Anda di halaman 1dari 67

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Malaria
2.1.1 Definisi Malaria
Malaria adalah salah satu penyakit tertua. Hal itu
diketahui oleh orang Yunani kuno dengan gejala khas
demam, menggigil dan sakit kepala. Penyakit ini diobati
dengan berbagai ramuan bahkan dengan mantra (sihir
hitam).

Beberapa

herbal

yang

digunakan

untuk

pengobatan adalah kulit kayu cinchona, chiraita, titepati,


dll. Pohon kina kulit kayu telah menjadi yang paling
umum digunakan selama tiga abad terakhir (Jung, 2001).
Malaria merupakan penyakit endemis di daerah
tropis

dan

subtropis

terutama

di

negara

yang

berpenduduk padat, misalnya Meksiko, Amerika Tengah


dan Selatan, Afrika, Timur Tengah, India, Asia Selatan,
Indo

Cina

dan

pulau-pulau

di

Pasifik

Selatan.

Diperkirakan prevalensi malaria di seluruh dunia berkisar


antara 160 - 400 juta kasus. Angka kematian malaria di
seluruh dunia diperkirakan berkisar antara 1 - 2
milyar/tahun. Kira-kira 40% penduduk dunia tinggal di
daerah rawan malaria. Plasmodium vivax mempunyai

17

distribusi geografis yang paling luas, mulai dari daerah


yang beriklim dingin, subtropiks sampai ke daerah tropis.
Sebagian besar negara endemis malaria di atas, risiko
malaria hanya terbatas pada daerah tertentu (Soegijanto,
2004).
Penyakit malaria merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat, karena setiap tahun 500 juta
manusia terinfeksi malaria dan lebih dari 1 juta
diantaranya meninggal dunia (Departemen Kesehatan,
2008).
Penyakit malaria merupakan penyakit tropis yang
disebabkan

oleh

parasit

genus

plasmodium

yang

termasuk golongan protozoa melalui perantaraan gigitan


nyamuk Anopheles spp. Penyebaran penyakit malaria
berhubungan dengan perubahan iklim baik musim
kemarau

maupun

penghujan.

Pergantian

musim

berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap


kehidupan vektor penyakit malaria. Kondisi iklim yang
menyangkut

temperatur,

kelembaban,

curah

hujan,

cahaya dan pola tiupan angin, mempunyai dampak


langsung pada reproduksi vektor, perkembangannya,
lama hidup dan perkembangan parasit dalam tubuh
vektor. Sedangkan dampak tidak langsung karena

18

pergantian vegetasi dan pola tanam pertanian yang dapat


memengaruhi kepadatan populasi vektor (Departemen
Kesehatan RI, 2001).

2.1.2 Hubungan Host, Agent, Environment


Penyebaran penyakit malaria ditentukan oleh faktor
yang disebut Host, Agent dan Environment. Penyebaran
malaria terjadi apabila ketiga komponen tersebut di atas
saling mendukung (Harijanto 2000).
2.1.2.1 Penjamu (Host)
a) Manusia (host intermediate)
Pada
terkena

dasarnya
penyakit

setiap

orang

malaria.

dapat

Perbedaan

prevalensi menurut umur dan jenis kelamin


sebenarnya berkaitan dengan perbedaan
derajat

kekebalan

keterpaparan
Beberapa

kepada

penelitian

karena

variasi

gigitan

nyamuk.

menunjukan

bahwa

perempuan mempunyai respons imun yang


lebih kuat dibandingkan dengan laki-laki,
namun kehamilan menambah risiko malaria.
Malaria

pada

wanita

hamil

mempunyai

dampak yang buruk terhadap kesehatan ibu

19

dan anak antara lain berat badan lahir yang


rendah,

abortus,

partus

premature

dan

kematian janin intrauterine (Harijanto 2000).


Faktor-faktor genetik pada manusia dapat
mempengaruhi terjadinya malaria dengan
pencegahan invasi parasit ke dalam sel,
mengubah

respons

imunologik

atau

mengurangi keterpaparan terhadap vektor.


Selain itu keadaan gizi juga mempengaruhi
terjadinya penyakit malaria. Ada beberapa
studi yang menunjukan bahwa anak yang
bergizi baik justru lebih sering mendapat
kejang dan malaria serebral dibandingkan
dengan anak yang bergizi buruk. Akan tetapi
anak yang bergizi baik dapat mengatasi
malaria

berat

dengan

lebih

cepat

dibandingkan anak bergizi buruk (Harijanto


2000).
Penyebab timbulnya penyakit malaria
pada

manusia

parasit/plasmodium.

adalah

yang

Pada

disebut
manusia

Plasmodium terdiri dari 4 spesies yaitu


(Soegijanto, 2004) dan (Prabowo, 2004):

20

1) Plasmodium Vivax
Menyebabkan malaria vivax/tertian. Masa
inkubasi 13 - 17 hari. Menginfeksi eritrosit
imatur (retikulosit). Relaps pada malaria
diakibatkan oleh aktifnya kembali hipnozoit
di organ hati (fase eksoerittrositik) yang
kemudian

menjadi

merozoit

dan

seterusnya memasuki sirkulasi darah dan


menyerang

eritrosit

normal.

Umumnya

dapat terjadi berkali-kali sampai jangka


waktu 2 - 4 tahun (Soegijanto, 2004).
2) Plasmodium falciparum
Menyebabkan malaria falciparum/tropika.
Masa

inkubasi

12

hari.

Merupakan

penyebab utama infeksi berat, karena


Plasmodium falciparum dapat menginfeksi
eritrosit

imatur

dan

matur.

Umumnya

kekambuhan terjadi paling lama 1 tahun,


penyebabnya

adalah

parasit

stadium

eritrositik yang belum terbunuh sempurna


oleh obat-obat antimalaria (Soegijanto,
2004).

21

3) Plasmodium malariae
Menyebabkan

malariae/quartana.

Masa

inkubasi 28 - 30 hari. Menyerang eritrosit


matur. Merupakan suatu bentuk malaria
yang paling ringan namun merupakan
infeksi kronik. Relaps umumnya terjadi
selama 1 tahun pertama kemudian diikuti
timbulnya kekambuhan jangka panjang
sampai 30 tahun. Penyebabnya parasit
stadium eritrositik yang berada di sirkulasi
mikrokapiler yang tidak dapat dibunuh
karena pengobatan antimalaria yang tidak
sempurna (Soegijanto, 2004).
4) Plasmodium ovale
Menyebabkan

malaria

ovale.

Masa

inkubasi sama dengan Plasmodium vivax


13 - 17 hari. Seorang penderita dapat
dihinggapi
plasmodium.
infeksi

lebih

dari

Infeksi

campuran

Biasanya,

penderita

satu

demikian
(mixed
paling

jenis
disebut

infection).
banyak

dihinggapi dua jenis parasit malaria, yakni


campuran antara Plasmodium falciparum

22

dan Plasmodium vivax dan Plasmodium


ovale (Prabowo, 2004).
2.1.2.2 Perantara (Agent)
Hidup di dalam tubuh manusia dan dalam
tubuh

nyamuk.

Manusia

disebut

host

intermediate (pejamu sementara) dan nyamuk


disebut host definitife (pejamu tetap).
a) Nyamuk Anopheles (host defenitife)
Nyamuk Anopheles terutama hidup di
daerah tropik dan subtropik, namun bisa juga
hidup di daerah beriklim sedang dan bahkan
di daerah arktika. Efektifitas vektor untuk
menularkan

malaria

ditentukan

hal-hal

sebagai berikut (Harijanto, 2000):


1) Kepadatan

vektor

dekat

pemukiman

manusia
2) Kesukaan menghisap darah manusia atau
antropofilia
3) Frekuensi menghisap darah (tergantung
dari suhu)
4) Lamanya

sporogoni

(berkembangnya

parasit dalam nyamuk sehingga menjadi


infektif)

23

5) Lamanya hidup nyamuk harus cukup untuk


sporogoni
jumlah

dan

yang

kemudian

menginfeksi

berbeda-beda

menurut

spesies.
Nyamuk Anopheles betina menggigit
antara waktu senja dan subuh, dengan jumlah
yang

berbeda-beda

Kebiasaan

makan

menurut
dan

spesiesnya.

istirahat

nyamuk

Anopheles dapat dikelompokan menjadi:


1) Tempat tinggal atau beristirahat
a. Endofilik:

suka

tinggal

dalam

rumah/bangunan
b. Esksofilik: suka tinggal di luar rumah.
2) Tempat menggigit
a. Endofagik:

menggigit

dalam

rumah/bangunan
b. Eksofagik:

menggigit

di

luar

rumah/bangunan
3) Objek yang digigit
a. Antropofilik: suka menggigit manusia
b. Zoofilik: suka menggigit binatang.

24

2.1.2.3. Lingkungan (Environment)


Keadaan lingkungan berpengaruh besar
terhadap ada tidaknya malaria disuatu daerah.
Adanya danau air payau, genangan air di hutan,
persawahan, tambak ikan, pembukaan hutan,
dan

pertambangan

di

suatu

daerah

akan

meningkatkan kemungkinan timbulnya penyakit


malaria

karena

tempat-tempat

tersebut

merupakan tempat perindukan nyamuk malaria


(Prabowo, 2004).
Beberapa bagian dari lingkungan yang
merupakan

tempat

hidup

atau

perkembangbiakan nyamuk adalah (Harijanto,


2000):
a. Lingkungan Fisik
Faktor

geografi

dan

meteorologi

di

Indonesia sangat menguntungkan transmisi


malaria di Indonesia. Pengaruh suhu ini
berbeda bagi setiap spesies. Pada suhu
26,70c masa inkubasi ekstrinsik adalah 10 12 hari untuk Plasmodium falciparum dan 8 11 hari untuk Plasmodium vivax, 14 - 15 hari

25

untuk Plasmodium malariae dan Plasmodium


ovale.
1) Suhu
Suhu mempengaruhi perkembangan
parasit

dalam

nyamuk.

