Anda di halaman 1dari 11

Ada empat komponen prioritas Kesehatan Reproduksi nasional, yaitu :

1. Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir


2. Keluarga berencana
3. Kesehatan Reproduksi Remaja
4. Pencegahan/penanggulangan Penyakit Menular Seksual (PMS),
termasuk HIV/AIDS.
Remaja merupakan generasi penerus bangsa yang dipundaknya-lah terpikul
tanggungjawab besar yaitu masa depan bangsa. Seperti apa dan bagaimana keadaan
bangsa Indonesia kedepannya, dapat terlihat dari keadaan remaja saat ini. Menurut
Pardede (2002), masa remaja merupakan suatu fase perkembangan yang dinamis dalam
kehidupan seorang individu. Masa ini merupakan periode transisi dari masa anak ke masa
dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional dan
sosial yang berlangsung pada dekade kedua kehidupan. Dari segi umur remaja dapat
dibagi menjadi remaja awal/early adolescence (10-13 tahun), remaja menengah/middle
adolescence (14-16 tahun) dan remaja akhir/late adolescence (17-20 tahun) (Behrman,
Kliegman & Jenson, 2004).
Pada masa remaja, rasa ingin tahu mengenai seksualitas sangat penting terutama dalam
pembentukan hubungan dengan lawan jenisnya. Besarnya keingintahuan remaja
mengenai hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas menyebabkan remaja selalu
berusaha mencari tahu lebih banyak informasi mengenai seksualitas (Arma, 2007).

Selain keingintahuan yang tinggi, remaja juga dihapakan pada proses pencarian jati
diri.

James Marcia (dalam Santrok JW, 2003) menemukan bahwa ada empat status identitas diri

pada remaja yaitu identity diffusion/confusion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved.
Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan
masalah pada diri remaja. Dengan kata lain, remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan.

Jika tidak dibirnbing dengan tepat keingintahuan remaja bisa menjerumuskan mereka
kedalam hubungan seks bebas yang dilakukan bahkan sebelum mereka menikah.
Perilaku remaja yang ingin mencoba segala sesuatu yang berhubungan dengan seks
merupakan hal yang sangat rawan. Akibatnya akan sangat buruk dan dapat merugikan
masa depan remaja, khususnya perempuan.
Departemen Kesehatan RI (2010) melaporkan hasil survey Komnas Anak bekerja sama
dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada tahun 2010 terungkap
sebanyak 93,7% anak SMP dan SMU yang disurvei mengaku pernah melakukan ciuman,
petting, dan oral seks. Sebanyak 62,7% anak SMP yang diteliti mengaku sudah tidak

perawan, 21,2% remaja SMA yang disurvei mengaku pernah melakukan aborsi dan 97%
pelajar SMP dan SMA yang disurvei mengaku suka menonton film porno.
Seiring meningkatnya arus globalisasi, perilaku seks bebas pada remaja pun semakin
meningkat. Hal ini karena kemajuan teknologi yang memudahkan remaja mengakses
berbagai informasi yang memuaskan rasa ingintahunya khususnya tentang seks. Menurut
data BKKBN, seks bebas sudah menjadi masalah utama remaja di Indonesia selain narkoba
dan NAPZA.

