem tabung vacuum diterima
secara radiasi. Sehingga, persentase kehilangan panas sangat kecil.

Gambar 3 Kolektor Surya Tabung Hampa

c.) Kolektor Parabola / Konsentrator


Jenis ini dirancang untuk aplikasi yang membutuhkan energi panas pada
temperatur tinggi > 100oC. Kolektor surya jenis ini mampu memfokuskan energi
radiasi cahaya matahari pada suatu receiver sehingga dapat meningkatkan
kuantitas energi panas yang diserap oleh absorber. Komponen konsentrator harus
terbuat dari material dengan transmisivitas tinggi.

Gambar 4 Kolektor Parabola/Konsentrator

Contoh Rancangan struktural kolektor surya tipe plat datar

C. Kelebihan dan Kekurangan Energi Surya Termal dibandingkan dengan


Energi Sel Surya (Photovoltaic)
1.

Keunggulan
a) Aplikasi teknologi energi surya termal mudah ditemukan di pasaran
dibandingkan energi sel surya yang masih impor.
b) Harganya lebih ekonomis dibandingkan dengan energi sel surya
c) Bisa dibuat sederhana oleh masyarakat (cth : Kompor surya)
d) Bahan dan material yang dibutuhkan cukup murah dan mudah
ditemukan

2.

Kekurangan

a) Teknologi energi surya termal untuk memasak dan mengeringkan


hasil pertanian masih sangat terbatas. Akan tetapi, sebagai pemanas
air, energi surya termal sudah mencapai tahap komersial. Teknologi
surya termal masih belum berkembang karena sosialisasi ke
masyarakat luas masih sangat rendah

b) Belum terdapat teknologi yang pernah digunakan untuk menyimpan


panas pada alat kompor surya dan pengering hasil pertanian sehingga
tidak bisa digunakan pada malam hari.

D. Pemanfaatan Matahari Sebagai Pembakit Listrik


Salah satu pemanfaatan energi solar thermal adalah untuk pembangkit listrik. Pada
prinsipnya pembnagkit listrik ini memanfaatkan energi panas matahari untuk
menggerakan heat engine, yaitu suatu sistem yang mengubah energi panas
menjadi energi gerak (kerja). Energi gerak dalam bentuk putaran ini lah yang
digunakan untuk memutar generator sehingga menghasilkan listrik. Berdasarkan
siklus Carnot, efisiensi maximum yang dapat dicapai oleh suatu heat
engine adalah:

Dari efisiensi siklus carnot dapat terlihat bahwa, semakin tinggi temperatur TH

maka semakin tinggi efisiensinya. Ini artinya dibutuhkan tempearatur yang

tinggi

untuk

mendapatkan

efisiensi

yang

tinggi.

Oleh

karena

itu

biasanya concentrating solar collector digunakan untuk pembangkit listrik. Yang


akan di bahas disini adalah pembangkit listrik yang menggunakan siklus rankine.

E. Prinsip kerja siklus rankine

Hampir semua pembangkit listrik, baik itu yang berbahan bakar batu bara atau
pun nuklir, menggunakan siklus rankine untuk mendapatkan energi gerak (kerja).
Untuk lebih jelasnya perhatikan siklus rankine di bawah ini:

Gambar 5. Siklus Rankine

Pada boiler air dipanaskan hingga mengahasilkan uap bertekanan dan temperatur
tinggi. Uap ini dialirkan ke turbin sehingga poros turbin berputar. Setelah
memutar turbin uap kondensasikan menjadi air di kondenser. Selanjutnya air
kondensasi ini dipompakan kembali ke boiler untuk proses yang sama. Listrik
dapat dihasilkan karena putaran turbin dihubungkan ke generator. Dalam
pembangkit listrik energi solar thermal, panas matahari digunakan untuk
memanaskan air sehingga dihasilkan uap. Pada gambar ditunjukkan dengan Qin.

