Anda di halaman 1dari 17

SKENARIO B BLOK 28

Dr. Gudman merupakan seorang dokter praktek umum yang bertugas di sebuah
kecamatan yang penduduknya kebanyakan bekerja sebagai petani dan buruh kerja di
perkebunan. Dr Gudman juga telah melakukan kontrak dengan BPJS.
Hari ini ia kembali dikunjungi oleh Pak Kasti yang sudah lama menjadi langgananya.
Dulu setiap 1 bulan sekali Pak Kasti dating berobat ke dokter Gudman. Kalau bukan karena
darah tingginya yang kumat maka penyakit gastritisnya yang kambuh. Tapi akhir-akhir ini
Pak Kasti makin sering dating dan penyakitnya cenderung lebih berat. Namun Dr gudman
selalu menerima Pak Kasti dengan ramah dan meresepkan obat-obatan yang biasa
diberikannya.
Tiap kali in Pak Kasti tidak langsung pulang sehabis menerima resep tersebut. Ia
menanyakan kepada dokter tentang istrinya yang sejak lama sering mengalami sakit kepala.
setiap kali minum obat sakit kepala penyakitnya tersebut kambuh, tapi tidak beberapa lama
kemudian sakit kepalanya terasa kembali. Sekarang ia juga sering merasa sakit diperut
seperti saya. Tapi karena tidak separah yang saya alami ia tidak mau diajak berobat kesini.
Bagaimana menurut dokter? Mendengar itu Dr Gudman menasihatkan kepada Pak Kasti
agar kalau ada waktu membawa istrinya untuk datang berobat.
Sebagai salah seorang dokter praktek umum yang telah mendapat pelatihan tentang
prinsip-prinsip kedokteran keluarga dan layanan primer yang telah dikontrak oleh BPJS, adna
diminta untuk mengevaluasi dan mengkritisi penatalaksanaan pasien yang telah dilakukan Dr.
Gudman dalam menangani pasien tersebut dengan menerapkan secara lengkap dan benar
semua prinsip-prinsip kedokteran keluarga dan dokter layanan primer tersebut.

Klarifikasi Istilah
1. Dokter praktek umum

: Dokter yang memiliki kemampuan mengobati

berbagai penyakit dan melakukan praktek medis untuk umum


2. BPJS

: Badan penyelengara jaminan social, merupakan

perusahaan asuransi dibawah pemerintah yang menyelenggarakan JKN atau jaminan


kesehatan nasional
3. Darah tinggi

: Keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg

dan tekanan diastole lebih dari 90mmHg


4. Gastritis
pada lapisan lambung.

: Suatu kondisi medis yang ditandai dengan peradangan

5. Dokter Keluarga

: Dokter Praktek yang memberikan pelayanan kesehatan

yang berorientasi komunitas dengan titik berat pada keluarga, yang memandang
pasien sebagai individu dan bagian dari keluarga, dengan pelayanan yang bersifat
aktif dan pasif
6. Dokter layanan Primer

: Merupakan kelanjutan dari program profesi dokter,

program internship yang setara dengan spesialis

Identifikasi Masalah
1. Dr Gudman seorang dokter praktek umum yang telah melakukan kontrak dengan
BPJS
2. Pak Kasti, Pasien Dr Gudman, dengan riwayat penyakit gastritis dan darah tingi
makin sering datang karena penyakitnya cenderung lebih berat dan dokter Gudman
meresepkan obat-obatan yang biasa diberikan.
3. Pak Kasti bercerita tentang istrinya yang sakit kepala dan sakit perut tapi tida mau
kedokter dan Dr Gudman menyarankan agar membawa istrinya datang berobat bila
ada waktu
Analisis Masalah
1. Jelaskan perbedaan dokter keluarga, dokter praktek umum dan dokter layanan primer!
Dokter layanan primer menurut UU Dikdok no. 20 tahun 2013 merupakan
kelanjutan dari program profesi dokter, program internship yang setara dengan
program dokter spesialis.
Dokter layanan primer mencakup keilmuan dokter keluarga, kedokteran
komunitas, dan kedokteran masyarakat, artinya dokter layanan primer tidak hanya
melihat pasiennya dalam lingkup individu ataupun keluarga tetapi secara
keseluruhan mulai dari individu, keluarga, populasi, masyarakat dan lingkungan.
Dokter keluarga konsepnya adalah dokter berpikir pasien atau individu sebagai
bagian dari keluarga dan dia selalu berupaya untuk memecahkan masalah di
dalam keluarga tersebut.
Dokter umum adalah adalah seorang tenaga kesehatan (dokter) yang menjadi
tempat kontak pertama pasien dengan dokternya untuk menyelesaikan semua
masalah kesehatan yang dihadapi tanpa memandang jenis penyakit, organologi,
golongan usia, dan jenis kelamin, sedini dan sedapat mungkin, secara
menyeluruh, paripurna, bersinambung, dan dalam koordinasi serta kolaborasi
dengan profesional kesehatan lainnya, dengan menggunakan prinsip pelayanan
yang efektif dan efisien serta menjunjung tinggi tanggung jawab profesional,
hukum, etika dan moral.

