Anda di halaman 1dari 16

9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.

Imunisasi
1. Definisi Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Anak
diimunisasi berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit
tertentu. Anak kebal atau resisten terhadap suatu penyakit, tetapi belum
tentu kebal terhadap penyakit yang lain (Notoatmodjo, 2003).
2. Jenis vaksin
Menurut Pusdiknakes Dep. Kes RI (1992) bahwa jenis vaksin
yang digunakan di Indonesia pada dasarnya ada 2 macam, yaitu :
1). Vaksin dari kuman hidup yang dilemahkan seperti :
a. Virus campak dalam vaksin campak
b. Virus polio jenis sabin pada vaksin polio
c. Kuman TBC dalam vaksin TBC
2). Vaksin dari kuman yang dimatikan, seperti :
a. Bakteri pertusis dalam vaksin DPT
b. Virus polio jenis salk pada vaksin polio
c. Racun kuman seperti toxoid (TT), diptheria toxoid dalam vaksin
DPT
d. Vaksin yang dibuat dari protein seperti Hepatitis B

10

3. Imunisasi aktif dan imunisasi pasif


a.

Imunisasi aktif
Tabel 2.1 Imunisasi aktif yang dianjurkan pada berbagai tingkat usia
menurut Baratawidjaja (1996):
Usia
2 bulan

Vaksin
Difteri, Tetanus, Pertusis (DTP-1), Polio

4 bulan
6 bulan
15 bulan
18 bulan
4 6 tahun
1416 tahun (dan tiap

trivalen oral (TOP-1)


DTP-2, TOP-2
DTP-3, TOP-3
Campak, Mumps, Rubella
DTP 4, TOP 4
DTP 5, TOP 5
Tetanus dengan dosis toksoid difteri yang

10 tahun sesudah itu)


18 24 tahun
25 64 tahun

dikurangi
Campak, Mumps, Rubella
Campak, Mumps, Rubella

> 65 tahun

Influenza, Pneumococ

Pada imunisasi aktif, tubuh membuat zat anti sendiri, baik


aktif alamiah maupun aktif buatan. Imunisasi/kekebalan yang
terbentuk setelah mengalami atau sembuh dari suatu penyakit
disebut kekebalan aktif alamiah. Misalnya anak yang telah mendapat
penyakit campak, ia tidak akan menderita campak lagi karena
tubuhnya telah membuat zat penolak terhadap campak. Akan tetapi
imunisasi yang diperoleh secara alamiah ini sukar diramalkan,
karena tergantung dari kuman yang masuk dan antibodi yang
dimiliki (Markum, 2000). Sedangkan imunisasi yang terjadi setelah

11

tubuh mendapat vaksin (misalnya vaksin BCG, DPT dan sebagainya)


disebut imunisasi aktif buatan.
Imunisasi aktif dapat diberikan terhadap penyakit : Batuk
rejan (pertusisi), Tetanus dengan pemberian tetanus toksoid, Difteri,
Tuberkulosis dengan pemberian BCG, Poliomileitis (polio) dengan
pemberian vaksin oral sabin, campak dengan pemberian vaksin
campak (Biddulph, 1999).
b. Imunisasi pasif
Anak diberikan antibodi yang sudah dibuat, misalnya : pasien
tetanus diberikan anti toksin tetanus, pasien difteri diberikan anti
toksin difteri, pasien karena gigitan ular diberikan anti bisa ular, anak
yang kurang gizi yang mungkin terpapar penderita campak atau
hepatitis dapat dilindungi dengan pemberian gama globulin.
Perlindungan ini berlangsung untuk jangka waktu 3 6 bulan.
Imunisasi

pasif

juga

mencakup

kekebalan

bawaan

(kongenital). Pada kekebalan kongenital, bayi mendapat antibodi


dari ibu melalui plasenta. Kekebalan ini akan melindungi bayi
selama bulan-bulan pertama kehidupannya terhadap berbagai
penyakit seperti tetanus, campak, dan malaria. Kekebalan pasif tidak
bertahan lama sebab tubuh pasien akan menyingkirkan antibodi ini
yang tidak dihasilkan oleh tubuh penderita sendiri (Biddulph &
Stace, 1999).
4. Tujuan imunisasi

