Anda di halaman 1dari 5

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

JURUSAN TEKNIK SIPIL S-1


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU

Kampus Bina Widya, KM 12,5 Simpang Baru, Pekanbaru

BAHASA INDONESIA
TUGAS | SINTESIS
TEKNIK SIPIL S1 - UNRI

DISUSUN OLEH

MUHAMMAD IDRAQ IBNUTS TSAURI


1107114221
KELAS D

NOVEMBER 2014

PERCEPATAN PEKERJAAN

Proyek yang sukses berarti proyek yang dilaksanakan sesuai dengan biaya, jadwal dan
keberhasilan mencapai sasaran teknis, proyek yang berhasil juga berarti sukses menerapkan
strategi yang telah dirancang. Sedangkan kegagalan proyek berarti proyek yang tidak sesuai
dengan rencana pembiayaan, jadwal dan tidak mencapai sasaran yang diinginkan (David I.
Cleland, 1995).
Pelaksanaan proyek konstruksi tidak terlepas dari kendala atau kegagalan konstruksi
yang disebabkan oleh rendahnya kinerja ataupun produktivitas para tenaga kerja dan juga
perencanaan proyek yang kurang matang. Walaupun kegagalan tersebut tidak dapat dilihat
secara nyata, namun jika berlangsung dengan intensitas yang besar dan terus-menerus maka
dapat terakumulasi dan dampaknya akan terlihat pada akhir proyek, misalnya keterlambatan
penyelesaian proyek yang akan berakibat pada penambahan biaya.
Jaringan kerja proyek terdiri dari berbagai jenis aktivitas yang saling berkaitan antara
satu dengan yang lain. Bila terjadi keterlambatan pada salah satu jenis aktivitas, sering kali
akan menyebabkan keterlambatan durasi proyek secara keseluruhan. Untuk mengantisipasi hal
tersebut, maka diperlukan usaha percepatan aktivitas proyek bila disinyalir adanya indikasi
keterlambatan proyek yang disebabkan oleh keterlambatan pada salah satu aktivitas kritis
maupun non-kritis.
Menurut Ari Sandhyavitri (2008), ada beberapa strategi yang bisa ditempuh untuk
mengatasi perpanjangan durasi pada pelaksanaan proyek. Strategi yang bisa dilakukan antara
lain adalah:
a. Mengadakan pemendekan durasi pada kegiatan-kegiatan di lintasan kritis.
b. Mengajukan permohonan perpanjangan waktu.
c. Membiarkan terlambat dan menerima untuk didenda.
Strategi mana yang akan dipilih, harus tetap mempertimbangkan faktor biaya.
Pertambahan biaya yang dikeluarkan diharapkan seminimum mungkin dan tetap
memperhatikan standar mutu.
Dari ketiga strategi tersebut, strategi yang umum digunakan pada dunia konstruksi ialah
dengan mengadakan pemendekan durasi pada kegiatan di lintasan kritis atau critical path.
Percepatan tersebut dapat dilakukan dengan beberapa alternatif yakni, mengadakan
penambahan jam kerja, kerja bergantian (shift), penambahan jumlah pekerja, dan pemindahan
sebagian pekerja dari kegiatan lain di luar jalur kritis. Aplikasi metode pemendekan durasi ini

MUHAMMAD IDRAQ IBNUTS TSAURI | 1107114221

efektivitasnya bergantung kepada beberapa parameter, antara lain: tenaga kerja, peralatan,

waktu kerja, durasi kerja per orang, dan upah sesuai peraturan yang berlaku (Ari Sandhyavitri,
2003).
Berikut akan dipaparkan beberapa asumsi yang perlu diperhatikan dalam setiap
alternatif.

1. Pemendekan durasi dengan kerja lembur.


Agung Yana, A.A. G. (2006) menyatakan beberapa asumsi yang harus diperhatikan
dalam pemendekan durasi dengan kerja lembur, antara lain:
a. Penurunan produktivitas pekerja pada kerja lembur sebab keletihan fisik akibat bekerja
sampai sore.
b. Upah yang harus dibayar kepada pekerja lebih tinggi dari upah yang biasa dibayarkan.
Biasanya 1,5 atau 2 kali upah biasa.
Sedangkan Frederika, A. (2010) menyatakan rencana kerja yang akan dilakukan dalam
mempercepat durasi sebuah pekerjaan dengan metode jam kerja lembur adalah:
a. Waktu kerja normal adalah 8 jam (08.00 17.00), sedangkan lembur dilakukan setelah
waktu kerja normal.
b. Harga upah pekerja untuk kerja lembur menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja
Nomor KEP. 102/MEN/VI/2004 Pasal 11 diperhitungkan sebagai berikut:
Untuk jam kerja lembur pertama, harus dibayar upah lembur sebesar 1,5 (satu
setengah) kali upah satu jam.
Untuk setiap jam kerja lembur berikutnya harus dibayar upah lembur sebesar 2 (dua)
kali upah satu jam.

