Anda di halaman 1dari 121

LAPORAN SKENARIO 1

Ketabrak deh...

Oleh:

Kelompok 5

(tutor: dr.Indana Eva Ajmala)

Fakultas Kedokteran Universitas Mataram


Blok Muskuloskletal dan Integumen
2010

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayahNyalah kami dapat menyelesaikan laporan tutorial scenario 1 sebagai hasil diskusi kami
yang berkaitan dengan kegiatan tutorial pada Blok XVIII semester VI yang berjudul
Ketabrak deh. Dalam laporan ini kami membahas masalah yang berkaitan dengan
gangguan yang terjadi padasistem muskuloskletal, khususnya mengenai trauma.
Kami mohon maaf jika dalam laporan ini terdapat banyak kekurangan dalam
menggali semua aspek yang menyangkut segala hal yang berhubungan dengan scenario 1
serta learning objective yang kami cari. Karena ini semua disebabkan oleh keterbatasan
kami sebagai manusia. Tetapi, kami berharap laporan ini dapat memberi pengetahuan serta
manfaat kapada para pembaca.

Mataram, Juni 2010

Kelompok 5

Daftar Isi
Kata pengantar

..........................................................................................

Daftar isi

..........................................................................................

Skenario

..........................................................................................

Learning onjective

..........................................................................................

Mapping concept

..........................................................................................

Anatomi ekstremitas Bawah

..................................................................

Pendekatan diagnosis

..................................................................

29

Penanganan awal trauma

..................................................................

40

Fraktur

..........................................................................................

44

Dislokasi

..

51

Subluksasi

..

51

Spasme

..

52

Trauma jaringan lunak

..............................................................................

55

Diagnosis bedah ortopedi

..............................................................................

62

Pemeriksaan ortopedi

..............................................................................

65

Gambaran radiologi fraktur dan dislokasi


Rujukan

..........................................

80

..........................................................................................

85

Kegawatdaruratan ortopedi
Referensi

..................................................................

..........................................................................................

88
121

Skenario 1
Ketabrak deh

Seorang laki-laki, 23 tahun, pengendara sepeda motor, dibawa ke UGD oleh


paramedis karena mengalami kecelakaan lalu lintas 30 menit yang lalu. Menurut paramedis
yang menjemput pasien di tempat kejadian, pengendara sepeda motor jatuh karena
menghindari kendaraan yang berada di depannya. Pengendara sepeda motor jatuh dengan
bagian lutut yang terlebih dahulu menyentuh tanah. Terdapat kerusakan ringan pada sepeda
motor. Sepeda motor melaju demgan kecepatan lambat. Pemeriksaan vital sign pasien
tekanan darah 110/70 mmHg; frekuensi nadi 90 x/menit; frekuensi napas 26 x/menit; suhu
axilla 36,4C dan skor GCS 4-5-6. Pemeriksaan ekstremitas didapatkan jaringan yang
bengkak, nyeri, dan laserasi sepanjang 10 cm di paha kiri tepat di atas lutut. Sendi lutut kiri
juga terdapat pembengkakan dimana tungkai bawah tidak dapat melakukan gerakan
ekstensi. Ekstremitas bawah tampak asimetris dengan bagian kanan lebih panjang daripada
bagian kiri. Selain itu juga terlihat fleksi pada sendi lutut dan panggul kiri, rotasi internal
dan adduksi sendi panggul. Pemeriksaan sensorik ekstremitas bawah dalam batas normal.
Pulsasi arteri pada keempat ekstremitas teraba. Pemeriksaan fisik kepala-leher, thorax dan
abdomen dalam batas normal. Dokter UGD melakukan imobilisasi sementara pada
ekstremitas yang mengalami gangguan kemudian ekstremitas tersebut diperiksa ulang.
Setelah itu dokter mengusulkan dilakukan pemeriksaan foto polos 2 view pada sendi lutut
dan paha kiri. Pasien bertanya bagaimana penyembuhan penyakitnya.

Learning Objective
1. Anatomi ekstremitas bawah
2. Pendekatan diagnosis pasien di skenario
3. Penanganan awal pasien trauma
4. Mekanika trauma
5. Fraktur, dislokasi, dan laserasi
6. Penyembuhan luka dan fraktur
7. Emergensi ortopedi

Mapping concept
Anatomimuskuloskletal

Trauma

Mekanika
trauma

Primaryandsecondarysurvey

PendekatanDiagnosis

Anamnesis,PFumum,PFneurologis,PFortopedi,pemeriksaanpenunjang

Differentialdiagnosis:

Terapi

Laserasi

Dislokasi

fraktur

Komplikasi

Prognosis

ANATOMI EKSTREMITAS BAWAH


Ekstremitas bawah terdiri dari 4 bagian :
1. Pelvis, yang terdiri dari oc coxae yang menghubungkan kerangka ekstremitas
inferior dengan kolumna vertebralis
2. Paha, dengan femur yang menghubungkan panggul (pelvis) dengan lutut (genu) dan
patella
3. Tungkai bawah, dengan tibia dan fibula yang menghubungkan lutut dengan ossa
tarsi
4. Kaki, dengan ossa tarsi, ossi metatarsi, dan phalanx yang merupakan ujung distal
ekstremitas inferior

I. Tulang
FEMUR
Femur adalah tulang terpanjang dalam tubuh. Tulang ini memiliki beberapa sifat khas :
1. Kaput femoralis berartikulasi dengan asetabulum tulang panggul pada artikulasio
coxae. Artikulasi ini berbentuk bulat, halus, serta dilapisi oleh kartilago artikularis.
Kaput menghadap ke medial, atas dan depan ke dalam asetabulum. Fovea adalah
lekukan di tengah kaput yang merupakan tempat perlekatan ligamentum teres.
2. Kolum femoris membentuk sudut 1250 dengan korpus ossis femoralis. Pemendekan
atau pelebaran angulus yang patologis disebut deformitas coxa vara dan coxa valga
3. Korpus femoralis meliputi seluruh bagian panjang tulang. Pada ujung atasnya
terletak trokanter mayor dan di posteromedial, trokanter minor. Di anterior terdapat
linea trokanterika dan di posterior krista trokanterika yang menandai batas antara
korpus dan kolum. Linea aspera adalah krista yang berjalan longitudinal di
sepanjang permukaan femur yang terpisah di bagian bawah menjadi linea
suprakondilaris. Linea suprakondilaris medialis berakhir pada tuberkulum adduktor.

4. Ujung bawah femur terdiri dari kondilus femoralis medialis dan lateralis. Struktur
ini merupakan tempat artikulasi dengan tibia pada artikulasio genus. Kondilus
lateralis lebih menonjol dari medialis. Hal ini untuk mencegah bergesernya patela.
Di posterior kondilus dipisahkan oleh insisura interkondilaris yang dalam. Bagian
anterior aspek bawah femur halus untuk artikulasi dengan permukaan posterior
patela.

TIBIA
Tibia berfungsi memindahkan berat badan dari femur ke talus. Sifat-sifatnya adalah :
1. Ujung atas tibia yang mendatarplato tibiamemiliki kondilus tibia medialis dan
lateralis untuk artikulasi dengan kondilus femoralis yang sesuai. Kondilus tibialis
medialis lebih besar dari lateralis
2. Area interkondilaris adalah daerah antara kondilus tibialis dimana terdapat dua
tonjolantuberkulum interkondilaris medialis dan lateralis. Bersama-sama tonjolan
ini membentuk eminensia interkondilaris. Ujung meniskus lateralnya melekat erat ke
tiap sisi eminensia.
3. Pada bagian anterior terdapat korpus atas tuberositas tibia, yang merupakan tempat
insersi ligamentum patelae
4. Batas anterior dan permukaan medial korpus seluruhnya terletak subkutan tempat
tersering terkena fraktur terbuka
5. Pada permukaan posterior korpus terdapat garis miringlinea solealyang
menandai origo m. soleus pada tibia. N. popliteus memasuki area trigonum di atas
linea soleal
6. Fibula berartikulasi dengan tibia di superior pada permukaan artikularis aspek
postero-inferior kondilus lateralisartikulasio tibiofibularis (sinovial)
7. Insisura fibularis terletak di sebelah lateral ujung bawah tibia untuk artikulasi
dengan fibula pada sindesmosis tibiofibularis (fibrosa)
8. Di inferior tibia menonjol membentuk maleolus medialis. Maleolus medialis turut
membentuk mata kaki yang menstabilkan talus.

FIBULA
Fibula tidak termasuk tulang pembentuk artikulasio genus dan tidak turut memindahkan
berat badan. Fungsi utama fibula adalah sebagai origo otot-otot dan turut berperan dalam
artikulasio talokruralis. Ciri-cirinya adalah :
1. Prosesus stiloideus merupakan tonjolan pada kaput fibula yang merupakan tempat
insersi tendon biseps
2. Kolum fibula memisahkan kaput dari korpus fibulae. N. Fibularis komunis
melengkung di sekitar kolum sebelum terbagi menjadi cabang-cabang superfisialis
dan porfunda. Jika ada trauma footdrop
3. Ujung bawah fibula adalah maleolus lateralis.

10

PATELA
Ligamentum patelae, yang melekat ke apeks patela dan tuberositas tibia, merupakan insersi
sejati untuk m. Kuadriseps sehingga patela merupakan tulang berbentuk sesamoid. Susunan
ini membentuk mekanisme ekstensor. Bisa terjadi trauma pada bagian manapun dari
mekanisme ini akibat kontraksi m. Kuadriseps yang sangat kuat, misalnya ruptur ekspansi
m. Kuadriseps, rupturnya ligamentum patelae atau avulsi tuberositas tibia.

11

TULANG-TULANG KAKI
Kecuali metatarsal dan falang, tulang-tulang kaki disebut tulang tarsal
1. Talus. Terdapat facet artikularis pada permukaan superior, medial dan lateralis
korpus talus untuk artikulasi dengan tibia, maleolus medialis dan maleolus lateralis.
Terdapat sulkus pada permukaan posterior korpus untuk tendon m. Fleksor halusis
longus. Di sisi lateralis sulkus terdapat tuberkulum posterior (lateralis), kadangkadang disebut os trigonum, karena memiliki pusat penulangan yang berbeda
dengan talus.

12

2. Kalkaneus memiliki dua facet artikularis di permukaan superior yang turut


membentuk artikulasio subtalaris (talokalkanealis dan talokalkaneovaskularis).
Tuberkulum peroneal, tonjolan kecil pada permukaan lateralis kalkaneus,
memisahkan tendon mm. Peroneus longus dan brevis.
3. Kuboid memiliki permukaan bawah yang bersulkus untuk tendon m. Peroneus
longus
4. Navikular memiliki facet artikularis untuk artikulasi dengan kaput talus di posterior
dan tiga kuneiformis di anterior.
5. Kuneiformis. Ada 3 os kuneiformis anterior berartikulasi dengan metatarsal dan di
posterior dengan navikular.
6. Metatarsal dan falang

13

II. Fascia
Fascia ekstremitas inferior terdiri dari :
1. Fascia superfisialis terletak di sebelah dalam kulit dan terdiri dari jaringan ikat
jarang dengan kandungan lemak yang varibel, saraf kulit, vena-vena superfisial,
pembuluh limfe dan kelenjar limfe.
2. Fascia profunda berupa selembar jaringan ikat padat antara fascia superfisialis dan
otot. Dikenal sebagai fascia lata di paha dan fascia cruris di tungkai bawah. Dari
dalam permukaan dalam fascia cruris dilepaskan septum intermuskulare cruris
anterius dan septum intermuskulare cruris posterius yang membagi tungkai bawah
menjadi kompartemen-kompartemen :
a. Compartimentum anterius (ekstensor)
b. Compartimentum laterale [fibulare (peroneal)]
c. Compartimentum posterius (fleksor) yang terbagi lagi menjadi pars superfisialis
dan pars profunda

III. Saraf Dan Pembuluh Darah


Beberapa saraf kulit dalam fascia superfisialis mengurus persarafan kulit
ekstremitas inferior (gambar). Saraf-saraf ini, kecali beberapa saraf proksimal,
adalah cabang pleksus lumbalis dan pleksus sakralis

14


15

ARTERI ekstremitas bawah

A.Femoralis
Cabang-cabang :
a. Cabang-cabang di bagian atas trigonum femoralisterdapat empat cabang yang
memasok darah ke jaringan superfisialis dinding bawah abdomen dan perineum
b. A. profunda femoriskeluar dari sisi lateral a. Femoralis 4 cm di bawah
ligamentum inguinale. Dekat origonya membentuk cabang-cabang sirkumfleksa
femoralis medialis dan lateralis. Cabang-cabang ini turut membentuk anastomosis
trokanterika dan krusiata

16

A.poplitea
Cabang-cabang : a. Muskularis, a. Suralis, dan lima aa. Genikularis keluar dari a. Poplitea

A.tibialis anterior
Cabang-cabang : cabang muskular dan maleolar

A.tibialis posterior
Cabang-cabang :

a. Fibularis, berjalan di antara m. Tibialis posterior dan m. Fleksor halusis longus


dan memasok darah ke kompartemen perioneal (lateral)

a. Plantaris lateralislewat di antara m. Fleksor aksesorius dan m. Fleksor


digitorum brevis menuju aspek lateral telapak kaki dimana arteri ini terbagi menjadi
cabang superfisialis dan profunda

17

a. Plantaris medialisberjalan di aspek medial telapak kaki dan memberikan


cabang-cabang yang bergabung dengan cabang metatarsal plantaris dari a. Plantaris
lateralis untuk memasok darah dari jari-jari kaki.

18

Vena ekstremitas bawah

IV. Otot
a. Regio Gluteal
o M. gluteus (maximus, medius, minimus) sebagai otot ekstensor dan abductor paha
pada articulation coxae
o Sekelompok otot kecil (m.piriformis, m.obturator internus, 2 m. gamelli, m.
quadratus femoris) sebagai otot eksorotator paha articulation coxae

19

b. Regio Femoris
Terbagi dalam 3 kompartemen oleh septum intermuscular dari fascia lata.
1. Kompartemen Anterior
o M. iliapsoas: terdiri dari musculus psoas mayor dan m.iliacus
o M. tensor fascia latae: sebuah otot fusiform (berbentuk kumparan) yang
menyerupai tali pegangan (straplike) dan terdapat pada sisi lateral paha,
terbungkus dalam lembar ganda fascia latae
o M.pectineus: berbentuk segiempat, pipih, berperan dalam aduksi paha
o M. sartorius: otot paling superficial pada paha anterior
o M. quadriceps femoris: otot ekstensor tungkai bawah pada articulation genue yang
menutupi bagian femur anterior, medial, dan lateral. Terdiri dari musculus rectus
femoris (anterior), m.vastus lateralis (lateral), m.vastus medialis (medial), dan
m.vastus intermedius (di sebelah dalam m.rectus femoris, antara m.vastus
medialis dan m.vastus lateralis)
2. Kompartemen Medial
o M. adductor longus: paling anterior
o M. adductor brevis

20

o M. adductor magnus
o M. gracilis
o M. obturator externus

Trigonum Femorale
Ligamentum inguinal (proksimal)

21

o M. adductor longus (medial)


o M. sartorius (medial)

3. Kompartemen Posterior (hamstring muscle)


o M. bicepsfemoris
o M. femitendineus
o M. semimembranosus

22

c. Regio Cruris

23

Kompartemen anterior (dorsofleksor sendi pergelangan kaki dan fleksor jari-jari kaki)
o M. tibialis anterior
o M. extensor hallucis longus
o M. extensor digitalis longus
o M. fibularis (peroneus) tertius

Kompertemen Lateral
o M. fibularis (peroneus) longus
o M. fibularis (peroneus) brevis

Kompartemen Posterior
1. pars superficialis
o m. gastrocnemius dan m. soleus membentuk triceps surae, memiliki tendon lekat
bersama pada calcaneus (tentdon calcaneus Acholes)
o m. Plantaris

24

2. pars profunda
o m. popliteus
o m.fleksor hallucis longus
o m.fleksor digitorum longus
o m.tibialis posterior

d.

Regio Pedis

V. Persendian
Gerakan panggul (artikulasio coxae)
Gerak panggul leluasa karena sendi ini merupakan artikulasio sferoidea sinovial.

Fleksi (0-1200) : terutama oleh m. iliakus dan m. Psoas. M. Rektus femoris, m.


Sartorius dan m. Pektineus dalam skala kecil.

Ekstensi (0-200) : m. Gluteus maksimus dan hamstring

25

Adduksi (0-300) : m. Adduktor magnus, terutama longus dan brevis. M. Grasilis dan
m. Pektineus dalam skala kecil.

Abduksi (0-450) : m. Gluteus medius, m. Gluteus minimi dan m. Tensor fasia lata

Rotasi lateral (0-450) : m. Piriformis, m. Obturatorius, m. Gemelus, m. Kuadratus


femoris, dan m. Gluteus maksimus

Rotasi medial (0-450) : m. Tensor fasia lata, m. Gluteus medius dan m. Gluteus
minimi

Sirkumduksi : kombinasi semua gerakan yang menggunakan semua kelompok otot


yang telah disebutkan.

Artikulasio genus

Tipe : sendi ginglimus sinovial modifkasi yang juga memungkinkan terjadinya sedikit
rotasi.
Kapsula : permukaan artikularis ditutupi oleh kartilago atrikularis. Kapsula melekat pada
batas-batas permukaan artikularis kecuali di anterior di mana kapsula terus sampai ke
bawah. Di bagian anterior kapsula terdapat pintu besar yang merupakan tempat bersatunya

26

membran sinovial dengan bursa suprapatelar. Di posterior bursa burhubungan dengan bursa
lain di bawah kaput medial m. Gastroknemius. Di posterolateral terdapat pintu lain kapsula
sebagai tempat lewat tendon m. Popliteus.
Ligamentum ekstrakapsulare : kapsula artikulasio genus diperkuat oleh ligamentumligamentum :
1. Ligamentum kolateral mediale (tibiale) terdiri atas bagian superfisialis dan profunda.
Komponen superfisialis melekat ke epikondilus femoralis di atas dan permukaan
subkutaneus tibia di bawah. Komponen profunda melekat erat ke meniskus medialis
2. Ligamentum kolaterale laterale (fibulare) melekat ke epikondilus femoralis di atas
dan bersama dengan m. Biseps femoris ke kaput fibula di bawah.

Kedua ligamentum kolaterale menegang saat ekstensi maksimal dan dalam posisi ini
kemungkinan terkena cedera lebih besar bila terjadi tarikan valgus/varus yang berlebihan.
Di belakang lutut terletak ligamentum popliteum oblikum, suatu perpanjangan dari tendon
m. Semimembranosus, yang memperkuat kapsula. Di anterior kapsula ini diperkuat oleh
ligamentum patelae dan retinakula patelar.
Ligamentum intrakpasulare : ligamentum krusiatum terletak di dalam artikulasio genus :
1. Ligamentum krusiatum anteriormelewati bagian depan area interkondiloidea tibia
ke sisi medial kondilus femoralis lateralis. Ligamentum ini mencegah hiperekstensi
dan menahan gerakan ke depan tibia pada femur.
2. Ligamentum krusiatum posteriormelewati bagian belakang area interkondiloidea
tibia ke sisi lateral kondilus medialis. Menjadi tegang saat hiperfleksi dan menahan
pergeseran posterior tibia pada femur.