12

Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit


tertentu

dan

menghilangkan

penyakit

tertentu

pada

sekelompok

masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari


dunia seperti pada imunisasi cacar (Ranuh, 2001).
5. Jenis imunisasi
Program

Pengembangan

Imunisasi

(PPI)

dari

pemerintah

mewajibkan anak mendapatkan perlindungan 7 jenis penyakit utama, yaitu


Tuberkulosis, Hepatitis B, Difteri, Pertusis, Tetanus (DPT), Poliomielitis,
dan Campak.
a. BCG
Bacille Calmette-Geurin adalah vaksin hidup yang dibuat dari
Mycobacterium bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga
didapat basil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas
(Ranuh, 2001).
Pemberian vaksin BCG merupakan tindakan yang paling praktis
untuk mencegah tuberculosis dibanyak Negara. Dengan vaksinasi ini
maka angka kesakitan akibat tuberculosis bisa ditekan serendah
mungkin. Vaksinasi BCG dapat diberikan dengan cara suntikan
intradermal atau secara multiple puncture (Soedarto, 1996).
Imunisasi TBC tidak sepenuhnya melindungi kita dari serangan
TBC. Tingkat efektivitas vaksin ini berkisar antara 70 - 80 %. Karena
tingkat efektivasnya 70 -80 %, sebagian besar rakyat bisa dilindungi
dari infeksi kuman TBC. Negara-negara Eropa dan Jepang adalah

13

negara yang menganggap perlunya imunisasi. Bahkan Jepang telah


memutuskan untuk melakukan vaksinasi BCG terhadap semua bayi
yang lahir tanpa melakukan tes Tuberculin. Jika hasil tes positif,
dianggap telah terinfeksi TBC dan tidak akan diberikan vaksin (Utama,
2004).
Reaksi imunisasi BCG biasanya setelah suntikan BCG bayi tidak
akan menderita demam. Efek samping terjadi pembengkakan kelenjar
getah bening setempat yang terbatas dan biasanya menyembuh sendiri
walaupun lambat. Bila suntikan BCG dilakukan di lengan atas,
pembengkakan kelenjar terdapat diketiak atau leher bagian bawah
(Markum, 2004).
b. Hepatitis B
Hepatitis adalah penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh dua
jenis virus yang menimbulkan nekrosis dari sel-sel hati yang secara
klinis maupun secara patologis tidak dapat dibedakan satu dengan yang
lain (Soedarto, 1996).
Hepatitis B dengan imunisasi pasif dilakukan dengan pemberian
imunoglobulin.

Diberikan

baik

sebelum

terjadinya

paparan

(preexposure) maupun setelah terjadinya paparan (postexposure). Dapat


dilakukan dengan memberikan IG/ISG (Immune Serum Globulin) atau
HBIG (Hepatitis B Immune Globulin). Hepatitis B dengan imunisasi
aktif dapat diberikan dengan pemberian partikel HbsAg yang tidak
infeksius. Dikenal tiga jenis vaksin hepatitis B yaitu : vaksin yang

14

berasal dari plasma, vaksin yang dibuat dengan tehnik rekomendasi


(rekayasa genetika), dan vaksin polipeptida (Ranuh, 2001).
c. Difteria
Difteri

merupakan

penyakit

akut

yang

disebabkan

oleh

Corynebacterium diphtheriae, dengan lesi primer didaerah faring,


nasofaring atau laring berupa pembentukan pseudomembran yang
berwarna keabu-abuan (Soedarto, 1996).
Seseorang anak dapat terinfeksi basil difteria pada naso-faringnya
dan kuman tersebut kemudian akan memproduksi toksin yang
menghambat sintesis protein seluler dan menyebabkan destruksi
jaringan setempat dan terjadilah suatu selaput/membran yang dapat
menyumbat jalan nafas. Toksin yang terbentuk di membran tersebut
kemudian diabsorbsi kedalam aliran darah dan dibawa keseluruh tubuh.
Penyebaran toksin ini berakibat komplikasi berupa miokarditis dan
nueritis, serta trombositopenia dan proteinuria (Ranuh, 2001).
d. Pertusis
Pertusis atau batuk rejan/batuk seratus hari adalah sutau penyakit
akut yang disebabkan oleh bakteri Borditella pertussis. Borditella
pertussis adalah batang yang bersifat gram negatif dan membutuhkan
media khusus untuk isolasinya. Gejala utama pertusis timbul saat
terjadinya penumpukan lendir dalam saluran nafas akibat kegagalan
aliran oleh bulu getar yang lumpuh yang berakibat terjadinya batuk