Pengetahuan seksual pranikah remaja penting diberikan kepada remaja, baik melalui
pendidikan formal maupun informal. Upaya ini perlu dilakukan untuk mencegah halhal yang tidak diinginkan. Mengingat selama ini banyak remaja yang memperoleh
pengetahuan seksnya dari teman sebaya, membaca buku porno, menonton film
porno, dan sebaginya. Oleh karena itu, perlu diupayakan adanya pemberian informasi
mengenai pengetahuan seksual pranikah dikalangan remaja (Chyntia, 2003).
Pengetahuan seksual pranikah remaja terdiri dari dari pemahaman
tentang seksualitas yang dilakukan sebelum menikah yang terdiri dari
pengetahuan tentang fungsi hubungan seksual, akibat seksual pranikah, dan
faktor yang mendorong seksual pranikah (Sarwono 2006).
Pengetahuan seksual pranikah remaja merupakan pengetahuan yang dapat
menolong muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada
dorongan seksual. Dalam hal ini pengetahuan seksual pranikah idealnya
diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah, mengingat yang paling tahu
keadaan anak adalah orang tuanya sendiri. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak
semua orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan
permasalahan seksual. Selain itu, tingkat sosial ekonomi maupun tingkat
pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau
dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak
mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut. Dalam hal ini maka
sebenarnya peran dunia pendidikan sangatlah besar (Chyntia, 2003).
Pengetahuan seksual pranikah remaja merupakan pengetahuan yang dapat
menolong muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada
dorongan seksual. Dalam hal ini pengetahuan seksual pranikah idealnya
diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah, mengingat yang paling tahu
keadaan anak adalah orang tuanya sendiri. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak
semua orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan
permasalahan seksual. Selain itu, tingkat sosial ekonomi maupun tingkat
pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau
dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak
mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut. Dalam hal ini maka
sebenarnya peran dunia pendidikan sangatlah besar (Chyntia, 2003).
Pengetahuan seksual pranikah remaja terdiri dari dari pemahaman
tentang seksualitas yang dilakukan sebelum menikah yang terdiri dari
pengetahuan tentang fungsi hubungan seksual, akibat seksual pranikah, dan
faktor yang mendorong seksual pranikah (Sarwono 2006). Masyarakat masih
sangat mempercayai pada mitos-mitos seksual yang merupakan salah satu
pemahaman yang salah tentang seksual. Kurangnya pemahaman ini

12
disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : adat istiadat, budaya, agama,
dan kurangnya informasi dari sumber yang benar (Soetjiningsih, 2007).
Pengetahuan yang tidak lengkap dan tidak tepat tentang masatah
seksualitas, misalnya mitos yang tak benar.
Kurangnya bimbingan untuk bersikap positif dalam hal yang berkaitan
dengan seksualitas.
Penyalahgunaan dan ketergantungan napza, yang mengarah kepada
penularan HIV/AIDS melalui jarum suntik dan melalui hubungan seks
bebas. Masalah ini semakin mengkhawatirkan dewasa mi.
Penyalahgunaan seksual.
Kehamilan remaja.
Kehamilan pranikahldi luar ikatan pemikahan.hat tersebut dapat membawa
remaja terjerumus dalam hubungan seks pranikah dengan segala
akibatnya. Kematangan organ seks memungkinkan kehamilan remaja puteri
di
luar nikah, upaya abortus, dan penularan penyakit kelamin, termasuk
HIV/AIDS. Perilaku ingin mencoba-coba juga dapat mengakibatkan remaja
mengalami ketergantungan NAPZA (narkotik, psikhotropik dan zat adiktif lain,
termasuk rokok dan alkohol). Dari segi Kesehatan Reproduksi, perilaku ingin
mencoba dalam bidang seks merupakan hal yang sangat rawan, karena
dapat
membawa akibat sangat buruk dan merugikan masa depan remaja,
khususnya
remaja perempua
Masa remaja atau adolescence diartikan sebagai perubahan emosi dan perubahan
sosial pada masa remaja. Masa remaja menggambarkan dampak perubahan fisik, dan
pengalaman emosi yang mendalam. Masa remaja adalah masa yang penuh dengan
gejolak, masa yang penuh dengan berbagai pengenalan dan petualangan akan hal-hal
yang baru termasuk pengalaman berinteraksi dengan lawan jenis sebagai bekal
manusia untuk mengisi kehidupan mereka kelak (Nugraha & Windy, 1997).
Seiring dengan pertumbuhan remaja ke arah kematangan seksual yang sempurna, muncul
jugalah hasrat dan dorongan untuk menyalurkan keinginan seksualnya. Hal ini
merupakan sesuatu yang wajar karena secara alamiah dorongan seksual ini harus terjadi
untuk menyalurkan kasih sayang antara dua insan, sebagai fungsi perkembangbiakan dan
mempertahankan keturunan ( Mutadin, 2002).

Presentase remaja di Indonesia berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010 sebesar


26,67 % dari 237.6 juta jiwa penduduk Indonesia. Berarti sekitar 63, 4 juta jiwa
penduduk Indonesia adalah remaja. Banyaknya jumlah remaja tentu dapat menjadi
asset bangsa jika remaja mampu menunjukkan potensi diri yang positif. Sebaliknya,
petaka akan terjadi jika remaja menunjukkan perilaku negative.

Sayangnya akhir-akhir

banyak perilaku negative remaja yang semakin terekspos. Pada akhirnya masalah remaja
membuat gentir pemerintah. ini pemerintah dibuat gentir karena meningkatnya permasalahan
yang terjadi di kalangan remaja.

