Anda di halaman 1dari 34

Apusan Darah Tepi:

Persiapan dan Pemeriksaan

Daftar Isi Bab 6


Spesimen
Peralatan
Apusan Darah Tepi yang Baik secara Visual
Sebab dan Akibat Apusan Tidak Layak Diperiksa
Fiksasi Apusan
Pewarnaan/Pengecatan/Pulasan
Macam-macam Pewarna
Metode Pewarnaan
Membuat Apusan Memakai Kaca Penutup
Melakukan Pemeriksaan Apusan Darah Tepi
Pembagian Zona Apusan Darah Tepi
Pemeriksaan Apusan Darah Tepi dengan Berbagai Pembesaran
Pemeriksaan Apusan Darah Tepi secara Mikroskopis
Sumber Kesalahan dalam Diferensial Leukosit
Pemeriksaan Hitung Jenis Leukosit

Pada hidang hematologi, apusan darah tepi (ADT) sangat penting, karena dari
apusan darah tepi inilah kita akan mendapatkan banyak informasi, bukan saja
berkaitan dengan morfologi sel darah, tetapi juga dapat memberi petunjuk
keadaan hematologik yante semula tidak diduga. Preparat ADT yang layak untuk
diperiksa, hams memenuhi heberapa syarat yang telah ditetapkan.
Spesimen
Darah vena dengan antikoagulan EDTA maupun darah kapiler dapat digunakan.
Bila digunakan darah versa, maka pembuatan apusan darah tepi harus dilakukan
sebelum I jam sejak sampel herhasil ditampung dan penyimpanannya pada suhu
18-25C. Pencampuran yang sempurna antara darah dengan antikoagulan mutlak
diperlukan dalam membuat apusan darah tcpi yang haik.
Peralatan
1. Spreader
Bila tidak ada spreader yang slap pakai, hisa dibuat dan kaca objek yang
dipotong salah satu sudutnya dengan pemotong kaca, sehingga tersisa
sepanjang 1,5 cm; kadang-kadang kaca penutup juga dapat dipakai. Spreader
dapat digunakan kembali asalkan bagian tepinya masih rata (halus). Bagian
tepi spreader harus diusap secara hati-hati, sebelum maupun sesudah
digunakan. Spreader yang bagian tepinya kasar (tidak rata), tidak dapat
digunakan lagi.
2. Kaca Object
Syarat mutlak kaca ohjek untuk membuat apusan darah tepi adalah harus
bersih, keying, dan jernih. Perlu diperhatikan pula adanya lemak dan detergen
pada kaca ohjek yang menyebabkan apusan berlubang-lubang. Cara
membersihkan kaca objek, haik yang baru atau yang telah dipakai dart lemak
masing-masing dijelaskan berikut ini.

a. Kaca Objek Baru:

Rendam kaca objek selama semalam dalam larutan detergen.

Cuci dengan air yang mengalir pelan, kemudian bilas dengan aquades.

Usap dengan kain linen yang bersih.

Sebelurn digunakan, permukaan kaca objek diusap kain bersih yang


dibasahi dengan alkohol 95%.

b. Kaca Ohjeh yang telah dipakai

Masukkan dalam larutan detergen.

Panasi pada suhu 60C selama 20 menit.

Cuci dengan air yang menga lir.

Bilas dengan aquades.

Membuat Apusan Darah Tepi


Langkah 1
Bersihkan dan keringkan kaca objek

Langkah 2
Teteskan sampel pada kira kira 2 cm
dari salah satu pinggirnya atau kira-kira
cm dari tempat menuliskan label
identitas.

Langkah 3
Perhatikan besar tetesan, yang ideal
untuk apusan adalah sepanjang 3 cm.

Langkah 4
Bersihkan dan keringkan kaca preparat
Terapkan speeder di depan tetesan,
dengan

membentuk

sudut

30-40

dengan kaca objek. Kemudian geser


spreader

ke

belakang

sehingga

menyentuh tetesan.
Langkah 5
Tetesan akan melebar di sepanjang
pinggir

spreader.

Segera

dorong

spreader ke depan.

Langkah 6
Segera dorong spreader ke depan
dengan cepat dan tekanan yang cukup
(dibutuhkan banyak latihan).

