Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Di Indonesia beraneka ragam tumbuhan yang tumbuh disekitar kita
dan dapat memberikan manfaat kesehatan bagi penggunanya. Kemudian
hal ini terus dikembangkan dan diwariskan turun - menurun antar generasi,
sehingga obat tradisional dapat dimanfaatkan sampai sekarang. Salah satu
dari budaya bangsa Indonesia yang berkaitan dengan pemanfaatan
kekayaan alam, yaitu untuk pemeliharaan kesehatan dan pengobatan
penyakit. Budaya tersebut diperoleh dari pengalaman secara turun
menurun.
Modernisasi mentautkan tanaman obat dengan dunia farmasi.
Perlahan lahan keampuannya diakui oleh kalangan ilmiah. Walaupun
begitu pemakaian obat tradisional tetap mendapat tempat. Dengan langkah
dan cara pengolahan yang benar khasiat tanaman obat tidak akan berubah
(Gunawan, 2004).
Fitokimia adalah ilmu yang mempelajari kandungan kimia dari
bahan alam yang mempunyai khasiat obat. Bahan alam meliputi tumbuhan,
hewan, mineral, serta biota laut. Bahan alam tersebut mengandung
beberapa komponen kimia yang dapat digunakan sebagai obat. Obat yang
berasal dari bahan alam dikenal luas sebagai obat tradisional (Gunawan,
2004).
Tanaman penting untuk diteliti karena mengingat pentingnya
manfaat

dari tanaman terutama dalam bidang kesehatan maka sudah

selayaknya dilakukan penelitian dan pengembangan dari tanaman dengan


melakukan uji atau identifikasi kandungan senyawa dari tanaman, agar
dapat diketahu kandungan senyawa yang bermanfaat bagi kesehatan
,sehingga dapat digunakan sebagai pengobatan penyakit.

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 1

1.2

Maksud Percobaan
A

Ekstraksi Maserasi
Mengetahui cara penyarian ekstrak dari simplisia daun awarawar (Ficus septica) menggunakan metode sederhana.

Ekstraksi Cair-Cair (Partisi Ekstrak)


Mengetahui cara penyarian cair-cair dimana suatu zat terbagi
dalam dua pelarut yang tidak saling berampur pada ekstrak daun awarawar (Ficus septica).

Identifikasi Ekstrak I (KLT)


Mengetahui cara mengidentifikasi komponen kimia sampel
ekstrak daun awar-awar (Ficus septica) dengan metode kromotografi
lapis tipis (KLT).

Identifiksai Ekstrak (Pereaksi Kimia)


Mengetahui cara mengidentifikasi komponen kimia sampel
ekstrak daun awar-awar (Ficus septica) dengan pereaksi kimia.

1.3. Tujuan Percobaan


A. Ekstraksi Maserasi
Memahami cara penyarian ekstrak dari simplisia daun awarawar (Ficus septica) menggunakan metode sederhana.
B. Ekstraksi Cair-Cair (Partisi Ekstrak)
Memahami cara penyarian cair-cair dimana suatu zat terbagi
dalam dua pelarut yang tidak saling berampur pada ekstrak daun awarawar (Ficus septica).
C. Identifikasi Ekstrak I (KLT)
Memahami cara menguidentifikasi komponen kimia sampel
ekstrak daun awar-awar (Ficus septica) dengan metode kromotografi
lapis tipis (KLT).
D. Identifiksai Ekstrak (Pereaksi Kimia)
Memahami cara menguidentifikasi komponen kimia sampel
ekstrak daun awar-awar (Ficus septica) dengan pereaksi kimia

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 2

1.4

Prinsip Percobaan
A. Ekstraksi Maserasi
Eksraksi maserasi dilakukan dengan hanya proses merendam
sampel tanpa mengalami proses lain kecuali pengocokan (bila
diprlukan). Prinsip penariakan (eksraksi) senyawa dari sampel adalah
dengan adanya gerak kinetik pelarut, dimana pelarut akan selalu
bergerak pada suhu kamar walaupun tanpa pengocokan.
B. Ekstraksi Cair-Cair (Partisi Ekstrak)
Pengujian terhadap zat yang diekstraksi terdapat didalam
campuran yang berbentuk cair dengan menggunakan corong pisah.
Ekstraksi cair-cair digunakan untuk memisahkan zat seperti iod atau
logam-logam tertentu dalam larutan air.
C. Identifikasi Ekstrak I (KLT)
Pengujian ekstrak sampel tanaman daun awar-awar (Ficus
septica) dengan menggunakan eluen polar pada perbandingan 9:2:1 (etil
asetat : heksan : air) dan eluen non-polar 9:1 (heksan : etil asetat)
sebagai fase gerak dan lempeng KLT sebagai fase diam. Kemudian
diamati dengan lampu UV 254nm dan 366 nm serta di hitung nilai Rfnya.
D. Identifiksai Ekstrak (Pereaksi Kimia)
Pengujian ekstrak sampel tanaman daun awar-awar (Ficus
septica) dengan menggunakan pereaksi kimia pada uji alkaloid, tanin,
saponin, polivenol, dan flavonoid. Kemudian melihat perubahan warna
dan tekstur yang dihasilkan dari setiap perlakuan serta tambahan
pereaksi penguji.

