Anda di halaman 1dari 4

Analgesik untuk Nyeri Kanker

ULAS OBAT - Edisi November 2006 (Vol.6 No.4)


http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=365

Ibarat sebilah pisau, nyeri bagi manusia mempunyai dua makna yang berlawanan. Di
satu sisi, nyeri bisa memberi manfaat yakni sebagai alarm terjadinya suatu kelainan atau
penyakit dalam tubuh sehingga seseorang akan aware bahwa dirinya telah mengidap suatu
penyakit yang berbahaya dan mengancam jiwa. Tapi di sisi lain, nyeri boleh jadi malapetaka,
seperti pada pasien kanker, yang mengganggu kualitas hidup dan mengurangi produktivitas
pasien.
Bagi penderita kanker, nyeri termasuk pada keluhan yang paling ditakuti. Oleh karena
itu, tujuan utama terapi nyeri kanker adalah meredakan nyeri secara nyata untuk memelihara
status fungsional yang diinginkan, kualitas hidup yang realistis, dan proses kematian yang
tenang.
Menurut Dr.Boediwarsono dari kelompok perawatan paliatif dan bebas nyeri tim
penanggulangan penyakit kanker FK UNAIR-RSUD Dr.Soetomo Surabaya, obat-obat analgesik
memegang peran utama dalam penanggulangan nyeri kanker, di samping modalitas lainnya.
Namun pemberian analgesik itu haruslah dilakukan dengan tepat dan strategis. Jadi, ada
langkah-langkah yang harus diikuti dalam pemberian analgesik. Langkah pertama adalah
pemberian analgesik non opiat dengan dosis penuh. Bila nyeri masih ada, secara bertahap dosis
dinaikkan hingga dosis maksimal atau ditambah analgesik ajuvan. Langkah kedua, pemberian
non opiat plus analgesik adjuvan ditambah opiat lemah. Langkah terakhir, pemberian opiat kuat
plus analgesik adjuvan, jelas Dr. Boediwarsono
Lebih lanjut Dr.Boediwarsono mengatakan, analgesik yang biasa digunakan untuk
pengobatan nyeri kanker adalah aspirin 500 mg dan parasetamol mg setiap 4-6 jam untuk tahap
awal. Analgesik lain yang juga sering diresepkan pada tahap awal ini adalah kelompok NSAID
(nabumeton). Sedangkan analgesik adjuvan yang digunakan terdiri dari obat-obat khusus yang
bisa membantu meredakan nyeri, seperti antidepresan, anthistamin, kafein, steroid, fenotiazin,
serta antikonvulsan. Sementara untuk opiat kuat biasa diberikan morfin injeksi.
Parasetamol
Pada awal penemuannya tahun1973, berbagai penelitian tentang parasetamol sempat
diabaikan. Perhatian akan parasetamol baru dilayangkan saat era 1980-an. Waktu itu tengah
gencar dilakukan upaya mencari analgetik alternatif dari dua senyawa yang menjadi satu-satunya
tumpuan dalam menghilangkan rasa nyeri. Yakni senyawa yang terkandung
dalam white willow bark (akhirnya dikenal dengan salisin yang kemudian dikembangkan jadi
aspirin) dan cinchona bark . Pencarian alternatif dilakukan karena keberadaan kedua pohon
tersebut mulai langka. Hingga akhirnya Harmon Northop Morse berhasil mensintesa parasetamol
melalui reduksi p-nitrophenol dengan asam asetat.

Parasetamol kerap disebut dengan acetaminophen. Keduanya adalah nama kimia dari senyawa
N-acetyl-para-aminophenol dan para-acetyl-amino-phenol. Pada beberapa artikel ilmiah, nama
ini sering disingkat jadi apap, untuk N-acetyl-para-aminophenol. Obat ini memiliki efek analgesia
dan antipiretik, sehingga kerap digunakan untuk mengurangi sakit kepala, demam, dan sakit
serta nyeri minor lainnya. Parasetamol sangat aman jika diberikan sesuai dosis yang
direkomendasikan. Tak ayal lagi obat ini sangat gampang diperoleh dan banyak sekali digunakan
untuk mengatasi flu dan cold di seluruh jagad raya ini. Namun perlu diperhatikan, akses yang
gampang ini memperbesar kemungkinan overdosis baik yang sengaja dilakukan (upaya bunuh
diri) atau tanpa disadari.
Selain itu, parasetamol juga efektif menangani nyeri yang lebih parah. Hal ini tentu sangat
menguntungkan, karena bisa menurunkan kemungkinan penambahan dosis NSAId atau opiod.
Dengan demikian tentu bisa meminimalkan efek samping menyeluruh. Adapun formulasi
parasetamol yang paling sering digunakan adalah sediaan tablet.
Mekanisme parasetamol telah lama diduga sama dengan aspirin karena kesamaan dalam
struktur. Diperkirakan parasetamol bekerja mengurangi produksi prostaglandin yang terlibat
dalam proses nyeri dan edema, dengan menghambat enzim cyclooxygenase (COX). Meski
demikian, ada perbedaan penting antara efek keduanya. Seperti diketahui, prostaglandin
berpartisipasi terhadap respon inflamatori, tapi parasetamol tidak memperlihatkan efek anti
inflamasi.
Lebih lanjut, COX juga menghasilkan tromboksan yang membantu pembekuan darah, jadi aspirin
mengurangi pembekuan darah, sementara parasetamol tidak. Terakhir hal yang cukup menjadi
misteri, aspirin serta NSAID lainnya biasanya memiliki efek merusak pada saluran cerna,
sedangkan parasetamol aman. Padahal, ketiga obat tersebut sama-sama menghambat
prostaglandin yang memegang peranan sebagai pelindung saluran cerna.
Setelah ditelusuri, ternyata aspirin bekerja dengan menghambat COX secara irreversibel dan
langsung memblokade sisi aktif enzim. Sementara parasetamol secara tidak langsung
menghambat COX, sehingga efek blokade ini jadi tidak efektif dengan kehadiran peroksida. Ini
mungkin menjelaskan kenapa parasetamol efektif pada sistem saraf pusat dan sel endotelial, tapi
tidak untuk platelet dan sel imun yang memiliki kadar tinggi peroksida.
Pada 2002 Swierkosz TA dkk telah melaporkan, parasetamol secera selektif menghambat suatu
varian enzim COX yang berbeda dari COX-1 dan COX-2. Enzim ini hanya dikeluarkan di otak
danspinal cord, akhirnya sekarang disebut sebagai COX-3. Bagaimana mekanisme yang jelas
masih belum dimengerti, tapi penelitian lebih lanjut terus mencoba menguak misteri tersebut.
Parasetamol dimetabolisme terutama di hati, dimana sebagian besar diantaranya (60-90% dari
dosis terapeutik) dirubah menjadi senyawa yang tak aktif melaui konjugasi dengan sulfat dan
glukoronida. Metabolit ini kemudian dieksresikan ke ginjal. Hanya sejumlah kecil (5-10% dari
dosis terapeutik) dimetabolisme melalui hati dengan sistem enzim cytochrome
P450(khususnya CYP2E1).
Efek toksik parasetamol yang kerap digembar-gemborkan, sebenarnya terkait hanya dengan
sebuah metabolit alkilasi minornya (N-acetyl-p-benzo-quinone imine, disingkat NAPQI). Jadi, efek

