Anda di halaman 1dari 7

(HARIAN DAERAH KALIMANTAN POST, 22 OKTOBER 2012)

Banjarmasin, KP - Sekitar 22,8% atau lebih dari seperlima balita di Provinsi Kalimantan Selatan
(Kalsel)
mengalami kurang gizi. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kalsel Rosihan Adhani angka tersebut
diperoleh dari
hasil riset kesehatan dasar 2010.
"Yang mengalami kurang gizi itu sebanyak 22,8 persen dan sekitar 400.000 balita dan tersebar
di 13
kabupaten/kota," katanya di Banjarmasin, Sabtu (20/10). Menurutnya, data itu lebih baik dari
kondisi pada 2007.
Ketika itu jumlah balita kurang gizi tercatat 26,6%. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan
status Kalsel
sebagai daerah dengan kemiskinan nomor tiga terkecil di Indonesia dan kaya hasil sumber daya
alam berupa batu
bara. Angka kemiskinan di Kalsel tercatat 5,35.% dari 3,6 juta penduduk. Selain kurang gizi,
kasus gizi buruk juga
masih menjadi momok bagi masyarakat. Pada 2010 jumlah penderita gizi buruk tercatat ada 87
kasus dan
bertambah menjadi 115 kasus pada 2011. Persentase kasus gizi buruk di provinsi itu jauh
melampaui rata-rata
nasional yang hanya 18,4%. Penyakit gizi buruk, ujarnya, tidak melulu karena factor kemiskinan.
Tetapi juga
akibat kurangnya pemahaman para orang tua untuk memberikan asupan nutrisi dan air susu
ibu (ASI) eksklusif
kepada anak.
Angka pemberian asi eksklusif di Kalsel hanya 51,18% dari seharusnya 65%.

Meski Menurun, Angka Gizi Buruk di Kalsel Masih Banyak


Rabu, 25 Januari 2012 | 23:25 WIB

BANJARBARU, KOMPAS.com - Angka anak penyandang gizi buruk di Kalimantan Selatan


masih cukup tinggi meski dalam beberapa tahun terakhir terjadi penurunan. Selama 2011
ditemukan 115 kasus. Angka ini menurun dibanding tahun 2008 lalu yang mencapai 158 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kalsel Rosihan Adhani, Rabu (25/1/2012), di Banjarbaru, mengatakan,
penderita gizi buruk di Kalsel tidak hanya ditem ukan di wilayah pelosok, tapi juga daerah lain
yang berdekatan dengan kota besar, seperti Banjarmasin dan Kabupaten Banjar.
Jadi tidak mutlak berada di daerah terpencil yang notabene kehidupannya masyarakatnya tidak
semaju orang kota, ujar Rosihan kepada pers dalam rangka menyambut Hari Gizi Nasional yang
jatuh pada tanggal 25 Januari.
Menurut Rosihan setidaknya ada dua penyebab terjadinya gizi buruk di Kalsel. Penyebab
pertama adalah kurangnya asupan nutrisi dalam makanan, baik yang disebabkan oleh gaya hidup
masyarakat maupun kondisi ekonomi.
Dari sisi gaya hidup banyak orang yang secara ekonomi mampu namun mereka kurang peduli
terhadap asupan makanan anaknya. Sedang dari sisi ekonomi masih cukup banyak warga kurang
mampu, meski prosentase pendudu k miskin di Kalsel menempati posisi keempat terkecil secara
nasional.
Faktor lainnya adalah masih kurangnya pemahaman masyarakat untuk memberikan air susu ibu
(ASI) eksklusif. Padahal keberadaan asi ekslusif sangat penting untuk pertumbuhan anak. Angka
pemberian asi eksklusif di Kalsel hanya 51,18 persen dari seharusnya 65 persen.
Ia mencontohkan di Kota Banjarmasin, dari 4.950 bayi yang mendapatkan asi ekskusif hanya
2.553 bayi saja. Begitu pula di Kota Banjarbaru hanya 783 bayi yang mendapat asi ekslusif dari
total bayi yang mencapai 4.396.
"Kami terus mendorong agar para orangtua memberikan ASI paling tidak sampai umur bayi
mencapai enam bulan, jangan diberi makanan lain," ucapnya.
Selain gizi buruk, hal lain yang masih menjadi perhatian di Kalsel a dalah anak pendek dan anak
kurus. Prosentase angka anak pendek mencapai 35,3 persen atau sedikit lebih rendah dari angka
nasional 35,6 persen. Sedang untuk anak kurus sebanyak 15,6 persen lebih banyak dari angka
nasional 13,3 persen.

