Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keperawatan adalah sebagai profesi yang mempunyai tanggung jawab
moral dalam rangka memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat. Profesi ada karena ada pengakuan dari masyarakat, sehingga
profesi mempunyai kewajiban moral untuk melaksanakan kewajiban
profesional sebagai pengabdian kepada masyarakat. Pengakuan masyarakat
dapat terjadi akibat kemampuan seseorang pada suatu hal. Kemampuan
terbentuk akibat proses pendididikan formal, pelatihan dan pengalaman
lapangan. Pelaksanaan pelayanan dan asuhan keperawatan yang diberikan
kepada masyarakat adalah berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan serta
kaidah dan nilainilai professional yang diyakini oleh profesi keperawatan.
Peran perawat yang dimaksud adalah cara untuk menyatakan aktifitas perawat
dalam praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya yang diakui dan
diberi kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab
keperawatan secara professional sesuai dengan kode etik professional. Salah satu

upaya yang dapat kita lakukan adalah dengan mengubah Paradigma Sakit
menjadi Paradigma Sehat. Perawat dituntut mampu untuk meningkatkan
kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan melalui kegiatan promosi
kesehatan. Salah satu peran dan fungsi perawat dalam promosi kesehatan
adalah sebagai edukator. Perawat dapat memberikan edukasi pada masyarakat
secara luas terkait dengan masalah kesehatan1.
Landasan kebijakan: PP No.32 th 1996, tentang tenaga

kesehatan,

yang berbunyi: seseorang yang telah lulus dan mendapatkan ijazah dari
pendidikan kesehatan yang diakui pemerintah.

UU No. 23 tahun 1992

tentang kesehatan, pasal 32 ayat (2) bahwa penyembuhan penyakit dan


pemulihan kesehatan dilakukan dengan pengobatan dan atau perawatan. Ayat
(3) berbunyi pengobatan dan atau perawatan dapat dilakukan berdasarkan
1

ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan atau cara lain yang dapat
dipertanggung jawabkan. Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
tidak lepas dari menjalankan peran dan fungsinya sebagai perawat. peran
perawat sendiri meliputi: peran sebagai pelaksana pelayanan keperawatan,
peran pendidik, peran pengamat kesehatan, koordinator pelayanan kesehatan,
peran pembaharu, peran pengorganisir pelayanan kesehatan, peran role
model, dan peran fasilitator.
Menurut WHO, Setiap tahunnya tekanan darah tinggi menyumbang
kepada kematian hampir 9,4 juta orang akibat penyakit jantung dan stroke,
dan jika digabungkan, kedua penyakit ini merupakan penyebab kematian
nomor satu di dunia. Hipertensi juga meningkatkan risiko gagal ginjal,
kebutaan, dan beberapa kondisi lain. Hipertensi kerap terjadi bersamaan
dengan faktor-faktor risiko lain seperti obesitas, diabetes, dan kolesterol
tinggi yang meningkatkan risiko kesehatan.
Data

dari

Perhimpunan

Dokter

Hipertensi

Indonesia

(InaSH)

menyebutkan, angka kematian di Indonesia menyentuh angka 56 juta jiwa


terhitung dari tahun 2000-2013. Diketahui bahwa faktor kematian paling
tinggi adalah hipertensi, menyebabkan kematian pada sekitar 7 juta penduduk
Indonesia.
Sebanyak 76 persen kasus hipertensi tidak terdiagnosis sejak awal,
sehingga keterlambatan itu berujung pada kerusakan target organ.
Diantaranya stroke yang menyerang otak, kebutaan, penyakit jantung, ginjal
dan gangguan fungsi pembuluh darah.
Melalui makalah ini, kelompok tertarik untuk membahas tentang
analisa promosi pelayanan perawatan dalam penanganan kasus hipertensi
yang menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Peranan perawat
melalui upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative diharapkan bisa
ikut menekan angka kejadian hipertensi sehingga dapat meningkatkan
kualitas hidup bangsa Indonesia agar lebih produktif dalam kegiatan sosial
dan ekonomi produktif.
B. Perumusan Masalah

Bagaimana upaya promosi pelayanan keperawatan pada kegiatan yang


bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam kasus hipertensi?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menganalisis promosi pelayanan keperawatan
pada kegiatan yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif
dalam kasus hipertensi.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu mengenal tentang promosi kesehatan
b. Mahasiswa mampu mengenal tentang bentuk pelayanan keperawatan
c. Mahasiswa mampu menganalisis promosi pelayanan keperawatan
d. Mahasiswa mampu menganalisis peran perawat melalui upaya
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam kasus hipertensi.
D. Manfaat
Manfaat dari penyusunan makalah ini diharapkan mahasiswa mampu
mengetahui, menganalisis, dan menerapkan promosi pelayanan keperawatan
pada kegiatan yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam
kasus hipertensi.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Promosi Kesehatan
1.

Definisi
Konsep promosi kesehatan merupakan pengembangan dari konsep
pendidikan kesehatan, yang berlangsung sejalan dengan perubahan
paradigma kesehatan masyarakat (public health). Menurut Lawrence
Green (1984) definisi promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi
pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi , politik,
dan organisasi, yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku
dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.
Batasan promosi kesehatan yang lain dirumuskan oleh Yayasan
Kesehatan Victoria (Victorian Health Foundation Australia, 1997) bahwa
promosi kesehatan adalah suatu program perubahan perilaku masyarakat
yang menyeluruh dalam konteks masyarakatnya, bukan hanya perubahan
perilaku(within people), tetapi juga perubahan lingkungannya. Menurut
Piagam Ottawa (Ottawa Charter, 1986) bahwa promosi kesehatan adalah
suatu proses untuk memampukan masyarakat dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatan mereka. Untuk mencapai keadaan fisik, mental,
dan kesejahteraan sosial, individu atau kelompok harus mampu
mengidentifkasi dan mewujudkan aspirasi untuk memenuhi kebutuhan dan
untuk mengubah atau mengatasi lingkungan (Notoatmodjo, 2005).
Sesuai dengan perkembangan promosi kesehatan tersebut diatas,
WHO memberikan pengertian promosi kesehatan sebagai the procces of
enabling individuals and communities to increase control over the
determinants of health and thereby improve their health (proses
mengupayakan individu-individu dan masyarakat untuk meningkatkan
kemampuan mereka mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi
kesehatan, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatannya).
Bertolak dari pengertian yang dirumuskan WHO tersebut di
Indonesia pengertian promosi kesehatan dirumuskan sebagai berikut:
upaya

untuk

meningkatkan

kemampuan

masyarakat

melalui

pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, agar mereka


dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang
bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung
oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan (Kebijakan Nasional
Promosi Kesehatan , Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor : 1193/MENKES/SK/X/2004 - Jakarta, Departemen Kesehatan RI,
2005)
2.

Tujuan
Tujuan umum dari promosi kesehatan adalah meningkatnya
kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk hidup
sehat dan mengembangkan upaya kesehatan yang bersumber masyarakat,
serta

terciptanya

lingkungan

yang

kondusif

untuk

mendorong

terbentuknya kemampuan tersebut.