Suhu

yang

optimum berkisar antara 20 dan 300c.


makin tinggi suhu (sampai batas tertentu)
makin pendek masa inkubasi ekstrinsik
(sporogoni) dan sebaliknya makin rendah
suhu

makin

panjang

masa

inkubasi

ekstrinsik (Harijanto, 2000). Suhu optimum


untuk

perkembangan

parasit

malaria

dalam nyamuk adalah antara 200C dan


300C. Parasit berhenti berkembang jika
suhu rata-rata di bawah 160C. Suhu yang
lebih

tinggi

dibandingkan

300C

yang

mematikan parasit. Sebuah kelembaban


relatif 60% diperlukan bagi nyamuk untuk
hidup normal (Jung, 2001).
2) Kelembaban
Pada

kelembaban

relatif

tinggi,

nyamuk menjadi lebih aktif dan makan


banyak,

sementara

26

pada

kelembaban

rendah nyamuk tidak bertahan hidup (Jung,


2001).

Kelembaban

yang

rendah

memperpendek umur nyamuk, meskipun


tidak berpengaruh pada parasit. Tingkat
kelembaban 60% merupakan batas paling
rendah

untuk

memungkinkan

hidupnya

nyamuk. Pada kelembaban yang lebih tinggi


nyamuk menjadi lebih aktif dan lebih sering
menggigit,

sehingga

meningkatkan

penularan malaria (Harijanto, 2000).


3) Hujan
Curah

hujan,

secara

umum,

mempengaruhi mereka dalam dua cara


dengan

meningkatkan

jumlah

tempat

berkembang biak dan dengan meningkatkan


humadity

relatif

yang

mengarah

ke

kehidupan yang lebih panjang dari vektor.


Deforestasi

dan

struktur

lubang,

kolam,

taman,

sawah,

dan

lain-lain

seperti
saluran

liang,
irigasi,

mengakibatkan

peningkatan di tempat penangkaran yang


menguntungkan (Jung, 2001). Hujan akan
memudahkan perkembangan nyamuk dan

27

terjadinya epidemi malaria. Besar kecilnya


pengaruh tergantung jenis dan deras hujan,
jenis vektor dan jenis tempat perindukan.
Hujan

yang

memperbesar
biaknya

diselilingi

panas

kemungkinan

nyamuk

akan

berkembang

Anopheles

(Harijanto,

2000).
4) Ketinggian
Secara

umum

malaria

berkurang

pada ketinggian yang semakin bertambah.


Hal ini berkaitan dengan menurunnya suhu
rata-rata. Pada ketinggian di atas 2000
meter jarang ada transmisi malaria. Hal ini
bisa berubah bila terjadi pemanasan bumi
dan pengaruh dari El-Nino. Di pegunungan
Irian Jaya yang dulu jarang ditemukan
malaria kini lebih sering ditemukan malaria.
Ketinggian

paling

tinggi

masih

memungkinkan transmisi malaria adalah


2500 meter di atas permukaan laut (di
Bolivia) (Harijanto, 2000).

28

5) Angin
Kecepatan dan arah angin dapat
mempengaruhi jarak terbang nyamuk dan
ikut

menentukan jumlah

kontak

antara

nyamuk dan manusia.


6) Sinar matahari
Pengaruh sinar matahari terhadap
pertumbuhan larva nyamuk berbeda-beda.
Anopheles sundaicus lebih suka tempat
yang teduh. Anopheles hyrcanus spp dan
Anopheles pinctulatus spp lebih menyukai
tempat yang terbuka. Anopheles barbirostis
dapat hidup baik di tempat teduh maupun
yang terang.
7) Arus air
Anopheles
perindukan
lambat.

barbirostis

yang

airnya

Sedangkan

menyukai

aliran

air

menyukai

statis/mengalir

Anopheles
yang

minimus

deras

dan

Anophelesa letifer menyukai air tergenang.


8) Kadar garam
Anopheles sundaicus tumbuh optimal
pada air payau yang kadar garamnya 12 -

29

18% dan tidak berkembang pada kadar


garam 40% keatas. Namun di Sumatera
Utara ditemukan pula perindukan Anopheles
sundaicus dalam air tawar.
b. Lingkungan Biologik
Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan
berbagai tumbuhan lain dapat mempengaruhi
kehidupan larva karena ia dapat menghalangi
sinar matahari atau melindungi dari serangan
makhluk hidup lainnya. Adanya berbagai jenis
ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah
(panchax spp), gambusia, nila, mujair dan
lain-lain

akan

mempengaruhi

populasi

nyamuk di suatu daerah. Adanya ternak


seperti

sapi,

kerbau

dan

babi

dapat

mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada


manusia,

apabila

dikandangkan

ternak

tidak

jauh

tersebut

dari

rumah

(Harijanto, 2000).
c. Lingkungan Sosial-Budaya
Kebiasaan untuk berada di luar rumah
sampai
bersifat

larut

malam,

eksofilik

30

dan

dimana

vektornya

eksofagik

akan

memudahkan
kesadaran
malaria

gigitan

nyamuk.

Tingkat

tentang

bahaya

masyarakat

akan

masyarakat

mempengaruhi

untuk

kesediaan

memberantas

malaria

antara lain dengan menyehatkan lingkungan,


menggunakan kelambu, memasang kawat
kasa pada rumah dan menggunakan obat
nyamuk. Berbagai kegiatan manusia seperti
pembuatan bendungan, pembuatan jalan,
pertambangan
pemukiman

dan

pembangunan

baru/transmigrasi

sering

mengakibatkan perubahan lingkungan yang


menguntungkan penularan malaria (manmade-malaria). Peperangan dan perpindahan
penduduk dapat menjadi faktor penting untuk
meningkatkan

malaria.

Meningkatnya

pariwisata dan perjalan dari daerah endemik


mengakibatkan meningkatnya kasus malaria
yang di impor (Harijanto, 2000).

31

2.1.3 Etiologi (Penyebab Penyakit Malaria)


Adapun beberapa faktor penyebab terjadinya penyakit
malaria pada manusia yaitu sebagai berikut (Prabowo,
2004):
2.1.3.1 Parasit
Penyakit malaria disebakan oleh parasit
malaria

(yaitu

suatu

protozoa

darah

yang

termasuk genus plasmodium). Yang di kenal ada


empat jenis plasmodium penyebab malaria pada
manusia

yaitu

Plasmodium

falciparum,

Plasmodium vivax, dan Plasmodium malariae.


Plasmodium ovale. Ciri utama genus plasmodium
adalah adanya dua siklus hidup, yaitu siklus hidup
aseksual serta siklus seksual.
1. Fase aseksual
Siklus dimulai ketika Anopheles betina
menggigit manusia dan memasukan sporozoit
yang terdapat pada air liurnya ke dalam aliran
darah manusia. Jasad yang langsing dan lincah
ini dalam waktu 30 menit sampai satu jam
memasuki sel parenkim hati dan berkembang
biak membentuk skizon hati yang mengandung
ribuan merozoit. Proses ini desebut fase

32

skizogoni eksoeritrosit karena parasit belum


masuk ke sel darah merah. Lama fase ini
berbeda untuk tiap spesies plasmodium. Pada
akhir fase, skizon hati pecah, merozoit keluar,
lalu

masuk

sporulasi).

dalam
Pada

aliran

darah

Plasmodium

Plasmodium

ovale,

sebagian

membentuk

hipnozoit

dalam

(disebut

vivax

dan

sporozoit
hati

(atau

sporozoit yang tidur selama periode tertentu)


sehingga

mengakibatkan

relaps

jangka

panjang, yaitu kembalinya penyakit setelah


tampak mereda dan rekurens. Fase eritrosit
dimulai saat merozoit dalam darah menyerang
sel darah merah dan membentuk trofozoit.
Proses

berlanjut

menjadi

trofozoid-skizon-

merozoit. Setelah dua sampai tiga generasi,


merozoit terbentuk, lalu sebagian merozoit
berubah menjadi bentuk seksual (Prabowo,
2004).
2. Fase seksual
Fase ini dimulai ketika seekor nyamuk
betina mengisap anopheline terinfeksi darah
manusia semua elemen darah dan tahap

33

aseksual

parasit

malaria

(merozoit,

trophozoites, dll) yang dicerna dalam usus


parasit malaria jantan dan betina (gametosit)
yang tersisa utuh dan mulai jatuh tempo. Para
gametosit jantan dan betina menimbulkan
gamet

jantan

bersatu

untuk

membentuk

dan

betina

masing-masing

membentuk

ookinet

seperti

zigot.

Zigot

cacing

yang

menembus dinding lambung nyamuk dan


berkembang menjadi suatu ookista. Inti dari
ookista

mengalihkan

untuk

membentuk

sporozoit. Banyak yang dibebaskan dalam


bodyfluid nyamuk karena pecahnya ookista
tersebut.

