Anda di halaman 1dari 9

TEORI AKUNTANSI

PENYUSUNAN STANDAR AKUNTANSI


DARI ISU EKONOMI

KELOMPOK 3*
NICO ARFI S
115020300111018
RHESA FAISAL
115020300111021
HELMI AFIF
115020300111023
JOHANES BORNEO
115020300111033
JARRY ROY
115020300111025
YOHAN IMTIHAN
115020300111061
DEVIAN FATH A
115020300111024
HISYAM FAUZY
115020300111095
MUHAMMAD RIZQILLAH 115020300111004

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2014
1

PENYUSUNAN STANDAR: ISU EKONOMI

Perluasan dalam hal penyusunan standar adalah merupakan sesuatu yang menantang
bagi akuntan. Banyak aspek produksi informasi perusahaan yang dapat diatur, dan
banyak aturan ini dibuat oleh badan penyusun standar dalam bentuk GAAP. Lebih
jauh lagi, jumlah aturan tersebut terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya
standar akuntansi yang diumumkan.

Dalam tahun terakhir ini, banyak dari industi membuat aturan dalam pola kerjanya.
Penerbangan, pengangkutan, jasa keuangan, dan telekomunikasi adalah merupakan
contoh dari industrialisasi yang telah diatur secara formal. Kemudian pertanyaan
selanjutnya yaitu apakah aturan yang akan dibuat ini menimbulkan banyaknya
kompetensi dan inovasi atau bahkan sebaliknya bahwa penciptaan aturan baru ini
akan menimbulkan kakacauan. Namun pembahasan mengenai pro dan kontra pada
penyusunan standar akan membantu kita dalam melihat trade off yang telibat dalam
mengekspresikan peran penting informasi dalam lingkungan.

Penyusunan Standar dari Isu Ekonomi


Standar disusun dengan tujuan untuk memediasi konflik kepentingan antara investor
dan manajemen. Penyusunan standar merupakan sebuah tantangan bagi para akuntan.
Banyak aspek dari produksi informasi perusahaan yang diregulasi, dan banyak
regulasi tersebut dibuat oleh badan penyusun standar dalam bentuk prinsip akuntansi
yang diterima dan berlaku umum-GAAP. Selanjutnya. Sampai saat ini semakin
banyak standar yang disusun dan dibuat demi untuk mengakomodasi kebutuhan
akuntansi dewasa ini.

Regulasi Aktivitas Ekonomi


Alasan utama adanya regulasi ini adalah untuk melindungi para individu yang berada
pada suatu informasi

yang merugikan. Ini menunjukkan bahwa asimetri

informasi mendasari kebutuhan untuk regulasi atas produksi informasi Aturan


perdagangan insider dan regulasi untuk memastikan full disclosure dalam prospektus
merupakan beberapa contohnya. Selain untuk melindungi investor biasa, regulasi
semacam ini juga dimaksudkan untuk memperbaiki kinerjaa pasar modal dengan
meningkatkan keyakinan publik mengenai kewajaran pasar modal. Informasi asimetri
2

seringkali digunakan untuk membenarkan diberlakukannya regulasi untuk melindungi


keadaan yang merugikan informasi. Aturan perdagangan insider dan regulasi untuk
memastikan full

disclosure dalam

prospektus

merupakan beberapa

contohnya.

Akuntansi juga sangat dipengaruhi oleh regulasi yang dirancang untuk melindungi
pemakai akibat adanya informasi asimetri. Satu peran penting akuntansi dan auditing
adalah melaporkan informasi yang relevan dan reliabel, sehingga mengurangi
informasi asimetri antara insider perusahaan, publik yang berinvestasi, dan pemakai
lain.

Dalam chapter ini perhatian utama kita adalah regulasi persyaratan disclosure
minimum, standar akuntansi dan standar auditing yang diterima umum, dan
persyaratan bahwa perusahaan publik harus diaudit. Kita akan menggunakan istilah
pengaturan standar untuk menunjukkan pembentukan berbagai aturan dan regulasi ini.
Perhatikan bahwa pengaturan standar ini melibatkan regulasi keputusan mengenai
informasi perusahaan yang dihasilkan. Untuk tujuan ini, tidaklah menjadi masalah
apakah standar ini diatur oleh regulasi secara langsung ataupun tak langsung. Dalam
hal regulasi tak langsung, otoritas mengatur standar yang secara jelas diserahkan, atau
dijinkan oleh pemerintah. Point utama yang ingin dicapai adalah bahwa perusahaan
sama sekali tidak bebas dalam mengendalikan jumlah dan kapan informasi tentang
perusahaannya diproduksi. Namun, mereka harus melakukannya sesuai dengan
sejumlah regulasi, yang kita sebut standar, yang ditetapkan oleh otoritas sentral.

