Anda di halaman 1dari 121

LAPORAN SKENARIO 1

“Ketabrak deh

LAPORAN SKENARIO 1 “Ketabrak deh ” Oleh: Kelompok 5 (tutor: dr.Indana Eva Ajmala) Fakultas Kedokteran Universitas

Oleh:

Kelompok 5

(tutor: dr.Indana Eva Ajmala)

Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Blok Muskuloskletal dan Integumen

2010

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah- Nyalah kami dapat menyelesaikan laporan tutorial scenario 1 sebagai hasil diskusi kami yang berkaitan dengan kegiatan tutorial pada Blok XVIII semester VI yang berjudul “Ketabrak deh…”. Dalam laporan ini kami membahas masalah yang berkaitan dengan gangguan yang terjadi padasistem muskuloskletal, khususnya mengenai trauma.

Kami mohon maaf jika dalam laporan ini terdapat banyak kekurangan dalam menggali semua aspek yang menyangkut segala hal yang berhubungan dengan scenario 1 serta learning objective yang kami cari. Karena ini semua disebabkan oleh keterbatasan kami sebagai manusia. Tetapi, kami berharap laporan ini dapat memberi pengetahuan serta manfaat kapada para pembaca.

Mataram, Juni 2010

Kelompok 5

2
2

Daftar Isi

Kata pengantar

…………………………………………………………

…………………………………………………………

…………………………………………………………

2

Daftar isi

3

Skenario

4

Learning onjective

5

Mapping concept

6

Anatomi ekstremitas Bawah

7

Pendekatan diagnosis

29

Penanganan awal trauma

40

Fraktur

44

Dislokasi

51

Subluksasi

51

Spasme

52

Trauma jaringan lunak

55

Diagnosis bedah ortopedi

62

Pemeriksaan ortopedi

65

Gambaran radiologi fraktur dan dislokasi

80

Rujukan

85

Kegawatdaruratan ortopedi

88

Referensi

121

3
3

Skenario 1

Ketabrak deh…

Seorang laki-laki, 23 tahun, pengendara sepeda motor, dibawa ke UGD oleh paramedis karena mengalami kecelakaan lalu lintas 30 menit yang lalu. Menurut paramedis yang menjemput pasien di tempat kejadian, pengendara sepeda motor jatuh karena menghindari kendaraan yang berada di depannya. Pengendara sepeda motor jatuh dengan bagian lutut yang terlebih dahulu menyentuh tanah. Terdapat kerusakan ringan pada sepeda motor. Sepeda motor melaju demgan kecepatan lambat. Pemeriksaan vital sign pasien tekanan darah 110/70 mmHg; frekuensi nadi 90 x/menit; frekuensi napas 26 x/menit; suhu axilla 36,4®C dan skor GCS 4-5-6. Pemeriksaan ekstremitas didapatkan jaringan yang bengkak, nyeri, dan laserasi sepanjang 10 cm di paha kiri tepat di atas lutut. Sendi lutut kiri juga terdapat pembengkakan dimana tungkai bawah tidak dapat melakukan gerakan ekstensi. Ekstremitas bawah tampak asimetris dengan bagian kanan lebih panjang daripada bagian kiri. Selain itu juga terlihat fleksi pada sendi lutut dan panggul kiri, rotasi internal dan adduksi sendi panggul. Pemeriksaan sensorik ekstremitas bawah dalam batas normal. Pulsasi arteri pada keempat ekstremitas teraba. Pemeriksaan fisik kepala-leher, thorax dan abdomen dalam batas normal. Dokter UGD melakukan imobilisasi sementara pada ekstremitas yang mengalami gangguan kemudian ekstremitas tersebut diperiksa ulang. Setelah itu dokter mengusulkan dilakukan pemeriksaan foto polos 2 view pada sendi lutut dan paha kiri. Pasien bertanya bagaimana penyembuhan penyakitnya.

4
4

Learning Objective

1. Anatomi ekstremitas bawah

2. Pendekatan diagnosis pasien di skenario

3. Penanganan awal pasien trauma

4. Mekanika trauma

5. Fraktur, dislokasi, dan laserasi

6. Penyembuhan luka dan fraktur

7. Emergensi ortopedi

5
5

Mapping concept

Anatomi muskuloskletal

Mapping concept Anatomi muskuloskletal Trauma Mekanika trauma Primary and secondary survey Pendekatan
Trauma Mekanika trauma
Trauma
Mekanika
trauma

Primary and secondary survey

Pendekatan Diagnosis

Anamnesis, PF umum, PF neurologis, PF ortopedi, pemeriksaan penunjang

Differential diagnosis:

Laserasi

Dislokasi

fraktur

Komplikasi

Terapi
Terapi
Prognosis
Prognosis
6
6

ANATOMI EKSTREMITAS BAWAH

Ekstremitas bawah terdiri dari 4 bagian :

1. Pelvis, yang terdiri dari oc coxae yang menghubungkan kerangka ekstremitas inferior dengan kolumna vertebralis

2. Paha, dengan femur yang menghubungkan panggul (pelvis) dengan lutut (genu) dan patella

3. Tungkai bawah, dengan tibia dan fibula yang menghubungkan lutut dengan ossa tarsi

4. Kaki, dengan ossa tarsi, ossi metatarsi, dan phalanx yang merupakan ujung distal ekstremitas inferior

I. Tulang

FEMUR

Femur adalah tulang terpanjang dalam tubuh. Tulang ini memiliki beberapa sifat khas :

1. Kaput femoralis berartikulasi dengan asetabulum tulang panggul pada artikulasio coxae. Artikulasi ini berbentuk bulat, halus, serta dilapisi oleh kartilago artikularis. Kaput menghadap ke medial, atas dan depan ke dalam asetabulum. Fovea adalah lekukan di tengah kaput yang merupakan tempat perlekatan ligamentum teres.

2. Kolum femoris membentuk sudut 125 0 dengan korpus ossis femoralis. Pemendekan atau pelebaran angulus yang patologis disebut deformitas coxa vara dan coxa valga

3. Korpus femoralis meliputi seluruh bagian panjang tulang. Pada ujung atasnya terletak trokanter mayor dan di posteromedial, trokanter minor. Di anterior terdapat linea trokanterika dan di posterior krista trokanterika yang menandai batas antara korpus dan kolum. Linea aspera adalah krista yang berjalan longitudinal di sepanjang permukaan femur yang terpisah di bagian bawah menjadi linea suprakondilaris. Linea suprakondilaris medialis berakhir pada tuberkulum adduktor.

7
7

4. Ujung bawah femur terdiri dari kondilus femoralis medialis dan lateralis. Struktur ini merupakan tempat artikulasi dengan tibia pada artikulasio genus. Kondilus lateralis lebih menonjol dari medialis. Hal ini untuk mencegah bergesernya patela. Di posterior kondilus dipisahkan oleh insisura interkondilaris yang dalam. Bagian anterior aspek bawah femur halus untuk artikulasi dengan permukaan posterior patela.

yang dalam. Bagian anterior aspek bawah femur halus untuk artikulasi dengan permukaan posterior patela. 8
yang dalam. Bagian anterior aspek bawah femur halus untuk artikulasi dengan permukaan posterior patela. 8
8
8

TIBIA

Tibia berfungsi memindahkan berat badan dari femur ke talus. Sifat-sifatnya adalah :

1. Ujung atas tibia yang mendatar—plato tibia—memiliki kondilus tibia medialis dan lateralis untuk artikulasi dengan kondilus femoralis yang sesuai. Kondilus tibialis medialis lebih besar dari lateralis

2. Area interkondilaris adalah daerah antara kondilus tibialis dimana terdapat dua tonjolan—tuberkulum interkondilaris medialis dan lateralis. Bersama-sama tonjolan ini membentuk eminensia interkondilaris. Ujung meniskus lateralnya melekat erat ke tiap sisi eminensia.

3. Pada bagian anterior terdapat korpus atas tuberositas tibia, yang merupakan tempat insersi ligamentum patelae

4. Batas anterior dan permukaan medial korpus seluruhnya terletak subkutan tempat tersering terkena fraktur terbuka

5. Pada permukaan posterior korpus terdapat garis miring—linea soleal—yang menandai origo m. soleus pada tibia. N. popliteus memasuki area trigonum di atas linea soleal

6. Fibula berartikulasi dengan tibia di superior pada permukaan artikularis aspek postero-inferior kondilus lateralis—artikulasio tibiofibularis (sinovial)

7. Insisura fibularis terletak di sebelah lateral ujung bawah tibia untuk artikulasi dengan fibula pada sindesmosis tibiofibularis (fibrosa)

8. Di inferior tibia menonjol membentuk maleolus medialis. Maleolus medialis turut membentuk mata kaki yang menstabilkan talus.

9
9
FIBULA Fibula tidak termasuk tulang pembentuk arti kulasio genus dan tidak turut memindahkan berat badan.

FIBULA

Fibula tidak termasuk tulang pembentuk artikulasio genus dan tidak turut memindahkan berat badan. Fungsi utama fibula adalah sebagai origo otot-otot dan turut berperan dalam artikulasio talokruralis. Ciri-cirinya adalah :

1. Prosesus stiloideus merupakan tonjolan pada kaput fibula yang merupakan tempat insersi tendon biseps

2. Kolum fibula memisahkan kaput dari korpus fibulae. N. Fibularis komunis melengkung di sekitar kolum sebelum terbagi menjadi cabang-cabang superfisialis dan porfunda. Jika ada trauma footdrop

3. Ujung bawah fibula adalah maleolus lateralis.

10
10
PATELA Ligamentum patelae, yang melekat ke apeks pa tela dan tuberositas ti bia, merupakan insersi

PATELA

Ligamentum patelae, yang melekat ke apeks patela dan tuberositas tibia, merupakan insersi sejati untuk m. Kuadriseps sehingga patela merupakan tulang berbentuk sesamoid. Susunan ini membentuk mekanisme ekstensor. Bisa terjadi trauma pada bagian manapun dari mekanisme ini akibat kontraksi m. Kuadriseps yang sangat kuat, misalnya ruptur ekspansi m. Kuadriseps, rupturnya ligamentum patelae atau avulsi tuberositas tibia.

11
11
TULANG-TULANG KAKI Kecuali metatarsal dan falang, tulang-tulang kaki disebut tulang tarsal 1. Talus. Terdapat facet

TULANG-TULANG KAKI

Kecuali metatarsal dan falang, tulang-tulang kaki disebut tulang tarsal

1. Talus. Terdapat facet artikularis pada permukaan superior, medial dan lateralis korpus talus untuk artikulasi dengan tibia, maleolus medialis dan maleolus lateralis. Terdapat sulkus pada permukaan posterior korpus untuk tendon m. Fleksor halusis longus. Di sisi lateralis sulkus terdapat tuberkulum posterior (lateralis), kadang- kadang disebut os trigonum, karena memiliki pusat penulangan yang berbeda dengan talus.

12
12

2. Kalkaneus memiliki dua facet artikularis di permukaan superior yang turut membentuk artikulasio subtalaris (talokalkanealis dan talokalkaneovaskularis). Tuberkulum peroneal, tonjolan kecil pada permukaan lateralis kalkaneus, memisahkan tendon mm. Peroneus longus dan brevis.

3. Kuboid memiliki permukaan bawah yang bersulkus untuk tendon m. Peroneus longus

4. Navikular memiliki facet artikularis untuk artikulasi dengan kaput talus di posterior dan tiga kuneiformis di anterior.

5. Kuneiformis. Ada 3 os kuneiformis anterior berartikulasi dengan metatarsal dan di posterior dengan navikular.

6. Metatarsal dan falang

os kuneiformis anterior berart ikulasi dengan metatarsal dan di posterior dengan navikular. 6. Metatarsal dan falang
13
13

II.Fascia

Fascia ekstremitas inferior terdiri dari :

1. Fascia superfisialis terletak di sebelah dalam kulit dan terdiri dari jaringan ikat jarang dengan kandungan lemak yang varibel, saraf kulit, vena-vena superfisial, pembuluh limfe dan kelenjar limfe.