Selain mengalami perkembangan fisik, remaja juga mengalami perkembangan


psikososial, karena kesadaran akan bentuk fisik yang bukan lagi anak-anak akan
menjadikan remaja sadar meninggalkan tingkah laku anak-anaknya dan mengikuti norma
serta aturan yang berlaku (Arma,2007)
Remaja merupakan suatu masa peralihan baik secara fisik, psikis, maupun sosial dari
masa kanak-kanak menuju dewasa (Arma, 2007).
Menurut BKKBN, kondisi remaja Indonesia saat ini dapat digambarkan sebagai berikut.
Belakangan ini remaja menjadi pusat perhatian karena banyaknya masalah yang terjadi.

Besarnya jumlah kelompok usia remaja ini jelas memerlukan perhatian dan penanganan
serius dari seluruh pihak. Apalagi bila dikaitkan dengan derasnya arus kemajuan
teknologi informasi globalisasi. Saat ini remaja dapat dengan mudah mengakses materi/
produk yang belum sepantasnya mereka konsumsi, dari sumber yang kurang dapat
dipertanggungjawabkan. Dampak negatif yang menimpa kaum remaja, akibat pergaulan
bebas dikhawatirkan terjadi kehamilan di luar nikah yang tidak diinginkan, dan berujung
pada

aborsi

ilegal

yang

sangat

membahayakan

nyawa

remaja

itu

sendiri.

Penyalahgunaan obat-obat terlarang, alkoholisme, dan kekerasan, sampai dengan


penularan HIV/AIDS di kalangan usia muda, juga menjadi ekses atau dampak lanjutan
dari akar permasalahan remaja.
Remaja merupakan masa yang rentan. Karena masa remaja merupakan periode transisi dari
masa anak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental
emosional dan social yang berHal ini tentunya dapat menjadi asset bangsa jika remaja dapat
menunjukkan potensi diri yang positif namun sebaliknya akan menjadi petaka jika remaja tersebut
menunjukkan perilaku yang negatif bahkan sampai terlibat dalam kenakalan remaja.

Jumlah remaja di Indonesia Perubahan yang terjadi pada remaja baik secara fisik maupun
psikis sering membuat remaja bingung di periode awalnya. Selain fisik dan psikis, remaja
juga mengalami perubahan tugas dan peran dilingkungan social. Kebingungan
Remaja sering dianggap sebagai periode yang paling sehat dalam siklus kehidupan. Akan tetapi
pertumbuhan sosial dan pola kehidupan masyarakat akan sangat mempengaruhi pola tingkah laku dan
jenis penyakit golongan usia remaja seperti kecelakaan, kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit
akibat hubungan seksual, penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang yang semuanya akan
menentukan kehidupan pribadi serta dapat menjadi masalah bagi keluarga maupun bangsa dan negara
di masa yang akan datang.

Menurut Pardede (2002), masa remaja merupakan suatu fase perkembangan yang
dinamis dalam kehidupan seorang individu. Masa ini merupakan periode transisi dari
masa anak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental,
emosional dan sosial yang berlangsung pada dekade kedua kehidupan.

Permasalahan seks bebas dikalangan remaja Indonesia meningkat cukup pesat.


Peningkatan ini tentu bukanlah suatu prestasi, melainkan ancaman bagi bangsa
Indonesia. Kini seks bebas menjadi masalah utama remaja di Indonesia selain
narkoba dan HIV/AIDS. Sejalan dengan arus globalisasi dan teknologi yang semakin
berkembang, arus informasi yang semakin mudah diakses serta gaya hidup
modernisasi membuat remaja cenderung melakukan seks bebas sebagai ajang
aktualiasis diri. Namun remaja bukanlah satu-satunya pihak yang harus disalahkan
dari meningkatnya angka seks bebas. Perlu uluran tangan dari berbagai pihak untuk
menghentikan atau setidaknya mengurangi angka tersebut. Sebagai mahasiswa
kesehatan yang cukup mengerti resiko perilaku seks bebas, kami berusaha untuk
membantu mengurangi angka seks bebas dikalangan remaja, terlebih kami adalah
bagian dari remaja itu sendiri. Memanfaatkan teknologi yang ada, (nama produk)
dirancang sebagai salah satu upaya penurunan angka seks bebas dikalangan remaja
Indonesia sekaligus media komunikasi informasi dan edukasi mengenai bahaya seks
bebas.