Apusan Darah Tepi Yang Baik Secara Visual

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk membuat apusan darah tepi
yang baik secara visual, di antaranya yaitu:
1. Ketebalannya gradual, paling tebal di daerah kepala, makin menipis ke arah
ekor (pada saat proses pengeringan dimulai dari bagian ekor menuju ke
kepala).
2. Apusan tidak melampaui atau menyentuh pinggir kaca objek.
3. Tidak bergelombang atau terputus-putus.
4. Tidak berlubang-lubang.
5. Bagian ekornya tidak membentuk "bendera robek".
6. Panjang apusan kira-kira 2/3 panjang kaca objek.
Sebab dan Akibat Apusan Tidak Layak Diperiksa
Untuk mendapatkan apusan darah tepi yang baik atau memenuhi syarat,
diperlukan latihan terus menerus. Pertanyaan mengenai berapa besar tetesan,
bagaimana membuat sudut apusan, berapa geseran, kecepatan geseran, dan
sebagainya, akan terjawab dengan sendirinya bila kita telah benar benar terampil
membuat apusan darah tepi. Beberapa sebab dan akibat yang timbul schingga
apusan darah tepi menjadi tidak layak untuk diperiksa, dijelaskan pada Tabel 6.1.

Tabel 6.1 Sebab Akibat Apusan Darah Tepi Tidak Layak Diperiksa
No
1

Sebab
Pemeriksaan ditunda setelah

Akibat
Distorsi atau kerusakan sel-sel darah.

sampel berhasil diambil.


2

Lambat melakukan apusan

Terjadi disproporsi sel-sel yang berukuran

setelah darah diteteskan pada

besar seperti monosit dan neutrofil pada

kaca objek

"feather edge". .

Kaca objek kotor

Bintik-bintik pada apusan

Tetesan terlalu banyak atau

Apusan terlalu tebal dan panjang atau

terlalu sedikit

terlalu tipis dan pendek

Sudut geseran terlalu besar

Bila sudut terlalu besar, maka apusan

atau terlalu kecil

terlalu tebal; dan bila sudut terlalu kecil,

maka apusan menjadi terlalu panjang.


6

Geseran terlalu lambat

Penyebaran sel tidak baik

Tekanan spreader pada kaca

Tekanan yang terlalu kuat menyebabkan

objek tidak akurat

apusan terlalu tipis

Kelembapan ruang

Kelembapan yang tinggi menyebabkan

apusan lama menjadi kering. Pengeringan


yang lama mengakibatkan eritrosit rusak

Fiksasi Apusan
Fiksasi terhadap apusan darah tepi dimaksudkan agar morfologi sel darah tetap
utuh. Fiksasi dilakukan segera setelah apusan kering. Perlu diperhatikan bahwa
apusan harus dihindarkan kontak dengan air sebelum difiksasi. Metil alkohol
(metanol) merupakan larutan terpilih untuk fiksasi, meskipun evil alkohol
(alkohol absolut) dpat pula digunakan. Apusan yang akin difiksasi diletakkan
pada rak preparat dan digenangi dengan larutan metil alkohol (metanol) dan
dibiarkan selama 2-3 menu.

Pewarnaan / Pengecatan / Pulasan


Untuk melakukan pemeriksaan sel - sel darah Pada apusan darah tepi secara tepat,
maka perlu dilakukan pewarnaan. Setiap siswa sekolah analis dituntut untuk
memahami prinsip dan tata cara pewarnaan rutin sebelum mempelajari metode
pewarnaan khusus lain untuk melihat jenis jenis sel tertentu. jenis pewarnaan
yang sering digunakan di laboratorium hematologi adalah pewarnaan cara
Romanowsky.
Macam-macam Pewarna
Romanowsky, Pada tahun 1891, Romanowsky dan Malachowski pertama kali
melakukan pewarnaan menggunakan campuran methylene blue dengan eosin
untuk apusan darah. Sepuluh tahun kemudian, Leishman menyempurnakannya
dengan menambahkan alkohol untuk menghilangkan presipitat yang timbul dari
larutan tersebut. Saat ini, terdapat modifikasi pewarnaan berdasarkan cara
Romanowsky, seperti Wright, Giemsa, atau May Grunwald. Pewarnaan
Romanowsky telah umum dipakai untuk pewarnaan apusan darah tepi dengan
hasil yang memuaskan.
Komponen utama pewarna Romanowsky terdiri dari:
1. Azure B, yang akan mengikat anion sehingga memberi warna biru terhadap
asam nukleat (DNA /RNA), nukleoprotein, granula basofil, dan granula
eosinofil
2. Eosin Y, yang akan mengikat kation sehingga memberi warna merah oranye
terhadap hemoglobin dan granula cosinofil.