2. Fascia profunda berupa selembar jaringan ikat padat antara fascia superfisialis dan otot. Dikenal sebagai fascia lata di paha dan fascia cruris di tungkai bawah. Dari dalam permukaan dalam fascia cruris dilepaskan septum intermuskulare cruris anterius dan septum intermuskulare cruris posterius yang membagi tungkai bawah menjadi kompartemen-kompartemen :

a. Compartimentum anterius (ekstensor)

b. Compartimentum laterale [fibulare (peroneal)]

c. Compartimentum posterius (fleksor) yang terbagi lagi menjadi pars superfisialis dan pars profunda

III. Saraf Dan Pembuluh Darah

Beberapa saraf kulit dalam fascia superfisialis mengurus persarafan kulit ekstremitas inferior (gambar). Saraf-saraf ini, kecali beberapa saraf proksimal, adalah cabang pleksus lumbalis dan pleksus sakralis

14
14
15
15
15

ARTERI ekstremitas bawah

ARTERI ekstremitas bawah A.Femoralis Cabang-cabang : a. Cabang-cabang di bagian atas trigonum femoralis—terdapat empat

A.Femoralis

Cabang-cabang :

a. Cabang-cabang di bagian atas trigonum femoralis—terdapat empat cabang yang memasok darah ke jaringan superfisialis dinding bawah abdomen dan perineum

b. A. profunda femoris—keluar dari sisi lateral a. Femoralis 4 cm di bawah ligamentum inguinale. Dekat origonya membentuk cabang-cabang sirkumfleksa femoralis medialis dan lateralis. Cabang-cabang ini turut membentuk anastomosis trokanterika dan krusiata

16
16

A.poplitea

Cabang-cabang : a. Muskularis, a. Suralis, dan lima aa. Genikularis keluar dari a. Poplitea

Suralis, dan lima aa. Genikularis keluar dari a. Poplitea A.tibialis anterior Cabang-cabang : cabang muskular dan

A.tibialis anterior

Cabang-cabang : cabang muskular dan maleolar

A.tibialis posterior

Cabang-cabang :

a. Fibularis, berjalan di antara m. Tibialis posterior dan m. Fleksor halusis longus dan memasok darah ke kompartemen perioneal (lateral)

a. Plantaris lateralis—lewat di antara m. Fleksor aksesorius dan m. Fleksor digitorum brevis menuju aspek lateral telapak kaki dimana arteri ini terbagi menjadi cabang superfisialis dan profunda

17
17

a. Plantaris medialis—berjalan di aspek medial telapak kaki dan memberikan cabang-cabang yang bergabung dengan cabang metatarsal plantaris dari a. Plantaris lateralis untuk memasok darah dari jari-jari kaki.

yang bergabung dengan cabang metatarsal plantaris dari a. Plantaris lateralis untuk memasok dara h dari jari-jari
yang bergabung dengan cabang metatarsal plantaris dari a. Plantaris lateralis untuk memasok dara h dari jari-jari
18
18

Vena ekstremitas bawah

Vena ekstremitas bawah IV. Otot a. Regio Gluteal o M. gluteus (maximus, medius, minimus) se bagai

IV.

Otot

a. Regio Gluteal

o

M. gluteus (maximus, medius, minimus) sebagai otot ekstensor dan abductor paha pada articulation coxae

o

Sekelompok otot kecil (m.piriformis, m.obturator internus, 2 m. gamelli, m. quadratus femoris) sebagai otot eksorotator paha articulation coxae

19
19
b. Regio Femoris • Terbagi dalam 3 kompartemen oleh sept um intermuscular dari fascia lata.

b. Regio Femoris

Terbagi dalam 3 kompartemen oleh septum intermuscular dari fascia lata.

1. Kompartemen Anterior

o

M. iliapsoas: terdiri dari musculus psoas mayor dan m.iliacus

o

M. tensor fascia latae: sebuah otot fusiform (berbentuk kumparan) yang menyerupai tali pegangan (straplike) dan terdapat pada sisi lateral paha, terbungkus dalam lembar ganda fascia latae

o

M.pectineus: berbentuk segiempat, pipih, berperan dalam aduksi paha

o

M. sartorius: otot paling superficial pada paha anterior

o

M. quadriceps femoris: otot ekstensor tungkai bawah pada articulation genue yang menutupi bagian femur anterior, medial, dan lateral. Terdiri dari musculus rectus femoris (anterior), m.vastus lateralis (lateral), m.vastus medialis (medial), dan m.vastus intermedius (di sebelah dalam m.rectus femoris, antara m.vastus medialis dan m.vastus lateralis)

2. Kompartemen Medial

o

M. adductor longus: paling anterior

o

M. adductor brevis

20
20

o

M. adductor magnus

o

M. gracilis

o

M. obturator externus

adductor magnus o M. gracilis o M. obturator externus Trigonum Femorale Ligamentum inguinal (proksimal) 21

Trigonum Femorale

Ligamentum inguinal (proksimal)

21
21
o M. adductor longus (medial) o M. sartorius (medial) 3. Kompartemen Posterior (hamstring muscle) o

o

M. adductor longus (medial)

o

M. sartorius (medial)

3. Kompartemen Posterior (hamstring muscle)

o

M. bicepsfemoris

o

M. femitendineus

o

M. semimembranosus

22
22

c.

Regio Cruris

c. Regio Cruris 23
23
23
Kompartemen anterior (dorsofl eksor sendi pergelangan kaki dan fleksor jari-jari kaki) o M. tibialis anterior

Kompartemen anterior (dorsofleksor sendi pergelangan kaki dan fleksor jari-jari kaki)

o

M. tibialis anterior

o

M. extensor hallucis longus

o

M. extensor digitalis longus

o

M. fibularis (peroneus) tertius

Kompertemen Lateral

o

M. fibularis (peroneus) longus

o

M. fibularis (peroneus) brevis

Kompartemen Posterior

1. pars superficialis

o

m. gastrocnemius dan m. soleus membentuk triceps surae, memiliki tendon lekat bersama pada calcaneus (tentdon calcaneus Acholes)

o

m. Plantaris

24
24

2.

pars profunda

o

m. popliteus

o

m.fleksor hallucis longus

o

m.fleksor digitorum longus

o

m.tibialis posterior

d. Regio Pedis

longus o m.tibialis posterior d. Regio Pedis V. Persendian Gerakan panggul (artikulasio coxae) Gerak

V.Persendian

Gerakan panggul (artikulasio coxae)

Gerak panggul leluasa karena sendi ini merupakan artikulasio sferoidea sinovial.

Fleksi (0-120 0 ) : terutama oleh m. iliakus dan m. Psoas. M. Rektus femoris, m. Sartorius dan m. Pektineus dalam skala kecil.

Ekstensi (0-20 0 ) : m. Gluteus maksimus dan hamstring

25
25

Adduksi (0-30 0 ) : m. Adduktor magnus, terutama longus dan brevis. M. Grasilis dan m. Pektineus dalam skala kecil.

Abduksi (0-45 0 ) : m. Gluteus medius, m. Gluteus minimi dan m. Tensor fasia lata

Rotasi lateral (0-45 0 ) : m. Piriformis, m. Obturatorius, m. Gemelus, m. Kuadratus femoris, dan m. Gluteus maksimus

Rotasi medial (0-45 0 ) : m. Tensor fasia lata, m. Gluteus medius dan m. Gluteus minimi

Sirkumduksi : kombinasi semua gerakan yang menggunakan semua kelompok otot yang telah disebutkan.

Artikulasio genus

kelompok otot yang telah disebutkan. Artikulasio genus Tipe : sendi ginglimus sinovial modifkasi yang juga

Tipe : sendi ginglimus sinovial modifkasi yang juga memungkinkan terjadinya sedikit rotasi.

Kapsula : permukaan artikularis ditutupi oleh kartilago atrikularis. Kapsula melekat pada batas-batas permukaan artikularis kecuali di anterior di mana kapsula terus sampai ke bawah. Di bagian anterior kapsula terdapat pintu besar yang merupakan tempat bersatunya

26
26

membran sinovial dengan bursa suprapatelar. Di posterior bursa burhubungan dengan bursa lain di bawah kaput medial m. Gastroknemius. Di posterolateral terdapat pintu lain kapsula sebagai tempat lewat tendon m. Popliteus.

Ligamentum ekstrakapsulare : kapsula artikulasio genus diperkuat oleh ligamentum- ligamentum :

1. Ligamentum kolateral mediale (tibiale) terdiri atas bagian superfisialis dan profunda. Komponen superfisialis melekat ke epikondilus femoralis di atas dan permukaan subkutaneus tibia di bawah. Komponen profunda melekat erat ke meniskus medialis

2. Ligamentum kolaterale laterale (fibulare) melekat ke epikondilus femoralis di atas dan bersama dengan m. Biseps femoris ke kaput fibula di bawah.

Kedua ligamentum kolaterale menegang saat ekstensi maksimal dan dalam posisi ini kemungkinan terkena cedera lebih besar bila terjadi tarikan valgus/varus yang berlebihan.

Di belakang lutut terletak ligamentum popliteum oblikum, suatu perpanjangan dari tendon

m. Semimembranosus, yang memperkuat kapsula. Di anterior kapsula ini diperkuat oleh ligamentum patelae dan retinakula patelar.

Ligamentum intrakpasulare : ligamentum krusiatum terletak di dalam artikulasio genus :

1. Ligamentum krusiatum anterior—melewati bagian depan area interkondiloidea tibia ke sisi medial kondilus femoralis lateralis. Ligamentum ini mencegah hiperekstensi dan menahan gerakan ke depan tibia pada femur.

2. Ligamentum krusiatum posterior—melewati bagian belakang area interkondiloidea tibia ke sisi lateral kondilus medialis. Menjadi tegang saat hiperfleksi dan menahan pergeseran posterior tibia pada femur.

Meniskus (kartilago semilunaris) : merupakan ‘penahan guncangan’ fibrokartilaginosa berbentuk bulan sabit dalam sendi. Letaknya dalam sulkus pada permukaan artikularis kondilus tibialis. Meniskus medialis berbentuk huruf C dan lebih besar daripada meniskus

lateralis. Kedua meniskus melekat pada area interkondiloidea tibialis melalui tanduknya dan

ke arah perifer di sekitarnya oleh ligamentum koronarium kecil. Meniskus lateralis melekat

longgar ke tibia dan berhubungan dengan femur melalui dua ligamentum meniskofemorale

27
27

Pasokan darah : dari anastomosis yang kaya yang dibentuk oleh cabang genikularis a. Poplitea

Persarafan

:

dari

cabang

n.

Femoralis,

n.

Tibialis,

n.

Fibularis

komunis

dan

n.

Obturatorius.

Pergerakan lutut :

Fleksi dan ekstensi merupakan gerakan utama lutut. Sedikit rotasi bisa dilakukan bila lutut dalam keadaan fleksi namun tidak bisa dilakukan saat ekstensi. Selama tahap akhir ekstensi kondilus tibialis medialis besar masuk ke arah depan menuju kondilus femoralis untuk mengunci sendi. Sebaliknya, tahap awal fleksi melepaskan kunci sendi dengan rotasi interna kondilus tibialis medialis—gerakan ini dilakukan oleh m. Popliteus.

Otot-otot utama yang bekerja pada lutut adalah :

1. ekstensi : m. Kuadriseps femoris

2. fleksi : terutama hamstring tetapi juga m. Grasilis, m. Gastroknemius, dan m. Sartorius

3. rotasi : m. Popliteus menimbulkan gerakan rotasi interna (medial) tibia

28
28

PENDEKATAN DIAGNOSIS

Pemeriksaan yang perlu dilakukan dalam menegakkan suatu diagnosis meliputi:

1. Riwayat Penderita

Perlu dicantumkan dengan jelas data pribadi yang meliputi nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan serta alamat yang jelas.

Gejala-gejala serta tanda-tanda khusus yang ditemukan, lebih lanjut harus ditetapkan dengan menguraikan misalnya, lamanya, timbulnya kekambuhan, periodesitas misalnya waktu mulainya timbul, lamanya, timbulnya kekambuhan, periodesitas, sifat sensasi yang ditimbulkan, lokasi, penjalarannya, factor-faktor yang dapat menimbulkan eksaserbasi atau penyembuhan, gejala-gejala kegiatan lain yang ada kaitannya dan respon yang diberikan terhadap pengobatan.

ANAMNESIS

Keluhan Utama

Beberapa gejala.keluhan musculoskeletal yang membuat penderita datang untuk diperiksa adalah:

a. Trauma

Hal-hal yang perlu diketahui mengenai trauma:

b. Nyeri

Waktu terjadinya trauma

Cara terjadinya trauma

Lokalisasi trauma

Gejala yang tersering ditemukan pada kelainan bedah ortopedi dan perlu diketahui secara lengkap tentang sifat-sifat dari nyeri. Rasa nyeri berbeda dari satu individu ke individu yang lain berdasarkan atas ambang nyeri dan toleransi nyeri masing-masing penderita.

29
29

Sifat-sifat nyeri yang perlu diketahui adalah:

Lokasi nyeri : harus ditunjukkan dengan tepat oleh penderita

Karakter nyeri : apakah sifatnya tumpul, tajam

Gradasi dari nyeri (1-4)

Intensitas nyeri, apakah nyeri berkurang apabila istirahat

Aggravation; apakah nyeri bertambah berat bila beraktivitas, pada aktivitas mana nyeri bertambah apakah pada saat batuk, bersin, berdiri atau berjalan.

Pada umumnya nyeri akan bertambah berat apabila ada gerakan setempat dan berkurang apabila aktivitas.

