Anda di halaman 1dari 80

MODEL INTI

1. Model Tetes Zat Cair

2. Model Kulit

Fakta :
Inti
Magic Number Inti :

Inti dengan jumlah proton dan/atau neutron tertentu


merupakan inti yang sangat stabil
Magic Number : 2, 8, 20, 28, 50, 82, 126,..
4

16

Inti dengan magic number ganda : 2 He2 ; 8O8

40
20 Ca 20

208
82 Pb126

Inti dengan jumlah neutron (atau proton) sama dengan


magic number memerlukan energi besar untuk
memisah neutron (atau proton) dari inti tersebut

Inti dengan satu neutron (atau proton) lebih banyak dari


magic number sangat mudah untuk terbelah
Inti dengan magic number ganda berbentuk bola

Atom
Elektron bergerak dengan di bawah pengaruh potensial
Coulomb V(r) 1/r
Kulit elektron diisi mengikuti prinsip Pauli
Sifat atom ditentukan oleh elektron valensi
Atom dengan jumlah elektron sama dengan magic
number atom merupakan atom gas mulia
Magic number atom : 2, 10, 18, 36, 54, ....

Contoh Konfigurasi elektron gas mulia :


1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d10 4p6
Kulit elektron terisi penuh sehingga menghasilkan
sebuah struktur closed shell, yang mengakibatkan atom
sangat stabil dan sangat sulit bereaksi dengan atom lain

Terdapat kemiripan sifat atom gas mulia dengan inti


atom yang stabil

Model Kulit Inti

Bukti Struktur Kulit

Jumlah Isotop Stabil


Jumlah Isoton stabil
Kelimpahan Isotop Alami Nuklida
Hasil Peluruhan Deret Radioaktif
Potongan lintang penangkapan neutron
Energi ikat neutron atau proton terakhir
Pemancar neutron spontan
Momen kuadrupol listrik

Postulat : nukleon dalam orbit yang terdefinisi dengan


jelas, dengan energi diskrit
Model Kulit Inti (Barlett & Elsasser )
- Setiap nukleon ditinjau secara independen dan
dibentuk persamaan Schroedinger dengan potensial
inti untuk memperoleh level energi nukleon
- Prinsip larangan Pauli bekerja terpisah untuk proton dan
neutron

Sumur Potensial Persegi tak Hingga


Diasumsikan setiap nukleon bergerak independent dari
nukleon lain dalam sumur potensial bersama V(r) yang
bersimetri bola. Dari sifat simetri angular yang diperlukan
adalah bagian radial :
Untuk potensial persegi tak hingga :
V r

0 ; untuk r R
; untuk r R

untuk neutron maupun


proton

Untuk r > R fungsi gelombang bernilai nol, ul(r)= 0.


Untuk r < R, persamaan radial :


2 1 d 2
2l l 1
rul E
ul 0
2
2
2m r dr
2m

Jika l = 0 ( keadaan s), maka :

d2
dr

ru0

2mE

ru0 0

Berdasarkan syarat batas dan sifat divergensi pada r = 0,


maka solusi persamaan adalah :

sin kr
u0 r A0
kr
dengan :
k
2

2mE
2

dengan A0 adalah tetapan normalisasi dan k dikaitkan


dengan energi E. Nilai k dapat diperoleh dari syarat batas,
ketika ul(r) =0 untuk r = R, yang artinya akan dipenuhi oleh
nilai sin(kR) = 0, yang akan memberikan level energi sesuai
dengan

kR , 2, 3, 4,.......untuk l 0
Jika l = 1 (keadaan p)

d2

2 2
ru1 k 2 ru1 0
2
dr
r

solusi :

sinkr coskr

u1 r A1

kr2

kr

dengan syarat batas pada r = R : u1(R) = 0, dipenuhi :

kR 4,49 ; 7,73 ; .........

