Anda di halaman 1dari 6

Resensi novel sengsara membawa nikmat

1.Identitas novel
Judul

:sengsara membawa nikmat

Pengarang

:Sutan Sati

Penerbit

:Balai Pustaka

Tahun terbit

:2002

Kota terbit

:Jakarta

Jumlah halaman

:192 halaman

Edisi

:ke-14

Halaman sampul

:berwarna pudar disertai 2 pemuda dan satu lelaki tua berkumis


dan rumah khas Sumatra barat

2.Isi
A.Unsur instrinsik
1.Tema

:Perjuangan seorang pemuda untuk merubah nasibnya

2.Alur

:alur campuran
Kalimat pembuktian 1:setelah dua bulan lebih daripada itu,maun
terpanggil datang ke bukitinggi(hal 83)
Kalimat pembuktian2:karena sudah 4 bulan ia dihukum,belum
pernah dipanggil sipir(hal 115)

3.Tokoh
Midun,Maun,Kacak,Halimah,Pak Midun,Pak Abbas
4.penokohan
a.Midun
-Sopan santun
Kalimat pembuktian :Budi pekertinya sopan santun kepada siapa pun(hal 12)
-Tabah
Kalimat pembuktian :janganlah terlalu amat menyiksa saya,Engku Muda!kesalahan
saya tidak seberapa,tidak berpandanan dengan siksaan yang saya tanggung(hal 44)
b.Maun
-Peduli
Kalimat pembuktian :Apakah sebabnya engkau menarik nafas? Bermusuhankah
engkau dengan nya? (hal10)
c.Kacak
-Pemarah
Kalimat pembuktian :sekonyong-konyong merah padam mukanya(hal 17)
-Sombong
Kalimat pembuktian :berapa kepandaianmu,saya lebih tinggi daripada engkau(hal 15)
d.Haji Abbas
-Arif/bijaksana
Kalimat pembuktian :kalau ada temanmu yang sehati dengan engkau(hal 53)
-Pemberani
Kalimat pembuktian:rupanya waktu ma atang berkelahi dengan pendekar sultan,jelas
bahwa ma atang hendak membunuh lawannya(hal 61)
e.Halimah
-Cantik
Kalimat Pembuktian:sungguh cantik dan elok rupanya,sukar didapat,mahal dicari(hal
109)

-Pandai
Kalimat pembuktian:sungguh pandai adinda menahan hati(hal 141)
f.Pak midun
-Arif
Kalimat pembuktian:sungguhpun ayah midun orang peladang tetapi sudah luas
pengetahuannya
-Ramah
Kalimat pembuktian:pendekar sultan di persinggah oleh pak midun dengan muridmuridnya ke rumahnya(hal 22)

4.Amanat:

1.Harus berterima kasih apabila diberi pertolongan


2.Jangan menuruti kemarahan
3.Kalau menerima sesuatu jangan menolaknya
4.Kita harus menghormati adat istiadat
5.Jangan perna takut apabila kita benar

5.Latar
a.Waktu
-Waktu Asar,
kalimat pembuktian:Waktu asar sudah tiba. (hal 9)
-Hari ahad pagi-pagi,
kalimat pembuktian:Hari ahad pagi-pagi,Midun sudah memikul tongkat pengirik padi
ke sawah.(hal 27)
-Malam hari,
Kalimat pembuktian:Sekali peristiwa pada suatu petang Midun pergi ke sungai
hendak mandi..(hal 43)
-Waktu maghrib,
Kaliat pembuktian :Rasakan dicabutnya hari menanti waktu maghrib habis,karena itu
anaknya pulang makan(hal 28)
-Hari petang
kalimat pembuktian:amat cerah hari petang itu(hal 9)
b.Tempat
1Surau,
kalimat pembuktian :ia telah menjadi guru tua(pembantu)di surau(hal 11)
2 Kampong,
kalimat pembuktian:sudah itu maksudnya hendak terus pulang ke kampong(hal 75)