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Deskripsi Tanaman
2.1.1 Klasifikasi Awar-awar (Anonim, 2014)
Menurut Anonim (2014) klasifikasi Ficus septica Burm.F (awar
awar) adalah sebagai berikut :
Kingdom

Plantae

Subkingdom

Tracheobionta

Super Divisi

Spermatophyta

Divisi

Magnoliophyta

Kelas

Magnoliopsida

Sub kelas

Dilleniidae

Ordo

Urticales

Family

Moraceae

Genus

Ficus

Spesies

Ficus septica Burm.F

2.1.2 Morfologi
Tanaman Ficus septica Burm.F berbentuk perdu yang
tumbuh secara tahunan dengan tinggi lebih dari 5 meter. Batangnya
tegak berkayu, berbentuk bulat danberwarna coklat. Daun yang
dimiliki berwarna hijau serta merupakan daun tunggal tersebar
berbentuk lonjong dengan ujung runcing dan pangkal meruncing. Tepi
daun rata, pertulangan menyirip dengan panjang lebih dari 5 cm dan
lebar kurang lebih 4 cm. Tanaman ini memiliki bunga berbetuk
tunggal berkelamin dua dengan daun pelindung yang kecil berwarna
hijau. Buah Ficus septica Burm.F berupa buah buni bulat denagn
diameter kurang lebih 1,5 cm dan berwarna merah. (Ferro dkk, 1988).

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 4

2.1.3 Kandungan Kimia


Daun

tanaman

Ficus

septica

Burm.F

mengandung

Polifenol, saponin, alkaloid dan tanin. (Hutapea, 1994).


2.1.4 Khasiat
Daun awar-awar berkhasiat sebagai mengobati penyakit
kulit,digunakan

untuk

mengatasi

bisul,sesak

nafas,asma,kepala

pusing,penawar racun dan sebagai obat pencahar. (Lee dkk, 2000).


2.2. Uraian Bahan dan Sampel
2.2.1. Uraian Bahan
1.

Akuades ( FI Ed. III, Hal. 96 )


Nama resmi

: AQUA DESTILATA

Nama lain

: Air suling

RM / BM

: H2S / 18,02

Pemerian

: Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau,


tidak mempunyai rasa.

2.

Kelarutan

: -

Kegunaan

: Pelarut

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat.

Etanol ( FI Ed. III, Hal. 65)


Nama resmi

: AETHANOLUM

Nama lain

: Etanol

RM / BM

: C2H5OH / 46.00

Pemerian

: Cairan

tidak

berwarna,

jernih,

mudah

menguap dan mudah bergerak , bau khas,


rasa panas, mudah terbakar dengan nyala biru
yang tidak berasa.
Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam mudah larut dalam


air, dalam kloroform P dan dalam eter P.

Kegunaan

: Sebagai Pelarut

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik.

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 5

3.

Kloroform ( FI Ed. IV, Hal. 206 )


Nama resmi

: CLOROFORMUM

Nama lain

: Kloroform

RM / BM

: CHCl3 / 119,38

Pemerian

: Cairan mudah menguap, tidak berwarna, bau


khas, rasa mani dan membakar.

Kelarutan

: Larut dalam lebih kurang 200 bagian air,


mudah larut dalam etanol mutlak P, dalam
eter P, dalam sebagian besar pelarut organik,
dalam minyak atsiri dan dalam minyak
lemak.

4.

Kegunaan

: Sebagai eluen

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat.

Etil asetat ( FI Ed. III, Hal. 673 )


Nama resmi

: ETHIL ACETAT

Nama lain

: Etil asetat

RM / BM

: CH3COOC2H5 / 88,1

Pemerian

: Cairan ; tidak berwarna : bau khas

Kelarutan

: Larut dalam 15 bagian air : dapat bercampur


dengan etanol (95%) P dan dengan eter P.

5.

Kegunaan

: Sebagai Eluen

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Heksana ( FI Ed. IV, hal. 1159 )


Nama resmi

: N - HEKSANA

Nama lain

: n - heksana

RM / BM

: C6H14 / 86,18

Pemerian

: Cairan jernih, mudah menguap, berbau


seperti eter lemah atau bau seperti petroleum.

Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam air, larut dalam


etanol mutlak ; dapat campur dengan eter,
dengan kloroform, dengan benzene dan

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 6

dengan sebagian beasar minyak lemak dan


minyak atsiri.
Kegunaan

: Sebagai eluen

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat, jauhkan dari


nyala api dan simpan di tempat sejuk.

6.

Metanol ( FI Ed. III, Hal. 706 )


Nama resmi

: METHANOL

Nama lain

: Metanol

RM / BM

: CH3OH / 34,00

Pemerian

: Cairan tidak berwarna, gliserin, bau khas

Kelarutan

: Dapat bercampur dengan air, membentuk


cairan jernih tidak berwarna

7.

Kegunaan

: Sebagai Pelarut dan eluen

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Asam Klorida (FI III, hal. 53)


Nama resmi

: Acidum Hydrochloridum

Nama lain

: Asam Klorida

RM/BM

: HCl / 36,46

Pemerian

: Cairan, tidak berwarna; berasap, bau


merangsang. Jika diencerkan dengan 2
bagian air, asap dan bau hilang.

8.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan

: Sebagai pereaksi.

Besi (III) Klorida (FI III, hal. 659)


Nama Resmi : Besi (III) Klorida
Nama lain

: Besi (III) Klorida

Pemerian

: Hablur atau serbuk hablur; hitam kehijauan, bebas


warna jingga dari garam hidrat yang telah
terpengaruh oleh kelembaban.

Kelarutan

: Larut dalam air, larutan beropalesensi berwarna


jingga

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 7

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.


Kegunaan

: Sebagai pereaksi.

2.2 Metode Ekstraksi


Metode ekstraksi maserasi merupakan proses perendaman sampel
menggunakan pelarut organik pada temperatur ruangan.proses ini sangat
menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan alam karena dengan
perendaman sampel tumbuhan akan terjadi pemecahan dinding sel dan
membran akibat perbedaan konsentrasi sehingga metabolit sekunder yang ada
dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi senyawa
akan sempurna karena diatur lama perendaman yang dilakukan.pemilihan
pelarut untuk proses maserasi akan memberikan efektivitas yang tinggi
dengan memperhatikan kelarutan senyawa bahan alam dalam pelarut
tersebut.secara umum pelarut metanol merupakan pelarut yang paling banyak
digunakan dalam proses isolasi senyawa organik bahan alam karena dapat
melarutkan seluruh golongan metabolit sekunder (Astawan,2010).
2.3 KLT (Kromatografi Lapis Tipis)
Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah salah satu metode pemisahan
komponen menggunakan fasa diam berupa plat dengan lapisan bahan
adsorben inert. KLT merupakan salah satu jenis kromatografi analitik. KLT
sering digunakan untuk identifikasi awal, karena banyak keuntungan
menggunakan KLT, di antaranya adalah sederhana dan murah. KLT termasuk
dalam kategori kromatografi planar, selain kromatografi kertas. Kromatografi
lapis tipis menggunakan plat tipis yang dilapisi dengan adsorben seperti silika
gel, aluminium oksida (alumina) maupun selulosa. Adsorben tersebut
berperan sebagai fasa diam. Fasa gerak yang digunakan dalam KLT sering
disebut dengan eluen. Pemilihan eluen didasarkan pada polaritas senyawa dan
biasanya merupakan campuran beberapa cairan yang berbeda polaritas,
sehingga didapatkan perbandingan tertentu. Eluen KLT dipilih dengan cara
trial and error. Kepolaran eluen sangat berpengaruh terhadap Rf (faktor
retensi) yang diperoleh (Egon, 1985).

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 8

BAB III
METODOLOGI KERJA
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan mulai tanggal 09 Oktober 2014 sampai
pada tanggal 24 November 2014 di Laboratorium Fitokimia Program Studi
Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Tadulako Palu.

3.2. Alat dan Bahan


A. Maserasi
1. Alat

Gunting

Neraca analitik

Toples kaca

Mangkuk kaca

Rotavapor

Batang pengaduk

2. Bahan

Metanol

Akuades

Kertas koran

Kain saring

B. Ekstraksi Cair-Cair(Partisi Ekstrak)


1. Alat

Cawan petri

Timbangan analitik

Satif / Klem

Corong pisah

Gelas ukur

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 9

Gelas kimia

Corong kaca

Batang pengaduk

Botol vial

Botol semprot

2. Bahan

Ekstrak daun awar-awar (Ficus septica)