Jumlah remaja yang melakukan seks bebas tidak akan menurun begitu saja tanpa
adanya intervensi dari berbagai pihak. Karena permasalahan seks bebas dikalangan

remaja saat ini sudah semakin kompleks, sulit untuk melakukan penghentian.
Diperlukan upaya-upaya pengurangan angka seks bebas dikalangan remaja. Remaja
bukan satu-satunya pihak yang harus disalahkan dari meningkatnya angka seks bebas
dikalangan remaja. Oleh karena itu, perlu uluran tangan dari berbagai kalangan untuk
menghentikan atau setidaknya mengurangi angka tersebut.
, khusdari pihak yang mengerti dengan jelas akibat dari seks bebas itu sendiri.
kadang diabaikan. Ketika seorang remaja ingin mengungkapkan sesuatu
dalam pikirannya, tidak sedikit pihak yang menganggap pikiran remaja
sebagai sesuatu yang tidak berarti. Karena remaja masih dianggap anak kecil
yang belum mengerti apa-apa.
Keberadaan remaja tidak bisa dianggap sebelah mata. Berdasarkan Sensus Penduduk
dari BPS pada tahun 2010, jumlah remaja usia 10-24 tahun sekitar 64 juta atau
27.6% dari jumlah penduduk sebanyak 237.6 juta jiwa.
Remaja adalah mereka yang berusia 10-20 tahun, dan ditandai dengan perubahan
dalam bentuk dan ukuran tubuh, fungsi tubuh, psikologi dan aspek fungsional.

Masa remaja adalah masa yang paling rentan. Keberadaan remaja tidak bisa dianggap
sebelah mata. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010, 26,67 % dari 237.6 juta jiwa
penduduk Indonesia adalah remaja. Remaja merupakan masa yang rentan. Karena masa remaja
merupakan periode transisi dari masa anak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan
perkembangan fisik, mental emosional dan social yang berHal ini tentunya dapat menjadi asset
bangsa jika remaja dapat menunjukkan potensi diri yang positif namun sebaliknya akan menjadi petaka jika
remaja tersebut menunjukkan perilaku yang negatif bahkan sampai terlibat dalam kenakalan remaja.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan seksual yang pertama


dialami oleh remaja menurut Soetjiningsih (2007) yaitu:
1) waktu/ saat mengalami pubertas
2) kontol sosial kurang tepat (terlalu ketat atau terlalu longgar), kurangnya
kontrol dari orang tua, remaja tidak tahu batas-batas mana yang boleh
dan mana yang tidak boleh,
3) frekuensi pertemuan dengan pacarnya, hubungan antar mereka semakin
romantis, adanya keinginan untuk menunjukkkan cinta pada pacarnya,
penerimaan aktifitas seksual pacarnya.
4) status ekonomi, kondisi keluarga yang tidak memungkinkan untuk
mendidik anak-anak untuk memasuki masa remaja dengan baik,
5) korban pelecehan seksual,
6) tekanan dari teman sebaya, penggunaan obat-obat terlarang dan alcohol,
merasa sudah saatnya untuk melakukan aktivitas seksual sebab sudah
merasa matang secara fisik,
7) sekedar menunjukkan kegagahan dan kemampuan fisiknya,
8) terjadi peningkatan rangsangan seksual akibat peningkatan kadar
hormon reproduksi atau seksual. Menurut Smith dan Anderson dalam
Dhamayanti (2009) munculnya dorongan seksual terjadi pada remaja
pertengahan. Faktor- faktor yang meningkatkan dorongan seksual pada
remaja menurut BKKBN (2007) yaitu menonton film porno, melihat
gambar porno, mendengar cerita porno, berduaan di tempat sepi,
berkhayal tentang seksual, menggunakan zat perangsang atau napza.
Hubungan seksual pranikah di
kalangan remaja biasanya terjadi karena
sedang mabuk, suka sama suka, rasa ingin
tahu dan ingin merasakannya setelah
menonton video porno atau melihat
perempuan seksi, pengaruh teman, dan agar
terlihat modern. Selain itu, faktor
keterbatasan ekonomi juga merupakan
penyebab remaja melakukan hubungan
seksual untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya (Kristanti, dkk, 2010).
Kenyataan yang berkembang di masyarakat menunjukkan kekeliruan dalam
memahami konsep seks. Masih terdapat beberapa kesalahan dalam membedakan
pengertian seks, seksualitas, perilaku seksual dan perilaku seks bebas.