Tujuan khususnya adalah :
a. Individu dan keluarga
1) Memperoleh informasi kesehatan melalui berbagai saluran baik
langsung maupun media massa
2) Mempunyai pengetahuan, kemauan dan kemampuan untuk
memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya.
3) Mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menuju
keluarga atau rumah tangga yang sehat
4) Mengupayakan paling sedikit salah seorang menjadi kader
kesehatan bagi keluarganya
5) Berperan aktif dalam upaya/ kegiatan kesehatan
b. Tatanan sarana kesehatan, institusi pendidikan, tempat kerja dan
tempat umum
1) Masing-masing tatanan mengembangkan kader-kader kesehatan
2) Mewujudkan tatanan yang sehat menuju terwujudnya kawasan
sehat
c. Organisasi kemasyarakatan/ organisasi profesi/ LSM dan media
massa
1) Menggalang potensi untuk mengembangkan perilaku sehat
masyarakat
2) Bergotong royong untuk mewujudkan lingkungan sehat
3) Menciptakan suasana yang kondisuf untuk mendukung perubahan
perilaku masyarakat

d. Program/ petugas kesehatan


1) Melakukan integrasi promosi kesehatan dalam program dan
kegiatan kesehatan
2) Mendukung tumbuhnya perilaku hidup bersih dan sehat di
masyarakat, khususnya melalui pemberdayaan individu, keluarga,
dan atau kelompok yang menjadi kliennya
3) Meningkatkan mutu pemberdayaan masyarakat dan pelayanan
kesehatan yang memberikan kepuasan kepada masyarakat
e. Lembaga Pemerintah/ politisi/ swasta
1) Peduli dan mendukung upaya kesehatan, minimal dalam
mengembangkan lingkungan dan perilaku sehat
2) Membuat kebijakan dan peraturan perundang-undangan dengan
memperhatikan dampak di bidang kesehatan (Kebijakan Nasional
Promosi Kesehatan , Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor

: 1193/MENKES/SK/X/2004 - Jakarta,

Departemen Kesehatan RI, 2005)


3.

Manfaat
a.
b.
c.
d.

Adapun manfaat dari promosi kesehatan antara lain :


Mempererat kerjasama dengan berbagai pihak
Meningkatkan hubungan terhadap program kesehatan
Meningkatkan percaya diri terhadap kesehatan
Meningkatkan pembangunan lingkungan, sistem dan kebijakan
kesehatan.

4.

Sasaran
Sasaran promosi kesehatan diarahkan pada individu/ keluarga;
tatanan kesehatan , institusi pendidikan, tempat kerja, dan tempat umum;
organisasi kemasyarakatan/ organisasi profesi/ LSM/ dan media massa;
program/ petugas kesehatan; dan lembaga pemerintah/ politisi/ swasta.
Menurut Weiss (1991), program promosi dikembangkan pada tiga
daerah utama yaitu sekolah, tempat kerja dan kelompok/ masyarakat.
Dalam pelaksanaan program promosi kesehatan, telah terbukti bahwa
promosi kesehatan di masyarakat, sekolah dan tempat kerja cenderung
paling efektif (Carleton, 1991). Kolbe (1988) menambahkan sasaran lain
dalam promosi kesehatan adalah pelayanan medis dan media.

Agar lebih spesifik sasaran promosi kesehatan dibagi menjadi


sasaran primer, sekunder, dan tersier. Sasaran primer adalah sasaran yang
mempunyai masalah, yang diharapkan mau berperilaku sesuai harapan dan
memperoleh

manfaat paling besar dari perubahan perilaku tersebut.

Sasaran sekunder adalah individu atau keompok yang memiliki pengaruh


oleh sasaran primer, dan diharapkan mampu mendukung pesan-pesan yang
disampaikan kepada sasaran primer. Sasaran tersier adalah para pengambil
kebijakan, penyandang dana, pihak-pihak yang berpengaruh di berbagai
tingkatan (pusat, propinsi, kabupaten, kecamatan dan kelurahan ).
5.

Strategi
Penerapan promosi kesehatan dalam program kesehatan pada
dasarnya merupakan bentuk penerapan strategi global, yang dijabarkan
dalam berbagai kegiatan. Berdasarkan rumusan WHO (1994) strategi
promosi kesehatan secara global terdiri dari 3 hal yaitu :
a. Pemberdayaan
Pemberdayaan adalah pemberian informasi dan pendampingan
dalam mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan, guna
membantu individu, keluarga atau kelompok-kelompok masyarakat
menjalani tahap-tahap tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS.
Bentuk kegiatan pemberdayaan antara lain : penyuluhan
kesehatan, pengorganisasian dan pengembangan masyarakat dalam
bentuk misalnya: koperasi, pelatihan-pelatihan untuk kemampuan
peningkatan pendapatan keluarga (income generating skill). Dengan
meningkatnya kemampuan ekonomi keluarga akan berdampak terhadap
kemampuan dalam pemeliharaan kesehatan mereka, misaln ya
terbentuknya dana sehat, terbentuknya pos obat desa, berdirinya
polindes, dan sebagainya. Kegiatan- kegiatan semacam ini di masyrakat
sering disebut gerakan masyarakat untuk kesehatan. Dari uraian
tersebut sasaran pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat.
b. Bina Suasana
Bina suasana adalah pembentukan suasana lingkungan sosial
yang kondusif dan mendorong dipraktikkannya PHBS serta penciptaan
panutan-panutan dalam mengadopsi PHBS dan melestarikannya.

Terdapat tiga kategori proses bina suasana:


1) Bina Suasana Individu
Bina suasana individu dilakukan oleh individu-individu,
tokoh masyarakat. Dalam kategori ini tokoh-tokoh masyarakat
menjadi individu-individu panutan dalam hal perilaku yang sedang
diperkenalkan. Yaitu dengan mempraktikkan perilaku yang sedang
diperkenalkan tersebut (misalnya seorang kepala sekolah atau
pemuka agama yang tidak merokok). Lebih lanjut bahkan mereka
juga bersedia menjadi kader dan turut menyebarluaskan informasi
guna menciptakan suasana yang kondusif bagi perubahan perilaku
individu.
2) Bina Suasana Kelompok
Bina suasana kelompok dilakukan oleh kelompok-kelompok
dalam masyarakat, seperti pengurus Rukun Tetangga (RT),
pengurus Rukun Warga (RW), majelis pengajian, perkumpulan
seni,

organisasi

Profesi,

organisasi

Wanita,

organisasi

Siswa/mahasiswa, organisasi pemuda, serikat pekerja dan lain-lain.


Bina suasana ini dapat dilakukan

bersama pemuka/tokoh

masyarakat yang telah peduli. Dalam kategori ini kelompokkelompok tersebut menjadi kelompok yang peduli terhadap
perilaku yang sedang diperkenalkan dan menyetujui atau
mendukungnya. Bentuk dukungan ini dapat berupa kelompok
tersebut lalu bersedia juga mempraktikkan perilaku yang sedang
diperkenalkan, mengadvokasi pihak-pihak yang terkait dan atau
melakukan kontrol sosial terhadap individu-individu anggotanya.
3) Bina Suasana Publik
Bina suasana publik dilakukan oleh masyarakat umum
melalui pengembangan kemitraan dan pemanfaatan media-media
komunikasi, seperti radio, televisi, koran, majalah, situs internet
dan lain-lain, sehingga dapat tercipta pendapat umum. Dalam
kategori ini media-media massa tersebut peduli dan mendukung

perilaku yang sedang diperkenalkan. Dengan demikian, maka


media-media massa tersebut lalu menjadi mitra dalam rangka
menyebarluaskan

informasi

tentang

perilaku

yang

sedang

diperkenalkan dan menciptakan pendapat umum atau opini publik


yang positif tentang perilaku tersebut. Suasana atau pendapat
umum yang positif ini akan dirasakan pula sebagai pendukung atau
penekan (social pressure) oleh individu-individu anggota
masyarakat, sehingga akhirnya mereka mau melaksanakan perilaku
yang sedang diperkenalkan.
c. Advokasi
Advokasi adalah pendekatan dan motivasi terhadap pihak-pihak
tertentu yang diperhitungkan dapat mendukung keberhasilan pembinaan
PHBS baik dari segi materi maupun non materi. Dalam konteks
promosi kesehatan, advokasi adalah pendekatan kepada para pembuat
keputusan atau penentu kebijakan di berbagai sektor, dan di berbagai
tingkat, sehingga para penjabat tersebut mau mendukung program
kesehatan yang kita inginkan. Dukungan dari para pejabat pembuat
keputusan tersebut dapat berupa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan
dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, surat keputusan,
surat instruksi dan sebagainya.
Kegiatan advokasi ini bermacam-macam bentuk, baik secara
formal maupun informal. Secara formal misalnya, penyajian atau
presentasi dan seminar tentang issu atau usulan program yang ingin
dimintakan dukungan dari para pejabat yang terkait. Kegiatan advokasi
secara informal misalnya sowan kepada para pejabat yang relevan
dengan program yang diusulkan, untuk secara informal meminta
dukungan, baik dalam bentuk kebijakan, atau mungkin dalam bentuk
dana atau fasilitas lain. Dari uraian dapat di advokasi adalah para
pejabat baik eksekutif maupun legislatif, di berbagai tingkat dan sektor
yang terkait dengan masalah kesehatan (sasaran tertier).
Berdasarkan Piagam Ottawa, 1986 strategi baru promosi kesehatan:

a. Kebijakan berwawasan kebijakan (Healhty Public Policy)


