Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur yang kami ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatNyalah makalah ini dapat kami selesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Dalam
makalah ilmiah ini kami membahas mengenai Bahan Kimia Eksplosif.
Makalah ini kami buat untuk menyelesaikan tugas K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja).
Makalah ini juga bertujuan untuk memperdalam pemahaman mengenai bahan bahan kimia
berbahaya khususnya bahan kimia yang bersifat eksplosif. Disamping itu, diharapkan agar
mahasiswa khususnya mahasiswa jurusan teknik kimia dapat mengetahui bahan bahan apa
saja yang berpotensi mudah meledak dalam laboratorium ataupun tempat kerja. Juga dapat
mengetahui dalam keadaan seperti apa suatu bahan kimia akan berpotensi meledak dan
bagaimana cara penyimpanan yang baik agar dapat meminimalisir terjadinya ledakan pada
suatu bahan kimia.
Akhirnya, sesuai dengan kata pepatah tiada gading yang tak retak, demikian pula adanya
dengan makalah kami yang masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami mengharapkan
saran,dan kritik, khususnya dari Dosen dan teman-teman untuk memperbaiki kesalahankesalahan yang ada.
Demikian makalah ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. khususnya bagi kaum pelajar.
Aamiin
TERIMA KASIH

Makassar, 20 Oktober 2014

TIM PENYUSUN

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

... [1]

Daftar Isi

[2]

BAB 1 PENDAHULUAN

[3]

1.1 Latar Belakang

... *3+

1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................. [4]


Bab 2 PEMBAHASAN

*5+

2.1 Pengertian Bahan Kimia Eksplosif . *5+


2.2 Klasifikasi bahan Peledak .. *5+
2.3 penyebab Terjadinya Eksplosif / ledakan *8+
2.4 Contoh Bahan Kimia yang Bersifat Eksplosif / Mudah Meledak *10+
2.5 Penanganan Diri Saat Bekerja dengan Bahan Kimia Eksplosif
2.6 Tempat Penyimpanan Bahan Kimia Eksplosif
BAB 3 PENUTUP

*11+

.......... *12+

*13+

3.1 Kesimpulan

*13+

3.2 Saran

*13+

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting bagi kita untuk menciptakan tempat kerja yang
aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi atau bebas dari
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan
produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi
bagi pekerja tetapi juga dapat merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada
masyarakat luas.
Kesehatan kerja mempengaruhi manusia dalam hubunganya dengan pekerjaan dan lingkungan
kerjanya, baik secara fisik maupun psikis yang meliputi, antara lain: metode bekerja, kondisi kerja
dan lingkungan kerja yang mungkin dapat menyebabkan kecelakaan, penyakit ataupun perubahan
dari kesehatan seseorang.
Dengan keselamatan dan kesehatan kerja maka para pihak diharapkan dapat melakukan pekerjaan
dengan aman dan nyaman. Pekerjaan dikatakan aman jika apapun yang dilakukan oleh pekerja
tersebut, resiko yang mungkin muncul dapat dihindari. Pekerjaan dikatakan nyaman jika para
pekerja yang bersangkutan dapat melakukan pekerjaan dengan merasa nyaman dan betah,
sehingga tidak mudah capek dan tidak akan menyebabkan kecelakaan.
Untuk meminimalkan kecelakaan yang akan terjadi saat melakukan pekerjaan khususnya yang
berhubungan dengan bahan bahan kimia sebaiknya kita labih mengenal bahan bahan kimia yang
sering kita gunakan dan berpotensi dapat mencelakakan. Bahan berbahaya adalah bahan-bahan
yang pembuatan, pengolahan, pengangkutan, penyimpanan dan penggunaanya menimbulkan atau
membebaskan debu, kabut, uap, gas, serat, atau radiasi sehingga dapat menyebabkan iritasi,
kebakaran, ledakan, korosi, keracunan dan bahaya lain dalam jumlah yang memungkinkan
gangguan kesehatan bagi orang yang berhubungan langsung dengan bahan tersebut.
Klasifikasi atau penggolongan bahan kimia berbahaya diperlukan untuk memudahkan pengenalan
serta cara penanganan dan transportasi. Secara umum bahan kimia berbahya diklasifikasikan
menjadi beberapa golongan diantaranya : Bahan Kimia Beracun (Toxic), Bahan Kimia Korosif
(Corrosive), Bahan Kimia Mudah Terbakar (Flammable), Bahan Kimia Peledak (Explosive), Bahan
Kimia Oksidator (Oxidation). apabila terjadi kontak antara tubuh dan zat kimia berbahaya seperti
tertelan, disentuh maupun dihirup maka akan menimbulkan dampak yang buruk bagi tubuh
kita. Contoh efek yang ditimbulkan dapat berupa iritasi, gangguan system reproduksi,
menyebabkan kanker, bahkan dapat menyebabkan kematian. Kehidupan kita tidak dapat lepas
sepenuhnya dari bahan bahan kimia berbahaya. Terkadang kita memang membutuhkan bahan
bahan tersebut untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Oleh karena itu pengetahuan tentang
bahan kimia khususnya bahan kimia yang berbahaya harus kita ketahui untuk meminimalisir
terjadinya kecelakaan kerja akibat bahan kimia berbahaya. Pada makalah ini akan dipaparkan
tentang bahan kimia yang bersifat eksplosif (mudah meledak).

