Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Maksud dan Tujuan Praktikum

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Sejarah Kota Pacitan
Sejarah Kabupaten Pacitan menurut Babat Pacitan, nama Pacitan berasal dari kata
Pacitan yang berarti camilan, sedap-sedapan, tambul, yaitu makanan kecil yang tidak sampai
mengenyangkan. Hal ini disebabkan daerah Pacitan merupakan daerah minus, hingga untuk
memenuhi kebutuhan pangan warganya tidak sampai mengenyangkan (tidak cukup). Adapula
yang berpendapat bahwa nama pacitan berasal dari Pace mengkudu (bentis) yang memberi
kekuatan. Pendapat ini berasal dari legenda yang bersumber pada perang Mangkubumen atau
Perang Palihan Nagari (1746-1755) yakni tatkala Pangeran Mangkubumi dalam peperanganya
itu sampai di daerah Pacitan. Dalam suatu pertempuran ia kalah dan terpaksa melarikan diri ke
dalam hutan dengan tubuh lemah lesu. Berkat pertolongan abdinya yang bernama setraketipa
yang memberikan buah pace masak kemudian menjadikan kekuatan mangkubumi pulih kembali.
Akan tetapi nama Pacitan yang menggambarkan kondisi daerah minus tersebut ialah yang lebih
kuat, hal itu juga didasarkan pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613- 1645) nama tersebut
telah muncul dalam babad Monama ( www.pacitan.go.id).
2.2 Letak Geografis Kabupaten Pacitan
Kabupaten Pacitan terletak di Pantai Selatan Pulau Jawa dan berbatasan dengan Propinsi
Jawa Tengah dan daerah Istimewa Jogyakarta merupakan pintu gerbang bagian barat dari Jawa
Timur dengan kondisi fisik pegunungan kapur selatan yang membujur dari Gunung kidul ke
Kabupaten Trenggalek menghadap ke Samudera Indonesia.
Adapun wilayah administrasi terdiri dari dari 12 Kecamatan, 5 Kelurahan dan 166 Desa,
dengan letak geografis berada antara 110 55' - 111 25' Bujur Timur dan 7 55' - 8 17' Lintang
Selatan. Kabupaten Pacitan merupakan kota pantai selatan dan mempunyai lokasi yang sangat
dekat dengan daerah subdaksi antara lempeng India-Australia dan lempeng Eurasia.
Batas-batas Administrasi :
1.
2.
3.
4.

Sebelah timur
Sebelah Selatan
Sebelah Barat
Sebelah Utara

:
:
:
:

Kabupaten Trenggalek.
Samudera Indonesia.
Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah).
Kabupaten Ponorogo (Jawa Timur)
Wonogiri (Jawa Tengah).

dan

Kabupaten

Ditinjau dari sudut geografisnya wilayah Kabupaten Pacitan seluas 1.389,8716 Km atau
138.987,16 Ha. Luas tersebut sebagian besar berupa perbukitan yaitu kurang lebih 85 %,
gunung-gunung kecil lebih kurang 300 buah menyebar diseluruh wilayah Kabupaten Pacitan dan
jurang terjal yang termasuk dalam deretan Pegunungan Seribu yang membujur sepanjang selatan
Pulau Jawa, sedang selebihnya merupakan dataran rendah. sebagian besar tanahnya terdiri atas :
1.
2.
3.
4.
5.

Tanah ladang
Pemukiman Penduduk
Hutan
Sawah
Pesisir dan tanah kosong

:
:
:
:
:

21,51% atau 29.890,58 ha.


02,27% atau 3.153,33 ha.
58,56% atau 81.397 ha.
09,36% atau 13.014,26 ha.
08,29% atau 11.530,99 ha.

Apabila diukur dari permukaan laut, ketinggian tempat itu dapat dirinci sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Ketinggian 0 25 m, seluas 37,76 km atau 2,62 % luas wilayah.


Ketinggian 25 100 m, seluas 38 km atau 2,67 % luas wilayah.
Ketinggian 100 500 m, seluas 747,75 km atau 52,68 % luas wilayah.
Ketinggian 500 1000 m, seluas 517,13 km atau 36,43 % luas wilayah.
Ketinggian 1000 m, seluas 79,40 km atau 5,59 % luas wilayah.

Apabila ditinjau dari luas wilayah setiap kecamatan di Kabupaten Pacitan itu dapat dirinci
sebagai berikut :

Tabel.1 Pembagian Wilayah Kabupaten Pacitan

No.

Kecamatan

Luas
Kecamatan
Disticts Areas

Jumlah
Desa

(km2)
1
2
3
4
5
6
7
8

Donorojo

12

109,
09

Punung

13

108,
81

Pringkuku

13

132,
93

Pacitan

25

77,
11

Kebonagung

19

124,
85

Arjosari

17

117,
06

Nawangan

124,
06

Bandar

117,
34

No.

Kecamatan

Luas
Kecamatan
Disticts Areas

Jumlah
Desa

(km2)
9
10
11
12

Tegalombo

11

149,
26

Tulakan

16

161,
61

Ngadirojo

18

95,
91

Sudimoro

10

71,
86

Total
171
Sumber : Pacitan Dalam Angka 2009

1.389,89

2.3 Bentuk Morfologi Kabupaten Pacitan


Morfologi Kabupaten Pacitan sebagian besar (49%) merupakan wilayah agak bergunung
sampai bergunung dengan kemiringan lahan >40, dan lainnya berupa lahan dengan bentuk
wilayah datar-berombak (lereng 0-8%) yang menempati wilayah 17%, lahan bergelombang (815%) menempati wilayah 2,5%, lahan agak berbukit (lereng 26-40%) yang menempati wilayah
28%.
Dataran datar hingga berombak dapat dijumpai di beberapa wilayah, yakni di dataran
aluvium Sungai Grindulu di Pacitan dan dataran aluvium muara Sungai lorog. Lahan
bergelombang dapat dijumpai di daerah Kebonagung, Ngadirojo, dan Pringkuku, serta di
berbagai kecamatan lain dalam luasan sempit (spot-spot). Lahan agak berbukit hingga berbukit
menyebar merata di tiap kecamatan. Namun yang paling luas adalah di Pringkuku, Tegalombo,
dan Tulakan. Sedangkan lahan agak bergelombang hingga bergunung (>40%) banyak dijumpai
di Arjosari, Nawangan, Tegalombo, dan Tulakan luasan masing-masing bentuk wilayah dapat
dilihat pada tabel 2.
Tabel 2.
Pembagian Wilayah Kabupaten Pacitan
KEMIRINGAN
KECAMATAN

E (41-60)

F (>60)

LUAS TOTAL KAW.


DG KEMIRINGAN >
40%

ARJOSARI

2.948

6.223

9.171

78,34

BANDAR

2.996

2.217

5.213

44,42

DONOROJO

1.543

2.342

3.885

35,61

KEBONAGUNG

3.602

1.331

4.933

39,51

NAWANGAN

4.150

3.360

LUAS TOTAL KAW.


DG KEMIRINGAN >
40%
7.510

NGADIROJO

2.471

3.555

6.026

62,83

PACITAN

1.318

1.264

2.582

33,49

PRINGKUKU

2.166

1.168

3.334

25,08

PUNUNG

1.114

2.786

3.900

35,84

SUDIMORO

2.384

1.576

3.960

55,11

TEGALOMBO

3.971

6.597

10.568

70,80

TULAKAN

4.965

2.486

7.451

46,10

33.628

34.905

68.533

49,31

KECAMATAN

TOTAL

KEMIRINGAN
E (41-60)

F (>60)

%
60,54

Sumber: RTRW Kabupaten Pacitan 2009-2028


Keterangan:
E(41-60) = Daerah agak bergunung dengan kemiringan 41-60%
F (>60) = Daerah bergunung dengan kemiringan lebih dari 60%
Untuk kondisi geologi wilayah Pacitan sendiri umumnya berupa vulkanik dan kars.
Sejumlah besar erupsi serta bentuk kerucut, dengan material-material hasil letusannya berbentuk
padat batu gamping serta lain-lain bahan vulkanik lepas. Semua bahan vulkanik itu membentuk
pegunungan (otogenesa) menghasilkan morfologi yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung
dengan perbedaan relief topografik yang cukup besar. Di bagian selatan sepanjang pantai kondisi
geologinya berupa satuan karst dengan bahan penyusun batu gamping. Secara garis besar
wilayah Kabupaten Pacitan dapat dikelompokkan ke dalam 3 satuan wilayah morfologi, yaitu:

Morfologi Perbukitan
Morfologi perbukitan merupakan wilayah terluas, mencakup 80% luas daerah.
Satuan morfologi ini menempati daerah dengan kemiringan terjal, dengan bukit-bukit dan
gunung-gunung kecil menjulang hingga 800 meter di atas muka air laut. Satuan ini disusun oleh
batuan gunungapi dan batuan sedimen. Morfologi berbentuk tonjolan yang terdapat di beberapa
tempat merupakan batuan terobosan yang bersusunan andesit, basal, diorit dan dasit. Sungaisungai besar yang mengalir di daerah ini antara lain S. Grindulu, S. Lanang, S. Pagutan, S.
Lorog, dan S. Panggul. Kelurusannya lebih banyak dipengaruhi oleh sesar dan kekar daripada
kedudukan lapisan batuan. Derajat pelapukan pada satuan ini cukup tinggi, ditunjukkan oleh
tanah pelapukan yang setempat mencapai tebal lebih dari 10 meter.
Morfologi Karst

Satuan Karst menyebar di sepanjang pantai selatan, terutama disusun oleh batu
gamping, yang setempat bersifat tufan. Gejala karst di daerah ini ditunjukkan oleh adanya gua
batu gamping, aliran sungai bawah tanah, dolina, dan uvala. Bukit-bukit kecil berjulang antara
20-50 meter di atas muka air laut merupakan bentukan hasil erosi, yang umumnya disusun oleh
batu gamping terumbu. Bentuk bukitnya yang beragam seperti kerucut, kerucut terpancung,
meja, tabung, dan sebagainya dipengaruhi oleh ragam batugamping penyusunnya. Sungai besar
yang memotong satuan ini adalah S. Basoko yang kelurusannya dipengaruhi oleh sistem retakan.