Bahwa kebijakan yang diambil harus berorientasi pada kesehatan
publik dan harus memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan
b. Lingkungan yang mendukung (supportive Environment)
Bahwa pemerintah atau pengelola tempat umum harus
menyediakan fasilitasyang mendukung terciptanya perilaku sehat bagi
masyarakat.
c. Reorientasi Pelayanan Kesehatan (Reorient Health Services)
Bahwa penyelenggara pelayanan kesehatan baik pemerintah
maupun swasta harus melibatkan dan memberdayakan masyarakat.
d. Ketrampilan individu (Personnel Sklill)
Dengan memberikan pemahaman kepada anggota masyarakat
tentang cara memelihara kesehatan, mencegah penyakit , mencari
pengobatan.
e. Gerakan masyarakat (Community Action)
Promosi kesehatan harus mendorong dan memacu kegiatan di
masyarakat dalam mewujudkan kesehatan mereka.(Notoatmodjo, 2005)
Berdasarkan Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan (2004), strategi
peningkatan promosi kesehatan adalah sebagai berikut :
a. Pengembangan Kebijakan Promosi Kesehatan daerah
b. Peningkatan Sumber daya Promosi Kesehatan
c. Pengembangan Organisasi Promosi Kesehatan
d. Integrasi dan Sinkronisasi Promosi Kesehatan
e. Pendayagunaan Data dan Pengembangan Sistem Informasi Promosi
Kesehatan
f. Peningkatan kerjasama dan kemitraan
g. Pengembangan Metode, Teknik dan Media
h. Fasilitasi Peningkatan Promosi Kesehatan
B. Perawat
1. Definisi
Menurut Undang-Undang RI tentang praktik keperawatan, perawat
adalah seseorang yang telah lulus pendidikan keperawatan baik di dalam
dan luar negeri yang diakui oleh pemerintah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 17
Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor

HK.02.02/Menkes/148/I/2010 Tentang Izin dan penyelenggaraan Praktik


Perawat, yang disebut dengan perawat adalah seorang yang telah lulus
pendidikan perawat baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
2. Peran Perawat
Peran perawat dapat diartikan sebagai seperangkat perilaku yang
diharapkan oleh individu sesuai dengan status sosialnya. Peran perawat
yang utama adalah sebagai pelaksana, pengelola, pendidik, dan peneliti.
a. Pelaksana layanan keperawatan (care provider)
Perawat memberikan layanan berupa asuhan keperawatan secara
langsung kepada klien (individu, keluarga, maupun komunitas) sesuai
dengan kewenangannya. Asuhan keperawatan ini merupakan bantuan
yang diberikan kepada klien karena adanya kelemahan fisik dan mental,
keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya kemauan untuk dapat
melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri dalam
peranannya sebagai care provider, perawat bertugas untuk:
1) Memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi klien
2) Melindungi hak dan kewajiban klien agar tetap terlaksana dengan
seimbang.
3) Memfasilitasi klien dengan anggota tim kesehatan lainnya
4) Berusaha mengembalikan kesehatan klien
5) Peran sebagai care provider merupakan peran yang sangat penting.
Baik/tidaknya kualitas layanan profesi keperawatan dirasakan
langsung oleh klien. Ilmu dan teori dalam keperawatan harus
diwujudkan dalam aktivitas pelayanan nyata kepada klien agar klien
mendapatkan kepuasan. Ini merupakan langkah promosi yang sangat
efektif dan murah dalam upaya membentuk citra perawat yang baik.
b. Pengelola (manager)
Perawat mempunyai peran dan tanggung jawab dalam mengelola
layanan keperawatan di semua tatanan layanan kesehatan (rumah sakit,
puskesmas, dan sebagainya) maupun tatanan pendidikan yang berada
dalam

tanggung

jawabnya

sesuai

dengan

konsep

manajemen

keperawatan. Fungsi manajerial keperawatan yang harus dijalankan


perawat antara lain planning, organizing, actuating, staffing, directing,

dan controlling. Fungsi manajerial tersebut dilaksanakan di tiap


tingkatan manajemen, baik first level manager, middle manager,
maupun top manager. Oleh karena itu, untuk dapat melaksanakan peran
manager dengan baik, seorang perawat harus memiliki keterampilan
managerial yang meliputi technical skill, human skill, dan conceptual
skill. Human skill mencakup kemampuan untuk bekerjasama,
memahami, dan memotivasi orang lain, baik individu maupun
kelompok. Dengan kata lain, human skill adalah keterampilan yang
terkait dengan kepemimpinan dan hubungan antar manusia. Conceptual
skill mencakup kemampuan untuk memahami kompleksitas organisasi
secara keseluruhan dan kemampuan menilai apakah kegiatan yang
dilakukan seseorang sesuai dengan organisasi atau tidak. Keterampilan
ini

juga

meliputi

kemampuan

untuk

mengoordinasikan

dan

mengintegrasikan semua kepentingan dan aktivitas organisasi. Jadi,


conceptual skill berhubungan dengan kemampuan dan keterampilan
berpikir.
c. Pendidik dalam keperawatan
Sebagai pendidik, perawat berperan mendidik individu, keluarga,
masyarakat, serta tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan lainnya.
Perawat bertugas memberikan pendidikan kesehatan kepada klien
sebagai upaya menciptakan perilaku individu/masyarakat yang kondusif
bagi kesehatan. Pendidikan kesehatan tidak semata ditujukan untuk
membangun kesadaran diri dengan pengetahuan kesehatan. Lebih dari
itu, pendidikan kesehatan bertujuan untuk membangun perilaku
kesehatan individu dan masyarakat. Kesehatan bukan sekedar untuk
diketahui dan disikapi, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan seharihari.
d. Peneliti dan pengembang ilmu keperawatan
Sebagai sesuah profesi dan cabeng

ilmu

pengetahuan,

keperawatan harus terus melakukan upaya pengembangan diri, salah


satunya dengan riset keperawatan. Riset keperawatan akan menambah
dasar pengetahuan ilmiah keperawatan dan meningkatkan praktik

keperawatan bagi klien. Menurut Patricia dan Arthur (2002) praktik


berdasarkan riset merupakan hal yang harus dipenuhi (esensial) jika
profesi keperawatan ingin menjalankan kewajibannya pada masyarakat
dalam memberikan perawatan yang efektif dan efisien (Asmadi, 2014)
Bila mengacu pada undang-undang Republik Indonesia tentang
praktik keperawataan, pada pasal 31 dalam menyelenggarakan praktik
keperawatan, peran perawat ada dua yaitu sebagai pemberi asuhan
keperawatan dan sebagai pendidik klien.
C. Pelayanan Keperawatan
Pelayanan keperawatan merupakan bagian dari sistem pelayanan
kesehatan. Pelayanan keperawatan diberikan kepada individu, kelompok
maupun masyarakat sesuai dengan standar asuhan keperawatan. Standar
Asuhan Keperawatan adalah uraian pernyataan tingkat kinerja yang
diinginkan, sehingga kualitas struktur, proses dan hasil dapat dinilai. Standar
asuhan keperawatan berarti pernyataan kualitas yang didinginkan dan dapat
dinilai pemberian asuhan keperawatan terhadap pasien. Hubungan antara
kualitas dan standar menjadi dua hal yang saling terkait erat, karena melalui
standar dapat dikuantifikasi sebagai bukti pelayanan meningkat dan
memburuk (Wilkinson, 2006).
Pelayanan Keperawatan menurut UU keperawatan yang baru saja
disyahkan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian
integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan
ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik sehat
maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Hal tersebut
menggambarkan bahwa pelayanan keperawatan merupakan salah satu
pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien dan memberikan asuhan
sesuai dengan kebutuhan pasien baik kebutuhan biopsikososio spiritual.
Pelayanan keperawatan diharapkan dapat diberikan secara komprehensif,
efektif dan efisien semata-mata untuk kesembuhan pasien.

