Anda di halaman 1dari 52

Pembimbing: dr. Mono V. Yohanis, Sp.

OG

Presenter: Suhardimansyah

IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
Usia

Alamat
Status Pernikahan
Pekerjaan
Pendidikan Terakhir
Tanggal Masuk RS

: Ny. EN
: Perempuan
: 26 tahun
: Landono
: Sudah menikah
: IRT
: SMA
: 18 September 2014

ANAMNESA
Keluhan Utama

Keluar darah dari jalan lahir.


Keluhan Tambahan

Nyeri kepala, pusing, nyeri ulu hati, mual,


muntah dan penglihatan kabur.

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien GIIPIA0 gravid aterm kiriman Puskesmas Landono,


datang ke Kamar Bersalin RS. Bahteramas Provinsi Sultra
dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak 2 jam
sebelum masuk Rumah Sakit. Menurut pasien, darah yang
keluar berwarna kehitaman dan selalu keluar bersamaan
ketika buang air kecil. Pada awalnya pasien mengalami
pusing, penglihatan kabur, mual dan nyeri ulu hati sejak
7 jam sebelum masuk Rumah Sakit. Kemudian pasien
diukur tekanan darahnya oleh bidan Desa dengan tekanan
darah 150/90 mmHg. Pasien sebelumnya baru mengetahui
tekanan darahnya tinggi selama hamil sejak 2 hari sebelum
masuk Rumah Sakit. Pasien mengeluh keluar air-air saat di
Rumah Sakit pada pukul 08.55 WITA. Pasien mengaku
tidak sadar saat mengalami kejang. Pasien mengatakan
rasa mules-mules, keluar lendir sejak 1 hari sebelum
masuk Rumah Sakit.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien mengaku belum pernah mengalami hal seperti


ini sebelumnya. Riw HT (-). DM (-), Peny. Jtg (-),
asma (-).
Riwayat Penyakit Keluarga(-)

Riwayat Pengobatan
Saat usia kehamilan sekitar 7 bulanan perut pasien

pernah diurut oleh dukun sebanyak 2 kali.


Riwayat Haid
Menarche
: 15 tahun
Dysmenorrhoe
: tidak
Siklus haid
: 28-30 hari
Lama haid
: 6-7 hari
Hari pertama haid terakhir
: 30 Desember 2013
Taksiran persalinan
: 7 Oktober 2014
Riwayat Imunisasi
Tetanus toxoid
: 1 kali

Riwayat Kehamilan

Riwayat Perawatan Antenatal


Pasien rutin melakukan ANC setiap bulan di Posyandu
Riwayat Keluarga Berencana

Pasien tidak pernah menggunakan KB


Riwayat Operasi
Pasien tidak pernah operasi sebelumnya.
Riwayat Kebiasaan dan Sosial Ekonomi
Pasien bersuamikan seorang tukang bengkel. Kesan

kondisi sosial ekonomi kurang.

STATUS INTERNA SINGKAT


Keadaan Umum
Tanda Vital :
Kesadaran
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Pernapasan
Kepala
Bentuk
Rambut
Mata

: Tampak sakit sedang


: GCS E4M6V5
: 130/100 mmHg
: 84x/menit
: 37,3 0C
: 20x/menit

:
: normosefali, simetris
: lebat, warna hitam
: konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-),
pupil bulat, isokor, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya
tidak langsung +/+, eksoftalmus (-), endoftalmus (-), nistagmus
(-).