Era arus informasi yang serba cepat dan rangsangan-rangsangan yang muncul
disekitar remaja menyebabkan mereka yang tidak memiliki pengetahuan yang benar
mengenai seks cenderung menjadi korban dari rasa keingintahuannya sendiri. Tanpa
pendidikan dan informasi yang terarah, baik secara formal maupun informal, dapat

dipastikan bahwa remaja akan tetap melihat seks sebagai suatu misteri. Mereka akan
mengeksplorasi seksualitas tanpa bimbingan dan menjadi konsumen rakus dan tidak
akurat yang disajikan media massa. Remaja mudah terjerumus dalam perilaku seks
yang menyimpang
Remaja sering kali kekurangan informasi dasar mengenai kesehatan reproduksi ataupun
mengenai seksualitas. Padahal pada masa remaja rasa ingin tahu tersebut sangat tinggi,
sehingga para remaja sering mencari sumber informasi mengenai seksualitas. Dari hasil
penelitian Collins, Elliot, Berry, Kanouse, Kunkel, Hunter, et al (2004), menunjukkan
bahwa eksploitasi seksual dalam video klip, majalah, televisi dan film-film ternyata
mendorong para remaja untuk melakukan aktivitas seks secara sembarangan di usia
muda.

Pengetahuan seksual pranikah remaja merupakan pengetahuan yang dapat


menolong muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada
dorongan seksual. Dalam hal ini pengetahuan seksual pranikah idealnya
diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah, mengingat yang paling tahu
keadaan anak adalah orang tuanya sendiri. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak
semua orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan
permasalahan seksual. Selain itu, tingkat sosial ekonomi maupun tingkat
pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau
dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak
mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut. Dalam hal ini maka
sebenarnya peran dunia pendidikan sangatlah besar (Chyntia, 2003).
Era arus informasi yang serba cepat dan rangsangan-rangsangan yang muncul
disekitar remaja menyebabkan mereka yang tidak memiliki pengetahuan yang benar
mengenai seks cenderung menjadi korban dari rasa keingintahuannya sendiri.
Kemudahan dalam mengakses informasi menjadi boomerang bagi remaja. Media
massa adalah salah satu faktor yang berpengaruh pada pembentukan opini remaja.
Dari hasil penelitian Collins, Elliot, Berry, Kanouse, Kunkel, Hunter, et al (2004),
menunjukkan bahwa eksploitasi seksual dalam video klip, majalah, televisi dan film-film
ternyata mendorong para remaja untuk melakukan aktivitas seks secara sembarangan di
usia muda.

Menurut Sarlito dalam Poltekkes Depkes (2010), faktor faktor yang dianggap berperan
dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja adalah sebagai berikut :
1) Perubahan perubahan hormonal ini menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran
dalam bentuk perilaku tertentu.
2) Penyaluran tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia
perkawinan, adanya undang undang tentang perkawinan, maupun karena norma social
yang semakin lama semakin menuntut persyaratan yang terus meningkat untuk
perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental, dan lain lain).
3) Norma norma agama yang berlaku, di mana seseorang dilarang untuk melakukan
hubungan seksual sebelum menikah. Remaja yang tidak dapat menahan diri memiliki
kecenderungan untuk melakukan hal tersebut.
4) Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi
dan rangsangan melalui media massa yang dengan teknologi yang canggih (contoh :
VCD, buku pornografi, foto, majalah, internet, dan lain lain) menjadi tidak terbendung
lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin
mencoba, akan meniru apa dilihat atau didengar dari media massa, karena pada umumnya
mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orangtuanya.
5) Orang tua, baik karena ketidaktahuan maupun karena sikapnya yang masih
mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka
pada anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini.
6) Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat,
sebagai akibat dari berkembangnya peran dan pendidika wanita, sehingga kedudukan
wanita semakin sejajar dengan pria.