Pelayanan keperawatan profesional (professional nursing service)


adalah suatu rangkaian upaya melaksanakan sistem pemberian asuhan
keperawatan kepada masyarakat sesuai dengan kaidah-kaidah profesi
keperawatan. Dalam pemberian pelayanan, perawat secara terintegrasi
memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif, efektif dan efisien.
Selain itu dalam pemberian asuhan keperawatan perawat juga memiliki sifat
saling bergantung yang artinya bahwa sistem pemberian pelayanan
memerlukan dan saling melengkapi dengan sistem pemberian pelayanan
kesehatan yang lain (Kusnanto, 2004). Secara garis besar dapat disimpulkan
bahwa Pelayanan keperawatan yang profesional adalah praktek keperawatan
yang dilandasi oleh nilai-nilai profesional yaitu mempunyai nilai otonomi
dalam pekerjaannya, bertanggungjawab dan bertanggung gugat, pengambilan
keputusan yang mandiri, kolaborasi dengan disiplin lain, pemberian
pembelaan dan memfasilitasi kepentingan klien.
Pelayananan keperawatan yang optimal diharapkan dapat meningkatkan
mutu pelayananan keperawatan. Dua faktor yang dapat menentukan mutu dari
pelayananan keperawatan yaitu peningkatan dan pengembangan sumber daya
manusia atau tenaga kesehatan (quality of care) dan penyediaan sarana
prasarana yang menunjang pelaksanaan tugas (quality of services). Adanya
dua hal tersebut, suatu pelayanan keperawatan sebagai bentuk pelayanan
kesehatan dapat memberikan manfaat dan membantu kesehatan pasien.
D. Ruang Lingkup Promosi Pelayanan Keperawatan
Upaya promosi kesehatan dalam pelayanan keperawatan meliputi :
1. Upaya Promotif
Upaya promotif adalah upaya promosi kesehatan yang ditujukan
untuk meningkatkan status/derajat kesehatan yang optimal. Sasarannya
adalah kelompok orang yang sehat. Tujuan upaya promotif adalah agar
masyarakat mampu meningkatkan kesehatannya, kelompok orang sehat
meningkat dan kelompok orang yang sakit menurun Bentuk kegiatannya
adalah pemberian pendidikan kesehatan/penyuluhan, diskusi tentang

bagaimana upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan status


kesehatan, misalnya :
a. Memberikan penyuluhan/pendidikan

kesehatan

kepada

individu,

keluarga, kelompok dan masyarakat tentang upaya meningkatkan


kesahatan, misalnya pemeliharaan kesehatan pada masa kehamilan,
persalinan dan nifas. Upaya peningkatan kesehatan dengan pemberian
ASI eksklusif pada bayi dan pemberian imunisasi.
b. Melakukan pemberdayaan dan penggerakan masyarakat

untuk

berpartisipasi dalam peningkatan kesehatan, misalnya ikut berperan


dalam kegiatan donor darah dan lain-lain.
2. Upaya Preventif
Upaya preventif adalah upaya promosi kesehatan untuk mencegah
terjadinya penyakit. Sasarannya adalah kelompok masyarakat resiko tinggi
agar tidak jatuh pada kondisi sakit (primary prevention).

Bentuk

kegiatannya adalah pemberian imunisasi, pemeriksaan ante natal care, post


natal care, perinatal dan neonatal, mengajarkan ibu cara perawatan
payudara post natal dan lain-lain.
3. Upaya Kuratif
Upaya curatif adalah upaya promosi kesehatan yang ditujukan untuk
mencegah penyakit menjadi lebih parah melalui pengobatan. Sasarannya
adalah kelompok orang sakit (pasien) terutama penyakit kronis. Tujuannya
kelompok ini mampu mencegah penyakit tersebut tidak lebih parah
(secondary prevention). Bentuk kegiatannya adalah pengobatan, misalnya,
memberikan pengobatan pada ibu, bayi dan balita serta masyarakat
dengan kasus - kasus ringan / sederhana sesuai dengan kewenangan,
memberikan pengobatan pada masyarakat atas advice dokter, atau
memberikan pengobatan pada kegawatdaruratan.
4. Upaya Rehabilitatif
Upaya rehabilitative adalah upaya promosi kesehatan untuk
memelihara dan memulihkan kondisi/mencegah kecacatan. Sasarannya
adalah kelompok orang yang baru sembuh dari penyakit. Tujuannya adalah
untuk pemulihan dan pencegahan kecacatan lebih lanjut (tertiary
prevention). Bentuk kegiatannya misalnya mengajarkan pasien untuk
mobilisasi dan melakukan ROM (Range of Motion) pada pasien stroke,

mengajarkan ROM pada pasien post operasi ORIF untuk menghindari


terjadinya kontraktur.
E. Hipertensi
Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh
darah meningkat secara kronis. Hal tersebut dapat terjadi karena jantung
bekerja lebih keras memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan
nutrisi tubuh. Jika dibiarkan, penyakit ini dapat mengganggu fungsi organorgan lain, terutama organ-organ vital seperti jantung dan ginjal.
Didefinisikan sebagai hipertensi jika pernah didiagnosis menderita
hipertensi/penyakit

tekanan

darah

tinggi

oleh

tenaga

kesehatan

(dokter/perawat/bidan) atau belum pernah didiagnosis menderita hipertensi


tetapi saat diwawancara sedang minum obat medis untuk tekanan darah tinggi
(minum obat sendiri).
Kriteria hipertensi yang digunakan pada penetapan kasus merujuk pada
kriteria diagnosis JNC VII 2003, yaitu hasil pengukuran tekanan darah
sistolik 140 mmHg atau tekanan darah diastolik 90 mmHg. Kriteria JNC
VII 2003 hanya berlaku untuk umur 18 tahun, maka prevalensi hipertensi
berdasarkan pengukuran tekanan darah dihitung hanya pada penduduk umur
18 tahun. Mengingat pengukuran tekanan darah dilakukan pada penduduk
umur 15 tahun maka temuan kasus hipertensi pada umur 15-17 tahun sesuai
kriteria JNC VII 2003 akan dilaporkan secara garis besar sebagai tambahan
informasi.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Kasus Hipertensi
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Sedunia atau World Health
Organization (WHO), Margaret Chan memimpin peringatan berdirinya
organisasi itu pada tanggal 7 April 1948. Setiap tahun Hari Kesehatan
Sedunia dirayakan dengan menyoroti isu kesehatan publik. Tema tahun ini
adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi, salah satu penyumbang utama
penyakit jantung dan stroke. Dr. Chan mengatakan pengaruh kondisi saat ini
menyebabkan krisis kesehatan global. Setiap tahun, tekanan darah tinggi
menyumbang kepada kematian hampir 9,4 juta orang akibat penyakit jantung
dan stroke, dan jika digabungkan, kedua penyakit ini merupakan penyebab
kematian nomor satu di dunia.
Secara keseluruhan, WHO melaporkan negara-negara berpendapatan
tinggi punya jumlah penderita hipertensi yang lebih rendah dibandingkan
negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Organisasi itu
mengatakan jumlah penderita penyakit ini paling banyak terdapat di Afrika, di
mana hampir separuh orang dewasa mengalami hipertensi. Yang terendah
terdapat di benua Amerika.
WHO mengatakan tekanan darah tinggi bisa dicegah dan diobati begitu
didiagnosis. Organisasi itu mendesak semua orang dewasa di seluruh dunia
agar memeriksakan tekanan darah mereka, sehingga bisa mengambil langkahlangkah untuk mengatasinya.
Margaret Chan mengatakan tekanan darah tinggi harus ditangani secara
serius. Hipertensi merupakan peringatan keras dan tidak bisa diabaikan
karena ada risiko pada kesehatan, jadi harus ada langkah yang dilakukan.
Namun hipertensi adalah peringatan yang diberikan secara diam-diam. Apa
artinya? Biasanya hipertensi tidak memperlihatkan gejala-gejala selama
bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun. Jadi sangat penting kita
mengetahui tanda-tanda peringatan dini dengan memeriksakan tekanan darah
secara teratur, ujarnya lagi.
WHO mengatakan orang bisa mengurangi risiko tekanan darah tinggi
dengan mengurangi asupan garam, makan makanan bergizi, berolah raga