10

F. Penerapan siklus rankine pada pembangkit listrik energi solar


thermal

Salah satu pembangkit listrik tenaga solar thermal yang menggunakan siklus
rankine adalah Solar Energy Generating System (SEGS) yang terletak di gurun
Mojave di California. Sembilan buah pembangkit listrik dibangun antara tahun
1984 dan 1990 dengan total kapasitas 354 MW. Pembangkit listrik ini
menggunakan cermin parabolik berjumlah 232.500 cermin. Luas area nya
mencapai 6.5 km2, dengan panjang total 370 km. Radiasi matahari yang datang
dipantulkan ke pipa yang terisi minyak sintetis yang dapat dipanaskan hingga
400 oC. Dengan cermin parabolik ini intensitasnya 70 80 kali lipat dari
intensitas matahari biasa. Oli sintetis yang bertemperatur ini dialirkan ke boiler
sehingga terjadi perpindahan panas dari oli ke air untuk siklus rankine, sehingga
listrik dihasilkan.

Gambar 6. Solar Energy Generating System

Untuk mencapai temperatur yang lebih tinggi, radiasi matahari difokuskan ke satu
titik (Heliostat), ditunjukkan oleh gambar 1. Dengan cara ini, temperatur yang
sangat tinggi dapat dicapai (565 oC). Pembangkit listrik yang menggunakan
11

konsep ini adalah proyek Solar One yang juga terletak di gurun Mojave, gambar
2.

Gambar 7. (a) Heliostat; (b) Solar One, Mojave

Proyek ini selesai pada tahun 1981 dan dioperasikan pada ahun 1982 sampai
dengan 1986. Pembangkit ini menggunakan 1818 cermin. Oli atau air digunakan
sebagai fluia kerja. Pada awalnya efisiensi pembangkit ini hanya 6%. Pada tahun
1995, Solar

One ditingkatkan

menjadi Solar

Two.Garam

yang dilelehkan

digunakan sebagai fluida kerja dalam pembangkit ini, yaitu 60% sodium nitride
dan 40% potasisium nitrde. Kapasistas yang dihasilkan mencapai 10 MW dengan
efisiensi 16%.

G. Lup (Kaca Pembesar)


Lup atau kaca pembesar adalah sebuah lensa cembung yang mempunyai titik
fokus yang dekat dengan lensanya. Benda yang akan diperbesar terletak di dalam
titik fokus lup itu atau jarak benda ke lensa lup tersebut lebih kecil dibandingkan
jarak titik fokus lup ke lensa lup tersebut. Bayangan yang dihasilkan bersifat
tegak, nyata, dan diperbesar. Lup ditemukan oleh seorang dari Arab bernama Abu
Ali al-Hasan Ibn Al-Haitham.

12

Titik fokus suatu lup menentukan perbesaran yang dihasilkan, oleh karena itu titik
fokusnya adalah besaran yang perlu diketahui (lihat juga dibawah). Dalam
penggunaan sehari-hari jarak titik fokus dari sebuah lup dapat ditentukan dengan
percobaan sederhana cahaya dapat dikumpulkan di satu titik yang berjarak
tertentu dari lensa lup. Apabila cahaya mencapai tingkat energi yang tinggi maka
kertas, serpih kayu, atau lainnya dapat terbakar ketika diletakkan di bawah lup
tersebut. Dalam hal ini cahaya dikumpulkan di sebuah titik yang disebut titik
fokus atau titik api yang sifatnya maya atau semu bukan nyata atau di belakang
lensa tersebut.
Pembesaran

Perbesaran angular

Sudut pandang tanpa Lup

Sudut pandang dengan Lup

Jarak pandang normal

Besar objek

Titik fokus

13

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Prosedur kerja
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Dengan membuat sebuah
penghangat air bertenaga surya yang memanfaatkan lup sebagai alat utamanya.
Setelah jadi, penulis akan menguji efektifitas penghangat air tersebut secara
langsung. Jika suhu air yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan penghangat air
yang secara langsung tanpa lup, maka terbukti bahwa lup dapat menghangatkan
air secara langsung dan dengan waktu yang lebih cepat.
Variabel bebas dari penelitian ini adalah jumlah lup dan kekuatan lensa dari
lup yang digunakan. Sementara variabel terikat dari penelitian ini adalah volume
air yang berada di dalam wadah kaleng.
Alat yang digunakan antara lain: kaleng bekas, lup, alumunium foil, karton
hitam, penyangga lup, lakban bening, lem, dan thermometer. Sedangkan
bahan yang digunakan yaitu air.
Pengumpulan data pada penelitian ini adalah menjemur langsung alat di
bawah sinar matahari. Tahap dalam penelitian ini adalah:

a. Mengecat permukaan luar kaleng dengan cat hitam,


b. Membungkus seluruh bagian dalam kaleng dengan karton hitam,
c. Membungkus seluruh bagian dalam kaleng dengan alumunium foil
d. Pasang lup di tutup kaleng.
e. Masukkan air dan ukur suhu awal .
f. Ukur suhu air sesuai waktu yang sudah ditentukan.
g. Bandingkan suhu air di wadah berLup dan di wadah tidak berLup.