Variasi sehari-hari; apakah pada waktu pagi/malam lebih nyeri atau lebih baik.

Tekanan pada saraf atau akar saraf akan memberikan gejala nyeri yang disebut radiating pain misalnya pada skiatika dimana nyeri menjalar mulai dari bokong sampai anggota kerak bawah sesuai dengan distribusi saraf.

Nyeri lain yang disebut nyeri kiriman atau referred pain adalah nyeri pada suatu tempat yang sebenarnya akibat kelainan dari tempat lain misalnya nyeri lutut akibat kelainan pada sendi panggul. Kelainan pada saraf akan memberikan gangguan sensabilitas berupa hipestesia, anesthesia, parestesia, hiperestesia

c. Kekakuan pada sendi

Kelainan ini bias bersifat umum misalnyapada arthritis rheumatoid, ankilosing spondilosis atau bersifat local pada sendi-sendi tertentu. Locking merupakan suatu kekuatan sendi yangterjadi secara tiba-tiba akibat block secara mekanis pada sendi oleh tulang rawan atau meniscus.

d. Pembengkakan

Pembengkakan dapat terjadi pada jaringan lunak, sendi atau tulang. Penting untuk diketahui riwayat pembengkakan yang terjadi apakah setelah suatu trauma atau tidak, apakah terjadi secara perlahan-lahan misalnya pada hematoma/hemartrosis

30
30

atau progresif dalam beberapa waktu. Pembengkakan dapat disebabkan oleh infeksi, tumor jinak atau ganas.

e. Deformitas

Dapat terjadi pada sendi, anggota gerak atau tempat-tempat lain. Deformitas dapat pada satu sendi atau lebih dari satu sendi (bersifat umum). Pada suatu trauma dimana terjadi fraktur, tulang bergeser dari tempatnya sehingga terjadi deformitas (kelainan bentuk).

Ada beberapa deformitas yang merupakan variasi dari suatu keadaan normal misalnya ukuran tubuh yang kecil (cebol) atau panggul yang lebar.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang deformitas adalah:

Waktu; sejak kapan deformitas terjadi

Perubahan; apakah deformitas semakin bertambah setelah selang waktu tertentu

Karakter/sifat-sifat deformitas; apakah bertambah dengan adanya inflamasi dan kekakuan sendi.

Kecacatan; apakah deformitas menimbulkan kecacatan dan seberapa jauh keadaan ini menimbulkan gangguan pada aktivitas sehari-hari.

Herediter; apakah ada riwayat keluarga misalnya ditemukan kelainan yang sama pada anggota keluarga lainnya.

Riwayat pengobatan; apakah deformitas terjadi setelah suatu pengobatan.

f. Ketidakstabilan sendi

Perlu diketahui apakah kelainan yang ada menyebabkan ketidakstabilan sendi dan ditelusuri juga penyebabnya apakah karena kelemahan otot atau kelemahan/robekan pada ligament dan selaput sendi.

g. Kelemahan otot

Kelemahan otot dapat bersifat umum misanya pada penyakit distrofi muskuler atau bersifat local oleh karena gangguan neurologis pada otot misalnya pada Morbus Hansen, adanya paralisis peroneal atau pada penyakit polimielitis.

31
31

Yang perlu diperhatikan pada kelainan oto adalah

Waktu dan sifatnya; apakah terjadi secara bertahap atau secara tiba-tiba

Perlu diketahui batas dari bagian tubuh yang mengalami kelemahan otot, apakah kelainan ini mengenai badan atau tungkai.

Bersifat regresi atau sepontan

Apakah disertai dengan kelainan sensoris misalnya parestesia, hipestesia atau hiperestesia

Apakah control sfingter terganggu

Apakah kelainan ini menimbulkan kecacatan

Riwayat pengobatan sebelumnya

h. Gangguan sesnsibilitas

Terjadi bila ada kerusakan saraf pada upper /lower motor neuron baik bersifat local maupun menyeluruh, gangguan sensabilitas dapat pula terjadi bila ada trauma atau penekanan pada saraf. Perlu diketahui apakah gangguan ini bertambah berat atau malah makin berkurang.

i. Gangguan atau hilangnya fungsi

Merupakan gejala yang sering ditemukan pada kelainan debah ortopedi. Gangguan atau hilangnya fungsi baik pada sendi maupun pada anggota gerak dapat disebabkan oleh berbagai sebab seperti gangguan fungsi karena nyeri yang terjadi setelah trauma, adanya kekakuan sendi atau kelemahan otot.

j. Jalan pincang

Memerlukan anamnesis dan pemeriksaan yang teliti untuk mengetahui adanya kelainan bawaan, trauma, infeksi, atau sebab-sebab lain sebelumnya.

Riwayat Penyakit sekarang

Anamnesis yang teratur dan terarah tentang kemungkinan penyakit yang diderita mengenai beberapa hal, seperti lamanya keluhan, apakah keluhan ini terus menerus atau sewaktu mengalami aktifitas, apakah ada hubungannya dengan orang lain.

32
32

Riwayat Penyakit Lain

Perlu ditanyakan penyakit-penyakit lainnya yang diserita oleh penderita apakah terjadi sebelumnya atau bersamaan dengan penyakit yang ada sekarang ini.

Riwayat Sebelum Sakit

Riwayat sebelum sakit yang perlu diketahui adalah keadaan umum sebelumnya, apakah ada penurunan berat badan atau tidak, serta hal-hal yang yang dialami sebelum sakit, yaitu:\

Riwayat

sebelumnya

diderita sekarang.

penyakit

yang

dahulu

kemungkinan

perlu

diketahui

penyakit-penyakit

hubungan

dengan

mempunyai

yang

dialami

yang

penyakit

Riwayat trauma apakah mengalami trauma yang kemungkinan trauma ini memberikan gangguan pada musculoskeletal baik berupa kelainan maupun komplikasi-komplikasi lain yang dialami saat ini.

Riwayat pengobatan penelusuran tentang obat-obatan yang digunakan oleh penderita sebelumnya perlu dilakukan karena dapat menimbulkan komplikasi misalnya pemakaian kortisol dapat menimbulkan nekrosis avaskuler pada panggul. Selain itu ditanyakan pula pada penderita tentang adanya riwayat alergi terhadap obat-obatan.

Riwayat operasi perlu ditanyakan karena kemungkinan ada hubungannya dengan keluhan sekarang seperti operasi karsinoma prostat, karsinoma mamae yang dapat memberikan metatase ke tulang dengan segala komplikasinya.

Riwayat Sistem Tubuh Lainnya

Secara sistematik dilakukan penelusuran pada organ-organ tubuh lainnya tentang adanya keluhan, kelainan-kelainan atau penyakit-penyakit yang diderita sebelumnya.

33
33

Riwayat Keluarga

keluarga

musculoskeletal berkaitan dengan kelainan genetic dan dapat diturunkan.

Penelusuran

riwayat

sangat

penting,

karena

beberapa

Latar Belakang Sosial dan Pekerjaan

penyakit

Yang perlu diketahui adalah keadaan ekonomi keluarga serta lingkungannya dan juga kebiasaan-kebiasaan lain seperti peminum alcohol. Sedangkan riwayat pekerjaan pelu diketahui karena ada pekerjaan-pekerjaan tertentu yang dapat menimbulkan cedera yang khusus atau kelainan-kelainan yang khusus pula.

PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah

1. Pemeriksaan fisik umum

Bertujuan untuk mengevaluasi keadaan fisik penderita secara umum serta melihat apakah ada indikasi penyakit lainnya selain kelainan musculoskeletal. Pemeriksaan dilakukan secara sistematik karena sebagian penderita yang datang adalah penderita yang sudah berumur dan biasanya mempunyai kelainan lain selain kelainan musculoskeletal yang dikeluhkan.

Pada beberapa penderita kadang-kadang dilakukan tindakan operasi dengan pembiusan sehingga perlu dipertimbangkan pemeriksaan secara teliti mengenai system kardiovaskuler, pernafasan, saluran kemih dan saluran pencernaan untuk keamanan dan kelamcara operasi.

2. Pemeriksaan fisik ortopedi

3. Pemeriksaan Neurologis

berupa

kelemahan otot, gangguan koordinasi serta perubahan sensibilitas. Pemeriksaan

Dilakukan

pemeriksaan

ini

apabila

ditemukan

adanya

gangguan

yang

34
34

neurologis disesuaikan dengan kelainan yang didapatkan atau dicurigai seperti kelemahan otot anggota gerak atas pada spondilosis servikal atau tetraparesis/tetraplegi setelah suatu trauma pada tulang belakang servikal.

Fungsi motoris

Pemeriksaan tonus dan kekuatan otot pemeriksaan tonus kelompok otot secara individu dilakukan dengan menggerakkan sendi-sendi. Pada pemeriksaan ini dapat diketahui adanya spastisitas atau kelemahan otot. Perlu dilakukan dan dicatat pemeriksaan kekuatan otot.

Fungsi sensoris

Pemeriksaan sensibilitas dilakukan dengan melihat apakah ada kelainan dalam sensibilitas pada daerah tertentu misalnya hiperestesia, hipestesia atau anastesia. Salah satu pemeriksaan sensibilitas misalnya pemeriksaan tanda dari Tinel untuk mengetahui distribusi saraf medianus pada pergelangan tangan. Pada pemeriksaan ini perlu dibuat gambar kelainan dan darah yang mengalami perumahan sensibilitas.

Pemeriksaan refleks

Pemeriksaan reflex baik reflex normal seperti reflex patella, reflex Achiles untuk mengetahui adanya gangguan reflex pada reflex ini, misalnya pada suatu hernia nucleus pulposus. Juga reflex patologis yang lain seperti reflex babinski.

Pemeriksaan Radiologis

Pemeriksaan radiologis meliputi

a. Pemeriksaan foto rontgen tanpa kontras

Macam-macamnya yaitu:

Pemeriksaan foto rontgen tanpa kontras Macam-macamnya yaitu: Foto polos tulang Hal-hal yang perlu diperhatikan pada foto

Foto polos tulang

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada foto polos tulang adalah:

1. Densitas tulang (baik local/menyeluruh) apakah berkurang atau mengalami penipisan (refraksi) atau malah bertambah (sklerosis) baik secara local maupun menyeluruh

2.

Korteks dan medulla tulang diperhatikan secara teliti

35
35

3.

Hubungan antara kedua tulang diperhatikan apakah ada dislokasi atau tidak

4. Kontinuitas tulang dinilai untuk melihat apakah terdapat fraktur.

5. Kontur umum tulang untuk melihat adanya deformitas

6. Melihat adanya penebalan tulang rawan sendi dan besarnya ruangan sendi.

7. Perubahan jaringan lunak dinilai apakah ada pembengkakakn atau artrofi

8. Pada penyakit-penyakit tertentu sering dilakuakn pemeriksaan foto polos seluruh tulang yang disebut bone survey yang terutama digunakan untuk melihat adanya penyebaran atau metastasis pada tulang seperti pada kasus-kasus tumor tulang primer misalnya myeloma multiple.

Xeroradiografikasus-kasus tumor tulang primer misalnya myeloma multiple. Merupakan pemeriksaan foto polos te tapi menggunakan film

Merupakan pemeriksaan foto polos tetapi menggunakan film khusus dimana densitas tulang ditransfer pada suatu lapisan plastic sebagai gambaran positif . xeroradiografi terutama untuk melihat densitas jaringan lunak, erosi subperiosteal, kalsifikasi jaringan lunak dan hasilnya harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan radiologis lainnya.

Tomografiharus dikonfirmasi dengan pemeriksaan radiologis lainnya. Berguna untuk melihat kelainan pada lapisan-lapisan

Berguna untuk melihat kelainan pada lapisan-lapisan tertentu dari tulang melalui irisan-irisan tulang pada ketebalan tertentu lapis demi lapis.

b. Pemeriksaan radiologis dengan media kontras

Teknik ini mempergunakan cairan kontras yang disuntikkan diantara ruang antar jaringan sebelum foto dilakukan. Melalui gambaran lontras pada foto, dapat dinilai dengan jelas batas-batas dari lesi.

Macam-macamnya yaitu:

o Sinografi digunakan untuk melihat batas dan lokasi dari sinus

36
36

o

Artrografi berguna untuk melihat batas ruang sendi

o

Mielografi pemerisan cairan media ke dalam teka spinalis. Demikian pula radiokulografi dengan penggunaan kontras yang larut dalam air juga bertujuan untuk menilai keadaan saraf khususnya pangkal saraf.

c. Pemeriksaan radiologis khusus

Macam-macamnya yaitu:

Computed Tomography (CT scan)

Dilakukan melalui scanning dari beberapa arah menggunakan detector untuk melihat potongan melintang objek (misalnya anggota gerak atas) yang ditampilkan melalui osiloskopi dengan dinsitas objek yang bervariasi.

Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Pemeriksaan radiologis yang mirip CT-scan. Pencitraan yang dihasilkan berupa potongan-potongan melintang dari obyek yang diperiksa. MRI menggunakan frekuensi radio dan medan magnetic tanpa menggunakan radiasi ionisasi (zat pengion). MRI dan CT-scan keduanya merupakan pemeriksaan non-invasif dan tidak ada bahaya radiasi bagi penderita. Kekurangannya kedua pemeriksaan ini masih merupakan pemeriksaan yang mahal bagi penderita.

Radioisotope Scanning

Dimanfaankan secara luas dalam bedah ortopedi. Pada saat ini zat kontras yang digunakan 99m technectium dengan diposponate yang disuntikkan secara IV dan dievalusi dengan kamre gamma atau whole body rectilinear scanner. Terjadi difus bahan radioisotope dengan cepatdari darah dimana konsentrasi bahan kontras pada daerah lesi terlihat lebih tinggi sehingga aktivitas osteogenik dapat diamati.

Pemeriksaan Ultrasound

Menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi dan tidak menimbulkan efek ionisasi. Gelombang suara akan dipantulkan oleh objek dibawahnya dan kemudian diolah oleh transducer sehingga menghasilkan bayangan.

37
37

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan laboratorium merupakan salah satu data yang diperlukan untuk melakukan diagnosis yaitu melalui pemeriksaan laboratorium dari bahan cairan seperti pemeriksaan hematologi, biokimia, sel-sel dan imunologi.

1. Pemeriksaan darah dan serum

Pemeriksaan darah meliputi pemeriksaan hemoglobin, sel darah putih, sel darah

merah, hitung diferensiasial, laju endap darah, uji bekuan darah, pemeriksaan asam urat dan kultur daerah serta pemeriksaan darah lain yang dianggap ada hubungannya. Pemeriksaan serum meliputi serum kalsium, fosfor inorganic, alkali fosfatase, asam fosfatase, protein, pemeriksaan imunologis dan pemeriksaan serologi seperti uji Wassermann, uji Mantoux, uji Rose-Waaler untuk arteritis

rheumatoid.

2. Pemeriksaan urin

Meliputi pemeriksaan makroskopis, albumin, glukosa, sel, kalsium dan fosfor urin, kultur urin dan uji khusus urin seperti Bence Jones untuk penyakit myeloma

multiple.

3. Pemeriksaab cairan serebrospinal

Meliputi pemeriksaan makroskopis, tekanan, protein, jumlah sel serta kultur.

4. Pemeriksaan cairan synovial

Meliputi pemeriksaan makroskopis, sel, kultur dan glukosa.

5. Pemeriksaan cairan abnormal lainnya

Meliputi pemeriksaan cairan efusi, eksudat, makroskopis, sel, apusan, biakan dan mungkin perlu uji kepekaan kuman (uji sensitivitas).

6. Pemeriksaan jaringan (Biopsi)

Biopsy jaringan lunak atau tulang penting artinya untuk melakukan diagnosis secara histopatologis. Ada 2 cara biopsy yang dapat dilakukan yaitu:

a. Biopsy tertutup

b. Biopsy terbuka

38
38

Pendekatan Diagnosis dari Skenario

Berdasarkan scenario didapatkan pasien mengalami kecelakaan, dengan posisi lutut pasien jatuh terlebih dahulu menyentuh tanah, jadi dari mekanisme jatuhnya kemungkinan pasien mengalami fraktur pada bagian patella.

Selain itu pasien juga tampak ekstremitas bawahnya asimetris dengan bagian kanan lebih panjang daripada bagian kiri, dan terdapat juga terlihat fleksi pada sendi lutut dan panggul kiri, rotasi internal dan adduksi sendi panggul. Dari keadaan tersebut kemungkinan pasien mengalami dislokasi sendi panggul, yang membuat ekstremitas asimetris, terlihat fleksi pada sendi lutut dan panggul serta rotasi interna dan adduksi sendi panggul, namun tidak menutup kemungkinan pasien juga dapat mengalami dislokasi pada sendi lutut.

Dan dari skeranio juga didapatkan laserasi sepanjang 10 cm. dan kemungkinan laserasi tersebut dapat diakibatkan oleh goresan benda-benda disekitar pasien saak kecelakaan.

39
39

PENANGANAN AWAL TRAUMA

Primary Survey

Primary survey (pemeriksaan Dini) adalah adalah pemeriksaan awal terhadap pasien trauma. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menjaga kelangsungan hidup seseorang sehingga harus segera dilaksanakan. Primary survey meliputi :

Pemeriksaan kesadaran korban, dengan menggunakan Glasgow comma scale.

Pemeriksaan saluran Nafas (airway), yang bertujuan untuk membebaskan dan membuka jalan nafas. Pemeriksaan ini dilakukan dengan metode jaw thrust atau head-tilt-chin-lift kemudian lakukan pembersihan jalan nafas jika terdapat sumbatan. Patensi jalan nafas harus tetap dijaga sambil melakukan pemeriksaan nafas dan sirkulasi. Jika terdapat kemungkinan adanya cedera medulla spinalis region cervicales, perlu dilakukan imobilisasi leher dengan segera dan pembukaan jalan nafas dilakukan Jaw-thrust (karena hanya membuka mulut dengan mendorong rahang tanpa menggerakkan leher dan kepala).

Periksa nafas (breathing), untuk mengetahui apakah korban bernafas atau tidak. Pemeriksaan ini terdiri dilakukan dengan cara mendekatkan telinga dan pipi penolong kehidung korban dan mata penolong melihat kea rah perut dan dada korban (Look,Listen And Feel),yang bertujuan untuk melihat adanya tanda kesulitan atau tanda pernafasan (gerakan dinding dada dan otot bantu pernafasan), melihat ada sumbatan pada jalan nafas mendengar suara nafas korban untuk mengetahui ada sumbatan atau tidak, dan rasakan hembusan nafas korban dan gerakan nafasnya.

Pemeriksaan sirkulasi darah (Circulation), pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah jantung dan sirkulasi berkerja dengan baik. Pemeriksaan dilakukan dengan meraba arteri karotis selama 3-5 detik untuk menilai ada tidaknya pulsasi kemudian nilai denyutannya.

Resusitasi dilakukan untuk menjaga nafas dan sirkulasi korban agar tetap stabil. Resusitasi yang diberikan antara lain ventilasi tekanan positif untuk memberikan

40
40

bantuan nafas pada korban, resusitasi jantung paru, atau pemberian resusitasi cairan pada korban yangmenglami syok hipovolemik.

Periksa kecacatan atau kemampuan fungsional tubuh korban (disability) yang bertujuan untuk menilai kondisi pasien (terutama kondisi neurologis). Pada pemeriksaan ini dilakukan penilaiankesadaran,orientasi,fungsi ekstremitas (untuk menilai ada tidaknya fraktur atau hipoastesia), dan pemeriksaan neurolneurologisogis untuk mencari tanda deficit lainnya seperti pemeriksaan reflex pupil, pemeriksaan keseimbangan dan sebagainya.

Periksa paparan lainnya (exposure), yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk mencari adanya tanda kegawatan lainnya yang belum tampak. Jika terdapat sumber perdarahan lainnya maka harus segera dihentikan, kerusakan pada jaringan lunak,cedera vascular dan tanda trauma lain harus segera ditangani. Pemeriksaan fisik dilakukan secara menyeluruh dimulai dari kepala hingga kaki dengan urutan sebagai berikut:

o

Pemeriksaan tanda Vital (nadi, tekanan darah, suhu tubuh, nafas, dan tes CRP)

o

Pemeriksaan kepala

o

Pemeriksaan mata

o

Pemeriksaan hidung

o

Pemeriksaan leher

o

Pemeriksaan dada

o

Pemeriksaan perut

o

Pemeriksaan panggul

o

Pemeriksaan ekstremitas

o

Pemeriksaan punggung

Dinilai apakah ada nyeri, keterbatasan gerakan, sirkulasi, tanda trauma seperti laserasi, hematoma, fraktur, apakah ada pelebaran vena, perdarahan, kehilangan sensasi sentuhan perabaan atau nyeri, dan lainnya. Lakukan pemeriksaan penunjang dengan segera untuk mengetahui kondisi korban.

41
41

Secondary Survey:

a. Mekanisme trauma, diperlukan untuk memperkirakan dan mengetahui cedera lain yang belum tampak dan bagaimana proses terjadinya trauma. Info yang perlu ditanyakan kepada keluarga atau saksi mata adalah :

i. Dimana posisi korban saat terjadinya kecelakaan, apakah korban adalah pengemudi, penumpang, pejalan kaki dsb.

ii. Bagaimana posisi korban saat terjadinya kecelakkaan, apakkah korban terhempas, terlempar keluar, tertabrak, jatuh dari ketinggian dan bagaimana mendaratnya, membentur sesuatu atau terlindas dsb.

iii. Pada pasien yang mengendarai kendaraan perlu ditanyakan posisinya dalam kendaraan sewaktu kecelakaan, kondisi kendaraan setelah kecelakaan dan arah tabrakan, apakah ada kerusakan bagian dalam kendaraan, apakah korban menggunakan seat belt

iv. Apakah ada ledakan dan seberapa besar ledakan tersebut?, berapa jauh jarak korban dengan sumber ledakan?

1. Dekat kemungkinan pasien menerima dampak langsung dari ledakan (cedera primer) atau pasien terlempar dan membentur sesuatu (cedera ledakan tertier)

2. Cukup jauh kemungkinan pasien menderita cedera akibat benda- benda yang terlempar akibat ledakan (cedera sekunder).

b. Lingkungan, orang atau petugs medis pertama yang merawat korban harus ditanya mengenai:

i. Apakah penderita mengalami trauma termal(panas/dingin)?

ii. Apakah korban terkena gas atau zat beracun/berbahaya?

iii. Apakah pasien terkontaminasi kotoran, zat berbahaya, pecahan kaca dst?

iv. Adakah masalah awal yang dialami dalam merawat pasien?

c. Keadaan pasien sebelum trauma dan factor predisposisi lainnya diperlukan untuk menentukan cara terapi yang akan digunakan, mengidentifikasi penyulit dan memperkirakan hasil terapi. Hal-hal yang harus ditanyakan diantaranya:

42
42

i. Kemampuan fisik pasien dan tingkat aktivitas pasien.

ii. Penggunaan obat dan alcohol

iii. Masalah emosional yang dialami

iv. Riwayat trauma sebelumnya dan terapi yang diberikan

v. Riwayat kesehatan pasien

vi. Riwayat lainnya

d. Observasi keadaan pasien.

43
43

FRAKTUR

a. Definisi Fraktur Dan Mekanisme Trauma

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh trauma. Trauma yang menyebabkan fraktur dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.

Akibat trauma pada tulang tergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya. Trauma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah dengan luka terbuka sampai ke tulang yang disebut fraktur terbuka. Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi. Tekanan kronis berulang dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan fraktur yang kebanyakan pada tulang tibia, fibula atau metatarsal pada olahragawan, militer maupun penari. Kelemahan tulang yang abnormal karena adanya proses patologis seperti tumor maka dengan energi kekerasan yang minimal akan mengakibatkan fraktur yang pada orang normal belum dapat menimbulkan fraktur atau osteoporosis.

b. GEJALA DAN TANDA

Manifestasi klinis fraktur adalah didapatkan adanya riwayat trauma, hilangnya fungsi, tanda-tanda inflamasi yang berupa nyeri akut dan berat, pembengkakan lokal, kemerahan, perubahan warna, dan panas pada daerah tulang yang patah. Selain itu ditandai juga dengan deformitas, dapat berupa angulasi, rotasi, atau pemendekan, serta krepitasi. Apabila fraktur terjadi pada ekstremitas atau persendian, maka akan ditemui keterbatasan lingkup gerak sendi. Pseudoartrosis dan gerakan abnormal.

44
44

Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis adalah pemeriksaan X-foto, yang harus dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu anterior-posterior dan lateral. Dengan pemeriksaan X-foto ini dapat dilihat ada tidaknya patah tulang, luas, dan keadaan fragmen tulang. Pemeriksaan ini juga berguna untuk mengikuti proses penyembuhan tulang.

Diagnosis fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik dan pemeriksaan sinar-x pasien. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut. Bila berdasarkan pengamatan klinis diduga ada fraktur, maka perlakukanlah sebagai fraktur sampai terbukti lain.

c. Klasifikasi Fraktur

Fraktur berdasarkan derajat atau luas garis fraktur terbagi atas : complete, dimana tulang patah terbagi menjadi dua bagian (fragmen) atau lebih, serta incomplete (parsial). Fraktur parsial terbagi lagi menjadi:

1. Fissure/Crack/Hairline – tulang terputus seluruhnya tetapi masih tetap di tempat, biasa terjadi pada tulang pipih

2. Greenstick Fracture – biasa terjadi pada anak-anak dan pada os radius, ulna, clavicula, dan costae

3. Buckle Fracture – fraktur di mana korteksnya melipat ke dalam

Berdasarkan garis patah/konfigurasi tulang dibagi menjadi :

1. Transversal – garis patah tulang melintang sumbu tulang (80-100 o dari sumbu tulang)

2. Oblik – garis patah tulang melintang sumbu tulang (<80 o atau >100 o dari sumbu tulang)

45
45

3.