teratur, menghindari rokok dan minuman beralkohol. Jika perubahan gaya


hidup ini tidak ampuh, WHO mengatakan tersedia pengobatan murah untuk
mengobati penyakit itu. Hipertensi masih menjadi tantangan besar di
Indonesia. Obat-obatan efektif banyak tersedia, namun angka penderita tetap
meningkat. Padahal hipertensi merupakan faktor utama kerusakan otak, ginjal
dan jantung jika tak terdeteksi sejak dini.
Data

dari

Perhimpunan

Dokter

Hipertensi

Indonesia

(InaSH)

menyebutkan, angka kematian di Indonesia menyentuh angka 56 juta jiwa


terhitung dari tahun 2000-2013. Diketahui bahwa faktor kematian paling
tinggi adalah hipertensi, menyebabkan kematian pada sekitar 7 juta penduduk
Indonesia. Sebanyak 76 persen kasus hipertensi tidak terdiagnosis sejak awal,
sehingga keterlambatan itu berujung pada kerusakan target organ.
Diantaranya stroke yang menyerang otak, kebutaan, penyakit jantung, ginjal
dan gangguan fungsi pembuluh darah.
Menurut Hasil Riskesdas 2013, Prevalensi hipertensi pada umur 18
tahun di Indonesia yang didapat melalui jawaban pernah didiagnosis tenaga
kesehatan sebesar 9,4 persen, sedangkan yang pernah didiagnosis tenaga
kesehatan atau sedang minum obat hipertensi sendiri sebesar 9,5 persen. Jadi,
terdapat 0,1 persen penduduk yang minum obat sendiri, meskipun tidak
pernah didiagnosis hipertensi oleh nakes. Prevalensi hipertensi di Indonesia
berdasarkan hasil pengukuran pada umur 18 tahun sebesar 25,8 persen. Jadi
cakupan nakes hanya 36,8 persen, sebagian besar (63,2%) kasus hipertensi di
masyarakat tidak terdiagnosis. Prevalensi DM, hipertiroid, dan hipertensi
pada perempuan cenderung lebih tinggi daripada laki-laki.
Dari tabel 3.5.3 terlihat prevalensi hipertensi di Indonesia yang didapat
melalui kuesioner terdiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4 persen, yang
didiagnosis tenaga kesehatan atau sedang minum obat sebesar 9,5 persen.
Jadi, ada 0,1 persen yang minum obat sendiri. Responden yang mempunyai
tekanan darah normal tetapi sedang minum obat hipertensi sebesar 0.7 persen.
Jadi prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 26,5 persen (25,8% + 0,7 %).

Dari tabel 3.5.4 terlihat prevalensi hipertensi cenderung lebih tinggi


pada kelompok pendidikan lebih rendah dan kelompok tidak bekerja,
kemungkinan akibat ketidaktahuan tentang pola makan yang baik.

Pada

analisis hipertensi terbatas pada usia 15-17 tahun menurut JNC VII 2003
didapatkan prevalensi nasional sebesar 5,3 persen (laki-laki 6,0% dan
perempuan 4,7%), perdesaan (5,6%) lebih tinggi dari perkotaan (5,1%).

B. Kebijakan Pemerintah Indonesia Mengenai Hipertensi


Hipertensi merupakan salah satu dari beberapa penyakit tidak menular
yang bersifat kronis dengan tingkat kefatalan yang sangat tinggi, hampir

dipastikan penderitanya tidak akan sembuh, bahkan cenderung semakin


memburuk kondisi kesehatannya. Akan tetapi faktor resiko utamanya yang
bersifat multi faktor dapat diprediksi, sehingga dapat dicegah sedini mungkin.
Sejak tahun 2005 lalu, Kementerian Kesehatan RI membentuk Direktorat
Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Tugas dan fungsinya pengendalian
faktor resiko, pencegahan penyakit, deteksi dini dan langkah-langkah
program pencegahan dan pengendalian PTM yang berbasis puskesmas
bekerjasama dengan multi sektor serta melibatkan masyarakat secara
konfrehensif.
Kerangka konsep pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak
menular didasari oleh kerangka dasar blum, bahwa derajat kesehatan
dipengaruhi oleh faktor keturunan, lingkungan, perilaku dan pelayanan
kesehatan. Kebijakan Pencegahan dan penanggulangan PTM ini ditujukan
pada penyakit-penyakit yang mempunyai faktor resiko yang sama yaitu:
jantung, stroke, hipertensi, diabetes militus, penyumbatan saluran napas
kronis. Tujuannya yaitu memacu kemandirian masyarakat dalam pencegahan
dan penanggulangan PTM untuk nmenurunkan kejadian penyakit tidak
menular (PTM) dan meningkatkan kualitas hidup sehat masyarakat yang
berada di semua tatanan.
Kebijakan utama PP-PTM ini dirumuskan dalam formulasi kebijakan
yang disebut "Triple ACS", yaitu active cities, active communitie dan actve
citizenship. Pertama, actve cities adalah strategi penanggulangan PTM
melalui pendekatan wilayah dengan mewujudkan kota/kecamatan/desa yang
sehat. Implementasi strategi ini merupakan tanggung jawab dari Pemerintah
Daerah. Kedua, active communities, yaitu melalui pemberdayaan masyarakat
lewat kelompok masyarakat madani, kelompok jamaah haji, majelis taklim,
jemaat gereja, nelayan, organisasi profesi dan sebagainya. Ketiga, active
citizenship, berorientasi dari penduduk dan untuk penduduk, memperhatikan
karakteristik penduduk miskin, warga yang tinggal diperbatasan dan daerah
terpencil, perlu diperhatikan tetap dengan menjadikan penduduk mandiri
namun tetap pada prinsip berkeadilan.

Triple ACS selanjutnya dijabarkan ke dalam program intervensi utama,


Healthy Public Policy, pengembangan jejaring dan kemitraan, advokasi,
sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan, surveilans,
deteksi dini serta pengendalian PTM. Tentunya dengan desentralisasi
menjadikan pemerintah daerah sebagai subyek utama sekaligus ujung tombak
keberhasilan program ini. Maka secara detail dapat dijelaskan tentang
kebijakan dan stretegi yang harus diperkuat di era desentralisasi sekarang ini :
1. Mengembangkan dan memperkuat program pencegahan pengendalian
faktor resiko PTM.
2. Memperkuat deteksi dini faktor resiko PTM.
3. Meningkatkan dan memperkuat manajemen, ketersediaan dan kualitas
peralatan untuk melakukan deteksi dini faktor resiko PTM.
4. Meningkatkan

profesionalisme

SDM

yang

bergerak

di

bidang

pengendalian dan pencegahan faktor resiko PTM.