Dokter Praktek Umum

Dokter Keluarga

Cakupan pelayanan

Terbatas

Lebih luas

Sifat pelayanan

Sesuai keluhan

Menyeluruh, paripurna,
bukan sekedar yang
dikeluhkan

Cara pelayanan

Kasus per kasus dengan

Kasus per kasus dengan

pengamatan sesaat

berkesinambungan
sepanjang hayat

Jenis pelayanan

Lebih kuratif hanya untuk

Lebih kearah pencegahan,

penyakit tertentu

tanpa mengabaikan
pengobtan dan rehabilitasi

Peran keluarga

Kurang dipertimbangkan

Lebih diperhatikan dan


dilibatkan

Promotif dan

Tidak jadi perhatian

Jadi perhatian utama

Dokter-pasien

Dokter-pasien-teman

pencegahan
Hubungan dokter pasien

sejawat dan konsultan


Awal pelayanan

Secara individual

Secara individual sebagai


bagian dari keluarga
komunitas dan lingkungan

2. Jelaskan prinsip-prinsip dokter keluarga dan dokter layanan primer!


PRINSIP PELAYANAN
Prinsip dalam pelayanan atau pendekatan kedokteran keluarga yaitu memberikan :
1. Pelayanan yang holistik dan komprehensif.
2. Pelayanan yang kontinu.
3. Pelayanan yang mengutamakan pencegahan.
4. Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif.
5. Penanganan personal bagi setiap pasien sebagai bagian integral dari keluarganya.
6. Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja, dan lingkungan
tempat tinggalnya.
7. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum.
8. Pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu.
9. Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat dipertangungjawabkan

Pelayanan kedokteran yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga pada


umumnya :
1. lebih aktif dan bertanggung jawab
Karena pelayanan kedokteran yang diselenggarakan pada praktek dokter
keluargamengenal pelayanan kunjungan dan atau perawatan pasien di rumah,
bertanggung jawab mengatur pelayanan rujukan dan konsultasi, dan bahkan,
apabilamemungkinkan, turut menangani pasien yang memerlukan pelayanan
rawat inap dirumah sakit, maka pelayanan kedokteran yang diselenggarakan pada
praktek dokter keluarga umunya lebih aktif dan bertanggung jawab dari pada
dokter umum.
2. Lebih lengkap dan bervariasi
Karena praktek dokter keluarga menangani semua masalah kesehatan yang
ditemukan pada semua anggota keluarga, maka pelayanan dokter keluarga pada
umumnya lebihlengkap dan bervariasi dari pada dokter umum. Tidak
mengherankan jika dengan pelayanan yang seperti ini, seperti yang ditemukan di
Amerika Serikat misalnya, praktek dokter keluarga dapat menyelesaikan tidak
kurang dari 95 % masalahkesehatan yang ditemukan pada pasien yang datang
berobat.
3. Menangani penyakit pada stadium awal
Sekalipun praktek dokter keluarga dapat menangani pasien yang telah
membutuhkan pelayanan rawat inap, bukan selalu berarti praktek dokter keluarga
sarna dengandokter spesialis.Praktek dokter keluarga hanya sesuai untuk penyakit
-penyakit padastadium awal saja. Sedangkan untuk kasus yang telah lanjut atau
yang telah terlaluspesialistik, karena memang telah berada diluar wewenang dan
tanggung jawabdokter keluarga, tetap dan harus dikonsultasikan dan atau dirujuk
kedokter spesialis.Seperti yang dikatakan oleh Malerich (1970), praktek dokter
keluarga memang sesuaiuntuk penyakit-penyakit yang masih dalam stadium dini
atau yang bersifat umum saja. The family doctor cannot be expected to treat all
problems as best possible, buthe can be expected to treat all common diseases as
best possible.