1.2 Rumusan Masalah


Apa itu bahan kimia eksplosif ?
Apa saja contoh bahan kimia yang bersifat eksplosif ?
Bagaimana cara penyimpanan bahan kimia eksplosif ?

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN BAHAN KIMIA EKSPLOSIF


Bahan kimia eksplosif dalah suatu zat padat atau cair atau campuran keduanya yang karena suatu
reaksi kimia dapat menghasilkan gas dalam jumlah dan tekanan yang besar serta suhu yang tinggi,
sehingga menimbulkan kerusakan disekelilingnya. Zat eksplosif sangat peka terhadap panas dan
pengaruh mekanis (gesekan atau tumbukan) atau ledakan awal akan mengalami suatu reaksi kimia
eksotermis sangat cepat dan hasil reaksinya sebagian atau campuran seluruhnya berbentuk gas yang
disertai panas dan tekanan sangat tinggi yang secara kimia lebih stabil. Bahan-bahan kimia reaktif
atau tidak stabil dapat mudah meledak atau eksplosif. Peledakan terjadi karena terjadi reaksi amat
cepat yang menghasilkan panas dan gas dalam jumlah besar. Reaksi eksplosif demikian selain banyak
menimbulkan kerusakan karena tenaga amat besar, tetapi juga disertai kebakaran. Dalam
laboratorium maupun industry kimia, peledakan adalah kecelakaan yang sering terjadi dan
menimbulkan banyak korban dan kerugian harta. Panas yang dihasilkan dari reaksi peledakan
tersebut sekitar 4000 derajat celcius. Adapun tekanannya, menurut Langerfos dan Kihlstrom (1978),
bisa mencapai lebih dari 100.000 atm. Sedangkan, energi per satuan waktu yang ditimbulkan sekitar
25.000 MW atau 5.950.000 kkal/s. Energi yang sedemikian besar itu bukan merefleksikan jumlah
energi yang memang tersimpan di dalam bahan peledak begitu besar, namun kondisi ini terjadi
akibat reaksi peledakan yang sangat cepat, yaitu berkisar antara 2.500-7.500 m/s.
Sifat eksplosif bahan kimia ditentukan oleh sifat reaksinya dengan senyawa senyawa tertentu,
antara lain :
Menimbulkan panas reaksi sangat tinggi.
Reaksinya disertai ledakan.
Contoh reaksi antara gas metana dengan dan oksigen, jika metana dan oksigen berada disuatu
ruangan dengan konsentrasi oksigen lebih tinggi dibandingkan metana, maka adanya api sedikit saja
sudah bisa terbakar dan timbulnya ledakan karena reaksi yang terjadi sangat eksotermis.