Pada

tahap

akhir,

sporozoit

menembus kelenjar salivery dari nyamuk dan


tetap di sana, siap untuk memasuki host segar
saat nyamuk yang terinfeksi menggigit orang
lain yang sehat. Fase perkembangan parasit
malaria dalam nyamuk disebut sporogony atau
fase ekstrinsik dan memakan waktu sekitar 755 hari, tergantung pada spesies parasit
malaria dan suhu (Jung, 2001).

34

2.1.3.2 Nyamuk Anopheles


Malaria

pada

nyamuk

hanya

dapat

ditularkan oleh nyamuk betina Anopheles. Di


seluruh dunia terdapat sekitar 2.000 spesies
Anopheles, 60 spesies diantaranya diketahui
sebagai penular malaria. Di Indonesia ada
sekitar

80

jenis

Anopheles,

24

spesies

diantaranya telah terbukti penular malaria. Sifat


masing-masing

spesies

berbeda-beda,

tergantung berbagai faktor, seperti penyebaran


geografis, iklim dan tempat perindukannya.
Semua nyamuk malaria hidup sesuai dengan
kondisi ekologi setempat, contohnya nyamuk
malaria yang hidup di air payau (Anopheles
sundaicus dan Anopheles subpictus), di sawah
(Anopheles

aconitus),

atau

air

bersih

di

pegunungan (Anopheles maculatus).


Nyamuk Anopheles hidup di daerah iklim
tropis dan sub-tropis, tetapi juga bisa hidup di
daerah yang beriklim sedang. Nyamuk ini jarang
ditemukan pada daerah dengan ketinggian lebih
dari 2000 - 2500 meter. Tempat perindukannya
bervariasi (tergantung spesiesnya) dan dapat

35

dibagi menjadi tiga kawasan, yaitu pantai,


pedalaman dan kaki gunung. Biasanya, nyamuk
Anopheles betina menggigit manusia pada
malam hari atau sejak senja hingga subuh. Jarak
terbangnya tidak lebih dari 0,5 - 3 km dari tempat
perindukannya. Jika ada tiupan angin yang
kencang, biasa terbawa sejauh 20 - 30 km.
Nyamuk Anopheles juga dapat terbawa pesawat
terbang atau kapal laut, dan menyebarkan
malaria ke daerah non-endemis. Umur nyamuk
Anopheles dewasa di alam bebas belum banyak
diketahui, tetapi di laboratorium dapat mencapai
3 - 5 minggu. Nyamuk Anopheles mengalami
metamorfosis sempurna. Telur yang diletakkan
nyamuk betina di atas permukaan air akan
menetas

menjadi

larva,

melakukan

pengelupasan kulit (sebanyak 4 kali), lalu


tumbuh menjadi pupa dan menjadi nyamuk
dewasa jantan/betina. Waktu yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan (sejak telur sampai menjadi
bentuk dewasa) bervariasi antara 2 - 5 minggu,
tergantung spesies, makanan yang tersedia dan
suhu udara (Prabowo, 2004).

36

2.1.3.3 Manusia yang rentan terhadap infeksi malaria


Secara alami, penduduk di suatu daerah
endemis malaria, ada yang mudah dan yang
sukar

terinfeksi

malaria,

meskipun

gejala

klinisnya ringan. Perpindahan penduduk dari dan


ke daerah endemis malaria hingga kini masih
menimbulkan

masalah.

Sejak

dulu,

telah

diketahui bahwa wabah penyakit ini sering terjadi


di daerah-daerah pemukiman baru, seperti di
daerah perkebunan dan transmigrasi. Hal ini
terjadi karena pekerja yang datang dari daerah
lain belum mempunyai kekebalan sehingga
rentan terinfeksi (Prabowo, 2004).
2.1.3.4 Lingkungan
Keadaan lingkungan berpengaruh besar
terhadap ada tidaknya malaria di suatu daerah.
Adanya danau, air payau, genangan air di hutan,
pesawahan, tambak ikan, pembukaan hutan,
dan

pertambangan

di

suatu

daerah

akan

meningkatkan kemungkinan timbulnya penyakit


malaria

karena

tempat-tempat

tersebut

merupakan tempat perindukan nyamuk malaria


(Prabowo, 2004).

37

2.1.3.5 Iklim
Suhu dan curah hujan di suatu daerah
berperan penting dalam penularan penyakit
malaria. Biasanya penularan malaria lebih tinggi
pada musim hujan dibandingkan kemarau. Air
hujan

yang

menimbulkan

genangan

air,

merupakan tempat yang ideal untuk perindukan


nyamuk malaria. Dengan bertambahnya tempat
perindukan, populasi malaria juga bertambah
sehingga bertambah pula jumlah penularannya
(Prabowo, 2004).

2.1.4 Patogenesis dan Patofisiologi


Ada 4 proses patologi yang terjadi pada malaria,
yaitu demam, anemia, imunopatologi, dan anoksia
jaringan, yang disebabkan oleh perlekatan eritrosit yang
terinfeksi pada endotel kapiler. Demam paroksimal
berbeda untuk keempat spesies tergantung dari lama
maturasi

skizonnya.

Serangan

demam

disebabkan

pecahnya eritrosit sewaktu fase skizogoni-eritrisitik dan


masuknya merozoit ke dalam sirkulasi darah. Demam
menyebabkan

terjadinya

vasodilatasi

perifer

yang

mungkin juga disebabkan oleh bahan vasoaktif yang

38

diproduksi oleh parasit. Setelah merozoit masuk dan


menginfeksi aritrosit yang baru, demam turun dengan
cepat

sehingga

penderita

merasa kepanasan

dan

berkeringat banyak. Anemia disebabkan oleh destruksi


eritrosit yang

berlebihan,

hemolisis

autoimun,

dan

gangguan eritropoesis. Diduga terdapat toksin malaria


yang

menyebabkan

gangguan

fungsi

eritrosit

dan

sebagian eritrosit pecah saat melalui limpa keluarlah


parasit (Soegijanto, 2004).
Splenomegali disebabkan oleh adanya peningkatan
jumlah eritrosit yang terinfeksi parasit sehingga terjadi
aktivasi sistem RES untuk memfagositosis eritrosit baik
yang terinfeksi parasit maupun yang tidak. Kelainan
patologik pembuluh darah kapiler disebabkan karena
eritrosit yang terinfeksi menjadi kaku dan lengket,
perjalanannya

dalam

kapiler

terganggu,

sehingga

melekat pada endotel kapiler, menghambat aliran kapiler,


timbul hipoksia/anoksia jaringan. Juga terjadi gangguan
integritas

kapiler

sehingga

terjadinya

perembesan

plasma. Monosit/makrofag merupakan partisipan seluler


terpenting dalam fagositosis eritrosit yang terinfeksi
(Soegijanto, 2004).

39

2.1.5 Manifestasi Klinis


Gejala-gejala penyakit malaria dipengaruhi oleh
daya pertahanan tubuh penderita, jenis plasmodium
malaria, serta jumlah parasit yang menginfeksinya.
Umumnya,

gejala

yang

disebabkan

Plasmodium

falciparum lebih berat dan lebih akut dibandingkan


dengan jenis plasmodium lain, sedangkan gejala yang
disebabkan oleh Plasmodium malariae dan Plasmodium
ovale paling ringan. Gambaran khas dari penyakit malaria
adalah demam yang periodik, pembesaran limpa (disebut
splenomegali), dan anemia (turunnya kadar hemoglobin
dalam darah) (Prabowo, 2004).
2.1.5.1. Malaria ringan
a. Demam
Biasanya sebelum timbul demam,
penderita malaria akan mengeluh lesu, sakit
kepala, nyeri pada tulang dan otot, kurang
nafsu makan, rasa tidak enak pada perut,
diare ringan, dan kadang-kadang merasa
dingin di punggung. Umumnya, keluhan
seperti

itu

timbul

pada

malaria

disebabkan oleh Plasmodium

yang

vivax dan

Plasmodium ovale sedangkan malaria yang

40

disebabkan oleh Plasmodium falciparum dan


Plasmodium

malariae

keluhan-keluhan

tersebut tidak jelas. Demam pada penyakit


malaria bersifat periodik dan berbeda-beda
waktunya,

tergantung

penyebabnya.
menyebabkan

dari

plasmodium

Plasmodium
malaria

tertian

vivax
yang

demamnya timbul teratur tiap tiga hari.


Plasmodium malariae menyebabkan quartana
yang demamnya timbul teratur tiap 4 hari dan
Plasmodium

falciparum

menyebabkan

malaria tropika dengan demam yang timbul


secara tidak teratur tiap 24 - 48 jam.
Beberapa stadium demam yang khas pada
malaria:
1) Stadium menggigil
Dimulai dengan perasaan kedinginan
hingga menggigil. Pada saat menggigil,
seluruh

tubuhnya

menggigil,

denyut

nadinya cepat, tetapi lemah, bibir dan jarijari tangannya biru, serta kulitnya pucat.
Pada anak-anak sering disertai dengan
kejang-kejang. Stadium ini berlangsung 15

41

menit sampai satu jam yang diikuti dengan


meningkatnya suhu badan.
2) Stadium puncak dalam
Penderita yang sebelumnya merasa
kedinginan berubah menjadi panas sekali.
Wajah penderita merah, kulit kering dan
terasa panas seperti terbakar, frekuensi
pernapasan meningkat, nadi penuh dan
berdenyut keras, sakit kepala semakin
hebat,

muntah-muntah,

kesadaran

menurun, sampai timbul kejang (pada


anak-anak). Suhu badan bisa mencapai
400c. Stadium ini berlangsung selama dua
jam

atau

lebih

yang

diikuti

dengan

keadaan berkeringat.
3) Stadium berkeringat
Penderita

berkeringat

diseluruh

tubuhnya hingga tempat tidurnya basah.