Meniskus (kartilago semilunaris) : merupakan penahan guncangan fibrokartilaginosa


berbentuk bulan sabit dalam sendi. Letaknya dalam sulkus pada permukaan artikularis
kondilus tibialis. Meniskus medialis berbentuk huruf C dan lebih besar daripada meniskus
lateralis. Kedua meniskus melekat pada area interkondiloidea tibialis melalui tanduknya dan
ke arah perifer di sekitarnya oleh ligamentum koronarium kecil. Meniskus lateralis melekat
longgar ke tibia dan berhubungan dengan femur melalui dua ligamentum meniskofemorale

27

Pasokan darah : dari anastomosis yang kaya yang dibentuk oleh cabang genikularis a.
Poplitea
Persarafan : dari cabang n. Femoralis, n. Tibialis, n. Fibularis komunis dan n.
Obturatorius.

Pergerakan lutut :
Fleksi dan ekstensi merupakan gerakan utama lutut. Sedikit rotasi bisa dilakukan bila lutut
dalam keadaan fleksi namun tidak bisa dilakukan saat ekstensi. Selama tahap akhir ekstensi
kondilus tibialis medialis besar masuk ke arah depan menuju kondilus femoralis untuk
mengunci sendi. Sebaliknya, tahap awal fleksi melepaskan kunci sendi dengan rotasi interna
kondilus tibialis medialisgerakan ini dilakukan oleh m. Popliteus.
Otot-otot utama yang bekerja pada lutut adalah :
1. ekstensi : m. Kuadriseps femoris
2. fleksi : terutama hamstring tetapi juga m. Grasilis, m. Gastroknemius, dan m.
Sartorius
3. rotasi : m. Popliteus menimbulkan gerakan rotasi interna (medial) tibia

28

PENDEKATAN DIAGNOSIS
Pemeriksaan yang perlu dilakukan dalam menegakkan suatu diagnosis meliputi:

1. Riwayat Penderita
Perlu dicantumkan dengan jelas data pribadi yang meliputi nama, umur, jenis kelamin,
pekerjaan serta alamat yang jelas.
Gejala-gejala serta tanda-tanda khusus yang ditemukan, lebih lanjut harus ditetapkan
dengan menguraikan misalnya, lamanya, timbulnya kekambuhan, periodesitas misalnya
waktu mulainya timbul, lamanya, timbulnya kekambuhan, periodesitas, sifat sensasi
yang ditimbulkan, lokasi, penjalarannya, factor-faktor yang dapat menimbulkan
eksaserbasi atau penyembuhan, gejala-gejala kegiatan lain yang ada kaitannya dan
respon yang diberikan terhadap pengobatan.

ANAMNESIS
Keluhan Utama
Beberapa gejala.keluhan musculoskeletal yang membuat penderita datang untuk diperiksa
adalah:
a. Trauma
Hal-hal yang perlu diketahui mengenai trauma:
Waktu terjadinya trauma
Cara terjadinya trauma
Lokalisasi trauma
b. Nyeri
Gejala yang tersering ditemukan pada kelainan bedah ortopedi dan perlu
diketahui secara lengkap tentang sifat-sifat dari nyeri. Rasa nyeri berbeda dari
satu individu ke individu yang lain berdasarkan atas ambang nyeri dan toleransi
nyeri masing-masing penderita.

29

Sifat-sifat nyeri yang perlu diketahui adalah:


Lokasi nyeri : harus ditunjukkan dengan tepat oleh penderita
Karakter nyeri : apakah sifatnya tumpul, tajam
Gradasi dari nyeri (1-4)
Intensitas nyeri, apakah nyeri berkurang apabila istirahat
Aggravation; apakah nyeri bertambah berat bila beraktivitas, pada aktivitas
mana nyeri bertambah apakah pada saat batuk, bersin, berdiri atau berjalan.
Pada umumnya nyeri akan bertambah berat apabila ada gerakan setempat
dan berkurang apabila aktivitas.
Variasi sehari-hari; apakah pada waktu pagi/malam lebih nyeri atau lebih
baik.
Tekanan pada saraf atau akar saraf akan memberikan gejala nyeri yang
disebut radiating pain misalnya pada skiatika dimana nyeri menjalar mulai
dari bokong sampai anggota kerak bawah sesuai dengan distribusi saraf.
Nyeri lain yang disebut nyeri kiriman atau referred pain adalah nyeri pada
suatu tempat yang sebenarnya akibat kelainan dari tempat lain misalnya
nyeri lutut akibat kelainan pada sendi panggul. Kelainan pada saraf akan
memberikan gangguan sensabilitas berupa hipestesia, anesthesia, parestesia,
hiperestesia
c. Kekakuan pada sendi
Kelainan ini bias bersifat umum misalnyapada arthritis rheumatoid, ankilosing
spondilosis atau bersifat local pada sendi-sendi tertentu. Locking merupakan suatu
kekuatan sendi yangterjadi secara tiba-tiba akibat block secara mekanis pada sendi
oleh tulang rawan atau meniscus.
d. Pembengkakan
Pembengkakan dapat terjadi pada jaringan lunak, sendi atau tulang. Penting untuk
diketahui riwayat pembengkakan yang terjadi apakah setelah suatu trauma atau
tidak, apakah terjadi secara perlahan-lahan misalnya pada hematoma/hemartrosis

30

atau progresif dalam beberapa waktu. Pembengkakan dapat disebabkan oleh infeksi,
tumor jinak atau ganas.

e. Deformitas
Dapat terjadi pada sendi, anggota gerak atau tempat-tempat lain. Deformitas dapat
pada satu sendi atau lebih dari satu sendi (bersifat umum). Pada suatu trauma
dimana terjadi fraktur, tulang bergeser dari tempatnya sehingga terjadi deformitas
(kelainan bentuk).
Ada beberapa deformitas yang merupakan variasi dari suatu keadaan normal
misalnya ukuran tubuh yang kecil (cebol) atau panggul yang lebar.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang deformitas adalah:

Waktu; sejak kapan deformitas terjadi

Perubahan; apakah deformitas semakin bertambah setelah selang waktu


tertentu

Karakter/sifat-sifat deformitas; apakah bertambah dengan adanya inflamasi


dan kekakuan sendi.

Kecacatan; apakah deformitas menimbulkan kecacatan dan seberapa jauh


keadaan ini menimbulkan gangguan pada aktivitas sehari-hari.

Herediter; apakah ada riwayat keluarga misalnya ditemukan kelainan yang


sama pada anggota keluarga lainnya.

Riwayat pengobatan; apakah deformitas terjadi setelah suatu pengobatan.

f. Ketidakstabilan sendi
Perlu diketahui apakah kelainan yang ada menyebabkan ketidakstabilan sendi dan
ditelusuri juga penyebabnya apakah karena kelemahan otot atau kelemahan/robekan
pada ligament dan selaput sendi.
g. Kelemahan otot
Kelemahan otot dapat bersifat umum misanya pada penyakit distrofi muskuler atau
bersifat local oleh karena gangguan neurologis pada otot misalnya pada Morbus
Hansen, adanya paralisis peroneal atau pada penyakit polimielitis.

31

Yang perlu diperhatikan pada kelainan oto adalah


9 Waktu dan sifatnya; apakah terjadi secara bertahap atau secara tiba-tiba
9 Perlu diketahui batas dari bagian tubuh yang mengalami kelemahan otot,
apakah kelainan ini mengenai badan atau tungkai.
9 Bersifat regresi atau sepontan
9 Apakah disertai dengan kelainan sensoris misalnya parestesia, hipestesia atau
hiperestesia
9 Apakah control sfingter terganggu
9 Apakah kelainan ini menimbulkan kecacatan
9 Riwayat pengobatan sebelumnya
h. Gangguan sesnsibilitas
Terjadi bila ada kerusakan saraf pada upper /lower motor neuron baik bersifat local
maupun menyeluruh, gangguan sensabilitas dapat pula terjadi bila ada trauma atau
penekanan pada saraf. Perlu diketahui apakah gangguan ini bertambah berat atau
malah makin berkurang.
i. Gangguan atau hilangnya fungsi
Merupakan gejala yang sering ditemukan pada kelainan debah ortopedi. Gangguan
atau hilangnya fungsi baik pada sendi maupun pada anggota gerak dapat disebabkan
oleh berbagai sebab seperti gangguan fungsi karena nyeri yang terjadi setelah
trauma, adanya kekakuan sendi atau kelemahan otot.
j. Jalan pincang
Memerlukan anamnesis dan pemeriksaan yang teliti untuk mengetahui adanya
kelainan bawaan, trauma, infeksi, atau sebab-sebab lain sebelumnya.

Riwayat Penyakit sekarang


Anamnesis yang teratur dan terarah tentang kemungkinan penyakit yang diderita
mengenai beberapa hal, seperti lamanya keluhan, apakah keluhan ini terus menerus atau
sewaktu mengalami aktifitas, apakah ada hubungannya dengan orang lain.

32

Riwayat Penyakit Lain


Perlu ditanyakan penyakit-penyakit lainnya yang diserita oleh penderita apakah
terjadi sebelumnya atau bersamaan dengan penyakit yang ada sekarang ini.

Riwayat Sebelum Sakit


Riwayat sebelum sakit yang perlu diketahui adalah keadaan umum sebelumnya,
apakah ada penurunan berat badan atau tidak, serta hal-hal yang yang dialami sebelum
sakit, yaitu:\
Riwayat penyakit dahulu perlu diketahui penyakit-penyakit yang dialami
sebelumnya yang kemungkinan mempunyai hubungan dengan penyakit yang
diderita sekarang.
Riwayat trauma apakah mengalami trauma yang kemungkinan trauma ini
memberikan gangguan pada musculoskeletal baik berupa kelainan maupun
komplikasi-komplikasi lain yang dialami saat ini.
Riwayat pengobatan penelusuran tentang obat-obatan yang digunakan oleh
penderita sebelumnya perlu dilakukan karena dapat menimbulkan komplikasi
misalnya pemakaian kortisol dapat menimbulkan nekrosis avaskuler pada panggul.
Selain itu ditanyakan pula pada penderita tentang adanya riwayat alergi terhadap
obat-obatan.
Riwayat operasi perlu ditanyakan karena kemungkinan ada hubungannya dengan
keluhan sekarang seperti operasi karsinoma prostat, karsinoma mamae yang dapat
memberikan metatase ke tulang dengan segala komplikasinya.

Riwayat Sistem Tubuh Lainnya


Secara sistematik dilakukan penelusuran pada organ-organ tubuh lainnya tentang
adanya keluhan, kelainan-kelainan atau penyakit-penyakit yang diderita sebelumnya.

33

Riwayat Keluarga
Penelusuran

riwayat

keluarga

sangat

penting,

karena

beberapa

penyakit

musculoskeletal berkaitan dengan kelainan genetic dan dapat diturunkan.

Latar Belakang Sosial dan Pekerjaan


Yang perlu diketahui adalah keadaan ekonomi keluarga serta lingkungannya dan
juga kebiasaan-kebiasaan lain seperti peminum alcohol. Sedangkan riwayat pekerjaan pelu
diketahui karena ada pekerjaan-pekerjaan tertentu yang dapat menimbulkan cedera yang
khusus atau kelainan-kelainan yang khusus pula.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah

1. Pemeriksaan fisik umum


Bertujuan untuk mengevaluasi keadaan fisik penderita secara umum serta melihat
apakah ada indikasi penyakit lainnya selain kelainan musculoskeletal. Pemeriksaan
dilakukan secara sistematik karena sebagian penderita yang datang adalah penderita
yang sudah berumur dan biasanya mempunyai kelainan lain selain kelainan
musculoskeletal yang dikeluhkan.
Pada beberapa penderita kadang-kadang dilakukan tindakan operasi dengan
pembiusan sehingga perlu dipertimbangkan pemeriksaan secara teliti mengenai
system kardiovaskuler, pernafasan, saluran kemih dan saluran pencernaan untuk
keamanan dan kelamcara operasi.

2. Pemeriksaan fisik ortopedi

3. Pemeriksaan Neurologis
Dilakukan pemeriksaan ini apabila ditemukan adanya gangguan yang berupa
kelemahan otot, gangguan koordinasi serta perubahan sensibilitas. Pemeriksaan

34

neurologis disesuaikan dengan kelainan yang didapatkan atau dicurigai seperti


kelemahan

otot

anggota

gerak

atas

pada

spondilosis

servikal

atau

tetraparesis/tetraplegi setelah suatu trauma pada tulang belakang servikal.


Fungsi motoris
Pemeriksaan tonus dan kekuatan otot pemeriksaan tonus kelompok otot
secara individu dilakukan dengan menggerakkan sendi-sendi. Pada pemeriksaan
ini dapat diketahui adanya spastisitas atau kelemahan otot. Perlu dilakukan dan
dicatat pemeriksaan kekuatan otot.
Fungsi sensoris
Pemeriksaan sensibilitas dilakukan dengan melihat apakah ada kelainan
dalam sensibilitas pada daerah tertentu misalnya hiperestesia, hipestesia atau
anastesia. Salah satu pemeriksaan sensibilitas misalnya pemeriksaan tanda dari
Tinel untuk mengetahui distribusi saraf medianus pada pergelangan tangan.
Pada pemeriksaan ini perlu dibuat gambar kelainan dan darah yang mengalami
perumahan sensibilitas.
Pemeriksaan refleks
Pemeriksaan reflex baik reflex normal seperti reflex patella, reflex Achiles
untuk mengetahui adanya gangguan reflex pada reflex ini, misalnya pada suatu
hernia nucleus pulposus. Juga reflex patologis yang lain seperti reflex babinski.
Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis meliputi
a. Pemeriksaan foto rontgen tanpa kontras
Macam-macamnya yaitu:
Foto polos tulang
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada foto polos tulang adalah:
1. Densitas tulang (baik local/menyeluruh) apakah berkurang atau
mengalami penipisan (refraksi) atau malah bertambah (sklerosis) baik
secara local maupun menyeluruh
2. Korteks dan medulla tulang diperhatikan secara teliti

35

3. Hubungan antara kedua tulang diperhatikan apakah ada dislokasi atau


tidak
4. Kontinuitas tulang dinilai untuk melihat apakah terdapat fraktur.
5. Kontur umum tulang untuk melihat adanya deformitas
6. Melihat adanya penebalan tulang rawan sendi dan besarnya ruangan
sendi.
7. Perubahan jaringan lunak dinilai apakah ada pembengkakakn atau artrofi
8. Pada penyakit-penyakit tertentu sering dilakuakn pemeriksaan foto polos
seluruh tulang yang disebut bone survey yang terutama digunakan untuk
melihat adanya penyebaran atau metastasis pada tulang seperti pada
kasus-kasus tumor tulang primer misalnya myeloma multiple.

Xeroradiografi
Merupakan pemeriksaan foto polos tetapi menggunakan film khusus dimana
densitas tulang ditransfer pada suatu lapisan plastic sebagai gambaran positif
. xeroradiografi terutama untuk melihat densitas jaringan lunak, erosi
subperiosteal, kalsifikasi jaringan lunak dan hasilnya harus dikonfirmasi
dengan pemeriksaan radiologis lainnya.

Tomografi
Berguna untuk melihat kelainan pada lapisan-lapisan tertentu dari tulang
melalui irisan-irisan tulang pada ketebalan tertentu lapis demi lapis.

b. Pemeriksaan radiologis dengan media kontras


Teknik ini mempergunakan cairan kontras yang disuntikkan diantara ruang antar
jaringan sebelum foto dilakukan. Melalui gambaran lontras pada foto, dapat dinilai
dengan jelas batas-batas dari lesi.
Macam-macamnya yaitu:
o Sinografi digunakan untuk melihat batas dan lokasi dari sinus

36

o Artrografi berguna untuk melihat batas ruang sendi


o Mielografi pemerisan cairan media ke dalam teka spinalis. Demikian
pula radiokulografi dengan penggunaan kontras yang larut dalam air juga
bertujuan untuk menilai keadaan saraf khususnya pangkal saraf.
c. Pemeriksaan radiologis khusus
Macam-macamnya yaitu:
Computed Tomography (CT scan)
Dilakukan melalui scanning dari beberapa arah menggunakan detector untuk
melihat potongan melintang objek (misalnya anggota gerak atas) yang
ditampilkan melalui osiloskopi dengan dinsitas objek yang bervariasi.
Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Pemeriksaan radiologis yang mirip CT-scan. Pencitraan yang dihasilkan
berupa potongan-potongan melintang dari obyek yang diperiksa. MRI
menggunakan frekuensi radio dan medan magnetic tanpa menggunakan
radiasi ionisasi (zat pengion). MRI dan CT-scan keduanya merupakan
pemeriksaan non-invasif dan tidak ada bahaya radiasi bagi penderita.
Kekurangannya kedua pemeriksaan ini masih merupakan pemeriksaan yang
mahal bagi penderita.
Radioisotope Scanning
Dimanfaankan secara luas dalam bedah ortopedi. Pada saat ini zat kontras
yang digunakan 99mtechnectium dengan diposponate yang disuntikkan secara
IV dan dievalusi dengan kamre gamma atau whole body rectilinear scanner.
Terjadi difus bahan radioisotope dengan cepatdari darah dimana konsentrasi
bahan kontras pada daerah lesi terlihat lebih tinggi sehingga aktivitas
osteogenik dapat diamati.
Pemeriksaan Ultrasound
Menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi dan tidak menimbulkan
efek ionisasi. Gelombang suara akan dipantulkan oleh objek dibawahnya dan
kemudian diolah oleh transducer sehingga menghasilkan bayangan.

37

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan laboratorium merupakan salah satu data yang diperlukan untuk melakukan
diagnosis yaitu melalui pemeriksaan laboratorium dari bahan cairan seperti pemeriksaan
hematologi, biokimia, sel-sel dan imunologi.
1. Pemeriksaan darah dan serum
Pemeriksaan darah meliputi pemeriksaan hemoglobin, sel darah putih, sel darah
merah, hitung diferensiasial, laju endap darah, uji bekuan darah, pemeriksaan asam
urat dan kultur daerah serta pemeriksaan darah lain yang dianggap ada
hubungannya. Pemeriksaan serum meliputi serum kalsium, fosfor inorganic, alkali
fosfatase, asam fosfatase, protein, pemeriksaan imunologis dan pemeriksaan
serologi seperti uji Wassermann, uji Mantoux, uji Rose-Waaler untuk arteritis
rheumatoid.
2. Pemeriksaan urin
Meliputi pemeriksaan makroskopis, albumin, glukosa, sel, kalsium dan fosfor urin,
kultur urin dan uji khusus urin seperti Bence Jones untuk penyakit myeloma
multiple.
3. Pemeriksaab cairan serebrospinal
Meliputi pemeriksaan makroskopis, tekanan, protein, jumlah sel serta kultur.
4. Pemeriksaan cairan synovial
Meliputi pemeriksaan makroskopis, sel, kultur dan glukosa.
5. Pemeriksaan cairan abnormal lainnya
Meliputi pemeriksaan cairan efusi, eksudat, makroskopis, sel, apusan, biakan dan
mungkin perlu uji kepekaan kuman (uji sensitivitas).
6. Pemeriksaan jaringan (Biopsi)
Biopsy jaringan lunak atau tulang penting artinya untuk melakukan diagnosis secara
histopatologis. Ada 2 cara biopsy yang dapat dilakukan yaitu:
a. Biopsy tertutup
b. Biopsy terbuka

38

Pendekatan Diagnosis dari Skenario


Berdasarkan scenario didapatkan pasien mengalami kecelakaan, dengan posisi lutut
pasien jatuh terlebih dahulu menyentuh tanah, jadi dari mekanisme jatuhnya kemungkinan
pasien mengalami fraktur pada bagian patella.
Selain itu pasien juga tampak ekstremitas bawahnya asimetris dengan bagian kanan
lebih panjang daripada bagian kiri, dan terdapat juga terlihat fleksi pada sendi lutut dan
panggul kiri, rotasi internal dan adduksi sendi panggul. Dari keadaan tersebut kemungkinan
pasien mengalami dislokasi sendi panggul, yang membuat ekstremitas asimetris, terlihat
fleksi pada sendi lutut dan panggul serta rotasi interna dan adduksi sendi panggul, namun
tidak menutup kemungkinan pasien juga dapat mengalami dislokasi pada sendi lutut.
Dan dari skeranio juga didapatkan laserasi sepanjang 10 cm. dan kemungkinan
laserasi tersebut dapat diakibatkan oleh goresan benda-benda disekitar pasien saak
kecelakaan.

