Anda di halaman 1dari 35

- Radiasi Benda Hitam (BLACK BODY)

Ketika suatu material dipanaskan, maka ia akan memancarkan panas


dan warnanya tergantung pada temperaturnya.
misalnya : elemen pemanas pada kompor listrik :
merah kehitaman : 550C
merah terang: 700C
kemudian : orange, kuning, biru dan terakhir adalah putih (sangat
panas)
Spektrum emisi :
tergantung pada materialnya
Perlu penjelasan sederhana
tentang fakta tersebut

Benda Hitam?
Fakta :
1. Setiap material akan mengalami pertukaran panas
dengan lingkungannya (untuk mencapai
temperatur yang konstan) sehingga akan
menyerap dan memancarkan radiasi.
2. Material dapat memantulkan radiasi
Hal ini akan mempersulit dalam menjelaskan fakta
secara teoritis.
Pendekatan teoritis :
Materi benda hitam : absorben sempurna yaitu
materi yang dapat menyerap semua radiasi yang
datang tanpa memantulkannya kembali.

Radiasi Benda hitam


Benda hitam = rongga semacam kotak logam yang ada lubang
kecil didalamnya.
1. Radiasi yang datang, akan masuk melalui lubang tersebut dan
menyebar didalamnya, tanpa ada kebocoran radiasi keluar
dari kotak tersebut ( terabsorbsi sempurna)
2. Lubang tersebut merupakan adsorben sempurna, dimana
pemancaran radiasi benda hitam tidak tergantung pada bahan
yang digunakan .

radiasi

Hukum Pergeseran Wien


Intensitas adalah daya total radiasi persatuan luas per satuan
panjang gelombang pada suhu tertentu.
Hukum pergeseran Wien : Jika temperatur meningkat, rapatan
energi bergeser kearah panjang gelombang yang lebih
pendek.

Hukum Stefan-Boltzman
Energi total radiasi meningkat dengan bertambahnya temperatur

Konstanta adalah tetapan Stefan-Bolztman, yaitu sebesar


5,6705 x 10 -8 W m -2 K -4
Emissivitas ( = 1 untuk benda hitam sempurna) adalah nilai
perbandingan daya yang dipancarkan oleh suatu material
dibandingkan dengan benda hitam sempurna, dan nilainya selalu
kurang dari 1

Pendekatan teoritis spektrum untuk daerah


dengan panjang gelombang rendah dan tinggi.
Pendekatan secara elektromagnetik dan termodinamika klasik
oleh Lord Rayleigh menghasilkan:
Hukum Rayleigh-Jeans

malapetaka ultraviolet

Pendekatan Teoritis?
Fisika Klasik:
Spektrum emisi : superposisi dari gelombang elektromagnetik yang
mempunyai frekuensi berbeda .
Frekunsi yang diperbolehkan adalah gelombang berdiri (vertikal) yang
masuk didalam rongga.
Equipartisi dari energi :
Setiap panjang gelombang mempunyai energi sebesar kT
Kelemahan : ketika l 0, jika jumlah gelombang vertikal , maka
energi E
Kelemahan penjelasan malapetaka Ultraviolet dari pendekatan klasik
adalah :
Teori dari Rayleigh-Jeans cukup berhasil untuk l besar tetapi tidak
bisa menjelaskan jika l kecil.
Perlu suatu teori baru..