Suhu badan turun dengan cepat, penderita
merasa sangat lelah, dan sering tertidur.
Stadium ini berlangsung 2 - 4 jam.

42

b. Pembesaran limpa
Pembesaran limpa merupakan gejala
khas pada malaria kronis atau menahun.
Limpa menjadi bengkak dan terasa nyeri.
Limpa membengkak akibat penyumbatan oleh
sel-sel

darah

merah

yang

mengandung

parasit malaria. Lama-lama, konsistensi limpa


menjadi keras karena jaringan ikat pada limpa
semakin bertambah. Dengan pengobatan
yang baik, limpa berangsur normal kembali.
c. Anemia
Gejala anemia berupa badan terasa
lemas, pusing, pucat, penglihatan kabur,
jantung berdebar-debar dan kurang nafsu
makan. Anemia yang paling berat adalah
anemia yang disebabkan oleh Plasmodium
falciparum.
2.1.5.2 Malaria Berat
Malaria berat adalah penyakit akibat infeksi
Plasmodium falciparum yang disertai dengan
gangguan

di

berbagai

sistem/organ

tubuh

(Prabowo, 2004). Beberapa komplikasi malaria


berat:

43

a. Malaria serebral
Malaria

serebral

adalah

malaria

falciparum yang disertai kejang-kejang dan


koma, tanpa penyebab lain dari koma. Diduga
penyebabnya

adalah

sumbatan

kapiler

pembuluh darah otak oleh sel darah merah


yang mengandung parasit malaria sehingga
otak kekurangan oksigen (anoksia otak).
Gejala yang timbul adalah sakit kepala dan
merasa mengantuk, gangguan kesadaran,
kelainan saraf dan kejang-kejang. Gangguan
penurunan tingkat kesadaran bisa berupa
gangguan ringan (seperti apatis, somnolen,
delirium dan perubahan tingkah laku) sampai
berat (berupa keadaan koma yang tidak bisa
dibangunkan). Biasanya koma pada anakanak berlangsung satu hari, sedangkan pada
orang dewasa bisa 2 - 3 hari.
b. Gagal ginjal akut
Gangguan

pada

ginjal

diduga

diakibatkan oleh sumbatan pada kapiler darah


ginjal

oleh

parasit

malaria

sehingga

menyebabkan penurunan aliran darah ke

44

ginjal. Akibatnya terjadi penurunan filtrasi


pada glomerolus ginjal. Komplikasi gagal
ginjal

akut

dapat

menimbulkan

asidosis

metabolik, hiperusemia (peningkatan kadar


asam urat dalam darah), gagal jantung
kongestif, aritmia jantung (gangguan irama
jantung), dan perikarditis (peradangan pada
perikardium jantung).
c. Demam kencing hitam (black water fever)
Black water fever adalah sindroma
dengan gejala serangan yang akut, berupa
demam, menggigil, penurunan tekanan darah,
hemolisis (penghancuran sel darah merah),
intravaskuler,
darah

hemoglobinuria

dalam

Biasanya,

urine),

penderita

dan

(terdapatnya
gagal

ginjal.

mengeluh

nyeri

pinggang, muntah, diare, gangguan berkemih


dan kencing yang berwarna hitam. Penyebab
masalah ini belum diketahui secara pasti,
mungkin disebabkan oleh sumbatan dan
gangguan mikrosirkulasi di ginjal.

45

d. Anemia berat
Anemia

berat

timbul

akibat

penghancuran sel darah merah yang cepat


dan hebat. Anemia berat lebih sering dijumpai
pada penderita anak-anak. Anemia berat
sering memberikan gejala serebral, seperti
tampak bingung, kesadaran menurun sampai
koma, serta gejala-gejala gangguan jantungparu.
e. Gangguan fungsi hati
Pada

gangguan

fungsi

hati

akibat

infeksi malaria falciparum, timbul ikterus


(warna kekuningan pada kulit, selaput lender,
mata dan mukosa) akibat peningkatan kadar
bilirubin dalam darah. Gangguan fungsi hati
dapat menyebabkan hipoglikemia, asidosis
metabolik dan gangguan metabolisme obat di
dalam tubuh.
f. Komplikasi lain
Malaria berat juga dapat menimbulkan
komplikasi lainnya,
pendarahan

46

seperti edema paru,

spontan,

hiperpireksia

(suhu

tubuh di atas 410c) dan sepsis (infeksi yang


mengenai seluruh tubuh).

2.1.6 Penilaian Situasi Malaria


Situasi malaria di suatu daerah dapat ditentukan
melalui kegiatan surveilans (pengamatan) epidemiologi.
Surveilans epidemiologi adalah pengamatan yang terusmenerus atas distribusi dan kecendrungan suatu penyakit
melalui pengumpulan data yang sistematis agar dapat
ditentukan penanggulangan yang tepat. Pengamatan
dapat dilakukan secara rutin melalui PCD (Passive Case
Detection) oleh fasilitas kesehatan seperti Puskesmas
dan Rumah Sakit atau ACD (Active Case Detection) oleh
petugas khusus atau seperti PMD (Pembantu Malaria
Desa) di Jawa Bali. Di daerah luar Jawa-Bali tidak pernah
mengalami program pembasmian malaria dan tidak
mempunyai PMD sehingga pengamatan rutin tidak bisa
dilaksanakan, penularan malaria dilakukan melalui survey
malariometrik (MS), mass blood survey (MBS), mass
fever survey (MFS) (Harijanto, 2000).
Pengamatan Rutin Malaria menggunakan parameter
sebagai berikut (Harijanto, 2000):

47

1. Annual Parasite Incidence (API) adalah kasus yang


dikonfirmasikan

dalam

tahun

dibagi

jumlah

penduduk daerah tersebut X 1000. Kasus malaria


ditemukan melalui ACD dan PCD dan dikonfirmasikan
dengan pemeriksaan mikroskopik.
2. Annual Blood Examination Rate (ABER) adalah jumlah
sediaan darah diperiksa dibagi penduduk yang diamati
X 100. ABER merupakan ukuran dari efisiensi
operasional. ABER diperlukan untuk menilai API.
Penurunan API yang disertai penurunan ABER belum
tentu berarti penurunan insidens. Penurunan API
berarti penurunan insidens bila ABER meningkat.
3. Slide Positivety Rate (SPR) merupakan persentase
sediaan darah yang positif. Seperti penilaian API, SPR
baru bermakna bila ABER meningkat.
4. Parasite Formula (PF) adalah proporsi dari tiap parasit
di suatu daerah. Spesies yang mempunyai PF tertinggi
disebut spesies yang dominan. Interpretasi dari
masing-masing dominansi adalah sebagai berikut:
a. Plasmodium falciparum dominan:
1)

Penularan masih baru/belum lama

2)

Pengobatan kurang sempurna/rekrudesensi

48

b. Plasmodium Vivax dominan:


1) Transmisi dini yang tinggi dengan vektor yang
paten (gametosit Plasmodium vivax timbul pada
hari

ke

parasitemia,

sedangkan

Plasmodium falciparum baru pada hari ke 8).


2) Pengobatan radikal kurang sempurna sehingga
timbul rekurens.
c. Plasmodium Malariae dominan:
1) Kita berhadapan dengan vektor yang berumur
panjang
siklus

(Plasmodium
sporogoni

malariae

yang

mempunyai

paling

panjang

dibandingkan spesies lain).


5. Penderita demam/klinis malaria unit-unit kesehatan
yang belum mempunyai fasilitas laboratorium dan
mikroskopis dapat melakukan pengamatan terhadap
penderita demam atau gejala klinis malaria. Nilai data
akan meningkat bila disertai pemeriksaan sediaan
darah (dapat dikirim ke laboratorium yang terdekat).
Hasil

pengamatan

pengunjung

ke

Puskesmas

atau

dinyatakan

unit

dengan

kesehatan

Puskesmas

proporsi

tersebut

(mis.

Pembantu)

yang

menderita demam atau gejala klinis malaria. Meskipun


hasilnya tidak sebaik penggunaan parameter a sampai

49

dengan d proporsi yang meningkat sudah bisa


menunjukkan kemungkinan adanya wabah/kejadian
luar biasa dan mengambil tindakan yang diperlukan.
Survei Malariometrik (MS) biasanya dilakukan di
daerah

yang

belum

mempunyai

program

penanggulangan malaria yang teratur, terutama di luar


Jawa-Bali. Pada MS dapat dikumpulkan parameter
sebagai berikut (Harijanto, 2000):
1. Parasite Rate (PR)
Parasite Rate adalah presentase penduduk yang
darahnya mengandung parasit malaria pada saat
tertentu. Kelompok umur yang dicakup biasanya
adalah golongan umur 2 - 9 tahun dan 0 - 1 tahun.
PR kelompok 0 - 1 tahun mempunyai arti khusus
dan disebut Infant Parasite Rate (IPR) dan
dianggap

sebagai

indeks

transmisi

karena

menunjukkan adanya transmisi lokal.


