Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani ( Greek). Epi : di atau ke atas,
demos: manusia atau orang, logos: ilmu. Epidemiologi adalah ilmu tentang
distribusi dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan pada suatu negara atau
kejadian pada populasi khusus, dan aplikasi dari ilmu ini untuk mengatasi masalah
kesehatan. Ilmu ini sebenarnya merupakan ilmu dasar dari ilmu kesehatan
masyarakat.
Meskipun data dari epidemiologi suatu penyakit didapatkan dari populasi
beberapa orang, tetapi ilmu ini harus diketahui oleh para klinisi untuk menentukan
rencana perawatan dari pasien. Dimana diagnosis dari suatu penyakit dapat
ditegakkan berdasarkan:
Apakah penyakit tersebut merupakan kejadian yang sering terjadi?
Apakah keadaan pasien memungkinkan untuk terkena penyakit ini?
Dimana terdapat tanda atau gejala yang mengarah ke suatu penyakit?
Dengan adanya epidemiologi dapat menentukan tentang faktor resiko dari
suatu penyakit sehingga dapat pula ditentukan pencegahan penyakit secara dini.
Sehingga prognosis dari suatu penyakit dapat ditentukan.

Manfaat epidemilogi bagi para klinisi dapat menggunakan data dari


epidemiologi suatu penyakit untuk menegakkan diagnosis, prognosis dan rencana
perawatan dari suatu penyakit.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN
Menurut Clarke, epidemiologi adalah suatu ilmu yang mengkaji faktor-faktor
yang dianggap akan mempengaruhi terjadinya suatu keadaan atau penyakit, serta
menggambarkan sebaran keadaan sehat, berpenyakit, kecacatan ataupun kematian
yang terjadi dalam suatu masyarakat. Ilmu ini mempunyai tiga tujuan:
1. Untuk menentukan jumlah dan distribusi dari suatu penyakit dalam suatu
populasi.
2. Untuk menentukan penyebab penyakit.
3. Untuk mencegah lebih parah suatu penyakit.
Dimana

tujuan

utama

dari

penerapan

ilmu

epidemiologi

untuk

mempertahankan, melindungi dan memperbaiki kesehatan.


Beberapa istilah yang digunakan dalam epidemiologi:
Prevalensi: Jumlah orang dalam suatu populasi yang terkena penyakit dalam
waktu tertentu.
Insidensi: Kecepatan terjadinya penyakit baru di dalam masyarakat dalam waktu
tertentu.
Epidemi: Terjadinya suatu jenis penyakit yang menular dan dapat menyebar ke
tempat lain.

Endemi: suatu penyakit yang terus menerus terdapat di dalam suatu kawasan
geografi tertentu.
Pandemik: suatu epidemik yang terjadi secara meluas dan meliputi beberapa
negara sekaligus di seluruh dunia.

Berdasarkan epidemiologi untuk dapat mempelajari suatu penyakit atau


untuk para klinisi dapat melakukan perawatan suatu penyakit mereka harus dapat
menentukan penyakitnya, dimana membandingkan keadaan ketika sehat dengan
sakit. Proses menentukan jenis penyakit ini disebut dengan diagnosis. Diagnosis
dibuat dengan mengumpulkan informasi dari pasien antara lain: dari tanya jawab
dengan

pasien,

pemeriksaan

klinis,

gambaran

radiografi,

pemeriksaan

laboratorium. Penegakan diagnosis yang tepat sangat berhubungan dengan


rencana perawatan yang akan diambil. Diagnosis yang tepat dan dilanjutkan
dengan rencana perawatan yang mendukung akan mempengaruhi tingkat
kesembuhan penyakit.
Selain diagnosis perlu juga diketahui tentang faktor resiko. Faktor resiko
adalah karakteristik individu yang mempunyai kecenderungan tinggi untuk
terkena suatu penyakit. Proses pengelompokan individu pada kategori orang yang
mempunyai tingkat terkena penyakit tinggi disebut pengukuran faktor resiko.
Dengan adanya faktor resiko dapat ditentukan prognosis dari suatu
penyakit. Prognosis adalah perkiraan tentang perjalanan suatu penyakit