2.2 KLASIFIKASI BAHAN PELEDAK


Bahan kimia yang biasa dipergunakan sebagai bahan peledak sangat banyak jenisnya.
Pengelompokkan bahan-bahan peledak ini juga dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya
berdasarkan komposisi senyawa kimia, kegunaannya dan lingkungan penggunaannya.
1. Berdasarkan komposisi senyawa kimia
Pengelompokkan bahan peledak secara ilmiah berdasarkan komposisi senyawa kimia dibagi
atas bahan peledak senyawa murni (tunggal) dan bahan peledak campuran.

a. Bahan Peledak Senyawa Murni (Tunggal) dikelompokkan atas dua kelompok, yaitu bahan
peledak murni (Primary Explosive) dan bahan peledak kuat (High Explosive)
Bahan peledak murni (Primary Explosive)
Yang termasuk di dalamnya adalah : merkuri, fulminate, timbal azida, Sianurat triazia (CTA),
Diazonitrofenol (DDNP), tetrasen, heksametilendiamin Peroksida (HMTD).
Bahan peledak kuat ( High Explosive)
Trinitrotoluen (TNT), dinitrobenzene, dinitrotoluen (DNT), dinitrofenol, ammonium pitrat,
trinitro-m-xylen (TMX), trinitroanisol (TNA), etilen gloikol dinitrat (EGDN), nitroselulosa
(NG), nitrogliserin (NG), ammonium nitrat, dipentaaeritritol (Dipen), dan lain-lain.
b. Bahan Peledak Campuran
Bahan peledak jenis ini banyak digunakan karena memiliki banyak keunggulan daripada
bahan peledak tunggal. Bahan peledak campuran ini dikelompokkan atas bahan peledak kuat
(High Explosive) dan bahan peledak lemah (Low Explosive.
Bahan peledak kuat (High Explosive)
Bahan peledak jenis ini memiliki kecepatan denotasi antara 1.000-8.500 m/s.
Bahanpeledak kuat berupa campuran yang sering digunakan baik dalam bidang militer
maupun sipil dengan tujuan sebagai penghancur. Yang tergolong bahan peledak kuat
adalah : amatol, ammano, amonium nitrat fuel oil (ANFO), siklotol, dinamit, oktol, pentolik,
pikratol, bomplastik.
Bahan peledak lemah (Low Explosive)
Bahan peledak lemah bukan merupakan bahan ledak yang penghancur, tetapi
digunakan sebagai bahan isian pendorong pada amunisi, bahan pendorong ini dikenal juga
dengan nama Propelan. Bahan peledak jenis ini memiliki kecepatan detonasi antara 400800 m/s. Ynag tergolong bahan peledak jenis ini adalah : bubuk hitam (black powder),
bubuk tak berasap (smokeless powder), bahan pendorong roket, dan bahan pendorong
cair.
2.

Berdasarkan kegunaan
Berdasarkan kegunaannya, dibedakan menjadi 5 golongan, yaitu:
a. Bahan peledak Blasting yaitu bahan peledak yang digunakan untuk pertambangan.
b. Bahan peledakk Catridge digunakan sebagai pembentuk metal projectile yang berkemampuan
tembus atau potong.
c. Bahan peledak Propellant digunakan sebagai pembentuk gas pendorong dalam peluru senjata
atau motor roket.
d. Bahan peledak Fuse bahan peledak yang dipergunakan sebagai pembentuk panas, gas, warna
dan sebagainya.
e. Bahan peledak Pyrotechnic bahan peledak yang digunakan sebagai pemula suatu rangkaian
proses peledakan

3. Berdasarkan lingkungan penggunaan


a. Bahan peledak militer
Bahan peledak militer harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain :
Harus memiliki daya hancur yang dahsyat (very brissant)
Peka terhadap pukulan atau tumbukan.
Mudah terbakar.
Dapat disimpan dengan stabil.
Tidak reaktif terhadap logam. dibuat dengan cepat.
Kegunaan :
Untuk latihan dan operasi militer, destruksi / demolition.

Macam bahan peledak militer.