15

paroksismal tanpa inspirasi yang diakhiri dengan bunyi whoop.(Ranuh,


2001).
e. Tetanus
Tetanus adalah suatu penyakit akut yang bersifat fatal yang
disebabkan oleh eksotoksin produksi kuman Clostridium tetani.
Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang yang bersifat
anaerobik, gram positif yang mampu menghasilkan spora dengan
bentuk drumstik (Ranuh, 2001).
Kuman ini banyak terdapat pada binatang pemakan rumput,
terutama pada usus kuda dan dalam bentuk spora tersebar luas ditanah.
Infeksi terjadi kalau spora masuk kedalam tubuh dan terdapat
lingkungan anaerob. Pada bayi baru lahir, infeksi terjadi pada tali pusat
yang dipotong dengan alat yang tidak steril atau pusar dibubuhi obat
tradisional yang mengandung spora kuman tetanus. Pada tetanus anak,
infeksi terjadi melalui luka tusuk atau luka yang kotor. Masa inkubasi
antara 4 21 hari (umumnya 7 hari) ( Suraatmaja,1992).
f. Poliomielitis
Poliomyelitis adalah salah satu penyakit yang sangat berbahaya
karena dapat mengakibatkan kelumpuhan dan cacat. Sebab-sebab
timbulnya penyakit ini adalah virus dari sampah, kotoran manusia, lalat
atau makanan yang dihinggapi lalat (Santoso dan Ranti, 2004).
Virus polio menyebar dari orang satu ke orang lain melalui jalur
oro-fecal pada beberapa kasus dapat berlangsung secara oral-oral. Virus

16

polio masuk melalui mulut dan multiplikasi pertama kali terjadi pada
tempat implantasi pada farings dan traktus grastointestinal. Virus
tersebut umumnya ditemukan di daerah tenggorokan tinja sebelum
timbulnya gejala. Satu minggu setelah timbulnya penyakit, virus
terdapat dalam jumlah kecil di tenggorok, tetapi virus terus-menerus
dikeluarkan bersama tinja dalam beberapa minggu. Virus menembus
jaringan limfoit setampat, masuk dalam pembuluh darah kemudian
masuk sistem syaraf pusat. Masa inkubasi poliomielitis umumnya
berlangsung 6-20 hari dengan kisaran 3-35 hari (Ranuh, 2001).
Pencagahan polio adalah dengan memberikan vaksinasi polio
beberapa kali sesuai dengan aturan (Santoso dan Ranti, 2004).
Imunisasi Polio mutlak diberikan untuk memberikan kekebalan
terhadap virus Polio. Imunisasi ini paling lambat diberikan pada anak
hingga berusia 15 tahun. Dengan alasan, anak dengan usia tersebut
rawan terserang penyakit Polio. Dalam beberapa kasus, anak terserang
penyakit Polio karena terlambat menerima imunisasi. Akibatnya anak
mengalami kelumpuhan seumur hidup. Setelah mendapat imunisasi
keempat, anak masih harus mendapat imunisasi yang disebut booster.
Imunisasi ini untuk memperkuat imunisasi yang telah diberikan
sebelumnya (Suara merdeka, 2005).
Reaksi imunisasi polio biasanya tidak ada, mungkin pada bayi
akan terdapat berak-berak ringan. Efek samping pada imunisasi polio
hampir tidak terdapat efek samping. Bila ada mungkin berupa

