Anda di halaman 1dari 21

Bab 2

Tinjauan Pustaka
Pada dasarnya perencanaan produksi adalah suatu masalah yang penting untuk
dipecahkan oleh perusahaan, terutama yang didasarkan oleh penentuan rencana
produksi terhadap jumlah permintaan, dimana dibutuhkan berbagai informasi
yang dapat mendukung dalam memecahkan permasalahan tersebut. Oleh kerena
itu, pada bab ini akan diterangkan teori-teori yang akan digunakan untuk
menganalisis permasalahan yang akan dibahas dalam tugas akhir ini.
2.1 Teori Peramalan (Forcasting)
Peramalan adalah alat Bantu yang penting untuk melakukan suatu perencanaa
yang epektif dan episien, seperti peramalan pada suatu perkiraan tingkat
permintaan yang diharapkan untuk suatu produk atau beberapa produk dalam
periode waktu tertentu dimasa yang akan datang. Karena semakin lama kebutuhan
akan peramalan bertambah dimana manajemen melakukan pendekatan ilmiah
terhadap perubahan-perubahan lingkungan.
a. Definisi Peramalan

Menurut Jhon E.Biegel

Peramalan adalah suatu perkiraan tingkat perkiraan yang diharapkan untuk suatu
produk atau beberapa produk dalam periode waktu tertentu dimasa yang akan
datang

Menurut Roger G. Schroeder

Teknik perkiraan (Forcasting) adalah seni dan ilmu untuk memperkirakan


kejadian yang akan datang
Dalam memperkirakan (Forcasting), tidak jarang terjadi kesalahan misalnya saja
penjualan sering tidak sama dengan nilai yang diperkirakan. Sedikit variasi dari
perkiraan sering dapat diserap oleh kapasitas tambahan, persediaan atau
penjadwalan permintaan. Tetapi, variasi perkiraan yangt besar dapat merusak
operasi. Ada tiga cara untuk mengakomodasikan kesalah prekiraan yaitu, yang
pertama adalah mencoba mengurangi kesalahan melalui perkiraan yang lebih
baik. Yang kedua adalah membuat flexsibilitas pada operasi, yang ketiga adalah

mengurangi waktu tunggu yang dibutuhkan dalam perkiraan. Tetapi kemungkinan


kesalan yang terkecil adalah tujuan yang konsisten dengan dengan biaya prkiraan
yang masuk akal.

Menurut Buffa

Peramalan atau forcasting diartikan sebagai penggunaan teknik-teknik Statistik


dalam bentuk gambaran masa depan berdasarkan pengolahan angka-angka
histories. Pramalan tergantung pada adanya data histories yang cukup agar dapat
diuraikan secara statistic dan juga tergantung pepda faktor-faktor pembentuk pasar
yang relatif stabil.

Menurut Syprus makridakis

Peramalan merupakan bagian integral dari kegiatan pengambilan keputusan


manajemen.
Situasi peramalan sangat beragam dalam horizon waktu peramalan faktor yang
yang menentukan hasil yang sebenarnya, tiga pola data, dan brbagai aspek
lainnya. Untuk menghadapi penggunaan yng luas seperti itu, beberapa teknik telah
dikembangkan. Teknik tersebut dibagi keadalam dua kategori utama, yaitu metode
kuantitatif, dan metode kualitatif atau teknologis. Metode kuntitatif dapat dibagi
kedalam deret berkala (time series) dan metoda kausal, sedangkan metode
kualitatif atau teknologis dapat dibagi menjadi metode eksploratorius dan
normative.
2.2.1 Klasifikasi Metode Peramalan
Menurut Elsayed A. Elsayed dan Thomas O. Boucher, dalam bukunya analisis and
Control Of Produktion System disebutkan bahwa metode peramalan dikategorikan
sebagai berikut :

Teknik Kualitatif. Teknik ini digunakan kertika tidak ada atau sediakit
sekali data masa lalu. Dalam metode ini peramalan didasarkan pada
pemikiran intuitif, dan pengetahuan para pakar yang didapat dari
pengalamannya. Metode ini sering dikenal dengan metode Delphi (Delphi
method).

Teknik Kuantitatif. Teknik menggunakn pola data masa lalu untuk


memperkirakan (meramalkan) masa yang akan datang.

Teknik kuntittif ini menurut Makridakis dapat digolongkan menjadi duia, yaitu
model deret (time series) dan model regresi (kausal). Pada jenis pertama,
pendugaan masa depan dapat dilakukan berdasarkan nilai masa lalu dari suatu
variabel dan kesalahan masa lalu. Tujuan metode peramalan deret berkala seperti
itu adalah menemukan pola dalam deret data histories dan mengekstapolasikan
pola tersebut kemasa depan. Model kausal mengasumsikan bahwa faktor yang
diramalkan menunjukan suatu hubungan sebab akibat dengan satu atau lebih
variabel bebas. Maksud dari model kausal adalah menemukan bentuk hubungan
tersebut dan menggunakannya untuk meramalkan nilai mendatang dari variabel
tak bebas.
2.2.2. Memilih Metode Peramalan
Langkah penting dalam memilih sautu metode deret berkala (time series) yang
tepat adalah dengan mempertimbangkan jenis pola data, sehingga metode yang
paling tepat dengan pola tersebut dapat diuji. Pola data tersebut dapat dibedakan
menjadi empat jenis siklis dan trend:

Pola Horizontal, terjadi bilamana nilai data berfluktuasi disekitar nilai ratarata ynag konstan ( deret seperti itu adalah stationer terhadap nilai rataratanya).