Isian Utama (Main Charges): TNT, RDX, PTEN, TATP/Triacetontriperoksida, Tetryl, Asam
Pikrat, Amatol, Tritonal, Pentolite, Tetrytol, Pikratol, Amonal, Ednatol, Explosive D,
Composition B, HMK, Haleite, PBX, C-4, dan sejenisnya.
Isian Pendorong (Propellants): Nitro Glycerine Based, seperti : Single Base Propellants
,Double Base Propellants (Ball Powder), Triple Base Propellants, Extruded Impregnated
Propellants (EIP), Composite Modified Cast Double Based (CMCDB), Elastomeric Modified
Cast Double Based (EMCDB), Crosslinked Cast Double Based (XLCBD), dan sejenisnya.
Composite, seperti : Hydroxyl Terminated Poly Butadieene (HTPB), Carboxyl Terminated
Poly Butadiene (CTPB), Glycidyl Azide Polymer (GAP), Poly Urethane, Poly Sulfide dan
sejenisnya.

b. Bahan peledak komersial


Bahan peledak komersial harus memiliki beberapa persyaratan antara lain :
Peka terhadap suatu reaksi : panas, getaran, gesekan atau benturan.
Mempunyai kecepatan detonasi teertentu (high dan low explosive).
Memiliki daya tahan air (water resistance) terbatas.
Dapat disimpan dengan stabil.
Menghasilkan gas-gas hasil peledak, yaitu : gas dalam bentuk molekul lebih stabil.
Memerlukan stemming/penyumbatan dalam penggunaannya.

Macam bahan peledak komersial adalah semua jenis :


Dinamit, yang dikenal dengan nama Nitro Glycerine Based Explosives, Blasting Agents
(ANFO)Water Based Explosives (slurry, Watergel, Emulsion Explosives).
Bahan peledak pembantu (Blasting Accessories) seperti Primer (Booster), Detonator, Sumbu
Api, Sumbu Peledak, MS Connector (Detonating Relay), Igniter, Igniter Cord, Connector dan
sejenisnya. Shaped Charges seperti RDX, HMX, dan sejenisnya.

Kegunaannya:
Pekerjaan tambang yaitu untuk melepaskan batuan dari batuan induknya antara lain : batu
bara, emas, tembaga, aspal industri semen, industri batu belah, industri batu kapur, dan
sebagainya serta untuk operasi penambangan minyak dan gas bumi.penghancuran kepal
bekas, pengancuran bangunan tua.

2.3 PENYEBAB TERJADINYA REAKSI EKSPLOSIF/LEDAKAN


Kemungkinan adanya reaksi eksplosif dapat diperkirakan dari dua aspek yakni:
1. Reaksi Kesetimbangan dengan oksigen Adalah selisih antara jumlah oksigen dalam system
(senyawa atau campuran) dengan jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi secara
sempurna menjadi gas CO2 dan H2O.Ada tiga kemungkinan sifat tersebut,yakni :
a. Kesetimbangan negatif,yakni suatu reaksi eksplosif yang terjadi karena adanya oksigen seperti
contoh : C2H4O3 + 3O 2CO2 + 2H2O ( P asam asetat )
Ini berarti bahwa zat p-asam asetat akan meledak bila ada oksidator, senyawa seperti etanol,
asetildehida, aseton, dan asam asetat juga akan meledak bila dicampur dengan H2O2. Suhu
penyimpanan: semakin tinggi suhu semakin mudah terjadi reaksi eksplosif. Benturan,gesekan
mekanik: dapat menimbulkan pemanasan local yang eksplosif.Hal ini dapat terjadi pada saat
proses pencampuran, penggerusan, dan pengangkutan.
Kelembaban: kelembaban yang tinggi dalam penyimpanan akan menyebabkan adsorpsi air
yang memudahkan reaksi kimia terjadi. Dengan sendirinya tempat penyimpanan harus bebas
dari atap yang bocor di waktu hujan.Listrik: yang mungkin dapat memberikan pemanasan dan
atau loncatan api. Pengaruh bahan kimia lain dalam penyimpanan. Bahan kimia reduuktor
akan berbahaya bila dicampur atau berdekatan dengan bahan oksidator yang tidak stabil.
Bahan Kimia Oksidator ( Oxidising Agents ) Bahan kimia oksidator adalah bahan kimia yang
dapat menghasilkan oksigen dalam penguraian atau reaksinya dengan senyawa lain. Bahan
tersebut juga bersifat reaktif dan eksplosif serta sering menimbulkan kebakaran. Kebakaran
akibat bahan oksidator sukar dipadamkan karena mampu menghasilkan oksigen sendiri.
Bahan kimia oksidator dapat dibedakan dua jenis yakni:
1. Oksidator anorganik seperti : permanganate, perklorat, dikromat, hidrogen peroksida,
periodat, persulfat Bahan-bahan tersebut banyak dipakai dalam analisis kimia sebagai
reagen.
2. Peroksida organik seperti : benzil peroksida, asetil peroksida, eter oksida