3. Jelaskan tujuan dokter keluarga dan dokter layanan primer!


Skala kecil:

Mewujudkan keadaan sehat bagi setiap anggota keluarga

Mewujudkan keluarga sehat sejahtera

Skala besar:

Pemerataan pelayanan yang manusiawi, bermutu, efektif, efisien, dan merata


bagi seluruh rakyat Indonesia

4. Bagaimana sistem pelaksanaan BPJS ?


Untuk dapat bekerja sama dengan BPJS ada syarat-syarat bagi seorang dokter yang diatur
dalam PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71
TAHUN 2013 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN PADA JAMINAN KESEHATAN
NASIONAL

BAB II
PENYELENGGARA PELAYANAN KESEHATAN
Pasal 2
(1) Penyelenggara pelayanan kesehatan meliputi semua Fasilitas Kesehatan yang bekerja
sama dengan BPJS Kesehatan berupa Fasilitas Kesehatan tingkat pertama dan
Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan.
(2) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa:
a. puskesmas atau yang setara;
b. praktik dokter;
c. praktik dokter gigi;
d. Klinik pratama atau yang setara; dan
e. Rumah Sakit Kelas D Pratama atau yang setara
Pasal 3
(1) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan harus
menyelenggarakan pelayanan kesehatan komprehensif.
(2) Pelayanan kesehatan komprehensif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa
pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, pelayanan kebidanan,
dan Pelayanan Kesehatan Darurat Medis, termasuk pelayanan penunjang yang
meliputi pemeriksaan laboratorium sederhana dan pelayanan kefarmasian sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan komprehensif sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), bagi Fasilitas Kesehatan yang tidak memiliki sarana penunjang wajib
membangun jejaring dengan sarana penunjang.

(4) Dalam hal diperlukan pelayanan penunjang selain pelayanan penunjang sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), dapat diperoleh melalui rujukan ke fasilitas penunjang lain.
BAB III
KERJA SAMA FASILITAS KESEHATAN DENGAN BPJS KESEHATAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 4
(1) Fasilitas Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 mengadakan kerja sama
dengan BPJS Kesehatan.
(2) Kerja sama Fasilitas Kesehatan dengan BPJS Kesehatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan melalui perjanjian kerja sama.
(3) Perjanjian kerja sama Fasilitas Kesehatan dengan BPJS Kesehatan dilakukan antara
pimpinan atau pemilik Fasilitas Kesehatan yang berwenang dengan BPJS Kesehatan.
(4) Perjanjian kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berlaku sekurangkurangnya 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang kembali atas kesepakatan bersama.
Pasal 5
(1) Untuk dapat melakukan kerja sama dengan BPJS Kesehatan, Fasilitas Kesehatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 harus memenuhi persyaratan.
(2) Selain ketentuan harus memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
BPJS Kesehatan dalam melakukan kerja sama dengan Fasilitas Kesehatan juga harus
mempertimbangkan kecukupan antara jumlah Fasilitas Kesehatan dengan jumlah
Peserta yang harus dilayani.
Bagian Kedua
Persyaratan, Seleksi dan Kredensialing
Pasal 6
(1) Persyaratan yang harus dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1), bagi
Fasilitas Kesehatan tingkat pertama terdiri atas:
a. untuk praktik dokter atau dokter gigi harus memiliki:
1. Surat Ijin Praktik;

2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);