Telinga

: bentuk normal, simetris, lesi atau cairan keluar

(-)
Hidung
: bentuk normal, deviasi septum (-), sekret (-)
Mulut
: bibir merah muda, mukosa mulut basah,
halitosis
(-)
Leher
: pembesaran KGB (-), pembesaran thyroid (-)
Jantung
: Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop
(-)
Paru
: Suara napas vesikuler, ronchi (-/-), wheezing (/-)
Abdomen
: Buncit, simetris, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-),
organomegali (-), undulasi (+)
Extremitas : oedem (-)

STATUS OBSTETRI
Usia gestasi
Pemeriksaan luar

Inspeksi

: GIIPIA0 gravid aterm


:
: buncit, striae gravidarum (+), linea nigra (+)

Palpasi
Leopold I

: TFU : 2 jbpx
Leopold II
: Kanan : teraba bagian-bagian kecil janin
Kiri : teraba bagian keras seperti papan
Leopold III: teraba satu bagian besar, bulat, keras dan melenting
Leopold IV
: kepala sudah masuk PAP
TBJ
: 2576 gram
His
:Pergerakan janin
: jarang
Auskultasi
: DJJ = 124 x/menit
Pdv
: v/v tak, 2 cm, portio tipis, ket (+), kep HII ,
pelepasan lender dan darah

KRONOLOGIS DI RS BAHTERAMAS
Pukul (05.15)
S : Pasien datang dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak +/- 2 jam SMRS.
O : GCS : E4M5V6
TD
: 130/100 mmHg
HR
: 84 x/menit
RR
: 20 x/menit
T
: 37,3 oC
TFU : 2 jbpx cm
TBJ
: 2756 gram
His : jarang
DJJ
: 124 x/menit)
Leopold I
: TFU : 2 jbpx
Leopold II
: Kanan : teraba bagian-bagian kecil janin
Kiri
: teraba bagian keras seperti papan
Leopold III
: teraba satu bagian besar, bulat, keras dan melenting
Leopold IV
: kepala sudah masuk PAP
pdv : v/v tak, 2 cm, portio tipis, ket (+), kep HII.
A : GIIPIA0 T/H/IU presentasi kepala, partus kala I fase laten dengan preeklamsia berat.
P : (05.45)
Pasang infus 2 jalur
Jalur I : drips oxytosin 5 IU 8 tpm dinaikkan 4 tetes tiap 30 menit maksimal 40 tpm.
Jalur II : Infus RL + MgSO4 40% drip 28 tpm
Bolus MgSO4 10 cc/iv
Pasang kateter

Pukul (08.00)
S : Pasien mengeluh pusing.
O : GCS : E4M5V6
TD : 160/90 mmHg
HR
: 78 x/menit
RR : 18 x/menit
T
: 37,3 oC
His : 3 x 10 (302525)
DJJ
: 126
x/menit)
pdv : v/v tak, 5 cm, portio tipis, ket (+), kep HII.
A : GIIPIA0 T/H/IU presentasi kepala, partus kala I fase
aktif dengan preeklamsia berat.
P : Terapi dilanjutkan

Pukul (08.55)
S : Pasien mengeluh keluar air-air.
O : GCS

: E4M5V6
TD : 150/90 mmHg
HR
: 88 x/menit
RR : 18 x/menit
T
: 37,3 oC
His : 4 x 10 (30303030)
DJJ
: 124 x/menit)
pdv : v/v tak, 9 cm, portio tipis, ket (+), kep HIII.
A : GIIPIA0 T/H/IU presentasi kepala, partus kala I fase
aktif dengan preeklamsia berat.
P : Terapi dilanjutkan

Pukul (09.00)
S : Pasien mengeluh sakit perut dan rasa ingin BAB
O : GCS

: E4M5V6
His : 4 x 10 (30303030)
pdv : v/v tak, lengkap, portio tipis, ket (+), kep HIV.
A : GIIPIA0 T/H/IU presentasi kepala, partus kala I
fase aktif dengan preeklamsia berat.
P : Partus pervaginam

Pukul (09.35)
S : Pasien mulai meneran
O : Bayi lahir spontan, LBK, lilitan 1 kali, pelepasan

darah, tidak menangis, A/S 0


A : PIIA0 dengan preeklamsia berat + IUFD
P : Jepit tali pusat, potong, lakukan resusitasi bayi, cek
fundus, inj. Oxytosin 1 amp/im