17

kelumpuhan anggota gerak seperti pada penyakit polio sebenarnya


(Markum, 2004).
g. Campak
Penyebab penyakit campak adalah suatu penyakit akut dan sangat
menular. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus campak
(Suraatmaja, 1992).
Virus campak masuk melalui saluran pernafasan secara droplet
dan selanjutnya masuk kelenjar getah bening yang berada dibawah
nukosa, disini virus memperbanyak diri kemudian menyebar ke sel-sel
jaringan limforetikular seperti limpa. Gejala-gejala yang muncul pada
orang yang terinfeksi virus campak antara lain : pilek disertai dengan
peradangan selaput konjungtiva yang tampak merah, lemah disertai
suhu tubuh yang meningkat hingga sakit berat sampai munculnya ruam
kulit. Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang
dilemahkan adalah 1000 TCID atau sebanyak 0,5 ml. Pemberian yang
dianjurkan secara subkutan, walaupun demikian dapat diberikan secara
intramuskular. WHO menganjurkan pemberian imunisasi campak pada
bayi berumur 9 bulah (Ranuh, 2001).
6. Menurut Budiman (2004), hal-hal yang harus diwaspadai dalam
pemberian vaksinasi adalah :
a. Vaksinasi sebaiknya dilakukan dalam keadaan anak sedang sehat.
b. Pilih vaksin yang tidak mengandung mercuri atau kandungan
mercurinya sedikit mungkin.

18

c. Hati-hati bila salah seorang kakak menderita gangguan ASH, ADHD,


disleksia, gangguan perkembangan wicara, retardasi mental.
d. Hati-hati bila anak telah menunjukkan ciri-ciri abnormal sejak dini
(tidak mau tatap mata, tidak ada senyum sosial, menolak interaksi)

2.

Status Imunisasi Balita


Penilaian status imunisasi
a. Imunisasi dasar lengkap, dengan ketentuan telah mendapatkan
imunisasi BCG 1x pada usia 0 bulan,, imunisasi hepatitis B 1 sampai
imunisasi hepatitis B 3 pada usia 0 hari 3 bulan, imunisasi DPT 1-3
pada usia 2-4 bulan, imunisasi polio 1-4 pada usia 0-4 bulan serta
imunisasi campak 1x pada usia 9 bulan.
b. Imunisasi dasar tidak lengkap, bila terdapat satu atau lebih jenis
imunisasi yang belum diberikan pada usia tertentu atau telah diberikan
namun tidak sesuai jumlah tertentu untuk mencapai titer antibodi yang
protektif.
c. Tidak imunisasi dasar, bila anak belum pernah mendapatkan imunisasi
sama sekali pada usia tertentu.

3.

Beberapa faktor yang Berkaitan dengan Status Imunisasi


Beberapa faktor yang berkaitan dengan status imunisasi antara lain:
a. Pendidikan formal ibu
Menurut Meichati dalam Depkes RI (1990), pendidikan
merupakan proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh lingkungan

19

yang terpimpin misalnya sekolah sehingga ia dapat mencapai


kecukupan. Sekolah tersebut bisa dimulai dari SD, SMP/SLTP,
SMU/SMA dan perguruan tinggi. Pendidikan merupakan suatu usaha
menstransfer atau memindahkan ilmu pengetahuan kepada orang lain.
Tingkat

pendidikan

mempengaruhi

proses

pengambilan

keputusan seseorang kearah perubahan, sehingga semakin tinggi


pendidikan seseorang akan lebih tinggi pula kesadaran akan kesehatan
anaknya (Julianti, 1994).
b. Pekerjaan ibu
Produksi seorang anak yang sehat tidak hanya membutuhkan
kesehatan ibu dan keterampilan menjadi ibu tetapi juga waktu yang
diperlukan oleh seorang ibu untuk dapat melakukan pemeriksaan
perinatal serta merawat bayinya (Depkes RI, 1990).
Menurut Toan dalam Ariyanti (2004), bila ibu bekerja, maka
akan berkuranglah kesempatan untuk datang ke tempat pelayanan
kesehatan sehingga akan mengakibatkan ibu tidak mengimunisasikan
anaknya. Sedangkan semakin sedikit pekerjaan ibu diperkirakan
semakin besar kesempatan ibu untuk datang ke tempat pelayanan
kesehatan untuk mengimunisasikan anaknya.
c. Jumlah balita yang dimiliki ibu
Proses perawatan kesehatan seorang anak memerlukan waktu
tersendiri. Jika jumlah anak balita lebih banyak lagi maka akan
membutuhkan lebih banyak waktu untuk merawatnya sehingga akan