2. Spleen Rate (SR)
Spleen

Rate

menggambarkan

persentase

penduduk yang limpanya membesar, biasanya


golongan umur 2 - 9 tahun. Besarnya limpa
dinyatakan berdasarkan klasifikasi Hacket sebagai
berikut:

50

o H.0: Tidak teraba (pada inspirasi maksimal)


o H.1: teraba pada inspirasi maksimal
o H.2: teraba pada proyeksinya tidak melebihi
garis

horizontal

yang

ditarik

melalui

pertengahan arcus costae dan umbilicus pada


garis mamilaris kiri.
o H.3: teraba di bawah garis horizontal melalui
umbilicus
o H.4:

teraba

di

bawah

garis

horizontal

pertengahan umbilicus-symphisis pubis


o H.5: teraba di bawah garis H.4
3. Average Enlarged Spleen (AES)
Average

Enlarged

Spleen

adalah

rata-rata

pembesaran limpanya dapat diraba. Index ini


diperoleh

dengan

mengalikan

jumlah

limpa

(menurut Hacket) dengan pembesaran limpa pada


suatu golongan umur tersebut. AES bermanfaat
untuk

mengukur

keberhasilan

suatu

program

pemberantasan. AES menurun lebih cepat dari


pada SR bila endemitas menurun. (Harijanto,
2000).

51

2.1.7 Pemberantasan dan Pencegahan


2.1.7.1 Pemberantasan
Tujuan dari pemberantasan malaria adalah
menurunkan

angka

kesakitan

dan

kematian

sedemikian rupa sehingga penyakit ini tidak lagi


merupakan

masalah

kesehatan

masyarakat.

Antara tahun 1959 dan 1968 Indonesia, sesuai


dengan

kebijaksanaan

WHO

(World

Health

Organization) yang diputuskan dalam WHA (World


Health Assembly) 1955, melaksanakan program
pembasmian

malaria

pembasmian

ini

di

pada

Jawa-Bali.

Program

permulaannya

sangat

berhasil, namun kemudian mengalami berbagai


hambatan baik yang bersifat administratif maupun
teknis operasional, sehingga pada tahun 1969
ditinjau

kembali

oleh

WHA.

Meskipun

pembasmian tetap menjadi tujuan akhir, cara-cara


yang ditempuh disesuaikan dengan keadaan dan
kemampuan masing-masing negara dan wilayah
(Harijanto, 2000).

52

Tabel

2.1:
Perbedaan
antara
program
pembasmian dan pemberantasan
malaria

No
1.

Keterangan
Tujuan

Pembasmian
Menghentikan
transmisi
malaria
dan
menghilangkan
reservoir malaria

2.

Jangkauan

3.

Waktu

4.

Biaya

5.

Manajemen/s
tandard
pengelolaan
Penemuan
kasus

Seluruh wilayah
yang
mempunyai
transmisi
malaria
Terbatas sekitar 8
tahun
Relatif
besar
namun tidak
terus menerus
Harus sempurna

6.

7.

pengelolaan

Sangat penting /
mutlak
perlu
Harus
membuktikan
tidak
adanya
kasus
indegenous.
ACD mutlak perlu

Pemberantasan
Menurunkan
malaria
sehingga tidak
menjadi
masalah
kesehatan
Tidak
seluruh
wilayah
transmisi
malaria
Tidak terbatas
Relatif
kecil
namun
terus menerus
Harus baik

Sesuai
kemampuan
Harus
membuktikan
tidak
adanya
kasus
indigenous.
ACD
mutlak
perlu

(Sumber: Harijanto, 2000)


Pembasmian malaria berlangsung dalam 4 fase
(Harijanto, 2000):
1. Fase

persiapan:

pengenalan

wilayah,

penyediaan tenaga, bahan, alat, kendaraan.


53

2. Fase

penyerangan:

penyemprotan

rumah

dengan insektisida yang mempunyai efek


residual disertai dengan PCD dan ACD.
3. Fase konsplidasi: fase ini dimulai bila API
(Annual Parasite Incindence) kurang dari 1%.
Kegiatan terpenting ialah PCD dan ACD. Fase
ini berakhir selama 3 tahun berturut-turut tidak
ditemukan lagi kasus malaria indigenous.
4. Fase pemeliharaan (maintenance): Fase ini
dapat

berjalan

beberapa

tahun

untuk

mempertahankan hasil yang dicapai sampai


dinyatakan bebas malaria oleh tim WHO
setelah beberapa syarat dipenuhi antara lain
berfungsinya

suatu

jaringan

pelayanan

kesehatan primer.
Untuk pelaksanaan program pembasmian
malaria dibutuhkan suatu organisasi tersendiri
yang

disebut

KOPEM

Pembasmian Malaria)

(Komando

yang

Operasi

mempunyai unit

sampai di desa. Sejak tahun 1968 KOPEM telah


dibubarkan dan program pemberantasan malaria
diintegrasikan ke dalam pelayanan kesehatan
umum yang ada. Program pemberantasan malaria

54

dapat didefinisikan sebagai usaha terorganisasi


untuk melaksanakan berbagai upaya menurunkan
penyakit dan kematian yang diakibatkan malaria,
sehingga tidak menjadi masalah kesehatan yang
utama.
Berbagai kegiatan yang dapat dijalankan
untuk menanggulangi malaria adalah (Harijanto,
2000):
1) Menghindari atau mengurangi kontak/gigitan
nyamuk

Anopheles,

(pemakaian

kelambu,

penjaringan rumah, repelen, obat nyamuk, dsb)


2) Membunuh

nyamuk

dewasa

(dengan

menggunakan berbagai insektisida)


3) Membunuh jentik (kegiatan antilarva) baik
secara kimiawi (larvisida) maupun biologik
(ikan, tumbuhan, jamur, bakteri)
4) Mengurangi

tempat

perindukan

(source

redution)
5) Pemberian

pengobatan

pencegahan

(profilaksis)
6) Vaksinasi (masih dalam tahap riset dan clinical
trial)

55

Para pengelola kesehatan di setiap tingkat


harus menyesuaikan strategi ini pada tingkat lokal
dan para petugas kesehatan harus mendapat
pendidikan tambahan untuk menghadapi malaria
secara efektif. Direktur Jenderal WHO yang baru
Dr. Gro Harlem Bruntland telah mengambil inisiatif
Roll

Back

Malaria

untuk

meningkatkan

pembangunan pelayanan kesehatan dan kerja


sama intersektoral dalam rangka pemberantasan
malaria (Harijanto, 2000).
2.1.7.2 Pencegahan
Di

Indonesia

usaha

pembasmian

penyakit malaria belum mencapai hasil yang


optimal karena beberapa hambatan, yaitu
tempat

perindukan

nyamuk

malaria

yang

tersebar luas, jumlah penderita yang sangat


banyak,

serta

keterbatasan

sumber

daya

manusia, infastruktur, dan biaya. Oleh karena


itu, usaha yang paling mungkin di lakukan
adalah

usaha-usaha

pencegahan

dan

pemberantasan terhadap penularan parasit.


Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk

56

mencegah dan memberantas penyakit malaria


(Prabowo, 2004).
1. Menghindari gigitan nyamuk malaria
Di

daerah

yang

jumlah

penderitaannya sangat banyak, tindakan


untuk menghindari gigitan nyamuk sangat
penting. Di daerah pedesaan atau pinggiran
kota yang banyak sawah, rawa-rawa, atau
tambak ikan (tempat ideal untuk perindukan
nyamuk

malaria),

disarankan

untuk

memakai baju lengan panjang dan celana


panjang saat keluar rumah, terutama pada
malam hari. Sebaiknya, mereka yag tinggal
di daerah endemis malaria memasang
kawat kasa di jendela dan ventilasi rumah,
serta menggunakan kelambu saat tidur.
Masyarakat juga dapat memakai minyak anti
nyamuk (mosquito repellent) saat tidur di
malam hari untuk mencegah gigitan nyamuk
malaria.

57

2. Membunuh

jentik

dan nyamuk

malaria

dewasa
Untuk membunuh jentik dan nyamuk
malaria dewasa, dapat dilakukan beberapa
tindakan berikut ini:
a. Penyemprotan rumah
Sebaiknya, penyemprotan rumah-rumah
di

daerah

endemis

malaria

dengan

insektisida dilaksanakan dua kali dalam


setahun dengan interval waktu enam
bulan.
b. Larvaciding
Larvaciding

merupakan

kegiatan

penyemprotan rawa-rawa yang potensial


sebagai

tempat

perindukan

nyamuk

malaria.
c. Biological control
Biological

control

adalah

kegiatan

penebaran ikan kepala timah (panchaxpanchax) dan ikan guppy/wader cetul


(Lebistus
genangan

reticulatus)
air

yang

genanganmengalir

dan

persawahan. Ikan-ikan tersebut berfungsi

58

sebagai pemangsa jentik-jentik nyamuk


malaria.
3. Mengurangi

tempat

perindukan

nyamuk

malaria
Tempat perindukan nyamuk malaria
bermacam-macam,

tergantung

spesies

nyamuknya. Ada nyamuk malaria yang


hidup

di

kawasan

pantai,

rawa-rawa,

empang, sawah, tambak ikan, atau hidup di


air bersih pegunungan. Di daerah endemis
malaria,

yaitu

daerah

yang

langganan

terjangkit penyakit malaria, masyarakatnya


perlu

menjaga

kebersihan

lingkungan.