Pola Musiman, terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh suatu faktor
musiman (misalnya kuartal tahun tertentu, bulanan, atau hari-hari pada
minggu tertentu).

Pola Siklis, terjadi bilamana datanya dipenuhi oleh fluktuasi ekonomi


jangka panjang seprti yang berhubungan dengan silklus bisnis.

Pola Trend, terjadi bilamana terdapat kenaikan atau penurunan sekuler


jangka panjang dalam data.

2.2.3

Tahapan Peramalan

Ramalan berdasarkan analisis data masa lalu memberikan kemungkinan metode


yang diteliti, asalkan terdapat suatu hubungan timbal balik antara masa lalu
dengan masa yang akan datang.
Adapun tahapan peramalan ini terdiri dari delapan langkah, yaitu :

1. Tentukan kegunaan dari peramalan


2. Pilih item-item yang akan diramalkan
3. Tentukan horizon waktu peramalan
4. Pilih model-model peramalan
5. Kumpulkan data yang dibutuhkan
6. Tentukan model peramalan
7. Lakukan peralaman
8. Implementasikan hasil peramalannya
Delapan langkah tersebut merupakan langkah-langkah dalam melakukan
peramalan secara umum.
2.2.4

Metode Peramalan Kuantitatif Yang Dipertimbangkan

Pada bagian ini akan disajikan masalah peramalan dan aspek-aspek yang terkait.
Aspek-aspek terkait yang dimaksud adalah: dilakukan peramalan metoda
peramalan yang digunakan, faktor pembanding dalam hal pengambilan keputusan,
verifikasi peramalan, peramalan yang terpilih, dan akhirnya mengaplikasikan
metoda peramalan yang terpilih.
Pada dasarnya peramalan ini bertujuan untuk memperkecil ketidak pastian yang
terdapat pada kecenderungan (trend) dan fluktuasi permintaan yang terjadi diluar
pengendalian perusahan. Dalam prakteknya peramalan ini selalu dihadapkan
dengan perhitungan yang memerlukan data masa lalu atau selalu tergantung pada
data-data histories. Tapi kadang-kadang data yang dimaksudkan tidak terdapat
pada prusahaan yang bersangkutan, misalnya tidak tersedianya data-data :
prmintaan masa lalu, mengenai kapasitas, persediaan, dan lain-lain. Oleh sebab itu
diperlukan kemampuan dari para pimpinan puncak untuk dapat mengantisipasi
keadaan seperti ini. Berdasarkan pada dua keadaan diatas, maka peramalan dibagi
atas dua klasifikasi yaitu peramalan kualitatif dan peramalan kuantitatif. Jenisjenis peramalan berdasarkan horizon waktu
Peramalan adalah suatu teknik yang digunakan untuk memperkirakan kodisi suatu
sistem dimasa datang, berdasarkan horizon waktunya, tipe peramalan dapat dibagi
menjadi dua bagian, yaitu: peramalan jangka panjang dan peramalan jangka
pendek.

a. Peramalan jangka panjang


Adapun yang dimaksud peramalan jangka panjang adalah peramalan dengan
horizon dengan waktu lebih satu tahun, sedangkan yang dimaksud dengan
peramalan jangka pendek adalah peramalan dengan horizon waktu sampai dengan
satu tahun.
Peramalan jangka panjang digunakan untuk pengambilan keputusan mengenai
perencanaan roduk dan perencanaan pasar, pengeluaran perusahaan, order
pembelian, perencanaan tenaga kerja, dan perencanaan kapasaitas, serta segala
pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kejadian satu atau beberapa
tahun yang akan datang. Lebih tegasnya peramalan jangka panang ini berorientasi
pada pasar atau perencanaan.
Metoda-metoda yang digunakan pada peramalan jangka panjang :
-

Metode Regresi
o Mtode Regresi Sederhana
o Metode Regresi Berganda

b. Peramalan Jangka Pendek


Sesuai dengan namanya, peramalan jangka pendek ini juga mempunyai horizon
waktu yang pendek yaitu kurang dari satu tahun, serta jangka waktu untuk setiap
faktor juga menggunakan horizon waktu yang pendek (kurang dari satu tahun).
Peramalan jangka pendek sangat diperlukan untuk membuat keputusan mengenai
penjadwalan persediaan, rencana produksi jangka pendek, analisa tenaga kerja,
proyeksi cash flow, dan penganggaran jangka pendek. Penetapan jadwal induk
produksi untuk bulan yang akan datang atau periode kurang dari satu tahun sangat
bergantung pada peramalan jangka pendek.
Metoda-metoda yang digunakan pada jangka pendek :
Metoda Pemulusan (Smooting)
-

Pemulusan Eksponensial Tunggal : Pendekatan Adaptif.

Pemulusan Eksponensial Ganda : Metoda Linier Satu Parameter dari


Brown.

Pemulusan Eksponensial Ganda : Metoda Dua Parameter dari Holt.

Pemulusan Eksponensial Tripel : Metode Kuadratik Satu Parameter dari


Brown.

Pemulusan Eksponensial Tripel : Metoda Kecenderungan dan Musiman


Tiga Parameter dari Winter.

