Anda di halaman 1dari 6

BAB II

GEOLOGI CITRA PENGINDERAAN JAUH

II.1. Dasar Teori


Penginderaan jauh oleh Gardner & Jeffefis (1973) diartikan sebagai suatu
cara pengumpulan keterangan mengenai permukaan bumi dari jarak jauh, atau
pengamatan radiasi elektromagnetik dari suatu objek pada lokasi yang sangat
jauh.
Citra penginderaan jauh (Remote sensing image) adalah citra suatu benda
yang diperoleh dengan alat pencatat atau pengindera tanpa ada hubungan
langsung dengan benda tersebut.
Ilmu pengetahuan yang mempelajari geologi dengan menggunakan citra
penginderaan jauh disebut Geologi Citra Pengindraan Jauh. Foto udara merupakan
salah satu macam citra penginderaan jauh yang sudah lama dipergunakan orang
untuk mempelajari geologi. Oleh karena itu ilmu pengetahuan yang sudah
berkembang adalah geologi foto. Geologi foto adalah studi geologi dengan
bantuan foto udara, sedangkan foto udara adalah foto permukaan bumi yang
diambil dari pesawat udara dengan menggunakan kamera udara (Bates & Jackson,
1987).
Sementara untuk memperoleh informasi objek-objek fisik dan lingkungan
melalui proses perekaman, pengukuran dan interprestasi citra fotografik dan polapola tenaga radiasi elektromagnetik yang terekam disebut fotogrametri (Wolf,
1974).
Dalam Geologi citra pengindraan jauh dikenal 2 faktor interprestasi citra, yaitu :

1. Unsur dasar Pengenalan Citra


2. Unsur dasar interprestasi geologi
Untuk mengenal kedua unsur dasar yang tersebut diatas sebaiknya memiliki
pengetahuan geologi yang cukup, lebih baik lagi kalau pengalaman-pengalaman
geologi lapangan telah dimiliki.
Biasanya dengan melakukan interpretasi citra, kita baru dapat memperoleh batas
penyebaran satuan batuan, struktur geologi dan geomorfologi secara garis besar,
kondisi geologi yang detail baru dapat diketahui setelah melakukan pekerjaan
lapangan.
1. Unsur Dasar Pengenalan Citra
Dalam geologi citra pengindraan jauh dikenal adanya tujuh (7) dasar
pengenalan citra, yaitu : rona (tone), tekstur (texture), pola (pattern), hubungan
dengan keadaan sekitar (relation to the surroundings), bentuk (shape), ukuran
(size) dan bayangan (shadow).
a. Rona (Tone) adalah cerah gelapnya citra yang mencerminkan ukuran
banyaknya cahaya yang dipantulkan oleh obyek dan dicatat pada citra
hitam-putih. Rona dipengaruhi oleh :
1) Letak obyek terhadap matahari
2) Warna obyek yang dibuat citranya
3) Kasar halusnya permukaan obyek
4) Musim atau iklim
5) Macam film atau filter yang dipergunakan
6) Proses pencetakan citra.

Gambar 2. Permukaan kasar yang menimbulkan rona gelap pada citra


(http://andimanwno.wordpress.com/tag/citra-satelit/)

b. Tekstur (Texture) didefinisikan sebagai frekuensi perubahan rona


dalam citra dan dihasilkan oleh suatu kelompok satuan kenampakan
yang terlampau kecil untuk dibedakan masing-masing secara jelas pada
foto. Tekstur dibagi menjadi :
1) Tekstur halus seperti batulempung
2) Tekstur sedang seperti batupasir
3) Tekstur kasar seperti konglomerat dan breksi.
c. Pola (Pattern) adalah susunan meruang yang teratur mengenai
kenampakan geologi topografi vegetasi.
d. Hubungan dengan keadaan sekitar (Relation to the surroundings)
Seperti

kita

ketahui

dalam

ilmu

geologi,

peristiwa

geologi

berhubungan erat satu dengan lainnya, sebagai contoh adanya aliran


lava mungkin berdekatan dengan aktivitas gunung api atau adanya
lahar. Oleh karena itu, dengan mengetahui atau menafsirkan adanya

lahar, seharusnya perlu diperhatikan pula kemungkinan adanya aliran


lava.
e. Bentuk (Shape) yaitu bentuk sebagai suatu unsur pengenalan dalam
interprestasi geologi sangat berarti terutama dalam pengertian yang
lebih luas yang meliputi relief atau topografi.
f. Ukuran (Size) yaitu ukuran yang dapat pula membantu dalam
interprestasi. Ukuran meliputi luas, panjang, lebar, tinggi, dan volume
suatu benda.
g. Bayangan (Shadow) yaitu bayangan sebagai unsur dasar pengenalan,
guna untuk mengenal bentuk bendanya. Oleh karena foto udara
vertikal bisa dipergunakan untuk interprestasi, maka bayangan dapat
dipergunakan untuk mengenal pandangan samping dari suatu obyek.

2. Unsur Dasar Interprestasi Geologi


Unsur dasar interprestasi geologi adalah gejala alam yang terlihat pada
foto udara yang memberikan kemungkinan untuk mengetahui keadaan geologi.
Unsur dasar interprestasi geologi dapat dibagi menjadi :
a. Relief
Relief yaitu beda tinggi rendah dari suatu tempat dengan tempat
lainnya pada suatu daerah dan juga curam landainya lereng-lereng yang
ada. Termasuk dalam pengertian relief ini adalah bentuk-bentuk bukit,
lembah, dataran, gunung dan sebagainya.
b. Pola Penyaluran (Drainage Pattern)

Pola penyaluran adalah kenampakan pola sungai pada foto udara,


yang membantu dalam interprestasi keadaan geologi.

Gambar 3. Contoh pola aliran sungai pada citra


(http://geoenviron.blogspot.com)

c. Kebudayaan (Culture)
Kebudayaan kerapkali dapat dipergunakan untuk interprestasi
geologi. Sawah biasanya diolah oleh manusia di dataran alluvial atau tanah
residual hasil pelapukan batuan, biasanya di kaki gunung api.
d. Tumbuh-tumbuhan Penutup (Vegetation)
Tumbuh-tumbuhan penutup kerapkali dapat memberi keterangan
tentang geologi suatu daerah. Hampir seluruh wilayah Indonesia tertutup
oleh tumbuh-tumbuhan, baik hutan tropis lembab, savanna, ataupun
tumbuhan hasil kebudayaan manusia.

II.2. Peralatan Yang Digunakan


1. Spidol OHP (Minimal 4 warna/Ukuran F)
a. Merah
b. Biru
c. Hitam
d. Hijau
2. Mika bening (4 lembar/Ukuran F4)
3. Selotip
4. Penggaris 1set
5. Jangka
6. Alat tulis
7. Peta citra foto
8. Stereoskop

II.3. Lokasi Pelaksanaan Analisis Citra Penginderaan Jauh


Analisis citra penginderaan jauh dilaksanakan di Laboratorium Geologi
Sumber Daya Mineral, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, IST.
AKPRIND, Jl. I Dewa Nyoman Oka No.32, Kota Baru, Daerah Istimewa
Yogyakarta.