Akuades

n-heksan

Etil asetat

Kertas saring/Tissu

C. Identifikasi Dengan Kromotografi Lapis Tipis


1. Alat

Gelas kimia

Gelas ukur

Pipa kapiler

Cawan porselin

Lempeng KLT

2. Bahan

Ekstrak metanol daun awar-awar (Ficus septica)

Akuades

Etil asetat

n-heksan

Kertas saring

D. Identifikasi dengan Pereaksi Kimia


1. Alat

Tabung reaksi

Hot plate

Gegep kayu

Cawan porseli

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 10

Refluks

Timbangan analitik

2. Bahan

Ekstrak metanol daun awar-awar (Ficus septica)

Pereaksi dagendrof

HCl 2N

Akuades

Etanol

Mg serbuk

Nacl

Fecl3

3.3. Prosedur Kerja


A. Ekstraksi
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Timbang sampel lalu dimasukan kedalam bejana maserasi(toples)
hingga sepertiga bejana.
3. Masukkan metanol hingga menutupi sampel.
4. Rendam selama 3x24 jam,dihidari dari cahaya.
5. Saring dengan kertas saring atau kain kasa.
6. Ekstrak kental di simpan pada wadah, angin-anginkan.
7. Saring sehingga menghasilkan residu ekstrak dan larutan ekstrak.
8. Keringkan residu ekstrak yang diperoleh.
9. Uapkan pelarut pada larutan ekstrak menggunakan alat rotavapor
kemudian ditimbang dan dicatat bobor ekstraknya.
B. Ekstraksi cair-cair
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Larutkan sampel sebanyak 4 gram menggunakan akuades 15ml
kedalm gelas kimia.
3. Masukkan sampel kedalam corong pisah tambahkan n-heksan 7,5ml.
kocok selama 5 menit.
4. Ulangi perlakuan sebanyak 3 kali.
LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 11

5. Pisahkan hasil ekstrak n-heksan tambakan etil asetat 7,5ml. kocok


selama 5 menit.
6. Ulangi perlakuan sebanyak 3 kali.
7. Keringkan hasil ekstrak n-heksan dan etil asetat.
C. Identifikasi Dengan Metode Kromotografi Lapis Tipis
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Buat eluen polar(etil asetat:n-heksan:air) dan non polar(heksan:etil
asetat) sebanyak 10ml .
3. Buat lempeng KLT dan siapkan ekstrak metanol,heksan,etil astat
untuk penotolan sampel pada lempeng.
4. Ambil ekstrak dengan menggunakn pipa penotol kemudian ditotolkan
pada lempeng yang tela disiapkan.
5. Masukkan pada chamber yang tela dijenuhkan bila eluen

telah

mencapai batas atas dari lempeng silika gel, maka lempeng tersebut
dikeluarkan.
6. Amati penampakan noda pada UV 254 dan UV 366 nm. Diamati noda
yang tampak.
7. Hitung nilai Rfnya.
D. Identifikasi Dengan Metode Pereaksi Kimia
a.

Uji Alkaloid
1.

Siapakan alat dan bahan yang akan digunakan.

2.

Ambil ekstrak metanol 0.5g, tambahkan HCl 2 ml 2N, masukan


dalam tabung reaksi kemudian saring.

3.

Tambahkan 3 tetes reaksi dragendorff.

4.

Amati pembentukan endapan, hasil positif bila terbentuk


endapan orange/merah bata.

b. Uji Saponin
1.

Siapakan alat dan bahan yang akan digunakan.

2.

Ambil ekstrak metanol 0.5g masukan dalam tabung reaksi


kemudian panaskan.

3.

Tambahakn akuades 10ml.

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 12

4.

Kocok kuat-kuat.

5.

Tambahkan larutan asam klorida encer.

6.

Amati konsistensi busa, hasil positif bila busa tetap setelah


ditambahkan larutan asam klorida encer.

c.

Uji Flavanoid
1.

Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2.

Ambil

ekstrak

metanol

0.5g

masukan

dalam

tabung

reaksi,tambahkan akuades,etanol 96%,mg serbuk.


3.

Amati perubahan warna larutan, hasil positif menunjukan


perubahan warna biru-ungu.

d.

Uji Steroid
1.

Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2.

Ambil

ekstrak

metanol

0.5g

masukan

dalam

tabung

reaksi,tambahkan akuades, 5 tetes Fecl3.


3.

Amati perubahan warna larutan, hasil positif menunjukan


perubahan warna biru kehitaman.

e. Uji Tannin
1.

Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2.

Ambil

ekstrak

metanol

0.5g

masukan

dalam

tabung

reaksi,tambahkan akuades,Nacl10%, 5 tetes Fecl3.


3.

Amati perubahan warna larutan, hasil positif menunjukan


perubahan warna biru kehitaman.