.Berdasarkan jenis-jenis penyakit, pentingnya perjalanan penyakit dapat meliputi:


kematian, bertahan atau kualitas dari jaringan seperti sakit atau cacat.
Penelitian tentang prevalensi penyakit periodontal sudah sering dilakukan
pada berbagai komunitas di seluruh dunia, dan pernah disimpulkan dalam laporan
WHO tahun 1978 yang menyatakan penyakit periodontal merupakan salah satu
penyakit yang paling luas penyebarannya pada manusia. Gingivitis mengenai
lebih dari 80% anak usia muda, sedangkan hampir semua populasi dewasa sudah
pernah mengalami gingivitis, periodontitis atau keduanya.
Untuk mengukur prevalensi penyakit, keparahan dan hubungannya
terhadap faktor-faktor lain misalnya : usia, kebersihan mulut, nutrisi dan
sebagainya, diperkenalkan berbagai macam indeks khusus yang bertujuan untuk
memberikan ukuran yang objektif atau skore bagi tanda-tanda khusus yang
teridentifikasi sehingga dapat dilakukan perbandingan yang dapat diandalkan.
Dengan indeks-indeks ini, peneliti dapat melakukan perbandingan valid misalnya
kondisi periodontal seorang individu dewasa muda di Amerika Serikat dengan
individu penderita penyakit periodontal dari kelompok usia berapapun dan di
daerah manapun di dunia ini.
Teknik yang digunakan dalam dental epidemiologi disebut dengan indeks
epidemiologi, yang secara umum terbagi dua tipe:
1. Mengukur jumlah atau proporsi orang-orang dalam suatu populasi dengan
atau tanpa kondisi khusus pada waktu tertentu.

2. Mengukur jumlah orang yang terkena dan keparahan suatu kondisi khusus
pada waktu tertentu.
INDEKS
Indeks yang digunakan dalam studi masalah periodonsia:
A. Derajat inflamasi dari jaringan gusi.
B. Derajat kerusakan periodontal.
C. Jumlah plak yang berakumulasi.
D. Jumlah kalkulus yang ada.
Indeks kondisi gingiva ditentukan berdasarkan pada warna, perubahan kontur,
perdarahan segera sesudah penyondean, waktu perdarahan, pengukuran eksudat
cairan gingiva, jumlah sel darah putih pada cairan gingival dan histologi gingiva.
Indeks-indeks kerusakan periodontal yang lengkap diperlukan ketrampilan khusus
dan hanya bisa dilakukan di laboratorium canggih. Kondisi di lapangan, biasanya
hanya dilakukan tes-tes sederhana terutama bila melibatkan sejumlah besar pasien
yang akan diperiksa.
Indeks inflamasi gingiva yang paling sering digunakan adalah Indeks Gingival
( Loe dan Silness, 1963). Indeks periodontal yang akan dibicarakan di sini adalah
Indeks Periodontal (Russel,1956), Indeks Penyakit Periodontal ( Ramfjord, 1959)
dan Indeks Kebutuhan Perawatan Periodontal Komunitas ( CPITN; Ainamo dkk.,
1983), yang memberikan skore baik untuk inflamasi gingival maupun untuk
kerusakan periodontal.