Longitudinal – garis patah mengikuti sumbu tulang

4. Spiral – garis patah tulang berada di dua bidang atau lebih

5. Comminuted – terdapat 2 atau lebih garis fraktur

5. Comminuted – terdapat 2 atau lebih garis fraktur Berdasarkan hubungan antar fragmen fraktur: a. Undisplace

Berdasarkan hubungan antar fragmen fraktur:

a. Undisplace – fragmen tulang fraktur masih terdapat pada tempat anatomisnya

b. Displace – fragmen tulang fraktur tidak pada tempat anatomisnya, terbagi atas:

- Shifted Sideways – menggeser ke samping tapi dekat

- Angulated – membentuk sudut tertentu

- Rotated – memutar

- Distracted – saling menjauh karena ada interposisi

- Overriding – garis fraktur tumpang tindih

- Impacted – satu fragmen masuk ke fragmen yang lain

Secara umum, berdasarkan ada tidaknya hubungan antara tulang yang fraktur dengan dunia luar, fraktur juga dapat dibagi menjadi 2, yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Disebut fraktur tertutup apabila kulit di atas tulang yang fraktur masih utuh. Sedangkan apabila kulit di atasnya tertembus dan terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan dunia luar maka disebut fraktur terbuka, yang memungkinkan

46
46

kuman dari luar dapat masuk ke dalam luka sampai ke tulang yang patah sehingga cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi.

sehingga cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi. Fraktur Terbuka Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat ya

Fraktur Terbuka

Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat ringannya luka dan berat ringannya fraktur.

Derajat Patah Tulang Terbuka Menurut Gustillo dan Anderson (1976)

Patah Tulang Terbuka Menur ut Gustillo dan Anderson (1976) Kemudian Gustillo et al. (1984) membagi tipe

Kemudian Gustillo et al. (1984) membagi tipe III dari klasifikasi Gustillo dan Anderson (1976) menjadi tiga subtipe, yaitu tipe IIIA, IIIB dan IIIC.

IIIA terjadi apabila fragmen fraktur masih dibungkus oleh jaringan lunak, walaupun adanya kerusakan jaringan lunak yang luas dan berat.

47
47

IIIB fragmen fraktur tidak dibungkus oleh jaringan lunak sehingga tulang terlihat jelas atau bone expose, terdapat pelepasan periosteum, fraktur kominutif. Biasanya disertai kontaminasi masif dan merupakan trauma high energy tanpa memandang luas luka.

III C terdapat trauma pada arteri yang membutuhkan repair agar kehidupan bagian distal dapat dipertahankan tanpa memandang derajat kerusakan jaringan lunak.

Klasifikasi lanjut fraktur terbuka tipe III (Gustillo dan Anderson, 1976) oleh Gustillo, Mendoza dan Williams (1984)

Anderson, 1976) oleh Gustillo, Mendoza dan Williams (1984) MEKANISME PENYEMBUHAN FRAKTUR Terdapat beberapa tahap

MEKANISME PENYEMBUHAN FRAKTUR

Terdapat beberapa tahap penyembuhan tulang setelah terjadinya fraktur,berikut ini tahapan- tahapan tersebut

1. Pembentukan hematom

Hematom ini terbentuk dari pembuluh darah pada periosteum yang pecah saat terjadi trauma atau fraktur pada tulang tersebut. Hemato ini merupakan suatu massa dimana terjadi penumpukan darah dalam suatu organ atau ruang. Hematom ini akan membentuk klot karena mengandung protein fiber yang nantinya dapat menghentikan perdarahan. Selain terbentunya hematom, pembuluh darah yang robek sekitar periosteum ini akan memberikan keuntungan tersendiri karena membantu memberikan vaskularisasi yang baik bagi osteosit tulang yang terjadi fraktur. Proses inflamasi akan terjadi dan akan membantu penyembuhan awal dari tulang tersebut

48
48

2.

Pembentukan callus

Kalus(callus) merupakan suatu massa yang terbentuk pada sisis pertemuan tulang yang mengalami fraktur dan dapat menghubungkan kembali tulang tersebut. Kalus yang terbentuk ini dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu interna dan eksterna. Kalus interna merupakan kalus yang terbentuk pada kedua sisi dalam dari tulang yang terputus biasanya pada bagian sumsum tulang tersebut. Makanisme terbentuknya kalus ini dimulai dari pembersihan sel-sel debris dari sisa-sisa klot yang terbentuk oleh makrofag, pembersihan jaringan tulang yang mati oleh osteoklas dan pembentukan kolagen dan material ekstrasel oleh fibroblast untuk membentuk jaringan grabulasi. Produksi kolagen oleh fibroblast terus berlanjut dan membentuk jaringan yang lebih tebal yang dapat mengaitkan kedua sisi tulang yang patah tersebut. Kondroblas yang berasal dari sel progenitor osteokondral mulai membentuk kartilago pada jaringan ikat yang telah terbentuk sebelumnya. Selama proses tersebut berlangsung sel progenitor osteokondral dalam endoosteum menjadi osteoblast dan akhirnya membentuk tulang yang pada kalus interna tersebut. Kalus eksterna merupakan kalus yang terbentuk mengelilingi sekitar fragmen tuang yang fraktu. Sel osteokondral progenitor pada periosteum berubah mejadi osteoblast yang akan memproduksi tulang dan kondroblas yang akan menjadi kartilago. Kalus eksternaini berparan sebagai penyanggah kadua tulang yang mengalami fraktur tersebu.

3. Osifikasi kalus

Kalus yang sudah terbentuk mulai menjadi anyaman dan proses osifikasi dimulai. Osteoblast dari pada periosteum dan endoosteum masuk ke kalus interna dan membentuk tulang.

4. Remodeling tulang

Proses remodeling ini berlabgsung cukupa lama dan mungkin belum komplit dala satu tahun. Pada proses ini kalus interna menjadi semakin kuat dan kalus eksterna akan mengalami pengurangan ukuran yang dibantu oleh aktivitas osteoklas.

49
49
Prognosis Prognosis dari terauma bergantung dari meka nika trauma yang dialami pasien. Semakin besar energy

Prognosis

Prognosis dari terauma bergantung dari mekanika trauma yang dialami pasien. Semakin besar energy yang diterjadi ketika trauma maka cedera yang dialami juga akan semakin parah, begitu juga dengan bagian tubuh mana yang terkena terlebih dahulu dan tubuh akan terkena benda apa ketika trauma, hal itu akan menentukan tingkat keparahan dari suatu trauma.

Selain itu semakin cepat penanganan emergency yang dilakukan, maka prognosisnya akan semakin baik, namun tidak hanya itu saja dengan teknik imobilisasi dan reposisi awal yang baik, maka akan menghasilkan prognosis yang baik pula.

50
50

DISLOKASI

Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.

Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen- ligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi.

SUBLUKSASI

Sublukasi adalah keadaan di mana satu atau lebih tulang keluar dari posisinya dan menghasilkan tekanan dan mengiritasi nervus. Iritasi nervus bisa menyebabkan malfungsi dan mengganggu transmisi sinyal pada nervus tersebut sehingga sebagian fungsi dari tubuh (motorik) menjadi terhambat dan terjadi inabilitas dari tubuh.

51
51

SPASME

Spasme otot atau cramp adalah kontrkasi involunter pada otot. Spasme otot terjadi dengan tiba-tiba dan menghilang dengan sendirinya, biasanya bersifat nyeri.

Etiologi

Spasme otot dapat terjadi ketika otot hiperaktivitas dan lelah, secara partikuler terjadi overstretch pada otot. Sebagai efeknya, sel otot menjadi hyperexitable dan saat itulah terjadi kontraksi involunter.

Hiperaktivitas otot biasanya terjadi pada mereka yang menjadi atlet dan biasanya melakukan latihan pada lingkungan yang panas sehingga menimbulkan hiperaktivitas Dari otot ototnya tersebut. Bias juga terjadi pada pekerja konstruksi. Spasme biasanya terjadi pada otot yang besar yang sering dipakai untuk bekerja.

Dehidrasi juga dapat menyebabkan spasme otot, karena otot memerlukan air, glukosa, sodium, potassium, kalsium, dan magnesium untuk sel otot berinteraksi dan melakukan gerakan dan kontraksi. Suplai yang abnormal (misalnya karena dehidrasi) bias menyebabkan terjadinya spasme otot.

Aterosklerosis pada arteri bisa menyebabkan terjadinya spasme otot karena inadekuat suplai darah dan nutrient yang dikirimkan kepada sel otot. Selain itu penyakit sistemik seperti diabetes, penyakit ginjal, tiroid, dan anemia bisa menjadi potensila menimbulkan spasme otot.

Pada smooth muscle juga bisa terjadi spasme, contohnya pada kasus diare yaitu di mana otot pada dinding kolon menjadi spasme ketika sebelum terjadinya watery bowel movement.

Gejala

Gejala spasme otot tergantung dari otot yang terlibat dan gerakan otot tersebut sehingga menyebabkan spasme. Biasanya terjadi kontraksi involunter yang dapat dilihat di bawah

52
52

kulit. Menimbulkan rasa nyeri dan rasa nyeri serta spasmenya itu sendiri bisa menghilang dengan sendirinya.

Diagnosis

Ditanyakan kapan terjadinya, waktu terjadinya (berapa lama), frekuensinya, area terjadinya spasme. Ditanyakan juga informasi tentang penggunaaan obat-obatan tertentu, suplemen makanan, riwayat penyakitnya seperti penyakit sistemik DM, aterosklerosis, hipotiroidisme, dan penyakit ginjal.

Jika pasien mengeluh spasme pada ototnya, dilakukan palpasi untuk merasakan pulsasi pada otot tersebut.

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah hitung darah lengkap untuk mwncari adanya anemia, elektrolit (khususnya sodium, potassium, calcium dan magnesium), glukosa dan kreatinin (untuk menilai fungsi ginjal), serta dilakukan tes fungsi tiroid.

Jika spasme diperkirakan penyebabnya adalah gangguan otot dan nervus dilakukan pemeriksaan elektromiografi (EMG).

Untuk nyeri yang didapatkan dari spasme otot halus dan nyeri bersifat berat, pasien masuk ke golongan emergensi. Kolik renal dan nyeri gallbladder memerlukan medikasi nyeri narcosis dan antinausea.

Tatalaksana

Pencegahan adalah kunci untuk menghindari terjadinya spasme. Jika terjadi dehidrasi, maka pasien diminta untuk melakukan rehidrasi. Hilangnya cairan pada demam, mual-muntah, dan diare bisa dikendalikan dengan memberikan rehidrasi pada pasien.

Pengobatan dilakukan bedasarkan kausa terjadinya spasme otot itu sendiri. Jika hiperkativitas, pasien diberikan rehidrasi dan diminta beristirahat.

53
53

Pada distonia medikasi dilakukan untuk mengembalikan keseimbangan neurotransmitter otak. Obat-obatan yang mungkin diberikan adalah:

Antiparkinson: triheksifenidil HCl dan benztropin mesilat (Congentin) untuk mengurangi aseltilkolin.

Relaksan otot seperti diazepam (valium) dan baklofen (lioresal) untuk reseptor GABA.

Levodpa dan reserpin untuk memberikan efek pada level dopamine.

Carbamezepin jika terjadi kejang.

Botulinum toxin type A diinjeksikan pada otot yang spasme untuk memparalisis otot yang spasme tersebut.

54
54

TRAUMA JARINGAN LUNAK

1) Luka superfisial

Aberasi

Aberasi adalah luka yang disebabkan oleh trauma superfisial pada kulit, biasanya oleh karena gesekan dan dapat sembuh spontan dengan sedikit jaringan parut. Setiap benda asing atau kotoran sebaiknya dikeluarkan karena dapat melekat di dalam kulit. Pengobatannya adalah penggunaan verban untuk proteksi luka dan pemberian antiseptik.

Luka insisi

Luka insisi yang bersifat superfisialbiasanya tanpa kontaminasi. Harus diperhatikan apakah luka insisi ini hanya terbatas pada kulit atau lebih dalamyang dapat mengenai tendo, pembuluh darah, atau saraf.

Luka laserasi

Luka laserasi adalah luka luas yang dapat bersifat bersih seperti pada luka insisi tetapi dapat juga oleh karena trauma yang bersifat tumpul yang membentuk hematoma pada jaringan lunak.