Max Panck dan


Masalah Benda Hitam
Max Planck (1858-1947)
Ahli termodinamika dan mekanika statistik
Sekitar tahun 1900 : mengusulkan pertama kali pendekatan
empiris (berdasarkan fakta) untuk mereproduksi
persamaan spektrum emisi pada panjang gelombang
rendah dan tinggi

Hasilnya ternyata sesuai dengan eksperimen


Penemuan Planck tersebut menjadi dasar teoritis untuk
persamaan-persamaan berikutnya
Nobel , 1918

DISTRIBUSI PLANCK
Planck berasumsi bahwa
1. Radiasi di dalam rongga itu dipancarkan (dan diserap) oleh semacam
oscillator yang ada didalam dinding.
2. Energi setiap oscillator terbatas pada nilai-nilai yang tertentu (kuantisasi
energi) dan tidak dapat diubah-ubah semaunya.

h adalah konstanta Planck, n = 0,1,2


Seberkas sinar dengan frekuensi tertentu terdiri-dari 0,1,2 partikel,
dengan setiap partikel mempunyai energy hn. Partikel ini disebut
foton.
4. Oscillator dapat mengabsorbsi dan memancarkan radiasi hanya
pada energi tertentu.
3.

DISTRIBUSI PLANCK
Perhitungan terperinci adalah Planck menggunakan metode
distribusi Bolztman dan menghasilkan persamaan :

hc/kT besar, maka ehc/kT , oleh karena itu


0 saat 0 dan
Sehingga rumus planck tereduksi menjadi hukum
Rayleigh-Jeans maupun persamaan klasik ketika:

DISTRIBUSI PLANCK
Distribusi planck menerangkan hukum Stefan dan Wien:
a
a
Penggantian nilai konstanta dasar menghasilkan:

Hukum Wien diperoleh dengan mencari panjang gelombang


dimana dU/d = 0 pada temperatur tinggi:

Efek Fotolistrik
Sebuah (simulasi sederhana) yang digunakan untuk
mempelajari efek fotolistrik :

Pengaruh intensitas sinar pada efek fotolistrik

Larger light intensity means larger number of photons at a given


frequency (Energy)

- Photoelectric Effect Cahaya yang menumbuk logam


dapat menyebabkan lepasnya
elektron dari logam tersebut, jika
frekuensinya diatas frekuensi
ambangnya/batasnya
(karakteristik untuk setiap
logam)
Mekanika klasik :
untuk cahaya adalah gelombang, maka energinya sebanding dengan
kuadrat amplitudonya.
Untuk partikel : energi sebanding dengan frekuensinya.
Berdasarkan fakta efek fotolistrik : Einstein (1905) mengusulkan bahwa
cahaya mempunyai sifat partikel(dan juga gelombang)
Frekuensi besar, berarti panjang gelombangnya kecil dan energinya adalah
sebesar h

Kesimpulan Efek fotolistrik


1. Efek fotolistrik memberikan bukti untuk sifat partikel
dari cahaya (gelombang).
2. Hal ini juga memberikan bukti untuk kuantisasi
cahaya (gelombang).
3. Jika cahaya dikenakan pada permukaan logam, maka
akan ada titik di mana elektron dilepaskan dari logam
tersebut.
4. Elektron hanya akan dilepaskan setelah frekuensi
ambang tercapai.
5. Di bawah frekuensi ambang batas, tidak ada elektron
yang dilepaskan.
6. Di atas frekuensi ambang, jumlah elektron dilepaskan
tergantung pada intensitas cahaya.

Tahun 1925, Clinton Davisson dan Lester : difraksi elektron oleh


kristal => partikel mempunyai sifat gelombang.
Jika dilihat dari eksperimen yang ada maka :
Partikel bersifat gelombang
dan

Gelombang bersifat partikel


Pada tahun 1924, de Broglie mengajukan suatu persamaan yang
menyatakan hubungan antara partikel dan gelombang, yaitu
hubungan de Broglie, partikel yang mempunyai momentum p
harus mempunyai panjang gelombang
Mewakili sifat
gelombang

Apakah Mekanika kuantum?