3. perjanjian kerja sama dengan laboratorium, apotek, dan jejaring lainnya; dan
4. surat pernyataan kesediaan mematuhi ketentuan yang terkait dengan Jaminan
Kesehatan Nasional.
b. untuk Puskesmas atau yang setara harus memiliki:
1. Surat Ijin Operasional;
2. Surat Ijin Praktik (SIP) bagi dokter/dokter gigi, Surat Ijin Praktik Apoteker (SIPA) bagi
Apoteker, dan Surat Ijin Praktik atau Surat Ijin Kerja (SIP/SIK) bagi tenaga kesehatan lain;
3. perjanjian kerja sama dengan jejaring, jika diperlukan; dan
4. surat pernyataan kesediaan mematuhi ketentuan yang terkait dengan Jaminan Kesehatan
Nasional.
c. untuk Klinik Pratama atau yang setara harus memiliki:
1. Surat Ijin Operasional;
2. Surat Ijin Praktik (SIP) bagi dokter/dokter gigi dan Surat Ijin Praktik atau Surat Ijin Kerja
(SIP/SIK) bagi tenaga kesehatan lain;
3. Surat Ijin Praktik Apoteker (SIPA) bagi Apoteker dalam hal klinik menyelenggarakan
pelayanan kefarmasian;
4. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) badan;
5. perjanjian kerja sama dengan jejaring, jika diperlukan; dan
surat pernyataan kesediaan mematuhi ketentuan yang terkait dengan Jaminan Kesehatan
Nasional.
(2) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Fasilitas Kesehatan tingkat
pertama juga harus telah terakreditasi.
Pasal 8
Dalam hal di suatu kecamatan tidak terdapat dokter berdasarkan penetapan Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat, BPJS Kesehatan dapat bekerja sama
dengan praktik bidan dan/atau praktik perawat untuk memberikan Pelayanan
Kesehatan Tingkat Pertama sesuai dengan kewenangan yang ditentukan dalam
peraturan perundang-undangan.

Ketentuan Umum
1. Peserta dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
meliputi :
a. Peserta adalah setiap orang, termasuk orang asing yan g bekerja paling
si ngka t 6 ( ena m) bula n di Indonesia, yang telah membayar iuran atau
yang iurannya dibayar pemerintah.
b.

Peserta

program

Jaminan

Kesehatan

Nasional

(JKN)

terdiri atas 2

kelompok yaitu: Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) jaminan kesehatan dan
Peserta bukan Penerima Bantuan Iuran (PBI) jaminan kesehatan.
c.

Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan adalah fakir

miskin dan orang tidak mampu.


d.

Peserta

bukan

Penerima

Bantuan

Iuran

(PBI)

Jaminan kesehatan

adalah Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya, Pekerja Bukan


Penerima

Upah

dan

anggota keluarganya, serta bukan Pekerja dan anggota

keluarganya.
2.

Peserta

Jaminan

Kesehatan

Nasional

(JKN)

diberikan

nomor identitas

tunggal oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan).


Bagi peserta: Askes sosial dari PT. Askes (Persero), jaminan pemeliharaan
kesehatan

(JPK)

dari

PT. (Persero)

Jamsostek,

program

Jamkesmas

dan

TNI/POLRI yang belum mendapatkan nomor identitas tunggal peserta dari Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan), tetap dapat mengakses
pelayanan dengan menggunakan identitas yang sudah ada.
3. Anak pertama sampai dengan anak ketiga dari peserta pekerja penerima upah
sejak lahir secara otomatis dijamin oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Kesehatan (BPJS Kesehatan).
4. Bayi baru lahir dari :
a. peserta pekerja bukan penerima upah;
b. peserta bukan pekerja;
c. peserta pekerja penerima upah untuk anak keempat dan seterusnya;
harus didaftarkan selambat-lambatnya 3 x 24 jam hari kerja sejak yang

bersangkutan

dirawat atau sebelum pasien pulang (bila pasien dirawat kurang dari 3 hari). Jika
sampai waktu yang telah ditentukan pasien tidak dapat menunjukkan nomor identitas
peserta JKN maka pasien dinyatakan sebagai pasien umum.

5. Menteri Sosial berwenang menetapkan data kepesertaan Penerima Bantuan Iuran


(PBI). Selama seseorang ditetapkan sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI), maka
yang bersangkutan berhak mendapatkan manfaat pelayanan kesehatan dalam Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN).
6.

Sampai ada pengaturan lebih lanjut oleh Pemerintah tentang jaminan

kesehatan

bagi

gelandangan,

Penyandang

pengemis,

orang

Masalah
terlantar

pemerintah daerah. Demikian juga

untuk

Kesejahteraan Sosial (PMKS) maka

dan lain-lain
penghuni

menjadi

tanggung

jawab

sosial

serta

panti-panti

penghuni rutan/lapas yang miskin dan tidak mampu.

B. Mekanisme Penetapan dan Pemutakhiran Data Penerima Bantuan


Iuran (PBI)
1.

Penetapan Kriteria dan Pendataan Penerima Bantuan Iuran (PBI) Penetapan

kriteria

peserta

Penerima

Bantuan

Iuran

(PBI) dilakukan oleh

Kementerian Sosial. Berdasarkan kriteria tersebut dilakukan


validasi
hasil

oleh

Dinas

Sosial Kabupaten/kota

setempat.

pendataan

dan

Selanjutnya data

validasi diteruskan ke Kementerian Sosial untuk ditetapkan sebagai

sasaran Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dilaksanakan sesuai dengan


ketentuan peraturan perundang-undangan.