Terdapat

dua

jenis

informasi

yang

dapat

dimiliki

oleh

manajer:

jenis

pertama proprietary information; merupakan informasi yang, jika dirilis, akan


mempengaruhi secara berlawanan aliran kas perusahaan di masa mendatang.
Misalnya, informasi teknik mengenai patent yang berharga, atau rencana untuk
inisiatif strategi seperti penawaran takeover atau merger. Biaya bagi manajer dan
perusahaan akibat dirilisnya informasi proprietary ini bisa sangat tinggi. Jenis kedua
disebut nonproprietary information; merupakan informasi yang tidak secara
langsung mempengaruhi arus kas perusahaan. Informasi ini mencakup informasi
laporan keuangan, peramalan earning, rincian pembiayaan yang baru, dll. Audit juga
termasuk dalam informasi yang bersifat nonproprietary.

Karakterisasi Produksi Informasi


Produksi informasi digunakan untuk dua alasan. Pertama, informasi sebagai suatu
komoditas yang dapat diproduksi dan dijual. Maka, wajar saja jika kita
mempertimbangkan secara terpisah biaya dan manfaat informasi yang diproduksi.
Kedua, memerlukan suatu cara yang dapat menyatukan pemikiran mengenai berbagai
macam cara yang dilakukan untuk memproduksi informasi. Informasi merupakan
komoditas yang kompleks. Apa yang kita maksud saat kita membicarakan kuantitas
informasi yang diproduksi? Ada beberapa cara untuk menjawab pertanyaan ini.
Pertama, kita dapat memikirkan ini.
kita dapat memikirkan informasi yang lebih tajam dan benar (finer
information).
kita bisa berpikir mengenai informasi tambahan
memikirkan produksi informasi yang lebih kredibilitas

Insentif Pribadi Untuk Menghasilkan Informasi


Insentif secara kontraktual
Dorongan untuk memproduksi informasi privat muncul dari kontrak yang diikuti oleh
perusahaan. informasi diperlukan untuk memonitor ketaatan terhadap kontrak,
misalnya, jika usaha manajerial tidak dapat diamati, ini mengarah pada suatu kontrak
insentif yang didasarkan atas hasil operasi perusahaan. Juga, suatu audit akan
menambah kredibilitas terhadap net income yang dilaporkan, sehingga baik pemilik
dan manajer perusahaan bersedia menerima net income yang dilaporkan sebagai
ukuran yang andal atas kinerja manajemen.

Kontrak dapat memberikan banyak rincian dalam laporan keuangan (informasi finer)
untuk menyulitkan pemilik, yang sekaligus menjadi manajer, dalam menyembunyikan
atau memendamkan biaya dari penghasilan tambahan. Kontrak juga dapat
mewajibkan suatu audit untuk meningkatkan kredibilitas produksi informasi

Alasan kontraktual lainnya atas produksi informasi privat yang muncul saat
perusahaan yang dimiliki perseorangan akan go publik. Ini dirumuskan oleh Jensen
dan Meckling (1976). Manajer-pemilik perusahaan go publik, setelah menjual semua
atau sebagian kepentingannya, memiliki motivasi untuk meningkatkan kelalaian.

Perhatikan bahwa sebelum IPO, masalah kelalaian merupakan urusan internal


perusahaanpemilik sekaligus manajer menanggung semua biaya. Biaya kelalaian
merupakan pengurang profit yang terjadi. Akibat adanya issue baru, pemilik sekaligus
manajer tidak memikul semua biaya itupemilik yang baru akan ikut
menanggung bagiannya secara proporsional. Jadi, biaya kelalaian pemilik sekaligus
manajer tak sebanyak setelah go publik, sehingga ia akan mengadakan biaya kelalaian
yang melebihi sebelumnya. Ini merupakan biaya agensi bagi pemilik baru perusahaan.
Insentif berbasis pasar
Dorongan

privat

bagi

manajer

untuk

memproduksi

informasi

mengenai

perusahaannya juga berasal dari tekanan pasar. Ini melibatkan beberapa pasar.
Pertama kali, pertimbangkan pasar manajer, seperti dibahas oleh Fama (1980), kita
bisa memikirkan manajer sebagai subyek pasar tenaga kerja manajerial, yang
menempatkan nilai pasar atas jasa manajerialnya. Manajer yang rasional akan
memilih nilai pasar yang lebih tinggi, dengan asumsi hal-hal lain dianggap sama/tidak
berubah. Ini akan meningkatkan reservation utility yang dapat mereka minta dalam
kontrak pekerjaan agensi.

