Anda di halaman 1dari 14

LANDASAN TEORI

1.

Pengertian
1. Menometroragia adalah perdarahan yang banyak, di luar siklus haid dan
biasanya terjadi dalam masa antara 2 haid, perdarahan itu tampak
terpisah dan dapat dibedakan dari haid atau 2 jenis perdarahan ini
menjadi

yang pertama dinamakan metroragia

yang kedua

menometroragia (Widjarnako, 2009).


2. Menometroragia adalah perdarahan rahim yang berlebihan dalam
jumlah dan lamanya perdarahan, dapat terjadi dalam periode menstruasi
maupun di antara periode menstruasi (Rika, 2009).
3. Menometroragia adalah perdarahan yang terjadi antara masa 2 haid
yang dapat disebabkan oleh kelainan organik pada alat genital atau oleh
kelainan fungsional (Prawirohrdjo, 2007).
4. Menometroragia adalah perdarahan saat menstruasi yang berlangsung
terus / panjang dan dengan jumlah darah yang lebih banyak (Manuaba,
2010).
Dari beberapa pengertian tersebut di atas maka penulis
menyimpulkan bahwa menometroragia adalah suatu keadaan dimana
terjadi perdarahan diluar haid yang berlangsung lama serta dengan
jumlah darah yang lebih banyak.

2. Etiologi
Prawirohardjo (2007), etiologi dari menometroragia antara lain:
1. Sebab sebab Organik
Perdarahan dari uterus,tuba dan ovarium disebabkan oleh kelainan
pada :
a.

Servik uteri : Karsinoma partiom, perlukaan serviks, polip servik,


erosi pada portio, ulkus portio uteri.

b. Vagina : Varices pecah, metostase kario, karsinoma keganasan


vagina, karsinoma vagina.
c. Rahim : polip endometrium, karsinoma korpus uteri, submukosa
mioma uteri.
d. Ovarium : radang ovarium, tumor ovarium, kista ovarium
e. Tuba fallopii, seperti kehamilan ektopik terganggu, radang tuba,
tumor tuba.
2. Sebab sebab disfungsional

Perdarahan uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab organik.


Perdarahan disfungsional terbagi menjadi 3 bentuk :
a.

Perdarahan disfungsional dengan ovulasi (ovulatoir disfunction


bleeding).
Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium
tanpa ada sebab - sebab organik, maka harus diperhatikan sebagai
etiologi.

Korpus lutheum persistens dalam hal ini dijumpai perdarahan


kadang-kadang bersamaan dengan ovarium yang membesar
korpus lutheum ini menyebabkan pelepasan endometrium tidak
teratur (irreguler shedding) sehingga menimbulkan perdarahan.
Insufisiensi korpus lutheum menyebabkan premenstrual spotting,
menorhagia dan polimenorrea, dasarnya adalah kurangnya
produksi progesterone disebabkan oleh gangguan LH releasing
factor. Apapleksia uteri pada wanita dengan hipertensi dapat
terjadi pecahnya pembuluh darah dalam uterus. Kelainan darah
seperti anemia, gangguan pembekuan darah purpura trombosit
openik.
b. Perdarahan disfungsional tanpa ovulasi (anovulatoir disfunctiond
bleeding).
Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium
dengan menurunnya kadar estrogen dibawah tingkat tertentu.
Timbul perdarahan yang kadang-kadang bersifat siklis, kadangkadang tidak teratur sama sekali.
c. Stres psikologis dan komplikasi dari pemakaian alat kontrasepsi
3. Patologi
Menurut

Schroder

pada

tahun

1915,

setelah

penelitian

histopatologik pada uterus dan ovario pada waktu yang sama, menarik
kesimpulan bahwa gangguan perdarahan yang dinamakan metropatia

hemorrgica terjadi karena persistensi folikel yang tidak pecah sehingga


tidak terjadi ovulasi dan pembentukan corpus luteum.
Akibatnya terjadilah hiperplasia endometrium karena stimulasi
estrogen yang berlebihan dan terus menerus. Penelitian menunjukan pula
bahwa perdarahan disfungsional dapat ditemukan bersamaan dengan
berbagai jenis endometrium yaitu endometrium atropik, hiperplastik,
ploriferatif, dan sekretoris, dengan endometrium jenis non sekresi
merupakan bagian terbesar. Endometrium jenis nonsekresi dan jenis sekresi
penting artinya karena dengan demikian dapat dibedakan perdarahan
anovulatori dari perdarahan ovulatoar.
Klasifikasi ini mempunyai nilai klinik karena kedua jenis
perdarahan disfungsional ini mempunyai dasar etiologi yang berlainan dan
memerlukan penanganan yang berbeda. Pada perdarahan disfungsional
yang