Pada mulanya yang dilakukan oleh para pimpinan puncak perusahaan biasa masih
digolongkan masih sederhana. Karena perkembangan ilmu pengetahuan teknologi
yang mendukung dilakukannya peramalan, maka lama kelamaan proses
peramalan permintaan semakin komplek dan semakin akurat dalam hal ketepatan
perhitungan, walaupun kadang-kadang ditemukan hasil aktual yang terjadi
menyimpang cukup jauh dari hasi prediksi proses peramalan.
Berdasarkan perangkat yang mendukung, proses peramalan dapat digolongkan
pada dua jenis peramalan, yaitu: proses peramalan pada secara komputerisasi
dapat dihitung dengan non-komputerisasi. Pada proses peramalan secara
komputerisasi dapat dihitung dengan menggunakan Software Quantitive Sistem
(QS).
Ada banyak metoda peramalan yang bisa digunakan untuk memeprediksi keadaan
dimasa yang akan datang, baik yang sifatnya kualitatif maupun kuntitatif. Dalam
tugas akhir ini tidak semua metode yang digunakan, tetapi hanya beberapa metode
saja yaitu beberapa peramalan yang sifatnya kuntitatif. Alasan penggunaan
metode kuantitatif didasarkan pada tersedianya data histories yang diberiakan
oleh perusahaan.
Halangan utama dalam penggunaan metoda ini adalah tidak adanya deret berkala
bisnis yang benar-benar didasarkan atas proses konstan. Jika proses yang
mendasari deret-deret berkala bisnis mengalami peningkatan (Step Function),
maka nilai tengah yang digunakan sebagai peramalan untuk perioda mendatang
tidak dapat menangkap adanya perubahan tersebut. Dengan kata lain, step
function tersebut adalah datanya mengalami perubahan mendadak pada suatu saat.
Salah satu cara untuk mengubah pengaruh data masa lalu terhadap nilai tengah
sebagai data masa lalu terhadap nilai tengah sebagai ramalan adalah dengan
menentukan sejak awal berapa jumlah nilai observassi masa lalu yang akan

dimasukan untuk menghitung nilai tengah. Untuk menggambarkan prosedur ini


digunakan istilah rata-rata bergerak (moving average) karena setiap muncul
observasi baru, nilai rata-rata baru dapat dihitung dengan membuang observasi
yang paling tua (paling lama) dan memasukan nilai observasi terbaru. Rata-rata
bergerak ini kemudian akan menjadi ramalan untuk perioda mendatang. Dapat
dilihat bahwa titik dalam data setiap rata-ratanya tetap konstan dan observasi yang
dimasukan adalah yang paling akhir.
Dibandingkan dengan metode rata-rata nilai tengah (dari semua data masa lalu),
rata-rata bergerak tunggal karakteristik sebagai berikut :
a. Hanya menyangkut T perioda terakhir dari data yang diketahui.
b. Jumlah titik data dalam setiap rata-rata tidak beruabah dengan berjalannya
waktu.
Tetapi metode ini memepunyai kelemahan sebagai berikut :
1. Metode ini mempunyai penyimpanan yang lebih banyk karena semua T
observasi terakhir harus disimpan, tidak hanya nilai tengahnya.
2. Metode ini tidak dapat menanggulangi dengan baik bila adanya trend
(kecenderungan) atau pola permintaan musiman, walaupun metode ini lebih
baik dibandingkan rata-rata total (nilai tengah).
Prosedur atau algoritma :
1. Tetapkan suatu deret bersekala (kelompok data) untuk dianalisis.
2. Lakukan perataan (menghitung rata-rata) terhadap kelompok data tersebut).
3. Hasil rata-rata dijadikan output peramalan, yaitu sebagai dat peramalan untuk
satu perioda didepan T (horizon waktu untuk kelompok inisialisasi).
Jadi :
Nilai X ini akan berlaku hanya bagi suatu perioda peramalan pertama saja, dengan
kata lain nilai-nilai peramalan dari perioda satu sampai dengan perioda 12 selalu
berubah /bergerak. Untuk perhitungan ( ) selanjutnya dapat dilihat pada tabel 2.1
Tabel 2.1 Persamaan Peramalan Metode Bergerak Rata-rata Tunggal