Morfologi Daratan
Satuan dataran berupa aluvium, sebarannya sangat terbatas, yakni di sepanjang
aliran sungai-sungai besar. Setempat satuan ini menempati daerah pinggirannya pantai yang
sempit. Dataran aluvial yang cukup luas diantaranya dijumpai di dataran Pacitan di daerah hilir
S. Grindulu dan dataran Lorog di sekitar S. Lorog.
2.4 Data Statistik Kabupaten Pacitan
Kependudukan
Dalam perencanaan dan evaluasi pembangunan sangat dibutuhkan data mengenai
kependudukan. Apalagi jika dikaitkan dengan dwifungsi penduduk, yaitu sebagai fungsi subjek
dan fungsi objek. Fungsi subjek bermakna bahwa penduduk adalah pelaku pembangunan, dan
fungsi objek bermakna bahwa penduduk menjadi target dan sasaran pembangunan yang
dilakukan. Kedua fungsi tadi harus berjalan seiring dan sejalan secara integral.
Menurut hasil registrasi penduduk tahun 2011, jumlah penduduk Kabupaten Pacitan
sebesar 586.276 jiwa, terdiri dari laki-laki sebesar 290.570 jiwa (49,72 persen) dan perempuan
sebesar 295.576 jiwa (50,28 persen) dengan rasio jenis kelamin sebesar 98,89 persen. Hal ini
berarti bahwa setiap 100 penduduk perempuan terdapat 98-99 penduduk laki-laki. Sedangkan
menurut hasil Sensus Penduduk 2010 (SP2010), jumlah penduduk Kabupaten Pacitan sebesar
540.881 jiwa. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin terdiri dari laki-laki sebesar 264.1123
jiwa (48,83 persen) dan perempuan sebesar 276.769 jiwa (51,17 persen) dengan rasio jenis
kelamin sebesar 95,43 persen. Hal ini berarti bahwa setiap 100 penduduk perempuan terdapat
95-96 penduduk laki-laki.nKepadatan penduduk Kabupaten Pacitan tahun 2011 sebesar 422
Jiwa/Km2 . Kepadatan penduduk paling tinggi adalah Kecamtan Pacitan sebagai ibukota
kabupaten yang mencapai 919 Jiwa/Km2 , hal ini sangat jauh bila dibandingkan dengan
kepadatan penduduk kecamatan lainnya yang hanya berkisar antara 240-536 Jiwa/Km2.
6

Berdasarkan komposisi umurnya, penduduk Kabupaten Pacitan sebanyak 388.457 jiwa berada
pada usia produktif yaitu berusia 15-64 tahun atau sebesar 66,26 persen.
Tabel 3. JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN KELOMPOK UMUR DAN JENIS KELAMIN
TAHUN 2011

USIA
(Tahun)
04

L
21.308

2011
P
19.676

5-9
10-14
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60-64
65+
Jumlah/total

22.459
24.368
22.716
18.243
19.711
19.687
22.222
22.355
21.033
18.926
15.860
12.437
29.245
290.570

21.513
22.471
20.475
18.620
20.773
20.801
23.303
22.961
20.549
18.686
15.179
13.920
36.779
295.706

Jumlah
40.984
43.972
46.839
43.191
36.863
40.484
40.488
45.525
45.316
41.582
37.612
31.039
26.357
66.024
586.276

Perkembangan jumlah penduduk di Kabupaten Pacitan selama sepuluh tahun


terakhir (2001-2010) mengalami penurunan, yaitu 543.252 jiwa pada tahun 2001 menjadi
540.881 jiwa pada tahun 2010. Berikut ini adalah data jumlah penduduk per Kecamatan di
Kabupaten Pacitan dari tahun 2001-2010 (tabel 4.)
Tabek 4.
Jumlah Penduduk, Rata-rata Penduduk per Desa, dan Kepadatan Penduduk
Selama 10 Tahun Terakhir
N
o

Tahun

Jumlah
Desa

Jumlah
Penduduk

Rata-rata
Penduduk per
Desa

Kepadata
n
Penduduk

2001

164

543.252

3.312,51

390,86

2002

164

545.409

3.325,66

392,42

2003

164

547.308

3.337,24

393,78

2004

164

549.069

3.347,98

395,05

2005

164

551.759

3.364,38

396,99

2006

164

551.155

3.360,70

396,55

2007

171

555.262

3.247

400

2008

171

557.029

3.257

401

2009

171

558.644

3.267

402

1
0

2010

171

540.881

3.163

390

Sumber : Kabupaten Pacitan dalam Angka

Jika dibandingkan dengan hasil sensus penduduk Tahun 2000, maka terjadi
pertambahan penduduk sebanyak 15.123 jiwa atau pertumbuhan rata-rata penduduk sebesar
0,67% per tahun. Sehingga walaupun jumlah penduduk semakin bertambah dari tahun ke tahun,
namun pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun memiliki kecenderungan menurun.
Melambatnya pertumbuhan penduduk ini disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah
migrasi penduduk ke daerah lain. Kondisi ini akan mempengaruhi rencana pengembangan di
wilayah Kabupaten Pacitan.
Ekonomi
a. Potensi Unggulan Daerah
Potensi unggulan daerah yang ada di wilayah Kabupaten Pacitan secara umum meliputi
bidang Pertanian; Perkebunan; Peternakan; Kehutanan dan Energi dan Sumber Daya Mineral;
Pariwisata; Kelautan dan Perikanan; Perdagangan serta Perindustrian.

b. Pertumbuhan Ekonomi / PDRB


Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pacitan pada tahun 2012 mengalami peningkatan
dibandingkan tahun 2011 yaitu pada tahun 2012 pertumbuhan ekonomi mencapai 6,73%
sedangkan tahun 2011 mencapai 6,67 %. Secara lengkap indikator makro pembangunan daerah
Kabupaten Pacitan tahun 2010 - 2012 adalah sebagaimana berikut :
Tabel 5. Indikator Makro Kabupaten Pacitan
No
1.
2.

Uraian
Pertumbuhan
Ekonomi (%)
PDRB ADHB
(juta Rp.)

2010
6,53

Tahun
2011
6,67

2012
6,73

3.353.210,13

3.741.614,33

4.197.613,74

3.

PDRB ADHK
1.548.222,77 1.651.466,07 1.762.542,97
(juta Rp.)
4.
Penduduk
19,5**)
18,13
17,07
Miskin (%)
5.
Tingkat
0,87
2,70
1,16
Pengangguran
Terbuka (%)
6.
Laju Inflasi
7,11
4,34
3,84
(dari harga
konsumen)
(%)
7.
Jumlah
540.881
542.127
543.391
Penduduk
pertengahan
tahun (jiwa)
8.
Pendapatan
6.199.533,96 6.404.282,47 7.198.872,06
per kapita
(rupiah)
9.
Angka
71,26
71,48
71,69
Harapan
Hidup (AHH)
(tahun)
10.
Angka Rata6,90
6,94
6,99
Rata Lama
Sekolah
(tahun)
11.
Angka Melek
91,58
91,60
91,62
Huruf P 15
Tahun + (%)
12.
Pengeluaran
635,49
637,70
638,2
Perkapita Riil
Disesuaikan
(Rp.000)
13.
Indeks
72,07
72,48
72,91
Pembangunan
Manusia (IPM)
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan *) = Angka Sementara
**) = Angka Hasil Susenas Tahun 2010

Sedangkan PDRB Per Sektor Kabupaten Pacitan Tahun 2012 adalah sebagai berikut :
Tabel 6. PDRB Sektor Kabupaten Pacitan
No.

Sektor

1.
2.

Pertanian
Pertambangan
Dan Penggalian
Industri
Pengolahan
Listrik, Gas Dan
Air Bersih
Bangunan/
Konstruksi

3.
4.
5.

Harga Berlaku
*)
1.536.013,62
134.771,06

Harga Konstan
*)
654.847,29
73.618,96

155.553,47

60.709,84

44.078,60

17.022,81

395.031,18

170.681,78

6.

Perdagangan,
Hotel Dan
Restoran
Angkutan Dan
Komunikasi
Keuangan,
Persewaan Dan
Jasa
Perusahaan
Jasa Jasa

7.
8.