Remaja perempuan belajar untuk mengaitkan hubungan seks dengan cinta. Mereka
sering merasionalkan tingkah laku seksual mereka dengan mengatakan pada diri
mereka sendiri bahwa mereka terhanyut cinta. Sejumlah peneliti menemukan bahwa
remaja perempuan, lebih daripada remaja laki-laki, mengatakan bahwa alasan utama
mereka aktif secara seksual adalah karena jatuh cinta. Lebih banyak lagi perempuan
daripada laki-laki yang telah berhubungan seks dengan pasangan yang mereka cintai
dan ingin mereka nikahi. Alasan lain untuk melakukan hubungan seks adalah karena
didorong oleh kekasih, mencoba-coba siapa tau seks adalah cara memperoleh
kekasih, keingintahuan dan keinginan seksual yang tidak berhubungan dengan
mencintai dan menyayangi. Remaja laki-laki mungkin menyadari bahwa remaja

perempuan telah disosialisasikan dengan etika cinta. Mereka juga mungkin tahu
bahwa tekanan untuk memiliki kekasih yang dirasakan oleh banyak perempuan. Dua
pernyataan klasik yang sering dikatakan oleh laki-laki menunjukkan bahwa mereka
paham pemikran perempuan tentang seks dan cinta. kamu pasti mau kalau kamu
benar-benar mencintai saya dan kalau kamu benar-benar mencintai saya, kamu
pasti mau berhubungan seks dengan saya remaja perempuan yang mengatakan
kalau kamu benar benar mencintai saya, kamu tidak akan memaksa saya seperti
itu adalah mereka yang mengetahui motivasi seksual laki-laki.
remaja perempuan yang mengatakan kalau kamu benar benar mencintai saya, kamu
tidak akan memaksa saya seperti itu adalah mereka yang mengetahui motivasi
seksual laki-laki.
Etika seksual adalah hal yang paling penting ditegakkan oleh para remaja yang
sedang berpacaran. Tidak ada satu alasan pun yang dapat digunakan untuk
membenarkan mengadakan hubungan seksual pada masa berpacaran.
mulai dari tingkah laku yang dilakukannya seperti sentuhan, berciuman (kissing)
berciuman belum sampai menempelkan alat kelamin yang biasanya dilakukan
dengan memegang payudara atau melalui oral seks pada alat kelamin tetapi belum
bersenggama (necking, dan bercumbuan sampai menempelkan alat kelamin yaitu
dengan saling menggesek-gesekan alat kelamin dengan pasangan namun belum
bersenggama (petting, dan yang sudah bersenggama (intercourse),

a. Menambah risiko tertular penyakit menular seksual (PMS), seperti: gonore


(GO), sifilis, Herpes simpleks (genitalis), Clamidia, Kondiloma akuminata,
HIV/AIDS.
b. Remaja perempuan terancam kehamilan yang tidak diinginkan, pengguguran
kandungan yang tidak aman, infeksi organ reproduksi, anemia, kemandulan
dan kematian karena perdarahan atau keracunan kehamilan.
c. Trauma kejiwaan (depresi, rendah din, rasa berdosa, hilang harapan masa
depan), remaja laki-laki jadi tidak perjaka, remaja perempuan tidak perawan.
d. Kemungkinan hilangnya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan
kesempatan bekerja, terutama bagi remaja perempuan.

e. Melahirkan bayi yang kurang/tidak sehat.


f. Seks dan cinta seperti dua mata uang dalam kehidupan berpacaran di kalangan
remaja. Remaja perempuan belajar untuk mengaitkan hubungan seks dengan
cinta. Mereka sering merasionalkan tingkah laku seksual mereka dengan
mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa mereka terhanyut cinta. Sejumlah
peneliti menemukan bahwa remaja perempuan, lebih daripada remaja lakilaki, mengatakan bahwa alasan utama mereka aktif secara seksual adalah
karena jatuh cinta. Lebih banyak lagi perempuan daripada laki-laki yang telah
berhubungan seks dengan pasangan yang mereka cintai dan ingin mereka
nikahi (Santrock, 2003).
g. Alasan lain untuk melakukan hubungan seks adalah karena didorong oleh
kekasih, mencoba-coba siapa tau seks adalah cara memperoleh kekasih,
keingintahuan dan keinginan seksual yang tidak berhubungan dengan
mencintai dan menyayangi. Remaja laki-laki mungkin menyadari bahwa
remaja perempuan telah disosialisasikan dengan etika cinta. Mereka juga
mungkin tahu bahwa tekanan untuk memiliki kekasih yang dirasakan oleh
banyak perempuan. Dua pernyataan klasik yang sering dikatakan oleh lakilaki menunjukkan bahwa mereka paham pemikran perempuan tentang seks
dan cinta. Kamu pasti mau kalau kamu benar-benar mencintai saya dan
Kalau kamu benar-benar mencintai saya, kamu pasti mau berhubungan seks
dengan saya (Santrock, 2003).