Perioda
T

Data yang disimpan dari


perioda yang lalu
X X 2 .... X T
X 1
T

Input pada waktu ini

Output

X 1,...... X T

FT 1 X

X
i 1

T+1

X
X

X 2 ...... X T 1
T

X T 1

FT 2 X

X 3 ........ X T 2
T

T+2

T 1

X
i 1

T
T 2

X T 2

FT 3 X

X
i 3

Dan seterusnya
Untuk menghitung nilai et (error pada saat t) dapat dilakukan dengan cara
menghitung selisih data histories dengan data hasil peramalan. Persamaan berikut
akan mewakili perhitungan tersebut :
E t = Xt - Ft
Dimana : Xt = data histories masa lalu peroda ke t
Ft = data hasil peramalan perioda t
2.2.5 Metode Pemulusan (Smoothing) Eksponensial
Pemulusan eksponential tunggal dapat dikembangkan dari persamaan berikut :
Misalkan observasi yang lama Xt-N tidak tersedia sehingga temaptnya harus
digantikan dengan nilai suatu pendekatan (aproksimasi). salah satu pengganti nilai
ramalan periode sebelumnya Ft dengan melakukan substitusi persamaan diatas
menjadi sebagai berikut :
Ft+1 = Ft + (Xt / N-Xt / N)
Ft+1 = (1/n) Xt + (1-1 /N) Ft
Dari persamaan tersebut dapat dilihat bahwa ramalan tersebut didasarkan atas
pembobotan observasi yang terakhir dengan suatu nilai bobot (1/N) dan
pembobotan ramalan terakhir sebelumnya (Ft) dengan suatu bobot (1-1/N). karena
N merupakan suatu bilang positif, 1/N akan menjadi suatu konstanta antar nol
(jika N tidak hingga) dan 1 (jika N = 1). Dengan mengganti alpha maka
persamaan tersebut dapat ditulis :
Ft-1 =

Xt + (1- ) Ft

persamaan ini meruapkan bentuk umum yang dugunakan dalam menghitung


ramalan dengan pemulusan Eksponenetial. Metoda ini dapat mengurangi masalah
penyimpangan data, karena tidak lagi perlu menyimpan semua data histories atau

sebagian dari padanya. Hanya observasi terakhir , ramalan terakhir, dan satu nilai
alpha yang harus disimpan.
2.2.6

Verifikasi Peramalan

Setelah peramalan demand untuk perioda mendatang dilakukan, yang dapat perlu
diverifikasi. Adapun tujuan verifikasi peramalan tersebut adalah sebagai berikut :

Melihat apakah fungsi peramalan mewakili sistem demad.

Sebagai alat kontrol (secara statistik).

Suatu langkah pertama yang perlu setelah membuat ramalan adalah memeriksa
bahawa ramalan tersebut memang telah dapat mewakili data sistem penyebab
kebetulan yang mendasari permintaan bagi produk yang dipertanyakan. Terdapat
banyak cara yang dapat digunakan untuk memeriksa ramalam saat mengamati
suatu perubahan dalam sistem penyebab yang mendasari permintaan. Bentuk yang
paling mudah dari cara pengendali adalah peta kendali secara statististik yang
digunakan dalam pengendalian kualitas. Salah satu peta yang dapat digunakan
adalah peta rentang bergerak.
Peta rentang bergerak dirancang untuk membandingkan nilai yang diamati dengan
yang diramalkan dari suatu permintaan. Sekali kita memebuat peramalan dan peta
rentang bergerak, berarti kita mengunakannya sebagai pemeriksaan yang
berkesinambungan untuk melihat jika mendasari sebuah sistem penyebab tersebut
adalah tidak berubah.
Seperti halnya proses peramalan demand secara umum, verifikasi itu sendiri
,mempunyai tahap-tahap tertentu dalam pelaksanaanya. Berikut ini akan diuraikan
tahap-tahap verifikasi peramalan yang dimaksud.
Tahap-tahap Verifikasi Peramalan:
Menghitung moving Range
Rentang bergerak didefinisikan sebagai :
MR =

( dt ' dt ) ( dt 1 d )

Dimana : MR = moving range


Menghitung rata-rata moving range

Rata-rata rentang bergerak didefinisikan sebagai :


MR

MR
n 1

Melakukan test out of kontrol


Batas-batas kontrol dinyatakan sebagai berikut :
o UCL = +2,66
o LCL = -2,66
Lebih jauh pemeriksaan peramalan adalah pemeriksaaan yang melibatkan
pengujian kondisi yang tidak terkendali. Pengujian yang lebih meyakinkan untuk
suatu kondisi yang tidak terkenali adalah suatu titik diluar batas-batas kendali.
Pengujian-pengujian tersebut menghendaki pembagian peta kendali kedalam 6
daerah dengan lebar yang sama. Adapun pembagian daerah sebagai berikut :

Daerah A terdiri dari bagian sebelah luar kurang lebih 2/3 (2,66 MR) = 1,77
MR.

Daerah B terdiri dari bagian sebelah luar + 1/3 (2,66 MR) = +0,89 MR (diatas
0,89 MR) atau dibawah -0,89 MR.

Daerah C dari bagian diatas atau dibawah garis tengah.

Suatu tindakan harus dilakuakan jika salah satu dari kriteria atas terdapat pada
metode peramalan yang diterapkan. Tindakan yang dilakukan tersebut adalah
dengan mencari penyebab kenapa kondisi tersebut bisa terjadi. Ada dua tindak
lanjut yang bisa dilakukan jika tindakan mencari penyebab tersebut sudah
dilakukan , yaitu :
Jika penyebab dapat diketahui dan bisa ditolerir, maka peramalan masih bisa
dipakai.
Jika tidak diketahui penyebabnya, maka tindakan yang harus dilakukan adalah

Ganti metode peramalan

Buang data yang output, dan ramalkan dengan cara yang sama.

Jika metode peramalan yang digunakan lulus dalam verifikasi, maka tindakan
selanjutnya adalah melakukan beberapa uji stastistik.