566.625,80

233.941,81

268.452,42

93.170,62

341.386,55

167.440,95

9.
755.701,04
291.108,91
TOTAL PDRB
4.197.613,74
1.762.542,97
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan *) = Angka Sementara

2.5 Potensi Kabupaten Pacitan


Pariwisata
Sektor pariwisata di Kabupaten Pacitan mempunyai peluang yang cukup prospektif untuk
dikembangkan menjadi industri Pariwisata yang mampu bersaing dengan Pariwisata di daerah
yang lain bahkan manca negara, ini cukup beralasan, karena obyek wisata yang ada cukup
beragam dan mempunyai ciri khusus dan nilai lebih dibanding dengan daerah lainnya.
Pengembangan kepariwisataan tidak hanya mampu meningkatkan pendapatan asli daerah
semata, yang lebih penting kepariwisataan di Kabupaten Pacitan mampu memberdayakan
masyarakat sendiri sehingga mereka merasa memiliki, melaksanakan, melestarikan, dan pada
akhirnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat melaui cara memberikan lapangan kerja
dan kesempatan berusaha.
Potensi Pariwisata di Kabupaten Pacitan meliputi Wisata Pantai, Wisata Goa, Wisata
Budaya/ Religius, Wisata Rekrekeasi, Wisata Industri. Potensi obyek wisata dikembangkan
melalui Program Pembangunan Kepariwisataan mencakup kegiatan peningkatan dan rehabilitasi
obyek wisata yang ada, peningkatan sarana dan prasarana ke lokasi obyek wisata, pengelolaan
obyek wisata berupa menggalang kerja sama dengan biro perjalanan dan perhotelan, penataan
manajerian perhotelan dan rumah makan serta kegiatan promosi.
Dari segi pendapatan, obyek wisata telah mampu menyumbangkan pendapatan daerah
yang cukup besar, ini terlihat pada tahun 1999/2000 mencapai Rp 420.686.150,-. Di banding
kontribusi ke kas daerah selama lima tahun terakhir rata-rata mengalami kenaikan sebesar 180,85
%. Sedang jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Pacitan tahun 1999/2000 mencapai
557.346 orang dimana 704 orang wiatawan manca negara. Dibanding tahun 1995/1996 dimana
jumlah wisatawan mencapai 89.601 orang, maka terjadi kenaikan yang sangat pesat selama lima
tahun diman rata-rata setiap tahun mencapai 104,41 %. Sedang kontribusi Pendapatan sektor
10

pariwisata setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup tinggi sebesar 15,87 %, ini
disebabkan adanya upaya pengembangan dan pembangunan obyek-obyek wisata andalan,
promosi yang efektif. Untuk realisasi pemasukan beberapa obyek wisata untuk tahun 2000
(bulan) mencapai Rp 48.418.880,-.
Tabel 7. Potensi Pariwisata Kabupaten Pacitan
NO.

JENIS WISATA

LOKASI

JARAK DARI
PUSAT KOTA
53 Km
20 Km
15 Km
5 Km
45 Km
50 Km
2,5 Km

1.

Wisata Pantai

- Pantai Klayar
- Pantai Srau
- Pantai Watu Karung
- Pantai Tamperan
- Pantai Taman
- Pantai Sidomulyo
- Pantai Teleng Ria

2.

Wisata Goa

- Goa Gong
- Goa Tabuhan
- Goa Putri
- Luweng Jaran

30 Km
31 Km
28 Km
33 Km

3.

Wisata Sejarah / Budaya

- Monumen Panglima Besar Jendral Soedirman


- Monumen Tumpak Rinjing

50 Km
9,5 Km

4.

Wisata Spiritual

- Makam Kanjeng Jimat

0,5 Km

- Padepokan Gunung Limo

20 Km

- Pemandian Air Hangat

15 Km

5.

Wisata Rekreasi

Obyek-obyek wisata di Kabupaten Pacitan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa


katagori antara lain:
1. Obyek wisata yang sudah dibangun dan telah memberikan kontribusi bagi pendapatan
masyarakat dan daerah antara lain: Pantai Teleng Ria, Pantai Tamperan, Goa Gong, Goa
Tabuhan, Pemandian air hangat dan Pantai Srau.
2. Obyek wisata yang mempunyai prospek yang baik perlu pengangan dan pembangunan
yang konseptual seperti Pantai Klayar, Pantai Watukarung, Pantai Srau, Pantai
Sidomulyo, Luweng Jaran dan Luweng Ombo serta kegiatan atraksi wisata seperti
Ceprotan, Tari Khetek Ogleng dan Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman.
3. Obyek wisata lainnya yang menjadi wahana pelengkap kepariwisataan baik itu Goa
dan Obyek wisata Sejarah dan sebagainya.
Dari pengklasifikasian tersebut maka dalam penugasan pembuatan peta potensi kawasan
Pacitan ini, kelompok kami mengambil potensi obyek wisata yang sudah dibangun.
11

N
o

Nama
Tempat

Koordinat
Lintang(-)
LS
Bujur(BT)

1114'43,42
08"

Pantai ini menghadap ke Pantai Selatan dengan


hamparan Pasir Putih sepanjang kurang lebih 3
Km. Jarak dari Ibukota Kabupaten ke lokasi wisata
hanya 3,5 Km, dan dapat dengan mudah dicapai
dengan berbagai jenis kendaraan. Berbagai sarana
yang telah dibangun antara lain adanya Gardu
Pandang untuk menikmati desiran ombak laut
selatan, Kolam Renang dan Arena Bermain Anakanak, Penginapan Serba Guna Bonggo Budoyo
dan Areal Perkemahan, arena Pemancingan, dan
makanan khas Pacitan. Selain itu pantai ini
digunakan juga untuk Tempat Pendaratan Ikan
(TPI) sehingga pengunjung dapat membeli ikan
segar.

1114'26,22
72"

Pantai ini adalah pantai yang


terletak pada sebelah pantai
Teleng Ria. Pantai yang digunakan
sebagai pelelangan perikanan
didirikan pada tahun 1977 oleh
Pemkab Pacitan.Daya Tarik
Pelabuhan Perikanan Pantai
Tamperan adalah suasana iklim
usaha yang kondusif, tidak ada
premanisme terhadap hasil
tangkapan ikan, lingkungan
pelabuhan yang bersih, terletak di
tepi samudera indonesia yang
sangat potensial dalam
penangkapan ikan tuna, cakalang
dan tongkol dan sangat layak
untuk dikembangkan sebagai
kawasan industri perikanan Tuna
Tongkol Cakalang (TTC) di Jawa
Timur

Pantai
Teleng
Ria
813'9,501
6"

Pantai
Tamperan

813'18,35
04"

2
Pantai
Srau
3
4

Pantai
Klayar

815'7"
813'25,99
68"

Deskripsi

11059'46"
11056'50,6
688"

12

Pantai Srau berada di wilayah kecamatan


Pringkuku Kabupaten Pacitan, yang jaraknya
kurang lebih 25 Km ke arah barat kota Pacitan
dapat dilalui dengan kendaraan umum dan pribadi.
Pantai yang berpasir putih ini sangat cocok untuk
kegiatan arena pancing samodra.
Pantai Klayar berada di wilayah kecamatan
Donorojo Kabupaten Pacitan, yang jaraknya kurang
lebih 35 Km ke arah barat kota Pacitan. Pantai
berpasir putih ini memiliki suatu keistimewaan yaitu
adanya seruling laut yang sesekali bersiul di antara
celah batu karang dan semburan ombak. Di
samping itu juga terdapat Air Mancur Alami yang
sangat Indah. Air mancur ini terjadi karena tekanan
ombak air laut yang menerpa tebing karang
berongga. Air muncrat yang dapat mencapai

Goa Gong

89'53,420
4"

11058'47,3
988"

87'32,818
8"

11059'0,08
88"

85'28"

1117'51"

814'21"S

11058'28"

815'15"

11116'9"

Goa
Tabuhan
6

Pemandia
n Air
Hangat
7

Pantai
Watu
Karung
8

Pantai
Sidomuly
o

13

ketinggian 10 meter menghasilkan gerimis dan


embun air laut yang diyakini berkhasiat sebagai
obat awet muda.
Goa dengan stalagtit dan stalagmit yang konon
terindah se Asia Tenggara mempunyai kedalaman
kurang lebih 256 m, selain itu mempunyai 5
sendang yaitu Sendang Jampi Rogo, Sendang
Panguripan, Sendang Relung Jiwo, sendang
Kamulyan, dan sendang Ralung Nisto yang kono
memiliki nilai magis untuk menyembuhkan penyakit.
Keindahan Stalagnit dan stalagmitnya sangat
memukau diabadikan dengan nama Selo Cengger
Bumi, Selo Gerbang Giri, Selo Citro Cipto Agung,
Selo Pakuan Bomo, Selo Adi Citro Buwono, Selo
Bantaran Angin dan Selo Susuh Angin. Goa ini
terletak 30 Km arah barat kotak Pacitan tepatnya
desa bomo kecamatan Punung dan dapat dengan
mudah dijangkau dengan segala jenis kendaraan.
Fasilitas yang tersedia adalah souvenir, rumah
makan, Tempat Parkir, MCK, Musholla.
Dinamakan Goa Tabuhan karena stalagtit dan
stalagmitnya pesinden atau waranggono. Dengan
keunikannya tersebut Goa ini telah dikenal luas,
hingga saat ini pun juga masih banyak dinikmati
wisatawan maupun seniman untuk ajang pentas
seni. Gua ini terletak di desa Wareng kecamatan
Punung kurang lebih 40 km dari pusat kota Pacitan
ke arah barat. Fasilitas yang ada seperti Musholla
dan souvenir (Aneka produk batu Mulia/Akik).
Mata air yang masih menyimpan berbagai khasiat
dan manfaat utamanya bagi kesehatan dan
kebugaran tubuh. Pemandian ini diberi nama Tirto
Husodo saat ini telah dibangun dua tempat
berendam, dua buah kolam renang dan tempat
Penginapan. Aksesibilitas ke obyek wisata ini relatif
mudah, dapat dicapai dengan kendaraan roda
empat dengan kondiri jalan baik, kurang lebih 15
Km dari Kota Pacitan, tepatnya di kecamatan
Arjosari.
Pantai Watu Karung adalah nirwana. Pesona
keindahan pantainya sangat luar biasa dengan
pulau-pulau karang, air laut biru kehijauan, pantai
bersih dengan pasir putih yang lembut, serta 2 surf
spots yang menawarkan barrel serta ombak kelas
dunia. Perjalanan menuju Pantai Watu Karung
(WK) tidaklah mudah. Tersembunyi di salah satu
titik sepanjang garis pantai selatan Pacitan (Jawa
Timur, Indonesia), Pantai Watu Karung bisa dicapai
dengan sepeda motor ataupun mobil sewaan
melalui jalan berkelok naik turun perbukitan.
Pantai Sidomulyo adalah salah satu destinasi
wisata di Pacitan. Pantai ini memiliki garis pantai
sepanjang 2 km yang dihiasi dengan hamparan
pasir putihnya. Pengunjung yang datang dapat
berenang, memancing, berjemur atau sekedar
duduk bersantai menikmati pemandangan.