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 13

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Praktikum
A. Pengambilan dan Pengolahan Sampel (Maserasi)
Diketahui

: - Bobot sampel basah

= 1000 gram

- Bobot sampel kering

= 200 gram

- Susut pengeringan

= 80%

Perhitungan : Susut Pengeringan =

x 100%

x 100%

= 80%
B. Ekstraksi Cair-Cair
Diketahui : - Berat ekstrak metanol

= 49 g

- Ekstrak n-heksan yang diperoleh

= 0.48 g

- Ekstrak etil asetat yang diperoleh

= 0.55 g

Perhitungan : % ekstrak n-heksan =


=

x 100%
x 100%

= 12%
% ekstrak n-heksan =
=

x 100%
x 100%

= 13,75%

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 14

C. Identifikasi ekstrak dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


1. Gambar Hasil Pengamatan
Gambar

Eluen

Nilai

Keterangan

Rf
1. Polar dan Non A:0.28
polar

B:0.62

A:Metanol

C:0

Setelah mengalami
proses elusi

B:Heksan
C:Etil asetat

A:0.27
B:0.25
C:0

Polar

A:Metanol

A:0.28

Lampu UV 254nm

B:0.62

Sampel

C:0

Awar-awar (Ficus

B:Heksan

tanaman

septica)

C:Etil asetat

Nonpolar

A:Metanol
B:Heksan

A:0.27

Lampu UV 254nm

B:0.25

Sampel

C:0

Awar-awar (Ficus

tanaman

septica)

C:Etil asetat

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 15

Polar

A:Metanol

A:0.28

Lampu UV 366nm

B:0.62

Sampel

C:0

Awar-awar (Ficus

B:Heksan

tanaman

septica)

C:Etil asetat

Nonpolar

A:Metanol
B:Heksan

A:0.27

Lampu UV 366nm

B:0.25

Sampel

C:0

Awar-awar (Ficus

tanaman

septica)

C:Etil asetat

2. Perhitungan Eluen dan Nilai Rf


a. Eluen Polar
Diketahui :
Dibuat 10 mL dengan perbandingan :
Etil asetat : Heksan : Air (9 : 2 : 1)
Diketahui :
Panjang Plat KLT (y) = 7cm
Ekstrak Metanol = 2cm
Ekstrak Heksan = 4.4cm
Ekstrak etil asetat = 0

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 16

= 0.28

= 0.62
=0

b. Eluen Nonpolar
Diketahui :
Dibuat 10 mL dengan perbandingan :
Heksan : Etil asetat (9 : 1)
Diketahui :
Panjang Plat KLT (y) = 7cm
Ekstrak Metanol = 1.9cm
Ekstrak Heksan = 1.8cm
Ekstrak etil asetat = 0
-

= 0.27

= 0.25

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

=0

Page 17

D. Identifikasi ekstrak dengan Pereaksi Kimia


Gambar

Uji

Keterangan
Tannin

(+)

Flavonoid

(-)

Saponin

(+)

Alkaloid
(+)

Polifenol

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

(+)

Page 18

4.2. Pembahasan
Tanaman merupakan bahan alam yang sering digunakan sebagai
sumber bahan obat. Di Indonesia terdapat berbagai macam tanaman yang
berpotensi atau dapat dijadikan sebagai bahan baku obat, khususnya obat
tradisional yang telah digunakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia secara
turun menurun. Keuntungan obat tradisional ini karena mudah diperoleh
serta bahan bakunya dapat diekmbangkan sendiri. Bahan alam memang
sangat mudah digunakan sebagai obat, Karena mudah ditemukan disekitar
kita, namun tetap saja memiliki cara cara tertentu dalam pengambilan dan
proses pengolahannya.
Fitokimia adalah cabang ilmu pengetahuan alam yang membahas
mengenai kandungan kimia bahan alam. Di dalamnya dipelajari cara cara
mengekstraksi, mengisolasi, dan mengidentifikasi kandungan kimia bahan
alam.Demi kesempurnaan praktikum ini dilakukan Praktek Kerja Lapang (PKL) yang
bertujuan untuk mengambil dan mengumpulkan sampel baik sampel darat maupun sampel
laut yang dianggap memiliki khasiat sebagai obat yang didasarkan pada pengalaman
masyarakat sekitar desa tempat pengambilan sampel. Pada proses pengambilan sampel
dilakukan pada waktu pagi hari (pkl. 07.00-11.00), karena pada pagi hari proses fotosintesis
dari tumbuhan berlangsung dengan sempurna sehingga diharapkan dapat diperoleh
komponen kimia yang maksimal dari sampel tersebut (daun). Ada juga literatur yang
mengatakan bahwa waktu panen sebainya pagi hari (pukul 07.00 10.00)
atau sore hari (pukul 15.00 18.00). waktu panen pagi atau sore akan
mendatangkan gizi lebih tinggi ketimbang panen pada siang bolong (Santoso,
H, 2006).
Tanaman Ficus septica Burm.F berbentuk perdu yang tumbuh secara
tahunan dengan tinggi lebih dari 5 meter. Batangnya tegak berkayu,
berbentuk bulat danberwarna coklat. Daun yang dimiliki berwarna hijau serta
merupakan daun tunggal tersebar berbentuk lonjong dengan ujung runcing
dan pangkal meruncing. Tepi daun rata, pertulangan menyirip dengan panjang
lebih dari 5 cm dan lebar kurang lebih 4 cm. Tanaman ini memiliki bunga
berbetuk tunggal berkelamin dua dengan daun pelindung yang kecil berwarna