Solusi untuk l = 2 dan seterusnya dapat diperoleh dengan


cara yang sama. Solusi persamaan tersebut tidak lain
berupa fungsi Bessel jenis pertama untuk masing-masing
nilai l.
Nilai kR yang memenuhi dapat diperoleh tidak lain adalah
dengan menentukan (secara numerik) akar dari fungsi
Bessel (nilai kR yang membuat fungsi terbut bernilai nol)

Level Energi

k2

2mE
2

2k 2
E
2m

Untuk l = 0

kR , 2, 3, 4,.......untuk l 0

2
kR k E

E10
2
R
2mR
2

2
2
2
2 E20
kR 2 k
E
2
R
2mR
............

Untuk l = 1

kR 4,49 ; 7,73 ; .........


2

4 ,49

kR 4 ,49 k
E
4
,
49
E11
2
R
2mR
7 ,73
2
2
7 ,73 E21
kR 7 ,73 k
E
2
R
2mR
..............

Oleh karena setiap level berdegenerasi 2 (2l+1), maka level


energi dapat diperoleh sebagai berikut :

kR

state n

2(2l+1)

Total nukleon
untuk kulit
lengkap

3,14

4,49

5,76

10

18

6,28

20

6,99

14

34

7,73

40

8,18

18

58

catatan :
Dalam hal ini, n bukanlah bilangan kuantum utama seperti
pada atom, namun hanyalah nomor urut perpotongan
fungsi Bessel dengan sumbu datar, untuk masing-masing
nilai l
Jumlah nukleon dalam complete shell untuk : 2,8,dan 20
sesuai dengan magic number. Yang lain tidak sesuai

State
1g

Jumlah Nukleon/State

18
magic number

2p
1f

6
14

2s
1d

2
10

1p

34
18

20

8
1s

magic number

Jumlah Nukleon dalam Closed Shell

Catatan : Beberapa Bentuk Sumur Potensial

H ' Ti V (ri ) v(rij ) V (ri )

i
i
V(r)
R

r
1. Square Well
2. Harmonic Oscillation
3. Woods - Saxon
Potential

V0
a

d2
2M
l l 1 2

Rnl 0
2 Rnl
2 E nl V ( r )
2
dr
r
2Mr

V (r ) U 12 M02 r 2
Vo
V (r )
1 exp r aR

Square Well Potential

Harmonic Potential
Woods - Saxon Potential

The closed shell magic number

Koreksi Kopling spin-orbit (Maria Mayer, 1950)


Sumur potensial tinggi tak hingga tidaklah realistik,untuk itu
perlu dilakukan koreksi menjadi kedalaman sumur yang
berhingga, misalnya V0 = 40 MeV, namun koreksi ini
ternyata tidak terlalu berpengaruh. Demikian juga apabila
potensial diganti , misal menjadi V(r) = Cr2 tidak akan
memperbaiki ramalan tentang magic number.
Faktor utama yang perlu diperhitungkan untuk memperbaiki
prediksi magic number adalah dengan memperhitungkan
interaksi antara spin neutron atau proton dengan momentum
sudutnya. Interaksi ini akan menggeser level energi,dan
terutama akan membelah level energi, atau akan
memodifikasi struktur kulit

Interaksi spin-orbit mempunyai bentuk energi potensial,


untuk masing-masing nukleon :


Vso fL S
dengan :

L : vektor momentum sudut

S : vektor spin
f : tetapan gandengan spin - orbit
Momentum sudut total nukleon :


J LS

J 2 j j 1 2
L l l 1
2

S 2 ss 1 2 34 2

Bilangan kuantum j dan l memenuhi relasi :

l 12 atau l 12 ; jika l 1
; jika l 0

1
2

J J L S L S L L S S 2L S

Vso fL S 12 f L2 S 2 J 2

12 f 2 l l 1 34 j j 1

12 f 2l ; j l 12

Vso
1
2

f 2 l 1 ; j l 12

2
sehingga terjadi pembelahan level energi sebesar f l 12

kecuali pada l = 0 (state s)


