Anda di halaman 1dari 11

HUBUNGAN VIKTIMOLOGI

dengan KRIMINOLOGI

By :
OCI SENJAYA,SH.,M.H

Pengertian Viktimologi oleh


Para Ahli
J.E Sahetapy :Viktimologi merupakan istilah yang berasal dari
bahasa latin victimayang berarti korban & logos yang berarti
ilmu/pengetahuan. Viktimologi merupakan suatu bidang ilmu yang
mengkaji permasalahan korban beserta segala aspeknya.
Arif Gosita : Viktimologi suatu pengetahuan ilmiah/studi yang
mempelajari viktimisasi (criminal) sebaga suatu permasalahan
manusia yang merupakan suatu kenyataan sosial.
Hubungan antara Viktimologi dengan Kriminologi seperti sisi dari mata
uang yang saling berkaitan. Kriminologi membahas secara luas
mengenai pelaku dari suatu kejahatan,sedangkan viktimologi
merupakan ilmu yang mempelajari tentang korban dari suatu kejahatan
.

Viktimologi diLihat dari


Kebijakannya.

Sistem
Peradilan
Pidana (SPP)

Viktimologi

Penal policy ttg


Viktimologi : co UU
No,.23/2004 Ttg
KDRT

Lanjutan....
Sistem Peradilan Pidana (SPP)
seharusnya melihat kepentingan yang
lebih
luas,tidak
terfokus
pada
pembalasan bagi si pelaku tindak
pidana
saja,akan
tetapi
juga
kepentingan korban
KUHAP (Sistem yg dianut oleh
KUHAP retributive justice) orientasi
perlindungan pelaku Tindak Pidana.
Seharusnya juga berorientasi pada
sistem restorative justice (fokus
kebijakan terhadap korban Tindak
Pidana/kejahatan)

Aspek Viktimologi Terhadap


Kepentingan Korban Tindak Pidana
Di Lihat dari sudut Hak Asasi Manusia (HAM) masalah
kepentingan korban tindak pidana merupakan bagian
dari persoalan HAM.
Prinsip Universal termuat dalam:
1. The Universal Declaration of Human Right (10
desember 1948)
2. The international Covenant on Civil and Political
Rights (16 desember 1966)
Mengakui semua orang sama tanpa perlakuan
Diskriminasi.

Perkembangan didalam Hukum Nasional,


awalnya belum begitu responsive terhadap
kepentingan Korban.
Setelah banyak kongres Interanasional mengenai
HAM memperhatikan segi korban yg berkaitan
dengan perkembangan baru ttg bentuk Tindak
Pidana & Pembangunan Hukum.
Muncul beberapa kebijakan hukum pidana yang
mulai memperhatikan kepentingan dari sisi
korban. Bertolak pada 3 prinsip dasar alasan
negara memberikan kompensasi.

Dasar Alasan negara Memberikan


Kompensasi,Prinsipnya bertolak Pada:

1. Kewajiban Negara Melindungi Warga


Negaranya
2. Kemungkinan ketidakmampuan pelaku
tindak pidana memberi ganti rugi yang cukup
3. Sosiologi Hukum berpandangan bahwa tindak
pidana yg timbul adalah andil kesalahan
masyarakat/ TP sbg anak kandung masyarakat
(krna kejahatan lahir dari masyrakat itu sendiri)
tercipta dari masyarakat.

Lembaga Perlindungan Saksi &


Korban (LPSK)
Dalam perkembangannya tentang korban (Viktimologi)
telah dituangkan dalam UU No.13/2006 Tentang
Perlindungan Saksi & Korban. Hal mana kepentingan
korban dikuasakan pada suatu Lembaga Perlindungan
Saksi & Korban (LPSK) tertuang dalam Pasal 7 UU
No.13/2006 ttg Perlindungan Saksi & Korban.

Posisi Korban dalam praktek dapat


dilihat dari sudut pandang.
1. Korban dilihat dari pembentukan hukum
(korban dari kekosongan hukum/kesesatan
hukum)
2. Korban dilihat dari perilaku kriminal/ anti
sosial ( korban dari kejahatn
narkotik,kejahatan kesusilaan.kejahatan
white collar crime,dll.)
3. Korban dilihat dari dalam lingkup HAM &
kesejahteraan sosial.

Hak-Hak Korban yang ada dalam KUHAP,


terdapat 4(empat aspek), yaitu :

1. Pasal 109, dan 140 ayat (2) KUHAP


2. Pasal 134-136 KUHAP
3.Pasal 168 KUHAP
4. Pasal 98 101 KUHAP