b. Kesetimbangan nol, artinya bahwa jumlah oksigen pereaksi dan hasil reaksi sama adalah
sama, seperti reaksi :
CH2O3 (asam performiat) CO2 + H2O 23(NH4)2Cr2O7 Cr2O3 + H2O + N2
Ini berarti bahwa reaksi eksplosif dapat terjadi dengan sendirinya tanpa ada bantuan oksigen
dari luar.
c. Kesetimbangan positif, yakni suatu reaksi yang cenderung melepaskan oksigen, seperti:
NH4NO3 2H2O + N2 + O
Senyawa ammonium nitrat atau gliseralnitrat menjadi eksplosif bila ada reduktor yang dapat
menyerap oksigen.

2. Oksidator Tersembunyi
Dalam laboratorium kimia, mungkin kita sering menghadapi bahan oksidator yang jelas
seperti asam perklorat yang masih tetap kita pakai dalam analisis kimia, dimana kita harus selalu
waspada. Tetapi kadang kala kita menghadapi zat oksidator yang tersembunyi, seperti: etil eter,
isopropyl eter, dioksan, tetrahidrofuran, dan eter alifatik lain. Pelarut-pelarut di atas yang telah
mengandung peroksida akan meledak hebat apabila pelarut tersebut didistilasi atau diuapkan.Hal
ini disebabkan oleh peroksida hasil auto oksidasi adalah tidak mudah menguap, sehingga dalam
residu didistilasi menjadi lebih pekat atau terkonsentrasi yang oleh factor panas akan meledak.
Karena seringnya peledakan oleh peroksida tersembunyi di atas,beberapa cara penanganan yang
perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Tes KI sebelum didistilasi pelarut di atas. Tes dilakukan dengan menambah 1 ml larutan KI 10
% ditambah larutan kanji kedalam 10 ml contoh eter. Warna biru menunjukkan adanya
peroksida yang perlu diambil. Pengambilan peroksida dilakukan dengan mengocok eter
dengan larutan FeSO4 (60 gr FeSO4 dalam 110 ml air + 6 ml H2SO4). Dan tes kembali sampai tak
ada pengaduk udara.
b. Didistilasi dilakukan tanpa pengaduk udara. Memakai pelindung muka pada saat distilasi
pelarut organik.
c. Sebaiknya tidak memakai pelarut yang lama.
d. Tidak menyimpan sisa-sisa pelarut yang lama.
e. Menyimpan pelarut dalam botol cokelat untuk mengurangi proses oksidasi.
f. Karena proses eksplosif selalu disertai dengan kebakaran, maka percobaanpercobaan dengan
senyawa-senyawa eksplosif sebaiknya dilakukan dalam almari asam, memakai alat pelindung
dan siap dengan pemadam kebakaran.

2.4 CONTOH BAHAN KIMIA YANG BERSIFAT EKSPLOSIF / MUDAH MELEDAK


Bahan kimia eksplosif ada yang dibuat sengaja untuk tujuan peledakan atau bahan peledak seperti
trinitrotoluena (TNT), nitrogliserin, dan amonium nitrat (NH4NO3). Bahan-bahan tersebut amat peka
terhadap panas dan pengaruh mekanis (gesekan atau tumbukan). Di bawah ini ialah struktur kimia
bahan yang bersifat explosif.