Pengobatan

semua jaringan yang mati dan benda asing harus di eksisi dan luka harus ditutup. Perlu dilakukan pemeriksaan radiologis apabila terdapat kecurigaan akan adanya benda asing seperti metal, gelas, atau batu yang bersifat rdio-opak.

2) Luka dalam

Luka dalam dapat disebabkan oleh laserasi atau luka bakar karena bermacam sebab seperti listrik. Dapat mengenai beberapa lapisan jaringan mulai dari kulit sampai lapisan yang lebih dalam.

55
55

Pengobatan

Pada luka dalam kemungkinan terjadi keruskan jaringan lunak, oleh karena itu perlu dilakukan eksplorasi untuk melihat kemungkinan kerusakan yang ada. Seluruh jaringan yang rusak dikeluarkan seperti pada luka alserasi.

3) Luka tembak

Luka tembak ada dua, yaitu :

Luka tembak dengan kecepatan rendah

Pada luka ini ditemukan batas yang jelas dengan kerusakan jaringan beberapa milimeter diluar dari saluran luka. Luka biasanya tidak serius, kecuali jika ada kerusakan organ vital. Pengobatan berupa eksisi jaringan yang mati sampai jaringan yang sehat. Apabila luka disertai dengan fraktur maka dapat dilakukan pengobatan sesuai dengan pengobatan standar. Luka dapat ditutup dengan beberapa jahitan saja.

Luka tembak dengan kecepatan tinggi

Biasanya peluru masuk dan menimbulkan luka yang kecil tetapi kerusakan jaringan lunak yang sangat luas dapat menimbulkan kavitasi. Pengobatan dengan melakukan eksisi luka serta jaringan matiyang luas dan sebaiknya luka dibiarkan terbuka.

Pada setiap luka sebaiknya diberikan toksoid antitetanus apabila sudah memperoleh imunisasi dasar dan apabila tidak memperoleh imunisasi dasar maka diberikan serum antitetanus.

4) Trauma pada ligamen

Trauma pada sendi juga dapat menyebabkan kerusakan atau robekan pada ligamen yang bersifat total atau parsial. Robekan pada ligamen yang bersifat parsial disebut strain. Robekan pada ligamen sering ditemukan pada lutut dan pergelangan kaki.

56
56

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesisi yang baik, gambaran klinis serta pemeriksaan rontgen secara stres dengan anastesi umum.

Pengobatan

Robekan parsial biasanya mmerlukan pengobatan yang sederhana. Pada stadium akut, ditemukan rasa nyeri yang hebat dan dilakukan imobilisasi dengan perban elastik serta analgetik. Biasanya nyeri yang timbul lebih hebat, dapat dilakukan pemasangan gips. Dalam 24 jam pertama diatasi dengan pemberian kompres es/air dingin secara berulang-ulang. Penyembuhan biasanya setelah 28 minggu.

Robekan yang total perlu dilakukan aposisi pada kedua ujung ligamen dengan cara operasi, diikuti imobilisasi daerah yang terkena dengan pemasangan gips. Waktu pemasangan gips 2-4 minggu kemudian dilakukan rehabilitasi.

5) Trauma pada tendo

Robekan pada tendo terutama terjadi akibat trauma tajam misalnya pecahan kaca dan paling sering ditemukan pada daerah pergelangan tangan dan jari-jari. Robekan juga dapat terjadi pada tendo-tendo besar seperti tendo achilles karena cedera olah raga.

Pengobatan

Pada luka yang bersih dapat dilakukan penjahitan primer dan pada luka yang kotor dapat ditunda untuk beberapa minggu. Tendo yang mengalami luka laserasi terbuka sebaiknya diusahakan ditutup dengan full thickness skin graft. Penjahitan tendo dapat dilakukan dengan teknik yang tersedia. Setelah penjahitan dilakukan pemasangan gips 3-6 minggu.

6) Trauma pada pembuluh darah

Trauma pada pembuluh darah dapat dibagi menjadi 3 kategori :

Vasospasme

57
57

Robekan tidak total

Robekan total

Akibat yang terjadi dari komplikasi pembuluh darah :

Gangguan sirkulasi yang bersifat sementara

Gangguan sirkulasi yang bersifat permanen karena kerusakan pembuluh darah atau trombosis

Aneurisme traumatik

Lokalisasi daerah trauma pembuluh darah

Trauma arteri aksilaris biasanya terjadi pada dislokasi sendi bahu atau fraktur dislokasi sendi bahu/fraktur leher humerus.

1. Arteri brakilais

Trauma

suprakondiler humerus.

arteri

ini

biasanya

2. Arteri radialis

terjadi

pada

fraktur

fraktur

humerus

dan

fraktur

Trauma arteri radialis terjadi pada fraktur radius distal dengan pemindahan fragmen ke depan dari fragmen distal (fraktur smith)

3. Pembuluh darah pelvik

Trauma pembuluh darah pelvik terjadi pada trauma tekanan atau trauma lain yang hebat pada daerah panggul.

4. Arteri femoralis

Trauma arteri femoralis biasanya terjadi jika terjadi fraktur pecah-pecah/hancur pada batang os. femur.

5. Arteri poplitea

Trauma arteri poplitea terjadi apabila terdapat dislokasi sendi lutut, fraktur 1/3 proksimal tibia, atau fraktur distal femur.

58
58

Gambaran klinis

Perlu dibandingkan perabaan dan denyutan arteri antara bagian bagian yang sakit dan yang sehat. Bagian distal mengalami iskemi, dingain, dan bengkak. Perlu diraba arteri radialis, arteri dorsalis pedis/arteri tibialis posterior. Juga diperiksa ritme kapiler pada jari-jari.

Pengobatan

Apabila terdapat faraktur atau dislokasi, reduksi harus dilakukan secepatnya baik secara terbuka atau tertutup. Bila perlu dapat dilakukan eksplorasi pembuluh darah untuk melihat tingkat kerusakannya.

Ganggren iskemik

Ganggren iskemik merupakan kelainan dimana terjadi kematian jaringan karena kerusakan pembuluh darah. Ganggren iskemik dapat disebabakan oleh :

Pemasangan verban yang ketat

Pemasangan tornikuet yang terus menerus

Kerusakan pembuluh darah bersama-sana fraktur

Fraktur terbuka disertai infeksi dan kerusakan pembuluh darah

Pengobatan yang tidak adekuat atau reposisi farktur yang jelek (iatrogenik)

Gambaran klinis

Warna kulit hitam kecoklatan, dingin, dan membengkak

Dapat terjadi pelepuhan pada kulit dan terkelupasnya kulit

Gangguan fungsi dan sensasi dari kulit dan bau busuk

Hiperpireksia

Penderita terlihat toksik dan mengalami dehidrasi sampai syok

Infeksi dan pembusukan pada jaringan

59
59

Ditemukan krepitasi apabila ada gas ganggren

Takikardi dan penurunan tekanan darah

Pernapasan yang cepat

Pengobatan

Resusitasi penderita secepat mungkin

Nekrotomi yang luas atau bila perlu dilakukan amputasi

Pemberian antibiotik yang adekuat

Trauma pada vena

Trauma pada vena terutama vena besar dapat bersifat total atau parsial yang dapat disebabkan oleh tusukan fragmen tulang pada fraktur yang bergeser. Trauma dapat pula terjadi oleh karena luka tembak yang menembus jaringan lunak dari luar.

Penngobatan

Trauma pada vena besar harus diperbaiki oleh karena akan menimbulkan komplikasi dikemudian hari berupa kongesti vena bagian distal.

Sindrome kompartemen

Setelah terjadi trauma terutama pada tungkai bawah khususnya fraktur tertutup, terjadi hambatan pada vena dan kompartemen fasia yang akan memberikan efek balik sehingga terjadi penekanan pada pembuluh darah arteri.

Gambaran klinis

Pada tingkat awal terjadi nyeri yang hebat pada tungkai, tidak dapat melakukan dorsofleksi pada jari-jari kaki, dan rasa nyeri secara pasif, kemudian tungkai menjadi pucat dan membengkak. Pada tingkat lanjut terjadi perubahan pada saraf dan otot sehingga menyebabkan nekrosis pada otot yang bersifay ireversible.

60
60

Pengobatan

Pada tingkat awal semua gips dan verban yang mengikat dan menekan dilepaskan dan bila tidak berhasil segera dilakukan fasiotomi.

61
61

DIAGNOSIS BEDAH ORTOPEDI (FRAKTUR, DISLOKASI, SUBLUKSASI)

Suatu diagnosis pada kasus ortopedi dapat ditegakkan melalui beberapa tahapan pemeriksaan dan untuk itu seorang dokter dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan disamping pengalaman yang baik.

Pemeriksaan diawali dengan menanyakan riwayat penderita (anamnesis) dan dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan-pemeriksaan tertentu berdasarkan kebutuhan yang diperlukan.

Data yang dihasilkan kemudian dipadukan dan dianalisa sehingga suatu diagnosis yang baik dapat ditegakkan, yang merupakan dasar/ tuntunan dalam melakukan pengobatan pada penderita. Pemeriksaan yang dilakukan dalam menegakkan suatu diagnosis meliputi:

1. Anamnesis

2. Pemeriksaan Fisik

3. Pemeriksaan Neurologist

Pada penderita kelinan ortopedi perlu dilakukan pemeriksaan neurologist lengkap apabila ditemukan adanya gangguan yang berupa kelemahan otot, gangguan kordinasi serta perubahan sensitabilitas.

Pemeriksaan neurologist disesuaikan dengan kelainan yang didapatkan atau dicurigai kelemahan otot anggota gerak atas pada spondilosis servikal atau tetraparesis setelah suatu trauma pada tulang belakan servikal. Selain itu harus diperiksa adanya gambaran kelainan pada anggota gerak misalnya claw hand, drop foot, atau adanya atrofi otot pada daerah tertentu.

Fungsi motoris

Pada pemeriksaan motoris, hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah pemeriksaan tonus dan kekuatan otot. Pemeriksaan tonus otot secara

62
62

individual dilakukan dengan menggerakkan sendi-sendi, pada pemeriksaan ini dapat diketahui adanya spastisitas atau kelemahan otot. Di samping itu perlu dilakukan dan dicatat pemeriksaan kekuatan otot.

Fungsi sensoris

Pada pemeriksaan sensoris, yang dilakukan adalah pemeriksaan sensibilitas, yaitu dengan melihat apakan ada kelainan dalam sensibilitas pada daerah tertentu, misalnya hiperastesia atau anastesia. Salah satu pemeriksaan sensibilitas misalnya pemeriksaan tanda Tinel untuk mengetahui distribusi saraf medianus pergelangan tangan. Pada pemeriksaan sensibilitas perlu dibuat gambar kelainan dan daerah yang mengalami perubahan sensibilitas

Pemeriksaan refleks

Pemeriksaan refleks dilakukan dengan memeriksa refleks fisiologis yaitu refleks patella, achiles dan lainnya untuk mengetahui adanya gangguan refleks fisiologis tersebut, misalnya pada hernia nucleus pulposus. Selain itu juga perlu juga diperiksa refleks patologis, seperti refleks babinski

4. Pemeriksaan radiologist

5. Pemeriksaan laboratorium

pemeriksaan laboratorium merupakan salah satu data yang diperlukan untuk melakukan diagnosis yaitu melalui pemeriksaan laboratorium dari bahan cairan seperti pemeriksaan hematology, biokimia, sel dan imunologi.

Pemeriksaan darah dan serum

Pemeriksaan darah meliputi pemeriksaan hemoglobin, sel darah putih, sel darah merah, hiutng differential, laju endap darah, pemeriksaan asam urat dan kultur darah serta pemeriksaan darah lainnya yang dianggap berhubungan dengan keluhan pasien.

Pemeriksaan urin

Meliputi pemeriksaan makroskopis, albumin, glukosa dan lainnya hingga pemeriksaan khusus, seperti Bence Jones untuk penyakit mieloma multipel

63
63

6.

pemeriksaan khusus

artroskopi

artroskopi adalah suatu pemeriksaan yang berguna untuk visualisasi adanaya kelainan pada sendi, misalnya ada trauma, fraktur intraartikuler, atau adanya robekan meniscus dan ligamen. Artroskopi terutama dipergunakan pada sendi lutut, panggul, siku, dan persendian lainnya.

Elektrodiagnosis

Kegunaannya adalah untuk mengetahui fungsi saraf dari otot yang dipelajari dengan menggunakan metode elektrik. Namun informasi aktivitas fisiologis dari pemeriksaan saraf dan otot tidak penting artinya pada kelainan musculoskeletal dan hanya merupakan pemeriksaan tambahan dan tidak dapat menggantikan pemeriksaan fisik secara sistematik.