Pewarnaan yang didasarkan atas prinsip Romanowsky, seperti metode May


Grunwald Giemsa adalah pewarnaan rutin, sedangkan pewarnaan Wright
merupakan cara yang lebih sederhana. Cara sederhana lainnya adalah metode
Leishman, yang dipakai pada keadaan mendesak terutama bila tidak mungkin

digunakan cara lainnya. Pewarnaan Field merupakan pewarnaan cepat yang


digunakan terutama untuk apusan yang tipis untuk mengamati parasit malaria.
Setiap metode pewarnaan yang dipilih harus diperhatikan agar masing-masing
jenis zat pemulas tidak saling mengontaminasi, demikian pula sediaan yang akan
dipulas hendaknya yang segar. Sediaan yang disimpan tanpa difiksasi tidak dapat
dipulas sebaik sediaan segar.
May - Grunwald
Cara membuat pewarna May-Grunwald adalah scbagai berikut :
1. Timbang 0,3 g bubuk pewarna dan masukkan ke dalam botol berkapasitas
200-250 mL.
2. Tambahkan 100 mL metanol dan hangatkan campuran pada suhu 50 C.
Biarkan dingin sampai 20C dan kocok beberapa kali.
3. Biarkan berdiri selama 24 jam, kemudian disaring, dan larutan siap digunakan
Larutan Stok Azure B-Eosin Y
Bahan terdiri dari larutan stok Azure B tetrafluoroborat atau tiosianat (indeks
warna 52.010), kemurnian >80%, dan Eosin Y (indeks warna 45.380), kemurnian
>80%. Adapun proses pembuatannya adalah :
1. Larutkan 0,6 g Azure B dalam 60 mL dimetilsulfoksida dan 0,2 g eosin Y
dalam 50 mL dimetilsulfoksida, kemudian panaskan.
2. Panaskan dimetilsulloksida pada suhu 37C sebelum ditambahkan pewarna.
3. Pada suhu 370C, kocok kuat-kuat selama 30 detik setiap interval 5 menit
sampai kedua pewarna benar benar larut.
4. Tambahkan larutan eosin Y ke dalam larutan Azure B, kemudian aduk rata.
Larutan stok tetap stabil selama beberapa bulan jika disimpan pada suhu
kamar dalam ruangan gelap. Dimetilsulfoksida akan mengkristal pada suhu di
bawah 18C Biarkan hingga larut kembali sebelum digunakan.
Leishman
Prosedur pembuatannya adalah sebagai berikut:

1. Timbang 0,2 g bubuk pewarna, dan masukkan ke dalam botol berkapasitas


200-250 mL.
2. Tambahkan 100 mL mctanol dan hangatkan campuran pada suhu 50C
selama 15 menit dengan sesekali dikocok.
3. Biarkan hingga dingin kemudian disaring, dan larutan siap digunakan.
Metode Pewarnaan
May Grunwald Giemsa
Prosedurnya adalah sebagai berikut:
1. Keringkan apusan di udara, kemudian difiksasi dengan cara merendamnya
dalam stoples berisi metanol selama 5-10 menit. Untuk apusan sumsum
tulang, dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk memastikan pengeringan
secara menyeluruh dan kemudian dicelupkan selama 15-20 menit dalam
metanol.
2. Apusan harus sesegera mungkin difiksasi setelah kering. Jika dibiarkan pada
suhu kamar dalam keadaan tidak terfiksasi, mungkin akan terjadi noda plasma
kering pada latar belakang warna biru pucat yang tidak mungkin untuk
dibersihkan tanpa merusak sel-sel darah. Penting untuk mencegah kontak
dengan air sebelum fiksasi selesai.
3. Metil alkohol (metanol) adalah zat fiksatif pilihan, meskipun etil alkohol
(alkohol absolut) juga dapat digunakan. Untuk mencegah alkohol
terkontaminasi oleh air, maka harus disimpan dalam botol dengan sumbat erat
dan tidak dibiarkan terbuka, terutama pada ruang yang lembap karena akan
menyerap air.
4. Masukkan slide yang telah terfiksasi ke dalam stoples berisi pewarnaan May
Grunwald yang baru diencerkan dengan volume yang sama dengan air
terbufer.
5. Setelah sekitar 15 menit direndam dalam larutan, pindahkan slide ke dalam
botol berisi pewarna Giemsa yang baru diencerkan dengan 9x volume air
terbufer dengan pH 6,8.
6. Setelah 10-15 menit, pindahkan slide ke stoples air terbufer pada pH 6,8