Dinkes Prihatinkan Masih Tingginya Kasus Gizi Buruk


Posted on 11 Sep 2013. Hits : 306

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menyatakan prihatin karena
masih tingginya kasus gizi buruk yang melanda anak balita di wilayah ini.
"Kita harus berusaha mencari solusi terbaik agar kasus gizi buruk tak terdapat lagi di wilayah
ini," kata kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin, drg Diah R Praswati kepada wartawan di
Banjarmasin, Rabu.
Ia mencontohkan kasus gizi buruk sejak tahun 2008 hingga sekarang masih terbilang tinggi di
wilayah ini, padahal berbagai penyuluhan dan pengobatan terhadap ibu hamil terus saja
dilakukan.
"Berdasarkan catatan Dinkes Banjarmasin per Agustus ini mulai perhitungan Januari 2013 kasus
gizi buruk yang ditemukan petugas kesehatan sebanyak 30 orang di wilayah Banjarmasin
ini,"katanya.
Kalau dilihat per tahun sejak tahun 2008 memang selalu tinggi kasus kekurangan gizi terhadap
anak balita tersebut.
Tahun 2008 tercatat 55 kasus, 2009 sebanyak 33 kasus, 2010 juga 33 kasus, tahun 2011
sebanyak 45 kasus, dan tahun 2012 lalu sebanyak 69 kasus.
Melihat masih tingginya kasus gizi buruk, Dinkes mengingatkan kepada ibu hamil dan menyusui
supaya memeriksakan secara rutin kehamilan dan bayi yang baru dilahirkan dengan mengantongi
buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
Melalui buku KIA maka bisa diketahui perkembangan kehamilan dan anak balita hingga bisa
diketahui pula apakah anak menderita gizi buruk atau tidak, tambahnya.
Caranya menurut Kadinkes adalah melihat berat bayi lahir apakah di bawah dari berat 2,5
kilogram,kalau itu terjadi maka perlu diberikan gizi atau perawatan agak anak tidak mengalami
gizi buruk.
Pemerintah melalui Dinkes sendiri berkomitmen akan memberikan bantuan terhadap para anak
gizi buruk dengan memberikan pengobatan dan memberikan asupan seperti susu, telur, dan
lainnya.

Negeri Gizi Buruk (Memperingat Hari Gizi Nasional 25 Januari 2014)


Sabtu, 25 Januari 2014 00:36 WITA
Oleh : Moh Yamin
Dosen di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin
Di sejumlah daerah negeri ini, dari Sabang sampai Merauke, kita sering
dikagetkan dengan banyaknya bayi di bawah usia lima tahun (balita)
terkena penyakit gizi buruk (baca: realitas). Misalnya, Aceh dengan
angka 10,7 persen, NTT (9,4 persen), NTB (8,1 persen), Sumatera
Utara (8,4 persen), Sulawesi Barat (10 persen), Sulawesi Tengah (8,9
persen), dan Maluku (9,3 persen).
Ada juga provinsi yang kasus gizi buruk maupun kurang gizinya cukup
tinggi. Yakni, NTT, NTB, Sulteng, dan Maluku. Sedangkan 40 anak di
Kampung Koya, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, juga
menderita gizi buruk (tabloidjubi.com). Mereka berbadan kurus
kerempeng dan berpenyakitan sebagai efek domino penyakit gizi
buruk tersebut.
Para balita mengalami kesehatan yang buruk, sehingga tidak bisa
menjalani hidupnya secara normal dan justru berada dalam titik nadir
hidup yang mengkhawatirkan. Mereka tidak bisa menjadi anak-anak
yang berbadan sehat.
Biasanya, hal tersebut menimpa mereka lantaran tidak mendapatkan
makanan yang sehat dan menyehatkan. Kadar protein yang
terkandung dalam makanan yang dikonsumsinya sangat minimalis dan
berada di angka nol. Sangat wajar, bila makanan yang masuk ke
tubuhnya pun tidak memberikan dampak positif bagi perkembangan
dan kemajuan seluruh sel tubuhnya untuk menjadi sehat.
Bahkan, hal demikian juga dipicu oleh tiadanya minuman yang
mengandung zat-zat vitamin yang dapat memberikan kesegaran dan
kesehatan. Minumannya sangat jauh dari kadar-kadar vitamin. Belum
lagi, air yang digunakan untuk diminum juga berasal dari air yang tidak
bersih, karena sumbernya pun tidak bersih. Karena itu, sangat
dimungkinkan, hal demikian pun menghambat kemajuan kesehatan
para bayi. Lebih ironis lagi, itu juga didukung kuat oleh lingkungan