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 19

hijau. Buah Ficus septica Burm.F berupa buah buni bulat denagn diameter
kurang lebih 1,5 cm dan berwarna merah. (Ferro dkk, 1988)). Melalui
tahapan-tahapan dalam pembuatan simplisia dilakukan proses pencucian pada
air mengalir yang bertujuan untuk membersihkan sampel tanaman dari
kotoran atau benda asing yang menempel, kemudian untuk pengubahan
bentuk dilakukan dengan cara perajangan atau memotong-motong halus dau
tanaman tersebut agar luas permukaannya menjadi lebih kecil untuk
mempermudah proses pengeringan dengan cara diangin-anginkan pada suhu
ruangan 30 C. Proses pengeringan yang dilakukan pada daun awar-awar
adalah selama 11 hari dengan berat kering 270 gram, dan berat basa bahan
baku 2000 gram, sehingga kadar air yang diperoleh yaitu 86,5% (daun awarawar), dan berat kering bahan baku 269,5 gram serta berat basah bahan baku
3000 gram sehingga kadar air yang diperoleh yaitu 91,01 % (daun awarawar). Daun tanaman Ficus septica Burm.F mengandung Polifenol, saponin,
alkaloid dan tanin. (Hutapea, 1994).
Adapun wadah yang digunakan pada proses pengeringan simplisia ini
yaitu koran. Fungsi koran dalam hal ini untuk menyerap kadar air yang
terdapat pada bahan baku tanaman.
Partisi sangat berguna untuk memisahkan zat yang terkandung dalam
sampel dengan cara partisi dengan sampel menggunakan pelarut yang saling
tidak bercampur. Salah satu fase berupa air dan fase lainnya adalah pelarut
organik. Dalam hal in pelarut organikyang digunakan adalah n-heksan dan
etil asetat.
Tujuan dilakukannya partisi adalah untuk memishkan komponen
kimia dari ekstrak berdasarkan kepolarannya. Digunakan partisi cair cair
karena ekstrak Ficus septica ( daun awar awar) dapat larut dalam air.
Dalam percobaan ini digunakan pelarut air untuk menarik senyawa yang larut
air (sifat polar) dalam sampel, sedangkan pelarut n-heksan dan etil asetat
untuk menarik senyawa yang bersifat non-polar (larut lemak) dalam sampel.

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 20

Pertama tama ditimbang ekstrak 4 gram kemudian larutkan dalam


30 ml air dan tambahkan 15 ml n-heksan lalu pisahkan menggunakan corong
pisah, ulangi sebanyak 3 kali. Setelah itu ditambahkan 15 ml etil asetat, lalu
dipisahkan menggunakan corong pisah ,diulangi sebanyak 3 kali, kemudian
fraksi yang diperoleh diuapkan (dikeringkan) dan kemudian timbang.
Dalam proses pemisahan senyawa yang bersifat non-polar akan
berada di fase bawah, sedangkan senyawa yang bersifat polar akan berada di
fase atas. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan berat jenis. Dari praktikum
yang dilakukan diperoleh bahwa

berat ekstrak n-heksan 0,48 gram dan

persentase 12% dan berat ekstrak etil asetat yang diperoleh 0,55 gram,
dengan persentase 13,75 gram.
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstrak zat
aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang
sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau
serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang
ditetapkan.
Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran
menjadi komponen komponennya. Pada kromatografi komponen
komponen yang akan dipisahkan antara dua fase yaitu fase diam dan fase
gerak. Prinsip KLT adalah partisi dan absorpsi, dimana eluen sebagai fase
gerak dan lempeng KLT sebagai fase diam.
Pada praktikum kali ini digunakan fase gerak yaitu eluen dan terdiri
dari etil asetat : heksan : air, sebagai eluen polar dengan perbandingan 9 : 2: 1
dan eluen non-polar heksan : etil asetat (9 : 1) masing masing dibuat 10 ml.
fase diam yang digunakan yaitu lempeng KLT, yang mengandung silika gel
yang berfungsi sebagai penyerap komponen yang polar. Adapun cara kerja
yaitu setelah dibuat eluen, kemudian siapkan ekstrak methanol, n-heksan, etil
asetat untuk penotolan pada lempeng. Setelah itu ditotolkan pada lat KLT,
masukkan kedalam chamber yang berisi eluen yang telah dijenuhkan, bila