39

PENANGANAN AWAL TRAUMA


Primary Survey
Primary survey (pemeriksaan Dini) adalah adalah pemeriksaan awal terhadap pasien
trauma. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menjaga kelangsungan hidup seseorang sehingga
harus segera dilaksanakan. Primary survey meliputi :

Pemeriksaan kesadaran korban, dengan menggunakan Glasgow comma scale.

Pemeriksaan saluran Nafas (airway), yang bertujuan untuk membebaskan dan


membuka jalan nafas. Pemeriksaan ini dilakukan dengan metode jaw thrust atau
head-tilt-chin-lift kemudian lakukan pembersihan jalan nafas jika terdapat sumbatan.
Patensi jalan nafas harus tetap dijaga sambil melakukan pemeriksaan nafas dan
sirkulasi. Jika terdapat kemungkinan adanya cedera medulla spinalis region
cervicales, perlu dilakukan imobilisasi leher dengan segera dan pembukaan jalan
nafas dilakukan Jaw-thrust (karena hanya membuka mulut dengan mendorong
rahang tanpa menggerakkan leher dan kepala).

Periksa nafas (breathing), untuk mengetahui apakah korban bernafas atau tidak.
Pemeriksaan ini terdiri dilakukan dengan cara mendekatkan telinga dan pipi
penolong kehidung korban dan mata penolong melihat kea rah perut dan dada
korban (Look,Listen And Feel),yang bertujuan untuk melihat adanya tanda kesulitan
atau tanda pernafasan (gerakan dinding dada dan otot bantu pernafasan), melihat ada
sumbatan pada jalan nafas mendengar suara nafas korban untuk mengetahui ada
sumbatan atau tidak, dan rasakan hembusan nafas korban dan gerakan nafasnya.

Pemeriksaan sirkulasi darah (Circulation), pemeriksaan ini bertujuan untuk


mengetahui apakah jantung dan sirkulasi berkerja dengan baik. Pemeriksaan
dilakukan dengan meraba arteri karotis selama 3-5 detik untuk menilai ada tidaknya
pulsasi kemudian nilai denyutannya.

Resusitasi dilakukan untuk menjaga nafas dan sirkulasi korban agar tetap stabil.
Resusitasi yang diberikan antara lain ventilasi tekanan positif untuk memberikan

40

bantuan nafas pada korban, resusitasi jantung paru, atau pemberian resusitasi cairan
pada korban yangmenglami syok hipovolemik.

Periksa kecacatan atau kemampuan fungsional tubuh korban (disability) yang


bertujuan untuk menilai kondisi pasien (terutama kondisi neurologis). Pada
pemeriksaan ini dilakukan penilaiankesadaran,orientasi,fungsi ekstremitas (untuk
menilai

ada

tidaknya

fraktur

atau

hipoastesia),

dan

pemeriksaan

neurolneurologisogis untuk mencari tanda deficit lainnya seperti pemeriksaan reflex


pupil, pemeriksaan keseimbangan dan sebagainya.

Periksa paparan lainnya (exposure), yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk


mencari adanya tanda kegawatan lainnya yang belum tampak. Jika terdapat sumber
perdarahan lainnya maka harus segera dihentikan, kerusakan pada jaringan
lunak,cedera vascular dan tanda trauma lain harus segera ditangani. Pemeriksaan
fisik dilakukan secara menyeluruh dimulai dari kepala hingga kaki dengan urutan
sebagai berikut:
o Pemeriksaan tanda Vital (nadi, tekanan darah, suhu tubuh, nafas, dan tes
CRP)
o Pemeriksaan kepala
o Pemeriksaan mata
o Pemeriksaan hidung
o Pemeriksaan leher
o Pemeriksaan dada
o Pemeriksaan perut
o Pemeriksaan panggul
o Pemeriksaan ekstremitas
o Pemeriksaan punggung
Dinilai apakah ada nyeri, keterbatasan gerakan, sirkulasi, tanda trauma seperti
laserasi, hematoma, fraktur, apakah ada pelebaran vena, perdarahan, kehilangan
sensasi sentuhan perabaan atau nyeri, dan lainnya. Lakukan pemeriksaan penunjang
dengan segera untuk mengetahui kondisi korban.

41

Secondary Survey:
a. Mekanisme trauma, diperlukan untuk memperkirakan dan mengetahui cedera lain
yang belum tampak dan bagaimana proses terjadinya trauma. Info yang perlu
ditanyakan kepada keluarga atau saksi mata adalah :
i. Dimana posisi korban saat terjadinya kecelakaan, apakah korban adalah
pengemudi, penumpang, pejalan kaki dsb.
ii. Bagaimana posisi korban saat terjadinya kecelakkaan, apakkah korban
terhempas, terlempar keluar, tertabrak, jatuh dari ketinggian dan bagaimana
mendaratnya, membentur sesuatu atau terlindas dsb.
iii. Pada pasien yang mengendarai kendaraan perlu ditanyakan posisinya dalam
kendaraan sewaktu kecelakaan, kondisi kendaraan setelah kecelakaan dan
arah tabrakan, apakah ada kerusakan bagian dalam kendaraan, apakah korban
menggunakan seat belt
iv. Apakah ada ledakan dan seberapa besar ledakan tersebut?, berapa jauh jarak
korban dengan sumber ledakan?
1. Dekat kemungkinan pasien menerima dampak langsung dari
ledakan (cedera primer) atau pasien terlempar dan membentur sesuatu
(cedera ledakan tertier)
2. Cukup jauh kemungkinan pasien menderita cedera akibat bendabenda yang terlempar akibat ledakan (cedera sekunder).
b. Lingkungan, orang atau petugs medis pertama yang merawat korban harus ditanya
mengenai:
i. Apakah penderita mengalami trauma termal(panas/dingin)?
ii. Apakah korban terkena gas atau zat beracun/berbahaya?
iii. Apakah pasien terkontaminasi kotoran, zat berbahaya, pecahan kaca dst?
iv. Adakah masalah awal yang dialami dalam merawat pasien?
c. Keadaan pasien sebelum trauma dan factor predisposisi lainnya diperlukan untuk
menentukan cara terapi yang akan digunakan, mengidentifikasi penyulit dan
memperkirakan hasil terapi. Hal-hal yang harus ditanyakan diantaranya:

42

i. Kemampuan fisik pasien dan tingkat aktivitas pasien.


ii. Penggunaan obat dan alcohol
iii. Masalah emosional yang dialami
iv. Riwayat trauma sebelumnya dan terapi yang diberikan
v. Riwayat kesehatan pasien
vi. Riwayat lainnya
d. Observasi keadaan pasien.

43

FRAKTUR

a. Definisi Fraktur Dan Mekanisme Trauma


Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh trauma. Trauma yang menyebabkan fraktur dapat berupa trauma
langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan
ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang
menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.
Akibat trauma pada tulang tergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya.
Trauma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang
patah dengan luka terbuka sampai ke tulang yang disebut fraktur terbuka. Patah tulang di
dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi
yang disebut fraktur dislokasi. Tekanan kronis berulang dalam jangka waktu lama akan
mengakibatkan fraktur yang kebanyakan pada tulang tibia, fibula atau metatarsal pada
olahragawan, militer maupun penari. Kelemahan tulang yang abnormal karena adanya
proses patologis seperti tumor maka dengan energi kekerasan yang minimal akan
mengakibatkan fraktur yang pada orang normal belum dapat menimbulkan fraktur atau
osteoporosis.

b. GEJALA DAN TANDA


Manifestasi klinis fraktur adalah didapatkan adanya riwayat trauma, hilangnya
fungsi, tanda-tanda inflamasi yang berupa nyeri akut dan berat, pembengkakan lokal,
kemerahan, perubahan warna, dan panas pada daerah tulang yang patah. Selain itu ditandai
juga dengan deformitas, dapat berupa angulasi, rotasi, atau pemendekan, serta krepitasi.
Apabila fraktur terjadi pada ekstremitas atau persendian, maka akan ditemui keterbatasan
lingkup gerak sendi. Pseudoartrosis dan gerakan abnormal.

44

Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur, sehingga perlu
dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis
adalah pemeriksaan X-foto, yang harus dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu anterior-posterior
dan lateral. Dengan pemeriksaan X-foto ini dapat dilihat ada tidaknya patah tulang, luas,
dan keadaan fragmen tulang. Pemeriksaan ini juga berguna untuk mengikuti proses
penyembuhan tulang.
Diagnosis fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik dan pemeriksaan sinar-x
pasien. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut. Bila
berdasarkan pengamatan klinis diduga ada fraktur, maka perlakukanlah sebagai fraktur
sampai terbukti lain.

c. Klasifikasi Fraktur
Fraktur berdasarkan derajat atau luas garis fraktur terbagi atas : complete, dimana
tulang patah terbagi menjadi dua bagian (fragmen) atau lebih, serta incomplete (parsial).
Fraktur parsial terbagi lagi menjadi:
1. Fissure/Crack/Hairline tulang terputus seluruhnya tetapi masih tetap di tempat,
biasa terjadi pada tulang pipih
2. Greenstick Fracture biasa terjadi pada anak-anak dan pada os radius, ulna,
clavicula, dan costae
3. Buckle Fracture fraktur di mana korteksnya melipat ke dalam

Berdasarkan garis patah/konfigurasi tulang dibagi menjadi :


1. Transversal garis patah tulang melintang sumbu tulang (80-100o dari sumbu
tulang)
2. Oblik garis patah tulang melintang sumbu tulang (<80o atau >100o dari sumbu
tulang)

45

3. Longitudinal garis patah mengikuti sumbu tulang


4. Spiral garis patah tulang berada di dua bidang atau lebih
5. Comminuted terdapat 2 atau lebih garis fraktur

Berdasarkan hubungan antar fragmen fraktur:


a. Undisplace fragmen tulang fraktur masih terdapat pada tempat anatomisnya
b. Displace fragmen tulang fraktur tidak pada tempat anatomisnya, terbagi atas:
-

Shifted Sideways menggeser ke samping tapi dekat

Angulated membentuk sudut tertentu

Rotated memutar

Distracted saling menjauh karena ada interposisi

Overriding garis fraktur tumpang tindih

Impacted satu fragmen masuk ke fragmen yang lain

Secara umum, berdasarkan ada tidaknya hubungan antara tulang yang fraktur
dengan dunia luar, fraktur juga dapat dibagi menjadi 2, yaitu fraktur tertutup dan fraktur
terbuka. Disebut fraktur tertutup apabila kulit di atas tulang yang fraktur masih utuh.
Sedangkan apabila kulit di atasnya tertembus dan terdapat luka yang menghubungkan
tulang yang fraktur dengan dunia luar maka disebut fraktur terbuka, yang memungkinkan

46

kuman dari luar dapat masuk ke dalam luka sampai ke tulang yang patah sehingga
cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi.

Fraktur Terbuka
Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat ringannya luka dan
berat ringannya fraktur.
Derajat Patah Tulang Terbuka Menurut Gustillo dan Anderson (1976)

Kemudian Gustillo et al. (1984) membagi tipe III dari klasifikasi Gustillo dan Anderson
(1976) menjadi tiga subtipe, yaitu tipe IIIA, IIIB dan IIIC.

IIIA terjadi apabila fragmen fraktur masih dibungkus oleh jaringan lunak, walaupun
adanya kerusakan jaringan lunak yang luas dan berat.

47

IIIB fragmen fraktur tidak dibungkus oleh jaringan lunak sehingga tulang terlihat
jelas atau bone expose, terdapat pelepasan periosteum, fraktur kominutif. Biasanya
disertai kontaminasi masif dan merupakan trauma high energy tanpa memandang
luas luka.

III C terdapat trauma pada arteri yang membutuhkan repair agar kehidupan bagian
distal dapat dipertahankan tanpa memandang derajat kerusakan jaringan lunak.

Klasifikasi lanjut fraktur terbuka tipe III (Gustillo dan Anderson, 1976) oleh Gustillo,
Mendoza dan Williams (1984)

MEKANISME PENYEMBUHAN FRAKTUR


Terdapat beberapa tahap penyembuhan tulang setelah terjadinya fraktur,berikut ini tahapantahapan tersebut

1. Pembentukan hematom
Hematom ini terbentuk dari pembuluh darah pada periosteum yang pecah saat
terjadi trauma atau fraktur pada tulang tersebut. Hemato ini merupakan suatu massa
dimana terjadi penumpukan darah dalam suatu organ atau ruang. Hematom ini akan
membentuk

klot karena mengandung protein fiber

yang nantinya dapat

menghentikan perdarahan. Selain terbentunya hematom, pembuluh darah yang robek


sekitar periosteum ini akan memberikan keuntungan tersendiri karena membantu
memberikan vaskularisasi yang baik bagi osteosit tulang yang terjadi fraktur. Proses
inflamasi akan terjadi dan akan membantu penyembuhan awal dari tulang tersebut

48

2. Pembentukan callus
Kalus(callus) merupakan suatu massa yang terbentuk pada sisis pertemuan tulang
yang mengalami fraktur dan dapat menghubungkan kembali tulang tersebut. Kalus
yang terbentuk ini dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu interna dan eksterna.
Kalus interna merupakan kalus yang terbentuk pada kedua sisi dalam dari tulang
yang terputus biasanya pada bagian sumsum tulang tersebut. Makanisme
terbentuknya kalus ini dimulai dari pembersihan sel-sel debris dari sisa-sisa klot
yang terbentuk oleh makrofag, pembersihan jaringan tulang yang mati oleh
osteoklas dan pembentukan kolagen dan material ekstrasel oleh fibroblast untuk
membentuk jaringan grabulasi. Produksi kolagen oleh fibroblast terus berlanjut dan
membentuk jaringan yang lebih tebal yang dapat mengaitkan kedua sisi tulang yang
patah tersebut. Kondroblas yang berasal dari sel progenitor osteokondral mulai
membentuk kartilago pada jaringan ikat yang telah terbentuk sebelumnya. Selama
proses tersebut berlangsung sel progenitor osteokondral dalam endoosteum menjadi
osteoblast dan akhirnya membentuk tulang yang pada kalus interna tersebut.
Kalus eksterna merupakan kalus yang terbentuk mengelilingi sekitar fragmen tuang
yang fraktu. Sel osteokondral progenitor pada periosteum berubah mejadi osteoblast
yang akan memproduksi tulang dan kondroblas yang akan menjadi kartilago. Kalus
eksternaini berparan sebagai penyanggah kadua tulang yang mengalami fraktur
tersebu.

3. Osifikasi kalus
Kalus yang sudah terbentuk mulai menjadi anyaman dan proses osifikasi dimulai.
Osteoblast dari pada periosteum dan endoosteum masuk ke kalus interna dan
membentuk tulang.

4. Remodeling tulang
Proses remodeling ini berlabgsung cukupa lama dan mungkin belum komplit dala
satu tahun. Pada proses ini kalus interna menjadi semakin kuat dan kalus eksterna
akan mengalami pengurangan ukuran yang dibantu oleh aktivitas osteoklas.

49

Prognosis
Prognosis dari terauma bergantung dari mekanika trauma yang dialami pasien. Semakin
besar energy yang diterjadi ketika trauma maka cedera yang dialami juga akan semakin
parah, begitu juga dengan bagian tubuh mana yang terkena terlebih dahulu dan tubuh akan
terkena benda apa ketika trauma, hal itu akan menentukan tingkat keparahan dari suatu
trauma.
Selain itu semakin cepat penanganan emergency yang dilakukan, maka prognosisnya akan
semakin baik, namun tidak hanya itu saja dengan teknik imobilisasi dan reposisi awal yang
baik, maka akan menghasilkan prognosis yang baik pula.

50

DISLOKASI
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini
dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen
tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat
mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya
terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi
pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain
macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamenligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi.

SUBLUKSASI
Sublukasi adalah keadaan di mana satu atau lebih tulang keluar dari posisinya dan
menghasilkan tekanan dan mengiritasi nervus. Iritasi nervus bisa menyebabkan malfungsi
dan mengganggu transmisi sinyal pada nervus tersebut sehingga sebagian fungsi dari tubuh
(motorik) menjadi terhambat dan terjadi inabilitas dari tubuh.

51

SPASME
Spasme otot atau cramp adalah kontrkasi involunter pada otot. Spasme otot terjadi dengan
tiba-tiba dan menghilang dengan sendirinya, biasanya bersifat nyeri.

Etiologi
Spasme otot dapat terjadi ketika otot hiperaktivitas dan lelah, secara partikuler terjadi
overstretch pada otot. Sebagai efeknya, sel otot menjadi hyperexitable dan saat itulah terjadi
kontraksi involunter.
Hiperaktivitas otot biasanya terjadi pada mereka yang menjadi atlet dan biasanya
melakukan latihan pada lingkungan yang panas sehingga menimbulkan hiperaktivitas Dari
otot ototnya tersebut. Bias juga terjadi pada pekerja konstruksi. Spasme biasanya terjadi
pada otot yang besar yang sering dipakai untuk bekerja.
Dehidrasi juga dapat menyebabkan spasme otot, karena otot memerlukan air, glukosa,
sodium, potassium, kalsium, dan magnesium untuk sel otot berinteraksi dan melakukan
gerakan dan kontraksi. Suplai yang abnormal (misalnya karena dehidrasi) bias
menyebabkan terjadinya spasme otot.
Aterosklerosis pada arteri bisa menyebabkan terjadinya spasme otot karena inadekuat suplai
darah dan nutrient yang dikirimkan kepada sel otot. Selain itu penyakit sistemik seperti
diabetes, penyakit ginjal, tiroid, dan anemia bisa menjadi potensila menimbulkan spasme
otot.
Pada smooth muscle juga bisa terjadi spasme, contohnya pada kasus diare yaitu di mana
otot pada dinding kolon menjadi spasme ketika sebelum terjadinya watery bowel
movement.
Gejala
Gejala spasme otot tergantung dari otot yang terlibat dan gerakan otot tersebut sehingga
menyebabkan spasme. Biasanya terjadi kontraksi involunter yang dapat dilihat di bawah

52

kulit. Menimbulkan rasa nyeri dan rasa nyeri serta spasmenya itu sendiri bisa menghilang
dengan sendirinya.