5. Memperkuat sistem surveilans epidemiologi faktor resiko PTM.
6. Memperkuat jejaring untuk program pencegahan dan pengendalian faktor
resiko PTM.
7. Meningkatkan aktivitas advokasi dan disemansi program FR PTM.
8. Memperkuat sitem keuangan program PP-PTM.
Sedangkan untuk tiga strategi utama yang harus dikedepankan,
Pertama, Surveilans FR meliputi dimensi struktur sosial, lingkungan, pola
hidup dan dilakukan melalui survei berbasis masyarakat yang dilakukan
secara rutin dan berkesinambungan. Kemudian registrasi PTM dilakukan
berbasis data Puskesmas dan RS, dan menyampaikan informasi dari
surveilans dan registrasi merupakan evidence based dalam melakukan
promosi dan advokasi kebijakan serta upaya pelayanan kesehatan PTM.
Kedua, Promosi Kesehatan, mencakup upaya mengerakkan organisasi
serta kelompok masyarakat untuk berperanserta dalam pencegahan dan
penanggulangan PTM. Dengan cara menghilangkan atau mengurangi faktor
resiko PTM dan memperhatikan faktor lain yang dapat mempengaruhi

kesehatan. Departemen kesehatan, melalui Pusat promosi kesehatan


memfokuskan pada :
1. Meningkatkan upaya kesehatan melalui promotif dan preventif baik Pusat
maupun Propinsi dan Kabupaten.
2. Melakukan intervensi secara terpadu pada 3 faktor resiko yang utama yaitu
: Merokok, aktifitas fisik dan diet seimbang.
3. Melakukan jejaring pencegahan dan penanggulangan PTM.
4. Mencoba mempersiapkan strategi penanganan secara nasional dan daerah
terhadap diet, aktivitas fisik, dan rokok.
5. Mengembangkan System Surveilans Perilaku Beresiko Terpadu (SSPBT)
PTM.
6. Kampanye pencegahan dan penanggulangan PTM tingkat nasional
maupun local spesifik.
Untuk di masa datang upaya pencegahan PTM akan sangat penting
karena hal ini dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu rokok, diet seimbang dan
aktivitas fisik. Pencegahan PTM perlu didukung oleh para semua pihak
terutama para penentu kebijakan baik nasional maupun local. Tanpa itu semua
akan menjadi sia-sia saja.
Sasaran dari kebijakan mengenai Hipertensi adalah sebagai berikut:
1. Penentu kebijakan baik di pusat maupun di daerah (Provinsi dan
Kabupaten/Kota).
2. Penentu kebijakan pada sektor terkait baik di Pusat dan daerah (Provinsi
dan Kabupaten/Kota).
3. Organisasi profesi yang ada.
4. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sektor Swasta serta Masyarakat.
Promosi dan Pencegahan PTM tentunya mengacu pada landasan hukum
yang sudah ada secara Nasional yaitu :
1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
2. Undang-Undang Nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan
Nasional.
3. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional.

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan
Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom.
6. Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 1988 tentang Tata Ruang
Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan.
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 741 Tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota.
8. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 951/Menkes/SK/V/2000 Tahun
2000 tentang Upaya Kesehatan Dasar di Puskesmas.
9. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 9 Tahun
2001 tentang Kader Pemberdayaaan Masyarakat.
10. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor. 004/MENKES/SK/XI/2003
tentang Sistem Tugas dan Organisasi Departemen Kesehatan.
11. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1575/Menkes/PER/XI/2005
Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan.
12. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.03.01/160/I/2010 tentang
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014.
Promosi dan pencegahan PTM dilakukan pada seluruh fase kehidupan,
melalui pemberdayaan berbagai komponen di masyarakat seperti organisasi
profesi, LSM, media Massa, dunia usaha/swasta. Upaya promosi dan
pencegahan PTM tersebut ditekankan pada masyarakat yang masih sehat
(well being) dan masyarakat yang beresiko (at risk) dengan tidak melupakan
masyarakat yang berpenyakit (deseased population) dan masyarakat yang
menderita kecacatan dan memerlukan rehabilitasi (Rehabilitated population).
Sasaran Promosi dan pencegahan PTM secara operasional di lakukan
pada beberapa tatanan (Rumah tangga, Tempat kerja, tempat pelayanan
kesehatan, tempat sekolah, tempat umum, dll) Area yang menjadi perhatian
adalah Diet seimbang, Merokok, Aktivitas fisik dan kesehatan lainnya yang
mendukung. Strategi promosi dan pencegahan PTM secara umum meliputi
Advokasi, Bina suasana dan Pemberdayaan masyarakat.
Indikator untuk mengetahui sampai seberapa jauh keberhasilan
pelaksanaan strategi penanggulangan PTM, ada beberapa patokan yang dapat

dipergunakan untuk monitoring dan evaluasi melalui system pencatatan dan


pelaporan kegiatan pencegahan dan penanggulangan PTM.
Indikator keberhasilan strategi promosi dan pencegahan PTM yaitu :
Indikator Umum
1.
2.
3.
4.

Menurunnya angka kematian (mortalitas) penderita PTM utama.


Menurunnya angka kesakitan (morbiditas) penderita PTM utama.
Menurunnya angka kecacatan (disabilitas) penderita PTM utama.
Menurunnya angka faktor risiko bersama PTM utama.

Indikator Khusus
1. Penurunan 3 faktor risiko utama PTM (merokok, kurang aktifitas fisik dan
konsumsi rendah serat).
2. Penurunan proporsi penduduk yang mengalami obesitas, penyalahgunaan
alcohol dan BBLR.
3. Peningkatan kebijakan dan regulasi lintas sector yang mendukung
penanggulangan PTM.
4. Peningkatan bina suasana melalui kemitraan dalam pemberdayaan potensi
masyarakat.
5. Tersedianya model-model intervensi yang efektif dalam promosi dan
pencegahan PTM.
6. Peningkatan pelaksanaan promosi dan pencegahan di institusi pelayanan.
Selanjutnya adanya kebijakan yang berwawasan kesehatan (healthy
public policy) dan penguatan jejaring kerja lintas program dan lintas sektor.
Ketiga,

melalui

upaya

pelayanan

kesehatan yang

mengarah

pada

pengembangan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) berupa


Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM, dan adanya tatalaksanan penderita
PTM yang efektif dan efisien di Puskesmas dan Rumah Sakit.
Kemudian yang tak kalah pentingnya lagi adalah adanya upaya
Advokasi PTM kepada pemerintah disemua tingkatan. Advokasi merupakan
suatu usaha sistematik dan terorganisir, untuk mempengaruhi dan mendesak
terjadinya perubahan dalam kebijakan public secara bertahap maju dan
semakin baik. Tujuannya untuk meningkatkan komitmen dan dukungan
biaya, kebijakan dan dasar hukum untuk menguatkan program PP-PTM.
Sehingga untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan advokasi yang efektif
dan berkesinambungan.

Berkaitan

langsung dengan

hipertensi,

Kementerian

Kesehatan

Republik Indonesia (Kemenkes RI), PT Novartis Indonesia (Novartis) dan


Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia
(PKEKK UI) menyelenggarakan program intervensi kesehatan masyarakat
dalam mengendalikan hipertensi di Indonesia, yang dilakukan di daerah suburban yakni Kabupaten Bogor. Upaya multi-stakeholders bidang kesehatan ini
dalam pengembangan program intervensi untuk mengubah perilaku pasien
dalam pengendalian hipertensi dikukuhkan melalui penandatangan nota
kesepakatan antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Novartis,
dan PKEKK UI.
Angka kematian kasus (fatality rate case) penyakit kardiovaskuler, yang
sangat erat dengan hipertensi, yang dirawat di rumah sakit menempati urutan
teratas dibandingkan dengan penyakit lainnya. Salah satu penyebabnya adalah
karena perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia bukan hanya mereka
yang hidup di daerah perkotaan tetapi yang berada di pedesaan. Yang
menarik, berdasarkan pengukuran Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013,
lebih dari 25 persen orang Indonesia menderita hipertensi. Namun, yang
mengkhawatirkan adalah yang mengetahui bahwa mereka menderita
hipertensi (melalui diagnosis tenaga kesehatan dan atau meminum obat) tidak
sampai 10 persen.
Menyadari situasi penyebaran hipertensi tersebut, Direktorat Penyakit
Tidak Menular (PTM) mengajak masyarakat menjadi CERDIK dengan
melakukan Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok dan polusi udara
lainnya, Rajin aktifitas fisik, Diet sehat, Istirahat cukup, dan Kendalikan
stress.
Upaya kerjasama ini merupakan wujud nyata komitmen semua pihak,
baik dari akademisi dan swasta mendukung program kesehatan khususnya
dalam pengendalian penyakit tidak menular hipertensi melalui peningkatan
kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan upaya-upaya pencegahan
dan mengenal lebih dini tentang hipertensi. Model intervensi yang
dikembangkan ini adalah intervensi kesehatan masyarakat, karena tingkat

pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang hipertensi masih rendah,


dan itu merupakan masalah utama. Oleh karena itu, perlu diberikan edukasi
dengan cara yang mudah dipahami dan mendorong kemandirian masyarakat
untuk mengenal dan mampu mencegah penyakit hipertensi. Wujud adanya
kemandirian masyarakat dalam mengenal dan mencegah hipertensi adalah
mereka tahu dan mampu menerapkan pola hidup sehat dengan melakukan
perilaku hidup bersih dan sehat sebagai budaya hidup sehari-hari.
Tingginya angka kematian kardiovaskuler pada usia yang semakin
muda, yang terutama berkaitan dengan hipertensi di Indonesia merupakan
salah satu tanda bahwa masyarakat Indonesia masih kurang memahami
pentingnya kepatuhan (compliance) dalam menjalankan pengobatan dan
perubahan gaya hidup. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa
intervensi pengendalian yang mengubah perilaku pasien hipertensi dapat
menurunkan komplikasi hipertensi. Hingga saat ini kerap dipahami bahwa
hipertensi berkaitan dengan gaya hidup perkotaan. Pada kenyataannya,
penduduk yang tinggal di daerah sub-urban seperti Kabupaten Bogor telah
memiliki angka prevalensi hipertensi yang cukup tinggi.
Kabupaten Bogor dipilih menjadi lokasi penelitian ini karena kasus
hipertensi yang cukup signifikan, walaupun rata-rata penduduk daerah
tersebut memiliki gaya hidup yang berbeda dengan gaya penduduk perkotaan.
Selain itu Kabupaten Bogor telah merupakan daerah binaan Direktorat PTM.
Pengendalian penyakit tidak menular seperti hipertensi tidak dapat bertumpu
hanya pada upaya kuratif dan rehabilitatif semata. Jika upaya mengubah
perilaku mencegah komplikasi hipertensi tidak dimulai, maka hipertensi akan
menjadi beban ekonomi, baik bagi penderita maupun negara ketika jaminan
kesehatan nasional (JKN) berjalan. Beban ekonomi yang dirasakan bagi
penderita adalah hilangnya hari produktif, baik karena serangan penyakit
maupun akibat komplikasinya.
C. Analisa Peran Perawat dalam Pelaksanaan Stategi Menyelesaikan
Hipertensi

Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronik yang dewasa ini


semakin merebak baik di kalangan menengah ke bawah hingga menengah ke
atas. Penyakit ini merupakan salah satu faktor terjadinya penyakit jantung
koroner, gagal ginjal, maupun penyakit cerebrovaskular yang akan
menjadikan seseorang mengalami penurunan kualitas hidup. Melihat urgensi
dari masalah yang ada maka perlu adanya peran perawat dalam promosi
kesehatan untuk masalah hipertensi agar tidak berkembang kepada
komplikasi penyakit.
Promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan
masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat,
agar mereka dapat mandiri menolong diri sendiri, serta mengembangkan
kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai dengan kondisi sosial
budaya setempat dan didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan
(Depkes RI, 2007). Terdapat tiga strategi dalam promosi kesehatan antara lain
advokasi, dukungan sosial dan pemberdayaan. Melalui strategi promosi
kesehatan yang mumpuni diharapkan suatu promosi kesehatan dapat secara
efektif dan komprehensif dirasakan oleh masyarakat.
Setiap tahun, tekanan darah tinggi menyumbang kematian hampir 9,4
juta orang akibat penyakit jantung dan stroke, dan jika digabungkan, kedua
penyakit ini merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Hal ini
menjadi masalah besar bagi perawat dalam upaya peningkatan peningkatan
derajad kesehatan masyarakat karena kasus hipertensi yang terjadi sekarang,
bukan hanya terjadi dikalangan menengah ke atas tetapi sudah merambah ke
semua kalangan masyarakat. Maka dari itu, perlu adanya upaya promosi
kesehatan dari promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan melibatkan
partisipasi langsung dari masyarakat. Terlepas dari upaya tenaga kesehatan
salah satunya perawat, kebijakan pemerintah merupakan salah satu dukungan
baik secara langsung maupun tidak langsung dalam upaya promosi kesehatan.
Melalui kebijakan-kebijakan yang sudah diatur, diharapkan mampu
membantu perawat dalam pendekatan kepada masyarakat.

Berikut ini merupakan bagan skema bagan strategi komprehensif


kehatan Masyarakat dalam Pengendalian Hipertensi.

Sumber : Pedoman Teknis Temuan dan Tata laksana Hipertensi 2006


Target dari promosi kesehatan pada hipertensi meliputi keluarga,
individu, maupun kader kesehatan. Strategi promosi kesehatan yang Peran
perawat dalam upaya promosi kesehatan meliputi upaya promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif.
1. Promotif
Pada tingkat promotif yang menjadi sasaran adalah kelompok orang
yang sehat, sehingga dengan upaya ini dapat meningkatkan kesehatannya.
Pada kasus hipertensi pendekatan perawat bertujuan untuk menurunkan
resiko

penyakit

terhadap

populasi

dan

mengoptimalkan

kondisi

lingkungan dan sosial dalam menunjang kesehatan. Dalam tahap ini

perawat melalui strategi promosi kesehatan yang tepat merangkul


masyarakat dalam upaya mendeteksi lebih dini adanya resiko penyakit
hipertensi pada masyarakat yang sehat. Puskesmas merupakan pelayanan
kesehatan strata pertama yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam
memperoleh informasi dan edukasi tentang kesehatan khususnya tentang
hipertensi. Pada tahap ini perawat membuka diri dengan cara melakukan
penyuluhan/pendidikan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat tentang penyakit hipertensi baik tentang penyebab
hipertensi sampai dengan dampak yang terjadi pada orang yang menderita
hipertensi. Hal ini dilakukan perawat sebagai program dari puskesmas
dengan kunjungan rumah maupun membuka konseling secara langsung.
2. Preventif
Upaya preventif adalah upaya promosi kesehatan untuk mencegah
terjadinya penyakit.Pada tahap ini yang menjadi fokus utama adalah
kelompok orang yang sehat dan kelompok yang bersiko tinggi. Tujuan dari
tahap ini yaitu mencegah agar seseorang tidak jatuh sakit. Pada
penanganan hipertensi yang dapat dilakukan oleh perawat yaitu melakukan
pengendalian faktor resiko pada populasi dengan penanggulangan
merokok, peningkatan gizi seimbang dan peningkatan aktivitas. Dalam
tahap ini pada kasus hipertensi perawat akan menyoroti keluarga yang
memiliki resiko atau sudah menderita hipertensi. Perawat akan melakukan
kunjungan rumah berperan sebagai konselor akan memberikan edukasi
tentang bagaimana pencegahan penyakit hipertensi terutama difokuskan
pada keluarga dengan riwayat hipertensi agar tidak menurun pada anggota
keluarga lainnya. Perawat akan memotivasi individu, kelompok dan
masyarakat dengan mendorong meraka untuk menjaga pola hidup sehat
dan olahraga secara teratur. Dalam tahapan ini perawat juga dapat
merangkul tokoh-tokoh masyarakat setempat untuk dapat mempengaruhi
dan menggugah masyarakat tentang pentingnya menyadari arti kesehatan.
Tokoh-tokoh masyarakat akan dilibatkan dalam upaya preventif dan