toksik yang muncul bukanlah karena parasetaml itu sendiri atau metabolit utamanya. Pada dosis
yang lazim digunakan, metabolit toksik NAPQI secara cepat didetoksifikasi melalui kombinasi
irreversibel dengan gugus sulfhydryl dari glutation, menghasilkan konjugasi non toksik yang
akhirnya dikeluarkan melalui ginjal.
Paracetamol memiliki indeks terapeutik yang sempit. Artinya, dosis terapi tidak terentang jauh
dengan dosis toksik. Tanpa pengobatan yang tepat, overdosis parasetamol bisa menyebabkan
gagal hati dan kematian dalam beberapa hari. Dosis toksis parasetamol sangat bervariasi. Pada
dewasa, dosis tunggal di atas 10 gram atau 150 mg/kg bisa menyebabkan toksisitas. Toksisitas
juga bisa terjadi pada dosis multiple yang lebih kecil dalam 24 jam melebihi kadar tersebut, atau
bahkan pemberian jangka panjang dosis serendahnya 4 g/hari.
Berbeda dengan aspirin, parasetamol aman diberikan pada anak dan tidak terkait dengan
risiko Reye's syndrome pada anak dengan penyakit virus. Paracetamol juga aman digunakan saat
hamil, tidak berefek penutupan fetal ductus arteriosus(seperti yang dilakukan NSAIDs ).

Pengelolaan Nyeri
pada Kanker Stadium Lanjut
Muhammad NaharuddIn Janie
Laboratorium/UPF Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Rumah Sakit Dr Kariadi, Semarang
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/15PengelolaanNyeri077.pdf/15PengelolaanNyeri077.html

Klasifikasi obat analgesik menurut intensitas nyeri yang menjadi sasarannya, terbagi dalam tiga
kelompok :
1) Analgesik ringan. Termasuk di sini adalah analgesik non opioid dan analgesik opioid lemah
(misalnya : kodein, oksikodon clan propoksifen).
2) Analgesik opioid kuat. Misalnya : morphin.
3) Obat analgesik ajuvan, ialah yang meningkatkan efek analgesik opioid dan yang mempunyai
aktivitas analgesik intrinsik. Misalnya : amitriptilin.
Analgesik ringan, indikasinya adalah untuk memperbaiki nyeri ringan sampai sedang. Dalam
kelompok ini analgesik non opioid adalah obat pilihan pertama, misalnya : asetaminofen
(parasetamol), aspirin dan AINS (anti inflamasi non steroid).Keefektifan analgesiknya dibatasi
oleh adanya ceiling effect. Dalam istilah ceiling effect tercakup pengertian bahwa eskalasi dosis
di atas tingkat tertentu (misalnya untuk aspirin 900-1300 mg per dosis) tak akan menghasilkan
tambahan analgesia. Aspirin dan AINS mempunyai kerja analgesik, antipiretik dan anti inflamasi.

Sedangkan asetaminofen mempunyai kerja analgesik dan antipiretik yang sama dengan aspirin,
namun kerja anti inflamasinya lebih lemah daripada aspirin. Aspirin dan asetaminofen
merupakan obat pilihan pertama dalam menanggulangi nyeri ringan sampai sedang, karena
manfaatnya telah terbukti dan harganya murah, di samping itu umumnya aman. Asetaminofen
mempunyai waktu paruh yang pendek, sehingga harus diberikan setidak-tidaknya tiap 4 jam
supaya dapat memperbaiki nyeri yang adekuat. Keuntungan asetaminofen adalah : tak ada
sensitivitas silang dengan allergi aspirin, tak mempunyai efek samping gastrointestinal,
hematopoietik ataupun renal.