ovulatoir

gangguan

dianggap

berasal

dari

faktor-faktor

neuromuskular, vasomotorik, atau hematologik, yang mekanismenya belum


seberapa dimengerti, sedang perdarahan anovulatoir biasanya dianggap
bersumber pada gangguan endokrin (Prawirohardjo, 2007).
4. Gambaran klinik
1. Perdarahan ovulatoar
Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10% dari perdarahan
disfungsional

dengan

siklus

pendek

(polimenorea)

atau

panjang

(oligomenorea). Untuk mendiagnosis perdarahan ovulatoar perlu dilakukan


kerokan pada masa mendekati haid jika sudah di pastikan bahwa

perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa adanya sebab


organik, maka harus dipikirkan sebagai etiologinya:
a.

Korpus luteum persistens ; dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang


kadang bersamaan dengan ovarium membesar. Sindrom ini harus
dibedakan dari kehamilan ektopik karena riwayat penyakit dan hasil
pemeriksaan panggul sering menunjukan banyak persamaan antara
keduanya. Korpus luteum persisten dapat pula menyebabkan pelepasan
endometrium tidak teratur (irregular shedding). Diagnosis irregular
shedding dibuat dengan kerokan yang tepat pada waktunya, yakni
menurut Prawirohardjo (2007) pada hari ke-4 mulainya perdarahan.
Pada waktu ini dijumpai adanya endometrium dalam tipe sekresi
disamping tipe non sekresi.

b.

Insufusiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spotting,


menoragia atau polimenorea. Dasarnya adalah kurang produksi
progesteron disebabkan oleh gangguan LH (Luteiniozing hormon)
releasing factor. Diagnosis dibuat apabila hasil biopsi endometrial
dalam fase luteal tidak cocok dengan gambaran endometrium yang
seharusnya didapat dari hari siklus yang bersangkutan.

c.

Appoleksia uteri : pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi


pecahnya pembuluh darah dalam uterus

d.

Kelainan darah, seperti anemia, purpura trombositopenik dan


gangguan dalam mekanisme pembekuan darah.

2. Perdarahan anavulator
Stimulasi

dengan

estrogen

menyebabkan

tumbuhnya

endometrium. Dengan kadar estrogen dibawah tingkat tertentu, timbul


perdarahan yang kadang-kadang tidak teratur sama sekali. Fluktuasi
kadar estrogen pada sangkut pautnya dengan jumlah yang pada suatu
waktu fungsional aktif. Folikel-folikel ini mengeluarkan estrogen
sebelum mengalami atresia, dan kemudian diganti dengan folikel-folikel
baru. Endometrium dibawah pengaruh estrogen tumbuh terus, dan dari
endometrium yang mula-mula proliferatif dapat terjadi endometrium
bersifat hiperplasia kistik. Jika gambaran itu dijumpai pada sedian yang
diperoleh dengan kerokan, dapat diambil kesimpulan bahwa perdarahan
bersifat anavulatoar.
Walaupun perdarahan disfungsional dapat terjadi pada setiap
waktu dalam kehidupan menstrual seorang wanita, namun hal ini paling
sering terdapat pada masa pubertas dan masa pramenopause. Pada masa
pubertas sesudah menarche , perdarahan tidak normal disebabkan oleh
gangguan atau terlambatnya proses maturasi pada hipotalamus, dengan
akibat bahwa pembuatan realising factor dan hormon gonadotropin tidak
sempurna. Pada wanita dalam masa pramenopause proses terhentinya
fungsi ovarium tidak selalu berjalan lancar.
Bila masa pubertas kemungkinan keganasan kecil sekali ada
harapan bahwa lambat laun keadaan menjadi normal dan siklus haid
menjadi avulatoar, pada seorang wanita dewasa dan terutama dalam

masa pramenopause dengan perdarahan tidak teratur mutlak diperlukan


kerokan untuk menentukan ada tidaknya tumor ganas.perdarahan
disfungsioanl dapat dijumpai pada penderit-penderita dengan penyakit
metabolik, penyakit endokrin, penyakit darah penyakit umum yang
menahun, tumor tumor ovarium, dan sebagainya.
Akan tetapi disamping itu, terdapat banyak wanita dengan
perdarahan