Indeks Gingiva (GI) dari Loe dan Silness


Keparahan kondisi ini dinyatakan dalam skala 0 sampai 3 ;
0. Gingiva normal
1. Inflamasi ringan, sedikit perubahan warna, sedikit oedema. Tidak ada
perdarahan pada waktu palpasi dan probing.
2. Inflamasi sedang, kemerahan, oedema, dan mengkilat. Perdarahan
pada waktu palpasi dan probing.
3. Inflamasi parah, kemerahan yang nyata dan jelas, oedema, ulserasi.
Kecenderungan perdarahan spontan.
Gusi yang diperiksa mesial, bukal, distal dan lingual diberi skore secara
terpisah. Indeks ini sangat sensitif pada tahap gingivitis dini. Indeks gingiva
umumnya reversibel karena nilainya dapat menjadi nol dengan redanya penyakit.
Indeks-indeks Kerusakan Periodontal
1. Indeks Periodontal (PI) ( Russel, 1956)
Semua gigi diperiksa; skore yang digunakan pada indeks ini adalah sebagai
berikut:
0. Negatif:tidak ada inflamasi pada jaringan pendukung maupun gangguan
fungsi karena kerusakan jaringan pendukung.
1. Gingivitis ringan: terlihat daerah inflamasi ringan pada tepi bebas gingiva
tetapi daerah ini tidak sampai mengelilingi gigi.

2. Gingivitis: inflamasi mengelilingi gigi, tetapi tetapi tidak terlihat adanya


kerusakan daerah perlekatan gingiva.
6. Gingivitis dengan pembentukan poket: perlekatan epithelial rusak dan
terlihat adanya poket ( tidak hanya merupakan pendalaman leher gingiva
karena pembengkakan di daerah gingiva bebas). Tidak terlihat gangguan
fungsi mastikasi normal; gigi melekat kuat di dalam soketnya dan tidak
bergeser.
8. Kerusakan tahap lanjut disertai hilangnya fungsi mastikasi: gigi goyang,
kadang-kadang bergeser, nyeri pada perkusi dengan alat logam, dan dapat
terdepresi ke dalam soketnya.
Rule: bila meragukan, gunakan skore terendah.
Indeks ini sudah sering digunakan dengan sukses pada populasi yang
besar. Keterbatasannya adalah bahwa skore untuk kerusakan periodontal
berjarak

cukup besar satu terhadap yang lain sehingga sulit untuk

membedakan tahap awal dari periodontitis kronis.

Indeks Penyakit Periodontal (PDI) ( Ramfjord, 1959)


Indeks penyakit periodontal yang diperkenalkan oleh Ramfjord merupakan
perluasan dari indeks Russell. Indeks Ramfjord digunakan terutama untuk
menentukan luas pendalaman poket di bawah pertautan semento-enamel.

Skorenya adalah sebagai berikut:


0. Sehat
1. Perubahan inflamasi ringan sampai sedang yang meluas ke sekitar jaringan
gigi.
2. Perubahan inflamasi ringan sampai sedang yang sudah meluas ke sekitar
jaringan gigi.
3. Gingivitis yang parah, ditandai dengan kemerahan yang nyata,
kecenderungan perdarahan dan ulserasi.
4. Perluasan poket sedalam 3 mm apikal dari daerah pertautan enamelsementum.
5. Perluasan sedalam 3-6 mm.
6. Perluasan lebih dari 6 mm.
Pada PDI ini yang diperiksa hanya 6 gigi yaitu: 6 / 1 4 untuk rahang atas dan
4 1 / 6 untuk rahang bawah. Data dari gigi geligi ini digunakan mewakili gigi
geligi lain secara keseluruhan dan skore rata-ratanya adalah skore dari pasien.
Indeks Kebutuhan Perawatan Periodontal Komunitas (CPITN)
Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang adekuat bagi komunitas
tertentu, seringkali perlu ditentukan kebutuhan perawatan. CPITN ( Ainamo
dkk.,1983) terbukti merupakan sistem yang paling sering digunakan dengan tujuan
ini dan menggunakan meode berikut ini:

1. Sistem pemberian skore adalah :


Kode 0 tidak ada poket atau perdarahan gingival pada saat
penyondean.
Kode 1 perdarahan gingival pada saat penyondean.
Kode 2 kalkulus supra +/- subgingiva.
Kode 3 poket sedalam 3,5 - 5,5 mm.
Kode 4 poket >= 6mm.
Disini digunakan sonde berujung bulat yang khusus dengan diameter sebesar
0,5 mm, dengan panjang 3,5-5,5 mm dan berwarna hitam (WHO probe)
2. Gigi geligi dibagi enam segmen atau segtan ( empat gigi posterior dan dua
gigi anterior) dimana setiap segmen terdapat satu atau beberapa gigi yang
tidak perlu dicabut.
3. Bila digunakan untuk tujuan epidemiologi ( alternatif 1), biasanya
dilakukan pemeriksaan terhadap 10 gigi tertentu, misalnya 7 6 1/ 6 7 atas ,
7 6/ 1 6 7 bawah dan skore terburuk untuk gigi molar dicatat, sehingga
akan diperoleh 6 skore. Bila digunakan untuk tujuan perawatan ( alternatif
2), enam gigi indeks diperiksa pada anak-anak dan remaja ( 6 1/ 6 atas dan
( 6 /1 6 bawah) sedangkan untuk individu dewasa semua gigi diperiksa (
usia 20 tahun atau lebih dari 20 tahun).
4. Rencana perawatan ditentukan dengan berlandaskan pada:
Kode 0 tidak ada perawatan.
Kode 1 memerlukan perbaikan perawatan gigi di rumah.

10

Kode 2 dan 3 memerlukan skeling dan perbaikan perawatan gigi di


rumah.
Kode 4 memerlukan perawatan yang lebih rumit misalnya; skeling,
perbaikan perawatan gigi di rumah dan operasi.
Indeks periodontitis kronis mengukur jumlah kerusakan periodontal yang
irreversibel. Selain itu, karena perkembangan periodontitis kronis cenderung
bertahap, indeks periodontal tidak dapat digunakan untuk mengukur penyakit
dalam keadaan sakit.
Semua indeks ini mempunyai keterbatasan dasar sebagai berikut:
1. Kriteria umumnya subjektif dan terdapat variasi yang cukup besar pada
penilaian oleh pemeriksa dalam derajat inflamasi dan kedalaman poket
atau kerusakan perlekatan.
2. Sistem skore pada dasarnya ditentukan secara acak. Jadi sebuah lesi yang
mendapat skore Russell P16 tidak benar-benar tiga kali lebih parah dari
lesi dengan skore P12; sebenarnya gingivitis dan periodontitis tidak dapat
dibandingkan dengan numerik seperti ini.
3. Walaupun skore gingivitis mengukur adanya inflamasi pada saat itu,
pengukuran poket merupakan cerminan dari penyakit masa lalu; bila kita
menyatakan bahwa kerusakan poket bersifat episodik, tentunya kedalamn
poket tidak dapat memberikan indikasi dari aktivitas penyakit pada saat
pengukuran. Selain upaya mendefinisikan kriteria klinis dan laboratoris
tentang aktivitas, sejauh ini belum ada pemeriksaan yang dapat

11

memberikan pedoman yang dapat diandalkan tentang aktivitas; saat ini


satu-satunya

pemeriksaan

yang

dapat

diandalkan

memerlukan

perbandingan longitudinal.

Kebersihan Mulut
Indeks status kebersihan mulut yang paling sering digunakan adalah
indeks kebersihan mulut ( Greene dan Vermillion, 1960) dan Indeks Plak (
Silness dan Loe, 1964)
Indeks Kebersihan Mulut (Greene dan Vermillion,1960)
Merupakan indeks gabungan untuk menetukan skore debris dan deposit
kalkulus baik untuk semua atau sebagian permukaan gigi yang dipilih saja.
Debris rongga mulut adalah benda asing lunak yang melekat pada gigi.
Debris rongga mulut dan kalkulus dapat diberi skore secara terpisah. Skore
debris rongga mulut adalah sebagai berikut:
0. Tidak ada debris atau stain.
1. Debris lunak yang menutupi tidak lebih dari sepertiga permukaan gigi.
2. Debris lunak yang menutupi lebih dari sepertiga tetapi tidak lebih dari dua
pertiga permukaan gigi.
3. Debris lunak yang menutupi lebih dari duapertiga gigi.