Tambak ikan yang kurang di pelihara harus


di bersihkan, parit-parit di sepanjang pantai
bekas galian yang terisi air payau harus di
tutup, persawahan dengan saluran irigasi,
airnya harus dipastikan mengalir dengan
lancar, bekas roda yang tergenang air atau
bekas

jejak

kaki

hewan

pada

tanah

berlumpur yang berair harus segera di tutup


untuk

mengurangi

tempat

biakan larva nyamuk malaria.

59

perkembang

4. Pemberian obat pencegahan malaria.


Pemberian
(profilaksis)

obat

malaria

pencegahan

bertujuan

untuk

mencegah terjadinya infeksi, serta timbulnya


gejala-gejala penyakit malaria. Orang yang
akan berpergian ke daerah-daerah endemis
malaria

harus

minum

sekurang-kurangnya

obat

antimalaria

seminggu

sebelum

keberangkatannya sampai empat minggu


setelah

orang

tersebut

meninggalkan

daerah endemis malaria. Wanita hamil yang


akan berpergian ke daerah endemis malaria
harus di peringatkan tentang risiko yang
mengancam

kehamilannya.

Sebelum

berpergian, ibu hamil disarankan untuk


berkonsultasi ke klinik atau ke rumah sakit
dan mendapatkan obat antimalaria. Bayi
dan anak-anak

yang berusia di bawah

empat tahun dan hidup di daerah endemis


malaria harus mendapat obat antimalaria
karena tingkat kematian pada bayi/anak
akibat infeksi malaria cukup tinggi.

60

5. Pemberian vaksin malaria


Pemberian vaksin malaria merupakan
tindakan yang diharapkan dapat membantu
mencegah infeksi malaria sehingga dapat
menurunkan angka kesakitan dan angka
kematian akibat infeksi malaria. Sampai saat
ini, usaha untuk menemukan vaksin malaria
yang baik dan efektif masih berjalan dan
dalam tahap penelitian (Prabowo, 2004).

2.1.8 Pengobatan Malaria


2.1.8.1 Prinsip pengobatan
Beberapa prinsip pengobatan malaria adalah
sebagai berikut (Prabowo, 2004):
1) Menemukan penderita malaria sedini mungkin
2) Melakukan pengobatan yang efektif untuk
membasmi parasit malaria dalam darah.
3) Mencegah komplikasi dan kematian.
4) Menemukan dan mengobati reksudensi dan
rekurensi.
a) Reksudensi adalah demam yang timbul
kembali

dalam

kurun

waktu

delapan

minggu sesudah serangan pertama hilang.

61

Hal ini diakibatkan meningkatnya jumlah


parasit dalam darah (disebut juga relaps
jangka pendek).
b) Rekurensi adalah demam yang timbul
kembali dalam kurun waktu 24 minggu
atau lebih sesudah serangan pertama
hilang

akibat

masuknya

parasit

yang

berasal dari hati ke dalam darah (disebut


juga relaps jangka panjang).
5) Mengurangi penularan penyakit malaria.
2.1.8.2. Jenis-jenis pengobatan
Menurut

(Sutisna,

2004)

Ada

beberapa

pengobatan malaria yang ringan yaitu pada:


1) Malaria Vivax, Ovale, dan Malariae.
Serangan akut ketiga jenis malaria ini
diobati dengan klorokuin yang diberikan per
oral. Dosis total per oral untuk orang dewasa
adalah 1.500 mg basa klorokuin (25 mg per kg
BB), yang diberikan selama 3 hari. Hari ke-1
diberikan dengan dosis awal 600 mg, ditambah
300 mg 6 jam kemudian. Pada hari ke-2
(sesudah 24 jam) 300 mg, dan hari ke-3
(sesudah 48 jam) diberikan 300 mg lagi. Dosis

62

per oral untuk anak-anak adalah dosis awal 10


mg/kg BB (tidak melebihi 600 mg), dan dosis
sesudah 24 dan 48 jam masing-masing 5
mg/kg BB.
Untuk penderita malaria vivax dan ovale
yang

tinggal

di

kota

atau

di

daerah

nonendemis, sesudah pemberian klorokuin


diberikan

pengobatan

primakuin.

Untuk

orang

radikal

dengan

dewasa

dosis

primakuin sebesar 15 mg tiap hari selama 14


hari. Dosis primakuin untuk anak-anak adalah
0,3 mg basa/kg BB, diberikan tiap hari selama
14 hari. Primakuin tidak dapat diberikan kepada
wanita hamil, anak-anak di bawah 4 tahun,
penderita rheumatoid arthritis dan penderita
lupus yang aktif.
Untuk malaria vivax dianjurkan untuk
memakai meflokuin dengan dosis tunggal 15
mg/kg BB.
2) Malaria Falciparum
Obat

antimalaria

yang

diberikan

tergantung pada status resistensi Plasmodium

63

Falciparum di daerah tempat malaria itu


didapat (Sutisna, 2004).
a. Daerah dengan Plasmodium Falciparum
sensitif terhadap klorokuin
Klorokuin diminum per oral dengan
dosis total 1.500 mg basa yang diberikan
selama 3 hari, seperti pada malaria vivax
dan spesies lainnya.
b. Daerah dengan Plasmodium Falciparum
resesiten terhadap klorokuin
Malaria Falciparum akut yang resisten
terhadap klorokuin tetapi tanpa komplikasi,
diobati

dengan

berkhasiat

obat

panjang

kombinasi

(long

acting)

sulfa
dan

pirimetamin, yaitu: sulfadoksin 1.500 mg dan


piritemanin 75 mg, yang diberikan sebagai
dosis tunggal (Sutisna, 2004).
Dosis per oral kina untuk anak-anak
adalah 10 mg/kg BB (kina sulfat) 3 kali
sehari diberikan selama 3 7 hari. Dosis
anak-anak >8 tahun untuk tetrasiklin adalah
20 mg/kg BB dibagi 4 dosis dalam sehari.
Diberikan selama 5 7 hari hari, dan untuk

64

doksisiklin 2 mg/kg BB dibagi dua dosis


dalam sehari, diberikan selama 7 hari. Dosis
anak-anak untuk klindamisin adalah 20 40
mg/kg BB, dibagi menjadi tiga dosis dalam
sehari, diberikan selama lima hari. Dosis
meflokuin untuk anak-anak adalah 15 mg
atau 25 mg/kg BB (Sutisna, 2004).
2.1.8.3 Cara pengobatan
Beberapa cara pengobatan penyakit malaria
(Prabowo, 2004):
1. Pengobatan untuk mencegah (profilaksis)
Pemberian obat antimalaria bertujuan untuk
mencegah timbulnya infeksi atau gejalagejala penyakit malaria.
2. Pengobatan terapeutik (kuratif)
Obat

antimalaria

digunakan

untuk

penyembuhan infeksi malaria yang telah ada,


penanggulangan serangan malaria akut, serta
pengobatan radikal.
3. Pengobatan
penularan

65

untuk

mencegah

terjadinya

Pengobatan
infeksi

bertujuan

nyamuk

untuk

atau

mencegah

mempengaruhi

perkembangan sporogoni pada nyamuk.


2.1.8.4 Program pengobatan penyakit malaria dari
pemerintah
Beberapa program pengobatan penyakit malaria
dari pemerintah (Prabowo, 2004):
1. Pengobatan presumtif
Pengobatan ini dilakukan dengan cara
penemuan penderita secara intensif, baik
secara aktif dari rumah ke rumah maupun
secara pasif di unit-unit pelayanan kesehatan
yang ada. Tujuan pengobatan ini adalah
untuk

meringankan

mencegah

gejala

penularan

malaria

selama

dan

penderita

menunggu hasil pemeriksaan laboratorium


darah.

Kepada

tersangka

penderita

malaria,

demam

diberikan

yang

pengobatan

dosis tunggal dengan empat obat tablet


Klorokuin ditambah tablet Primakuin.
2. Pengobatan supresif
Pengobatan ini diberikan pada semua
penderita demam di daerah endemis malaria

66

yang

berobat

di

unit-unit

pelayanan

kesehatan. Jika penderita tinggal di daerah


yang

diduga

Plasmodium

falciparum-nya

telah resisten terhadap Klorokuin. Diberikan


kombinasi empat tablet Klorokuin ditambah
tiga tablet Primakuin secara dosis tunggal.
Jika

penderita

tinggal

di

daerah

yang

Plasmodium falciparum-nya masih sensitif,


hanya

diberikan

empat

tablet

Klorokuin

secara dosis tunggal.


3. Pengobatan radikal
Pengobatan
penderita

di

ini

diberikan

daerah

kepada

nonendemis

dan

penderita dari daerah endemis malaria yang


akan berpergian ke daerah nonendemis
malaria. Tujuannya, membasmi semua infeksi
malaria dan mencegah timbulnya relaps.
Kepada

penderita

diberikan

pengobatan

kombinasi Primakuin dan Klorokuin (jika


Plasmodium falciparum masih sensitif) atau
Sulfadoksin/Pirimetamin

(jika

Plasmodium

falciparum telah resisten terhadap Klorokuin.

67

4. Pengobatan massal
Pengobatan massal diberikan kepada
suatu kelompok penduduk tertentu didaerah
yang endemis malaria. Sasaran pengobatan
bisa

seluruh

penduduk

atau

kelompok

penduduk tidak kebal (seperti bayi, anak


balita, ibu hamil/menyusui, dan pendatang
baru

dari

daerah

yang

nonendemis).