Pantai Teleng
Ria

Pantai
Tamperan

14

Pantai Srau

Pantai Klayar

15

Goa Gong

Pantai Watu
Karung

16

Pantai
Mulyo

Sido

Goa Tabuhan

17

Pemandian
Air Hangat

Pertanian
Kabupaten Pacitan merupakan kabupaten yang kaya akan sumber daya alam. Sebagian
besar penduduknya bekerja pada sektor pertanian. Tahun 2011 produksi tanaman pertanian di
Kabupaten Pacitan ada yang mengalami kenaikan ada juga yang mengalami penurunan
dibandingkan tahun sebelumnya. Dari 59 jenis tanaman yang ada, sebanyak 52,54% mengalami
kenaikan jumlah produksi, sedangkan sisanya 47,46 persen mengalami penurunan jumlah
produksi.
Selain pertanian juga terdapat tanaman perkebunan. Tahun 2011 jumlah produksi
tanaman perkebunan fluktuaktif. Dari 20 jenis tanaman, sekitar 70% mengalami kenaikan jumlah
produksi di bandingkan tahun 2010, sisanya 30% mengalami penurunan jumlah peroduksi dari
sisi pendapatan petani perkebunan. Jumlah pendapatan petani perkebunan tahun 2011 mencapai
274.081 milyar rupiah atau mengalami kenaikan sebesar 13,88% dibandingkan tahun 2010. Bila
dibandingkan dengan tahun 2010, jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 24,97%.

PRODUKSI TANAMAN PADI SAWAH DAN LADANG


Production of Wetland and Dryland Paddy

TAHUN

LUAS TANAM

LUAS PANEN

PRODUKTIFITAS

Produksi

Year

Planted Areas

Harvested Areas

Produktifity

Production

18

(Ha)

(Ha)

(Kw/Ha)

(Ton)

2011

36.584

33.966

50.13

170.257

2010

37.416

33.777

49.42

166.922

2009

34.884

32.512

47.31

153.814

2008

35.528

32.929

44.97

148.078

PRODUKSI TANAMAN JAGUNG


Production of Maize Trees

TAHUN

LUAS TANAM

LUAS PANEN

PRODUKTIFITAS

Produksi

Year

Planted Areas

Harvested Areas

Produktifity

Production

(Ha)

(Ha)

(Kw/Ha)

(Ton)

2011

21.988

21.339

50.35

107.449

2010

25.098

24.272

50.92

123.595

2009

25.685

25.588

47.29

121.015

2008

24.651

23.998

45.65

109.542

19

20

Pertambangan
Sektor pertambangan juga mempunyai prospek yang cukup menjanjikan dalam upaya
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah ({PAD), peningkatan kesempatan berusaha dan
penyerapan tenaga kerja.
Berdasarkan kondisi dasar, topografi, struktur dan jenis batuan yang 85 % merupakan
bagian seluruh wilayah Kabupaten Pacitan, ternyata di dalamnya banyak mengandung bahan
tambang yang melimpah. Adapun bahan tambang yang ada dengan klasifikasi golongan A,
golongan B dan golongan C yang sampai saat ini pengelolaannya masih dirasakan belum optimal
karena terbatasnya sarana dan prasarana pertambangan sehingga belum banyak memberikan
kontribusi kepada peningkatan pendapatan masyarakat yang akhirnya peningkatan pendapatan
daerah.
Berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan oleh Dinas Pertambangan Propinsi Jawa
Timur menunjukkan adanya sebaran, luas aresal, besarnya cadangan serta kualitas bahan galian
yang ada di Kabupaten Pacitan sejumlah 33 jenis bahan tambang (http://pacitankab.go.id).
1. Bentonit Deskripsi: berupa tanah liat yang dapat mengembang bila
menyerap air.
- Bahan tambang ini sudah diusahakan sejak tahun 1987 oleh PT. Indobent
Wijaya Mineral di Kecamatan Punung
- luas area : 21.000.000 m ;
- Areal yang dieksploitasi 55,518 Ha;
- SIPD : 7 buah;
- Kegunaan: bahan keramik halus penjernih minyak kelapa dan kelapa
sawit, pemboran minyak, gas dan panas bumi, industri pengecoran
logam, pengelolaan limbah, pemboran air bersih.
2. Feldspar
- Diskripsi: merupakan jenis mineral berbentuk kristal, terutama Kalium,
Aluminosilika, Sodium dan Kalsimum yang dibentuk oleh dua
lempengan menyerupai bentuk sudut.
- Umumnya berwarna abu-abu muda, kuning kecoklatan.
- Bahan tambang ini sudah dieksplorasi oleh beberapa perusahaan dengan
berbagai jenis seperti keramik dinding, lantai, kebun maupun kebutuhan
rumah tangga lain seperti vas bunga, tempat lilin, lamoou dan pigura
foto yang telah menembus luar negeri melalui bali.
21

- Luas areal kandungan = 950 Ha/46 juta m ;


- Areal yang dieksploitasi = 18,3818 Ha;
- PID = 6 buah;
- Kegunaan: industri keramik, porsilin, isolasi listrik, cat, gelas flux dan
karet;

3. Kalsit
- Deskripsi: Batu kalsit lebih dikenal dengan Batu Bintang. Unsur utama
marmer dan zat kapur: CaCO3 dengan warna putih ke kuning-kuningan
serta memancarkan cahaya.
- Luas areal = 443.700 m;
- Areal yang dieksploitasi = 18 Ha;
- PID = 6 buah;
- Kegunaan: bahan gelas/kaca, Kosmetik dan pasta;
4. Piropilit
- Deskripsi: Mineral berwarna hijau, berbentuk foliat dan butiran granula
berdasarkan hsil penelitian oleh PT. Sucofindo Jakarta tahun 1990
komposisi Piropilit Kabupaten Pacitan terdiri dari:
- Ca O = 0,12 % - Ai2 O3 = 17,17 %
- Mg O = 0,08 % - Fe2 O3 = 0,15 %
- Si O2 = 73,44 % - Ti O2 = 0,76 %
- K2 O = 0,86 % - Na2 O = 0,42 %
- Areal siap dieksplorasi = 37 Ha
- IPD = 4 buah
- Kegunaan: sebagai bahan baku industri keramik dan porselin.

22

Dewasa ini piropilit diusahakan hanya berskala kecil dengan


produksi rata-rata 25-50 m perhari dan dikirim ke industri keramik di
Jakarta, Cirebon, Surabaya, Semarang dan Tulung Agung.

5. Marmer
Deskripsi: meruupakan jenis batuan dengan warna abu-abu, kuning
kecoklatan dan kemerahan diusahakan masih sebatas tradisional.
- Luas areal = 300 Ha. ( 77juta m )
- Areal yang dieksploitasi = 47 Ha
- SIPD = 3 buah
- Eksploitasi = masih dilakukan masyarakat secara tradisional.
- Kegunaan: Batuan hias, Ornamen, Ubin, mebel dan bahan bangunan
lainnya.
6. Zeolit
Deskripsi: Komposisi
- Ca O = 2,07 %

-Ti O2 = 1,40 %

- Ai2 O3 = 13,43 %

- K2 O = 1,18 %

- Mg O =1,67 %

- Na2 O = 0,80 %

- Fe2 O3 = 1,75 %

- O = 0,80 %

- Si O2 = 6,49 %
11,292 Ha

- Areal yang dieksploitasi =

- Luas Areal = 59.100 Ha

- SIPD = 1 buah

Kegunaan: sebagai bahan pembersih/ penyerap zat cair dan udara, campuran
makan ternak.
23

7. Batuan Beku
Deskripsi: Yang termasuk dalam jenis batuan beku antara lain Batu Desit,
Basalt dan Andesit dan banyak terdapat di Nawangan, Pacitan, Ngadirojo dan
Tulakan.
- Luas areal = 10 juta m
- Luas eksploitasi = 1 buah
Kegunaan: Untuk keperluan bahan bangunan (pondasi Jalan dan lain-lain) dan
diusahakan secara Tradisional. Sedang untuk batuan beku yang berbentuk
bongkahan-bongkahan besar saat ini sudah diusahakan oleh perusahaan untuk
Tegel dan Keramik, Tempat lilin dan lampu.