Diagnosis
Ditanyakan kapan terjadinya, waktu terjadinya (berapa lama), frekuensinya, area terjadinya
spasme. Ditanyakan juga informasi tentang penggunaaan obat-obatan tertentu, suplemen
makanan, riwayat penyakitnya seperti penyakit sistemik DM, aterosklerosis, hipotiroidisme,
dan penyakit ginjal.
Jika pasien mengeluh spasme pada ototnya, dilakukan palpasi untuk merasakan pulsasi pada
otot tersebut.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah hitung darah lengkap untuk mwncari adanya
anemia, elektrolit (khususnya sodium, potassium, calcium dan magnesium), glukosa dan
kreatinin (untuk menilai fungsi ginjal), serta dilakukan tes fungsi tiroid.
Jika spasme diperkirakan penyebabnya adalah gangguan otot dan nervus dilakukan
pemeriksaan elektromiografi (EMG).
Untuk nyeri yang didapatkan dari spasme otot halus dan nyeri bersifat berat, pasien masuk
ke golongan emergensi. Kolik renal dan nyeri gallbladder memerlukan medikasi nyeri
narcosis dan antinausea.

Tatalaksana
Pencegahan adalah kunci untuk menghindari terjadinya spasme. Jika terjadi dehidrasi, maka
pasien diminta untuk melakukan rehidrasi. Hilangnya cairan pada demam, mual-muntah,
dan diare bisa dikendalikan dengan memberikan rehidrasi pada pasien.
Pengobatan dilakukan bedasarkan kausa terjadinya spasme otot itu sendiri. Jika
hiperkativitas, pasien diberikan rehidrasi dan diminta beristirahat.

53

Pada distonia medikasi dilakukan untuk mengembalikan keseimbangan neurotransmitter


otak. Obat-obatan yang mungkin diberikan adalah:

Antiparkinson: triheksifenidil HCl dan benztropin mesilat (Congentin) untuk


mengurangi aseltilkolin.

Relaksan otot seperti diazepam (valium) dan baklofen (lioresal) untuk reseptor
GABA.

Levodpa dan reserpin untuk memberikan efek pada level dopamine.

Carbamezepin jika terjadi kejang.

Botulinum toxin type A diinjeksikan pada otot yang spasme untuk memparalisis otot
yang spasme tersebut.

54

TRAUMA JARINGAN LUNAK


1) Luka superfisial

Aberasi
Aberasi adalah luka yang disebabkan oleh trauma superfisial pada kulit, biasanya
oleh karena gesekan dan dapat sembuh spontan dengan sedikit jaringan parut. Setiap
benda asing atau kotoran sebaiknya dikeluarkan karena dapat melekat di dalam kulit.
Pengobatannya adalah penggunaan verban untuk proteksi luka dan pemberian
antiseptik.

Luka insisi
Luka insisi yang bersifat superfisialbiasanya tanpa kontaminasi. Harus diperhatikan
apakah luka insisi ini hanya terbatas pada kulit atau lebih dalamyang dapat
mengenai tendo, pembuluh darah, atau saraf.

Luka laserasi
Luka laserasi adalah luka luas yang dapat bersifat bersih seperti pada luka insisi
tetapi dapat juga oleh karena trauma yang bersifat tumpul yang membentuk
hematoma pada jaringan lunak.

Pengobatan
semua jaringan yang mati dan benda asing harus di eksisi dan luka harus ditutup. Perlu
dilakukan pemeriksaan radiologis apabila terdapat kecurigaan akan adanya benda asing
seperti metal, gelas, atau batu yang bersifat rdio-opak.

2) Luka dalam
Luka dalam dapat disebabkan oleh laserasi atau luka bakar karena bermacam sebab seperti
listrik. Dapat mengenai beberapa lapisan jaringan mulai dari kulit sampai lapisan yang lebih
dalam.

55

Pengobatan
Pada luka dalam kemungkinan terjadi keruskan jaringan lunak, oleh karena itu perlu
dilakukan eksplorasi untuk melihat kemungkinan kerusakan yang ada. Seluruh jaringan
yang rusak dikeluarkan seperti pada luka alserasi.

3) Luka tembak
Luka tembak ada dua, yaitu :

Luka tembak dengan kecepatan rendah


Pada luka ini ditemukan batas yang jelas dengan kerusakan jaringan beberapa
milimeter diluar dari saluran luka. Luka biasanya tidak serius, kecuali jika ada
kerusakan organ vital. Pengobatan berupa eksisi jaringan yang mati sampai jaringan
yang sehat. Apabila luka disertai dengan fraktur maka dapat dilakukan pengobatan
sesuai dengan pengobatan standar. Luka dapat ditutup dengan beberapa jahitan saja.

Luka tembak dengan kecepatan tinggi


Biasanya peluru masuk dan menimbulkan luka yang kecil tetapi kerusakan jaringan
lunak yang sangat luas dapat menimbulkan kavitasi. Pengobatan dengan melakukan
eksisi luka serta jaringan matiyang luas dan sebaiknya luka dibiarkan terbuka.
Pada setiap luka sebaiknya diberikan toksoid antitetanus apabila sudah memperoleh
imunisasi dasar dan apabila tidak memperoleh imunisasi dasar maka diberikan
serum antitetanus.

4) Trauma pada ligamen


Trauma pada sendi juga dapat menyebabkan kerusakan atau robekan pada ligamen yang
bersifat total atau parsial. Robekan pada ligamen yang bersifat parsial disebut strain.
Robekan pada ligamen sering ditemukan pada lutut dan pergelangan kaki.

56

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesisi yang baik, gambaran klinis serta pemeriksaan
rontgen secara stres dengan anastesi umum.

Pengobatan
Robekan parsial biasanya mmerlukan pengobatan yang sederhana. Pada stadium akut,
ditemukan rasa nyeri yang hebat dan dilakukan imobilisasi dengan perban elastik serta
analgetik. Biasanya nyeri yang timbul lebih hebat, dapat dilakukan pemasangan gips. Dalam
24 jam pertama diatasi dengan pemberian kompres es/air dingin secara berulang-ulang.
Penyembuhan biasanya setelah 28 minggu.
Robekan yang total perlu dilakukan aposisi pada kedua ujung ligamen dengan cara operasi,
diikuti imobilisasi daerah yang terkena dengan pemasangan gips. Waktu pemasangan gips
2-4 minggu kemudian dilakukan rehabilitasi.

5) Trauma pada tendo


Robekan pada tendo terutama terjadi akibat trauma tajam misalnya pecahan kaca dan paling
sering ditemukan pada daerah pergelangan tangan dan jari-jari. Robekan juga dapat terjadi
pada tendo-tendo besar seperti tendo achilles karena cedera olah raga.

Pengobatan
Pada luka yang bersih dapat dilakukan penjahitan primer dan pada luka yang kotor dapat
ditunda untuk beberapa minggu. Tendo yang mengalami luka laserasi terbuka sebaiknya
diusahakan ditutup dengan full thickness skin graft. Penjahitan tendo dapat dilakukan
dengan teknik yang tersedia. Setelah penjahitan dilakukan pemasangan gips 3-6 minggu.

6) Trauma pada pembuluh darah


Trauma pada pembuluh darah dapat dibagi menjadi 3 kategori :

Vasospasme

57

Robekan tidak total

Robekan total

Akibat yang terjadi dari komplikasi pembuluh darah :

Gangguan sirkulasi yang bersifat sementara

Gangguan sirkulasi yang bersifat permanen karena kerusakan pembuluh darah atau
trombosis

Aneurisme traumatik

Lokalisasi daerah trauma pembuluh darah


Trauma arteri aksilaris biasanya terjadi pada dislokasi sendi bahu atau fraktur dislokasi
sendi bahu/fraktur leher humerus.
1. Arteri brakilais
Trauma arteri ini biasanya terjadi pada fraktur fraktur humerus dan fraktur
suprakondiler humerus.
2. Arteri radialis
Trauma arteri radialis terjadi pada fraktur radius distal dengan pemindahan fragmen
ke depan dari fragmen distal (fraktur smith)
3. Pembuluh darah pelvik
Trauma pembuluh darah pelvik terjadi pada trauma tekanan atau trauma lain yang
hebat pada daerah panggul.
4. Arteri femoralis
Trauma arteri femoralis biasanya terjadi jika terjadi fraktur pecah-pecah/hancur pada
batang os. femur.
5. Arteri poplitea
Trauma arteri poplitea terjadi apabila terdapat dislokasi sendi lutut, fraktur 1/3
proksimal tibia, atau fraktur distal femur.

58

Gambaran klinis
Perlu dibandingkan perabaan dan denyutan arteri antara bagian bagian yang sakit
dan yang sehat. Bagian distal mengalami iskemi, dingain, dan bengkak. Perlu diraba
arteri radialis, arteri dorsalis pedis/arteri tibialis posterior. Juga diperiksa ritme
kapiler pada jari-jari.

Pengobatan
Apabila terdapat faraktur atau dislokasi, reduksi harus dilakukan secepatnya baik
secara terbuka atau tertutup. Bila perlu dapat dilakukan eksplorasi pembuluh darah
untuk melihat tingkat kerusakannya.

Ganggren iskemik
Ganggren iskemik merupakan kelainan dimana terjadi kematian jaringan karena
kerusakan pembuluh darah. Ganggren iskemik dapat disebabakan oleh :
Pemasangan verban yang ketat
Pemasangan tornikuet yang terus menerus
Kerusakan pembuluh darah bersama-sana fraktur
Fraktur terbuka disertai infeksi dan kerusakan pembuluh darah
Pengobatan yang tidak adekuat atau reposisi farktur yang jelek (iatrogenik)

Gambaran klinis
Warna kulit hitam kecoklatan, dingin, dan membengkak
Dapat terjadi pelepuhan pada kulit dan terkelupasnya kulit
Gangguan fungsi dan sensasi dari kulit dan bau busuk
Hiperpireksia
Penderita terlihat toksik dan mengalami dehidrasi sampai syok
Infeksi dan pembusukan pada jaringan

59

Ditemukan krepitasi apabila ada gas ganggren


Takikardi dan penurunan tekanan darah
Pernapasan yang cepat
Pengobatan
Resusitasi penderita secepat mungkin
Nekrotomi yang luas atau bila perlu dilakukan amputasi
Pemberian antibiotik yang adekuat

Trauma pada vena


Trauma pada vena terutama vena besar dapat bersifat total atau parsial yang dapat
disebabkan oleh tusukan fragmen tulang pada fraktur yang bergeser. Trauma dapat
pula terjadi oleh karena luka tembak yang menembus jaringan lunak dari luar.
Penngobatan
Trauma pada vena besar harus diperbaiki oleh karena akan menimbulkan komplikasi
dikemudian hari berupa kongesti vena bagian distal.

Sindrome kompartemen
Setelah terjadi trauma terutama pada tungkai bawah khususnya fraktur tertutup,
terjadi hambatan pada vena dan kompartemen fasia yang akan memberikan efek
balik sehingga terjadi penekanan pada pembuluh darah arteri.
Gambaran klinis
Pada tingkat awal terjadi nyeri yang hebat pada tungkai, tidak dapat melakukan
dorsofleksi pada jari-jari kaki, dan rasa nyeri secara pasif, kemudian tungkai
menjadi pucat dan membengkak. Pada tingkat lanjut terjadi perubahan pada saraf
dan otot sehingga menyebabkan nekrosis pada otot yang bersifay ireversible.

60

Pengobatan
Pada tingkat awal semua gips dan verban yang mengikat dan menekan dilepaskan
dan bila tidak berhasil segera dilakukan fasiotomi.

61

DIAGNOSIS BEDAH ORTOPEDI


(FRAKTUR, DISLOKASI,
SUBLUKSASI)

Suatu diagnosis pada kasus ortopedi dapat ditegakkan melalui beberapa tahapan
pemeriksaan dan untuk itu seorang dokter dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan,
keterampilan disamping pengalaman yang baik.
Pemeriksaan diawali dengan menanyakan riwayat penderita (anamnesis) dan
dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan-pemeriksaan tertentu berdasarkan
kebutuhan yang diperlukan.
Data yang dihasilkan kemudian dipadukan dan dianalisa sehingga suatu diagnosis
yang baik dapat ditegakkan, yang merupakan dasar/ tuntunan dalam melakukan pengobatan
pada penderita. Pemeriksaan yang dilakukan dalam menegakkan suatu diagnosis meliputi:
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan Neurologist
Pada penderita kelinan ortopedi perlu dilakukan pemeriksaan neurologist lengkap
apabila ditemukan adanya gangguan yang berupa kelemahan otot, gangguan kordinasi
serta perubahan sensitabilitas.
Pemeriksaan neurologist disesuaikan dengan kelainan yang didapatkan atau
dicurigai kelemahan otot anggota gerak atas pada spondilosis servikal atau tetraparesis
setelah suatu trauma pada tulang belakan servikal. Selain itu harus diperiksa adanya
gambaran kelainan pada anggota gerak misalnya claw hand, drop foot, atau adanya
atrofi otot pada daerah tertentu.

Fungsi motoris
Pada pemeriksaan motoris, hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah
pemeriksaan tonus dan kekuatan otot. Pemeriksaan tonus otot secara

62

individual dilakukan dengan menggerakkan sendi-sendi, pada pemeriksaan


ini dapat diketahui adanya spastisitas atau kelemahan otot. Di samping itu
perlu dilakukan dan dicatat pemeriksaan kekuatan otot.

Fungsi sensoris
Pada pemeriksaan sensoris, yang dilakukan adalah pemeriksaan sensibilitas,
yaitu dengan melihat apakan ada kelainan dalam sensibilitas pada daerah
tertentu, misalnya hiperastesia atau anastesia. Salah satu pemeriksaan
sensibilitas misalnya pemeriksaan tanda Tinel untuk mengetahui distribusi
saraf medianus pergelangan tangan. Pada pemeriksaan sensibilitas perlu
dibuat gambar kelainan dan daerah yang mengalami perubahan sensibilitas

Pemeriksaan refleks
Pemeriksaan refleks dilakukan dengan memeriksa refleks fisiologis yaitu
refleks patella, achiles dan lainnya

untuk mengetahui adanya gangguan

refleks fisiologis tersebut, misalnya pada hernia nucleus pulposus. Selain itu
juga perlu juga diperiksa refleks patologis, seperti refleks babinski
4. Pemeriksaan radiologist
5. Pemeriksaan laboratorium
pemeriksaan laboratorium merupakan salah satu data yang diperlukan untuk
melakukan diagnosis yaitu melalui pemeriksaan laboratorium dari bahan cairan
seperti pemeriksaan hematology, biokimia, sel dan imunologi.

Pemeriksaan darah dan serum

Pemeriksaan darah meliputi pemeriksaan hemoglobin, sel darah putih, sel darah
merah, hiutng differential, laju endap darah, pemeriksaan asam urat dan kultur
darah serta pemeriksaan darah lainnya yang dianggap berhubungan dengan
keluhan pasien.

Pemeriksaan urin
Meliputi pemeriksaan makroskopis, albumin, glukosa dan lainnya hingga
pemeriksaan khusus, seperti Bence Jones untuk penyakit mieloma multipel

63

6. pemeriksaan khusus

artroskopi
artroskopi adalah suatu pemeriksaan yang berguna untuk visualisasi adanaya
kelainan pada sendi, misalnya ada trauma, fraktur intraartikuler, atau adanya
robekan meniscus dan ligamen. Artroskopi terutama dipergunakan pada
sendi lutut, panggul, siku, dan persendian lainnya.

Elektrodiagnosis
Kegunaannya adalah untuk mengetahui fungsi saraf dari otot yang dipelajari
dengan menggunakan metode elektrik. Namun informasi aktivitas fisiologis
dari pemeriksaan saraf dan otot tidak penting artinya pada kelainan
musculoskeletal dan hanya merupakan pemeriksaan tambahan dan tidak
dapat menggantikan pemeriksaan fisik secara sistematik.

64

PEMERIKSAAN ORTOPEDI
Pada bidang ilmu bedah ortopedi, pemeriksaan fisik pada dasarnya dibagi menjadi 2yaitu :
1. Pemeriksaan Fisik Umum
Pemeriksaan fisik ini dilakukan sebagaimana pemeriksaan fisik di bidang kedokteran
lainnya dan bertujuan untuk mengevaluasi keadaan fisik penederita secara umum serta
meihat apakah ada indikasi penyakit lainnya selain kelainan muskuluskletal.
2. Pemeriksaan Fisik Ortopedi
A. Pemeriksaan Ortopedi Umum
Status Generalis
Status Lokalis
Inspeksi
Palpasi
Kekuatan Otot
Pergerakan
Auskultasi
B. Pemeriksaan Fisik Ortopedi Regional

PEMERIKSAAN ORTOPEDI UMUM


a. Status Generalis
Pemeriksaan postur dan cara berjalan. Pemeriksaan ortopedi yang dilakukan meliputi :

Pemeriksaan bagian dengan keluhan utama

Pemeriksaan kemungkinan nyeri kiriman dari sumber di tempat lain (referred pain)

Prinsip dasar pemeriksaan ini terdiri atas :


1. Perlu cahaya yang baik atau terang dan bagian tubuh yang diperiksa atau tidak
tertutup atau telanjang. Anggota gerak yang sehat diperiksa dan harus terbuka
2. Jangan memeriksa secara tergesa-gesa dan hadapkan muka pemeriksa ke muka
penderita untuk memberikan kepercayaan
3. Selalu menyiapkan perlengkapan pemeriksaan

65

4. Pemeriksaan bagian badan secara hati-hati, sistematik, dan terarah


5. Periksa tempat lain yang mungkin ada hubungannya
6. Pemeriksaan secara tepat di daerah lain yang ada hubungannya untuk menegakkan
diagnostic.
Untuk pemeriksaan muskuluskletal diperlukan alat-alat :
1. Stetostkop
2. Refleks hammer
3. Pensil untuk kulit (marker)
4. Meteran
5. Kapas
6. Jarum kecil
7. Senter saku
8.