64
64

PEMERIKSAAN ORTOPEDI

Pada bidang ilmu bedah ortopedi, pemeriksaan fisik pada dasarnya dibagi menjadi 2yaitu :

1. Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan fisik ini dilakukan sebagaimana pemeriksaan fisik di bidang kedokteran

lainnya dan bertujuan untuk mengevaluasi keadaan fisik penederita secara umum serta meihat apakah ada indikasi penyakit lainnya selain kelainan muskuluskletal.

2. Pemeriksaan Fisik Ortopedi

A. Pemeriksaan Ortopedi Umum

Status Generalis

Status Lokalis

Inspeksi

Palpasi

Kekuatan Otot

Pergerakan

Auskultasi

B. Pemeriksaan Fisik Ortopedi Regional

PEMERIKSAAN ORTOPEDI UMUM

a. Status Generalis

Pemeriksaan postur dan cara berjalan. Pemeriksaan ortopedi yang dilakukan meliputi :

Pemeriksaan bagian dengan keluhan utama Pemeriksaan kemungkinan nyeri kiriman dari sumber di tempat lain (referred pain)

Prinsip dasar pemeriksaan ini terdiri atas :

1. Perlu cahaya yang baik atau terang dan bagian tubuh yang diperiksa atau tidak tertutup atau telanjang. Anggota gerak yang sehat diperiksa dan harus terbuka

2. Jangan memeriksa secara tergesa-gesa dan hadapkan muka pemeriksa ke muka penderita untuk memberikan kepercayaan

3. Selalu menyiapkan perlengkapan pemeriksaan

65
65

4.

Pemeriksaan bagian badan secara hati-hati, sistematik, dan terarah

5. Periksa tempat lain yang mungkin ada hubungannya

6. Pemeriksaan secara tepat di daerah lain yang ada hubungannya untuk menegakkan

diagnostic.

Untuk pemeriksaan muskuluskletal diperlukan alat-alat :

1.

Stetostkop

2.

Refleks hammer

3.

Pensil untuk kulit (marker)

4.

Meteran

5.

Kapas

6.

Jarum kecil

7.

Senter saku

8.

Goniometer

b. Status Lokalis

Inspeksi (look) Inspeksi sebenarnya telah dimulai ketika penderita memasuki ruangan periksa. Pada

inspeksi secara umum diperhatikan raut muka penderita, apakah terlihat kesakitan. Cara berjalan sekurang-kurangnya 20 langkah cara duduk dan cara tidur. Inspeksi dilakukan secara sistematik dan perhatian terutamaditujukan pada:

a. Kulit, meliputi warna kulit dan tekstur kulit

b. Jaringan lunak, yaitu pembuluh darah, saraf, otot, tendo, ligament, jaringan lemak, fasia, kelenjar limfe

c. Tulang dan sendi

d. Sinus dan jaringan parut

Apakan sinus berasal dari permukaan saja, dari dalam tulang atau dalam

sendi Apakah jaringan parut berasal dari luka operasi, trauma atau supurasi

66
66

Palpasi (feel) Yang perlu diperhatikan pada palpasi adalah :

a. Suhu kulit, apakah lebih panas atau dingin dari biasanya, apakah denyutan arteri dapat diraba atau tidak

b. Jaringan lunak dilakukan untuk mengetahui adanya spasme otot, atrofi otot, keadaan membrane sinovia, penebalan membrane jaringan sinovia, adanya tumor dan sifat-sifatnya, adanya cairan di dalam/di luar sendi atau adanya pembengkakan.

c. Nyeri tekan perlu diketahui lokalisasi yang tepat dari nyeri, apakah nyeri setempat atau nyeri yang bersifat kiriman dari tempat lain (referred pain)

d. Tulang diperhatikan bentuk, permukaan, ketebalan, penonjolan dari tulang atau adanya gangguan di dalam hubungan yang normal antara tulang yang satu dengan yang lainnya

e. Pengukuran panjang anggota gerak terutama untuk anggota gerak bawah dimana adanya perbedaan panjang, juga berguna untuk mengetahui adanya atrofi/pembengkakan otot dengan membandingkannya dengan anggota gerak yang sehat.

f. Penilaian deformitas yang menetap dilakukan apabila sendi tidak dapat diletakkan pada posisi anatomis yang normal

Kekuatan otot (power) Penilaian dilakukan menurut Medical Research Council dimana kekuatan otot dibagi dalam 5 grade yaitu :

Grade 0 : tidak ditemukan adanya kontraksi pada otot

Grade 1

: kontraksi otot yang terjadi hanya berupa perubahan dari tonus otot

Grade 2

yang dapat diketahui dengan palpasi dan tidak dapat menggerakkan sendi : otot hanya mampu menggerakkan persendian tetapi kekuatannya

Grade 3

tidak dapat melawan pengaruh gravitasi : di samping dapat menggerakkan otot, otot juga dapat melawan pengaruh gravitasi tetap tidak kuat terhadap tahanan yang diberikan oleh pemeriksa

67
67

Grade 4

: kekuatan otot seperti pada Grade 3 disertai dengan kemampuan

Grade 5

otot terhadap tahanan yang ringan : kekuatan otot normal

Pergerakan (move) Dikenal 2 istilah yaitu :

Pergerakan yang aktif :pergerakan sendi yang dilakukan oleh penderita sendiri Pergerakan yang pasif : pergerakan sendi dengan bantuan pemeriksa.

Pada pergerakan dapat diperoleh informasi mengenai :

a. Evaluasi gerakan sendi secara aktif dan pasif

o

Apakah gerakan ini menimbulkan rasa sakit

o

Apakah gerakan ini disertai dengan adanya krepitasi

b. Stabilitas sendi Terutama ditentukan oleh integritas permukaan kedua sendi dan keadaan ligament yang mempertahankan sendi. Pemeriksaan stabilitas sendi dapat dilakukan dengan memberikan tekanan pada ligament dan gerakan sendi diamati.

c. Pemeriksaan ROM (Range of Joint Movement)

Pemeriksaan batas gerakan sendi harus dicatat pada setiap pemeriksaan ortopedi yang meliputi batas gerakan aktif dan batas gerakan pasif. Setiap sendi mempunyai nilai batas gerakan normal yang merupakan patokan untuk gerakan abnormal dari sendi. Dikenal beberapa macam gerakan pada sendi, yaitu :

Fleksi dan ekstensi

Abduksi dan Adduksi

Dorsofleksi dan plantafleksi/palmar fleksi

Inverse dan eversi

Rotasi interna dan rotasi eksterna

Pronasi dan supinasi

Gerakan sendi sebaiknya dibandingkan dengan mencatat gerakan sendi normal dan abnormal secara aktif dan pasif.

68
68

Auskultasi Pemeriksaan auskultasi pada bidang bedah ortopedi jarangd dilakukan biasanya dilakukan bila ada krepitasi misalnya pada fraktur atau untuk mendengar bising fistula arteriovenosa.

PEMERIKSAAN REGIONAL

a. Pemeriksaan

Tulang

Belakang Pemeriksaan

Leher

dan

Vertebra

Servikalis, Pemeriksaan Vertebra Torakal dan Lumbal

Pemeriksaan Leher Dan Vertebra Servikalis

Kelainan yang palin serng ditemukan pada leher adalah degenerasi vertebra servikalis dan osteoarthritis sekunder pada diskus intervertebra servikalis yag dapat mengakibatkan prolapsus dari diskus dan spondilosis servikal.

Kelainan pada vertebra servikalis sering disertai dengan kelainan pada pangkal pleksus brakialis yang menyebabkan nyeri, kelemahan otot atau gangguan sensibilitas pada anggota gerak yag bersangkutan.

Anamnesis

Adakah hubungan antara gejala sekarang dengan keluhan pada leher sebelumnya

Apakah ada trauma leher

Apakah ada gejala kekakuan leher yang merupaka gejala awal prolapsus diskus intervertebra servikalis

Nyeri pada anggota gerak atas harus diketahui sumbernya. Tekanan saraf pada daerah servikal memberikan gambaran klinis sesuai dengan distribusi sarafnya. Nyeri ini menjalar ke lengan atas dan bawah pada satu jari atau lebih. Gejala saraf bisa berupa parastesia, rasa kram atau rasa seperti tertusuk jarun di tangan.

Pemeriksaan

Pada pemeriksaan leher, baju harus dibuka dan harus terlihat jelas bagian leher secara keseluruhan.Pemeriksaan ini dilakukan dalam keadaan penderita berdiri ataupun duduk.

69
69

Deformitas. Kolumna vertebra servikalis biasanya sedikit lordosis ke depan. Perubahan kurva ini menjadi lurus atau melengkung ke belakang (kifosis) merupakan tanda kelainan yang mencurigakan. Juga perhatikan deformitas vertebra ke lateral atau rotasi.

Pergerakan. Gerakan pada leher yang diperiksa meliputi rotasi, fleksi lateral kanan/ke kiri, fleksi-ekstensi. Gerakan fleksi ekstensi minimal terjadi pada sendi oksipito-atlantoid.

Pemeriksaan neurologic. Perlu dilakukan karena lesi pada daerah servikal dapat menyebabkan gangguan pada pleksus brakialis,meliputi :

a. a.sistem muskuler

b. system sensoris

c. kelenjar keringat

d. reflex

Radiologis. Pemeriksaan radilogis rutin vertebra servikal berupa foto polos AP dan Lateral.

Pemeriksaan Vertebra Torakal dan Lumbal

Anamnesis

Adanya nyeri skiatika ditandai dengan penjalaran nyeri sepanjang persarafan nervus skiatika pada tungkai bawah. Nyeri punggung bawah disertai penjalaran nyeri bokong, tungkai atas, dan tungkai bawah baik unilateral maupun bilateral.

Pemeriksaan klinik rutin gangguan pada punggung

1. Pemeriksaan lokal punggung dan survey neurologis anggota gerak bawah

a. Penderita berdiri Inspeksi : kontur tulang, kontur jaringan lunak, warna dan tekstur kulit, adanya jaringan parut atau sinus Pergerakan: sendi spinal yaitu fleksi 80º, ekstensi 30º, fleksi lateral 35º, rotasi 45º (nyeri pada pergerakan, spasme otot); sendi sakroilika (nyeri pada pergerakan); sendi kostovertebral (jarak indikasi ekspansi dada) Palpasi : suhu kulit, kontur tulang, kontur jaringan lunak, nyeri local

b. Penderita berbaring Palpasi fossa iliaka (pemeriksaan khusus abses atau adanya massa)

c. Status neurologis

70
70

Uji Straight Leg Raising (SLR)

Pemeriksaan system muskuler

Pemeriksaan system sensoris

Pemeriksaan reflek

2. Pemeriksaan ekstrinsik punggung dan skiatika Bila tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan local, meliputi : pemeriksaan abdomen, pelvis dan rektal, anggota gerak bawah, system vaskuler perifer

3. Pemeriksaan Umum Pemeriksaan umum bagian tubuh yang lain. Gejala local dapat merupakan salah satu manifestasi klinis dari suatu penyakit sistemik.

Penilaian deformitas

Setiap kelainan bentuk yang ditemukan baik pada inspeksi maupun palpasi harus dicatat dengan baik. Deformitas tulang belakang dapat berbentuk kifosis,lordosis, atau skoliosis.

Radiologis

Foto rontgen : foto polos AP dan lateral

Radioistop bone scanning, CT scan, MRI, diskografi

b. Pemeriksaan Sendi Bahu

Sendi bahu secara terdiri atas 3 komponen persendian : sendi glenohumeral, sendi akromiklavikular, sendi sternoklavikular.

Anamnesis

Pada sendi bahu harus ditentukan dengan jelas lokasi dan distribusi nyeri. Nyeri biasanya berasal dari ujung akromion menjalar ke bawah pada lengan atas sampai pada insersi otot deltoid.Jarang sekali nyeri pada bahu yang menjalar melewati sendi siku.

Pemeriksaan klinik rutin gangguan pada sendi bahu

1. Pemeriksaan local sendi bahu Inspeksi Kontur tulang,kontur jaringan lunak, warna dan tekstur kulit, adanya jaringan parut atau sinus.

71
71

Pergerakan

Membedakan pergerakan antara sendi glenohumeral dan sendi scapula pada gerakan abduksi, fleksi, ekstensi,rotasi lateral dan rotasi medial

Nyeri pada saat pergerakan

Spasme otot

Krepitasi pada saat pergeraka

Sendi akromioklavikular

Pemeriksaan pembengkakan, rasa panas, nyeri,nyeri bila digerakkan dan stabilitas

Palpasi

Suhu kulit, kontur tulang, kontur jaringan lunak, nyeri local

Kekuatan

Kekuatan otot servikoskapula dan otot torakoskapula

Uji elevasi scapula, retraksi scapula, abduksi-rotasi scapula

Otot skapulo-humeral (mengontrol pergerakan sendi glenohumera) yaitu pergerakan abduksi 180º, adduksi 75º, fleksi 180º, ekstensi 60º, rotasi lateral 80º, rotasi medial 80º.