7. Slide segera cepat dicuci dengan air yang mengalir.


Slide harus dipindahkan dari satu larutan pewarna yang satu ke pewarna
yang lain tanpa dibiarkan kering. Karena intensitas pewarnaan dipengaruhi oleh
variasi ketebalan apusan, tidaklah mudah untuk memperoleh pewarnaan yang
merata di seluruh panjang apusan. Ketika diferensiasi selesai, biarkan slide sampai
kering. Penting untuk memastikan bahwa metanol yang digunakan sebagai fiksatil
benar-benar bebas air. Sedikit saja (hanya 1%) terkontaminasi air, dapat
mempengaruhi kualitas apusan. Bila kadar air lebih tinggi, menyebabkan
perubahan menyeluruh. Eritrosit juga akan dipengaruhi oleh detergen. Larutan
harus dibuat segar setiap hari. Tidak perlu untuk menyaring larutan sebelum
digunakan kecuali terjadi endapan.
Jenner Giemsa
Pewarna Jenner bisa digunakan untuk mengganti May Grunwald, tetapi hasilnya
sedikit kurang memusakan. Larutan digunakan dengan pengenceran 4 volume air
terbufer. Setelah difiksasi dengan metanol, dicelupkan selama kurang lebih 4
menit sebelum direndam ke pewarna Giemsa selama 7-10 menit.
Leishman
Prosedurnya adalah genangi apusan dengan larutan pewarna. Setelah 2 menit,
tambahkan dua kali lipat volume air dengan pewarna apusan selama 5-7 menit.
Kemudian, dibersihkan dalam aliran air terbufer sampai menunjukkan warna
merah muda (sekitar 2 menit). Setelah bagian belakang slide telah dibersihkan,
dibiarkan tegak sampai kering.
Wright
Zat pewarna Wright terdapat dalam bentuk serbuk atau cairan yang pakai. Untuk
membuat larutan koloid yang siap pakai, serbuk dilarutkan ke dalam metil
alkohol. Sebanyak 0,1 g serbuk digerus dalam mortar dengan metil alkohol yang

ditambahkan sedikit demi sedikit sampai terpakai 60 mL. Simpan larutan tersebut
dalam botol berwarna yang diisi sampai hampir penuh. Kocoklah isinya setiap
Larutan yang telah lewat 10 hari cukup matang untuk dipakai. Botol larutan harus
dijauhkan dari uap asam atau basa dan selalu ditutup rapat-rapat agar udara
lembap tidak masuk.
Catatan
Pewarna Wright telah mengandung metil alkohol dalam konsentrasi tinggi,
maka kadang-kadang tidak perlu difiksasi tersendiri.
Pewarna Wright tidak boleh mengering pada slide, karena zat warna yang
mengering sangat sukar dibuang tanpa merusak apusan dari permukaan slide.
Cara membuat larutan bufer dengan pH 6,4 adalah sebagai berikut:

Kalium-fosfat primer (KH,P04.0 aq) 6,63 g

Natrium fosfat sekunder (Na2HP04.0 aq) 2,56 g

Aquades ad 1000 mL.