Goniometer

b. Status Lokalis

Inspeksi (look)
Inspeksi sebenarnya telah dimulai ketika penderita memasuki ruangan periksa. Pada
inspeksi secara umum diperhatikan raut muka penderita, apakah terlihat kesakitan.
Cara berjalan sekurang-kurangnya 20 langkah cara duduk dan cara tidur.
Inspeksi dilakukan secara sistematik dan perhatian terutamaditujukan pada:
a. Kulit, meliputi warna kulit dan tekstur kulit
b. Jaringan lunak, yaitu pembuluh darah, saraf, otot, tendo, ligament, jaringan
lemak, fasia, kelenjar limfe
c. Tulang dan sendi
d. Sinus dan jaringan parut
9 Apakan sinus berasal dari permukaan saja, dari dalam tulang atau dalam
sendi
9 Apakah jaringan parut berasal dari luka operasi, trauma atau supurasi

66

Palpasi (feel)
Yang perlu diperhatikan pada palpasi adalah :
a. Suhu kulit, apakah lebih panas atau dingin dari biasanya, apakah denyutan
arteri dapat diraba atau tidak
b. Jaringan lunak dilakukan untuk mengetahui adanya spasme otot, atrofi otot,
keadaan membrane sinovia, penebalan membrane jaringan sinovia, adanya
tumor dan sifat-sifatnya, adanya cairan di dalam/di luar sendi atau adanya
pembengkakan.
c. Nyeri tekan perlu diketahui lokalisasi yang tepat dari nyeri, apakah nyeri
setempat atau nyeri yang bersifat kiriman dari tempat lain (referred pain)
d. Tulang diperhatikan bentuk, permukaan, ketebalan, penonjolan dari tulang
atau adanya gangguan di dalam hubungan yang normal antara tulang yang satu
dengan yang lainnya
e. Pengukuran panjang anggota gerak terutama untuk anggota gerak bawah
dimana adanya perbedaan panjang, juga berguna untuk mengetahui adanya
atrofi/pembengkakan otot dengan membandingkannya dengan anggota gerak
yang sehat.
f. Penilaian deformitas yang menetap dilakukan apabila sendi tidak dapat
diletakkan pada posisi anatomis yang normal

Kekuatan otot (power)


Penilaian dilakukan

menurut Medical Research Council dimana kekuatan otot

dibagi dalam 5 grade yaitu :


Grade 0
Grade 1

: tidak ditemukan adanya kontraksi pada otot


: kontraksi otot yang terjadi hanya berupa perubahan dari tonus otot
yang dapat diketahui dengan palpasi dan tidak dapat menggerakkan
sendi

Grade 2

: otot hanya mampu menggerakkan persendian tetapi kekuatannya


tidak dapat melawan pengaruh gravitasi

Grade 3

: di samping dapat menggerakkan otot, otot juga dapat melawan


pengaruh gravitasi tetap tidak kuat terhadap tahanan yang diberikan
oleh pemeriksa

67

Grade 4

: kekuatan otot seperti pada Grade 3 disertai dengan kemampuan


otot terhadap tahanan yang ringan

Grade 5

: kekuatan otot normal

Pergerakan (move)
Dikenal 2 istilah yaitu :
9 Pergerakan yang aktif :pergerakan sendi yang dilakukan oleh penderita
sendiri
9 Pergerakan yang pasif : pergerakan sendi dengan bantuan pemeriksa.
Pada pergerakan dapat diperoleh informasi mengenai :
a. Evaluasi gerakan sendi secara aktif dan pasif
o Apakah gerakan ini menimbulkan rasa sakit
o Apakah gerakan ini disertai dengan adanya krepitasi
b. Stabilitas sendi
Terutama ditentukan oleh integritas permukaan kedua sendi dan keadaan
ligament yang mempertahankan sendi. Pemeriksaan stabilitas sendi dapat
dilakukan dengan memberikan tekanan pada ligament dan gerakan sendi
diamati.
c. Pemeriksaan ROM (Range of Joint Movement)
Pemeriksaan batas gerakan sendi harus dicatat pada setiap pemeriksaan ortopedi
yang meliputi batas gerakan aktif dan batas gerakan pasif.
Setiap sendi mempunyai nilai batas gerakan normal yang merupakan patokan
untuk gerakan abnormal dari sendi. Dikenal beberapa macam gerakan pada
sendi, yaitu :
Fleksi dan ekstensi
Abduksi dan Adduksi
Dorsofleksi dan plantafleksi/palmar fleksi
Inverse dan eversi
Rotasi interna dan rotasi eksterna
Pronasi dan supinasi
Gerakan sendi sebaiknya dibandingkan dengan mencatat gerakan sendi normal
dan abnormal secara aktif dan pasif.

68

Auskultasi
Pemeriksaan auskultasi pada bidang bedah ortopedi jarangd dilakukan biasanya
dilakukan bila ada krepitasi misalnya pada fraktur atau untuk mendengar bising
fistula arteriovenosa.

PEMERIKSAAN REGIONAL
a. Pemeriksaan

Tulang

BelakangPemeriksaan

Leher

dan

Vertebra

Servikalis, Pemeriksaan Vertebra Torakal dan Lumbal

Pemeriksaan Leher Dan Vertebra Servikalis


Kelainan yang palin serng ditemukan pada leher adalah degenerasi vertebra servikalis dan
osteoarthritis sekunder pada diskus intervertebra servikalis yag dapat mengakibatkan
prolapsus dari diskus dan spondilosis servikal.
Kelainan pada vertebra servikalis sering disertai dengan kelainan pada pangkal pleksus
brakialis yang menyebabkan nyeri, kelemahan otot atau gangguan sensibilitas pada anggota
gerak yag bersangkutan.
Anamnesis

Adakah hubungan antara gejala sekarang dengan keluhan pada leher sebelumnya

Apakah ada trauma leher

Apakah ada gejala kekakuan leher yang merupaka gejala awal prolapsus diskus
intervertebra servikalis

Nyeri pada anggota gerak atas harus diketahui sumbernya. Tekanan saraf pada
daerah servikal memberikan gambaran klinis sesuai dengan distribusi sarafnya.
Nyeri ini menjalar ke lengan atas dan bawah pada satu jari atau lebih. Gejala saraf
bisa berupa parastesia, rasa kram atau rasa seperti tertusuk jarun di tangan.

Pemeriksaan
Pada pemeriksaan leher, baju harus dibuka dan harus terlihat jelas bagian leher secara
keseluruhan.Pemeriksaan ini dilakukan dalam keadaan penderita berdiri ataupun duduk.

69

Deformitas. Kolumna vertebra servikalis biasanya sedikit lordosis ke depan. Perubahan


kurva ini menjadi lurus atau melengkung ke belakang (kifosis) merupakan tanda kelainan
yang mencurigakan. Juga perhatikan deformitas vertebra ke lateral atau rotasi.
Pergerakan. Gerakan pada leher yang diperiksa meliputi rotasi, fleksi lateral kanan/ke kiri,
fleksi-ekstensi. Gerakan fleksi ekstensi minimal terjadi pada sendi oksipito-atlantoid.
Pemeriksaan neurologic. Perlu dilakukan karena lesi pada daerah servikal dapat
menyebabkan gangguan pada pleksus brakialis,meliputi :
a. a.sistem muskuler
b. system sensoris
c. kelenjar keringat
d. reflex
Radiologis. Pemeriksaan radilogis rutin vertebra servikal berupa foto polos AP dan Lateral.

Pemeriksaan Vertebra Torakal dan Lumbal


Anamnesis
Adanya nyeri skiatika ditandai

dengan penjalaran nyeri sepanjang persarafan nervus

skiatika pada tungkai bawah. Nyeri punggung bawah disertai penjalaran nyeri bokong,
tungkai atas, dan tungkai bawah baik unilateral maupun bilateral.
Pemeriksaan klinik rutin gangguan pada punggung
1. Pemeriksaan lokal punggung dan survey neurologis anggota gerak bawah
a. Penderita berdiri
Inspeksi : kontur tulang, kontur jaringan lunak, warna dan tekstur kulit, adanya
jaringan parut atau sinus
Pergerakan: sendi spinal yaitu fleksi 80, ekstensi 30, fleksi lateral 35, rotasi
45 (nyeri pada pergerakan, spasme otot); sendi sakroilika (nyeri pada
pergerakan); sendi kostovertebral (jarak indikasi ekspansi dada)
Palpasi : suhu kulit, kontur tulang, kontur jaringan lunak, nyeri local
b. Penderita berbaring
Palpasi fossa iliaka (pemeriksaan khusus abses atau adanya massa)
c. Status neurologis

70

9 Uji Straight Leg Raising (SLR)


9 Pemeriksaan system muskuler
9 Pemeriksaan system sensoris
9 Pemeriksaan reflek
2. Pemeriksaan ekstrinsik punggung dan skiatika
Bila tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan local, meliputi : pemeriksaan
abdomen, pelvis dan rektal, anggota gerak bawah, system vaskuler perifer
3. Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan umum bagian tubuh yang lain. Gejala local dapat merupakan salah satu
manifestasi klinis dari suatu penyakit sistemik.
Penilaian deformitas
Setiap kelainan bentuk yang ditemukan baik pada inspeksi maupun palpasi harus dicatat
dengan baik. Deformitas tulang belakang dapat berbentuk kifosis,lordosis, atau skoliosis.
Radiologis
9 Foto rontgen : foto polos AP dan lateral
9 Radioistop bone scanning, CT scan, MRI, diskografi

b. Pemeriksaan Sendi Bahu


Sendi bahu secara terdiri atas 3 komponen persendian : sendi glenohumeral, sendi
akromiklavikular, sendi sternoklavikular.
Anamnesis
Pada sendi bahu harus ditentukan dengan jelas lokasi dan distribusi nyeri. Nyeri biasanya
berasal dari ujung akromion menjalar ke bawah pada lengan atas sampai pada insersi otot
deltoid.Jarang sekali nyeri pada bahu yang menjalar melewati sendi siku.
Pemeriksaan klinik rutin gangguan pada sendi bahu
1. Pemeriksaan local sendi bahu
Inspeksi
Kontur tulang,kontur jaringan lunak, warna dan tekstur kulit, adanya jaringan parut atau
sinus.

71

Pergerakan

Membedakan pergerakan antara sendi glenohumeral dan sendi scapula pada


gerakan abduksi, fleksi, ekstensi,rotasi lateral dan rotasi medial

Nyeri pada saat pergerakan

Spasme otot

Krepitasi pada saat pergeraka

Sendi akromioklavikular
Pemeriksaan pembengkakan, rasa panas, nyeri,nyeri bila digerakkan dan stabilitas
Palpasi
Suhu kulit, kontur tulang, kontur jaringan lunak, nyeri local
Kekuatan

Kekuatan otot servikoskapula dan otot torakoskapula

Uji elevasi scapula, retraksi scapula, abduksi-rotasi scapula

Otot skapulo-humeral (mengontrol pergerakan sendi glenohumera) yaitu


pergerakan abduksi 180, adduksi 75, fleksi 180, ekstensi 60, rotasi lateral 80,
rotasi medial 80.

2. Pemeriksaan gejala yang kemungkinan merupakan factor ekstrinsik pada sendi bahu
Pemeriksaan ini meliputi : pemeriksaan leher dan pleksus, toraks, jantung dan
pleura,abdomen dan lesi subdiafragma
3. Pemeriksaan umum bagian tubuh lainnya

Kelainan gerakan sendi bahu


Pada pemeriksaan sendi bahu sangat penting diketahui berapa besar gerakan yang terjadi
pada sendi glenohumeral dan berapa besar gerakan rotasi sakpula. Untuk membedakannya
maka pemeriksa perlu memegang atau memfiksasi bagian bawah scapula. Dalam keadaan
normal gerakan sendi bahu berupa abduksi yang terjadi dari sebagian sendi glenohumeral
dan sebagian dari rotasi sendi scapula sendiri. Kelainan pada sendi bahu akan memberikan
hambatan pada gerakan sendi glenohumeral tetapi tidak pada gerakan scapula.

72

Radiologis
9 Pemeriksaan foto polos sendi glenohumeral : proyeksi AP dalam posisi anatomis
anggota gerak atas
9 Radiologis dengan kontras berupa penyuntikan kontras
9 Radioisotope scanning, CT scan, MRI

c. Pemeriksaan Lengan Atas dan Sendi Siku


Kelainan yang biasa ditemukan pada humerus adalah trauma, infeksi pada tulang, tumor
tulang terutama oleh karena metastasis. Sedangkan sendi siku berupa arthritis.
Anamnesis
Nyeri pada lengan atas mungkin merupakan nyeri yang berasal dari bahu. Pada sendi siku
sebaiknya ditanyakan adanya riwayat trauma sebelumnya misalnya trauma ketika masih
kanak-kanak.

Tahap-tahap pemeriksaan rutin kelainan lengan atas dan sendi siku


1. Pemeriksaan local lengan dan sendi siku
Inspeksi kontur tulang, kontur jaringan lunak,warna dan tekstur kulit, adanya
jaringan atau sinus
Palpasi suhu kulit, kontur tulang, kontur jaringan lunak, nyeri lokal
Pergerakan (aktifdan pasif)

Sendi humero-ulnar
9 Fleksi 150
9 Ekstensi 0

Sendi radio-ulnar
9 Supinasi 80
9 Pronasi 90

Nyeri pada pergerakan

Krepitasi pada pergerakan

Kekuatan
1. Fleksi 150
2. Ekstensi 0

73

3. Supinasi 80
4. Pronasi 90
Stabilitas

Ligamentum lateral

Ligamentum medial

Nervus medianus
9 Fungsi sensoris
9 Fungsi motoris (gerakan oponen)
9 Kelenjar keringat
Nervus radialis
9 Fungsi sensoris
9 Fungsi motoris ( ekstensi pergelangan tanga, ibu jari, dan jari-jari)
Nervus ulnaris
9 Fungsi sensoris
9 Fungsi motoris
9 Kelenjar keringat

2. Pemeriksaan nyeri lengan yang disebabkan oleh factor ekstrinsik


Penting untuk menerangkan gejala yang tidak ditemukan pada pemeriksaan local,
meilputi : leher dan pleksus brakialis, pemeriksaan bahu
3. Pemeriksaan umum

Gerakan sendi siku


pada sendi siku terdapat 2 komponen persendian yaitu : antara humerus dengan ulna, dan
antara ulna dengan radius yang memberikan kemungkinan gerakan fleksi dan ekstensi serta
rotasi pada lengan bawah.
Radiologis
9 Foto polos humerus : AP dan proyeksi lateral
9 Radioisotope scanning, CT scan, MRI

74

d. Pemeriksaan Lengan Bawah, Pergelangan Tangan dan Jari-Jari


Tangan
Gerakan pada pergelangan tangan
1. Sendi radiokarpal : termasuk sendi interkarpal yang memungkinkan fleksi 80,
ekstensi 90, abduksi/deviasi radial 25, adduksi/deviasi ulnar 30
2. Sendi radioulnar : gerakan supinasi 90, pronasi 90

Gerakan pada jari-jari


1. Sendi karpometakarpal ibu jari : fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, dan oposisi
2. Sendi metakarpofalangeal ibu jari dan jari-jari : gerakan feksi dan ekstensi sebesar
90
3. Sendi interfalangeal ibu jari dan jari-jari :fleksi dan ekstensi

Pemeriksaan Klinik Rutin Gangguan Lengan Bawah, Pergelangan Tangan dan JariJari
1. Pemeriksaan local lengan bawah, pergelangan tangan, dan jari-jari
Inspeksi kontur tulang, kontur jaringan lunak,warna dan tekstur kulit, adanya
jaringan atau sinus
Pergerakan (aktif dan pasif) :

Pergelangan tangan
9 Sendi radiokalpar : fleksi-ekstensi, adduksi-abduksi
9 Sendi radioulnar inferior : supinasi dan pronasi

Tangan
9 Sendi karpometakarpal : fleksi-ekstensi, abduksi-adduksi, oposisi
9 Sendi metakarpofalangeal: fleksi-ekstensi, adduksi-abduksi
9 Sendi interfalangeal : fleksi-ekstensi

Palpasi suhu kulit, kontur tulang, kontur jaringan lunak, nyeri lokal
Kekuatan

Kekuatan tiap kelompok otot dikontrol oleh : pergerakan pergelangan tangan,


pergerakan ibu jari dan jari-jari

Stabilitas : uji untuk pergerakan abnormal

75

Fungsi saraf uji fungsi sensoris, fungsi motoris, dan kelenjar keringat pada
bagian medial saraf ulna dan radius
Sirkulasi denyut arteri, warna dan rasa hangat, pengisian kembali kapiler,
sensibilitas kulit
2. Pemeriksaan bagian yang kemungkinan dapat merupakan factor ekstrinsik gangguan
pada lengan bawah, pergelangan tangan, dan jari-jari, meliputi : pemeriksaan leherthoraks, lengan atas secara tersendiri, siku secara tersendiri.
3. Pemeriksaan umum

Radiologis
Foto polos AP dan lateral lengan bawah, pergelangan tangan serta jari-jari.

e. Pemeriksaan Sendi Panggul


Anamnesis
Nyeri pada sendi panggul biasanya dikeluhkan pada daerah lipat paha bagian dalam dan
depan. Sering dirasakan pada daerah lutut dan kadangkala merupakan nyeri yang dominan
pada kelainan sendi panggul. Biasanya nyeri akan bertambah berat apabila penderita
berjalan atau menggerakkan sendi panggul.

Pemeriksaan klinik rutin gangguan pada panggul


1. Pemeriksaan local sendi panggul
a. Penderita berbaring
Inspeksi kontur tulang, kontur jaringan lunak,warna dan tekstur kulit, adanya
jaringan atau sinus
Palpasi suhu kulit, kontur tulang, kontur jaringan lunak, nyeri local
Pergerakan (aktif dan pasif) fleksi, abduksi saat fleksi, rotasi medial (interna),
rotasi lateral (eksterna)
Pemeriksaan adanya deformitas
Dilakukan uji Thomas untuk mendeteksi dan mengukur deformitas pada posisi fleksi.

76

Kekuatan (Dilakukan uji yang berlawanan dengan tahanan pemeriksa) : estimasi


kekuatan pada kelompok otot fleksor, ekstensor, abductor, adductor dan rotator
Pengukuran panjang tungkai
9 Panjang klinik (true/real length)
9 Penjang yang tampak (apparent length)
Pemeriksaan pergerakan abnormal

Uji pergerakan longitudinal (teleskopik)

Uji klik (pada bayi baru lahir)

2. Pemeriksaan factor ekstrinsik yang mungkin memberika gejala pada panggul, meliputi :
9 Pemeriksaan sendi sakroiliaka
9 Pemeriksaan abdomen-pelvis
9 Pemeriksaan pembuluh darah besar
3. Pemeriksaan umum
b. Penderita berdiri
Pemeriksaan stabilitas postural cara berjalan (Gait) : Uji Trendelenburg
Radiologis
Foto polos AP dan Lateral meliputi seluruh daerah panggul. Bisa juga tomografi, artrografi,
radioisotope scanning tulang, CT scan dan MRI apabila ada indikasi.

f. Pemeriksaan Sendi Lutut


Anamnesis
Keadaan yang perlu ditanyakan yaitu : apakah dapat berjalan, dapat meluruskan atau
membengkokkan lutut. Beberapa penderita dengan jelas menguatarakan lututnya menjadi
terkunci (locking)
Menentukan kausa pembengkakan pada sendi
Pembengkakan yang difus pada lutu dapat diketahui dengan mudah dengan jalan
membendingkan kedua lutut. Pembengkakan pada lutut terutama disebabkan oleh 3 hal,
yaitu :

77

1. Penebalan tulang
Dapat diketahui dengan palpasi pada daerah yang sakit lalu dibandingkan dengan
yang normal. Penebalan dapat disebabkan oleh infeksi, tumor, atau kista tulang.
2. Efusi sendi
Bisa merupakan penimbunan cairan serosa, pus, atau oleh darah. Cairan dalam tendo
diketahui dengan melakukan pemeriksaan uji fluktuasi.
3. Penebalan mebran sinovia
Merupakan gambaran atritis inflamasi kronik. Penebalan membrane umumnya
terjadi diatas patella, dan dapat diraba pada palpasi dan biasanya lutut terasa hangat.