Catatan :
Sesuai dengan perhitungan Mayer dan Haxel, ineraksi spinorbit menghasilkan komponen gaya non sentral,dan
magnitudonya bergantung pada : magnitudo L,orientasi
relatif spin,dan vektor momentum sudut orbital
Interaksi spin-orbit bersifat inverted : energi nukleon makin
kecil jika S.L positif, dan makin besar jika S.L negatif.
Sehingga state j = l+ mempunyai energi yang lebih
rendah dibanding state j= l (berlawanan dengan pada
atom)


menggunakan potensial : V r S L

dengan V r adalah potensial sentral (kombinasi sumur


persegi dan potensial osilator)

V r

r
V0 1 2 ; untuk r R
R

0
; untuk r R

Sehingga menghasilkan level energi (mulai paling


rendah ) :

1s1 / 2 ,1 p3 / 2 ,1 p1 / 2 ,1d5 / 2 ,1d3 / 2 ,2s1 / 2 ,....


dalam perhitungan ini interaksi Coulomb belum diperhitungkan

dengan memperhitungkan efek Coulomb terjadi pergeseran


beberapa level energi, dan menjadi :

1s1 / 2 ,1 p3 / 2 ,1 p1 / 2 ,1d5 / 2 , 2s1 / 2 ,1d 3 / 2 ,1 f 7 / 2 ,....

Jumlah state =
2j+1
1g7/2

1g9/2

10

Jumlah nukleon
pada closed
shell

1g

2p

1f
2s
1d
1p
1s

2p1/2

1f5/2

2
6
4

2p3/2
1f7/2
1d3/2
2s1/2

1d5/2
1p1/2

1p3/2

1s1/2

50

2
28
20

2
8

Penerapan Model Kulit


A. Spin dan Paritas Inti
Spin dan paritas inti dalam keadaan dasar :

a. Dalam level yang terisi penuh (sub shell atau shell),


momentum sudut orbital dan spin nukleon dijumlahkan
sehingga menghasilkan momentum sudut total yang
resultannya nol
b. Dalam level yang tidak terisi penuh, nukleon
membentuk pasangan pasangan (pasangan proton,
pasangan neutron, namun bukan pasangan protonneutron)
Dua asumsi ini memberikan kaidah gandengan :

Kaidah 1 : Keadaan dasar inti genap-genap mempunyai


momentum sudut nol dan berparitas genap tanpa
memperhatikan jumlah proton dan neutron

0,

dan

Kaidah 2 : Dalam inti dengan jumlah neutron genap dan


jumlah proton gasal, sifat keadaan dasar hanya
ditentukan oleh proton, spin inti ditentukan oleh proton
gasal terakhir
Dalam inti dengan jumlah proton genap dan jumlah
neutron gasal , sifat keadaan dasar hanya ditentukan
oleh neutron gasal terakhir

Dua kaidah tersebut tidak dapat meramalkan spin inti


dengan jumlah proton gasal dan neutron gasal. Jika spin
proton gasal adalah j1 dan spin neutron gasal adalah
j2,maka spin inti bisa mempunyai nilai antara :

j1 j2 dan j1 j2

17
O
Contoh : Inti 8

Z=8;N=9
3/2

1d
2s

1p
1s

1/2
5/2

Neutron

1/2

3/2

1/2

Proton

: neutron
proton
Spin inti : 1d5/2

Paritas sistem ditentukan oleh :

