Anda di halaman 1dari 19

OBAT-OBAT

ADRENERGIK
OLEH :

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITASA AHMAD DAHLAN

SENYAWA ADRENERGIK
Senyawa
adrenergik
adalah
senyawa yang dapat menghasilkan efek
serupa
dengan
respons
akibat
rangsangan
pada
sistem
saraf
adrenergik.
Disebut
juga
dengan
nama
adrenomimetik, perangsang adrenergik,
simpatomimetik
atau
perangsang
simpatetik. Sistem saraf adrenergik
adalah cabang sistem saraf otonom dan
mempunyai neurotransmitter yaitu
norepinefrin.

Struktur umum :

Berdasarkan titik kerjanya pada sel- sel efektor dari ujung


adrenergic dibagi menjadi reseptor () alfa dan () beta, dan
berdasarkan efek fesiologisnya dibagi menjadi alfa1, alfa2,beta1, dan
beta2. Pada umumnya stimulasi pada reseptor menghasilkan efekefek sebagai berikut:
Alfa 1, mengaktifkan organ- organ efektor seperti otot otot polos
(vasokontriksi) dan sel- sel kelenjar dengan efek tambahannya sekresi
ludah dan keringat.
Alfa 2, menghambat pelepasan noradrenalin pada saraf- saraf
adrenergic dengan efek turunya tekanan darah.
Beta 1, memperkuat daya dan frekuensi kontraksi jantung.
Beta 2, bronkodilatasi dan stimulasi metabolism glikogen dan lemak.

HUBUNGAN STRUKTUR DAN AKTIVITAS


Struktur yang diperlukan untuk memberikan aktivitas
agonis pada reseptor adrenergik adalah sebagai berikut
:
1. Struktur induk feniletnilami.
2. Substituen 3 hidroksi fenolat pada cincin atau yang
lebih baik adalah substituen 3,4 dihidroksi fenolat
pada cincin.
3. Gugus -hidroksi alifatik mempunyai stereokimia
yang sebidang dengan gugus hidroksi fenolat.
4. Substituen yang kecil (R=H,CH3, atau C2H5) dapat
dimasukkan dalam atom C tanpa mempengaruhi
aktivitas agonis.
5. Atom N paling sedikit mempunyai satu atom
hidrogen (R=H atau gugus alkil)

Reseptor yang terlibat dalam respon saraf adrenergik adalah reseptor adrenergik dan reseptor -adrenergik.
1.

2.

3.

4.

5.

Gugus hidroksi fenolat membantu interaksi obat dengan sisi reseptor -adrenergik
melalui ikatan hidrogen atau kekuatan elektrostatik. Hilangnya gugus ini
menyebabkan menurunnya aktivitas -adrenergik, tetapi tidak mempengaruhi
aktivitas -adrenergik.
Gugus hidroksi alkohol dalam bentuk isomer (-) dapat mengikat reseptor secara
serasi melalui ikatan hidrogen atau kekuatan elektrostatik. Atom C- seri
feniletilamin yang dapat membentuk karbokation juga menunjang interaksi obat
reseptor.
Adanya gugus amino juga penting terutama untuk aktivitas -adrenergik, karena
dalam bentuk kationik dapat berinteraksi dengan gugus fosfat reseptor yang
bersifat anionik. Penggantian gugus amino dengan gugus OCH3 akan
menghilangkan aktivitas adrenergik.
Adanya substituen gugus alkil yang besar pada atom N akan meningkatkan afinitas
senyawa terhadap -reseptor dan menurunkan afinitasnya terhadap -reseptor.
Peran R-stereoselektivitas terlihat lebih besar pada -reseptor. -agonis dan antagonis mempunyai struktur mirip seperti yang terlihat pada struktur
isoproterenol, tipe perangsang -adrenergik, dan propanolol, tipe pemblok
adrenergik.

Hubungan struktur dan aktivitas senyawa -agonis didapatkan


bahwa :
1. Pemasukan gugus metil pada atom C- rangka feniletilamin
akan meningkatkan selektivitas terhadap.
2. Penghilangan gugus 4-OH dari cincin aromatik, secara drastis
meningkatkan selektivitas terhadap 1-reseptor.
3. Penghilangan gugus 3-OH dari cincin aromatik, pada banyak
kasus dapat meningkatkan selektivitas terhadap
4. Semua turunan imidazolin menunjukkan selektivitas yang
lebih baik terhadap 2 reseptor dan aktivitasnya akan lebih
besar bila ada substituen pada posisi 2 dan 6 cincin aromatik.