Konsekuensinya,

mereka

akan

terdorong untuk

memaksimumkan nilai pasar perusahaan, sebab nilai pasar mereka sendiri agaknya
ditentukan oleh kesuksesan mereka dalam menciptakan nilai pasar.

Model formal yang berkaitan dengan informasi yang dirilis bagi nilai pasar
perusahaan ditunjukkan oleh, misalnya, Merton (1987) dan Diamond & Verrecchia
(1991). Dalam model Merton, informasi asimetri dirumuskan hanya sebagai subset
investor yang mengetahui tiap perusahaan. Jika perusahaan bisa meningkatkan besar
subset ini, katakanlah dengan dirilisnya informasi secara sukarela, nilai pasarnya akan
meningkat, ceteris paribus.
Dalam model Diamond dan Verrecchia, disclosure sukarela akan mengurangi
informasi asimetri antara perusahaan dengan pasar, yang memudahkan perdagangan
sahamnya.

Melihat Lebih Dekat pendekatan Insentif berbasis Pasar


Upaya Membatasi Kegagalan Pasar
Pengungkapan
Pengungkapan

dapat

dipahami

sebagai

regulasi

dimana

manajer

akan

mengeluarkan semua informasi baik itu informasi baik dan buruk. Hal ini disebut
sebagai prinsip pengungkapan. Tujuan dari pengungkapan ini dapat diaanggap
sebagai usaha manjemen untuk mempertahankan nilai perusahaannya di pasar.
Karena secara umum pasar akan merespon yang terburuk jika informasi tersebut
tidak dikeluarkan oleh manajemen, dengan melakukan pengungkapan ini akan
dapat mencegah respon buruk dan akan melindungi nilai perusahaan dari
penurunan.
Signaling
Hal ini sering terjadi di mana perusahaan satu dengan perusahaan lainnyamemiliki
kualitas yang berbeda. Sebagai contoh, mungkin perusahaan yang satu akan
memiliki kesempatan investasi yang lebih tinggi dari perusahaan yang lain.
Sedangkan perusahaan lain memiliki potensi R&D yang lebih bagus. Jadi yang
dimaksud dengan signaling ini adalah usaha manajemen untuk memberikan
sinyal-sinyal

potensi

tersebut

agar

bisa

dilihat

oleh

investor

dalam

mempertimbangkan nilai perusahaan. Banyak jenis dari sinyal-sinyal tersebut,


seperti

halnya

dalam

pengungkapannya

manajemen

memperlihatkan

kebijaksanaan akuntansinya, kebjaksaan dividennya, dan juga kebijaksanaan


politiknya
Pencarian Informasi Privat
Pada hal ini yang difokuskan dari insentif privat dalam upaya untuk mengeluarkan
informasi adalah dari pihak manajer. Jika informasi yang dikeluarkan telah
cukup, maka hal ini kan menaikan reputasi manajer, mengurangi resiko investor,
dan menurunkan biaya modal dari perusahaan, sebagai keuntungan dari pihak
manajemen perusahaan. Jadi dalam hal ini investor akan berinisiatif untuk
mendapatkan informasi privat ini dari pihak dalam perusahaan. Namun hal ini
akan menimbulkan potensi adverse selection. Maka dari itu pencarian informasi

privat ini dilakukan dengan batas jangka waktu yang terbatas untuk mendaptkan
informasi ini dengan tujuan untuk mengurangi masalah adverse selection tersebut.
Sumber Kegagalan Pasar
Kegagalan pada pasar dapat bersumber dari berbagai hal. Di mana jika pasar berjalan
sebagaimana mestinya berdasarkan definisi, maka informasi yang akan dihasilkan
akan seimbang pada keuntungan dan biaya marginal perusahaan. Namun ternyata
dalam pasar terdapat beberapa sumber-sumber yang dapat mengakibatkan kegagalan
pasar dimana pasar tidak berjalan semestinya.