1 l

l adalah bilangan kuantum orbital nukleon gasal terakhir


Untuk nukleon pada state : s, d, g,........., berturut-turut
mempunyai nilai l 0, 2, 4, ....
berparitas : (+)
Untuk nukleon pada state : p, f, h,........., berturut-turut
mempunyai nilai l 1, 3, 5, ....
berparitas : (-)
17
O
Untuk inti 8

spin dan paritasnya adalah

1d5/ 2
disingkat menjadi : J

Nuclide

Z and N number

Orbit assignment

Shell Model

6He

Z= 2
N= 2

(1s1/2)2
(1s1/2)2

s1/2

0+

11B

Z= 5
N= 6

(1s1/2)2 (1p3/2)-1
(1s1/2)2 (1p3/2)4

p3/2

3/2-

12C

Z= 6
N= 6

(1s1/2)2 (1p3/2)4
(1s1/2)2 (1p3/2)4

p3/2

0+

15N

Z= 7
N= 8

(1s1/2)2 (1p3/2)4 (1p1/2)-1


(2nd mg.#)

p1/2

1/2-

16O

Z= 8
N= 8

(2nd mg.#)
(2nd mg.#)

p1/2

0+

17F

Z= 9
N= 8

(1s1/2)2 (1p3/2)4 (1p1/2)2 (1d2)1


(2nd mg.#)

d5/2

5/2+

27Mg

Z= 12
N= 15

(2nd mg.#) (1d5/2)4


(2nd mg.#) (1d5/2)6 (2s1/2)-1

s1/2

1/2+

37Sr

Z= 38
N= 49

(3rd mg.#) (2p3/2)4 (1f5/2)6


(3rd mg.#) (2p3/2)4 (1f5/2)6
(2p3/2)4(1g9/2)-1

g9/2

9/2+

B. Momen Magnetik Inti


Berdasarkan teori partikel tunggal, sifat inti atom
ditentukan oleh nukleon gasal terakhir.Salah satu sifat
inti atomadalah momen magnetiknya
Pada inti genap-genap, spin inti adalah nol maka
momen magnetik sama dengan nol
Untuk inti dengan A gasal, momen magnetik adalah :

gl al J g s as J

untuk proton :

gl 1 ; g s 5,5854

untuk neutron : gl 0 ; g s 3,8262

koefisien al dan as ditentukan dari hasil proyeksi L dan


S pada J :
al
as

L J
J

SJ
J

j j 1 l l 1 ss 1
2 j j 1

j j 1 ss 1 l l 1

2 j j 1

dengan

s
maka :

1
2

; j

l 12

dan

j l 12

I j 12 gl 12 g s ;
1
untuk : I j l l j 12
2

j
I
j 1

j 32 gl 12 g s

1
untuk : I j l l j 12
2

3. Model Kolektif
Model kulit dapat menjelaskan beberapa sifat inti dengan
baik

- magic number
- spin dan paritas inti
- momen magnetik dan momen kuadrupol listrik inti
Model kulit tidak dapat menjelaskan beberapa sifat :
- keadaan eksitasi yang terjadi jika satu atau lebih nukleon
naik dari keadaan dasar ke keadaan eksitasi
- momen magnetik dan momen kuadrupol listrik dalam
beberapa kasus tidak sesuai antara model kulit dan
eksperimen

Perlu dibuat model yang yang tidak hanya


memperhitungkan nukleon valensi saja namun
juga nukleon di bagian core

Model Kolektif
- J. Rainwater ; A. Bohr ; B. Mottelson

Keadaan eksitasi nukelon tunggal dapat dipredikdi dari


model kulit, terutama untuk eksitasi kecil inti A gasal dekat
closed shell

Model Kolektif merupakan kombinasi antara


liquid drop model dan shell model
Terdapat Potensial akibat kulit dalam yang terisi
Nukleon pada kulit tak terisi penuh bergerak
independent di bawah pengaruh potensial core
Potensial tidak harus bersimetri bola

Interaksi antara nukleon luar (valensi) dengan


nukleon dalam (core) menghasilkan deformasi
permanen pada potensial
Deformasi merepresentasikan gerak kolektif
nukleon di dalam core yang dikaitkan dengan
model tetes zat cair
Terdapat dua gerak kolektif utama :
- Vibrasi : osilasi permukaan
- Rotasi : rotasi bentuk yang terdeformasi
Gerak vibrasi dan rotasi inti merupakan gerak kolektif inti
di dalam teras inti