1. Substitusi pada cincin benzen dan pada atom C-.


a. Amin simpatomimetik dengan substitusi gugus OH pada posisi
3 dan 4 cincin benzen disebut katekolamin (o-dihidroksibenzen
disebut katekol). Sebstitusi pada gugus OH yang polar pada
cincin benzen atau pada atom C- mengurangi kelarutan obat
dalam lemak dan memberikan aktivitas untuk bekerja langsung
pada reseptor adrenergik di perifer. Karena itu, obat adrenergik
yang tidak mempunyai gugus OH pada cincin benzen maupun
pada atom C- (misalnya amfetamin, metamfetamin) mudah
menembus sawar darah otak sehingga menimbulkan efek
sentral yang kuat. Disamping itu, obat-obat ini kehilangan
aktivitas perifernya yang langsung, sehingga kerjanya praktis
hanya secara tidak langsung.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

Katekolamin dengan gugus OH pada C- (misalnya epinefrin, norepinefrin


dan isoprenalin) sukar sekali masuk SSP sehingga efek sentralnya minimal.
Obat-obat ini bekerja secara langsung dan menimbulkan efek perifer yang
maksimal.
Amin simpatomimetik dengan 2 gugus OH, pada posisi 3 dan 4 (misalnya
dopamin dan dobutamin) atau pada posisi 3 dan C- (misalnya fenilefrin,
metaramirol) juga sukar masuk SSP.
Obat dengan 1 gugus OH, pada C- (misalnya efedrin, fenilpropanolamin)
atau pada cincin benzen (misalnya hidroksiamfetamin) mempunyai efek
sentral yang lebih lemah daripada efek sentral amfetamin
(hidroksiamfetamin hampir tidak mempunyai efek sentral).
Gugus OH pada posisi 3 dan 5 bersama gugus OH pada C- dan substitusi
yang besar pada gugus amino memberikan selektivitas reseptor 2.
Katekolamin tidak efektif pada pemberian oral dan masa kerjanya singkat
karena merupakan substrat enzim COMT (katekol-O-metiltransferase) yang
banyak terdapat pada dinding usus dan hati; enzim ini mengubahnya
menjadi derivat 3-metoksi yang tidak aktif.
Tidak ada atau hanya satu substitusi OH pada cincin benzen, atau gugus OH
pada posisi 3 dan 5 meningkatkan efektivitas oral dan memperpanjang masa
kerja obat, misalnya efedrin dan terbutalin.

2. Substitusi pada atom C-.


a. Menghambat oksidasi amin simpatomimetik oleh enzim monoamin
oksidase (MAO) menjadi mandelat yang tidak aktif.
b. Meningkatkan efektivitas oral dan memperpanjang masa kerja amin
simpatomimetik yang tidak mempunyai substitusi 3-OH pada inti benzen
(misalnya efedrin, amfetamin), tetapi tdak memperpanjang masa kerja
amin simpatomimetik yang mempunyai substitusi 3-OH (misalnya etilnorepinefrin).
3. Substitusi pada gugus amino.
a. Makin besar gugus alkil pada atom N, makin kuat aktivitas , seperti
terlihat pada Isoprenalin > epinefrin > norepinefrin.
b. Makin kecil gugus alkil pada atom N, makin kuat aktivitas , dengan
gugusmetil memberikan aktivitas yang paling kuat, sehingga urutan
aktivitas : epinefrin >> norepinefrin > isoprenalin.

Shock, dengan memperkuat kerja jantung(1) dan melawan hipotensi (),contohnya


adrenalin dan noradrenalin.

Asma, dengan mencapai bronkodilatasi (2), contohnya salbutamol dan


turunannya, adrenalin dan efedrin.

Hipertensi, dengan menurunkan day atahan perifer dari dinding pembuluh


melalui penghambat pelepasan noradrenalin(2), contohnya metildopa dan
klonidin.

Vasodilator perifer, dengan menciutkan pembuluh darah di pangkal betis dan paha
(cladicatio intermitens).

Pilek (rhinitis), guna menciutkan selaput lender yang bengkak() contohnya imidazolin,
efedrin, dan adrenalin.

Midriatikum, ysaitu dengan memperlebar pupil mata (), contohnya fenilefrin


dan nafazolin.

Anoreksans, dengan mengurangi napsu makan pada obesitas (2), contohnya


fenfluramin dan mazindol

Penghambat his dan nyeri haid (dysmenore) dengan relaksasi pada otot rahim (2),
contohnya isoxuprin dan ritordin.

Epineprin
Epinefrin terdapat dalam kelenjar adrenal atau dapat
dibuat secara sintetis. Obat ini merupakan
katekolamin endogen dengan aktivitas pada medula
adrenal.

EFEK SAMPING OBAT


Kardiovaskuler : Angina, aritmia jantung, nyeri dada, flushing,
hipertensi, peningkatan kebutuhan oksigen, pallor, palpitasi,
kematian mendadak, takikardi (parenteral), vasokonstriksi,
ektopi ventrikuler.
MEKANISME AKSI
Menstimulasi reseptor alfa-, beta1-, dan beta2-adrenergik yang berefek
relaksasi otot polos bronki, stimulasi jantung, dan dilatasi vaskulatur otot
skelet; dosis kecil berefek vasodilatasi melalui reseptor beta2-vaskuler; dosis
besar menyebabkan konstriksi otot polos vaskuler dan skelet.