8. Ball Clay
Bahan Galian Ball Clay disebut juga Tanah Liat Plastis . Ciri khas dari
bahan galian ini adalah warna abu-abu, kemerahan, berbutir sangat halus dan
mempunyai kekenyalan yang tinggi sehingga apaabila kena panas bentuk dan
warna tidak berubah.
Eksploitasi masih dilakukan oleh penduduk secara tradisional.
Kegunaan: industri keramik halus dan porselin dan kerajinan (Gerabah halus).
9. Sirtu
Deskripsi: terdiri dari pasir, kerikil, kerakal yang merupakan material lepas
sebagai hasil pelapukan, erosi dan pengendapan batuan yang berasal dari
sekitarnya.
- Luas areal tidak terbatas, sepanjang aliran sungai grindulu, barak, brongkah,
sundeng, tani, tumpuk,guyangan dan Ngrato. Areal dieksoloitsi berdasarkan
SIPD, sampai saat ii terdapat 46 penambang yang mencapai 48,93 Ha
dengan jumlah produksi: 20.688 ton. Kegunaan: untuk bahan pembangunan
jalan dan campuran beton.
10. Batu Gamping
Deskripsi: komposisi batu gamping yang ada di Kabupaten Pacitan terdiri
dari:
- Ca O = 52,93 54 %

- Hp = 43,35 %
24

- Fe 2 O3 = 0,04 %

- Ai2 O3 = 0,75 %

- H2 O3 = 1,75 %

- Mg O = -

- Si O2 = 0,97 %

- Luas areal = sangat luas

Eksploitasi = saat ini banyak dilakukan oleh masyarakat setempat secara


tradisional sebagai bahan bangunan ( pondasi dan campuran semen
bangunan) itupun untuk konsumsi lokal.
Kegunaan lain: bahan pembuatan gelas, pertanian, industri gula Filter cat,
kaporit dan industri plastik.
11. Emas
Biji emas dijumpai bersama-sama di lingkungan biji Base Metal di Desa
Pagerejo Kecamatan Ngadirojo dan Desa Kebonsari Kecamatan Punung.
- Luas areal = Cukup luas (belum diketahui secara pasti dan perlu penelitian
detail).
- Areal yang dieksploitasi :
Saat ini untuk lokasi di Kecamatan Punung sudah dilaksanakan/ditambang
secara terhimpun dakam kelompok-kelompok sebayak 12 pengusaha
dikoordinasikan oleh KUD Punung.
Kegunaan: Bahan perhiasan
Kelautan dan Perikanan

Kabupeten Pacitan memiliki potensi perikanan laut yang baik. Tahun 2011. Jumlah
produksi perikanan darat hanya 9,91 % saja dari seluruh produksi perikanan Kabupaten Pacitan,
sisanya berasal dari produksi ikan laut yang mencapai 90,09 %. Jumlah produksi perikanan darat
sedikit mengalami kenaikan. Dari sisi jumlah produksi mengalami kenaikan, dari sisi penjualan
mengalami penurunan sebesar 64,03% menjadi 7,19 milyar rupiah.
Untuk perikanan laut, jumlah produksi dan nilai penjualannya mengalami peningkatan
dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah produksi mengalami kenaikan sebesar 24,93% menjadi
6.317.608 kg dan nilai penjualan mengalami penurunan sebesar 6,16 % menjadi Rp
52.198.909.000 milyar rupiah.
25

POTENSI KELAUTAN DAN PERIKANAN


1. Luas wilayah laut kabupaten
: 523,82 km2
2. Panjang garis pantai
: 70,709 km
3. Jumlah kecamatan pesisir
: 7
kecamatan
4. Jumlah desa/kelurahan pesisir
: 26
desa/kelurahan
5. Jumlah nelayan
: 3.746 orang
6. Jumlah armada penangkapan ikan
: 1.015 unit
7. Jumlah alat tangkap
: 12.371 unit
8. Jenis ikan komoditas unggulan
: Tuna, Layur, Lobster, Cakalang, Tengiri, Dorang
9. Jumlah produksi tangkap
: 3.114 ton
10. Potensi ekosistem wilayah pesisir :
Terumbu karang
: 11,51 ha
Padang lamun
: 2
ha
Mangrove
: 8
ha
Rumput laut alami
: 6,5 ha
11. Potensi Perairan Darat
Kolam
: 29,17 ha
Perairan Umum
Telaga
: 32,26 ha
Sungai
: 246,09 ha
- Cekdam
: 11,7 ha
Perdagangan dan Perindustrian
Jumlah Industri yang ada di Kabupaten Pacitan tahun 2011 baik Industri besar. Industri
sedang dan Industri kecil adalah 10.192 unit Industri di Kabupaten Pacitan sudah mulai
mengalami perkembangan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jenis industri kecil yang
paling banyak adalah industri kecil yaitu sebesar 99,86%, industri besar sebesar 0,04%
sedangkan sisanya adalah industri sedang yang hanya 0,10%. Bila dilihat menurut status dari
industri kecil dan Kerajinan, sebesar 97,76% adalah Industri kecil dan non formal, sedangkan
sisanya 2,24% yang mampu menyerap tenaga kerja sebesar 23.434 orang yang mampu menyerap
tenaga kerja 1.850 orang dengan 287 tenaga kerja.
Sektor industri mempunyai peranan strategi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,
meningkatnya produktifitas, masyarakat, menciptakan langpangan usaha, memperluas lapangan
kerja seta meningkatnya pendapatan masyarakat. Kegiatan sektor industri ki Kabupaten Pacitan
masih tergolong skala menengah dan kecil, khusus industri kecil yang merupakan industri rumah
tangga dan dilakukan oleh kelompok masyarakat serta merupakan kegiatan sampingan. Kegiatan
26

ini berbasis di pedesaan. Dalam perkembangannya sektor ini mulai berorientasi pada kegiatan
ekspor baik tingkat regional, nasional maupun Internasional.Beberapa komoditi industri kecil
tersebut anatar alain Anyaman Bambu, Mainan Anak (toys), Batu Mulia, Gerabah Seni, Batik
Tulis telah mampu menembus pasar ekspor.
1.

Batu Aji/ Batu Mulia

berbagai jenis bahan baku akik seperti jasper, Fosil Kayu, Kalsedon dan Pasir Kwarsa
banyak dijumpai di sekitar sentra industri kecil batu mulia/akik. Industri kecil batu mulia
tidak hanya merupakan kegiatan rumah tangga saja, melainkan sudah menjadi sumber
mata pencaharian masyarakat di beberapa desa Kecamatan Donorojo dan sekitarnya. Unit
Bina industri Batu Mulia (UBIBAM) merupakan bapak angkat beberapa industri kecil
batu akik yang dibina oleh badan usaha milik negara Pt. Pupuk Pusri Palembang: dimana
dalam perkembangannya industri kedil ini telah mencapai sekitar 72 buah unit usaha dan
telah mampu meningkatkan pendapatan masyarakat pengrajin itu sendiri
Jenis produksi: mencapai 37.500 biji setiap bulan, berupa mata cincin, anting, liontin,
aksesoris, pakaian, tasbih, kalung, miniatur, buah-buahan, arca dan hiasan Pemasaran:
Surabaya, Solo, Yogyakarta, Sukabumi, Jakarta dan Saudi Arabia.
2.

Mainan Anak (toys)

berbagai jenis mainan anak dan keperluan assesori rumah tangga terbuat dari kayu Jati,
Sono keling dan Pohon kelapa 9tu) dengan dimodifikadi model dan sentuhan seni, hasil
tosys sangant artistik. Produksi ini dapat dijumpai di Jl Pacitan-Solo tepatnya Desa
Punung Kecamatan Punung. Jenis produksi: berbagai jenis dan model mobil-mobilan,
assesoris dan perabot rumah tangga, keris dan jam dinding. Daerah Pemasaran: Solo,
Surabaya, jakarta( Sarinah departemen store).
3.

Keramik/gerabah seni

gerabah seni terbuat dari tanah liat Plastis (Ball clay), dimana bahan galian ini
mempunyai spesifikasi daya kenyal tinggi, warna abu-abu, kemerahan dan butir sangat
halus sehingga dalam proses pemanasan tidak terjadi perubahan warna dan bentuk jenis
tanah ini terdapat di Desa Ploso Kecamatan Punung. Berbagai produksi ini telah
menyentuh berbagai lapisan masyarakat dan mendukung kegiatan kepariwisataan, Jenis
Produksi: Tempat bunga, tempat lampu, aneka mainan, Daerah pemasaran: Surabaya,
Jakarta, Bali dan Taiwan
4.

Batik Tulis

Batik tulis khas pacitan tergolong jenis klasik seperti Motif Sidomulyo, sekar jagat,
Semen Romodan kembang-kembang. Kegiatan ini banyak dilakukan sebagai kegiatan
sampingan di Kecamatan Pacitan dan Ngadirojo, Jenis: Kain Panjang, Sarung, Baju,
Selendang, Ikat Kepala, Taplak Meja dan lain-lain, Daerah pemasaran: Surabaya, Jakarta,
Solo, Tanjung Pinang, Singapura dan Yogyakarta
27

5.