14

BAB IV
PEMBAHASAN

contoh hasil dan Pembahasan yang telah dikerjakan oleh orang lain :

Hasil penelitian yang didapat dari pengamatan suhu air yang dimulai dari
hari Jumat tanggal 1 November 2013 hingga Senin tanggal 4 November 2013
yang bertempat di Pamulang dan Depok adalah sebagai berikut:
Tabel 1.1. Hasil Pengamatan Tabel Kaleng berLup Hari-1
No.

Waktu Pengecekan

Suhu Air

Volume Air

Jumlah
Lup/Dioptri

09:00

27oC

1 liter

1/3

12:00

31 C

1 liter

1/3

15:00

28oC(Hujan)

1 liter

1/3

1 liter

1/3

18:00

27 C

Tabel 1.2. Hasil Pengamatan Tabel Tidak berLup Hari-1


No.

Waktu Pengecekan

Suhu Air
o

Volume Air

09:00

27 C

1 liter

12:00

28oC

1 liter

15:00

1 liter

1 liter

3
4

18:00

28 C(Hujan)
26 C

Tabel 1.3. Hasil Pengamatan Tabel Kaleng berLup Hari-1


No.

Waktu Pengecekan

Suhu Air

Volume Air

Jumlah
Lup/Dioptri

09:00

27 C

1 liter

1/3

12:00

29oC

1 liter

1/3

15:00

27 C(Hujan)

1 liter

1/3

18:00

27oC

1 liter

1/3

Hari kedua:

15

Tabel 2.1. Hasil Pengamatan Tabel berLup Hari-2


No.

Waktu Pengecekan

Suhu Air

Volume Air

Jumlah
Lup/Dioptri

09:00

1 liter

1/3

27 C(Mendung)

12:00

27 C(Mendung)

1 liter

1/3

15:00

27oC(Hujan)

1 liter

1/3

1 liter

1/3

18:00

27 C

Tabel 2.2. Hasil Pengamatan Tabel tidak berLup Hari-2


No.

Waktu Pengecekan

Suhu Air
o

Volume Air

09:00

27 C(Mendung)

1 liter

12:00

27oC(Mendung)

1 liter

15:00

27 C(Hujan)

1 liter

18:00

27oC

1 liter

Tabel 2.3. Hasil Pengamatan Tabel berLup Hari-2


No.

Waktu Pengecekan

Suhu Air

Volume Air

Jumlah
Lup/Dioptri

09:00

27 C(Mendung)

1 liter

1/1.3

12:00

27oC(Mendung)

1 liter

1/1.3

15:00

27 C(Hujan)

1 liter

1/1.3

18:00

27oC

1 liter

1/1.3

Hari ketiga:
Tabel 3.1. Hasil Pengamatan Tabel berLup Hari-3
No.

Waktu Pengecekan

Suhu Air

Volume Air

Jumlah
Lup/Dioptri

09:00

1 liter

1/3

28 C(Mendung)

12:00

28 C(Mendung)

1 liter

1/3

15:00

28oC(Hujan)

1 liter

1/3

1 liter

1/3

18:00

28 C

Tabel 3.2. Hasil Pengamatan Tabel Tidak berLup Hari-3


No.

Waktu Pengecekan

Suhu Air

16

Volume Air

09:00

28oC(Mendung)

1 liter

12:00

28oC(Mendung)

1 liter

15:00

28 C(Hujan)

1 liter

18:00

28oC

1 liter

Tabel 3.3. Hasil Pengamatan Tabel berLup Hari-3


No.

Waktu Pengecekan

Suhu Air

Volume Air

Jumlah
Lup/Dioptri

09:00

28oC(Mendung)
o

1 liter

1/1.3

12:00

28 C(Mendung)

1 liter

1/1.3

15:00

28oC(Hujan)

1 liter

1/1.3

1 liter

1/1.3

Volume Air

Jumlah

18:00

28 C

Hari keempat:
Tabel 4.1. Hasil Pengamatan Tabel berLup Hari-4
No.