Amfetamin
Amfetamin
atau
Amphetamine
atau
Alfa-MetilFenetilamin atau beta-fenil-isopropilamin, atau benzedrin,
adalah obat golongan stimulansia (hanya dapat diperoleh
dengan resep dokter) yang biasanya digunakan hanya untuk
mengobati gangguan hiperaktif karena kurang perhatian
atau Attention-deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

EFEK SAMPING OBAT

Euforia dan kesiagaan, Tidak dapat tidur, gelisah,


Tremor, Iritabilitas dan beberapa masalah kardiovaskuler
(Tachicardia, palpitasi, aritmia, dll)
MEKANISME AKSI
amfetamin menghambat MAO ,merangsang pelepasan neurotransmitter di
postsinaps menjadi lebih banyak.

Fenilpropanolamin HCl
senyawa adrenergik yaitu adrenomimetik yang
berefek campuran yang dapat menimbulkan efek
melalui pengaktifan adrenoseptor dan melepaskan
katekolamin dari tempat penyimpanan atau
menghambat pemasukan katekolamin

EFEK SAMPING OBAT

Kardiovaskuler : Angina, aritmia jantung, nyeri dada, flushing,


hipertensi, peningkatan kebutuhan oksigen, pallor, palpitasi,
kematian mendadak, takikardi (parenteral), vasokonstriksi,
ektopi ventrikuler.
MEKANISME AKSI
Menstimulasi reseptor alfa-, beta1-, dan beta2-adrenergik yang berefek
relaksasi otot polos bronki, stimulasi jantung, dan dilatasi vaskulatur otot
skelet; dosis kecil berefek vasodilatasi melalui reseptor beta2-vaskuler; dosis
besar menyebabkan konstriksi otot polos vaskuler dan skelet.

Dopamin
salah satu sel kimia dalam otak berbagai jenis hewan
vertebrata
dan
invertebrata,
sejenis
neurotransmiter (zat yang menyampaikan pesan dari
satu syaraf ke syaraf yang lain) dan merupakan
perantara bagi biosintesis hormon adrenalin dan
noradrenalin.

EFEK SAMPING OBAT

Sering : denyut ektopik, takikardia, sakit karena angina, palpitasi,


hipotensi, vasokonstriksi, sakit kepala, mual, muntah, dispnea.
Jarang : bradikardia, aritmia ventrikular (dosis tinggi), gangrene,
hipertensi, ansietas, piloereksi
MEKANISME AKSI

Menstimulasi reseptor adrenergik dan dopaminergik; dosis yang lebih


rendah terutama menstimulsi dopaminergik dan menghasilkan vasodilatasi
renal dan mesenterik ; dosis yang lebih tinggi menstimulasi dopaminergic
dan beta1-adrenergik dan menyebabkan stimulasi jantung dan vasodilatasi
renal ; dosis besar menstimulasi reseptor alfa-adrenergik.

Dobutamin
Dobutamine adalah simpatomimetic sintetik yang
secara struktur berhubungan dengan dopamine dan
tergolong selective.

EFEK SAMPING OBAT


Takikardia dan
meningkatnya tekanan darah sistolik
menunjukkan terjadi overdosis, flebitis, jarang terjadi efek
trombositopenia
MEKANISME AKSI
Stimulasi reseptor beta1-adrenergic, menyebabkan peningkatan
kontraktilitas dan denyut jantung, dengan sedikit efek pada beta2 atau
alpha-reseptor.

Terbutalin
Terbutalin adalah bahan sintetik yang merupakan
stimulant 2-adrenoceptor (2AR) yang digunakan
sebagai bronkodilator pada pengobatan asma
bronchial.

EFEK SAMPING OBAT


Tremor (terutama di tangan), sakit kepala, otot kaku, palpitasi,
takikardi, aritmia, gangguan tidur dan perilaku pada anak.
Paradoxical bronchospasm, urtikaria, dan angioderma pernah
dilaporkan. Hipokalemia terutama pada dosis tinggi.
MEKANISME AKSI
Terbutalin menstimulasi reseptor beta adrenergik di sistem saraf
simpatetik sehingga menyebabkan relaksasi smooth muscle di bronchial
tree dan peripheral vasculature. Efek pada reseptor alfa adrenergik sedikit
atau tidak ada.

Isoproterenol

EFEK SAMPING OBAT


Efek samping yang umum berupa palpitasi, takikardi, nyeri kepala, dan
muka merah. Kadang terjadi aritmia dan serangan angina, terutama pada
pasien dengan penyakit arteri koroner. Inhalasi isoproterenol dosis
berlebih dapat menimbulkan aritmia ventrikel yang fatal.

MEKANISME AKSI

TERIMA
KASIH