Anda di halaman 1dari 3

LOGIKA

Logika adalah sarana untuk berfikir sistematis, valid dan dapat dipertanggung jawabkan.
Berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir supaya dapat berpikir
tepat dan mencapai kebenaran. Berpikir tidak dapat dijalankan semaunya karena pada
realitasnya pikiran di ikat oleh hakikat dan struktur tertentu atau secara sederhana bahwa
sebenanya pikiran kita tunduk kepada hukum-hukum tertentu.
Sebagai perlengkapan ontologisme pikiran kita dapat bekerja secara spontan, alami dan baik
untuk menyelesaikan hal-hal sederhana dan jelas. Namun tidak demikian apabila menghadapi
hal-hal yang rumit dan berliku. Dalam situasi tesebut dibutuhkan pikiran yang sadar akan
hukum-hukum pikiran berserta mekanisme pikiran yang dapat digunakan secara sadar dalam
mengkontrol perjalanan pikiran yang rumit dan panjang.
I.

Aturan Cara Berpikir yang Benar


Kondisi adalah hal-hal yang harus ada supaya sesuatu dapat terwujud dan terlaksana.

Untuk berpikir baik, benar, logis juga dibutuhkan kondisi tertentu.


1.
Mencintai kebenaran
Sikap ini sangat fundamental untuk berpikir yang baik, sebab sikap ini senantiasa
menggerakan si pemikir untuk mencari, mengusut, meningkatkan mutu penalarannya,
menggerakan

si

pemikir

untuk

senantiasa

mewaspadai

ruh-ruh

yang

akan

menyelewengkannya dari yang benar. Secara sederhana bahwa seseorang akan senantiasa
mencari dan mencari alasan dari kenyataan yang ada. Dia tidak mudah percaya dengan apa
yang ada melainkan setelah dipikirkan dengan logikanya yang sehat. Misalnya,
menyederhanakan kenyatanaan, menyempitkan cakrawala/perspektif, berpikir berkotakkotak, memutlakan titik berdiri atau suatu profil, dan sebagainya.
Cinta kepada kebenaran diwujudkan dalam kerajinan (jauh dari kemalasan, jauh dari
takut sulit, jauh dari kecerohohan) serta diwujudkan dalam kejujuran, yakni disposisi atau
sikap kejiwaan (dan pikiran) yang selalu siap sedia menerima kebenaran meskipun
berlawanan dengan prasangka dan keinginan/keendrungan pribadi atau golongan.
2)

Ketahuilah (dengan sadar) apa yang sedang anda kerjakan


Kegiatan yang sedang dikerjakan adalah kegiatan berpikir. Seluruh aktivitas intelek kita
adalah suatu usaha terus-menerus mengejar kebenaran yang diselingi dengan diperolehnya
pengetahuan tentang kebenaran tetapi parsial sifatnya.
Sifat intelek didalam manusia ada 2 yaitu diskursif dan sedikit intuitif.
Komentar: dengan kemampuan manusia yang terbatas dalam memperoleh kebenaran,
tentunya upaya yang terus-menerus dalam mencari kebenaran merupakan keniscayaan. Sebab

seperti yang dikatakan oleh prof Amsal, bahwa taraf hidup kita di dunia ini, sifat intelek kita
diskurtif dan hanya dalam beberapa hal agak sedikit intuitif. Karena untuk mencapai
kebenara, kita harus bergerak melalui berbagai macam langkah dan kegiatan.
3.

Ketahuilah (dengan sadar) apa yang sedang anda katakan


Pikiran diungkapan ke dalam kata-kata. Kecermatan pikiran terungkap dalam

kercermatan kata-kata. Anda senantiasa menguasai ungkapan pikiran ke dalam kata tersebut,
baik yang eksplisit maupun yang implisit. Harus mengetahui dengan betul dan seksama
mengenai isi (Komprehensif), lingkungan (ekstensi), arti fungsional (Suposisi). Lebih jauh
Prof Amsal mengatakan, waspadahilah terhadap term-term ekuivokal (Bentuk sama, teteapi
arti berbeda), analogis (bentuk sama, tetapi arti sebagian sama sebagian berbeda).
Hal ini merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam cara berpikir benar.
Sebab kata-kata yang diucapkan tidak diketahui dengan benar akan makna dari kata tersebut
bagi pengucap, dapat menimbulkan akibat yang fatal dikemudian hari. Misal seorang yang
mengatakan, Matahari itu terbenam di sebelah Barat. Maka kata sebelah Barat haruslah
benar-benar dipahami, yakni menunjukan tempat.
4.

Buatlah distingsi (Pembedaan) dan pembagian (Klasifikasi)


Banyak kejadian di mana dua hal atau lebih mempunyai bentuk sama, namun tidak

identik. Di sinilah perlunya dibuat distingsi, suatu pembedaan. Eksplisitkan hal-hal yang
membuat yang satu bukan yang lain. Hindari diri dari setiap usaha main pukul rata. Karen
relitas begitu luas, sehingga perlu diadakan pembagian (klasifikasi). Jika membuat
pembagian, peganglah suatu prinsip pembagian yang sama, jangan sampai anda
menjumlahkan bagian atau aspek dari suatu realitas begitu saja tanpa berpegang pada satu
prinsip pembagiaan (prinsip klasifikasi yang sama. Hal ini dilakukan untuk menghindari
terjadinya tumpang tindih.
5.

Cintailah Definisi yang Tepat


Penggunaan bahasa sebagai ungkapan sesuatu kemungkinan tidak ditangkap

sebagaimana ungkapan yang dimaksudkan. Hal ini dimungkina karena bahasa yang
digunakan adalah bahsa yang sulit untuk dipahamu, atau bisa juga karena bahasa yang
dipakai terlalu tertele-tela alias tidak tertuju kepada seautu titik pembicaraan.
Oleh karena itu definisi adalah sesuatu yang teramat dibutuhkaan dalam melerai
kesalah pahaman terhadap sebuah ungkapan. Definisi adalah pembatasan, yakni membuat

menjadi jelas batas-batas akan sesuatu. Harus dihindari kalimat-kalimat atau uraian-uraian
yang gelap, tidak terang strukturnya, dan tidak jelas artinya.
6.

Ketahuilah (dengan sadar) mengapa anda menyimpulkan begini atau begitu


Poin yang satu ini diperlukan untuk bisa dan biasa melihat asumsi-asumsi, implikasi-

implikasi, dan konsekuensi-konsekuensi dari suatu penuturan, pernyataan, atau kesimpulan


yang dibuat. Serinya terjadi, di mana banyak orang yang tidak mengetahui apa yang mereka
katakan atau nyatakan dan mengapa mereka katakan atau mengatakan begitu.
Jika bahan yang ada tidak atau kurang cukup untuk menarik sebuah kesimpulan,
hendaknya orang menahan diri untuk tidak membuat kesimpulan atau membuat pembatasanpembatasan (membuat reserve) dalam kesimpulan.
7.

Hindarilah kesalahan-kesalahan dengan segala usaha dan tenaga, serta


sangguplah mengenali jenis, macam dan nama kesalahan, demikian juga mengenali
sebab-sebab kesalahan pemikiran (penalaran)

Anda mungkin juga menyukai