Mekanika kuantum adalah penjabaran
(interpretasi fisik) dari hasil eksperimen yang
berupa persamaan-persamaan aljabar

- First Postulate of Quantum Mechanics Fisikawan kuantum tertarik pada semua jenis sistem fisik (foton,
konduksi elektron dalam logam dan semikonduktor, atom, dll). State
dari sistem yang agak berbeda diwakili oleh suatu jenis fungsi yang
sama FUNGSI KEADAAN
Postulat pertama mekanika kuantum:
Setiap sifat keadaan (state) dari sistem dijelaskan dalam mekanika
kuantum oleh satu fungsi keadaan yaitu fungsi gelombang yang
mengandung semua informasi tentang sifat fisik dari sistem pada
state tersebut.
Physically realizable states states yang dapat dipelajari dalam
laboratorium
Informasi yang dapat diakses informasi yang dapat kita peroleh dari
fungsi gelombang
State function fungsi dari posisi, momentum, energi yang terlokalisasi

- First Postulate of Quantum Mechanics jika 1 and 2 merepresentasikan dua keadaan fisik dari sistem, maka
kombinasi linier dari keduanya adalah

= c1 1 + c2 2
dimana c1 dan c2 adalah koefisien numerik (konstanta) yang
merepresentasikan 3 keadaan fisik dari sistem.

Catatan:
fungsi gelombang (x,t) amplitudodari probabilitas posisi dan
waktu
Mekanika kuantum menggambarkan hasil dari sebuah ensemble
pengukuran, dimana sebuah ensemble dari pengukuran terdiri dari
sejumlah besar percobaan yang benar-benar identik yang tidak saling
berinteraksi, sehingga berada dalam keadaan yang sama.

- Second Postulate of Quantum Mechanics Jika suatu sistem berada dalam keadaan kuantum tertentu diwakili oleh
fungsi gelombang , maka

PdV dV

adalah propabilitas menemukan partikel dengan


fungsi gelombang pada volume dV pada waktu t .

Note:
|(x,t)|2 densitas probabilitas posisi dan waktu
Pentingnya normalisasi berdasarkan interpretasi Born dari fungsi
gelombang sebagai amplitudo probabilitas posisi. Menurut postulat
kedua mekanika kuantum, integral dari densitas probabilitas dapat
diartikan sebagai probabilitas dalam pengukuran posisi pada waktu t, kita
akan menemukan partikel di mana saja pada setiap ruang.

Probabilitas menemukan
2
PV P(r , t)dV (r , t ) dV
partikel dalam suatu volume
V
V
V adalah
Probabilitas menemukan
partikel dalam suatu tempat
dalam suatu ruangan adalah 1,
ini yang disebut dengan
normalisasi.

( r , t )

dV 1

all space

Untuk kasus satu dimensi,


probabilitas untuk
menemukan partikel dalam
suatu interval a x b
adalah

Pab

( x , t ) dx

Peverywhere

( x , t )

dx

- Second Postulate of Quantum


Mechanics Normalisasi fungsi gelombang dituliskan sebagai
berikut :
2

*
PdV

(
x
,
y
,
z
)
dV

( x, y, z )( x, y, z )dV 1

Batasan-batasan fungsi gelombang :


1. Hanya fungsi gelombang yang ternormalisasi yang
dapat diterima secara fisika.
2. Fungsi gelombang harus kontinu
3. Bernilai tunggal
4. Mempunyai kemiringan kontinu (continuous
derivative).

- Third Postulate of Quantum MechanicsSetiap nilai yang terukur (OBSERVABEL) dalam mekanika kuantum
dapat diwakili oleh OPERATOR yang dapat digunakan untuk mendapatkan
informasi-informasi fisik tentang nilai terukur tadi dari fungsi
gelombangnya.Untuk sebuah observable yang diwakili dalam fisika klasik sebagai
fungsi Q

(x,p), maka hal itu sesuai dengan operator

Observable
Posisi
Momentum
Energi

Operator

Ketidakpastian Heisenberg
Sampai saat ini, kita bicara tentang probabilitas, sehingga
timbul suatu pertanyaan :
How precise is our knowledge?
Contoh : Kita ingin mengetahui Coordinate dan Momentum
dari sebuah partikel pada waktu t = 0

Jika kita mengetahui besarnya gaya yang bekerja pada


partikel tersebut, maka berdasarkan fisika klasik, kita
akan mengetahui segala sesuatu tentang partikel tersebut
pada waktu t.