3.Di pacuan kuda,

kalimat pembuktian:dengan tidak diketahui mereka kedua,sampailah ke pacuan


kuda(hal 78)
4.Padang
kalimat pembuktian:oleh sebab itu tadi saya mohonkan kepada sipir,supaya engkau
tidak dibelenggu ke padang(hal 86)
5.Bogor
kalimat pembuktian:saya berharap jika udo ada belas kasihan kepada saya,tolonglah
saya antarkan ke betawi,kepada bapak saya di bogor(hal 119)

6. Sudut Pandang
Sudut pandang yang terkandung dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis
Sutan Sati adalah:
Sudut Pandang Orang Ketiga
7. Gaya Bahasa
1.Majas perumpamaan
Kalimat pembuktian:jangankan ia terempas,melainkan seakan-akan tak menjejak
tanah ia rupanya(hal 59)
2.Majas hiperbola
Kalimat pembuktian:hatinya tertarik kepadamu(hal 135)
3.Majas metafora
Kalimat pembuktian:sambut,si pengamuk dari darat(hal 92)
4.Majas personifikasi
Kalimat pembuktian:akhirnya suami itu seperti sirih kerap tumbuh di batu(hal 142)
5.Majas antiklimaks
Kalimat pembuktian:kilat belitung sudah ke kaki,kilat cermin sudah ke muka
(hal 53)
8.Sinopsis
Sutan Sati ingin menggambarkan sebuah hegemoni kekuasaan yang mewarnai
kehidupan masyarakat Minangkabau pada zamannya. Kisah dalam novel ini berawal
dari kebencian Kacak, kemenakannya Tuanku Laras - seorang penghulu kampung terhadap Midun. Kacak membenci Midun karena ia sangat disayangi oleh orang
sekampung. Sementara Kacak, tidak dihormati orang. Kesempatan untuk membalaskan
dendam akhirnya tiba. Bermula dari sikap Midun yang menjadi pahlawan bagi orangorang di pasar atas ulah Pa Inuh - pamannya Kacak yang hilang ingatan yang
membawa pisau dan mengamuk di pasar. Sebenarnya Pa Inuh tidak dilukai oleh Midun,

karena luka tersebut adalah atas ulah Pa Inuh sendiri. Namun, Kacak merasa tidak
terima. Ia melaporkan Midun kepada Tuanku Laras hingga ia dihukum bekerja rodi
selama enam hari.
Kebencian Kacak kepada Midun semakin manjadi-jadi. Ia membayar Lenggang pembunuh bayaran - untuk membunuh Midun pada saat perhelatan pasar malam dan
pacuan kuda di Bukittinggi. Namun, usaha tersebut gagal dan berakhir dengan
dipenjaranya Midun dan diasingkan ke Padang selama enam bulan.
Setelah masa hukumannya usai, ia mencoba menolong Halimah yang dikenalnya saat
menjalani hukuman. Halimah yang jiwanya terancam, meminta Midun untuk
mengantarkannya ke Jawa. Sebuah petualangan hidup akhirnya dijalani Midun dengan
sukses sampai akhirnya ia diangkat menjadi menteri polisi dan kemudian menikah
dengan Halimah. Sementara itu, ayah Midun meninggal di kampung halamannya dan
seluruh harta warisan ayahnya diambil oleh pihak keluarga ayahnya.
Selama enam tahun, Midun tidak pernah pulang ke kampung halamannya. Ia bersama
istrinya, berniat menemui keluarga Midun. Midun kemudian ditugaskan di Bukittinggi
sebagai asisten demang. Kemudian ia dingkat pula menjadi penghulu kampung. Bagian
ini merupakan akhir dari cerita ini.

B.Unsur ektrinsik
1.Nilai moral
2.Nilai Agama
3.Nilai Budaya
C.Kelebihan dan kekurangan novel
Kelebihan:
-merupakan novel yang dikemas secara menarik dan imajinatif.
-Kelebihan cerita ini adalah kepiawaian pengarang dalam mengemas cerita ini, menjadi
sebuah novel yang mengharukan, penuh heroik dan mengusung makna hidup yang
amat dalam.
kKekurangan:
-bahasa terlalu baku dan mengandung unsur melayu yang susah untuk dipahami
-gambar yang terdapat didalam novel tersebut kurang jelas/tidak terlihat jelas