2.2.7

Beberapa Uji Statistik

Pengujian statistik ini untuk memeilih salah satu dari metode peramalan yang
lulus dalam verifikasi preamalan yang telah dilakukan pada bagian sebelumnya.
Kita sekarang beralih keprihal mendasar seperti bagaimana mengukur kesesuaian
metode peramalan tertentu untuk suatu kumpulan dat yang diberiakan. Dalam
banyak situasi permalan, ketepatan dipandang sebagai kriteria penolakan untuk
memilih suatu metode peralamalan. Dalam banyak hal kata akurat lebih
menujukan pada kebaikan sesuai, yang pada akhirnya menunjukan seberapa
jauh model peramalan tersebut mampu memproduksi data yang telah diketahui.
Bagi pemakai ramalan, ketepatan ramalan yang akan datang adalah hal yang
sangat penting. Bagi pembuat model sesuai untuk model fakta (kuantitatif dan
kualitataif) yang duketahui harus diperhatikan.
Berikut jenis pertanyaan yng sering diajukan mengenai kedua orientasi tersebut :

Berapa ketepatan tambahan yang dapat dicapai dalam situasi tertentu melalui
penggunaan teknik peramalan formal? Bagaimana ketidak tepatan ramalan
yang akan terjadi jika ramalan didadasarkan atas pendekatan yang sangat
sederhana?

Untuk situasi yang diketahui, berapa banyak perbaikan diperoleh dalam


bentuk ketepatan ramalan?

Jika kesempatan untuk pencapaian ketepatan yang lebih tinggi dalam situasi
tertentu telah dipahami, bagaimana pengetahuan itu dapat membantu dalam
pemilihan teknik peramalan yang tepat?

Bagi seorang profesional (telah berpengalaman dalam merencanakan suatu


kegiatan produksi), pertanyaan tersebut tidak menjadi petimbangan dalam
pengambilan keputusan mengenai jumlah demand hasil peramalan yang akan
dilakukan nantinnya. Kerena betapapun canggih dan kompleknya variabel
dipertimbangkan dalam hal meramalkan demand, tetapi hasil yang didapat tidak
selalu tepat 100% atau bahkan 95%. Yang lebih dipentingkan adalah bagaimana
membuat suatu keputusan yang tepat pada saat yang tepat, dengan pertimbanganpertimbangn dan perhitungan-perhitungan yang matang serta ditimbang dengan
pengalaman kerja masa lalu yang menunjang pengambilan keputusan tersebut.

Dalam kaitaan masalah yang kita bahas kali ini, penulis mencoba mengambil jalan
tengah untuk mempertimbangkan kedua orientasi yang terdapat pada bagian
pengantar diatas (orientasi pembuat model peramalan, dan orientasi pemakaian
peramalan).
Untuk menerapkan hal yang dimaksudkan tersebut (mengambil jalan tengah
antara dua orientasi yang berbeda), maka pada kesempatan ini beberapa uji
statistik yang akan diterapkan pada metode-metode peramalan yang lulus dalam
verifikasi peramalan. Pengujian yang dimaksudkan adalah sebagi berikut.
Uji-uji stasistik yang digunakan :

Uji nilai tengah kesalahan (mean eror) ME.

Uji nilai tengah kesalahan absolute (mean absolute eror) MAE.

Uji jumlah kuadrat kesalahn (sum of squared eror) SSE.

Uji nilai tengah kesalahan kuadrat (mean squared eror) MSE.

Uji deviasi standar kesalahan (standard deviation of eror) SDE.

Uji Nilai Tengah Kesalahan (Mean Eror) ME.


n

et / n
t 1

Dengan et = Xt Ft
n = jumlah periode peramalan

Uji Nilai Teangah Kesalahan Absolut (Mean Absolut Eror) MAE.


n

et / n
t 1

Uji Jumlah Kuadrat Kesalahan (Sum Of Squred Error) SSE.


n

SSE et 2
t 1

Uji Nilai Tengah Kesalahan Kuadrat (Mean Squared Error) MSE.


n

MSE et 2 / n
t 1

Uji Standar Kesalahan (Standar Deviation Of Error) SDE.

SDE

et

t 1

n 1

Dari sekian banyaknya ukuran ketepatan peramalan, ukuran statistik nilai tengah
kesalahan kuadrat (MSE) merupakan ukuran yang paling sering digunakan, nilai
tengah kesalahan kuadrat ini merupakan suatu ukuran ketepatan perhitungan
dengan mengkuadratkan masing-masing kesalahan untuk masing-masing item
dalam sebuah susunan data dan kemudian memperoleh data-data atau nilai tengah
jumlah kuadrat tersebut. Nilai tengah kesalahan kuadrat tersebut memberikan
bobot yang lebih besar terhadap kesalahan yang besar dari pada kesalahan kecil,
sebab kesalahan kecil dikuadratkan sebelum dijumlahkan.
2.3 Perencanaan Produksi
Perencaanaan adalah suatu prose berpikir yang dilandasi oleh suatu tujuan dengan
orintasi kemasa yang akan datang, sehingga ada keterkaitan anara tujuan,
manuasia, dan metode. Perencanaan dimaksudkan untuk meyusun dan
mengendalikan tujuan yang telah ditetapkan, yang merupakan salah satu fungsi
manajemen dalam usaha menentukan atau menetapkan kegiatan-kegiatan yang
akan dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Perencanaan poduksi pada dasarnya ditentukan setelah diketahuinya kebutuhan
produk dimasa mendatang. Dalam sistem produksi yang bersifat make to order
(pesanaan) besarnya produk yang akan dibuat tergantung dari pesanaan atau
perkiraan kebutuhan konsumen. Kemungkinan kondisi pada masa mendatang
yang lebih bersifat probalistik, serta keterbatasan yang ada pada perusahaan,
diharapkan perencanaan produksi yang dibuat akan menghasikan yang lebih baik.
Hal ini berrati memberikan dapat keuntungan yang dapat melayani permintaan
konsumen dengan waktu dan jumlah yang tepat. Denagn demikian dalam
pelaksanaannya akan melibatkan langsung terhadap kebutuhan tenag kerja, jam
kerja, persedian bahan baku maupun barang jadi serta alat-alat yang akan
dipergunakan.