Pengobatan diberikan dua minggu sekali,


minimum dua kali. Dosis obat yang diberikan
sama dengan dosis obat pada pengobatan
supresif.

2.2 Perilaku Kesehatan


2.2.1 Pengertian Perilaku Kesehatan
Perilaku kesehatan adalah tanggapan seseorang
terhadap rangsangan yang berkaitan dengan sakit dan
penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, dan
lingkungan. Respons atau reaksi organisme dapat
berbentuk pasif (respons yang masih tertutup) dan aktif
(respons

terbuka

tindakan

practice/psychomotor)

Contoh

yang

nyata
bentuk

atau
pasif

pengetahuan, persepsi, atau sikap (Sunaryo, 2004).

68

Rangsangan yang terkait dengan perilaku kesehatan


terdiri dari empat unsur, yaitu; sakit dan penyakit, sistem
pelayanan kesehatan, makanan, dan lingkungan.

2.2.2 Aspek-aspek Perilaku Kesehatan


Adapun

aspek-aspek

perilaku

kesehatan

adalah

(Sunaryo, 2004):
2.2.2.1 Perilaku terhadap sakit dan penyakit
Perilaku

tentang

bagaimana

seseorang

menanggapi rasa sakit dan penyakit yang bersifat


respons internal (berasal dari dalam dirinya)
maupun eksternal (dari luar dirinya), baik respons
pasif (pengetahuan, persepsi, dan sikap), maupun
aktif (praktik) yang dilakukan sehubungan dengan
sakit dan penyakit. Perilaku seseorang terhadap
sakit dan penyakit sesuai dengan tingkat-tingkat
pemberian

pelayanan

menyeluruh

atau

sesuai

kesehatan

yang

dengan

tingkat

pencegahan penyakit yaitu:


1) Perilaku

peningkatan

dan

pemeliharaan

kesehatan (health promotion behavior) adalah


perilaku
seseorang

peningkatan
dalam

69

kesehatan,

keadaan

sehat,

apabila
bahwa

kesehatan itu sangat dinamis dan relatif, maka


dari itu orang yang sehatpun perlu diupayakan
supaya mencapai tingkat kesehatan yang
seoptimal mungkin. Sedangkan pemeliharaan
kesehatan adalah perilaku atau usaha-usaha
seseorang untuk memelihara atau menjaga
kesehatan agar tidak sakit.
2) Perilaku

pencegahan

prevention

penyakit

(health

adalah

perilaku

behavior)

pencegahan penyakit agar tidak sakit. Misalnya


tidur

memakai

gigitan

kelambu

nyamuk

malaria,

untuk

mencegah

imunisasi

dan

sebagainya, juga termasuk perilaku untuk tidak


menularkan penyakit kepada orang lain.
3) Perilaku

pencarian

pengobatan

kesehatan

(health seeking behavior) adalah perilaku untuk


melakukan atau mencari pengobatan, misalnya
usaha-usaha mengobati sendiri penyakitnya
atau mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas
kesehatan modern (puskesmas, mantri, dokter
praktek, RS dan sebagainya), maupun ke
fasilitas kesehatan tradisional (dukun, sinshe,
tabib dan paranormal).

70

4) Perilaku

pemulihan

kesehatan

(health

rehabilitation behavior) adalah perilaku yang


berhubungan dengan usaha-usaha pemulihan
kesehatan setelah sembuh dari suatu penyakit.
Misalnya melakukan diet, mematuhi anjurananjuran

dokter

dalam

rangka

pemulihan

kesehatannya.
2.2.2.2 Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan
Perilaku ini adalah respons individu terhadap
sistem pelayanan kesehatan modern maupun
tradisional, meliputi:
1. Respons terhadap fasilitas pelayanan
kesehatan.
2. Respons terhadap cara pelayanan kesehatan.
3. Respons terhadap petugas kesehatan.
4. Respons terhadap pemberian obat-obatan.
Respons

tersebut

terwujud

dalam

pengetahuan, persepsi, sikap, dan penggunaan


fasilitas, petugas maupun penggunaan obatobatan.
2.2.2.3 Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior)
Perilaku ini adalah respons individu terhadap
makanan. Perilaku ini meliputi pengetahuan,

71

persepsi, sikap dan praktik terhadap makanan


serta unsur-unsur yang terkandung di dalamnya
(gizi,

vitamin),

dan

pengelolaan

makanan

sehubungan kebutuhan tubuh kita.


2.2.2.4Perilaku

terhadap

lingkungan

kesehatan

(environmental behavior)
Perilaku ini adalah respons individu terhadap
lingkungan sebagai determinant (faktor penentu)
kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini sesuai
lingkup kesehatan lingkungan, yaitu:
1. Perilaku terhadap air bersih, meliputi manfaat
dan penggunaan air bersih untuk kepentingan
kesehatan
2. Perilaku sehubungan dengan pembuangan air
kotor atau kotoran. Di sini menyangkut pula
hygiene,

pemeliharaan,

teknik,

dan

penggunaannya.
3. Perilaku sehubungan dengan pembuangan
limbah, baik limbah cair maupun padat. Dalam
hal ini termasuk sistem pembuangan limbah
yang tidak baik.

72

4. Perilaku sehubungan dengan rumah yang


sehat. Rumah sehat menyangkut ventilasi,
pencahayaaan, lantai, dan sebagainya.
5. Perilaku terhadap pembersihan sarang-sarang
vektor.

2.2.3 Klasifikasi Perilaku Kesehatan


Klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan
adalah (Sunaryo, 2004):
a. Perilaku kesehatan (health behavior), yaitu perilaku
individu yang ada kaitannya dengan health promotion,
health prevention, personal hygiene, memilih makanan
dan sanitasi.
b. Perilaku sakit (illness behavior), yaitu semua aktivitas
yang di lakukan oleh individu yang merasa sakit untuk
mengenal keadaan kesehatan atau rasa sakitnya,
pengetahuan

dan

kemampuan

individu

untuk

mengenal penyakit, pengetahuan dan kemampuan


individu tentang penyebab penyakit, dan usaha-usaha
untuk mencegah penyakit.
c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior), yaitu
segala aktivitas individu yang sedang menderita sakit
untuk

memperoleh

73

kesembuhan,

mengenal/mengetahui
pelayanan

fasilitas

penyembuhan

mengetahui

hak

atau

penyakit

(misalnya:

sasaran

yang

hak

layak,

memperoleh

perawatan, dan pelayanan kesehatan).

2.2.4 Faktor-faktor yang Menyebabkan Perilaku Kesehatan


Perilaku sakit adalah segala bentuk tindakan yang
dilakukan

oleh

memperoleh

individu

yang

kesembuhan.

sedang

Perilaku

sakit

sakit

agar

menurut

Suchman adalah tindakan untuk menghilangkan rasa


tidak enak atau rasa sakit sebagai akibat dari timbulnya
gejala tertentu. Perilaku sehat adalah tindakan yang di
lakukan individu untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatannya,

termasuk

pencegahan

penyakit,

perawatan kebersihan diri dan penjagaan kebugaran


melalui olahraga dan makanan bergizi (Sunaryo, 2004).
a. Penyebab perilaku sakit
Penyebab perilaku sakit itu sebagai berikut:
1. Di kenal dan dirasakannya tanda dan gejala yang
menyimpang dari keadaan normal.
2. Anggapan

adanya

menimbulkan bahaya.

74

gejala

serius

yang

dapat

3. Gejala penyakit dirasakan akan menimbulkan


dampak terhadap hubungan dengan keluarga,
hubungan kerja, dan kegiatan kemasyarakatan.
4. Frekuensi dan persisten (terus-menerus, menetap)
tanda dan gejala yang dapat dilihat.
5. Kemungkinan individu untuk terserang penyakit.
6. Adanya informasi, pengetahuan, dan anggapan
budaya tentang penyakit.
7. Adanya

kebutuhan

untuk

mengatasi

gejala

penyakit.
8. Tersedianya berbagai saran pelayanan kesehatan
seperti fasilitas, tenaga, obat-obatan, biaya dan
transportasi.

2.3 Masyarakat Desa Pondok


2.3.1 Kondisi Masyarakat di Desa Pondok
2.3.1.1 Kondisi Fisik
Kondisi fisik dilihat dari potensi prasarana
dan sarana transportasi darat panjang jalan tanah
yang baik 10 km, panjang jalan sirtu 12 km.
Sedangkan prasarana dan sarana berupa alat
komunikasi seperti telepon umum tidak ada karena
untuk listrik sendiri belum ada di Desa Pondok

75

hanya beberapa anggota keluarga saja yang


menggunakan generator. Anggota keluarga yang
menggunakan lampu pelita sebanyak 185 keluarga
(Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah, 2010).
2.3.1.2 Kondisi Ekonomi
Adapun kondisi ekonomi warga di Desa
Pondok adalah petani 817 orang, pegawai negri
sipil 46 orang, pembantu rumah tangga 201 orang,
pensiunan PNS 5 orang. Sedangkan jumlah
pengangguran untuk warga di Desa Pondok yang
berusia 18 - 56 tahun sebanyak 544 orang,
penduduk usia 18 - 56 yang bekerja penuh 541
orang, penduduk usia 18-56 tahun yang cacat dan
tidak bekerja sebanyak 3 orang. Selain itu dari segi
sektor industri kecil dan kerajinan rumah tangga,
montir 2 orang, tukang batu 5 orang, tukang kayu
12 orang, tukang rias 8 orang. Selanjutnya asset
perumahan yaitu rumah menurut dinding, tembok 2
rumah, kayu 4 rumah, bambu 168 rumah. Menurut
lantai, semen 2 rumah, kayu 5 rumah, tanah 167
rumah. Sedangkan rumah menurut atap, seng 26
rumah, daun ilalang 148 rumah (Pemerintah
Kabupaten Sumba Tengah, 2010).