STRUKTUR
N logam
N + OH
C Cl - O3
OO
O3
CC
C N2
C NO
C NO2
N NO2
N3
C (NO2)n
C=NO
CN=N
N NO

NAMA SENYAWA
N-logam berat
Hidroksil Amonium
Perkloril
Peroksida
Ozo
Asetilen
Diazo
Nitrozo
Nitro
N nitro
Azida
Alkil polinitri
Oksim
Azo
N nitroso

Selain itu ada jenis lain yang mempunyai sifat eksplosif, yaitu campuran eksplosif dan debu. Debu-debu
seperti debu karbon dalam industri batubara, magnesium dalam pabrik baja adalah debu-debu yang
sering menimbulkan ledakan, dan zat warna diazo dalam pabrik zat warna .
Eksplosif dapat pula terjadi akibat pencampuran beberapa bahan, terutama bahan oksidator
dan reduktor dalam suatu reaktor maupun dalam penyimpanan. Campuran eksplosif, pencampuran

bahan oksidator dan reduktor dapat menimbulkan ledakan di dalam suatu reaktor maupun
dalam suatu penyimpanan. Di bawah ini adalah contoh campuran bahan yang dapat bersifat
eksplosif:

Contoh campuran eksplosif


Oksidator
KCIO, NaNO
Asam Sitrat
Kalium Permanganat
Krom Trioksida

Reduktor
Karbon, Belerang
Etanol
Gliserol
Hidrazin

10

Tabel Bahan eksplosif di Indonesia


Industri
Peledak Amunisi
Industri gas
Mercon
Korek api
Zat warna

Bahan produksi/digunakan
NHNO, TNT
Campuran
Asetilen, H, O,
NaNO, KCIO, C
Azo, Diazo

2.5 PENANGANAN DIRI SAAT BEKERJA DENGAN BAHAN KIMIA EKSPLOSIF

Berikut ini beberapa penangan diri dan lingkungan saat bekerja dengan zat kimia eksplosif :
a.
b.
c.
d.

Menggunakan perangkat pelindung.


Menggunakan perangkat pelindung diri.
Mengevaluasi Kuantitas Reaksi.
Melakuan Operasi Reaksi.

Berikut ini beberapa langkah langkah untuk menghindari kecelakaan saat menggunakan zat kimia yang
bersifat eksplosif :
1. Gunakan bahan kimia berbahaya dalam jumlah minimal dengan perlindungan dan pelindung diri
memadai.
2. Siapkan peralatan darurat.
3. Rakit semua peranti sedemikian rupa sehingga jika reaksi mulai berjalan di luar kendali, pelepasan
sumber panas, pendinginan bejana reaksi, penghentian penambahan reagen, dan penutupan pintu
geser tudung kimia laboratorium dapat dilakukan dengan segera. Pelindung ledakan plastik
transparan yang tebal harus digunakan untuk membeli perlindungan ekstra selain jendela tudung
kimia.
4. Jika reaksi berjalan di luar rencana, batasi akses ke area hingga reaksi dapat dikendalikan.
Pertimbangkan kendali pengoperasian jarak jauh.
5. Beri pendinginan dan permukaan cukup untuk pertukaran panas sehingga memungkinkan
pengendalian reaksi. Bahan kimia yang sangat reaktif memicu reaksi dengan kecepatan yang
meningkat sangat cepat seiring meningkatnya suhu. Jika panas yang dihasilkan tidak dihilangkan,
kecepatan reaksi meningkat hingga terjadi ledakan. Hal ini sangat menjadi masalah saat
meningkatkan skala eksperimen.