Secara umum tujuan perencanaan produksi memiliki fungsi tujuan. Fungsi


pertama menggambarkan rencana yang akan datang untuk dilaksanakan dengan
pembatas-pemabatas yang ada, misalnya: masalah keuangan, pelayanan
langganan, stabilitas tenaga kerja, dan lain-lain. Berdasarkan fungsi-fungsi ini,
rencana produksi dapat digunakan untuk menentukan apakah diperluakn
penembahan kapasitas, melakukan persiapan-persiapan produksi, dan lain-lain.
Fungsi kedua adalah pedoaman kepada pihak manajemen dalam menetapkan
keputusan untuk kebijaksanaan perusahaan.
Perencanaan produksi membutuhakn sejumlah keputusan penting yang antara lain
menyangkut jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, kapasitas peralatan yang
diperlukan dan pengendalian perusahaan. Tujuan dari perencanaan produksi
adalah untuk mendapatkan pernyataan mengenai karakteristik umum, kerangka
kerja operasi manufaktur selama periode perencanaan. Kerangka ini harus
dirancang untuk mendapatkan kesesuaian antara tujuan perusahaan dan keinginan
konsumen.
Perencanaan produksi dibagi menjadi dua kelompok penting. Pertama
,menyangkut perencanaan langsung, seperti: penyusunaan rencana produksi yang
akan diikuti, pembatasan dan kebijakan mengenai ongkos, masalah financial,
pelayan pelanggan dan fasilitas tenaga kerja. Perencanaan ini dapat digunakan
untuk menentukan kapan kapasitas ekstra dibutuhkan dan untuk mengatur opersioperasi manufaktur. Kedua, perencanaan produksi untuk mendapatkan hal-hal
yang menyangkut manajemen perusahaan yang dgunakan dalam penetapan
kebiajkan untuk perencanaan tata letak perusahaan.
Perencanaan produksi merupakan mata rantai yang penting antara rencana strategi
perusahaan, rencana pemasaran, dan jadwal induk produksi. Pengaruh utamanya
adalah pada keputusan mengenai sumber-sumber perusahaan, seperti: bahan,
fasilitas, uang, dan tenaga kerja.
Beberapa istilah yang erat sekali hubungannya dengan perencanaan produksi,
yaitu :

1. Periode Perencanaan Produksi


Periode perencanaan produksi merupakan segmen waktu yang ingin dicakup
dalam rencana produksi perusahaan. Segmen waktu ini dapat dinyatakan
dalam bulan, mingu atau beberapa segmen waktu ini ditentukan oleh
kemampuan meramalkan permintaan pasar dengan baik dan kemampuan
perusahaan untuk melaksanakan penyesuaian akibat-akibat perubahan yang
terjadi dipasar.
2. Kurun Perencanaan Produksi
Kurun perencanaan produksi adalah banyaknya periode masa yang akan
dating yang dipertimbangkan sewaktu membuat rencana produksi. Kurun
perencanaan produksi dikaitakan dengan lingkungan pasar, tidak dapat dibuat
dalam jangka waktu yang

panjang jika peramalan yang akurat tidak

didapatkan. Jika peramalan dapat dilakukan dengan mudah dan dengan


ketepatan yang tinggi pada jangka panjang, maka kurun perencanaan produksi
dapat ditetapkan dengan mempertimbangkan aspek ekonimi dan perencanaan
yang akan disusun.
3. Ongkos Tenaga Kerja
Ongkos tenag kerja merupakan ongkos rata-rata yang dibayarkan perusahaan
untuk memeperkerjakan tenaga kerja selama satu tahun periode pada jam kerja
normal. Ongkos ini sering disebut sebagai upah atau gaji yuang diterima
karyawan sebagai imbalan atas sumbangan yang diberikannya pada
perusahaan.
4. Ongkos Tenaga kerja Lembur
Ongkos kerja lembur merupakan ongkos yang dikelurkan perusahaan karena
mempekerjakan karyawan diluar jam kerja normal. Hal ini dibuutuhkan bila
kecapatan produksi relative lebih kecil, yaitu jumlah produk yang akan dibuat
lebih besar dari kemampuan perusahaan untuk memproduksi dengan
menggunakan jam kerja normal pada periode tertentu.
Setelah permintaan yang diharapkan untuk beberap waktu dimasa yang akan
datang diketahui, rencana produksi untuk periode tertentu akan dapat dibuat.
Rentang jangka waktu akan bervariasi dengan kondisi, sehiinggga jangka waktu
ramalan perkiraan produksi juga akan bervariasi dengan kondisi-kondisi tersebut.