2. Pemendekan durasi dengan kerja bergantian (shift).


Ada beberapa asumsi yang harus diperhatikan untuk pemendekan durasi dengan kerja
bergantian:
a. Tenaga kerja yang kerja bergantian (shift) bukan dari tenaga kerja yang bekerja di proyek
tersebut.
b. Tenaga kerja bergantian mulai bekerja setelah pekerja pagi selesai bekerja sesuai jam
kerjanya.
c. Upah pekerja bergantian lebih tinggi dari pekerja biasa.

MUHAMMAD IDRAQ IBNUTS TSAURI | 1107114221

3. Pemendekan durasi dengan menambah tenaga kerja baru.


Untuk pemendekan durasi dengan metode menambah tenaga kerja baru digunakan
beberapa asumsi:
a. Tenaga kerja baru diambil dari luar daerah lokasi proyek.
b. Adanya biaya transportasi, uang makan dan lain-lain.
c. Upah buat tenaga baru lebih tinggi dari pekerja tetap.
d. Produktivitas dan jam kerja sama dengan pekerja tetap.
e. Jumlah yang dipakai pada tiap kegiatan sesuai kebutuhan pada kegiatan tersebut.

4. Pemindahan sebagian pekerja dari kegiatan lain di luar jalur kritis.


Asumsi-asumsi yang dapat digunakan pemendekan durasi dengan pemindahan
sebagian tenaga kerja dari kegiatan lain di luar jalur kritis:
a. Pekerja yang dipindahkan, keahliannya dan produktivitasnya sama dengan pekerja tetap
pada kegiatan-kegiatan yang dipendekkan durasinya.
b. Tidak terjadi keterlambatan dari rencana pada kegiatan yang diambil tenaga kerjanya.
c. Karena sebagian tenaga kerjanya diambil, durasi kegiatan akan terjadi lebih panjang.
d. Jika terjadi suatu keadaan di mana tidak mungkin lagi sebagian tenaga kerjanya
dipindahkan, maka tenaga tambahan diambil dari luar.

Demikian adalah beberapa alternatif pemendekan durasi pekerjaan yang lazim


dilakukan di lapangan pada pekerjaan konstruksi. Setiap alternatif yang dipilih untuk
digunakan tidak lepas dari pertimbangan faktor biaya. Pertimbangan pengeluaran biaya yang
diharapkan adalah seminimal mungkin namun tanpa mengurangi kualitas dari standar mutu
yang telah ditentukan.
Efektivitas dari setiap alternatif tidak dapat dinilai secara objektif melainkan
bergantung pada beberapa parameter yang turut menentukan pemilihan alternatif pemendekan
durasi pekerjaan antara lain: tenaga kerja, peralatan, waktu kerja, durasi kerja per orang, dan
upah sesuai peraturan yang berlaku.

MUHAMMAD IDRAQ IBNUTS TSAURI | 1107114221

DAFTAR PUSTAKA

Agung Yana, A.A. Gde. 2006. Pengaruh Jam Kerja Lembur Terhadap Biaya Percepatan
Proyek dengan Time Cost Trade Off Analysis. Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 10,
No. 2.
Dipohusodo, Istimawan, 1996, Manajemen Proyek dan Konstruksi, Jilid 1,2 Kanisius,
Yogyakarta.
Frederika, Ariany, 2010. Analisis Percepatan Pelaksanaan Dengan Menambah Jam Kerja
Optimum Pada Proyek Konstruksi, Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 14, No. 2.
Sandhyavitri, Ari. 2003. Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan, Modul Perkuliahan
Teknik Sipil, Universitas Riau.
Sandhyavitri, Ari. 2008. Pengendalian Dampak Perubahan Desain Terhadap Waktu dan Biaya
Pekerjaan Konstruksi, Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 9, No. 1.

MUHAMMAD IDRAQ IBNUTS TSAURI | 1107114221