Anyaman Bambu/ Rotan

Bahan Baku bambu cukup banyak terdapat di sekitar sentra industri ini, sehingga cukup
mendukung kegiatan industri rakyat setyta adanya tenaga trampil dan murah. Beberapa
jenis produksi seperti tempat koran/majalah, meja kursi, menyekat ruangan, kipas
keranjang dan lain-lain. Daerah pemasaran: disamping untuk keperluan domestik, produk
industri kecil dipasarkan ke yogyakarta, jakarta serta diekspor ke luar negeri melalui
perantara eksportir C.V. Mande Handicraft Jakarta.
6.

Terasi

Terasi merupakan komponen masakan Indonesia yang sangat digemari, terbuat dari
campuran ikan-ikan kecil dan udang. Meningkatnya penangkapan ikan berarti ikut
mendukung laju pertumbuhan industri kecil terasi di Pacitan. Daerah pemasaran:
Pasuruan, Sidoarjo, dan Surabaya.
* Pengusaha di sektor Industri Kecil
1. Pengusaha Batu Aji/Batu Mulia
a) Perusahaan : UBIBAM SRIPATI
Alamat : Sukodono, Kec. donorojo
Pemilik : Makful
b) Perusahaan : TIMBUL
Alamat : Sukodono, Kec. donorojo
Pemilik : Paiman
c) Perusahaan : SIDOMULYO
Alamat : Gendaraan, Kec. Donorojo
Pemilik : Mulyadi
d) Perusahaan : ABDI SELO
Alamat : Sukodono, Kec. donorojo
Pemilik : Parto Wiyono
e) Perusahaan : SIDO DADI
28

Alamat : Sukodono, Kec. donorojo


Pemilik : Teguh

2. Perusahaan Batik
a) Perusahaan : SRIKANDI
Alamat : Arjowinangun, kec. Pacitan
Pemilik : Sukardi
b) Perusahaan : SRI UTOMO
Alamat : Mentoro, Kec. Pacitan
Pemilik : Nanik
c) Perusahaan : KONDANG BUSONO
Alamat : Wiyoro, Kec. Ngadirojo
Pemilik : Ny. Gunawan

3. Keramik/gerabah
a) Perusahaan : HANTARIKSA
Alamat : Kel. Ploso, Kec. Punung
Pemilik : Sularno
b) Perusahaan : ESTI KERAMIK
Alamat : Ploso, Kec. Pacitan
Pemilik : Sukirno

29

4. Anyaman bambu
a) Perusahaan : UD. MEKAR SARI
Alamat : Mujing Kec. Nawangan
Pemilik : Mispani

30

2.6 Sistem Informasi Geografi


Sistem Informasi Geografis (bahasa Inggris: Geographic Information System disingkat
GIS) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial
(bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang
memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan
informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam
sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang

membangun dan

mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini. Teknologi Sistem Informasi
Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan
pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana
untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG
dapat digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari
polusi.Sejarah pengembangan35000 tahun yang lalu, di dinding gua Lascaux, Perancis, para
pemburu Cro-Magnon menggambar hewan mangsa mereka, juga garis yang dipercaya
sebagai rute migrasi hewan-hewan tersebut. Catatan awal ini sejalan dengan dua elemen
struktur pada sistem informasi gegrafis modern sekarang ini, arsip grafis yang terhubung ke
database atribut. Pada tahun 1700-an teknik survey modern untuk pemetaan topografis
diterapkan, termasuk juga versi awal pemetaan tematis, misalnya untuk keilmuan atau data
sensus. Awal abad ke-20 memperlihatkan pengembangan "litografi foto" dimana peta
dipisahkan menjadi beberapa lapisan (layer).
Perkembangan perangkat keras komputer yang dipacu oleh penelitian senjata nuklir
membawa aplikasi pemetaan menjadi multifungsi pada awal tahun 1960-an. Tahun 1967
merupakan awal pengembangan SIG yang bisa diterapkan di Ottawa, Ontario oleh
Departemen Energi, Pertambangan dan Sumber Daya. Dikembangkan oleh Roger Tomlinson,
yang kemudian disebut CGIS (Canadian GIS ), digunakan untuk menyimpan, menganalisis
dan mengolah data yang dikumpulkan untuk Inventarisasi Tanah Kanada (CLI - Canadian
land Inventory) - sebuah inisiatif untuk mengetahui kemampuan lahan di wilayah pedesaan
Kanada dengan memetakaan berbagai informasi pada tanah, pertanian, pariwisata, alam
bebas, unggas dan penggunaan tanah pada skala 1:250000. Faktor pemeringkatan klasifikasi
juga diterapkan untuk keperluan analisis.CGIS merupakan sistem pertama di dunia dan hasil
dari perbaikan aplikasi pemetaan yang memiliki kemampuan timpang susun (overlay),
31

penghitungan, pendijitalan/pemindaian (digitizing/scanning), mendukung sistem koordinat


national yang membentang di atas benua Amerika , memasukkan garis sebagai arc yang
memiliki topologi dan menyimpan atribut dan informasi lokasional pada berkas terpisah.
Pengembangya, seorang geografer bernama Roger Tomlinson kemudian disebut "Bapak SIG".
CGIS bertahan sampai tahun 1970-an dan memakan waktu lama untuk penyempurnaan
setelah pengembangan awal, dan tidak bisa bersaing dengan aplikasi pemetaan komersil yang
dikeluarkan beberapa vendor seperti Intergraph. Perkembangan perangkat keras mikro
komputer memacu vendor lain seperti ESRI dan CARIS berhasil membuat banyak fitur SIG,
menggabung pendekatan generasi pertama pada pemisahan informasi spasial dan atributnya,
dengan pendekatan generasi kedua pada organisasi data atribut menjadi struktur database.
Perkembangan industri pada tahun 1980-an dan 1990-an memacu lagi pertumbuhan SIG pada
workstation UNIX dan komputer pribadi.
Pada akhir abad ke-20, pertumbuhan yang cepat di berbagai sistem dikonsolidasikan dan
distandarisasikan menjadi platform lebih sedikit, dan para pengguna mulai mengekspor
menampilkan data SIG lewat internet, yang membutuhkan standar pada format data dan
transfer. Indonesia sudah mengadopsi sistem ini sejak Pelita ke-2 ketika LIPI mengundang
UNESCO dalam menyusun "Kebijakan dan Program Pembangunan Lima Tahun Tahap
Kedua (1974-1979)" dalam pembangunan ilmu pengetahuan, teknologi dan riset.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_informasi_geografis).

2.7 Transformasi dan Proyeksi Peta


Transformasi koordinat digunakan untuk merelasikan sistem koordinat tanah dengan peta
atau

layer

data

atau

untuk

meng-adjust suatu

layer

data

sedemikian

rupa

sehingga layer tersebut dapat di-overlay-kan secara tapat di atas layer yang lain. Prosedur
yang digunakan untuk mengaplikasikan koreksi ini disebut dengan istilah registrasi atau
beberapa layer yang berbeda diregistrasikan terhadap sistem koordinat bersama atau terhadap
salah satu layer yang dianggap sebagai peta dasar (standard). Layer yang mencakup area
yang sama harus diregistrasi sedemikian rupa sehingga setiap lokasi yang terdapat di
32

dalam overlay memiliki koordinat (peta) yang sama. Di bidang pengolahan citra dan
penginderaan jauh, sering kali, proses registrasi terhadap suatu citra dilakukan dengan
bantuan citra lain (citra referensi) yang telah memiliki koordinat bumi (atau koordinatnya
telah dianggap benar) registrasi citra.
Proyeksi Peta adalah prosedur matematis yang memungkinkan hasil pengukuran yang
dilakukan di permukaan bumi fisis bisa digambarkan diatas bidang datar (peta). Karena
permukaan bumi fisis tidak teratur maka akan sulit untuk melakukan perhitunganperhitungan langsung dari pengukuran. Untuk itu diperlukan pendekatan secara matematis
(model) dari bumi fisis tersebut. Model matematis bumi yang digunakan adalah ellipsoid
putaran dengan besaran-besaran tertentu. Maka secara matematis proyeksi peta dilakukan
dari permukaan ellipsoid putaran ke permukaan bidang datar (Mutiara, 2004).

Gambar 2 : Proyeksi peta dari permukaan bumi ke bidang datar

33

Gambar 3: Koordinat Geografis dan Koordinat Proyeksi

Proyeksi dapat dibagi menurut kriteria :


1. Sifat

Konform (bentuk sama)


Equivalent (luas sama)

Equidistant (jarak sama)

2. Bidang :

Azimuthal (bidang datar)


Kerucut (bidang kerucut)

Silinder (bidang silinder)

3. Kedudukan Bidang Proyeksi :

Normal ( tegak )
Transversal ( melintang )

Oblique ( miring )

Karena Sistim Informasi Geografi (GIS) merupakan metoda sajian terpadu, maka semua data
masukan spasial maupun tabular harus berupa data terpadu. Artinya, kesatuan Sistim
Koordinat untuk data spasial, kesatuan untuk data tabular, kesatuan dalam me-manage data
untuk sasaran informasi tersebut agar dapat dimanfaatkan secara maksimal. Fungsi Sistim
Proyeksi dan transformasi sangat memegang peranan sangat penting.
Hal lain yang perlu diingat bahwa konsep GIS memanfaatkan pula jaringan data antar Pusat
dengan Daerah, antar Instansi yang bersifat Nasional , yang sangat berguna untuk analisis
terhadap suatu dampak dari perubahan data yang masuk dalam cakupan yang lebih luas. Jadi
kesatuan dalam Sistim Koordinat adalah mutlak dalam konsep GIS (ugm.ac.id).
2.8 Digitasi dan Konversi Data
34

Digitasi adalah proses untuk mengubah informasi grafis yang tersedia dalam bentuk
analog ke format digital). Cara yang paling umum digunakan untuk memasukkan data dari
mdia kertas ke digital adalah dengan menggunakan alat digitizer dan scanner. Alat digitizer
mengubah ke format digital langsung dalam bentuk vector sedangkan scanner dalam bentuk
raster.