Pukul (09.36)
S : Pasien masih mengeluh pusing
O : Tampak storsel keluar bergumpal, placenta lahir

tanpa di PTT, kesan placenta lengkap, perineum


ruptur derajat II, perdarahan +/- 200 cc. TD 170/110,
Nadi 88 kali/menit. BBL 2800 gram, PBL 47 cm.
A : PIIA0 dengan preeklamsia post partum + IUFD
P : Jahit perineum, Nifedipin 3 x 1, Amoxicilin 3 x 1,
Asam Mefenamat 3 x 1, SF 1 X 1, Lanjut MgSO4 40%
drips sampai 24 jam post partum

RESUME
Pasien GIIPIA0 gravid aterm kiriman Puskesmas Landono,
datang ke Kamar Bersalin RS. Bahteramas Provinsi Sultra
dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak 2 jam
sebelum masuk Rumah Sakit. Pusing, penglihatan kabur,
mual dan nyeri ulu hati sejak 7 jam sebelum masuk
Rumah Sakit. Keluar air-air saat di Rumah Sakit pada pukul
08.55 WITA. Pasien mengatakan rasa mules-mules, keluar
lendir sejak 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit. tidak ada
riwayat hipertensi sebelumnya, riwayat hipertensi (-),
riwayat penyakit jantung (-). ANC (+).

Pada pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum :

tampak sakit sedang, kesadaran :GCSE4M6V5, tanda


vital : tekanan darah: 130/100 mmHg, nadi :
84x/menit, suhu : 37,3 0C, pernapasan : 20x/menit,

status obstetri : usia gestasi : GIIPIA0 gravid aterm,

pada pemeriksaan luar : Inspeksi : buncit, striae


gravidarum (+), linea nigra (+), Palpasi : Leopold I :
TFU 2 jbpx, Leopold II : Kanan : teraba bagian-bagian
kecil janin, Kiri : teraba bagian keras seperti papan,
Leopold III : teraba satu bagian besar, bulat, keras dan
melenting, Leopold IV : kepala belum masuk PAP,
TBJ: 2576 gram, His (+) jarang, Pergerakan janin :
jarang, Auskultasi : DJJ = 124 x/menit, pemeriksaan
dalam v/v tak, 2 cm, portio tipis, ket (+), kep HII ,
pelepasan lendir dan darah. Tampak storsel keluar
bergumpal, placenta lahir tanpa di PTT, kesan
placenta lengkap.

DIAGNOSIS MASUK
GIIPIA0 gravid aterm inpartu kala I fase laten +
preeklampsia berat + Solusio Plasenta
PENATALAKSANAAN
Pasang infus 2 jalur
Jalur I : drips oxytosin 5 IU 8 tpm dinaikkan 4 tetes
tiap 30 menit maksimal 40 tpm.
Jalur II : Infus RL + MgSO4 40% 15 cc drips 28 tpm
Bolus MgSO4 40 % 10 cc/iv
Pasang kateter
Partus pervaginam
Planning monitoring
: tanda vital pasien,
denyut jantung janin, kontrol pendarahan

DIAGNOSIS AKHIR : PIIA0 PARTUS ATERM +


SOLUSIO PLASENTA + PREEKLAMSIA BERAT
PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

FOLLOW UP

19/9/2014
S : Pasien mengeluh nyeri perut bagian bawah (+), lemas (+), pusing (+)
O : GCS
: E4M5V6
TD : 140/100 mmHg
HR
: 88 x/menit
RR : 18 x/menit
T
: 37,3 oC
Kontraksi uterus : (+) Baik
TFU : 1 jari dibawah umbilicus
Perdarahan aktif : (-)
Fluksus
: Darah (+)
A : PIIA0 + Solusio plasenta + PEB
P : Nifedipin 3 x 1, As. Mefenamat 3 x 1, Amoxicillin 3 x 1,Bisacodyl supp
II
Observasi kesra ibu dan perdarahan aktif
Anjurkan ibu untuk makan dan minum

20/9/2014
S : Pasien mengeluh nyeri perut bagian bawah (-), lemas (-), pusing (-),

BAB (-), BAK (+).