11

6. Hindari konsentrasi larutan berlebih, terutama saat reaksi dicoba atau dinaikkan skalanya untuk
pertama kali. Beri perhatian secara khusus pada tingkat penambahan reagen terhadap tingkat
konsumsinya, terutama jika reaksi dipengaruhi periode induksi.
7. Ikuti prosedur penyimpanan, penanganan, dan pembuangan khusus untuk reaksi skala besar
dengan reagen organometalik dan reaksi yang menghasilkan bahan mudah terbakar atau dilakukan
dalam pelarut yang mudah terbakar. Jika terdapat logam aktif, gunakan pemadam api dengan
bahan pemadam khusus seperti bubuk berbahan dasar grait dengan dicampur pemlastis atau
bubuk berbahan dasar natrium klorida.
8. Hindari penguraian lambat pada skala besar jika pemindahan panas tidak memadai atau jika panas
dan gas yang berkembang dibatasi. Penguraian beberapa zat yang diawali dengan panas, seperti
peroksida tertentu, hampir terjadi secara instan. Khususnya, reaksi yang terpengaruh periode
induksi dapat berbahaya karena tidak ada indikasi awal risiko. Kendati demikian, proses hebat
dapat terjadi setelah induksi.
9. Lakukan penentuan suhu eksotermik mula-mula dengan kalorimeter skala besar dan lakukan uji
berat untuk reaksi yang skalanya dinaikkan dan eksotermik pada suhu rendah atau
mengembangkan panas dalam jumlah besar yang dapat menimbulkan bahaya. Dalam situasi
dimana evaluasi bahaya operasional formal atau data andal dari sumber apa pun lainnya yang
menunjukkan bahaya.
10. Bekerja dengan Bahan Kimia atau ubah kondisi yang skalanya dinaikkan untuk menghindari
kemung-kinan bahwa seseorang mungkin melewatkan bahaya atau perubahan prosedur yang
paling sesuai.
11. Hindari menyebabkan ledakan isik dari tindakan seperti menyebabkan cairan panas mengalami
kontak mendadak dengan cairan dengan titik didih lebih rendah atau menambahkan air ke cairan
panas pada rendaman pemanas. Ledakan juga dapat terjadi saat memanaskan bahan kriogenik
dalam wadah tertutup atau memberi tekanan berlebih pada peralatan dari kaca dengan nitrogen
(N2) atau argon saat regulator diatur dengan tidak tepat. Ledakan isik hebat juga terjadi jika
sekumpulan partikel sangat panas dituangkan secara tiba-tiba ke air.

2.6 TEMPAT PENYIMPANAN BAHAN KIMIA EKSPLOSIF


Ketentuan penyimpananya bahan kimia yang bersifat eksplosif sangat ketat, letak tempat
penyimpanan harus berjarak minimum 60 meter dari sumber tenaga, terowongan, lubang
tambang, bendungan, jalan raya dan bangunan, agar pengaruh ledakan sekecil mungkin. Ruang
penyimpanan harus merupakan bangunan yang kokoh dan tahan api, lantainya terbuat dari bahan
yang tidak menimbulkan loncatan api, memiliki sirkulasi udara yang baik dan bebas dari
kelembaban, dan tetap terkunci sekalipun tidak digunakan. Untuk penerangan harus dipakai
penerangan alam atau lampu listrik yang dapat dibawa atau penerangan yang bersumber dari luar
tempat penyimpanan. Penyimpanan tidak boleh dilakukan di dekat bangunan yang didalamnya
terdapat oli, gemuk, bensin, bahan sisa yang dapat terbakar, api terbuka atau nyala api. Daerah
tempat penyimpanan harus bebas dari rumput kering, sampah, atau material yang mudah
terbakar, ada baiknya memanfaatkan perlindungan alam seperti bukit, tanah cekung belukar atau
hutan lebat.

12

BAB 3
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Perlunya pengetahuan terhadap hahan bahan kimia khusunya bahan kimia yang berbahaya agar
tidak terjadi kecelakaan atau hal yang tidak diinginkan dalam bekerja sehingga kita dapat
meminimalisir kecelakaan yang terjadi dan menjadikan suasana kerja yg aman.
Dalam bekerja kita harus mematuhi peraturan yang telah ada atau yang telah ditetapkan apalagi
berkaitan dengan bahan yang belum kita kenal dan berbahaya.
Menggunakan alat-alat pelindung agar terhindar dari larutan atau benda yg mengenai kita di saat
kita bekerja sehingga kita dapat terhindar dari bahan tersebut.

3.2 DAFTRA PUSTAKA


http://www.bimbingan.org/pengertian-zat-kimia-yang-berbahaya.htm diakses tanggal 20
oktober 2014
http://dyah-dyahrahayu.blogspot.com/2013/03/contoh-makalah-bahan-kimia-berbahaya.html
diakses tanggal 20 oktober 2014
http://songzhung.blog.com/category/sifat-eksplosif-bahan-kimia/ diakses tanggal 15 oktober
2014
https://www.academia.edu/8370256/Bahan_Kimia_Eksplosif diakses tanggal 15 oktober 2014
http://ibnususanto.wordpress.com/2009/02/13/bahan-kimia-berbahaya-dan-keselamatankesehatan-kerja-bidang-kimia/ diakses tanggal 15 oktober 2014
https://www.scribd.com/doc/113990217/Bahan-Kimia-Mudah-Meledak diakses tanggal 15
oktober 2014

13