Ketidakpastian Heisenberg
1. Tetapi tidak mungkin untuk memberikan
posisi yang tepat dari gelombang
2. Gelombang secara alami menyebar
3. Pertimbangkan kasus difraksi
4. Sebagian besar energi yang datang berada
pada nilai maksimum pertama.

Ketidakpastian Heisenberg
Dapatkah kita mengetahui koordinat dan
momentum (velocity) secara eksak, jika kita
berurusan dengan probabilitas?

Jawaban dari mekanika kuantum berbeda


dengan fisika klasik, dan hal ini dirumuskan
dalam Prinsip Ketidakpastian Heisenberg

Ketidakpastian Heisenberg
Walaupun masing-masing operator posisi dan momentum
telah diketahui, namun kita tidak dapat menentukan keduanya
secara bersamaan. Ketidak pastian posisi dan momentum
tersebut diterjemahkan dalam hubungan ketidakpastian
posisi-momentum (ketidak pastian Heinsernberg), yaitu :

1
x p
2 2


x, p

dan dapat digeneralisasikan untuk berbagai pasangan nilai


terukur (observable).

Contoh:
sebuah titik
misal m=0.1 kg
- p = mv = 0.1 kg 1000 m/s = 100 kgm/s
jika p = 0.01% p = 0.01 kgm/s

Ketidak pastian posisi sebuah titik tersebut jauh


lebih kecil dibandingkan ukuran dari atom.
Sehingga secara praktis kita bisa menentukan
secara pasti letak dari titik tersebut.

Sebuah elektron:
Elektron (m = 9.1110-31 kg) dengan energi 4.9
eV
diasumsikan p = 0.01% p

Ketidak pastian posisi jauh lebih besar daripada


ukuran atom
Hal ini berarti bahwa prisnsip ketidakpastian
berlaku untuk materi skala atom

- Fourth Postulate of Quantum Mechanics -

Tahun 1926,
Erwin Schrodinger mengusulkan persamaan yang
1926 Erwin Schrdinger proposed an equation that describes the evolution of a
menggambarkan
evolusi
dalam
sistem
mekanika
kuatum,
yaitu and
mechanical system
SWE
which
represents
quantum equations
of motion,
persamaan
kuantum untuk gerakan dalam bentuk :
form:
2 2

2 2

V ( x ) ( x, t )
V ( x) ( x, t ) i
2
2
2m x
t
2m x

This work of Schrdinger was stimulated by a 1925 paper by Einstein on the qu


Persamaan
Schrodinger
tersebut
telah distimulasi
oleh
Einsten tahun
theory
of ideal gas, and
the de Broglie
theory of matter
waves.

1925 yaitu tentang teori kuantum untuk gas ideal dan teori de Broglie
Note:
dari materi-gelombang
Note: Examining the time-dependent SWE, one can also define the following operato
total
energy:
Ketergantungan
persamaan Schrodinger terhadap waktu

total, yaitu :
melahirkan satu operator untuk energi
E i
t

Fourth (Fundamental) postulate of Quantum mechanics:

- Fourth Postulate of Quantum Mechanics Pengembangan fungsi gelombang dari sistem kuatum terisolasi adalah
diatur oleh ketergantungan fungsi gelombang Schrdinger terhadap waktu,
yaitu
, dimana

sistem Hamiltonian

Catatan untuk sistem terisolasi:


Ketergantungan waktu dari persamaan gelombang Schrodinger
menggambarkan evolusi dari keadaan dimana tidak ada
pengamatan yang dapat dibuat. Sebuah observasi mengubah
keadaan sistem tersebut, dan persamaan Schrodinger tidak dapat
menggambarkan perubahan tersebut.