2. Penetapan Peserta
Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan ditetapkan oleh
Menteri Sosial, yang selanjutnya didaftarkan oleh Kementerian Kesehatan ke
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) sebagai
peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan.

3. Perubahan Data Penerima Bantuan Iuran (PBI)


Perubahan data Penerima Bantuan Iuran (PBI) terdiri atas 2 yaitu:

a.

Penghapusan data Penerima Bantuan Iuran (PBI) antara lain karena peserta meninggal

dunia atau peserta tersebut sudah memiliki kemampuan membayar iuran.


b.

Penambahan data Penerima Bantuan Iuran (PBI) antara lain karena pekerja

mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan belum bekerja setelah lebih dari 6
bulan, korban bencana, anggota keluarga dari pekerja yang meninggal dunia dan anak
yang dilahirkan oleh orang tua yang terdaftar sebagai Penerima Bantuan Iuran
(PBI) Jaminan Kesehatan.
Usulan perubahan Penerima Bantuan Iuran (PBI) dapat dilakukan dari daerah dengan
mekanisme sebagai berikut:
a.

Usulan data calon pengganti Penerima Bantuan Iuran (PBI) melalui proses

verifikasi yang merupakan bagian dari kegiatan pemutakhiran Basis Data Terpadu.
Pemutakhiran

data

diawali dengan

Kelurahan (Musdes/Muskel)
pengganti.

Kemudian

untuk

kegiatan

Musyawarah

mengusulkan

dilakukan

verifikasi

Penerima

Desa/Musyawarah

Bantuan Iuran (PBI)

oleh Tenaga Kesejahteraan Sosial

Kecamatan (TKSK).
b. Dokumen hasil verifikasi pengganti kemudian dientri oleh Badan Pusat Statistik
(BPS) Kabupaten/kota.
c.

Dinas

tersebut,

Sosial Kabupaten/kota melakukan validasi terhadap data


selanjutnya

diproses

Bantuan Iuran (PBI) pengganti

dengan penambahan

kemudian

dilakukan

usulan

karakteristik

Penerima

pemeringkatan

Penerima

Bantuan Iuran (PBI) dan selanjutnya dilakukan verifikasi dan validasi untuk menjadi
basis data terpadu Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan.

Mekanisme selanjutnya diatur di dalam Panduan Teknis Verifikasi dan Validasi Peserta
Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan.
Perubahan

peserta

Penerima

Bantuan

Iuran

(PBI)

Jaminan Kesehatan

dilakukan

oleh Menteri Sosial. Perubahan data Penerima Bantuan Iuran (PBI) dilakukan oleh

Menteri Sosial melalui verifikasi dan validasi setiap 6 (enam) bulan dalam tahun anggaran
berjalan sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan
Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan.
C. Pendaftaran Peserta
1. Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan.
a. Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan didaftarkan
oleh Pemerintah sebagai peserta
Sosial Kesehatan

kepada Badan Penyelenggara Jaminan

(BPJS Kesehatan). Penduduk

yang

belum

sebagai peserta jaminan kesehatan dapat diikutsertakan


Jaminan Kesehatan

pada

Badan

Penyelenggara

termasuk

dalam program
Jaminan

Sosial

Kesehatan (BPJS Kesehatan) oleh pemerintah daerah provinsi atau pemerintah


daerah kabupaten/kota.
b. Bayi yang lahir dari peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dicatat dan
dilaporkan oleh fasilitas kesehatan kepada Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan). Mekanisme
akan

diatur

penetapan

selanjutnya

oleh Kementerian Sosial.

2. Peserta Bukan Penerima Bantuan Iuran (PBI)


a. Pemberi Kerja mendaftarkan pekerjanya atau pekerja yang bersangkutan
dapat mendaftarkan diri sebagai peserta kepada BPJS Kesehatan;
b. Pekerja bukan penerima upah dan bukan pekerja wajib mendaftarkan
diri dan keluarganya sebagai peserta

kepada Badan

Penyelenggara

Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan). Proses pendaftaran dapat


dilakukan secara bertahap baik perorangan atau seluruh anggota keluarga.
Prosedur

pendaftaran

keluarga/mutasi
Kepesertaan

peserta

kepesertaan

yang

diatur

dikeluarkan

Kesehatan (BPJS Kesehatan).

dan

tata

cara

lebih

lanjut

oleh

perubahan

daftar susunan

dalam Panduan

Teknis

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

D. Hak dan Kewajiban Peserta


Setiap Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berhak:
1. Mendapatkan nomor identitas tunggal peserta.
2. Memperoleh manfaat pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerja sama
dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan).
3.