20

memperkecil kesempatan ibu untuk datang ke tempat pelayanan


imunisasi (Depkes RI, 1990).
d. Pengetahuan ibu
Pengetahuan adalah hasil tahu setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan dapat
diperoleh dari pendidikan, pengalaman diri sendiri maupun orang lain,
media massa maupun lingkungan (Notoatmodjo, 1997).
Lawrence Green menyatakan bahwa pengetahuan seseorang
mempengaruhi perilakunya. Jika tingkat pengetahuannya baik, maka
perilaku

yang

ditunjukkan

seseorang

juga

cenderung

baik

(Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan tentang kesehatan yang dimiliki seseorang amat
penting perananya dalam menentukan nilainya terhadap kesehatan.
Dengan

berbagai

informasi

kesehatan

akan

menambah

luas

pengetahuan dan pemahamanya tentang kesehatan. Dalam hal seperti


ini menunjukkan pada seseorang terdapat keadaan sadar akan kesehatan
(Zein & Eko, 2005).
e. Penyuluhan oleh petugas kesehatan
Penyuluhan petugas kesehatan akan berkualitas apabila petugas
kesehatan menyusun rencana penyuluhan sesuai materi, memperhatikan
sikap saat memberikan penyuluhan serta menggunakan bahasa yang
tepat sesuai latar belakang ibu-ibu yang akan diberi penyuluhan. Perlu
diketahui bahwa hal-hal yang menyebabkan masyarakat tidak bersedia

21

diimunisasi salah satunya adalah pengalaman yang tidak baik oleh


petugas maupun oleh kader (Dep Kes RI, 1993). Dengan adanya
penyuluhan diharapkan ibu akan tahu manfaat imunisasi (Ramli, 1988).
f. Peran kader
Peran kader dalam bentuk penyuluhan, pemberitahuan serta
anjuran

agar

datang

ke

tempat

pelayanan

imunisasi

dapat

mempengaruhi ibu-ibu untuk mengimunisasikan anaknya (Notoatmodjo


dan Sarwono, 1986).

4.

Kerangka Teoritis
Kerangka teori dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Predisposisi / Mendasari
-

Pendidikan

Pekerjaan

Jumlah balita yang


dimiliki ibu

Pengetahuan

Sikap

Kepercayaan,
keyakinan

22

Status
Memungkinkan
- Tersedianya vaksin

Imunisasi
Balita

- Tempat Posyandu

Mendorong / Pendukung
- Sikap/perilaku
petugas kesehatan
- Sikap/perilaku
kader

Sumber : Lawrence W. Green (1991) dan Depkes RI (1990)

5.

Kerangka Konseptual Penelitian


Kerangka konsep dalm penelitian ini adalah sebagai berikut :
Variabel bebas
Pendidikan

Pekerjaan

Jumlah balita
yang dimiliki ibu

Variabel terikat

23

Status
Pengetahuan

Imunisasi
Balita

Penyuluhan oleh
petugas
kesehatan

Peran kader

B. Hipotesis Penelitian
1. Ada kaitan antara pendidikan formal ibu dengan status imunisasi balita di
Posyandu Karangmalang Puskesmas Kangkung Kabupaten Kendal tahun
2006.
2. Ada kaitan antara pekerjaan ibu dengan status imuniasi balita di Posyandu
Karangmalang Puskesmas Kangkung Kabupaten Kendal tahun 2006.
3. Ada kaitan antara jumlah balita yang dimiliki ibu dengan status imunisasi
balita di Posyandu Karangmalang Puskesmas Kangkung Kabupaten
Kendal tahun 2006.
4. Ada kaitan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dengan status
imunisasi balita di Posyandu Karangmalang Puskesmas Kangkung
Kabupaten Kendal tahun 2006.

24

5. Ada kaitan antara penyuluhan petugas kesehatan dengan status imunisasi


balita di Posyandu Karangmalang Puskesmas Kangkung Kabupaten
Kendal tahun 2006.
6. Ada kaitan antara peran kader posyandu dalam mensukseskan program
imunisasi dengan status imun balita di Posyandu Karangmalang
Puskesmas Kangkung Kabupaten Kendal tahun 2006.