Digitasi Langsung
Melakukan proses digitasi atau proses penggambaran ulang secara langsung di atas
peta kertas. Digitasi langsung dilakukan dengan menggunakan alat digitizer. Pada
proses digitasi ini, gambar dari peta garis analog (di atas media kertas) dipindahkan ke
media perekam disket dalam format digital.

Digitasi Tak Langsung


Proses penggambaran ulang dari peta garis/analog menjadi peta digital dengan bantuan
alat pemindai (scanner). Setelah discanner, peta baru digambar ulang dengan komputer
menggunakan software AutoCAD Map3D. Pada digitasi tidak langsung ini, diperlukan
beberapa alat sebagai pendukung didalam proses digitasi yang akan dilakukan, yakni :
a.

Scanner : Untuk menyecan peta sebelum didigit dengan komputer.

b.

Satu unit PC (personal computer) atau laptop dengan spesifikasi yang mampu
digunakan dalam proses digitasi Pemindai (Scanner) dan Printer.

c.

Plotter : Alat untuk menterjemahkan serta mentransformasikan data gambar digital


menjadi gerakan mekanik pada bidang (diatas media analog kertas atau kalkir).

Konversi data adalah suatu kegiatan memindahkan data dari sistem yang lama ke sistem
yang baru melalui serangkai proses yang valid. Sekilas dapat di gambarkan berdasarkan
urutannya yakni dari mulai:
Pengumpulan

dataPembersihan

DataPersiapan

DataPemeriksaan

Data

Pra

Pemasukan DataPemasukkan DataPemeriksaan Data Pasca Pemasukan Data.


Rangkaian di atas merupakan bagian dari implementsi sistem konversi data yang biasa
dilakukan pada suatu unit organisasi atau pada setiap proyek implementasi sistem ERP
35

(Enterprise Resource Planning). Adapun istilah-istilah Umum yang biasa muncul pada
konversi data antara lain:
1.

Data Element/Group-Penentu identitas sistem atas data (kelompok) atau data


elemen di dalam suatu sistem baru.

2.

Name-Nama deskriptif dari data kelompok atau data elemn di dalam sistem baru.

3.

Source Database-Database atau file yang sudah ada dimana elemen data yang
teridentifikasi pada nomor 2 diatas tercantum.

4.

Soruce Segment-Segmen atas sumber database di mana elemnt data saat ini
berada.

5.

Soruce Element-Nama elemen di dalam segmen sumber. Field ini harus diusahkan
tetap kosong jika nama sumber data sama dengan data yang dituju.

6.

Other-Sumber alternatif atas tujuan elemen data jika tidak tersedia di dalam
database atau file sistem yang telah ada.

7.

Validation Rule-aturan-aturan yang dapat diterapkan untuk melakukan pengecekan


atas nilai sesungguhnya dari elemen data sebelum dikonversi ke sistem baru.

8.

Processing Rule-Aturan-aturan untuk melakukan kalkulasi atas nilai tertentu


terhadap elemen data terbaru. Aturan ini khusus untuk memperoleh nilai yang
layak atas elemen data bila transkripsi sederhana atas data yang ada tidak cukup.

Aktifitas konversi data ini dapat dilakukan oleh analis, administrator database ataupun
administrator data. Jika memasukkan data pada aplikasi baru sebaiknya menggunakan data
dari aplikasi lama atau diciptakan dari sumber-sumber lain bila aplikasi baru menggantikan
aplikasi yang ada. Tujuan akhir yang di dapat sudah barang tentu adalah kesinambungan
data dan pengembangan data yang lebih akurat, valid dan kontinyu (thesis.binus.ac.id).
2.9 Perangkat Lunak ArcGIS
SIG merupakan sistem berbasis komputer yang didesain untuk mengumpulkan,
mengelola, memanipulasi, dan menampilkan data spasial (keruangan) berupa informasi yang
mempunyai hubungan geometrik dalam arti bahwa informasi tersebut dapat diukur, dihitung,
dan disajikan dalam sistem koordinat, dengan data berupa data digital yang terdiri dari data
posisi (data spasial) dan data semantiknya (data atribut).
36

Perangkat lunak ArcGIS merupakan perangkat lunak SIG yang baru dari ESRI, yang
memungkinkan kita memanfaatkan data dari berbagai format data. Dengan ArcGIS kita
memanfaatkan fungsi desktop maupun jaringan. Dengan ArcGIS kita bisa memakai fungsi
pada level ArcView, ArcEditor, Arc/Info dengan fasilitas ArcMap, ArcCatalog dan Toolbox.
Materi yang disajikan adalah konsep SIG, pengetahuan peta, pengenalan dan pengoperasian
ArcGIS, input data dan manajemen data spasial, pengoperasian Arc Catalog, komposisi/ tata
letak peta dengan ArcMap.

37

BAB III
METODOLOGI DAN PELAKSANAAN

3.1 Alat dan Bahan


Peta RBI Wilayah Kabupaten Pacitan
Data Sekunder dan Tabular Kabupaten Pacitan
Autocad Land Desktop 2013
ArcGIS 10
Laptop
Charger
3.2 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktikum St Pesisir ini dilakasanakan pada dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal

: Minggu-Senin (10-18 Nopember 2013)

Pukul

: 18.00 06.00 BBWI

Tempat

: Jurusan Teknik Geomatika

3.3 Diagram Alir

38

Gambar 3.1 Diagram Alir Pelaksanaan

3.4 Langkah-langkah Pelaksanaan


3.4.1 Pengumpulan Data

39

Data yang dibutuhkan adalah berupa data vektor dan data tabular. Data vektor berasal dari
peta RBI Kabupaten Pacitan yang kemudian dilakukan proses digitasi dengan menggunakan
software. Sedangkan data tabular didapatkan dari berbagai sumber seperti web Kabupaten
Pacitan, jurnal penelitian, instansi terkait yang berhubungan dengan pengembangan potensi
pesisir. Data ini berupa data statistika (ekonomi, kependudukan, dan lain-lain), jenis potensi dan
dokumentasi, serta deskripsi singkat mengenai potensi pesisir yang ada.

3.4.2 Pengolahan Data


Langkah pertama dalam pengolahan data adalah menggunakan software AutoCAD sebagai
berikut :
1. Untuk mendapatkan data vektor berupa point, line, dan polygon dari suatu peta. Lakukan
rubber sheet pada peta RBI yang telah diinput ke AutoCAD dengan memasukkan koordinat
yang terdapat di pojok masing-masing peta RBI Pacitan.

Gambar 3.2 Ikon Rubber Sheet pada AutoCAD 2013

2. Digitasi informasi yang ada di peta (batas administrasi, jalan, sungai, dan lokasi potensi
pesisir Pantai Pacitan). Gunakan jenis format data vektor seperti point, line, dan polygon.

Gambar 3.3 Hasil Digitasi

40

3. Setelah melakukan proses digitasi, simpan file dengan memilih Save.

Gambar 3.4 Tahapan Penyimpanan

4. Untuk mengolah data yang ada menjadi suatu sistem informasi, maka layer hasil digitasi
yang terdapat pada AutoCAD kemudian diubah kedalam format shapefile (.shp) dengan
memilih Export > Other GIS Formats.

Gambar 3.5 Mengubah Format Data Menjadi Shapefile (.shp)

5. Maka akan muncul kotak dialog Export Location, ketik nama file dan klik OK

41

Gambar 3.6 Kotak Dialog Export Location

6. Pada kotak dialog Export, pilih tipe objek sesuai dengan layer yang dimasukkan di Object
Type.

Gambar 3.7 Kotak Dialog Export

7. Kemudian pada kotak Layers dan muncul kotak dialog Select Layers, masukkan layer yang
akan diubah.

Gambar 3.8 Pemilihan Layer pada Kotak Dialog Select Layers

8. Pilih Select dan OK, maka secara otomatis file akan tersimpan sesuai pada folder
penyimpanan

42

Langkah selanjutnya adalah langkah pengolahan data dan atribut pada software ArcGIS 10.0
seperti berikut ini :
1. Buka Software ArcGIS 10.0
2. Masukkan data dalam format .shp yang dibutuhkan dengan klik ikon Add Data