Waktu Pengecekan

Suhu Air

Lup/Dioptri
09:00

26 C

1 liter

1/3

12:00

36 C

1 liter

1/3

15:00

32oC(Mendung)

1 liter

1/3

1 liter

1/3

18:00

32 C

Tabel 4.2. Hasil Pengamatan Tabel Tidak berLup Hari-4


No.

Waktu Pengecekan

Suhu Air
o

Volume Air

09:00

26 C

1 liter

12:00

32oC

1 liter

15:00

28 C

1 liter

18:00

27oC

1 liter

17

Tabel 4.3. Hasil Pengamatan Tabel Tidak berLup Hari-4


No.

Waktu Pengecekan

Suhu Air

Volume Air

Jumlah
Lup/Dioptri

09:00

26 C

1 liter

1/1.3

12:00

30 C

1 liter

1/1.3

15:00

32oC(Mendung)

1 liter

1/1.3

1 liter

1/1.3

18:00

32 C

Dari hasil pengamatan tersebut terlihat bahwa perubahan suhu yang terjadi di
dalam kaleng berLup lebih tinggi jika dibandingkan dengan klaeng yang tidak
dipasangi lup sama sekali.
Dari hasil pengamatan selama 4 hari tersebut terlihat bahwa perubahan suhu
yang terjadi di dalam kaleng berLup lebih tinggi jika dibandingkan dengan kleng
yang tidak dipasangi lup samasekali.
Untuk mengetahui efekifitas penggunaan lup sebagai pemanas air pertama
tama peneliti membuat sebuah wadah air menggunakan kaleng bekas. Agar kaleng
tersebut dapat menyimpan panas lebih lama seluruh permukaan luar kaleng
tersebut di cat berwarna hitam, karena menurut teori fisika warna hitam dapat
menyerap dan menyimpan panas lebih sempurna dibandingkan warna lainnya.
Setelah itu seluruh permukaan dalam kaleng yang sama ditutup menggunakan
karton hitam dengan tujuan yang sama, namun karena karton tidak bersifat
waterproof maka bagian atas karton ditutupi kembali dengan alumunium foil
untuk menahan air dan menyimpan panas lebih lama. Setelah wadah siap, lup
dipasang di bagian tutup kaleng dan wadah diisi air bersuhu normal sekitar 25
hingga 30 derajat celcius. Siapkan kaleng lain yang tidak diwarnai ataupun di
tutupi oleh karton hitam, alumunium dan juga tidak dipasangi lup, lalu isi dengan
air bersuhu dan volume yang sama seperti kaleng yang sebelumnya.
Setelah dilakukan penelitian, pada hari pertama didapatkan hasil yang
menyatakan bahwa kenaikan suhu yang terdapat di wadah air yang dipasangi lup
lebih tinggi dibandingkan dengan wadah yang tidak dipasangi lup dibagian
atasnya. Suhu awal kedua air didalam wadah berbeda tersebut merupakan 27
18

derajat celcius. Namun, setelah tiga jam dipanaskan dibawah sinar matahari
dengan intensitas yang sama didapatkan perubahan suhu yang berbeda. Perubahan
suhu yang terjadi di wadah berLup yaitu 4 derajat celcius sementara di wadah
tidak berlup hanya 1 derajat celcius. Hal ini menandakan lup dapat
mengefektifkan energi panas yang terdapat di dalam sinar matahari.
Pada hari kedua dan ketiga penelitian dilakukan, didapatkan hasil yang sangat
tidak maksimal suhu di kedua wadah tetap sama dari awal pengamatan pukul
09:00 waktu setempat hingga akhir pengamatan yaitu pukul 18:00. Hal ini
disebabkan oleh minimnya intensitas cahaya matahari yang ada dan juga
terjadinya hujan sekitar pukul 14:45 saat itu.
Pada hari terakhir penelitian, hasil yang didapatkan menunjukkan hasil yang
paling maksimal diantara hari hari lainnya. Suhu awal yang sama yaitu 26 derajat
celcius berubah menjadi 36 derajat celcius pada kaleng yang berLup dan 32
derajat celcius pada kaleng yang tidak berLup. Hal tersebut kembali membuktikan
bahwa lup dapat mengefektifkan energi panas yang terkandung didalam cahaya
matahari.