Eksternalitas Dan Freeriding


Eksternalitas adalah tindakan yang diambil oleh perusahaan atau individu yang
membebankan biaya atau keuntungan pada perusahaan atau individu lainnya, yang
mana perusahaan akan membebankan biaya atau keuntungan yang tidak dituntut
atau tidak menerima pendapatan. Sedangkan freeriding adalah penerimaan oleh
perusahaan atau individu pada keuntungan dari eksternalitas tersebut.
Aspek penting dari freeriding dan eksternalitas adalah bahwa biaya dani
keuntungan produksi informasi yang dirasakan oleh perusahaan akan berbeda dari
biaya dan keuntungan yang dirasakan oleh investor.
Adverse Selection Problem
Dala konteks ini, ada dua versi masalah seleksi yang merugikan. Pertama yaitu
masalah mengenai insider trading. Jika kesempatan itu ada untuk pihak dalam
untuk mendapatkan keuntungan, maka kesempatan tersebut akan digunakan oleh
orang yang menginginkannya, dan investor luar juga mengangap bahwa pasar
sekuritas berjalan sebagaimana mestinya.
Versi kedua dalam hal seleksi yang merugikan adalah timbul ketika manajer yang
mengetahui berita buruk tentang masa depan perusahaan tidak mengeluarkan
informasi tersebut, dengan demikian hal ini akan menunda atau menghindari
kehancuran

reputasi

mereka,

dan

sebagai

konsekuensinya

yaitu

akan

mengakibatkan adanya pengurangan nilai pada pasar tenaga kerja majerial.

Moral hazard Problem


Mengingat bahwa usaha manajer secara tipikal tidak dapat diobservasi pada
pemilik perusahaan dan pasar, maka konsekusnsinya yaitu manajer tidak akan
berusaha untuk memaksimalkan jalannya perusahaan sehingga pasar tenaga kerja
tidak akan berjalan dengan baik.
Unanimity
Karateristik dari pasar yang berjalan tidak baik adalah adanya kekurangan
unanimity. Dalam pasar yang berjalan dengan baik, maka pemegang saham akan
dengan berusaha untuk memaksimalkan nilai pemegang saham. Sedangkan dalam
pasar tidak efisien, maka hal ini tidak menjadi masalah.

Seberapa Besar Informasi Dianggap telah Cukup?


Standar ekonomi yang berlaku mengatakan bahwa perusahaan haruslah memberikan
informasi sampai dimana margin cost & benefitnya itu setara pada pasar dan
masayarakat pengguna didalamnya. Alasan mengapa informasi tersbut haruslah cukup
adalah karena adanya sumber kegagalan pasar, dimana dengan informasi yang kurnag
atau tidak sesuai maka potensi dari kegagalan pasar akan semakin tinggi. Dan pada
akhirnya para investor akan meninginkan regulasi untuk melindungi informasi yang
beroperasi pada pasar ini, serta informasi dari masing-masing pihak investor ataupun
perusahaan itu sendiri. Namun disi lain regulasi ini juga memiliki biaya untuk
diaplikasikan.
Tidak ada yang tahu seberapa besar informasi yang harus dilindungi oleh regulasi
karena dari pertimbangan cost& benefit yang masih kompleks dan dipengaruhi oleh
banyak factor. Banyak faktor yang mempengaruhi seberapa besar informasi yang
dibutuhkan
Pertimbangan Standar Terkait Isu Ekonomi
Dengan mempertimbangkan isu ekonomi yang ada para regulator harus membuat
standar akuntansi yang dimana dapat melindungi informasi pada dunia ekonomi ,
dengan mempertimbangkan kepentingan perusahaan dan investor dalam aliran
informasinya pada pasar. Pertimbangan dari insentif para pihak yang memproduksi
informasi ke pasar, dan juga pertimbangan dari sisi respon pasar, serta bagaimana

pertimbangan keadaan pasar seperti sumber kegagalan pasar yang ada. Dalam
menyusun suatu standar akuntansi para regulator dihadapkan pada dilemma antara
cost & benefit untuk mencapai suatu keseimbangan informasi akuntansi yang beredar.
Pertimbangan biaya juga perlu diperhatikan secara langsung dan tidak langsung,
dimana jika terjadi suatu kesalahan pengambilan keputusan dalam penerapan standar
juga akan memakan biaya. Hal ini sangatlah komples mengingat komoditi yang harusl
diatur adalah informasi.
Berikut adalah kesimpulan yang dapat dipertimbangkan dalam menuyusun standar
akuntansi dilihat dari sisi ekonomi:
Keuntungan dari standar
Keputusan investasi yang lebih baik
Operasi pasar yang lebih baik
Kepercayaan para investor meningkat
Biaya dari penerapan standar
Biaya pengaturan, penerapan, dan pengendalian standar
Biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk mengeluarkan informasi yang sesuai