bergabung dalam upaya cerdas meningkatkan kesehatan dikalangan tempat


tinggalnya.
3. Kuratif
Upaya kuratif adalah upaya promosi kesehatan yang ditujukan untuk
mencegah penyakit menjadi lebih parah melalui pengobatan. Pengobatan
merupakan tindakan yang dilakukan oleh dokter. Peran perawat yang dapat
mendukung proses pengobatan ini antara lain :
a. Pentingnya minum obat dan kontrol rutin. Seseorang yang telah
didiagnosa menderita hipertensi ada yang tidak patuh akan minum obat
secara terus menerus. Keadaan tersebut dapat memicu ketidakstabilan
tekanan darah. Dari gambaran tersebut perawat berperan sebagai care
giver. Apabila dalam lingkup perawat komunitas perawat dapat
melakukan kunjungan keluarga untuk melakukan pengkajian keluhan
dan tentunya monitoring tekanan darah. Apabila dalam kondisi yang
dinilai beresiko perawat dapat melakukan rujukan ke rumah sakit
terdekat. Selain itu perawat bekerja sama dengan keluarga untuk
menjadi pendukung dari pasien agar melakukan kontrol rutin dan
mengkonsumsi obat secara teratur. Pengetahuan akan pentingnya
minum obat perlu diberikan kepada pasien juga keluarga sebagai
pengawas minum obat.
b. Pentingnya air putih dan konsumsi nutrisi untuk hipertensi. Perawat
dapat melakukan rujukan kepada dokter atau ahli gizi dalam hal
konsumsi nutrisi. Konsumsi air putih diharapkan membantu fungsi
penyaringan ginjal sehingga tidak jatuh pada kondisi gagal ginjal
karena pasien mengkonsumsi obat dalam jangka waktu yang tidak dapat
ditentukan.
c. Penggunaan Tanaman obat Keluarga. Berbagai macam tanaman obat
herbal yang berguna untuk menurunkan hipertensi misalnya sledri
mentimun, blimbing, dll dapat diedukasikan kepada pasien sebagai
pengganti. Perawat dalam hal ini dapat berperan sebagai konselor bagi
pasien mengenai pilihan obat dan alternatif obat tradisional yang dapat
digunakan.

d. Perawat juga berperan sebagai care giver. Dewasa ini banyak terapi
komplementer

yang

berkembang

sehingga

dapat

melengkapi

pengobatan yang diberikan oleh dokter. Contoh terapi misalnya


accupuntur, calming technique, hypnoterapi, dll.
4. Upaya Rehabilitatif
Upaya promosi kesehatan untuk memelihara dan memulihkan
kondisi/mencegah kecacatan. Menurut bagan tata laksana hipertensi, pada
upaya rehabilitatif mengembangkan manajemen rehabibitasi pada kasus
hipertensi dengan melibatkan unsur organisasi profesi dan pengelola
program di berbagai tatanan pelayanan. Peran perawat pada tingkat
rehabilitatif ini antara lain :
a. Pada hipertensi terjadi gangguan elastisitas pembuluh darah. Untuk
mengembalikan fungsi tersebut dapat dilakukan dengan cara olah raga
secara rutin. Perawat dalam hal ini dapat bekerjasama dengan kader
kesehatan untuk penyelenggaraan olah raga. Misalnya senam.
b. Bekerjasama dengan LSM untuk mendirikan suatu wadah untuk
penderita hipertensi. Dalam upaya rehabilitasi di suatu perkumpulan
disitu para penderita dapat saling bertukar pengalaman sehingga
menambah wawasan dari para penderita. Perawat dalam hal ini dapat
berperan sebagai fasilitator apabila ada suatu kegiatan yang dilakukan
oleh kelompok tersebut.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pelayanan keperawatan merupakan bagian dari sistem pelayanan
kesehatan yang diberikan kepada individu, kelompok maupun masyarakat
sesuai dengan standar asuhan keperawatan. Pelayanan keperawatan
diharapkan dapat diberikan secara komprehensif, efektif dan efisien sematamata untuk kesembuhan pasien. Upaya promosi kesehatan dalam pelayanan
keperawatan meliputi upaya promotif yaitu upaya promosi kesehatan yang
ditujukan untuk meningkatkan status/derajat kesehatan yang optimal, upaya

preventif yaitu upaya promosi kesehatan untuk mencegah terjadinya penyakit,


upaya kuratif adalah upaya promosi kesehatan yang ditujukan untuk
mencegah penyakit menjadi lebih parah melalui pengobatan, upaya
rehabilitatif adalah upaya promosi kesehatan untuk memelihara dan
memulihkan kondisi/mencegah kecacatan.
Dalam penanganan kasus hipertensi upaya promosi kesehatan yang
dilakukan bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas hidup pasien
dengan hipertensi, terpenuhinya kebutuhan biopsikososio dan spiritual.
Peningkatan kualitas hidup pasien hipertensi akan membuat masyarakat lebih
bisa memaknai hidup dan mengisi kehidupan dengan hal yang positif di
lingkungan sosial dan ekonomi produktif.
B. Saran
Upaya peningkatan promosi pelayanan keperawatan perlu terus
ditingkatkan dengan berbagai aspek yang berkenaan dengan dunia
keperawatan. Keterlibatan perawat dalam pelayanan keperawatan dalam
cakupan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif perlu ditingkatkan
sehingga individu, kelompok bahkan masayarakat sebagai sasaran akan
merasakan pelayanan keperawatan yang professional dan nyata ada di tengahtengah mereka semua.

DAFTAR PUSTAKA
Asmadi.

(2014).

Konsep

dasar

keperawatan.

Jakarta.

EGC.

Brooker,Christine. (2001). Kamus Saku Keperawatan.Jakarta : EGC


Efendi Ferry dan Makhfudli. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori
Dan Praktek Dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2005).

Nomor :

1193/MENKES/SK/X/2004 tentang Promosi Kesehatan . Jakarta :


Departemen Kesehatan RI
Kusnanto.(2004). Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional.
Jakarta: EGC
Maryani, Dewi Sri. (2014).Ilmu Keperawatan Komunitas. Bandung: Yrama
Widya
Maulana H. D. (2009). Promosi Kesehatan. Edisi 1. Jakarta : EGC.
Notoadmodjo S. (2010). Promosi kesehatan Teori dan Aplikasi. Edisi Revisi.
Jakarta : Rineka Cipta.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2013 Tentang
Tentang Izin dan penyelenggaraan Praktik Perawat
Muharyani, P.W. (2011). Aplikasi Short Message Service (Sms) Dalam Promosi
Kesehatan Reproduksi Di Komunitas. Universitas Indonesia
Wilkinson, Judith.M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. (Edisi 7). Jakarta:
EGC

TUGAS KELOMPOK MATA AJAR PROMOSI KESEHATAN

DOSEN: Dr. Untung Sujianto, S.Kp., M.Kes.


Bambang Edi Warsito, S.Kp, M.Kes.
ANALISA PROMOSI PELAYANAN KEPERAWATAN
PADA KASUS HIPERTENSI

1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
10)
11)

KELOMPOK IV
Maria Yulita Meo
Herry Setiawan
Dwi Astuti
Kastuti Endang Trirahayu
Domianus Namuwali
Sri Rahayu
Khoirunnisa Munawaroh
Arlina Dhian Sulistyowati
Sarinti
Gandes Ambarwati
Nugroho Lazuardi

(22020114410003)
(22020114410007)
(22020114410012)
(22020114410013)
(22020114410024)
(22020114410029)
(22020114410037)
(22020114410038)
(22020114410045)
(22020114410047)
(22020114410048)

PROGRAM MAGISTER ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL . i
DAFTAR ISI . ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 3
C. Tujuan..... 3
D. Manfaat... 3
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Promosi Kesehatan .... 4
B. Perawat ..... 11
C. Pelayanan Keperawatan ... 14
D. Ruang Lingkup Promosi Pelayanan Keperawatan ... 15
E. Hipertensi . 16
BAB III PEMBAHASAN
A. Kasus Hipertensi... 18
B. Kebijakan Pemerintah Indonesia Mengenai Hipertensi... 22
C. Analisa Peran Perawat dalam Pelaksanaan Stategi Menyelesaikan
Hipertensi ..... 29
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan .............. 34
B. Saran ........................ 34
DAFTAR PUSTAKA