Pemeriksaan rutin kelainan pada lutut


1. Pemeriksaan local pada lutut
Inspeksi kontur tulang, kontur jaringan lunak,warna dan tekstur kulit, adanya
jaringan atau sinus
Palpasi suhu kulit, kontur tulang, kontur jaringan lunak, nyeri local
Pergerakan (aktif dan pasif dibandingkan dengan lutut yang normal) : fleksi, ekstensi,
nyeri bila digerakkan, krepitasi bila digerakkan
Stabilitas
9 Ligamentum medial
9 Ligamentum lateral
9 Ligamentum krusiatum anterior
9 Uji drawer, uji Lachman, Uji pivot shift lateral
9 Ligamentum krusiatum posterior
Kekuatan : fleksi, ekstensi
Uji rotasi Mc Murray
Cara berjalan (gait)
2. Pemeriksaan gejala yang mungkin merupakan factor ektrinsik meliputi :tulang belakang
dan panggul
3. Pemeriksaan umum

78

Radiologis. Foto polos AP dan lateral dimana bagian dari femur dan tibia harus terlihat.

g. Pemeriksaan Tungkai Bawah, Pergelangan Kaki, dan Jari-jari Kaki


Anamnesis
Pada anamnesis ditanyakan secara jelas distribusi nyeri yang terjadi, disamping riwayat
pekerjaan, kebiasaan penderita, dan riwayat trauma sebelumnya serta gangguan yang terjadi
pada saat berdiri dan berjalan.
Pemeriksaan klinik pada tungkai bawah, pergelangan kaki, dan kaki
1.

Pemeriksaan local tungkai bawah, pergelangan kaki, dan kaki


Inspeksi kontur tulang, kontur jaringan lunak,warna dan tekstur kulit, adanya
jaringan atau sinus
Palpasi suhu kulit, kontur tulang, kontur jaringan lunak, nyeri local
Sirkulasi perifer denyut a. dorsalis pedis, a. tibialis posterior, a. poplitea, a. femoral,
dan adanya sianosis pada kaki.
Kekuatan setiap otot harus diuji dan dibandingkan dengan sisi yag sebelah
Penapakan kaki saat berdiri bentuk arcus longitudinal, bentuk jari, efisiensi jari,
efisiensi otot betis
Pergerakan

Pergerakan kakiplantar fleksi, ekstensi (dorsofleksi)

Sendi subtalar inversi-adduksi,eversi-abduksi

Sendi midtarsalinversi-adduksi,eversi-abduksi

Jari kaki fleksi, ekstensi

Stabilitas integritas ligament khususnya ligementum lateral dari pergelangan kaki


Cara berjalan (gait)
Keadaan alas kaki (sepatu) bandingkan dengan sisi yang sebelahnya
2.

Pemeriksaan umum anggota tubuh yang lainnya untuk menentukan apakah gejala yang
terjadi merupakan manifestasi dari suatu penyakit sistemik tubuh.

Radiologis. Foto polos AP dan Lateral

79

GAMBARAN RADIOLOGI FRAKTUR


DAN DISLOKASI
1) Fraktur dan dislokasi pada sendi panggul dan femur
Dislokasi sendi panggul:

Dislokasi posterior : paling sering

Dislokasi anterior : jarang, akibat abduksi berlebihan

Dislokasi sentral : dengan fraktur asetabulum.

Fraktur sendi panggul:


Fraktur asetabulum dibagi dalam 4 tipe, yaitu:
1. Fraktur rima posterior
2. Fraktur pars ilio-iskial
3. Fraktur transversal
4. Fraktur pars ilio-pubik
Kaput femoris cenderung mengalami subluksasi atau dislokasi pada masing-masing tipe ini.

80

*fraktur asetabulum kiri tanpa dislokasi kaput femur.

*fraktur asetabulum kiri dengan dislokasi kaput femur ke posterior

81

Fraktur kollum femoris:


Terutama pada orang-orang tua dan yang tulangnya porotik. Bila fraktur intrakapsuler, hal
ini sering mengakibatkan nekrosis avaskular kaput femur karena terputusnya aliran darah ke
kaput femur. Pembentukan kallus pada fraktur kollum femur biasanya sedikit. Penentuan
konsolidasi terutama didasarkan adanya kontinuitas trabekula melalui garis fraktur.

*fraktur kolum femoris kanan. Setelah reposisi terbuka kedudukan baik.

Fraktur intertrokanterika

82

2) Fraktur dan dislokasi pada lutut dan tungkai bawah


Fraktur patella:

Fraktur kominutiva: disebabkan trauma langsung

Fraktur transversal: biasanya disebabkan kontraksi otot quadrisep femoris

Fraktur vertical: kadang-kadang hanya dapat dilihat pada foto aksial

*a: fraktur kominutif, b: fraktur transversal, c: fraktur vertikal

Fraktur suprakondiler femur:


Bila fraktur kominutiva, garis fraktur dapat menuju sendi di daerah interkondiler.

*fraktur suprakondiler femur

83

Fraktur tibia proksimal:

Fraktur kondilus medial atau lateral tibia (tibial plateau fracture)

Fraktur avulsi dari eminensia interkondiloidea, biasanya dengan rupture ligamen


krusiatum anterior

*fraktur kondilus medial tibia

3) Fraktur dan dislokasi pada pergelangan kaki


Banyak fraktur pada sendi pergelangan kaki disertai subluksasi atau dislokasi dan dikenal
sebagai fraktur Pott (Potts fracture).
Klasifikasi menurut Lauge-Hansen:

Tipe adduksi

Tipe adduksi dan rotasi eksternal

Tipe abduksi

Tipe abduksi dan rotasi eksternal

Tipe kompresi vertical

Paling sering tipe abduksi dengan rotasi eksternal. Biasanya beratnya kelainan pada sendi
dinyatakan dalam derajat I, II, dan III, sesuai fraktur pada maleolus, termasuk bagian
posterior tibia yang dianggap sebagai maleolus posterior. Jadi pada derajat I hanya terdapat
fraktur pada satu maleolus; derajat II, fraktur pada kedua maleolus, dan seterusnya.

84

RUJUKAN
Dalam melakukan rujukan yang mutlak harus diketahui adalah kemampuan dokter
yang bertugas serta kemampuan rumah sakit tersebut. Dengan pengetahuan ini dapat
dikenal secara dini penderita mana yang perlu dilakukan rujukan. Bila sudah diambil
kekutusan untuk merujuk, jangan menunda rujukan dengan melakukan tindakan diagnostic
yang tidak perlu (musl, DPL, Ct-scan dsb).
Kesudahan penderita berhubungan langsung dengan waktu yang dibutuhkan dari
saat kejadian sampai diberikannya terapi definitive. Factor-faktor yang dapat dijadikan
pegangan untuk merujuk penderita antara lain adalah criteria fisiologis, pola perlukaan,
biomekanika trauma dan beberapa masalah khusus.
Penderita dengan pola cedera yang khas, kombinasi beberapa cedera (terutama bila
mengenai kepala) atau dalam anamnesis mengalami cedera karena kecepatan tinggi,
memerlukan rujukan.
Criteria rujukan antar rumah sakit, bila keadaan rumah sakit tidak mencukupi
kebutuhan penderita dengan trauma ekstremitas yaitu:
1. Fraktur terbuka yang berat
2. Traumatic amputasi yang mungkin masih dapat dilakukan re-implantasi
3. Fraktur intra-artikular yang rumit
4. Crush injury yang berat
5. Iskemia

Protocol Rujukan
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merujuk yaitu:
A. Dokter yang merujuk
Dokter yang akan merujuk harus berbicara dengan dokter yang akan dirujuk, dan
memberikan informasi di bawah ini:
1. Identitas penderita
2. Anamnesis singkat penderita, termasuk data pra-rumah sakit yang penting

85

3. Penemuan awal pada pemeriksaan penderita, atau respons terhadap terapi

B. Informasi untuk petugas yang akan mendampingi


Petugas pendamping harus paling sedikit diberitahukan:
1. Pengelolaan jalan nafas penderita
2. Cairan yang telah atau akan diberikan
3. Prosedur khusus yang mungkin akan diperlukan
4. Revised Trauma Score, prosedur resusitasi dan perubahan-perubahan yang
mungkin akan terjadi selama perjalanan.

C. Dokumentasi
Yang disertakan dengan penderita adalah dokumentasi mengenai permasalahan
penderita, terapi yang telah diberikan, keadaan penderita saat akan dirujuk.

D. Sebelum merujuk
Penderita harus dilakukan resusitasi dalam usaha membuat penderita dalam keadaan
penderita se-stabil mungkin, seperti berikut:
1. Airway

Pasang airway atau intubasi bila perlu

Suction dimana perlu

Pasang NGT untuk mencegah aspirasi

2. Breathing
Tentukan laju pernafasan, berikan oksigen
Ventilasi mekanik bila diperlukan
Pasang pipa torak jika perlu
3. Circulation
Control perdarahan
Pasang 2 jalur infuse, mulai pemberiak kristaloid
Perbaiki kehilangan darah dengan kristaloid atau darah, dan teruskan
pemberian selama transportasi
Pasang kateter uretra untuk monitor keluaran urine
Monitor kecepatan dan irama jantung

86

4. Susunan saraf pusat


o Bila penderita tidak sadar, bantuan pernafasan
o Berikan manitol atau diuretic bila diperlukan
o Imobilisasi kepala, leher, torak dan/atau vertebra lumbal
o Pemeriksaan Hb, Ht, golongan darah dan cross match, analisis gas darah
tes kehamilan semua wanita usia subur.
o Penentuan denyut jantung dan sturasi hemoglobin (EKG dan oximetry)
5. Luka
Tindakan dibawah ini tidak boleh memperlambat rujukan

Setelah control perdarahan, bersihkan dan perban luka

Berikan profilaksis tetanus

Antibiotic jika diperlukan

6. Fraktur
Bidai dan traksi

E. Pengelolaan selama transport


Penderita pendamping harus yang terlatih, tergantung keadaan penderita, dan
masalah yang mungkin akan timbul
1. Monitoring tanda vital dan pulse oximetry
2. Bantuan kardio-respirasi dimana diperlukan
3. Pemberian darah bila diperlukan
4. Pemberian obat sesuai intruksi dokter, atau sesuai prosedur tetap
5. Menjaga komunikasi dengan dokter selam transportasi
6. Melakukan dokumentasi selama transportasi.

87

KEGAWATDARURATAN ORTOPEDI
Kegawatdaruratan ortopedi merupakan keluhan yang sering disampaikan sekitar
30% dari jumlah kunjungan pasien. Pengetahuan dasar mengenai cedera ortopedi, pola
fraktur, dislokasi, teknik reduksi, dan teknik bidai, dibutuhkan untuk mengelola cedera.
Pemahaman radiologi, membuat dan menginterpretasi sebuah film radiologi, juga
dibutuhkan.
Memperoleh riwayat yang seksama tentang mekanisme cedera bisa membantu
mengidentifikasi cedera ortopedi. Misalnya, riwayat medis yang telah lalu, medikasi, dan
cedera sebelumnya.
Dokter darurat harus tetap objektif dan melanjutkan dengan survei primer, yang
terdiri dari evaluasi jalan napas, pernapasan, sirkulasi, disability , dan eksposur (ABCDE)
Pemeriksaan fisik cedera ortopedi pada departemen kegawatdaruratan berdasarkan
pada proses 4 langkah sederhana, yaitu:
1. Palpasi cedera untuk deformitas dan kerapuhan
2. Menilai ROM/range of motion (aktif dan pasif) tulang yang terkena, juga
mempertimbangkan sendi diatas dan dibawah tulang yang cedera
3. Inspeksi (deformitas, pembengkakan, diskolorasi)
4. Pemeriksaan neurovaskular

FRAKTUR PELVIS
Fraktur pervis merupakan cedera parah terkait dengan kematian yang signifikan.
Mekanisme cedera pada kebanyakan fraktur adalah trauma kecepatan tinggi seperti yang
terlihat dalam kecelakaan kendaraan bermotor atau ketika pejalan kaki tertabrak oleh mobil.
Fraktur juga dapat terjadi dengan kecepatan rendah, trauma seperti cedera keras dan jatuh,
sering terlihat pada orang tua dengan osteoporosis. Tinggi energi cedera yang secara
signifikan mengganggu cincin panggul umumnya terdapat patahnya pelvis dan robeknya
pembuluh darah arteri panggul. Pendarahan yang terkait dengan luka sering besar dengan
potensi untuk exsanguination (lihat Tabel). Tingkat kematian untuk pasien penyajian

88

dengan hipotensi yang berkaitan dengan patah tulang panggul adalah sekitar 50%.
Mekanisme dan terkait cedera menentukan presentasi pasien
Site

Amount (L)

Pelvis

1-5+

Femur

1-4

Spine

1-2

Leg

0.5-1

Arm

0.5-0.75

Temuan Klinis
a. Gejala dan tanda
Semua pasien harus dilakukan pemeriksaan colok dubur untuk mencari
perderahan prostat, untuk menentukan posisi prostat, dan untuk palpasi dari retakan
pelvis. Pemeriksaan testis, penis dan atau vagina diperlukan untuk mengevaluasi
terkait urologic dan cedera ginekologis. Jika cedera uretra diduga, tidak dilakukan
pemasangan kateter kemih; periksa cystogram retrograde. Jika cedera uretra hadir,
berkonsultasi dengan urolog untuk tempat (suprapubik atau kateter Foley lihat Bab
24). Kompresi untuk menentukan stabilitas pelvis harus dicapai dengan
anteroposterior lembut dan tekanan lateral.
b. X-ray
X-ray awalnya harus mencakup pandangan anteroposterior. Inlet dan outlet
dilihat

mungkin

bermanfaat,

namun,

CT

scan

harus

diperoleh

untuk

mengklasifikasikan tingkat cedera dan merencanakan untuk perlakuan.

Pengobatan
Fraktur yang berhubungan dengan gangguan simfisis pubis (fraktur terbuka) yang
sering dikaitkan dengan perdarahan masif ke panggul. Pasien harus dipantau terus menerus
dengan memperhatikan status volume sirkulasi dan penggantian yang memadai. Aplikasi

89

celana antishock militer dapat dimulai dalam pengaturan prehospital dan perlu dilanjutkan
di departemen darurat. Sehelai kain dapat dililitkan di panggul sebagai upaya untuk
menstabilkan patah tulang, penurunan volume panggul, dan membantumenampung
perdarahan. Dalam beberapa kasus, ahli ortopedi dapat memilih untuk menempatkan
perangkat fixator eksternal di departemen darurat. Beberapa pasien mungkin perlu ORIF
darurat atau perlu dipindahkan ke radiologi untuk arteriography dan embolisasi

Disposisi
Konsultasi ke spesialis Ortopedi untuk semua kasus. Kebanyakan pasien
memerlukan perawatan di rumah sakit. Simple nondisplaced fractures of the pubic rami
mungkin dikelola konservatif secara rawat jalan. Konsultasi dengan bedah trauma, urologi,
dan ginekologi juga diperlukan

HIP INJURY
Pertimbangan Umum
Hip injury termasuk patah tulang dan dislokasi. Patah tulang panggul, pinggul
cedera pada orang muda berkaitan dengan trauma energi

tinggi (misalnya, kendaraan

bermotor tabrakan, jatuh dari ketinggian) dan dapat dilihat dengan langsung (jatuh) atau
kekuatan tidak langsung (lutut-ke-dashboard). Pasien lanjut usia sering terkena cedera
pinggul

dengan

kekuatan

lebih

rendah

seperti

jatuh

dari

berdiri.

Hip Fraktur
Diagnosis
sering pada pasien usia lanjut
Hip nyeri dan perih
Sering ekstremitas adalah singkat dan eksternal diputar
anteroposterior dan film lateral untuk konfirmasi
Pertimbangkan CT scan atau MRI jika X-sinar yang negatif dan diagnosis masih
diduga

90

Pertimbangan Umum
Patah tulang panggul dijelaskan anatomi karena dapat terjadi melalui leher
femoralis, intertrochanteric, atau subtrochanteric.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Pasien biasanya mengeluh sakit selangkangan. Ada pemendekan kaki,
dengan abduksi dan rotasi eksternal, sering terjadi tetapi mungkin tidak jelas
dalam kasus patah tulang nondisplaced.
B. X-ray Temuan
Radiografi harus mencakup anteroposterior (dengan kaki di rotasi internal)
dan pandangan lateral. CT scan mungkin diperlukan, terutama jika
keterlibatan acetabular dicurigai.

Pengobatan
perlu dilkukan immobilisasi. Jika fraktur tertutup dan tidak ada defisit neurologis
yang ditemukan, in-line traksi dapat diterapkan. imobilisasi ini sering dimulai pada
sebelum ke rumah sakit.

Disposisi
Monitor pasien potensi untuk kehilangan darah yang sedang berlangsung. Karena
risiko nekrosis avascular kepala femoral, yang terjadi di 20% dari cedera, konsultasi
ortopedi awal diperlukan. konsultasi ortopedi dan masuk untuk ORIF dibenarkan
dalam evaluasi semua patah tulang pinggul.

91

Hip Dislokasi
Diagnosis
Nyeri dan deformitas pada hip
dislokasi posterior adalah yang paling umum
Hip atau panggul X-sinar konfirmasi
ditemukan pemendekan extremitas dan mengalami rotesi internal dan memendek

Pertimbangan Umum
Dislokasi Hip dideskiripsikan oleh hubungan kepala femoralis terhadap acetabulum.
Dislokasi dapat disertai dengan fraktur femur acetabulum atau kepala femur.
Sebagian besar (80-90%) dari dislokasi posterior dan biasanya ditemukan sebagai
akibat tidak langsung oleh pasukan tidak langsung seperti cedera lutut-ke-dashboard
pada tabrakan mobil. Dislokasi anterior jarang terjadi (10-15%) dan dapat dilihat
sedikit lebih sering pada pasien dengan prostesis hip. Dislokasi sentral mengacu
pada kepala femoralis yang tertekan menybabkan comminuted fracture cetabulum
tersebut. Dislokasi inferior jarang dan terjadi hampir secara eksklusif pada anakanak. Dislokasi pinggul umumnya hasil dari kekuatan yang signifikan, dan cedera
terkait potensi harus dicari.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Pemeriksaan klinis pada dislokasi posterior umumnya mengungkapkan
ekstremitas memendek, adduksi, dan rotasi internal, dengan pinggul dan lutut
fleksi. Dengan dislokasi anterior, temuan termasuk abduksi, rotasi eksternal,
dan fleksi panggul.
B. X-ray Temuan
Foto polos anteroposterior dan lateral untuk mengkonfirmasikan diagnosis dan
menyingkirkan yang terkait patah tulang.

92

Pengobatan
Dislokasi Hip memerlukan pengurangan mendesak untuk mengurangi risiko
nekrosis avascular dan gejala sisa neurologis. Dislokasi posterior hip biasanya
dikurangi dengan teknik Allis (Gambar).

Setelah sedasi yang memadai, pasien ditempatkan telentang dan asisten


menstabilkan pelvis. Panggul dan lutut yang tertekuk sampai 90 derajat, sementara
traksi ke atas dan sedikit rotasi diterapkan. Setelah dislokasi berkurang, kaki
diperpanjang.
Sebuah metode alternatif adalah teknik Stimson. Pasien ditempatkan rawan dengan
kaki diperpanjang di tepi tempat tidur. Dengan asisten menstabilkan panggul, traksi
ke bawah diaplikasikan dengan rotasi lembut. asisten kemudian menerapkan tekanan
atas trokanter lebih besar terhadap acetabulum itu.
Gambar. The Allis teknik untuk pengurangan dislokasi posterior hip. Kedua panggul
dan lutut yang tertekuk 90 derajat. Seorang asisten menstabilkan panggul sementara
operator menarik anterior femur, memutar sedikit internal dan eksternal untuk
membantu pengurangan, yang dicapai terutama oleh disengaja, traksi mantap

Sifat
Setelah dislokasi berkurang, kaki harus diperpanjang dan ditempatkan di traksi
sampai postreduction sinar-X dapat diperoleh. Mendapatkan ortopedi konsultasi
untuk semua dislokasi hip.