Sehingga muncul kotak dialog Add Data seperti gambar dibawah ini, lalu klik Add

Gambar 3.9 Kotak Dialog Add Data

3. Layer yang dimasukkan akan muncul pada Table Of Contents dan tampil pada layar
utama ArcGIS

Gambar 3.10 Tampilan Table Of Contents dan Hasil Add Data

4. Data atribut dapat ditambahkan atau diedit dengan klik kanan pada layer > Open
Attribute > Add Field

43

Gambar 3.11 Langkah dalam Penambahan Field pada Tabel

5. Apabila atribut telah terinput dan lengkap, langkah selanjutnya adalah pembuatan
peta serta desain sesuai standar.

BAB IV
HASIL DAN ANALISA
4.1 Hasil
4.1.1 Peta dan Poster

4.2 Analisa
4.2.1 Kelebihan dan Peluang Kabupaten Pacitan
4.2.1.1 Pariwisata
Daerah Kabupaten Pacitan terdapat obyek wisata yang sangat berpotensi untuk
dikembangkan, sebagai contoh Obyek Wisata Pantai Klayar. Potensi yang ada di
Obyek Wisata Pantai Klayar berupa pesona wisata alam pantai yang masih alami
dengan bibir pantai yang sangat panjang dan berpasir putih, serta adanya seruling laut
44

yang sesekali bersiul diantara batuan karang. Obyek wisata Pantai Klayar terletak di
kecamatan Donorejo, kabupaten Pacitan. Untuk menuju ke Pantai Klayar jalan yang
dilalui berliku-liku, jalan yang naik turun, dan dihiasi pemandangan yang begitu
indah, meliputi deretan bukit-bukit yang menjulang menantang langit, gua-gua kecil
yang dari sisi pinggir jalan akan terlihat stalaktit dan stalakmit. jadi wisatawan yang
menuju ke Pantai Klayar tidak akan merasa lelah dan bosan.
Bukan hanya pantai Klayar saja yang jalur jalannya berliku-liku. Karena Pacitan
memiliki bentuk morfologi perbukitan, bahkan merupakan wilayah terluas mencakup
80% luas daerah perbukitannya. Satuan morfologi ini menempati daerah dengan
kemiringan terjal, dengan bukit-bukit dan gunung-gunung kecil menjulang hingga
800 meter di atas muka air laut. Maka untuk akses jalan menuju ke objek wisata
pantai di Pacitan harus melewati kawasan jalan berliku. Hal ini menjadi salah satu
peluang dan ancaman tersendiri bagi Pacitan dalam pengembangan pariwisatanya.
4.2.1.2 Pertambangan
Berdasarkan kondisi dasar, topografi, struktur dan jenis batuan yang 85 %
merupakan bagian seluruh wilayah Kabupaten Pacitan, ternyata di dalamnya banyak
mengandung bahan tambang yang melimpah. Adapun bahan tambang yang ada
dengan klasifikasi golongan A, golongan B dan golongan C. Sumber daya alam ini
bisa menjadi pendapatan daerah yang sangat besar sekali bagi Pacitan jika proses
manajemen yang dilakukan oleh pemerintah daerah maksimal. Kekayaan kandungan
bumi di kabupaten ini bisa menjadi pendapatan utama daerah administrasinya.
4.2.1.3 Bentang Alam
Bentang alam yang dimiliki kota Pacitan berdasarkan hasil kajian para ilmuwan
beberapa penelitian sebelumnya menjelaskan Kabupaten Pacitan merupakan kota
pantai selatan dan mempunyai lokasi yang sangat dekat dengan daerah subdaksi
antara lempeng India-Australia dan lempeng Eurasia. Oleh karena itu potensi untuk
terjadinya tsunami yang diakibatkan gempa dari arah laut itu sangat besar sekali.
Terutama di kawasan teluk Pacitan yang langsung berbatasan dengan kota Pacitan
(hanya terpisah 2,5 Km dari pusat kota). Hal ini mewajibkan pemerintah daerah
Pacitan untuk membuat program atau rencana ke depan dalam mengantisipasi dari
kerugian peristiwa tsunami.
45

4.2.2 Hambatan dan Tantangan Kabupaten Pacitan


4.2.2.1 Pariwisata
Berdasarkan hasil wawancara dengan penduduk asli Pacitan, beberapa akses jalan
untuk mencapai pantai yang ada di Pacitan itu masih sangat sulit untuk di tempuh.
Ada beberapa objek yang harus ditempuh dengan jalan kaki terlebih dahulu beberapa
kilometer karena belum ada akses jalan untuk roda empat. Ada pula yang kondisi
jalan yang ada belum baik kondisi atau tidak rata. Padahal kondisi pantai yang dituju
memiliki keunggulan yang sangat banyak yang akan mendatangkan wisatawan lokal
maupun asing.
Kemudian untuk akomodasi di beberapa objek pariwisata belum dikatakan layak
dan nyaman bagi para wisatawan yang berkunjung. Di beberapa objek wisatawan
hanya bisa tinggal di rumah-rumah warga sekitar pantai, yang kondisi air bersih dan
kenyamanan bagi pengunjung sulit didapat. Beberapa tempat lainnya hanya tersedia
hotel-hotel melati yang fasilitasnya pun tidak jauh dari rumah warga sekitar.
Penerangan ketika malam pun sangat minim sekali dan sinyal komunikasi juga sulit
untuk didapat bagi para wisatawan.
Fasilitas umum di objek wisata tersebut juga masih sangat minim seperti tempat
parkir, tempat ibadah, klinik kesehatan, balai pertemuan, toilet dan kamar mandi.
Padahal para pengunjung banyak membutuhkan sekali fasilitas umum seperti itu
sehingga apabila sedang banyak wisatawan mereka tidak perlu mengantri dan meras
nyaman dalam berwisata.
4.2.2.2 Pertambangan
Hingga saat ini pengelolaan tambang di Pacitan masih dirasakan belum optimal
karena terbatasnya sarana dan prasarana pertambangan sehingga belum banyak
memberikan kontribusi kepada peningkatan pendapatan masyarakat yang akhirnya
peningkatan pendapatan daerah. Akibat dari kurangnya sarana dan prasarana ini
adalah kurangnya investor yang tertarik dan bersungguh-sungguh untuk membangun
fasilitas tambang di Pacitan. Hal demikian disebabkan karena akses jalan untuk
pembangunan sarana dan prasarana sangat tidak mendukung. Padahal di Desa
Pagerejo Kecamatan Ngadirojo dan Desa Kebonsari Kecamatan Punung ditemukan
kandungan emas yang bisa menjadi sumber pemasukan yang sangat menjanjikan bagi
Pacitan.
46

4.2.2.3 Bentang Alam


Bentang Alam yang ada di Pacitan bisa menjadi sebuah hambatan bahkan bencana
jika bencana tsunami itu benar terjadi. Program dan rencana ke depan untuk
menghadapi tsunami belum terbentuk secara terstruktur rapih dan rutin dalam
pelaksanaannya.
4.2.3 Rekomendasi Kabupaten Pacitan
4.2.3.1 Pariwisata
Dalam mengembangkan Obyek Wisata Pantai di Pacitan dan untuk keberhasilan
dalam pengembangannya, maka strategi pengembangan untuk untuk mencapai visi
dan misi adalah sebagai berikut :
1. Mengembangkan obyek dan daya tarik wisata ( yang meliputi wisata alam
serta seni dan budaya ) dengan meningkatkan fasilitas sarana dan
prasarana serta atraksi wisata dengan kualitas dan kuantitas obyek wisata
yang lebih menarik dan memberikan pesona khas bagi para wisatawan.
Dalam hal ini obyek wisata Pantai yang menyajikan daya tarik wisata
yang berupa pesona alam yang indah.
2. Mengembangkan jalinan kerjasama antara masyarakat local dan swasta
dalam hal pengembangan sarana dan usaha yang bersifat kepariwisataan di
lokasi Obyek Wisata Pantai Pacitan.
3. Memperluas promosi dan pemasaran Obyek Wisata Pantai Pacitan dari
berbagai segmen pasar lokal, regional, nasional maupun internasional
dengan berbagai sarana promosi dan pelayanan kepariwisataan yang
optimal.
4. Mengembangkan seni dan budaya daerah tersebut sebagai bentuk
pelestarian pesona wisata dan kekayaan nilai-nilai adat dan budaya daerah
serta sekaligus sebagai filter terhadap pengaruh masuknya budaya yang
tidak baik atau kurang sesuai dengan budaya timur.
4.2.3.2 Pertambangan
Dalam mengembangkan Pertambangan di Pacitan dan untuk keberhasilan dalam
pengembangannya, maka strategi pengembangan untuk untuk mencapai visi dan misi
adalah sebagai berikut :

47

1. Memperbaiki akses untuk jalur mobil bahkan mobil besar untuk


membangun saran dan prasarana pada kawasan yang mengadug bahan
tambang.
2. Menarik investor lokal untuk mengerjakan pekerjaan tambang yang ada di
Pacitan, sehingga perputaran uang Indonesia tetap dan stabil.
3. Memetakan potensi tambang di Pacitan dengan peta skala besar, sehingga
pertambangan menjadi efektif dan efisien. Juga supaya dapat mengetahui
kekayaan yang dikandung oleh Kabupaten Pacitan.
4.2.3.3 Bentang Alam
Dalam mengembangkan Pertambangan di Pacitan dan untuk keberhasilan dalam
pengembangannya, maka strategi pengembangan untuk untuk mencapai visi dan misi
adalah sebagai berikut :
1. Menciptakan komunitas tanggap bencana (community resilience) di
tengah-tengah masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap upaya
mitigasi bencana tsunami.
2. Sosialisasi kepada masyarakat terkait bencana tsunami di Pesisir Pacitan.
3. Menata kembali rencana pengembangan permukiman di Pacitan agar
dapat meminimalkan dampak dari bencana tsunami, terutama desa-desa
yang memiliki topografi rendah. Hal ini dikarenakan desa yang memiliki
topografi rendah sangat rentan terkena dampak gelombang jika terjadi
tsunami
4. Membuat pengungsian bagi warga sehingga warga telah diajarkan tempat
tujuan yang aman dan cara menyelamatkan diri sendiri atau orang lain jika
tsunami terjadi.

48

BAB V
PENUTUP

49

LAMPIRAN

50