Gerak kolektif dapat disatukan ke dalam model kulit


dengan menggantikan potensial simetri statik dengan
potensial yang memungkinkan deformasi bentuk

Model Kolektif vibrasi dan rotasi


Hanya akan ditinjau inti : Z genap, N genap
Keadaan dasar : J =0+
Keadaan eksitasi terendah : J = 2+
Dapat dibagi menjadi dua katagori :

a. Vibrasi
Pada model closed shell inti dianggap berbentuk bola
Namun inti sebenarnya tidak sepenuhnya berbentuk
bola, permukaan dapat mengalami deformasi
Keadaan eksitasi berosilasi di sekitar permukaan bola
(speris)
Gerak kolektif merupakan osilasi harmonik sederhana di
sekitar keseimbangan
V

W=0V

W>0,, <x>=0 <x>=0V

W<0, <x>=0
deformation

Bentuk rata-rata adalah speris, namun sesaat


tidak berbentuk speris
Average
shape

Instantaneous
shape

Koordinat sesaat R(t) dari titik di permukaan pada (,) :


R(t) R avr

(t) Y (, )

Simetri refleksi menghasilkan :

, -

=0, vibrasi : Monopol


R(t)=Ravr +00 Y00

=1, Vibrasi: Dipol


1

R(t) R avr

1 Y1 ()

R avr 11Y11 10 Y10 1, -1Y1, -1


R avr 10 Y10
R avr 10

1 0 for 0 ( 1, -1 11 and Y1, -1 Y11 )

1 3

2 2

3/2

cos

=2, Vibrasi : Kuadrupol


1

R(t) R avr

1 Y1 ()

R avr 22 Y22 21Y21 20 Y20 21Y21 2, -2 Y2, -2


R avr 20 Y20

2 0 for 0
1/2

R avr 20

15

4

(3cos2 - 1)

Bentuk permukaan dapat ditentukan oleh : Y2m


m=2, 1, 0.
Pada kasus ellipsoid R=R() atau m=0.

Osilasi kuadrupol adalah ragam vibrasi terendah inti dan


memancarkan kuanta energi vibrasi (fonon)
Fonon membawa 2 satuan momentum sudut dan
dengan paritas genap {=(-1)2 = +1}
J 2

Oktupol fonon membawa 3 satuan momentum sudut


dengan paritas gasal {=(-1)3 = -1}
Fonon adalah boson sehingga memenuhi statistik BoseEinstein (fungsi gelombang simetri terhadap pertukaran
dua boson)

Ground state
genap-genap

1 fonon

2 fonon

0 , 2 , 4
tak berdegenerasi

State oktupol (J = 3-) seringkali berdekatan dengan


state triplet 2 fonon
State vibrasi cepat meluruh dengan mengemisikan
berkas

Contoh :

Energi fonon sulit diprediksi,

eksitasi ke 2 2 fonon 0 ,2 ,4
eksitasi pertama (1 fonon 2 )

Quadrupole Vibrational Levels of 114Cd


of phonons

E
4 - - - - - - - - - - - - - - - 1.283

2 - - - - - - - - - - - - - - - 1.208
0 - - - - - - - - - - - - - - - 1.132

N=2

N=1

N=0

- - - - - - - - - - - - - - - 0.558

--------------- 0

two-phonon triplet

single-phonon state
ground state

3 vibrations :

Octupole modes with =3 w/ J=3 can be observed in


many nuclei.

b. Rotasi
Pada Model Kulit, core (teras) dalam keadaan diam, hanya
nukleon valensi yang berotasi
Jika inti mengalami deformasi, nukleon teras dan valensi
berotasi secara kolektif

Energi rotasi (rigid rotator) :

H rot

R 2

2I

Solusi :
R 2
EJ
2I
R 2 YJM J(J 1) 2 YJM
2
EJ
J(J 1)
2I
J
(
1)
Paritas

J 0, 1, 2, 3, 4, ...