Memilih fasilitas kesehatan tingkat pertama yang bekerja sama dengan Badan

Penyelenggara Jaminan
Perpindahan
bulan.

Sosial

Kesehatan

(BPJS Kesehatan sesuai yang diinginkan..

fasilitas kesehatan tingkat pertama selanjutnya dapat dilakukan setelah 3 (tiga)

Khusus

Pemeliharaan

bagi

peserta:

Kesehatan

Askes

(JPK)

dari

sosial

dari

PT.

Askes (Persero),

Jaminan

PT. (Persero) Jamsostek, program Jamkesmas dan

TNI/POLRI, 3 (tiga) bulan pertama penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN),


Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) ditetapkan oleh Badan
Jaminan

Sosial

Kesehatan

Penyelenggara

(BPJS Kesehatan).

4. Mendapatkan informasi dan menyampaikan keluhan terkait dengan pelayanan


kesehatan dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Setiap Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berkewajiban untuk:
1.

Mendaftarkan

Iuran

(PBI)

diri

dan

jaminan

membayar

kesehatan

iuran,

kecuali

pendaftaran

Penerima Bantuan

dan pembayaran iurannya

dilakukan oleh Pemerintah.


2. Mentaati prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan.
3. Melaporkan
Jaminan

Sosial

perubahan
Kesehatan

data

kepesertaan

(BPJS

kepada

Badan Penyelenggara

Kesehatan) dengan menunjukkan identitas

peserta pada saat pindah domisili, pindah kerja, menikah, perceraian, kematian,
kelahiran dan lain- lain.
E. Tahapan Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Tahapan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sesuai dengan peta

jalan (roadmap) menuju jaminan kesehatan semesta/ Universal Health Coverage


(UHC) di tahun 2019. Pada tahap awal kepesertaan program Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) yang dimulai 1
Kesehatan (pengalihan

peserta

PBI Jaminan

dari program Jamkesmas), Anggota TNI

dan PNS di

lingkungan

Kementerian

dan

di

PNS

kesehatan

sosial

Pertahanan

lingkungan
dari

Januari

POLRI,

PT.

jaminan pemeliharaan kesehatan


anggota keluarganya,

peserta

2014

terdiri

dari

dan

anggota

keluarganya, Anggota

POLRI

dan

anggota keluarganya, peserta asuransi

Askes (Persero) beserta anggota keluarganya, peserta


(JPK)
Jaminan

dari

PT.

(Persero)

Jamsostek

dan

Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang telah

berintegrasi dan peserta mandiri (pekerja bukan penerima upah dan pekerja penerima
upah). Tahap selanjutnya sampai dengan tahun 2019 seluruh penduduk menjadi peserta
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

5. Jelaskan peranan BPJS bagi dokter keluarga!


Pelayanan dokter dalam pelayanan kesehatan adalah salah satu jenis medical service yang
berbentuk pelayanan individu, atau untuk saat ini dikenal sebagai Upaya Kesehatan
Perorangan (UKP). UKP sendiri, terdiri dari berbagai strata, yaitu primer, skunder dan
tersier. UKP strata primer seringkali disebut dengan pelayanan atau praktik kedokteran dasar
atau di beberapa Negara dikembangkan sebagai praktik kedokteran keluarga.
Dalam SKN disebutkan bahwa, UKP strata pertama adalah UKP tingkat dasar, yaitu yang
mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dasar yang ditujukan pada
perorangan. Penyelengaranya bisa pemerintah, masyarakat atau sektor swasta yang
diwujudkan dalam bentuk pelayanan profesional seperti praktik bidan, praktik perawat,
praktik dokter, praktik dokter gigi, poliklinik, balai pengobatan, praktik dokter/klinik 24 jam,
praktik bersama dan rumah bersalin termasuk pelayanan pengobatan tradisional dan alternatif
yang secara ilmiah terbukti keamanan dan khasiatnya, serta pelayanan kebugaran fisik dan
kosmetika.
UKP strata pertama oleh pemerintah juga diselenggarakan oleh Puskesmas. Dengan
demikian Puskesmas memiliki dua fungsi pelayanan yaitu pelayanan kesehatan masyarakat
dan pelayanan kesehatan perorangan. Untuk masa yang akan datang, bila sistem jaminan