12

Skore kalkulus ditentukan berdasarkan pada criteria yang sama dengan


penambahan bahwa bercak kalkulus subgingiva diberi skore 2 dan garis kalkulus
subgingiva yang besar dan kontinu dberi skore 3.
Skore debris dan kalkulus harus ditambah dan dibagi dengan jumlah
permukaan yang diperiksa untuk menentukan skore kebersihan mulut.
Indeks Plak ( PLI)(Silness dan Loe,1964)
Kriteria penentuan skore adalah;
0. Tidak ada plak.
1. Selapis tipis plak yang hanya dapat dilihat dengan bantuan sonde atau
larutan disclosing.
2. Akumulasi plak yang cukup banyak yang dapat dilihat dengan mata
telanjang.
3. Akumulasi yang tebal dari bahan lunak yang mengisi celah antar tepi
gingiva dan permukaan gigi. Regio interdental terisi dengan debris.
Indeks ini sering digunakan bersama dengan indeks gingiva untuk
menentukan hubungan sebab akibat antara plak dan inflamasi gingiva. Variasi dari
indeks ini dapat menunjukkan pengukuran jumlah kalkulus dan faktor-faktor
retensi plak seperti misalnya tepi tambalan yang berlebihan.
PREVALENSI GINGIVITIS
Prevalensi gingivitis bervariasi sesuai dengan usia:

13

Gigi geligi Susu


Gingiva di sekitar gigi geligi susu kelihatan sangat resisten terhadap
inflamasi karena plak. Bahkan walaupun tidak disikat selama 3 minggu tetap tidak
terlihat adanya perbedaan yang cukup signifikan pada respon jaringan
dibandingkan dengan yang terjadi pada individu dewasa. Keadaan ini mungkin
berhubungan dengan flora yang berbeda atau respon imunologi yang belum
berkembang pada anak usia muda.
Periode Transisional
Periode ini berlangsung sejak gigi geligi campuran dari usia 5 atau 6 tahun
sampai masa pubertas. Ditandai dengan susunan gigi geligi yang tidak teratur dan
perubahan hormon. Gingivitis kronis ditemukan pada 80% anak-anak di bawah 12
tahun

dan ditemukan hampir 100% remaja berusia 14 tahun ( WHO,1978).

Setelah usia terlampaui biasanya terlihat penurunan prevalensi. Kelihatannya


perbedaan jenis kelamin juga mempengaruhi perbedaan pada anak perempuan
sebelum usia 14 tahun keparahan inflamasi lebih besar daripada anak laki-laki.
Pada anak perempuan puncaknya pada usia 12 tahun, dan pada anak laki-laki
puncaknya pada usia 14 tahun keparahan inflamasi gingiva lebih besar dari pada
anak perempuan. Keadaan ini berhubungan dengan perubahan kebiasaan
membersihkan gigi, tetapi pada kenyataannya adalah keadaan pada masa pubertas.
Sutclite (1972) menemukan bahwa peningkatan keparahan inflamasi tidak
berhubungan dengan meningkatnya deposit plak. Dari sini dapat disimpulkan