Rencana produksi harus menyediakan jumlah produk yang diinginkan pada waktu
yang tepat dan pada jumlah biaya yang terkecil dengan kualitas yang memenuhi
syarat. Rencana produksi tersebut akan menjadi dasar bagi pembentukan anggaran
operasi, dan membuat keperluan tenaga kerja serta keperluan jam kerja baik untuk
waktu kerja biasa maupun waktu kerja lembur. Selanjutnya, rencana produksi
tersebut digunakan untuk menetapkan keperluan peralatan dan tingkat persedian
yang diharapakan.
Dalam menyiapkan rencana produksi, harus dipikirkan jika ada permintaan yang
harus dipenuhi. Terdapat tiga sumber yang dapat digunakan, yaitu :
o Produksi yang ada atau yang sedang dilakukan
o Persediaan yang ada atau yang masih ada digudang
o Produksi dan persediaan yang masih ada
Ada beberapa langakh dalam perencanaan produksi setelah diperoleh hasil
peramalan, yaitu :

Input hasil peramalan


Input ini berupa hasil peramalan yang dilakukan berdasarkan metoda yang
digunakan. Input ini penting sekali karena pada dasarnya perencanaan
produksi adalah rencana penyesuaian permintaan yang berasal dari ramalan
dengan seluruh kemampuan yamg ada pada perusahaan.

Ubah seluruh variabel menjadi satu satuan ukuran


Maksud dari langkah ini adalah untuk menentukan apakah rencana produksi
akan dibuat dalam satuan ukran unit produksi atau berdasarkan jam orang
yang tersedia untuk melakukan produksi. Tentukan kebijaksanaan perusahaan
dan pilih salah satu atau beberapa model perencanaan. Ada banyak model
perencanaan yang bisa digunakan. Namuan yang paling banyak digunakan
adalah metoda transportasi. Metode transportasi ini merupakan metoda
perencanaan yang didasarkan pada pertimbangan ongkos yang terkecil. Prinsip
utama metoda ini adalah mengalokasikan kapasitas produksi yang
menyebabkan ongkos produksi terkecil.

Tentukan model mana yang akan dipakai, sesuai dengan kriteria. Langkah
empat ini merupakan pemiliham model. Ada banyak kriteria dalam pemilihan

model ini, namun yang paling umum kriteria yang dipertimbangkan adalah
kriteria ongkos.
Pada prosedur perencanaan produksi tidaklah sama antar perusahaan, tetapi
umumnya terdiri dari 5 langkah, yatu :
1. Menetapkan unit pengukuran.
2. Menentukan horizon perencanaan.
3. Menentukan siklus pemeriksaan, pelaksanaan produksi planning.
4. Mendokumentasikan perencanaan sebagai prosedur yang formal.
5. Menetapkan pertanggung jawaban yang jelas untuk setiap bagian.
Umumnya hambatan yang akan terjadi pada penyusunan rencana produksi berupa
kegagalan manajemen dalam memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan dalam
penyusunan rencana produksi, adanya kesulitan dalam mengkonversiakan nilai
kedalam unit produksi serta kurangnya perhatian terhadap masalah persediaan dan
peramalan. Bila hambatan belum bisa diatasi maka manufacturing production
scheduling aktivitas berikutnya tidak dapat dilaksanakan secar epektif.
Dalam menghadapi demand yang berfluktuasi, strategi yang digunakan untuk
perencanaan produksi meliputi:
1. Produksi bervariasi mengikuti tingkat demand yang terjadi, yaitu:
a.

Dengan menambah atau mengurangi tenaga kerja, atau mengubah


jumlah shift

b.

Dengan melakukan lembur atau mengurangi jumlah tenaga kerja.

2. Produksi pada tingkat konstan, yaitu:


a.

Dengan menumpuk jumlah tenaga kerja, tetapi melakukan lembur


atau mengurangi jumlah tenaga kerja.

b.

Dengan menambah atau mengurangi sub-kontrak.

Tujuan dari perencanaan produksi adalah:


1. Mengatur strategi produk
a

Memproduksi sesuai demand

Memproduksi pada tingkat konstan

2. Menentukan kebutuhan sumber daya, meliputi:


a

Tenaga kerja

Material

Fasilitas

Peralatan

Modal

Hubungan antara perencanaan produksi dengan aktifitas-aktifitas perencanaan dan


pengendalain produksi lainnya yang terdapat pada gambar 2.1
demand
Management

Production
Planning

Prouction
Planning
What - If
Analysis

Final Assembly
Scheduling (FAS)

Vendor Follow up System

Master Production
Scheduling (MPS)

Rougt Cut
Capacity Planning
(RCCP)

Material
Requirement
Planning (MRP)

Capacity
Requirement
Planning (CRP)

Production Activity
Control

Operation
Scheduling

Gambar 2.1 perencanaan dan pengendalain produksi

2.3.1 Jenis-jenis Perencanaan Produksi


Jenis perencanaan produksi dapat dibedakan atas perencanaan produksi jangka
panjang dan perencanaan produksi jangka pendek. Perencanaan produksi jangka
panjang adalah penentuan tingkat kegiatan produksi lebih dari satu tahun, dan
biasanya sampai lima tahun mendatang, dengan tujuan untuk mengatur
pertambahan kapasitas atau mesin, ekspansi pabrik dan pengembangan produk
(produk development). Sedangkan perencanaan prodiuksi jangka pendek adalah
penentuan kegitan-kegiatan produksi yang dilakukan dalam satu tahun mendatang
dengan tujuan mengatur pengguanaan tenaga kerja, persediaan bahan baku dan
pasilitas produksi yang dimiliki oleh perusahaan. Oleh kerena itu perencanaan
produksi jangka pendek produksi, agar dapat memenuhi permintaan konsumen
pada saat dibutuhkan dan dengan keseluruhan biaya produksi yang minimum.
Didalam perencanaan produksi sudah pasti kita menginginkan datanya disusun
suatu rencana produksi yang baik dan dapat dilaksanakan denga biaya yang
serendah mungkin. Adapun syarat-syarat dari suatu perencanaan produksi yang
baik adalah :