Gerak rotasi inti yang mengalami deformasi momentum


sudutnya tidak lagi hanya ditentukan oleh nukleon di luar
closed shell , yaitu j,namun juga karena rotasi seluruh
nukleon :

I jR
Jika momentun sudut gerak
kolektif adalah : R
I jR

R I I 1 K
2 2

K adalah komponen sepanjang sumbu Z benda dari


momentum sudut nukleon di luar closed shell.
Komponen I sepanjang sumbu ruang Z adalah M

z (sumbu ruang)
I

z (sumbu benda)

R
K

Energi kinetik sistem : Erot 12


= momen inersia inti terdeformasi
2

dengan : momentum sudut = R

Erot

1
2

1
2

I I 1 K
2

Pada inti Genap-Genap


spin intrinsik adalah = 0

K =0

Erot 21 I I 1 2
dengan :
I 0, 2, 4, 6,.....
peningkatan deformasi akan menyebabkan peningkatan
momen inersia sehingga energi rotasi menjadi lebih kecil.

Rasio : E 4 / E 2 3,33 ; E 6 / E 4 2,1 ; E8 / E 6 1,71

E 4 / E 2

3,33

176
3,30
Hasil eksperimen E 4 / E 2 72 Hf
180
Hf
72

Hampir semua inti genap-genap mempunyai state


eksitasi pertama adalah 2+
State eksitasi rendah berikutnya dapat diperoleh dengan
ekstasi coulomb dengan cara menembakkan partikel
bermuatan
Pada kasusu inti A = gasal, spin intrinsik K tidak sama dengan nol
namun bernilai setengah bulat gasal

Gerak rotasi kolektif hanya dapat diobservasi pada inti


dengan bentuk keseimbangan non-speris
Untuk inti genap-genap ground statenya : J= 0+
Simetri cermin inti membatasi deretan state rotasi
mempunyai momentum sudut bernilai genap :
J 0 , 2 , 4 ,....

Terdapat simetri refleksi sehingga J = gasal tidak


memberikan pengaruh, sehingga nilai J yang memenuhi
adalah : J = 0, 2, 4, .....
2

EJ
J(J 1)
2I

J 0, 2, 4, ...

E0 0
2
2
2

1
st
E2
2(2 1) 6
1 excited energy
E2
2I
2I
2I 6
1
E J J(J 1)E 2 J 0, 2, 4, . . . in terms of first excited energy
6

- - - - - - - - - - - - - - - 0.525

- - - - - - - - - - - - - - - 0.309

Level Energi 238U.


4
2
0

- - - - - - - - - - - - - - - 0.148
- - - - - - - - - - - - - - - 0.0447
--------------- 0

Untuk kasus umum : Inti dengan teras (core) + satu nukleon


valensi.
Teras memberikan momentum sudut rotasi tegaklurus thd
sumbu simetri z sehingga Rz = 0. Nukleon valensi
menghasilkan momentum sudut j

Momentum sudut total =


momentum sudut inti + momentum sudut rotasi
Energi rotasi inti :
2
E
J J 1
2 I eff

I eff

momen inersia efektif

2
2

J(J

1)

2
J , Jz 0
J z K
0 J j K
R
z

H H rot H nucleon

energy of the valance nucleon


rotational energy
2
R
1 2

H nucleon
J j H nucleon
2I
2I
1 2
1 2
1

J 2J z jz j H nucleon (J x jx J y jy )
2I
2I
I

HR

HP

HC

1
H C (J xjx J yjy ) : Coriolis term (rotation - coupling term),it can be neglected except K 1/2
I
1
H P j2 H nucleon is independent of the rotattional state of the nucleus, H P E P
2I

1 2
2
HR
J 2J z jz describes the rotational motion, H R E R E R
J(J 1) 2K 2 ; J K
2I
2I
Total energy becomes
E J,K