disfungsional tanpa adanya penyakit-penyakit tersebut

diatas. Dalam hal ini sters yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari,
baik didalam maupun diluar pekerjaan, kejadian-kejadian yang
mengganggu keseimbangan emosional seperti kecelakaan, kematian
dalam keluarga, pemberian obat penenang terlalu lama, dan lain-lain
dapat menyebabkan perdrahan anavulatoar (Prawirohardjo, 2007).
5. Diagnosis
Pembuatan anamnesis yang cermat penting untuk diagnosis.perlu
ditanyakan bagaimana mulainya perdarahan, apakah didahului oleh siklus
yang pendek atau oleh oligomenorea/amenore, sifat perdarahan (banyak atau
sedikit-sedikit, sakit atau tidak), lama perdarahan dan sebagainya. Pada
pemeriksaan umum perlu diperhatikan tanda-tanda yang menunjuk ke arah
kemungkinan penyakit metabolik, penyakit endokrin,penyakit menahun dan
lain-lain.kecurigaan terhadap salah satu penyakit tersebut hendaknya
menjadi dorongan untuk melakukan pemeriksaan dengan teliti ke arah
penyakit yang bersangkutan.

Pada pemeriksaan ginekologi perlu dilihat apakah tidak ada kelainankelainan organik, yang menyebabkan perdarahan abnormal (seperti:
polip,ulkus,tumor). Pada wanita pubertas umumnya tidak perlu dilakukan
kerokan guna pembuatan diagnosis. Pada wanita berumur antara 20 dan 40
tahun kemungkinan besar adalah kehamilan terganggu, polip, mioma,
submukosum dan sebagainya. Disini kerokan diadakan setelah dapat
diketahui benar bahwa tindakan tersebut tidak mengganggu kehamilan yang
masih memberi harapan untuk diselamatkan. Pada wanita dalam
pramenopause dorongan untuk dilakukan kerokan adalah untuk memastikan
ada tidaknya tumor ganas (Prawirohardjo, 2007).
6. Penanganan
Widjanarko (2009), penanganan pada kasus menometroragia ini
antara lain:
1. Bila perdarahan disfungsional sangat banyak, penderita harus istirahat
baring dan dilakukan pemeriksaan darah.
2. Setelah pemeriksaan ginekologis menunjukkan bahwa perdarahan berasal
dari uterus dan tidak ada abortus incompletus, maka dapat diberikan :
a. Estrogen dosis tinggi supaya kadarnya darah meningkat dan
perdarahan berhenti, diberikan secara intra muscular (propionasi
estrodiol 25 mg), kerugian therapy ini adalah bahwa setelah suntikan
dihentikan maka perdarahan akan timbul lagi atau benzoas
ekstradiol/valeras ekstradiol 20 mg.

b. Progesterone : pemberian progesterone mengimbangi pengaruh


estrogen terhadap endometrium diberikan secara intra muscular
hidroksi progesterone 125 mg atau provera 10 mg oral.
c. Jika pemberian estrogen saja atau progesterone saja kurang
bermanfaat, maka diberikan kombinasi estrogen dan progesterone
yaitu pil kontrasepsi, pada therapi ini dapat diberikan progesterone
untuk 7 hari mulai hari ke 21 siklus haid.
3. Dilakukan kuretase endometrium terhadap produk-produk konsepsi yang
tertahan.
4 . Antibiotika untuk infeksi pelvis.
2.2

Konsep Dasar Managemen Kebidanan


Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang
digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan
berdasarkan teori ilmiah, temuan,ketrampilan dalam rangkaian atau tahapan
yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang terfokus pada klien
(Varney, 2007).
Manajemen kebidanan terdiri dari VII langkah yang berurutan, yang
dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi.
langkah langkah tersebut membentuk kerangka yang lengkap dan bisa di
aplikasikan dalam semua situasi yaitu:

2.2.1 Step I Identifikasi Data Dasar


Pada langkah ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan
lengkap melalui data subjektif dan objektif dari semua sumber yang

10

berkaitan dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data dilakukan dengan


cara anamnesis, Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan
pemeriksaan tanda-tanda vital, riwayat kesehatan sebelumnya dan riwayat
kesehatan terbaru, serta Pemeriksaan penunjang.
1. Pengumpulan Data
1) Data Subjektif terdiri dari :
a. Biodata / Identitas
Biodata klien mencakup nama, umur, jenis kelamin, agama,
suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat.
b. Riwayat penyakit
Riwayat penyakit diderita sekarang, riwayat penyakit sekarang
yang menyertai, riwayat kesehatan lalu, riwayat kehamilan dan
persalinan, riwayat pertumbuhan dan perkembangan, riwayat
pemenuhan nurtisi, riwayat kesehatan keluarga, data psikologis
klien, data sosial, data spiritual, pola eliminasi, serta pola
tidur/istiahat.
2) Data Objektif meliputi :
a. Pemeriksaan umum
Pemeriksaan umum yang harus diperhatikan yaitu keadaan
umum dan tanda-tanda vital : tingkat kesadaran, tekanan darah,
nadi, respirasi, dan suhu. Pada menometroragia akan didapatkan
kegelisahan dan kekhawatiran dari klien
b. Observasi dan pemeriksaan fisik.