(sanitasi) yang tidak bersih, sehingga menyebabkan sirkulasi udara di


mana bayi itu tinggal tidak memberikan kadar kesehatan
menyehatkan.
Mereka juga tinggal di tempat yang udaranya sangat pengap dan justru
penuh dengan polusi kotoran-kotoran sekitar. Sebut saja, banyaknya
sampah berserakan di daerah sekitar tempat tinggal bayi, sungguh
menjadi ancaman terberat bagi timbulnya banyak penyakit serta
merusak kesehatan. Sampah berserakan berpotensi untuk
menimbulkan penyakit-penyakit tak terduga yang bisa menggangu
kesehatan tubuh bayi.
Diakui atau tidak, ini adalah sebuah keniscayaan di lapangan. Yang
jelas, realitas-realitas mengenaskan semacam itu merupakan potret
yang dapat memperkeruh epidemi gizi buruk. Ini, tentu saja sangat
rentan untuk menjadi bayi-bayi bermasa depan muram dan suram.
Tidak bisa menjadi anak-anak sehat Indonesia di masa mendatang.
Ironisnya, pemerintah di bawah kendali Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono selama ini cenderung tidak memiliki kepedulian yang tinggi
untuk memberantas epidemi gizi buruk dengan segala konsekwensi
buruknya. Bila ada penanganan pun, itu hanya bersifat reaksioner.
Dalam konteks tersebut, pemerintah mencoba melakukan pemberian
jenis makanan dan minuman sehat terhadap para balita di sejumlah
daerah negeri, karena saat itu sedang marak diperbincangkan media
massa, pengamat sosial dan lain seterusnya.
Melakukan distribusi makanan dan minuman sehat secara gratis
secara besar-besaran untuk menanggulangi gizi buruk pun, dilakukan
dengan sedemikian masif dan terpadu. Ada kekhawatiran, bila itu
tidak dilakukan, citra politik pemerintah di depan masyarakat akan
anjlok. Dengan kondisi demikian, sikap membantu rakyat pun menjadi
politis demi kepentingan tertentu, tidak secara tulus hati berbuat
untuk kesehatan anak-anak Indonesia.
Yang jelas pula, terlepas berbau politis atau tidak politis, pemerintah
sangat tidak serius dan mendalam menyelesaikan persoalan gizi buruk
yang sudah menimpa kesehatan anak-anak negeri ini.

Etos kerja tinggi pemerintah untuk meningkatkan perbaikan kesehatan


di bangsa ini ibarat panggang jauh dari api. Selalu terhambat dengan
kepentingan-kepentingan lain yang tidak berkaitan langsung terhadap
kepentingan rakyat. Sebut saja, pemerintah lebih tertarik mengurusi
persoalan politik kekuasaan, jabatan dan lain seterusnya. Ini sangat
ironis. Ternyata, elit-elit lapis di negeri ini yang didapuk sebagai
pelayan rakyat justru lebih gandrung mementingkan urusan-urusan
sektarian tertentu. Tidak ada niatan politik suci untuk bekerja demi
rakyat di bangsa ini.
Oleh karena itu, tatkala persoalan gizi buruk sudah mendarah daging
di bangsa ini, sudah sewajarnya bila pemerintah mau kembali
mengetuk hati dan membuka diri demi berbuat untuk bangsa Indonesia
ke depan. Menyelamatkan kesehatan anak-anak Indonesia harus
menjadi agenda utama yang harus segera dilakukan. Jangan selalu
tertunda dan ditunda karena sebuah kepentingan golongan dan pribadi
an sich.
Salah satu tujuan pelaksanaan Millennium Development Goals (MDGs)
2015 adalah terbentuknya masyarakat Indonesia yang sehat. Sebab
dengan terwujudnya kesehatan, maka penyakit gizi buruk tidak akan
merealitas. Anak-anak Indonesia akan bisa menjalani hidup dan
kehidupannya secara wajar dan normal serta kondusif. Anak-anak
negeri yang masih duduk di bangku sekolah pun akan terhindar dari
penyakit gizi buruk, sehingga mereka pun akan lebih nyaman dalam
belajar, menuntut ilmu.
Penuntasan Terpadu
Persoalan gizi buruk akan tuntas diselesaikan bila pemerintah
memberikan pendidikan hidup sehat kepada seluruh masyarakat,
termasuk bagaimana mengurusi para bayinya. Ini sebuah terobosan
penting yang harus segera digelar. Menggerakkan dinas kesehatan
sebagai pelaksana utama serta lembaga-lembaga pemerintahan lain
sebagai pendukung, sudah semestinya untuk dilakukan. Meningkatkan
taraf hidup masyarakat, seperti dibukanya akses lapangan pekerjaan
pun wajib dilakoni. Sebab, adanya lapangan pekerjaan, ini akan
membawa kemudahan untuk memperoleh pekerjaan dan pendapatan

per bulannya. Masyarakat juga akan bisa memanfaatkan hasil


pendapatannya untuk membeli makanan dan minuman sehat bagi para
bayinya.
Ini kemudian ditambah oleh anggaran kesehatan yang besar di pos
kesehatan, baik dari anggaran pendapatan belanja negara (APBN)
maupun anggaran pendapatan belanja daerah (APBD), agar pelayanan
kesehatan bagi masyarakat dapat terlayani secara maksimal dan
optimal.
Pertanyaannya adalah apakah hal tersebut dilakukan pemerintah?
Sepertinya masih ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Anggaran lebih banyak tersedot pada kepentingan birokrasi ketimbang
kepentingan nasib rakyatnya.
Inilah yang kemudian disebut sebagai negeri gizi buruk. Sebab negara
sudah kehilangan komitmen dan kepedulian politiknya demi
pemenuhan hajat hidup orang banyak.
Ke depan, UUD 45 pasal 28H ayat (1) yang berbunyi; setiap orang
berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan
mendapatkan perlindungan hidup yang baik dan sehat serta berhak
memeroleh pelayanan kesehatan perlu menjadi landasan gerak para
elite dalam bekerja untuk menuntaskan gizi buruk di negeri tercinta ini