J(J 1) 2K 2 E P
2I

K=0 is spinless. K0 spins of rotational bands are given



J R j J ? | K - j | J K j
J K, K 1, K 2, . . .
;K 0
1
E J J(J 1)E 2
6

Rasio energi state eksitasi rotasi :

E total ( J K 2) E total ( J K )
1
2
E total ( J K 1) E total ( J K )
K 1

3. MODEL GAS FERMI


Konsep teoritis gas Fermi dapat diterapkan untuk sistem
fermion yang berinteraksi lemah
- proton dan neutron dianggap bergerak bebas di
dalam volume inti. Potensial inti ditimbulkan oleh
seluruh nukleon

- Aproksimasi pertama : sumur potensial inti dianggap


persegi : konstan di dalam inti
- neutron dan proton adalah fermion yang dapat
dipisahkan, sehingga mempunyai dua sumur
potensial terpisah

- setiap state energi dapat ditempati oleh dua nukleon


dengan proyeksi spin berbeda
- semua state energi yang ada terisi pasangan nukleon
- mempunyai energi state tertinggi yang terisi adalah
energi Fermi, EF
- selisih energi B antara puncak sumur dan energi Fermi
adalah konstan untuk kebanyakan inti yang tidak lain
adalah energi ikat per nukleon : B/A dengan nilai
sekitar 7 8 Mev

Proton dan neutron ,keduanya adalah fermion, di dalam


inti memnuhi prinsip eksklusi Pauli
Model ini menganggap neutron dan proton sebagai gas
Fermi yang dianggap sebagai dua sistem yang terpisah.
Semua partikel tak berinteraksi, sehingga hanya
mempunyai energi kinetik
Perlu ditentiukan energi total, dengan memperhitungkan
prinsip eksklusi Pauli
Tinjau gas Fermi terdiri dari n0 partikel masing-masing ber
massa m dalam ruang bervolume V. Apabila pertikel
mempunyai momentum p,maka energi total adalah

pmax

p2

g p dp
2m

g p adalah rapat keadaan sebagai fungsi momentum

g p dp adalah jumlah state dengan momentum


antara p dan p dp
g p
pmax

Vp 2
2 3

p Vp
V

dp

2 3
2m 2 3
2
m

pmax

p 4 dp

10m 2 3

5
pmax

Jumlah total partikel adalah :


pmax

no

g p dp

3 2 3

V
2 3

p 2 dp

3
pmax

4
V ro A1 / 3
3
E C

pmax

4 3
ro A
3

no5 / 3
2/ 3

9
; dengan : C
2 4
10mro
3

2/ 3

Inti atom dengan bilangan massa A mempunyai N buah


neutron dan Z buah proton. Dengan asumsi mn = mp,
maka :
C
E 2/ 3 N5/ 3 Z5/ 3
A

Untuk menguji prediksi teori ini, asumsikan inti


mempunyai nilai N dan Z yang hampir sama :

N Z

; A

N Z A
N

2 A

; Z

C
2

5/ 3

5/ 3

2/ 3

A 5 / 3

A
5/ 3
5/ 3

CA

5 / 3 1 1
2
A
A

CA 5
2 / 3 1
2

9 A

( dengan jabaran Binomial)

a bn a n nan1b nn 1 a n2b2 ......


1.2

C
5 N Z 2
E 2 / 3 A

9
A
2

Bandingkan dengan model tetes zat cair, suku pertama


sebanding dengan suku volume , suku kedua
sebanding dengan suku asimetrik

Model gas Fermi yang menggunakan prinsip statistik secara


terbatas dapat membuat estimasi energi kinetik neutron dan
proton (memberikan suku volume dan asimetrik) namun
tidak memperhitungkan keterbatasan partikel (nukleon)
yang harus berada dalam suatu volume (yang dibatasi jarijari R) inti dan interaksi antar nukleon

Anda mungkin juga menyukai