14

bahwa pada masa pubertas jaringan bereaksi lebih hebat terhadap jumlah plak
yang tidak terlalu besar, dan setelah masa pubertas cenderung berkurang.
Individu Dewasa
Setelah terjadi penurunan inflamasi pasca pubertal, prevalensi inflamasi
pada masa dewasa kembali meningkat. Beberapa penelitian menyebutkan hampir
100% penelitian pada dewasa pria usia 17-22 tahun . Penelitian tentang penyakit
gingiva pada individu dewasa merupakan penelitian yang cukup rumit karena
adanya perkembangan periodontitis kronis dan prevalensi gingivitis tidak dapat
dipisahkan prevalensi penyakit yang mengenai jaringan di bawahnya.Pada
sebagian kasus dimana terlihat adanya kerusakan periodontal dan poket
periodontal atau poket asli, inflamasi gingiva kelihatannya berkurang.
PREVALENSI PERIODONTITIS KRONIS
Timbulnya kerusakan periodontal kelihatannya dimulai pada masa dewasa
muda, keparahan dan prevalensi meningkat sejalan dengan meningkatnya usia.
Meskipun demikian, pembentukan poket dan kerusakan periodontal juga dapat
ditemukan pada anak pada masa pubertas.
Kebersihan

mulut

yang

buruk

adalah

faktor

terpenting

yang

mempengaruhi prevalensi dan keparahan kerusakan periodontal. Faktor-faktor


lain yang sudah pernah dibicarakan dalam hubungannya dengan gingivitis, juga
mempunyai peranan yang sama dengan periodontitis kronis.Disini sedikit
perbedaan jenis kelamin, keparahan kerusakan pada semua kelompok usia

15

kelihatannya lebih kecil pada wanita daripada pria, mungkin karena kebersihan
mulut yang lebih baik pada wanita.
Faktor sosioekonomi, terutama tingkat pendidikan dan pendapatan, juga
mempunyai hubungan erat terhadap prevalensi dan keparahan. Individu dengan
tingkat pendidikan dan pendapatan lebih tinggi umumnya mempunyai tingkat
kebersihan mulut yang lebih baik dan prevalensi penyakit periodontal yang lebih
rendah daripada mereka dengan tingkat pendidikan dan pendapatan lebih rendah.
Keadaan ini dapat menjelaskan adanya variasi etnik. Bila kelompok usia yang
sama di populasi Asia dan Eropa dibandingkan (Loe dkk.,1978) perubahan
gingivitis menjadi periodontitis kelihatannya berlangsung pada usia lebih muda
dan keparahan kerusakan lebih besar pada kelompok populasi Asia dibandingkan
kelompok Eropa. Bila berbagai kelompok etnik dengan tingkat pendidikan dan
sosioekonomi yang sama dibandingkan, profil penyakit pada umumnya kelihatan
sama. Hasil-hasil penelitian epidemiologis menunjukkan bahwa seringkali
penyakit terbatas hanya berupa inflamasi gingiva atau periodontitis marginalis
saja dan umumnya perkembangan dari gingivitis menjadi periodontitis marginalis
dan akhirnya menjadi penyakit yang lebih parah serta tanggalnya gigi berlangsung
sangat lambat.
Penelitian-penelitian di berbagai negara berkembang menunujukkan
walaupun prevalensi dan keparahan penyakit lebih tinggi daripada di negaranegara industri, prevalensi tanggalnya gigi pada individu dewasa tidak selalu lebih
tinggi. Seperti sudah ditunjukkan oleh Socransky dkk. (1984), kerusakan
periodontal kelihatannya timbul secara acak dan daerah kerusakan perlekatan
16

yang parah kelihatannya lebih rentan terhadap kerusakan lebih lanjut daripada
daerah yang lain. Hasil-hasil penemuan ini menunjukkan bahwa sulit untuk
menggeneralisasi keadaan ini, dan karena itu, juga sulit untuk memperkirakan
besarnya kebutuhan akan suatu perawatan.
PREVALENSI AGGRESSIVE PERIODONTITIS
Aggressive periodontitis ( dulunya early-onset periodontitis) adalah kerusakan
periodontal yang secara klinis terjadi selama masa remaja sampai dewasa muda.
Penyakit ini diklasifikasikan dalam 2 tipe:
1. Localized aggressive periodontitis: kerusakan tulang meliputi molar
pertama dan insisif.
2. Generalized aggressive periodontitis: pola kerusakan periodontal meluas.
Berapa banyak kasus aggressive periodontitis terjadi? Beberapa penelitian dari
Amerika Serikat dan negara-negara lainnya menyebutkan bahwa prevalensi
aggressive periodontitis diperkirakan dibawah 1%. Dimana localized aggressive
periodontitis 0,53%, generalized aggressive periodontitis 0,13%.
A.Actinomycetemcomitans