1. Harus disesuaiakn atas dasar tujuan dan objektivitas perusahaan yang


dinyatakan dengan jelas.
2. Rencana tersebut harus sederhana dan dapat dimengerti
3. Rencana itu harus bisa dianalisa dan keepektifan.
2.3.2 Perencanaan Agregat
Perencanaan agregat adalah hasil perencaan untuk tenag krja dan tingkat produksi
yang dituangkan dalam pasilitas perencanaan agregat. Perencanaan agregat
merupakan salah satu metode dalam perencanaan produksi. Dengan menggunakan
perencanaan agregat maka perencanaan produksi dilakukan dengan menggunakan
satuan penggunaan pengganti, sehingga keluaran (output) dari perencanaan
produksi tersebut tidak dinyatakan dalam setiap jenis produk (produk individu)
tapi bisa merupakan dalam tingkat family produk secara produk.
Banyak metoda yang dikembangkan untuk perencanaan agregat ini, tetapi pada
dasarnya dikelompokkan menjadi dua dua kelompok, yaitu :

Dengan pendekatan Optimasi


o Progaram Linier
o Aturan Linier Decision Rule
o Search Decision Rule

Dengan Metoda Heuristik


o Metoda Grafik
o Metoda koefisien Manajemen/Konstanta Bowman (Pendekatan Empiris)
o Metoda parametric
Pada dasarnya output yang dihasilkan dari perencaan agregat adalah

sebagai berikut :

Kecepatan produksi setiap periode

Jumlah tingkat persedian

Jumlah backorder (penundaan waktu penyerahan)

Jumlah tenag kerja yang digunakan untuk menghasilkan sejumlah produk.

Alokasikan pemanfaatan waktu kerja

Jumlah pesanaan sub kontrak

Dalam memilih metode-metode dari dua kelompok metoad perencanaan agregat


diatas, tentunya kita mempunyai beberapa dasar atau alasan mengapa salah satu
metode perencanaan agregat dipilih. Untuk menerangkan maksud tersebut, berikut
ini dapat dilihat alasan mengapa salah satu metoda perencanaan agregat atau lebih
dipilih, yaitu :
Mudah dalam mengoalah data
Dengam menggunakan satuan agregat maka pengolahan data tidak dilakukan
untuk setiap individu. Keuntunganini akan semakin terasa jika pabrik yang
bersangkutan memproduksi banyak jenis produk (banyak jenis individu).
Pengolahan data akan semakin mudah bila ada perangkat lunak (software)
computer yang mendukung perhitungan.
Ketelitian hasil yang didapat
Dengan tidak terlalu perhitungan dari suatu metode perencanaan agregat,
maka ketelitian hasil yang didapat akan semakin baik.
Kemampuan dalam melihat/memahami mekanisme sistem produksi yang
terjadi dalam implementasinya.
Dengan memilih dan melaksanakan mekanisme dari perencanaan agregat maka
akan terlihat maksud yang diungkapkan.
Dengan memperhatikan uraian diatas, maka metoda perencanaan agregat yang
relatiif dapat diterapkan adalah sebagai berikut :
2.3.2.1 Metode Transportasi Least cost

Metode transportasi digunakan untuk model Transportasi Least cost


sederhana bila kita memandang bahwa masalah perencanaan agregat sebagai
usaha untuk mengalokasikan supply untuk memenuhi demand, maka metode
transportasi least cost adalah tepat untuk memecahkan masalah tersebut.
Tabel 2.2 Format Metode Transportasi least cost

Perioda

Sumber
Produksi
Inventori
RT
OT
SC

Perioda
1

KTTP
3

Kapasitas
Total

Demand
Metoda transportasi melakukan perhitungan dengan variabel-variabel yaitu
regular time, over time, dan sub kontrak. Format (tabular) untuk metode ini dapat
dilihat pada tabel 2.2 yaitu jika total kapasitas melebihi demand, suatu slack
demand tak terpakai ditambahkan pada periode berikutnya untuk keseimbangan
sumber produksi atau supply dengan demand. Kotak kecil pada sudut kanan atas
menunjukan ongkos dari masing-masing jumlah persatuan unit dibawahnya.
ongkos total diperoleh dari jumlah total dari perkalian masing-masing ongkos
dengan unit yang ada. Dan untuk memenuhi unit dalam periode dengan metode
least

cost

bisa

menentukanya

dengan

membandingkan

antara

ongkos

termurah/terkecil pada regular time atau over time dengan melihat sisa permintaan
dari demand yang tidak terpenuhi dari kapasitas yang ada maka untuk sisanya itu
bisa diproduksi diperiode berikutnya dengan memilih ongkos termurah,sehingga
perusahaan bisa menghasilkan penyelesaian rencana produksi dengan biaya
terendah.