O : GCS
: E4M5V6
TD : 140/90 mmHg
HR
: 84 x/menit
RR : 18 x/menit
T
: 36,7 oC
Kontraksi uterus : (+) Baik
TFU : 2 jari dibawah umbilicus
Perdarahan aktif : (-)
Fluksus
: Darah (+) <<
A : PIIA0 + Solusio plasenta + PEB
P : Terapi lanjut
Observasi kesra ibu dan perdarahan aktif
Anjurkan ibu untuk makan dan minum

21/9/2014
S : Pasien mengeluh nyeri perut bagian bawah (-), lemas (-),

pusing (-),BAB (+), BAK (+).


O : GCS : E4M5V6
TD : 120/80 mmHg
HR
RR : 18 x/menit
T
Kontraksi uterus : (+) Baik
TFU : 3 jari dibawah umbilicus
Perdarahan aktif : (-)
Fluksus
: Darah (+) <<
A : PIIA0 + Solusio plasenta + PEB
P : Boleh pulang

: 82 x/menit
: 36,2 oC

PREEKLAMSIA
DEFINISI PREEKLAMPSIA

Preeklampsia merupakan suatu diagnosis klinis. Definisi

klasik preeklampsia meliputi tiga elemen, yaitu onset baru


hipertensi pada wanita yang sebelumnya normotensif,
onset baru proteinuria (pada urinalisis bersih tanpa infeksi
traktus urinarius), dan onset baru edema yang bermakna
KLASIFIKASI PREEKLAMSIA
Preeklamsia Ringan
Timbulnya hipertensi 140/90 mmHg sampai < 160/110
mm Hg yang disertai proteinuria (0,3 gr / dalam 24 jam
atau secara kualitatif (+) dan atau edema setelah umur
kehamilan 20 minggu.
Preeklamsia Berat
Timbulnya hipertensi 160 /110 mmHg disertai proteinuria
(> 5 gram / 24 jam atau kualitatif ( +++ ) dan atau edema
pada kehamilan setelah 20 minggu.

INSIDEN DAN FAKTOR RESIKO


PREEKLAMPSIA

Faktor risiko
Riwayat preeklampsia.
Primigravida
Kegemukan

Kehamilan ganda.
Riwayat penyakit tertentu.

ETIOLOGI PREEKLAMPSIA
Peran Prostasiklin dan Tromboksan

Peran Faktor Imunologis


Peran Faktor Genetik/Familial
Peran Renin-Angiotensin-Aldosteron System (RAAS)

PATOFISIOLOGI PREEKLAMPSIA
Iskemia Plasenta
Peningkatan deportasi sel tropoblast yang akan menyebabkan kegagalan invasi
ke arteri sperialis dan akan menyebabkan iskemia pada plasenta.
Mal Adaptasi Imun
Terjadinya mal adaptasi imun dapat menyebabkan dangkalnya invasi sel
tropoblast pada arteri spiralis. Dan terjadinya disfungsi endothel dipicu oleh
pembentukan sitokin, enzim proteolitik, dan radikal bebas.
Genetic Inprenting
Terjadinya preeklampsia dan eklampsia mungkin didasarkan pada gen resesif

tunggal atau gen dominan dengan penetrasi yang tidak sempurna. Penetrasi
mungkin tergantung pada genotip janin.
Perbandingan Very Low Density Lipoprotein (VLDL) dan Toxicity Preventing
Activity (TxPA)
Sebagai kompensasi untuk peningkatan energi selama kehamilan, asam lemak
non-esterifikasi akan dimobilisasi. Pada wanita hamil dengan kadar albumin
yang rendah, pengangkatan kelebihan asam lemak non-esterifikasi dari
jaringan lemak ke dalam hepar akan menurunkan aktivitas antitoksik albumin
sampai pada titik di mana VLDL terekspresikan. Jika kadar VLDL melebihi
TxPA maka efek toksik dari VLDL akan muncul. Dalam perjalanannya keempat
faktor di atas tidak berdiri sendiri, tetapi kadang saling berkaitan dengan titik
temunya pada invasi tropoblast dan terjadinya iskemia plasenta.