76

2.3.1.3 Kondisi Pendidikan


Tingkat pendidikan warga di Desa Pondok
usia 3 - 6 yang belum masuk TK 143 orang, usia 7
18 tahun yang tidak pernah sekolah 1 orang,
yang sekolah 183 orang, usia 18 56 tahun tidak
pernah sekolah 2 orang, usia 18 56 tahun pernah
SD tapi tidak tamat 17 orang, tamat SD/sederajat
567 orang, usia 12 56 tahun yang tidak tamat
SLTP 63 orang, usia 18 56 tahun tidak lulus SLTA
25 orang, tamat SMP/sederajat 69 orang, tamat
SMA/sederajat 28 orang, tamat D3/sederajat 2
orang, tamat s1 5 orang, tamat SLB A 9 orang,
tamat SLB B 13 orang dengan jumlah keseluruhan
1.127 orang dengan tingkat pendidikannya masingmasing. Selain itu tingkat pendidikan aparat Desa
Pondok yaitu kepala desa S 6 B, sekretaris desa
D3, kepala urusan pemerintahan SMA, kepala
urusan pembangunan SMA, kepala urusan umu
SMP (Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah,
2010).
2.3.1.4 Kondisi Kesehatan
Kondisi kesehatan untuk warga di Desa
Pondok itu sendiri dimulai dari gangguan mental

77

dan cacat fisik tuna rungu 5 orang, tuna wicara 3


orang, tuna netra 4 orang, lumpuh 3 orang,
sumbing 1 orang, cacat fisik 2 orang sedangkan
cacat mental/gila 1 orang dan kebiasaan berobat
bila sakit, menggunakan obat tradisional dari dukun
pengobatan alternatif. Selain itu dari segi perilaku
hidup bersih dan sehat jumlah keluarga yang
memiliki WC yang kurang sesuai standar kesehatan
adalah 238 keluarga dan kebiasaan pola makan
penduduk 1 - 2 kali sehari. Adapun perkembangan
sarana dan prasarana kesehatan warga Desa
Pondok

yaitu

dengan

jumlah

posyandu

berdasarkan hasil penelitian dokumen adalah 3


unit, jumlah kader posyandu aktif 15 orang, jumlah
pembina posyandu 3 orang. Sedangkan tempat
persalinan rumah bersalin 1 unit, tempat persalinan
polindes 1 unit. Selanjutnya pertolongan persalinan
oleh dokter 4 orang, oleh bidan 2 orang, oleh
perawat 2 orang, dan ditolong oleh dukun bersalin 3
orang.
Cakupan imunisasi untuk bayi berusia 2
bulan yaitu 4 orang, bayi 2 bulan imunisasi DPT-1,
BCG, Polio-1 yaitu 3 orang, usia 3 bulan 3 orang,

78

dan bayi 3 bulan yang imunisasi DPT-2 dan Polio-2


yaitu 2 orang (Pemerintah Kabupaten Sumba
Tengah, 2010).

2.3.2 Malaria pada Masyarakat di Desa Pondok


Saat ini, malaria di Desa Pondok sudah mulai
menurun. Tidak hanya malaria saja tetapi ada juga filaria.
Malaria pada Masyarakat di Desa Pondok untuk tahun
2008 2009 meningkat dengan cepat yaitu 684 orang
menjadi 1.029 orang. Sedangkan jumlah penderita
malaria pada tahun 2011 belum diketahui jumlahnya
secara pasti karena belum ada data jumlah penderita
malaria setiap bulan. Kondisi lingkungan tempat tinggal
warga Desa Pondok sangat memicu tingginya angka
kejadian malaria. Karena sekitar rumah warga berada
diantara hutan, sungai dan tidak jauh dari persawahan.
Selain itu kurangnya pengetahuan masyarakat juga
mempengaruhi tingginya malaria. Karena dilihat dari
tingkat pendidikan di Desa Pondok masih rendah.
Kurangnya

kesadaran

kebersihan lingkungan.

79

dari

warga

untuk

menjaga

2.4 Perilaku Kesehatan terhadap Malaria pada Masyarakat di


Desa Pondok
Munculnya tanggapan seseorang dalam menanggapi
rasa sakit dan penyakit dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
respons internal (berasal dari dalam diri) maupun eksternal
(dari luar dirinya), respon pasif (pengetahuan, persepsi dan
sikap), maupun aktif (praktik) yang dilakukan sehubungan
dengan sakit dan penyakit (Sunaryo, 2004). Faktor internal
seperti dari dalam diri, intelegensia, minat, kondisi fisik
sedangkan faktor eksternal faktor dari luar diri misalnya,
keluarga, masyarakat, sarana. Pengetahuan merupakan hasil
dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Sikap merupakan
reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Praktik atau tindakan
diperlukan

faktor

pendukung

atau

suatu

kondisi

yang

memungkinkan antara lain fasilitas dan faktor dukungan


(support). (Bloom, 2009 dalam Notoatmodjo, 2003).
Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang
atau organisme terhadap stimulus atau objek yang berkaitan
dengan sakit atau penyakit, sistem pelayanan kesehatan,
makanan dan minuman serta lingkungan. (Dinas Kesehatan
Polewali Mandar, 2008).

80

Perilaku peningkatan dan pemeliharaan kesehatan


(health promotion behavior) adalah perilaku peningkatan
kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sehat, bahwa
kesehatan itu sangat dinamis dan relatif, maka dari itu orang
yang sehatpun perlu diupayakan supaya mencapai tingkat
kesehatan yang seoptimal mungkin. Sedangkan pemeliharaan
kesehatan adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk
memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit. Upayaupaya yang dilakukan dalam meningkatkan dan memelihara
kesehatan seperti makan-makanan bergizi, olahraga dan
sebagainya (Sunaryo, 2004).
Perilaku

pencegahan

penyakit

(health

prevention

behavior) adalah perilaku pencegahan penyakit agar tidak


sakit, misalnya tidur memakai kelambu untuk mencegah gigitan
nyamuk malaria, imunisasi dan sebagainya, juga termasuk
perilaku untuk tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
Perilaku pencegahan penyakit (health prevention) adalah
respon untuk melakukan pencegahan penyakit dan upaya
mempertahankan

dan

meningkatkan

kesehatannya/segala

tindakan secara medis direkomendasikan, dilakukan secara


sukarela oleh seseorang yang percaya dirinya sehat dan
bermaksud untuk mencegah penyakit atau ketidakmampuan
atau untuk mendeteksi penyakit yang tidak tampak nyata

81

(asimptomatik). Pada proses pencegahan dapat dilakukan


dalam dua bentuk medis dan non medis. Contoh pencegahan
secara medis yaitu imunisasi, makan makanan bergizi yang
mengandung kebutuhan tubuh. Contoh pencegahan NonMedis yaitu olahraga teratur, tidak merokok, tidak minum
minuman keras dan alkohol, istirahat yang cukup. Selain itu
perilaku dan gaya hidup yang positif bagi kesehatan (misalnya,
adaptasi dengan lingkungan) (Notoatmodjo, Soekidjo, 2010).
Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau
fasilitas pelayanan kesehatan, atau sering disebut perilaku
pencarian pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini
adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat
menderita penyakit atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini
dimulai dari mengobati sendiri (self treatment) sampai mencari
pengobatan ke luar negeri (Notoatmodjo, Soekidjo, 2003).
Menurut Sunaryo, 2004 perilaku pencarian pengobatan
kesehatan (health seeking behavior) juga merupakan perilaku
untuk melakukan atau mencari pengobatan, misalnya usahausaha mengobati sendiri penyakitnya atau mencari pengobatan
ke fasilitas-fasilitas kesehatan modern (Puskesmas, mantri,
dokter praktek, RS dan sebagainya), maupun ke fasilitas
kesehatan tradisional (dukun, sinshe, tabib dan paranormal).
Seseorang ketika ia menderita sakit akan mencari pengobatan

82

untuk mencegah dan mengobati penyakit dideritanya, baik


dengan cara medis ataupun nonmedis. Sehingga dengan cara
tersebut akan membantu seseorang untuk sembuh dari
penyakitnya.
Setelah sembuh dari sakit seseorang akan berusaha
untuk menjaga kesehatan agar tetap sehat dan terhindar dari
penyakit. Oleh karena itu, seseorang akan memperhatikan dan
melakukan upaya-upaya yang berhubungan dengan perilaku
pemulihan kesehatan (health rehabilitation behavior) yaitu
perilaku yang berhubungan dengan usaha-usaha pemulihan
kesehatan setelah sembuh dari suatu penyakit. Misalnya
melakukan diet, mematuhi anjuran-anjuran dokter dalam
rangka pemulihan kesehatannya. Hal-hal tersebut dilakukan
agar tehindar dari penyakit (Sunaryo, 2004).

83