kesehatan telah berkembang, pemerintah tidak lagi menyelenggarakan UKP strata pertama
melalui Puskesmas. Penyelenggaraan UKP strata pertama akan diserahkan pada masyarakat
dan swasta dengan menerapkan konsep dokter keluarga, kecuali daerah yang sangat terpencil
masih dipadukan dengan pelayanan Puskesmas. Inilah yang kemudian menjadi landasan bagi
pengembangan dokter berbasis dokter keluarga di Indonesia.
Dalam implementasi sistem kesehatan nasional, yang akan menganut prinsip managed
care, pelayanan kesehatan primer yang saat ini dilakukan di Puskesmas, dokter umum serta
dokter keluarga akan menjadi gerbang utama pasien dalam mengakses pelayanan kesehatan.
Untuk itu kualitas pelayanan kesehatan primer ini harus kita jaga, mengingat efek dari
implementasi Jaminan Kesehatan nasional ke depan, akan mengakibatkan naiknya
permintaan (demand) masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan karena kepastian
jaminan sudah didapatkan. Dokter yang bekerja di tingkat pertama (primer) pelayanan
kesehatan, harus menguasai hal-hal terbaru mengenai prediksi, tanda, gejala, penegakan
diagnosis dan penatalaksanaan komprehensif mengenai berbagai penyakit. Pencegahan
penyakit yang kini menjadi produk lokal harus dipahami oleh setiap dokter yang bekerja di
tengah masyarakat agar pasien ke depan memperoleh pelayanan.
Hadirnya dokter praktik umum dan dokter keluarga di era BPJS nantinya secara otomatis
akan meningkatkan kualitas dokter itu sendiri. Saat ini ribuan tenaga dokter tidak
terdistribusi dengan baik, hanya mengumpul di satu kota sehingga penghasilan yang mereka
dapatkan pun tidak sesuai dengan harapan. Di era BPJS nanti, melalui sistem rujukan dengan
peningkatan pelayanan kesehatan primer di Puskesmas, dokter praktik umum dan dokter
keluarga akan terjadi penyebaran jumlah dokter hingga pelosok-pelosok daerahkesehatan
yang terjangkau, dengan kualitas tinggi serta mencapai kesembuhan.Ini akan terjadi jika
sistem kapitasi berjalan baik. Sistem kapitasi akan meningkatkan kualitas dokter karena
dokter akan berusaha membuat pasien mereka sehat dan penghasilan dokter akan menjadi
layak. Bedanya dengan sistem out of pocket yang kasarnya menginginkan pasien sakit agar
memperoleh penghasilan yang lebih. Ini sudah tidak benar, oleh karena itu kualitas dokter
khususnya dokter praktik umum dan dokter keluarga (baik dari segi peforma dan
penghasilan) akan baik di era BPJS mendatang, dengan sistem asuransi sosial.
Optimalisasi pelayanan kesehatan di tingkat pertama ini akan mempengaruhi kompetensi
dokter, dimana dokter dituntut keahliannya selain dari segi kuratif, dan yang terpenting

adalah bagaimana mendidik peserta dengan upaya promotif dan preventif. Di sisi lain itu
beban Puskesmas akan berkurang sehingga dapat fokus dalam upaya usaha-usaha kesehatan
masyarakat yang bersifat massal. Misalnya posyandu, fogging, penyuluhan-penyuluhan
kesehatan akan kembali aktif. Selain itu dokter sudah memiliki pasar tersendiri di daerah
tersebut dan akan menetap pada akhirnya (distribusi dokter berjalan dengan baik).
Mekanisme kerja dokter praktik umum dan dokter keluarga dalam Jaminan Kesehatan
Nasional nantinya diharapkan mampu menunjang sistem komunikasi antara sesama PPK,
antara PPK dengan peserta serta pihak terkait lainnya memang perlu dipelihara guna
menjaga pelayanan PPK tetap bermutu (cost-effective, memuaskan peserta) dan terkendali
biayanya. Untuk itu tantangan ini termaktub dalam aturan-aturan yang mengatur tentang
berbagai standarisasi baik dari segi kompetensi, pelayananan, tarif, serta distribusi di dokter
praktik umum dan dokter keluarga di seluruh Indonesia.