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 21

eluen telah mencapai batas atas plat KLT, maka keluarkan lempeng, dan
angin-anginkan tujuannya agar pada saat diamati pada lampu uv nodanya
terlihat jelas. Selanjutnya diamati noda yang terbentuk, pada lampu uv 254
nm dan tandai noda yang terbentuk pada plat KLT menggunakan pensil,
kemudian hitung nilai Rf.
Berdasarkan hasil engamatan, maka diperoleh nilai Rf untuk pelarut
non-polar dan pelarut polar, ekstrak metanol, n-heksan, dan etil asetat
berturut-turut yaitu 0,27; 0,25; dan 0; serta 0,28; 0,62; dan 0.
Dalam mengidentifikasi suatu senyawa kimia yang terdapat dalam
ekstrak atau tanaman maka dilakukan uji pendahuluan yang bertujuan untuk
mengamati kandungan kandungan kimia senyawa yaitu tanin, alkaloid,
saponin, flavanoid, dan polifenol yang mungkin terdapat pada simplisia daun
awar awar (Ficus septica).
Tanin adalah senyawa polifenol dari kelompok flavonoid yang
berfungsi sebagai antioksidan kuat, anti peradangan dan anti kanker
(anticarcinogenic). Tanin dikenal juga sebagai sat jamak untuk pengawetan
kulit, yang merupakan efek tanin yang utama sebagai adstringensia yang
banyak digunakan sebagai pengencang kulit dalam kosmetik (Nurheti Yuliarti
2009;105).
Alkaloid merupakan senyawa organik bernitrogen dan bersifat basa,
umumnya berasal dari tumbuhan, misalnya turunan piridina, kuinolina,
isokuinolina, dan pirola, banyak yang berkhasiat sebagai obat, bersifat
narkotik atau toksik (Handyana .A. Pudjuatmaka, 2001;26).
Saponin memberikan rasa pahit pada bahan pangan nabati. Sumber
utama saponin adalah biji-bijian khususnya kedelai. Saponin dapat
menghambat pertumbuhan kanker kolon dan membantu kadar kolesterol
menjadi normal. Bergantung pada jenis bahan makanan yang dikonsumsi,
seharinya dapat mengkonsumsi saponin sebesar 10-200 mg (Pangkalan ide,
2010).

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 22

Flavonoid merupakan golongan terbesar dari senyawa polifenol.


Flavonoid sangat efektif untuk digunakan sebagai antioksidan (Astawan
2010;31).
Polifenol merupakan senyawa kimia yang terkandung didalam
tanaman yang bersifat antioksidan kuat.polifenol berfungsi melindungi sel
tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas sehingga mencegah proses
inflamasi pada sel tubuh.
Pada percobaan kali ini, dilakukan identifikai terhadap senyawa
alkaloid, saponin, tannin, polifenol dan flavonoid. Identifikasi alkaloid
dilakukan dengan penambahan etanol untuk melarutkan ekstrak yang tidak
dapat larut dengan air kemudian ditambahkan aquadest, HCl dan pereaksi
Dragendorff. Hal ini berkaitan dengan sebagian besar alkaloid alami yang
bersifat asam memberikan endapan dengan reaksi yang terjadi dengan reagen
mayer dengan reagen Dragendorff, endapan ini berbentuk amorf atau terdiri
dari Kristal dari berbagai warna coklat kemerahan. Hasil menunjukkan positif
(+) karena hasil akhir membentuk warna merh kekuningan.
Identifikasi saponin dilakukan uji buih, ketika ekstrak ditambahkan
air panas dan dikocok kuat-kuat maka akan menimbulkan busa tetap. Hasil
menunjukkan ekstrak positif (+) mengandung saponin. Identifikasi tannin
dilakukan dengan penambahan aquadest untuk melrutkan ekstrak, dan
penambahan NaCl 10% untuk menghilangkan pengotor dari protein sehingga
mencegah terjadinya negative palsu pada uji warna. Penambahan FeCl3 akan
terjadi perubahan warna menjadi warna hijau kehitaman. Warna dihasilkan
oleh penambahan FeCl3 sehingga terjadi reaksi kimia antara ferriklorida dan
gugus fenol dari tannin. Karena mengalami perubahan menjadi biru
kehitaman, sehingga ekstrak positif (+) mengandung tannin. Sedangakan
identifikasi polifenol sama seperti identifikasi tannin yang juga menghasilkan
hasil positif (+) berubah menjadi biru kehitaman.