adalah bakteri yang banyak ditemukan dalam

localized aggressive periodontitis dan merupakan bakteri pathogen utama yang


menyebabkan penyakit ini. Dengan menghilangkan bakteri dari kasus ini ternyata
didapatkan pemulihan secara klinis. Bakteri ini menghasilkan leukotoksin yang
kuat yang membunuh netrofil, yang berperan penting dalam pertahanan terhadap
infeksi periodontal.

17

Faktor yang lainnya yang berhubungan dengan pathogenesis aggressive


periodontitis adanya cacat dalam fungsi netrofil. Kemotaksis netrofil yang
berkurang ditemukan pada kasus localized aggressive periodontitis. Hal ini
ditunjukkan bahwa 70% sampai 75% kasus localized aggressive periodontitis
ditemukan adanya kemotaksis netrofil yang berkurang. Localized aggressive
periodontitis dapat merupakan penyakit yang menurun.Tetapi tidak semua kasus
localized aggressive periodontitis terdapat kemotaksis netrofil yang berkurang
dan tidak semua kemotaksis netrofil yang berkurang merupakan kasus localized
periodontitis. Di sisi lain, terdapat faktor-faktor lain yang belum diketahui yang
dapat berperan terhadap pathogenesis aggressive periodontitis.

18

BAB III
KESIMPULAN
Epidemiologi perlu dipelajari dan diketahui oleh para klinisi di lapangan,
karena dengan epidemiologi dapat menentukan tentang diagnosis, faktor resiko
dari suatu penyakit sehingga dapat pula ditentukan pencegahan penyakit secara
dini.
Manfaat epidemilogi bagi para klinisi dapat menggunakan data dari
epidemiologi suatu penyakit untuk menegakkan diagnosis, prognosis dan rencana
perawatan dari suatu penyakit. Terdapat beberapa indeks yang merupakan
parameter dari data epidemiologi penyakit periodontal antara lain:
1. Indeks gingiva ( Loe dan silness,1963)
2. Indeks periodontal ( PI) ( Russell,1956)
3. Indeks penyakit periodontal (PDI) (Ramfjord, 1959)
4. Indeks Kebutuhan Perawatan Periodontal Komunitas (CPITN)
5. Indeks kebersihan mulut ( Greene dan Vermillion,1960)
6. Indeks Plak ( Sillness dan Loe, 1964)
Dengan adanya beberapa indeks di atas dapat pula ditentukan beberapa
prevalensi penyakit periodontal antara lain:
1. Prevalensi gingivitis
2. Prevalensi periodontitis kronis
3. Prevalensi aggressive periodontitis

19

DAFTAR PUSTAKA
Newman, Takei, Klokkevold, Carranza. Carranzas Clinical Periodontology.
11th ed. St. Louis: Elsevier Inc.; 2012; p.55-64.
Michael G. Newman, Henry H. Takei, Perry R. Klokkevold,

Fermin A.

Carranza. Carranzas Clinical Periodontology. 10th ed. St. Louis: Elsevier Inc;
2006; p. 110-131.
Michael G. Newman, Henry H. Takei, Fermin A. Carranza. Carranza Clinical
Periodontology. 9th ed. Philadelphia: W.B. Saunders Company; p. 74-94
J.D. Manson, B.M. Eley. Buku Ajar Periodonti. Alih bahasa: drg. Anastasia S.
Jakarta: Penerbit Hipokrates; 1983; p.95-104.

20

21

22