DIAGNOSIS PREEKLAMPSIA
Diagnosis dini harus diutamakan bila diinginkan

angka morbiditas dan mortalitas rendah bagi ibu dan


anaknya. Pada umumnya diagnosis preeklampsia
didasarkan atas adanya dua dari trias tanda utama:
hipertensi, edema, dan proteinuria.

PENATALAKSANAAN PREEKLAMPSIA
Preeklamsia Ringan

Rawat Jalan

Cukup istirahat (berbaring/tidur miring).


Diet biasa (tidak perlu diet rendah garam). Diet yang mengandung 2

gram natrium atau 4 6 gram NaCl.


Diet cukup diberikan protein, rendah karbohidrat, lemak, garam
secukupnya, dan roboransia prenatal.
Tidak perlu diberikan obat-obat diuretik, antihipertensi, dan sedatif.
Dilakukan pemeriksaan lab., Hb, hematokrit, fungsi hati urin lengkap,
dan fungsi ginjal.

Rawat Inap
Kriteria rawat inap :

Bila dalam pengobatan 2 minggu tidak ada perbaikan


Cenderung menuju gejala pre-eklampsia berat

Hasil pemeriksaan kesejahteraan janin meragukan atau jelek

(USG)
Pengobatan / evaluasi selama rawat inap :

Tirah baring

Pemeriksaan laboratorium : Hb, hematokrit, urine lengkap, asam

urat darah, trombosit, fungsi hati, fungsi ginjal.


Konsultasi dengan Bagian lain :

SMF Mata
SMF Penyakit Dalam
SMF Penyakit Jantung, dll
Evaluasi hasil pengobatan

Pemeriksaan kesejahteraan janin ( fetal well being )


Bila jelek
: Terminasi kehamilan
Bila ragu
: Ulangi pemeriksaan kesejahteraan janin
Bila baik
:
Usia kehamilan < 37 minggu
Bila tensi normal, persalinan ditunggu sampai aterm.
Bila tensi turun tetapi tidak mencapai normal, kehamilan
dapat diakhiri pada umur kehamilan > 37 minggu.
Usia kehamilan 37 minggu
Bila tensi normal, persalinan ditunggu sampai inpartu.
Bila tensi tidak mencapai normal dilakukan terminasi.
Cara persalinan
Pervaginam bila tidak ada kontra indikasi
Bila perlu mempercepat kala II (Ekstraksi Vakum/Forseps)

Preeklamsia Berat

Perawatan Konservatif
Pengobatan dilakukan di Kamar Bersalin / Ruang Isolasi
Tirah baring dengan miring ke satu sisi (kiri)
5 % Ringer-dextrose atau cairan garam faali jumlah tetesan: < 125
cc/jam atau Infus Dekstrose 5 % yang tiap liternya diselingi dengan
infuse RL (60-125 cc/jam) 500 cc.
Pasang kateter tetap
Pemberian obat anti kejang : Magnesium Sulfat ( MgSo4 )
Langsung berikan loading dose MgSO4 4 g/jam IV (40 % dalam 10 cc)

selama 15 menit.
Maintenance dose: Diberikan infuse dalam Ringer/6 jam; atau
diberikan 4 atau 5 gram i.m. Selanjutnya dosis pemeliharaan diberikan
4 gram i.m. tiap 4-6 jam.
Magnesium sulfat dihentikan bila: ada tanda-tanda intoksikasi, setelah
24 jam pascapersalinan atau 24 am setelah kejang berakhir.

Syarat2 Pemberian MgSO4


Harus tersedia antidotum MgSO4 yaitu Calcium

Glukonas 10% (1 gr dalam 10 cc) diberikan IV pelan (3


menit)
Refleks patella (+) kuat
Frekuensi pernafasan > 16 X / menit

Bila perawatan konservatif gagal dilakukan terminasi.