93

CEDERA EKSTREMITAS BAWAH


Shaft Fraktur Femoralis
Diagnosis
Nyeri dan deformitas femur
Mei kehilangan sejumlah besar darah di paha
anteroposterior dan lateral sinar X-femur adalah konfirmasi

Temuan Klinis
Patah batang femoralis terjadi paling sering dengan trauma energi tinggi. Terjadi
fraktur dengan trauma minimal harus waspada dokter darurat untuk kemungkinan
fraktur patologis.
A. Gejala dan Tanda
Seperti disebutkan sebelumnya, pendarahan yang signifikan dapat terjadi setelah
fraktur femur. (lihat Tabel 26-1). Pasien biasanya datang dengan kelemahan dan
kelainan paha. Evaluasi dan dokumentasi status neurovaskular. Meski tidak
umum seperti patah tulang tungkai bawah, jaringan lunak signifikan dapat terjadi
pembengkakan, karena itu, reexaminations sering harus dilakukan untuk menilai
perkembangan sindroma kompartemen.
B. X-ray Temuan
Foto polos Anteroposterior dan lateral harus

dilakukan untuk konfirmasi

diagnosis. Visualisasi yang memadai dari lutut dan pinggul pada film ini adalah
penting karena patah tulang asosiasi adalah umum.

Pengobatan
Kontrol nyeri yang memadai dan resusitasi cairan diindikasikan. In-line traksi, baik
traksi tulang atau perangkat traksi eksternal, harus diterapkan pada kaki.

94

Sifat
konsultasi spesialis ortopedi untuk masuk dan ORIF (biasanya dengan tongkat
intramedulla).

Injury Sendi Lutut


Pengenalan
Lutut adalah sendi sinovial engsel besar dan merupakan yang paling sering terlibat
bersama dalam cedera ortopedi di bagian darurat. Lutut ini memiliki arsitektur
kompleks tulang, otot, ligamen, dan tulang rawan. Tulang-tulang sendi lutut meliputi
femur distal, tibia proksimal, dan patella. fibula bukanlah bagian dari sendi lutut,
tetapi berfungsi sebagai titik attachment untuk jaminan ligamen lateral. Tulangtulang menjaga sedikit stabilitas sendi, dan lutut bersandar pada komponen jaringan
lunak untuk fungsi yang tepat.
Jaminan medial ligamentum berasal dari epikondilus femoralis medialis dan
menyisipkan pada aspek medial tibia hanya distal ke sambungan tibiofemoral.
Ligamen medial memberikan jaminan stabilitas valgus tegangan (Gambar) dan
membantu menstabilkan meniskus medial. Ligamentum jaminan lateral berasal dari
epikondilus femoralis lateral dan memasukkan ke proksimal fibula, memberikan
perlawanan terhadap tekanan varus (Gambar). Ligamen cruciatum terletak dalam
takik interkondilaris dan bernama anterior dan posterior oleh keterikatan mereka
terhadap tibia di spina tibialis. Ligamen cruciatum melindungi terhadap perpindahan
anterior dan posterior lutut.
Para menisci adalah kartilago diposisikan pada tibia. Bantuan menisci menahan
kekuatan di dalam sendi lutut dan membantu mencegah gerakan abnormal dari
tulang

kering

dan

tulang

paha.

Otot-otot

hamstring

(semitendinous,

semimembranous, dan dua kepala bisep femoris) adalah utama fleksor lutut. Otototot quadriceps (medialis vastus, vastus lateralis, intermedius vastus, rektus femoris)
bergabung untuk membentuk tendon quadriceps, yang memasukkan ke patella
superior dan retinakulum dari kapsul sendi dan fungsi dalam perpanjangan sendi
lutut.

95

Vaskular di sekitar sendi lutut memiliki manfaat khusus. Sirkulasi colaterla adalah
lemah, dan a. poplitea bertanggung jawab untuk pasokan darah ke tungkai bawah. A.
poplitea adalah diikat di atas pada hiatus dari magnus adduktor dan bawah pada otot
soleus. Penarikan ini membuat arteri poplitea rentan terhadap cedera dari kekuatan
traksi seperti yang terlihat dengan dislokasi serta gangguan dari patah tulang atau
luka penetrasi.

Gambar. Varus (A) dan valgus (B stress test) untuk


pecahnya jaminan ligamen medial dan lateral lutut. kelalaian Lebih dari pada lutut
terluka atau kurangnya titik akhir perusahaan merupakan tes positif. Nyeri dan
menjaga otot dapat membuat interpretasi sulit

Fraktur patella
Diagnosis
Mungkin sekunder untuk pukulan langsung atau cedera traksi
Nyeri dan kelembutan sering terlihat
Mei mengganggu mekanisme ekstensor
polos sinar-X biasanya cukup
Bipartit patella dapat disalahartikan sebagai fraktur

Pertimbangan Umum
Patella adalah os sesamoid terbesar dalam tubuh dan mungkin patah oleh pasukan
langsung seperti jatuh dan oleh kekuatan-kekuatan tidak langsung. Kuat kontraksi
dari otot-otot quadriceps dapat menyebabkan patah melintang dari lutut. Fraktur
patella signifikan dapat mengganggu mekanisme ekstensor lutut.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Pemeriksaan pasien mengungkapkan rasa sakit dan nyeri di lutut. Sebuah efusi
sendi mungkin hadir. Jika patella tersebut dipindahkan secara signifikan, cacat
patella dapat teraba.
B. X-ray
Plain radiografi termasuk anteroposterior, lateral, dan pemandangan matahari
terbit biasanya cukup untuk mengidentifikasi fraktur, namun, CT scan atau MRI
mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi cedera gaib. Bipartit atau patelae
multipartite adalah temuan bawaan yang mungkin bingung dengan fraktur akut.
Pengobatan
konsultasi spesialis ortopedi. fraktur Wikipedia dapat diobati dengan immobilisasi
dari lutut di ekstensi

Disposisi
Pasien dengan fraktur sederhana mungkin habis dengan rawat jalan tindak lanjut.
Buka dan fraktur pengungsi membutuhkan perbaikan bedah.

Dislokasi patella
Diagnosis
umum pada remaja
Hampir selalu memindahkan lateral
cacat, pembatasan gerak
sinar-X biasanya cukup untuk diagnosis

Pertimbangan Umum
Patella mungkin dislokasi atau subluxed oleh tekanan langsung atau cedera
hyperflexion. Patella ini hampir selalu menggantikan lateral. cedera ini paling sering

97

terjadi pada remaja. Sering kali pasien memberikan sejarah Subluksasi-subluksasi


sebelumnya yang diselesaikan secara spontan.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Kelembutan hadir pada pemeriksaan fisik, dan deformitas, biasanya mudah
dilihat. Sebuah efusi sendi mungkin hadir.
B. X-ray Temuan
Radiografi polos biasanya cukup untuk mengkonfirmasi cedera.

Pengobatan
Manajemen terdiri dari reduksi tertutup dengan sedasi yang sesuai. Ini dilakukan
dengan menerapkan gaya medial patella sementara lutut sedang diperpanjang.

Disposisi
Melumpuhkan lutut, memberikan kruk pasien, dan memberikan arahan ortopedi
untuk tindak lanjut. Subluksasi-subluksasi berulang atau dislokasi mungkin
memerlukan perbaikan bedah.

Fraktur femur distal


Diagnosis
Secara umum merupakan cedera energi tinggi
pinggul dan cedera patella Associated umum
polos sinar-X biasanya cukup
Mendapatkan arteriogram jika cedera vaskuler dicurigai
Pertimbangan Umum
Fraktur di adalah sepertiga distal femur biasanya digambarkan oleh hubungan antara
garis fraktur ke kondilus femoralis. distal femur fraktur umumnya merupakan cedera
energi tinggi.

98

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Nyeri dan deformitas biasanya hadir. patella asosiasi, dan kadang-kadang terjadi
cedera pinggul
B. X-ray
Diagnosis biasanya dapat dibuat dengan standar anteroposterior dan pandangan
lateral. Dilihat oblikus dan CT scan juga mungkin diperlukan. Jika kompromi
vaskuler dicurigai, diperlukan sebuah arteriogram.
Disposisi
Fraktur femur distal yang cedera signifikan membutuhkan konsultasi ortopedi di
departemen darurat. Skeletal traksi dan perbaikan bedah sering dibutuhkan.

Plateau tibialis Fraktur


Diagnosis
Biasanya terjadi pada aspek lateral
Mungkin berhubungan dengan saraf peroneal dan cedera a. poplitea
CT scan sangat membantu dalam perencanaan pengobatan
kecurigaan tinggi untuk kompartemen sindrom

Pertimbangan Umum
Fraktur plateu tibialis akibat dari beban aksial dan varus atau kekuatan valgus.
Bagian lateral tibia adalah yang paling sering terlibat. Fraktur secara signifikan
mengganggu fungsi sendi lutut. Popliteal arteri dan cedera saraf peroneal dapat
dilihat,

dan

status

neurovaskular

harus

dipantau

terus

menerus

dan

didokumentasikan.
Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Nyeri dan perih biasanya muncul. Hemarthrosis A mungkin ada, dan kejadian
terkait cedera ligamen cukup signifikan.

99

B. X-ray Temuan
Diagnosis biasanya dibuat pada anteroposterior dan lateral sinar-X. CT scan
sering digunakan untuk menggambarkan tingkat cedera. Tomografi dan MRI juga
dapat digunakan. Jika cedera vaskuler dicurigai, diperlukan arteriogram.

Perawatan dan Disposisi


Konsultasi ortopedi untuk menentukan manajemen yang sesuai. Suatu sindrom
kompartemen dapat menyertai fraktur tibialis dataran tinggi, dan tekanan
kompartemen harus diukur jika ada indikasi.

Fraktur Tibial tuberositas dan Penyakit Osgood Schlatter


Diagnosis
Biasanya avulsion fraktur patella tendon
Mendapatkan konsultasi ortopedi untuk menentukan perawatan

Pertimbangan Umum
Patah tulang ini umumnya terjadi sekunder untuk fleksi kuat atau perpanjangan lutut
terhadap perlawanan. Fraktur biasanya terjadi sebelum penutupan epiphysis dan
merupakan suatu fraktur avulsion disebabkan oleh tendon patella.

Temuan Klinis
Kelembutan hadir dan, berdasarkan mekanisme cedera, efusi yang dapat dilihat.
Diagnosis dikonfirmasi dengan radiografi polos. Pada remaja, penyakit OsgoodSchlatter harus dalam diagnosis diferensial. Osgood-Schlatter penyakit yang paling
sering terlihat pada laki-laki berumur 10-13 tahun. Ini merupakan cedera traksi
kronis tuberositas tibialis dan umumnya terjadi pada remaja terlibat dalam kegiatan
olahraga. temuan radiografi mungkin sulit untuk membedakan dari fraktur akut.
Sejarah berhati-hati dan pemeriksaan akan membantu menggambarkan cedera akut.
hemarthrosis A tidak terkait dengan Osgood-Schlatter.

100

Perawatan & Disposisi


Konsultasi ortopedi diperlukan karena fraktur tibialis tuberositas mungkin
memerlukan pengurangan terbuka. OsgoodSchlatter penyakit diperlakukan dengan
imobilisasi dan, dalam kasus yang jarang, pembedahan.
Fraktur Spine tibialis
Diagnosis
Tidak umum; biasanya terlihat pada anak-anak
Biasanya avulsion cedera dari ligamentum cruciatum
Tersangka cedera ligamen asosiasi

Pertimbangan Umum
Fraktur spina tibia tidak sering terlihat. Patah tulang ini biasanya merupakan cedera
avulsion oleh salah satu ligamen cruciatum. Mereka lebih sering terlihat pada anakanak dan paling sering melibatkan tulang belakang tibialis anterior.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Nyeri terlokalisasi dan hemarthrosis mungkin ada. Jika cedera ligamen yang
signifikan telah terjadi, ketidakstabilan lutut dapat dilihat.
B. X-ray Temuan
Presentasi mungkin halus dan dapat dicatat hanya sebagai penemuan insidental
pada sinar-X. Plain film biasanya akan mengidentifikasi cedera. CT scan, MRI,
atau Artroskopi mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi terkait cedera
seperti pecah ligamen cruciatum.

Pengobatan
Fraktur biasanya diperlakukan dengan imobilisasi.

101

Disposisi
Jika cedera ligamen signifikan hadir, pembedahan mungkin diperlukan.

Dislokasi Sendi Lutut


Diagnosis
Mungkin terlihat dengan tinggi atau cedera kecepatan rendah
kelembutan dan efusi sendi biasanya hadir
Menilai untuk terkait cedera a. poplitea

Pertimbangan Umum
Dislokasi melibatkan bersama tibiofemoral (sebagai lawan dislokasi patella) adalah
darurat ortopedi dan mungkin merupakan cedera ekstremitas yang mengancam.
Mereka sering terlihat di trauma energi kuat juga dapat dilihat dengan cedera
kecepatan rendah seperti jatuh atau melompat-lompat dari melompat-lompat di
trampolin. Adanya dislokasi merupakan trauma yang signifikan terhadap jaringan
lunak (misalnya, ligamen, menisci, dan kapsul sendi). Seperti disebutkan di atas,
lokasi dan anatomi arteri poplitea tempat di risiko yang signifikan dari cedera,
terutama dengan dislokasi posterior. Kelembutan dan efusi sendi umumnya hadir.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Visual cacat mungkin jelas, tetapi beberapa dislokasi dapat mengurangi sebelum
evaluasi. Hati-hati memperhatikan status neurovaskular ditandai, dan adanya denyut
nadi tidak mengesampingkan cedera arteri.
B. X-ray
Radiografi

polos

untuk

mengkonfirmasikan

diagnosis.

Secara

tradisional,

arteriography direkomendasikan dalam semua kasus untuk mengidentifikasi cedera


arteri seperti robekan intimal, yang mungkin klinis halus namun kemajuan untuk
oklusi dan iskemia. Beberapa penulis menyarankan bahwa pemeriksaan serial

102

termasuk indeks pergelangan-brakialis mungkin cukup untuk mengecualikan cedera


arteri klinis yang signifikan. Semua penulis setuju, bagaimanapun, bahwa apabila
dalam pemeriksaan arteri tidak normal, arteriography atau studi Doppler harus
diperoleh.
Pengobatan
Manajemen termasuk pengurangan yang muncul dengan daya tarik longitudinal inline. Status neurovaskular harus dipantau secara kontinyu dan operasional sering.

Disposisi
Konsultasi ortopedi diperlukan, dan konsultasi bedah vaskuler mungkin juga
diperlukan. Pasien yang belum arteriography diperoleh harus diakui untuk observasi.

Knee Ligament Injuries


Diagnosis
Menjaga dan efusi sendi dapat membuat diagnosis sulit pada saat kejadian
Pasien mungkin perlu imobilisasi dan pemeriksaan tindak lanjut
Cedera lutut ligamen beragam, mulai dari terkilir kecil untuk menyebabkan
gangguan. Luka lebih halus mungkin sulit untuk dinilai akut karena perlindungan
dan efusi pada sendi dapat membuat masalah ketidakstabilan jika dimanipulasi. Jika
memungkinkan, lutut yang tidak terpengaruh harus diperiksa sebelum cedera lutut
untuk menentukan baseline pasien, karena beberapa derajat kelemahan mungkin
normal untuk individu. Setelah penilaian klinis dan radiografi awal, sering dilakukan
tindakan untuk mengobati cedera dengan periode imobilisasi dan menggunakan
tongkat dan untuk mengatur pemeriksaan tindak lanjut. Tergantung pada situasi
klinis pasien dan cedera terkait, kadang-kadang membantu memiliki ortopedi
konsultan memeriksa pasien dengan anestesi umum. Jika pasien memiliki lutut
sangat tidak stabil dengan cedera di beberapa ligamen, pertimbangkan kemungkinan
dislokasi lutut berkurang secara spontan. Pemeriksaan vaskular Serial termasuk
indeks pergelangan-brakialis dijamin untuk menghindari hilang cedera arteri

103

ekstremitas-mengancam terkait poplitea. Jika pemeriksaan pembuluh darah tidak


normal, dilakukan angiografi atau studi Doppler untuk evaluasi lebih lanjut.

Ligamen Lutut Cedera: Ligamen Collateral


Pengenalan
Ligamentum jaminan ligamen medial adalah yang paling sering terluka dalam lutut.
Mekanisme dari cedera sering terjadi akibat kegiatan olahraga. Ligamentum
collateral lateral kurang umum terlibat dan lebih sering terjadi pada trauma energi
besar seperti tabrakan kendaraan bermotor.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Pasien biasanya menyajikan dengan kelembutan sepanjang distribusi ligamen.
Evaluasi stabilitas ligamentum oleh menempatkan varus dan valgus tegangan (lihat
Gambar) dengan lutut di ekstensi dan fleksi dengan 30 derajat
B. X-ray Temuan
Radiografi polos adalah penggunaan terbatas namun harus diperoleh awalnya untuk
menyingkirkan terkait patah tulang. MRI telah muncul sebagai modalitas yang
berguna untuk mengevaluasi cedera. Ortopedi tindak lanjut harus diatur.

Pengobatan
Strain dapat diobati secara konservatif dengan imobilisasi dan pemeriksaan tindak
lanjut.

Disposisi
Sendi yang tidak stabil akan perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut (misalnya, MRI,
Artroskopi) dan akhirnya perbaikan bedah.

104

Ligamen Lutut Cedera: Ligamen cruciatum


Pengenalan
Cedera ligamen cruciatum biasanya hasil dari anterior langsung atau angkatan
posterior lutut. gaya putaran juga dapat melukai ligamen cruciatum dan biasanya
terkait dengan luka lainnya (yaitu, menisci, ligamen jaminan). Luka-luka dapat
berhubungan dengan tinggi trauma-atau rendah energi. Cruciatum ligamentum
anterior adalah yang paling sering terluka.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Efusi sendi yang umum, dan hemarthrosis dapat dilihat terutama dengan cedera
ligamen anterior cruciatum. Stabilitas ligamentum anterior cruciatum dinilai
secara klinis oleh Lachman, pergeseran poros, atau tes laci anterior. Stabilitas
ligamentum posterior cruciatum dievaluasi oleh tanda Sag (Gambar).
B. X-ray Temuan
Radiografi polos mungkin tidak dapat tampak. Avulsion patah punggung tibial
menyarankan cruciatum ligamen sobek. Jika pemeriksaan klinis tidak memperlihatkan
ketidakstabilan signifikan, rawat jalan pemeriksaan tindak lanjut mungkin termasuk
MRI.

Gambar. The Lachman uji untuk pecahnya cruciatum ligamentum anterior. Mencoba
untuk menarik tibia ke depan relatif terhadap femur sementara lutut sedikit tertekuk.
Setiap peningkatan kelemahan dibandingkan dengan cedera lutut terluka berarti.

105

Gambar

26-17.

Pecahnya

cruciatum

ligamentum posterior adalah diagnosis


kemungkinan ketika tibia dari cedera lutut
sags posterior bawah femur distal ketika
kaki diadakan tertekuk 90 derajat di
pinggul dan lutut

Pengobatan
Immobilisasi lutut dan memberikan instruksi untuk menggunakan tonggkat pada
pasien pasien.

Disposisi
Ortopedi tindak lanjut diindikasikan untuk semua cedera yang signifikan, dan
Artroskopi

dapat

dilakukan

baik

untuk

diagnosis

dan

pengobatan.