6. Apa saja penyakit terkait pekerjaan pada kasus ( Petani dan buruh kerja perkebunan) ?
Leptospirosis, malaria, dbd, penyakit kulit, gatal-gatal, keracunan pestisida

7. Apa tindakan promotif dan preventif terkait kasus?


Penyuluhan dan edukasi penduduk tentang system BPJS. Selain itu dr. Gudman
seharusnya menyelidiki pola hidup di lingkungan tsb. sehingga bisa menentukan jenis
edukasi dan penyuluhan apa yang akan dilakukan oleh dr. Gudman.

8. Apa saja obat yang biasanya disediakan oleh BPJS dalam menangani kasus hipertensi dan
gastritis ?

9. Apakah tindakan yang dilakukan Dr Gudman sudah benar ? Jika tidak, Jelaskan
penatalaksanaan yang seharusnya Dr Gudman lakukan pada Pak Kasti!
Belum tepat, karena obat yang diberi tidak diganti walaupun penyakit tidak sembuh.
Selain itu seharusnya istri Pak Kasti diminta untuk datang agar bisa diperiksa, atau bila
perlu lakukan home visite ke rumah Pak Kasti. Dalam kasus ini, dr Gudman tidak
memberikan penatalaksanaan berdasarkan etiologi atau penyebab dari penyakit yang
dialami oleh Pak Kasti dan istrinya. Sebaiknya, ditelusuri dahulu penyebabnya baru
ditentukan tatalaksananya, karena jika tidak penyakit akan berulang karena yang
diberikan hanyalah pengobatan simptomatis. Tatalaksana yang seharusnya diberikan bisa
diganti obat lain untuk diberikan ke Pak Kasti

10. Bagaimana penatalaksaan kasus ini bedasarkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga?

11. Apakah pasien boleh mengobati dirinya sendiri? jelaskan!


Tidak boleh karena belum tentu obat yang dikonsumsi sesuai dengan penyakitnya.
Membeli obat yang tidak tepat dan belum tentu sama dengan gejalanya selain itu belum
tentu juga dosisnya sama. Untuk itu, obat tidak boleh dibeli bebas. Dengan demikian
sangat diperlukan pendidikan kesehatan kepada masyarakat dan diikuti dengan
pengawasan dari apotik.
Jadi, nantinya masyaarakat akan memahami pentingnya kesehatan. Bila masyarakat terus
berlanjut membeli obat tanpa ada resep dokter, efeknya cukup besar. Bisa saja, obat yang
dibeli bisa tidak tepat. Selain itu, belum tentu juga dosisnya sama. Untuk itu, obat tidak
boleh dibeli bebas.
Di samping perlunya pendidikan kesehatan yang didata masyarakat, tapi fungsi
pengawasan apotek menjadi hal utama.
Selain itu, penggunaan obat yang tidak rasional menyebabkan resistensi. Minum obat
tanpa resep dokter atau mengobati diri sendiri, sudah lama menjadi kebiasaan
masyarakat. Pengobatan tidak tepat sasaran ini justru membuat tubuh makin rentan
penyakit dan obat yang diminum bakal merusak tubuh sendiri.

Diagnosis Error
Penggunaan obat (beresep) tanpa sepengetahuan dokter sehingga tidak ada resep, bila
dilakukan terlalu sering bisa berakibat fatal. Biasanya orang mengobati diri sendiri
berdasar gejala tanpa memikirkan penyebab penyakitnya. Prioritas utamanya, yakni
menghilangkan nyeri, menurunkan suhu tubuh bila demam, atau menghilangkan bercak
di kulit, daripada berupaya mencari akar permasalahannya.
Karena dokter BPJS dibayar berdasarkan banyaknya orang yang sehat, maka semakin
banyak orang yang sehat semakin banyak pula uang yang bisa dihemat. Sehingga uang
per bulan bisa digunakan seefisien mungkin. Jika pasien tidak sembuh-sembuh atau
penatalaksanaan tidak tepat, maka pasien tersebut akan datang terus menerus ke dokter
tanpa penyembuhan dan dokter pun akan mengalami kerugian karena harus memberikan
pengobatan yang sama berkali-kali kepada pasien tersebut.

12. Mengapa Pak Kasti datang berobat setiap 1 bulan sekali ?


Tatalaksana yang diberikan belum tepat