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 23

Identifikasi flavonoid dilakukan dengan penambahan air da kemudian


dipanaskan. Kemudian ditambahkan etanol, HCl dan serbuk Mg lalu
didiamkan. Hasil menunjukkan negative (-) karena hasil akhir tidak
menunjukkan warna merah ungu.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, maka dapat
dilihat bahwa daun awar-awar (Ficus septica) tidak mengandung senyawa
alkaloid, saponin, polivenol, dan tannin. Daun awar-awar (Ficus septica)
tidak mengandung senyawa flavonoid.
Jika dibandingkan dengan literatur (Utami, 2008), kandungan kimia
pada daun awar-awar yaitu antara lain tanin, alkaloid,polifenol,tanin,dan
saponin terkandung di dalamnya.
Pada saat praktikum senyawa flavanoid tidak teridentifikasi, hal ini
dikarenakan tidak ada ketelitian dari praktikan atau dari zat pereaksi yang
digunakan sudah tidak murni lagi, dan sudah terlalu lama.

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 24

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dari praktikum fitokimia yang telah
dilakukan, dapat didimpulkan bahwa :
1.

Daun awar-awar (Ficus septica Burm ) dapat diekstraksi menggunakan


metode

maserasi

dengan menggunakan metanol (15-30C) sebagai

pelarut. Susut Pengeringan yang diperoleh pada saat pengambilan dan


pengolahan sampel adalah 80%.
2.

Pengujian pada ekstraksi cair-cair diperoleh persentase ekstrak nheksan sebesar 48% dan persentase ekstrak etil asetat sebesar 55%.

3.

Pada percobaan identifikasi ekstrak dengan metode kromatografi lapis


tipis (KLT), diperoleh harga Rf :
a.

Eluen Polar
Etil asetat : Heksan : Air (9:2:1)

b.

- Harga Rf ektrak metanol

= 0.28

- Harga Rf ekstrak heksan

= 0.62

- Haerga Rf ekstrak etil asetat

=0

Eluen non polar


Heksan : Etil asetat (9:1)

4.

- Harga Rf ektrak metanol

= 0.27

- Harga Rf ekstrak heksan

= 0.25

- Haerga Rf ekstrak etil asetat

=0

Pada percobaan identifikasi ekstrak dengan pereaksi warna diperoleh


bahwa ekstrak metanol daun awar-awar (Ficus septica) positif
mengandung alkaloid, saponin, tanin, dan flavonoid.

5.2.

Saran
Disarankan dalam praktikum Fitokimia, agar dosen penanggung
jawab dapat hadir dan membimbing praktikan dalam melakukan setiap

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 25

percobaan ini, agar dapat meminimalisir kesalahan-kesalahan yang


diakibatkan baik oleh asisten ataupun praktikan.

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 26

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2014. www.plantamor.com .Di akses pada tanggal 22 november 2014:
Palu.
Astwan M. 2010. Tanaman Awar Awar. Jurnal Tanaman Obat : Jakarta.
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Jilid III. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia : Jakarta.
Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Jilid IV. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia : Jakarta.
Egon, Sthal. 1985. Analisis Obat kromatografi dan Mikroskopi. ITB :
Bandung.
Ferro, E. A, Schinini, Maldona, J. Rosner ,G.S Hirscman. 1988. Eugenia
Uniflora Leaf Ekstrat and Lipid Metabolism in Cevus Apella Mangkeys.
Journal of Ethnopharmacology
Gunawan. 2004. Ilmu Obat Jilid I. Swadaya:Jakarta.
Hutapea , Parulian, dan Nurianna Thoha. 2008. Inventaris Tanaman Obat
Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.
Ide, pangkalan.2010.Health Secret Of Papino. Gramedia;Jakarta.
Lee ,M., Chiou J., Yen K., dan Yang I. 2000. EBV DNA Polymerose Inhibition
of Tannis from Eugenia Uniflora, Cancer Letters.
Pudjuatmaka.A.Handyana.2002.Kamus Kmia.Balai Pustaka;Jakarta
Santoso, Hieronymus. 2006. Ragam dan Khasiat Tanaman Obat. Agromedia;
Jakarta
Utami, prapti.2008.Buku Pintar Tanaman Obat.Redaksi Agromedia;Jakarta
Yuliarti,nurheti.2009. Ato Z Food Supplement.KDT;Jakarta

LAPORAN LENGKAP FITOKIMIA

Page 27