11

Observasi

dan

pemeriksaan

fisik

merupakan

metode

pengumpulan data yang tidak dapat dipisahkan, observasi adalah


melihat, memperhatikan sesuatu pada pemeriksaan fisik. Pada
saat observasi dilakukan inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi.
Pemeriksaan fisik yang di lakukan pada klien dengan
menometroragia yaitu pemeriksaan kepala/rambut, wajah, mata,
telinga, hidung, mulut dan bibir, leher, abdomen, kulit, genitalia,
dan ekstremitas.
c. Melakukan pemeriksaan penunjang (laboratorium)
2.2.2 Step II Identifikasi Diagnosa/Masalah Aktual
Pada langkah ini di lakukan identifikasi terhadap diagnosis atau
masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data (subjektif dan
objektif) yang telah di kumpulkan. Data dasar yang sudah di kumpulkan
diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosis dan masalah yang
spesifik.
2.2.3 Step III Identifikasi Diagnose / Masalah Potensial
Langkah III merupakan langkah ketika bidan melakukan
identifikasi diagnosis atau masalah potensial dan mengantisipasi
penanganannya. Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah potensial
atau diagnosis potensial berdasarkan diagnosis/masalah yang sudah di
identifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan di
lakukan pencegahan. Bidan di harapkan waspada dan bersiap-siap
mencegah diagnosis/masalah potensial ini menjadi benar-benar terjadi.

12

Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang aman. Pada
klien dengan menometroragia, masalah potensial dapat terjadi perdarahan
berulang.
2.2.4

Step IV Melaksanakan Tindakan Segera.


Pada langkah ini bidan menetapkan kebutuhan terhadap tindakan
segera, melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain
berdasarkan kondisi klien. Pada langkah ini, mengidentifikasi perlunya
tindakan segera oleh bidan atau dokter dan/untuk dikonsultasikan atau di
tangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan
kondisi klien. Berdasarkan teori, kasus menometroragia perlu dilakukan
tindakan segera untuk mengantisipasi terjadinya perdarahan.

2.2.5

Step V Perencanaan Tindakan Asuhan Kebidanan


Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh yang di
tentukan

berdasarkan

langkah-langkah

sebelumnya.

Langkah

ini

merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosis yang


telah di identifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang
tidak lengkap dapat dilengkapi. Rencana tindakan pada klien dengan
menometroragia dapat dibuat bersama petugas kesehatan, klien dengan
keluarganya berdasarkan urutan prioritas masalah
2.2.6

Step VI Implementasi Asuhan Kebidanan.


Pada langkah ini di lakukan pelaksanaan asuhan langsung secara
efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan
atau sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau

13

bidan tidak melakukannya sendiri, ia tetap memikul tanggung jawab untuk


mengarahkan pelaksanaannya.
2.2.7

Step VII Evaluasi Tindakan Asuhan Kebidanan


Pada langkah VII ini dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang
sudah diberikan. Hal yang di evaluasi meliputi apakah kebutuhan telah
terpenuhi dan mengatasi diagnosis dan masalah yang telah diidentifikasi.
Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam
pelaksanaannya.
Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut efektif,
sedangkan sebagian lain belum efektif. Mengingat proses manajemen
asuhan ini merupakan suatu kegiatan yang berkesinambungan, maka perlu
mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang tidak efektif.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Manuaba,IBG.,2010. Ilmu Kebidanan, penyakit Kandungan dan KB untuk
Pendidikan Bidan Edisi 2. Jakarta:EGC
2. Prawihardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta :Yayasan Bina Pustaka.2007
3. WiknjosastroHanifa, Abdul Bari Saifuddin, dan Trijatmo Rachimhadhi. Ilmu
Bedah Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
4. Varney,H., 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4. Jakarta;EGC
5.Asuhan

Kebidanan

pada

http://id.scribd.com/doc/94793286/BAB-I-IV-Menometroragia.

Menometroragia.