Hipotesis Sementara

Perubahan suhu yang terjadi di wadah ber Lup yaitu 4 derajat celcius
sementara di wadah tidak berlup hanya 1 derajat celcius. Hal ini menandakan lup
dapat mengefektifkan energi panas yang terdapat di dalam sinar matahari.
Dari perubahan suhu yang didapatkan dan menunjukkan hasil bahwa lup lebih
efektif untuk meningkatkan suhu air dibandingkan dengan tidak menggunakan lup
dikarenakan sifat lup yang merupakan lensa cembung yaitu konvergen, atau
mengumpulkan cahaya. Dalam penelitian ini, cahaya matahari yang difokuskan
mengandung energi termal atau biasa disebut energi panas. Oleh karena itu energi
panas yang terkandung di dalam cahaya matahari juga ikut terfokuskan ke arah
air.

19

Didalam penelitian ini proses yang terjadi adalah proses heliothermal yang
merupakan konversi energi tenaga surya yang menyerap langsung radiasi yang
terkandung dalam cahaya matahari, jenis konversi energi ini merupakan yang
paling efektif diantara proses konversi energi surya lainnya. Karena proses
heliothermal dapat mengefektifkan 100% energi yang dihasilkan secara langsung
oleh matahari.
Suhu yang berubah ketika sinar matahari belum muncul ataupun telah terbenam
juga bukan berarti bahwa energi yang ada di dalam sistem menghilang. Energi
bersifat tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan tetapi dapat dirubah
bentuknya menjadi berbagai jenis seperti energi listrik dan lain-lain.

20

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ditinjau dari sudut penyediaannya, energi dapat dikelompokkan
menjadi energi terbarukan dan energi tak terbarukan (fosil) seperti minyak,
gas dan batu bara. Energi terbarukan adalah sumber energi yang secara
alamiah tidak akan habis dan berkelanjutan jika dikelola dengan baik seperti
energi surya, energi angin, aliran air sungai, ombak laut, panas bumi dan suhu
kedalaman laut. Untuk memanfaatkan potensi energi surya ada dua macam
teknologi yang sudah diterapkan, yaitu energi surya fotovoltaik (PV) dan
energi surya fototermik (surya termal).
Energi surya termal merupakan salah satu energi terbarukan yang
diperlukan bagi masyarakat karena memiliki keunggulan-keunggulan dan
dapat mengurangi pemakaian energi fosil yang saat ini semakin berkurang.
Energi surya termal berfungsi menyerap panas dari radiasi matahari melalui
kolektor surya. Energi surya termal dapat dijangkau daripada energi sel surya
karena harganya yang ekonomis dan juga salah satu teknologinya bisa dibuat
sendiri di rumah yaitu kompor surya tipe kotak. Teknologinya bertahan lama
sampai 25 tahun dan cara merawat teknologi tersebut juga mudah.

21

DAFTAR PUSTAKA

Duffie, John A. dan Beckman, William A, 1991, Solar Engineering of Thermal


Processes, John Willey dan Sons, Inc New York
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 2010. Pemanfaatan Energi Surya di
Indonesia. Ditjen LPE-ESDM.
Matilda M. Gati dkk. 2006. Desain Kolektor Plat Datar untuk Pemanas Air.
Makalah Energi Surya
Petra Widmer. 2006. Pangan, Papan dan Kebun berguna. Yogyakarta : Kanisius
Dari Internet :
Intisolar.com.
2010.
Tipe
Kolektor
Pemanas
Air.
http://www.intisolar.com/pemanas_air/tipe_kolektor_pemanas_air_tenaga_
matahari.html
Mhharismansur. 2012. Berbagai Aplikasi Energi Matahari.
http://tanjungsyam.blogspot.com/2012/07/berbagai-aplikasi-energi-matahari.html
Catatan Teknik Blogspot 2014, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Surya
http://catatan-teknik.blogspot.com/2014/05/pembangkit-listrik-tenaga-panassurya.html
Fathan

Algi,

2014.

Pemanfaatan

http://karyailmiahcopas.blogspot.com/2014/01/pemanfaatan-lup.html

22

Lup

STUDENT PROJECT
PEMANFATAAN PEMBANGKIT ENERGI SOLAR TERMAL
DENGAN MODIFIKASI PENGGUNAAN LUP

Nama

: Brain Aulia

NPM

: 140310100016

Laboratorium Fisika Energi


Jurusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
2014

23