2. Pemeriksaan gejala yang kemungkinan merupakan factor ekstrinsik pada sendi bahu Pemeriksaan ini meliputi : pemeriksaan leher dan pleksus, toraks, jantung dan pleura,abdomen dan lesi subdiafragma

3. Pemeriksaan umum bagian tubuh lainnya

Kelainan gerakan sendi bahu

Pada pemeriksaan sendi bahu sangat penting diketahui berapa besar gerakan yang terjadi pada sendi glenohumeral dan berapa besar gerakan rotasi sakpula. Untuk membedakannya maka pemeriksa perlu memegang atau memfiksasi bagian bawah scapula. Dalam keadaan normal gerakan sendi bahu berupa abduksi yang terjadi dari sebagian sendi glenohumeral dan sebagian dari rotasi sendi scapula sendiri. Kelainan pada sendi bahu akan memberikan hambatan pada gerakan sendi glenohumeral tetapi tidak pada gerakan scapula.

72
72

Radiologis

Pemeriksaan foto polos sendi glenohumeral : proyeksi AP dalam posisi anatomis anggota gerak atas

Radioisotope scanning, CT scan, MRI

Radiologis dengan kontras berupa penyuntikan kontras

c. Pemeriksaan Lengan Atas dan Sendi Siku

Kelainan yang biasa ditemukan pada humerus adalah trauma, infeksi pada tulang, tumor tulang terutama oleh karena metastasis. Sedangkan sendi siku berupa arthritis.

Anamnesis

Nyeri pada lengan atas mungkin merupakan nyeri yang berasal dari bahu. Pada sendi siku sebaiknya ditanyakan adanya riwayat trauma sebelumnya misalnya trauma ketika masih kanak-kanak.

Tahap-tahap pemeriksaan rutin kelainan lengan atas dan sendi siku

1. Pemeriksaan local lengan dan sendi siku Inspeksi kontur tulang, kontur jaringan lunak,warna dan tekstur kulit, adanya jaringan atau sinus Palpasi suhu kulit, kontur tulang, kontur jaringan lunak, nyeri lokal Pergerakan (aktifdan pasif) Sendi humero-ulnar

Fleksi 150º

Ekstensi 0º

Sendi radio-ulnar

Supinasi 80º

Pronasi 90º

Nyeri pada pergerakan Krepitasi pada pergerakan

Kekuatan

1. Fleksi 150º

2. Ekstensi 0º

73
73

3.

Supinasi 80º

4. Pronasi 90º

Stabilitas Ligamentum lateral Ligamentum medial Nervus medianus

Fungsi sensoris

Fungsi motoris (gerakan oponen)

Kelenjar keringat

Nervus radialis

Fungsi sensoris

Fungsi motoris ( ekstensi pergelangan tanga, ibu jari, dan jari-jari)

Nervus ulnaris

Fungsi sensoris

Fungsi motoris

Kelenjar keringat

2. Pemeriksaan nyeri lengan yang disebabkan oleh factor ekstrinsik Penting untuk menerangkan gejala yang tidak ditemukan pada pemeriksaan local, meilputi : leher dan pleksus brakialis, pemeriksaan bahu

3. Pemeriksaan umum

Gerakan sendi siku

pada sendi siku terdapat 2 komponen persendian yaitu : antara humerus dengan ulna, dan antara ulna dengan radius yang memberikan kemungkinan gerakan fleksi dan ekstensi serta rotasi pada lengan bawah.

Radiologis

Foto polos humerus : AP dan proyeksi lateral

Radioisotope scanning, CT scan, MRI

74
74

d. Pemeriksaan Tangan

Gerakan pada pergelangan tangan

Lengan

Bawah,

Pergelangan

Tangan

dan

Jari-Jari

1. Sendi radiokarpal : termasuk sendi interkarpal yang memungkinkan fleksi 80º, ekstensi 90º, abduksi/deviasi radial 25º, adduksi/deviasi ulnar 30º

2. Sendi radioulnar : gerakan supinasi 90º, pronasi 90º

Gerakan pada jari-jari

1. Sendi karpometakarpal ibu jari : fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, dan oposisi

2. Sendi metakarpofalangeal ibu jari dan jari-jari : gerakan feksi dan ekstensi sebesar

90º

3. Sendi interfalangeal ibu jari dan jari-jari :fleksi dan ekstensi

Pemeriksaan Klinik Rutin Gangguan Lengan Bawah, Pergelangan Tangan dan Jari- Jari

1. Pemeriksaan local lengan bawah, pergelangan tangan, dan jari-jari Inspeksi kontur tulang, kontur jaringan lunak,warna dan tekstur kulit, adanya jaringan atau sinus Pergerakan (aktif dan pasif) :

Pergelangan tangan

Sendi radiokalpar : fleksi-ekstensi, adduksi-abduksi

Sendi radioulnar inferior : supinasi dan pronasi

Tangan

Sendi karpometakarpal : fleksi-ekstensi, abduksi-adduksi, oposisi

Sendi metakarpofalangeal: fleksi-ekstensi, adduksi-abduksi

Sendi interfalangeal : fleksi-ekstensi

Palpasi suhu kulit, kontur tulang, kontur jaringan lunak, nyeri lokal Kekuatan Kekuatan tiap kelompok otot dikontrol oleh : pergerakan pergelangan tangan, pergerakan ibu jari dan jari-jari Stabilitas : uji untuk pergerakan abnormal

75
75

Fungsi saraf uji fungsi sensoris, fungsi motoris, dan kelenjar keringat pada bagian medial saraf ulna dan radius Sirkulasi denyut arteri, warna dan rasa hangat, pengisian kembali kapiler, sensibilitas kulit

2. Pemeriksaan bagian yang kemungkinan dapat merupakan factor ekstrinsik gangguan pada lengan bawah, pergelangan tangan, dan jari-jari, meliputi : pemeriksaan leher- thoraks, lengan atas secara tersendiri, siku secara tersendiri.

3. Pemeriksaan umum

Radiologis

Foto polos AP dan lateral lengan bawah, pergelangan tangan serta jari-jari.

e. Pemeriksaan Sendi Panggul

Anamnesis

Nyeri pada sendi panggul biasanya dikeluhkan pada daerah lipat paha bagian dalam dan depan. Sering dirasakan pada daerah lutut dan kadangkala merupakan nyeri yang dominan pada kelainan sendi panggul. Biasanya nyeri akan bertambah berat apabila penderita berjalan atau menggerakkan sendi panggul.

Pemeriksaan klinik rutin gangguan pada panggul

1. Pemeriksaan local sendi panggul

a. Penderita berbaring

Inspeksi kontur tulang, kontur jaringan lunak,warna dan tekstur kulit, adanya jaringan atau sinus

Palpasi suhu kulit, kontur tulang, kontur jaringan lunak, nyeri local

Pergerakan (aktif dan pasif) fleksi, abduksi saat fleksi, rotasi medial (interna), rotasi lateral (eksterna)

Pemeriksaan adanya deformitas

Dilakukan uji Thomas untuk mendeteksi dan mengukur deformitas pada posisi fleksi.

76
76

Kekuatan (Dilakukan uji yang berlawanan dengan tahanan pemeriksa) : estimasi kekuatan pada kelompok otot fleksor, ekstensor, abductor, adductor dan rotator

Pengukuran panjang tungkai

Panjang klinik (true/real length)

Penjang yang tampak (apparent length)

Pemeriksaan pergerakan abnormal

Uji pergerakan longitudinal (teleskopik) Uji klik (pada bayi baru lahir)

2.

Pemeriksaan factor ekstrinsik yang mungkin memberika gejala pada panggul, meliputi :

 

Pemeriksaan sendi sakroiliaka

Pemeriksaan abdomen-pelvis

Pemeriksaan pembuluh darah besar

3.

Pemeriksaan umum

b.

Penderita berdiri Pemeriksaan stabilitas postural cara berjalan (Gait) : Uji Trendelenburg

Radiologis

Foto polos AP dan Lateral meliputi seluruh daerah panggul. Bisa juga tomografi, artrografi, radioisotope scanning tulang, CT scan dan MRI apabila ada indikasi.

f. Pemeriksaan Sendi Lutut

Anamnesis

Keadaan yang perlu ditanyakan yaitu : apakah dapat berjalan, dapat meluruskan atau membengkokkan lutut. Beberapa penderita dengan jelas menguatarakan lututnya menjadi terkunci (locking)

Menentukan kausa pembengkakan pada sendi

Pembengkakan yang difus pada lutu dapat diketahui dengan mudah dengan jalan membendingkan kedua lutut. Pembengkakan pada lutut terutama disebabkan oleh 3 hal, yaitu :

77
77

1.

Penebalan tulang Dapat diketahui dengan palpasi pada daerah yang sakit lalu dibandingkan dengan yang normal. Penebalan dapat disebabkan oleh infeksi, tumor, atau kista tulang.

2. Efusi sendi Bisa merupakan penimbunan cairan serosa, pus, atau oleh darah. Cairan dalam tendo diketahui dengan melakukan pemeriksaan uji fluktuasi.

3. Penebalan mebran sinovia Merupakan gambaran atritis inflamasi kronik. Penebalan membrane umumnya terjadi diatas patella, dan dapat diraba pada palpasi dan biasanya lutut terasa hangat.

Pemeriksaan rutin kelainan pada lutut

1. Pemeriksaan local pada lutut

Inspeksi kontur tulang, kontur jaringan lunak,warna dan tekstur kulit, adanya jaringan atau sinus

Palpasi suhu kulit, kontur tulang, kontur jaringan lunak, nyeri local

Pergerakan (aktif dan pasif dibandingkan dengan lutut yang normal) : fleksi, ekstensi, nyeri bila digerakkan, krepitasi bila digerakkan

Stabilitas

Ligamentum medial

Ligamentum lateral

Ligamentum krusiatum anterior

Uji drawer, uji Lachman, Uji pivot shift lateral

Ligamentum krusiatum posterior

Kekuatan : fleksi, ekstensi

Uji rotasi Mc Murray

Cara berjalan (gait)

2. Pemeriksaan gejala yang mungkin merupakan factor ektrinsik meliputi :tulang belakang dan panggul

3. Pemeriksaan umum

78
78

Radiologis. Foto polos AP dan lateral dimana bagian dari femur dan tibia harus terlihat.

g. Pemeriksaan Tungkai Bawah, Pergelangan Kaki, dan Jari-jari Kaki

Anamnesis

Pada anamnesis ditanyakan secara jelas distribusi nyeri yang terjadi, disamping riwayat pekerjaan, kebiasaan penderita, dan riwayat trauma sebelumnya serta gangguan yang terjadi pada saat berdiri dan berjalan.

Pemeriksaan klinik pada tungkai bawah, pergelangan kaki, dan kaki

1. Pemeriksaan local tungkai bawah, pergelangan kaki, dan kaki

Inspeksi kontur tulang, kontur jaringan lunak,warna dan tekstur kulit, adanya jaringan atau sinus

Palpasi suhu kulit, kontur tulang, kontur jaringan lunak, nyeri local

Sirkulasi perifer denyut a. dorsalis pedis, a. tibialis posterior, a. poplitea, a. femoral, dan adanya sianosis pada kaki.

Kekuatan setiap otot harus diuji dan dibandingkan dengan sisi yag sebelah

Penapakan kaki saat berdiri bentuk arcus longitudinal, bentuk jari, efisiensi jari, efisiensi otot betis

Pergerakan

Pergerakan kaki plantar fleksi, ekstensi (dorsofleksi) Sendi subtalar inversi-adduksi,eversi-abduksi Sendi midtarsal inversi-adduksi,eversi-abduksi Jari kaki fleksi, ekstensi

Stabilitas integritas ligament khususnya ligementum lateral dari pergelangan kaki

Cara berjalan (gait)

Keadaan alas kaki (sepatu) bandingkan dengan sisi yang sebelahnya

2. Pemeriksaan umum anggota tubuh yang lainnya untuk menentukan apakah gejala yang terjadi merupakan manifestasi dari suatu penyakit sistemik tubuh.

Radiologis. Foto polos AP dan Lateral

79
79

GAMBARAN RADIOLOGI FRAKTUR DAN DISLOKASI

1) Fraktur dan dislokasi pada sendi panggul dan femur

Dislokasi sendi panggul:

Dislokasi posterior : paling sering

Dislokasi anterior : jarang, akibat abduksi berlebihan

Dislokasi sentral : dengan fraktur asetabulum.

• Dislokasi sentral : denga n fraktur asetabulum. Fraktur sendi panggul: Fraktur asetabulum dibagi dalam 4

Fraktur sendi panggul:

Fraktur asetabulum dibagi dalam 4 tipe, yaitu:

1. Fraktur rima posterior

2. Fraktur pars ilio-iskial