Robekan Meniscal
Diagnosis
medialis meniskus yang paling sering terkena
Pasien mungkin mengeluhkan lutut penguncian
MRI atau Artroskopi mungkin diperlukan untuk diagnosis

Pertimbangan Umum
Robekan Meniscal biasanya terjadi jika gaya rotasi diterapkan ke lutut sementara
kaki tertahan. Karena proses degeneratif, cedera yang memproduksi air mata akut
mungkin tidak signifikan. The medial meniskus paling sering terkena.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Pasien mungkin mengeluhkan pendengaran pop, tapi penemuan ini tidak spesifik.
kelembutan line Bersama biasanya hadir, dan pasien dapat mengeluh bahwa lutut
"kunci." penguncian ini biasanya terlihat dengan sebuah "ember menangani" air
mata dari meniskus ketika bebas menjadi bagian tengah bersarang di takik
interkondilaris. Diagnosis klinis dievaluasi dengan menggunakan McMurray dan tes
Apley.
B. X-ray Temuan
Plain film tidak akan mengidentifikasi robekan tetapi mungkin berguna jika terkait
cedera tulang yang diduga.

Pengobatan
Pengobatan melibatkan imobilisasi lutut, penggunaan tongkat, dan kontrol nyeri.

Disposisi
Pasien mungkin akan diberhentikan dari departemen darurat dengan imobilisasi dan
ortopedi tindak lanjut. MRI rawat jalan umumnya digunakan untuk membuat
diagnosis.

Artroskopi

diagnostik

dan

dapat

digunakan

untuk

melakukan

menisektomi.

Rupture Tendon
Diagnosis
Mei mengganggu mekanisme ekstensor
tendon quadriceps lebih sering terkena
CT scan atau MRI mungkin diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis

107

Pertimbangan Umum
Pecahnya paha depan atau tendon patella akan mengganggu mekanisme ekstensor
lutut. Cedera dapat terjadi dengan cedera tinggi energi atau dapat dilihat dengan
trauma rendah energi, terutama pada orang tua. Tendon quadriceps lebih sering
pecah dibandingkan dengan tendon patella.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Pasien mengalami bengkak dan lutut lemah dan tidak dapat memperpanjang lutut
terhadap perlawanan. Sebuah cacat teraba dapat dihargai.
B. X-ray Temuan
Plain film dapat menunjukkan posisi normal dari lutut. CT scan dan MRI
mengkonfirmasi diagnosis.

Pengobatan
Tempatkan pasien dalam immobilizer lutut sampai konsultasi diperoleh.

Disposisi
Manajemen tergantung pada sejauh mana cedera. pecah Lengkap membutuhkan
perbaikan bedah.

Shaft Fraktur Tibialis


Diagnosis
Paling umum fraktur tulang panjang
Buka kadang-kadang terjadi fraktur
polos sinar-X biasanya cukup untuk diagnosis
Menilai untuk sindrom kompartemen

108

Pertimbangan Umum
Tibia adalah titik yang paling sering terjadi fraktur tulang panjang. Sebagian besar
patah tulang akan terjadi dengan fraktur fibula terkait. tibia dapat terluka oleh
berbagai kekuatan.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Karena jaringan lunak sedikit yang ditemukan di sekitar tibia anterior, fraktur
terbuka umum. Nyeri, pembengkakan, dan kelainan biasanya hadir. Sindrom
Kompartemen kadang-kadang terjadi dengan cedera tibia, dan reassessments sering
harus dilakukan.
B. X-ray Temuan
Plain film biasanya cukup untuk mengidentifikasi fraktur. Sebagaimana semua
cedera tulang diduga panjang, sendi di atas dan di bawah harus memadai
divisualisasikan pada radiografi.

Pengobatan
Mengukur tekanan kompartemen jika sindrom kompartemen diduga secara klinis.
Wikipedia fraktur nondisplaced dapat diobati dengan bidai kaki panjang posterior
dan kruk dengan ortopedi tindak lanjut.

Disposisi
Buka, ganti, dan patah tulang comminuted membutuhkan konsultasi ortopedi karena
mereka memerlukan manajemen operasi.

109

Fraktur Fibula
Diagnosis
patah tulang fibula Isolated jarang
Pasien mungkin dapat menahan beban
Menilai untuk Maisonneuve fraktur

Pertimbangan Umum
Fraktur fibula Isolated jarang karena mereka biasanya terlihat dengan fraktur tibia
terkait. Mereka mungkin terjadi dengan pukulan langsung atau dengan kekuatan
rotasi. Sangat penting adalah fraktur Maisonneuve, yang merupakan fraktur
proksimal fibula dengan maleolus medial terkait pergelangan kaki patah atau
gangguan ligamen kaki yang tanpa fraktur.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Pasien biasanya mengeluh sakit dan nyeri, dan kelainan biasanya bisa teraba.
Jika fraktur merupakan poros terisolasi fraktur fibula, pasien mungkin dapat
berjalan.
B. X-ray Temuan. Polos X-ray harus cukup untuk diagnosis.

Pengobatan
Splints atau tekan dressing dapat diterapkan untuk kenyamanan. Sebuah rekahan
Maisonneuve merupakan cedera pergelangan kaki tidak stabil, dan konsultasi
ortopedi diperlukan untuk menentukan manajemen definitif.

Disposisi
Dengan terisolasi, tanpa komplikasi patah tulang fibula, pasien dapat dipulangkan
dengan instruksi untuk maju dari status non-berat untuk menahan beban status
sebagai ditoleransi.

110

Cedera sendi ankle


Pengenalan
Tulang-tulang kaki yang meliputi tibia distal, distal fibula, dan lereng. Mata kaki
dibentuk oleh malleoli medial dan lateral dan plafon (permukaan artikular tibia
distal). Seperti lutut, pergelangan kaki bergantung pada tulang rawan artikular,
kapsul sendi, dan ligamen untuk memberikan stabilitas sendi. Pengelolaan cedera
pergelangan kaki sebagian besar didasarkan pada stabilitas sendi itu.
Ligamen dibagi menjadi tiga set: ligamen tibiofibular yang syndesmotic (anterior
dan

posterior);

jaminan

lateral

(calcaneofibular, talofibular anterior, dan

tibiocalcaneal ligamen lateral), dan jaminan ligamen medial atau deltoideus, yang
dibagi lagi menjadi empat bagian (posterior tibiotalar, tibiocalcaneal, anterior
tibiotalar, dan tibionavicular). cedera pergelangan kaki yang umum dan seringkali
melibatkan kombinasi dari cedera tulang dan ligamen.
Seperti dengan cedera lutut, aturan-aturan keputusan klinis dokter bantuan darurat
dalam menentukan apakah radiografi polos diperlukan dalam evaluasi cedera
pergelangan kaki atau kaki. Aturan pergelangan kaki Ottawa menyatakan bahwa
sinar-X harus diperoleh jika ada rasa sakit di malleoli, ketidakmampuan untuk
menahan beban selama empat langkah, dan kelembutan posterior atau inferior di
malleoli. Ottawa aturan kaki merekomendasikan bahwa sinar-X diperoleh jika ada
ketidakmampuan untuk menahan beban selama empat langkah dan kelembutan di
dasar metatarsal kelima atau di atas tulang navicular. Sensitivitas aturan pergelangan
kaki Ottawa adalah 98-100%.

Malleolar lateral Fraktur


Diagnosis
Pembalikan cedera
Mei termasuk avulsion kecil untuk menyelesaikan gangguan patah tulang sendi
polos sinar-X biasanya cukup untuk diagnosis

111

Pertimbangan Umum
Fraktur lateral malleolar bisa berkisar dari avulsion sederhana patah tulang dilihat
dengan inversi pada fraktur pengungsi dengan gangguan tanggam.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Pasien biasanya hadir dengan kelembutan titik, bengkak, dan kesulitan ambulating.
B. X-ray Temuan
Radiografi polos biasanya cukup untuk membuat diagnosis.

Pengobatan
Fraktur dapat diobati dengan bidai kaki belakang pendek dengan sanggurdi
(Gambar), tanpa bantalan penyangga berat badan, dan ortopedi tindak lanjut.

Gambar.

Gabungan

sugar-tong

splint dan plester posterior-plantar slab


dengan bantalan untuk rawat jalan (tidak
menahan beban) pasien dengan cedera
kaki.

Disposisi
fraktur terbuka atau tertutup membutuhkan konsultasi ortopedi untuk manajemen
operasi.

112

Malleolar medialis Fraktur


Diagnosis
cedera eversi
Sering terkait dengan cedera ligamen deltoideus
polos sinar-X biasanya cukup untuk diagnosis

Pertimbangan Umum
fraktur Malleolar medialis akibat cedera atau rotasi eversi eksternal. Patah tulang ini
sering dikaitkan dengan luka pada ligamen deltoideus.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Nyeri, bengkak, dan kesulitan dalam ambulating biasanya hadir. Meraba
proksimal fibula untuk menentukan apakah fraktur Maisonneuve hadir.
C. X-ray Temuan
Plain film biasanya akan cukup untuk diagnosis.

Pengobatan
Manajemen yang serupa dengan fraktur malleolar lateral, namun, jika cedera yang
signifikan untuk ligamentum deltoideus telah terjadi, periode rehabilitasi akan lebih
panjang.

Disposisi
Pasien dengan cedera yang tertutup dapat dilakukan bidai kaki belakang pendek
dengan sanggurdi tanpa bantalan penyangga berat badan, dan ortopedi
menindaklanjuti dalam waktu 2-3 hari.

113

Malleolar Fraktur Posterior


Diagnosis
cedera Langka
Biasanya avulsion dari ligamentum posterior talofibular
Mei merupakan ketidakstabilan sendi signifikan

Pertimbangan Umum
Fraktur hanya melibatkan malleoli posterior jarang terjadi. Mereka biasanya akibat
dari cedera avulsion melibatkan tibiofibular ligamentum posterior. Jika terisolasi
mereka mungkin dikelola konservatif seperti di atas. Jika patah tulang ini terkait
dengan cedera lain atau ketidakstabilan sendi, konsultasi ortopedi diperlukan.
Bimalleolus dan trimalleolar fraktur harus dianggap stabil dan konsultasi bedah
ortopedi untuk manajemen.

Tendon Achilles Luka-luka


Diagnosis
Dapat terjadi dari kekuatan langsung atau tidak langsung
Gunakan tes Thompson
konsultasi ortopedi perlu

Pertimbangan Umum
Rupture tendon Achilles sering terlihat pada orang setengah baya yang berpartisipasi
dalam kegiatan olahraga. Mungkin sekunder untuk pukulan langsung atau dapat
terjadi dengan kekuatan tidak langsung seperti dorsiflexion dipaksa. Pasien sering
mendengar laporan pop.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Localized nyeri dan kelemahan dalam plantarflexion muncul, dan deformitas
mungkin akan dihargai. Diagnosis klinis berdasarkan riwayat dan pemeriksaan

114

klinis. Untuk menentukan apakah tendon telah pecah, dokter darurat dapat
menekan otot betis pasien dan lutut tertekuk hingga 90 derajat (Thompson test)
atau alternatif meremas otot betis dengan pasien berlutut di kursi dengan kedua
lutut menekuk ( Gambar 26-19). Tidak adanya plantarflexion atau penurunan
plantarflexion dibandingkan dengan kaki yang normal
B. X-ray
X-ray

dapat menunjukkan penebalan tendon. MRI akan mengkonfirmasikan

diagnosis.

Gambar. Uji untuk kelangsungan Achilles tendon.


Squeeze anak sapi rileks sambil mengamati jumlah kaki
plantarflexion sehingga dihasilkan. Jika tendon pecah,
gerak kurang terjadi dibandingkan dengan yang di sisi
terluka.

Pengobatan
Sebuah kaki panjang sementara atau sanggurdi belat dapat ditempatkan sampai
konsultasi dengan ortopedi.

Disposisi
Konsultasi ortopedi harus diperoleh karena cedera Achilles tendon mungkin dikelola
pembedahan atau nonoperatively.

Peroneal Cedera Tendon


Diagnosis
Biasanya akibat dari dorsiflexion yang dipaksa
Kelembutan maleolus lateral posterior
CT scan atau MRI mungkin diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis

115

Pertimbangan Umum
Peroneal tendon berfungsi dalam eversi, pronasi, dan plantarflexion. Urat ini dapat
menjadi subluxed atau dislokasi oleh robeknya lampiran retinakulum unggul di
fibula. cedera biasanya hasil dari dorsiflexion paksa.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Pasien menyajikan dengan rasa sakit, bengkak, dan kelemahan pada eversi.
Kelembutan posterior lateral maleolus hadir.
B. X-ray
Sebuah rekahan avulsion kecil maleolus lateral patognomonik dari cedera ini. CT
scan atau MRI mungkin diperlukan untuk mengkonfirmasikan diagnosis.

Pengobatan
Pengobatan melibatkan penggunaan cetakan posterior, tanpa bantalan penyangga
berat badan, dan analgesik.

Disposisi
Konsultasi ortopedi diperlukan untuk menentukan manajemen yang sesuai. Pasien
dengan cedera ini dapat dibuang dengan sesuai tindak lanjut, tapi cedera tendon
peroneal sering perlu perbaikan bedah.

116

Dislokasi Ankle
Diagnosis
Associated fraktur sering hadir
Menilai status neurovaskular
Dislokasi mungkin memerlukan pengurangan sebelum sinar-X diperoleh

Pertimbangan Umum
Sebuah dislokasi pergelangan kaki merupakan perpindahan dari talus dan tibia.
Dislokasi dijelaskan oleh hubungan antara talus untuk tibia. Mereka mungkin
terbuka atau tertutup, dan sering terjadi patah. Dislokasi terjadi dari beban aksial ke
kaki di plantarflexion dan dapat terjadi pada cedera akibat olahraga dan trauma
berenergi tinggi seperti tabrakan kendaraan bermotor.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Status neurovaskular harus ditentukan dengan cepat. Pasien akan memiliki
kelainan kotor dari kaki bersama.
B. X-ray
Reduksi sering dilakukan sebelum mendapatkan radiografi.

Pengobatan
Setelah dislokasi telah berkurang, meninjau kembali status neurovaskular, belat
pergelangan kaki, dan memperoleh radiografi dan konsultasi ortopedi.

Dislokasi
Pasien-pasien sering akan diterima dan tidak boleh dibiarkan tanpa konsultasi dari
ortopedis.

117

Ankle Terkilir
Diagnosis
Ligamentum talofibular anterior dipengaruhi paling sering
Pembengkakan, ecchymosis, kelembutan titik
Menilai untuk ketidakstabilan dari ligamentum
Ankle aturan dapat membantu dalam menentukan kebutuhan sinar-X
Sebagian besar dikelola konservatif

Pertimbangan Umum
Ankle terkilir paling sering terjadi akibat tekanan yang signifikan pada saat inversi
dan plantarflexion. Ligamentum paling sering terkena adalah ligamen talofibular
anterior. Ligamentum yang umumnya terkena sebagian besar adalah ligamentum
calcaneofibular, dan pada 20% kasus talofibular calcaneofibular dan anterior terlibat.
Ligamentum deltoideus terletak medial lebih jarang terluka (kurang lebih 5% dari
terkilir). Tekanan eversi dapat menyebablkan cedera ini. Rupture Ligamentum
deltoideus dapat dilihat dengan malleolar medial patah tulang.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda
Pasien biasanya datang

dengan riwayat jatuh atau cedera berliku-liku. Sering

bengkak, ecchymosis, dan kelmahan titik yang mengalami kelainan. Grading dari
terkilir dijelaskan sebelumnya dalam bab ini. Selalu nilai cedera seperti patah
Maisonneuve atau rupture tendon Achilles.
B. X-ray Temuan
Gunakan riwayat pasien, temuan fisik, dan aturan Ottawa untuk menentukan apakah
radiografi diperlukan. Sinar-X akan negatif tetapi mungkin menunjukkan
pembengkakan jaringan lunak. Dalam terkilir ligamen yang signifikan dan pecah,
tanggam mungkin akan terpengaruh.

118

Pengobatan
Kebanyakan terkilir pergelangan kaki dapat diperlakukan secara konservatif secara
rawat jalan.

Disposisi
Untuk luka ringan, pengobatan harus dimulai seperti di atas. Jika gejala
menyelesaikan cepat, tindak lanjut mungkin tidak diperlukan. Pasien dapat
mempertimbangkan tindak lanjut dengan penyedia utama perawatan untuk evaluasi
lebih lanjut dalam kasus-kasus kecil. Pasien dengan terkilir harus menerima
pengobatan dengan imobilisasi dan kruk seperti di atas dan harus dirujuk ke dokter
ortopedi dalam waktu 1 minggu.

Kalkanealis Fraktur
Diagnosis
patah tulang tarsal Paling umum
Axial loading, sering dikaitkan dengan patah tulang belakang
Sudut Boehler dapat mendeteksi rekahan halus
konsultasi ortopedi perlu

Pertimbangan Umum
Kalkaneus adalah yang terbesar dari tulang tarsal dan yang paling sering retak.
Mekanisme paling umum adalah beban aksial dari terjatuh. Sebuah asosiasi yang
tinggi ada di antara rekahan kalkanealis dan lainnya lebih rendah ekstremitas dan
patah tulang belakang.

Temuan Klinis
A. Gejala dan Tanda

119

Pasien mengeluh sakit parah di tumit dan ketidakmampuan untuk menanggung berat
badan. Ecchymosis dan deformitas mungkin hadir.
B. X-ray Temuan
Foto polos radiografi termasuk pandangan anteroposterior, lateral, dan aksial.
Pengukuran sudut Boehler pada tampilan lateral dapat membantu untuk
mengidentifikasi patah tulang halus. Sudut Boehler dibentuk oleh perpotongan garis
yang ditarik dari elemen anterior dan posterior bagian superior kalkaneus. Sudut
normal 20-40 derajat, sebuah sudut kurang dari 20 derajat menunjukkan patah
kalkanealis.

Pengobatan
Sebuah bidai kaki belakang atau membungkus Jones dapat diterapkan dan pasien
diberikan instruksi tongkat dan status non-berat-bearing.

Disposisi
Konsultasi ortopedi diperlukan untuk menentukan manajemen operasi versus
nonoperative.

120

Referensi
American College of Surgeon. Cedera musculoskeletal, Advanced Trauma Life Support. 7th
edition. Chicago; 2004. pp 225-254
Current diagnosis and treatment emergency medicine 2008 6th ed mcgraw hill medical.
Diagnosis & Treatment in Orthopedics. 4th edition. Mc.Graw-Hill Companies: 2006, pp
81-99, 141-148
Ellis, H. 2006. Clinical Anatomy_A revision and applied anatomy for clinical students. 11th
Edition. New York. Blackwell Publishing.
Moore, Keith L.; Dalley, Arthur F. Clinically Oriented Anatomy, 5th Edition. 2006
Lippincott Williams & Wilkins
Rasjad, chairuddin, 2003. Pengantar ilmu bedah Ortopedi, Bintang Lamumpatue:Makassar
Scanlon, Valerie C; Sanders, Tina. 2007. Essentials of Anatomy and Physiology. 5th
Edition. F. A. Davis Company. Philadelphia.
Smith Wade, Agudelo Juan, Parekh Anand, Shank John. Musculosceletal Trauma Surgery,
Current
Wim De Jong, Sjamsuhidayat, 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi 2. EGC: Jakarta

121