Induksi persalinan dengan drips Oksitosin bila
Kesejahteraan janin baik
Skor pelvik (Bishop) 5

Operasi Seksio Sesarea bila


Kesejahteraan janin jelek
Skor pelvik ( Bishop ) < 5

SOLUSIO PLASENTA
Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau

keseluruhan plasenta dari implantasi normalnya


(korpus uteri) setelah kehamilan 20 minggu dan
sebelum janin lahir.

KLASIFIKASI SOLUSIO PLASENTA


Trijatmo Rachimhadhi membagi solusio plasenta
menurut derajat pelepasan plasenta
1. Solusio plasenta totalis
2. Solusio plasenta partialis
3. Ruptura sinus marginalis

EPIDEMIOLOGI SOLUSIO
PLASENTA
Tidak ada angka pasti untuk insiden solusio plasenta,
karena adanya perbedaan kriteria dalam menegakkan
diagnosis

Cunningham di Amerika Serikat melakukan penelitian

pada 763 kasus kematian ibu hamil yang disebabkan oleh


perdarahan. Hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Etiologi
Etiologi tidak jelas, satu-satunya hubungan yang relevan adalah
multipara.
Penyebab primer solusio plasenta belum diketahui secara pasti,
namun ada beberapa kondisi yang menjadi predisposisi
1. Hipertensi kronis dan preeklamsia
2. Bertambahnya usia dan paritas ibu
3. Trauma
4. Merokok dan penggunaan kokain
5. Dekompresi uterus yang mendadak
6. Tekanan pada vena kava inferior karena pembesaran uterus.
7. Pernah mengalami solusio plasenta pada kehamilan sebelumnya.
8. Anomali uterus atau tumor uterus
9. Malnutrisi/defisiensi gizi.

PATOGENESIS SOLUSIO PLASENTA

Solusio plasenta dimulai dengan terjadinya


perdarahan ke dalam desidua basalis dan
terbentuknya hematom subkhorionik yang dapat
berasal dari pembuluh darah miometrium atau
plasenta, dengan berkembangnya hematom
subkhorionik terjadi penekanan dan perluasan
pelepasan plasenta dari dinding uterus

GAMBARAN KLINIS SOLUSIO


PLASENTA
Solusio plasenta ringan
Solusio plasenta sedang
Solusio plasenta berat

KOMPLIKASI SOLUSIO PLASENTA


Syok perdarahan
Gagal ginjal
Kelainan pembekuan darah
Fase I (disseminated intravasculer clotting)
Fase II (Fibrinolisis)
Apoplexi uteroplacenta (Uterus couvelaire)

Komplikasi yang dapat terjadi pada


janin
1. Fetal distress dan gangguan
pertumbuhan/perkembangan
2. Hipoksia dan anemia
3. Kematian

DIAGNOSIS SOLUSIO PLASENTA

TERAPI SOLUSIO PLASENTA


Penanganan solusio plasenta didasarkan kepada berat

atau ringannya gejala klinis, yaitu:


a. Solusio plasenta ringan
Ekspektatif, bila kehamilan kurang dari 36 minggu
dan bila ada perbaikan (perdarahan berhenti, perut
tidak sakit, uterus tidak tegang, janin hidup) dengan
tirah baring dan observasi ketat
b. Solusio plasenta sedang dan berat
Apabila tanda dan gejala klinis solusio plasenta jelas
ditemukan, penanganan di rumah sakit meliputi
transfusi darah, amniotomi, infus oksitosin dan jika
perlu seksio sesaria.

PROGNOSIS SOLUSIO PLASENTA


Solusio plasenta ringan masih mempunyai prognosis
yang baik bagi ibu dan janin karena tidak ada
kematian dan morbiditasnya rendah. Solusio plasenta
sedang dan berat prgnosis lebih buruk.

TERIMA KASIH