Larutan

dapat,

diganti

aquades

dengan

mengatur

pHnya

dengan

menambahkan larutan kalium karbonat 1 % atau larutan asam hidroklorida


1% dengan cara diteteskan. Sebagai indikatornya adalah bromthymol blue
(larutan dalam air 0,04%) sampai berwarna hijau. Cara terakhir tersebut
memberi hasil yang sama bagusnya dan lebih murah.
Waktu rata-rata untuk memulas sediaan adalah 5-12 menit. Lamanya waktu
tergantung dari larutnya zat pewarna dan tebalnya sediaan. Waktu pemulasan
pada masing-masing jenis pewarnaan tidak sama, sehingga perlu ditentukan
secara tepat untuk mendapatkan hasil pewarnaan yang sempurna.
Apusan yang dipulas dipilih yang memenuhi syarat sehingga menghemat
pewarna
Bila zat pewarna berupa larutan, perhatikan instruksi yang tercantum pada
botolnya.

Sediaan darah yang dipulas dengan Wright tidak tahan lama dalam iklim
tropis, sehingga akan memudar dalam beberapa tahun. Pulasan yang lebih
tahan lama adalah kombinasi Wright dan Giemsa.
Giemsa
Prosedurnya adalah sebagai berikut:
1. Timbang 1 g bubuk pewarna dan masukkan ke dalam botol berkapasitas 20025C mL
2. Tambahkan 100 mL metanol dan hangatkan campuran pada suhu 50C.
Biarkan tetap pada suhu tersebut selama 15 menit dengan sesekali dikocok,
kemudian larutan disaring. Larutan siap digunakan, dan akan lebih baik lagi
bila dibiarkan dahulu selama beberapa jam.
Zat pulas Giemsa biasanya tersedia sebagai larutan dalam. Jika hendak
membuat sendiri, pakailah reagensia yang khusus dibuat untuk pemeriksaan
hematologi dan bahan-bahan lain yang murni.
Susunan larutannya adalah sebagai berikut:
Azur II-eosin 3,0 g
Azur II 0,8 g gliserin 250 mL
Metil alkohol 250 mL
Sebelum dipakai, larutan pokok ini harus diencerkan 20 kali dengan bufer pH 6,4
(atau dengan aquades pH 6,4) : 1 tetes Giemsa pokok untuk setiap 1 mL bufer. Zat
pulas Giemsa yang telah diencerkan tidak tahan lebih lama dari satu hari, maka
hanya dibuat secukupnya sesuai kebutuhan.
Catatan
Pulasan Giemsa sama baiknya dengan pulasan Wright untuk darah yang tidak
banyak kelainan morfologinya. Perbedaannya dengan pulasan Giemsa adalah

granula basofil tidak tampak karena granula tersebut akan larut. Selain itu,
warna eritrosit lebih kelabu.
Sediaan darah yang berisi banyak sel-sel muda dan sediaan sumsum tulang,
lebih baik dipulas dengan Wright karena struktur plasma dan intinya menjadi
lebih jelas terlihat.
Sediaan darah untuk mempelajari parasit-parasit darah akan lebih baik bila
dipulas dengan Giemsa, sedangkan pH larutan bufer dipilih 7,0.
Lamanya memulas dengan Giemsa juga dipengaruhi oleh batch yang dipakai
dan oleh ciri-ciri sediaan, sebaiknya waktunya diatur sendiri. Cara
menghemat zat pulasan seperti pada pemakaian zat pulas Wright juga dapat
diterapkan untuk Giemsa. Ingatlah supaya membatasi sediaan sebelum
melakukan fiksasi dengan metil alkohol.

Prosedur 6.2
Pewarnaan Apusan Darah Tepi dengan Wright-Giemsa
Langkah 1
Fiksasi preparat dengan alkohol, dengan
mencelupkan atau menggenangi selama 5
menit.

Langkah 2
Keringkan preparat dalam suhu kamar.

Langkah 3
Siapkan pre parat pada bak pewarnaan.

Langkah 4
Genangi dengan pewarna Wright. Ratakan
pewarna sehingga seluruh permukaan preparat
tergenangi. Inkubasi selama 2 menit.

Langkah 5
Tetesi dengan aquades. Inkubasi selama 2
menit.

Langkah 6
Bilas dengan air yang mengalir.

Langkah 7
Lanjutkan pembilasan sampai apusan tampak
berwarna merah keunguan.

Langkah 8
Tempatkan kembali preparat pada bak
pewarnaan.

Langkah 9
Genangi dengan p ewarna Giemsa. Inkubasi
selama 1 menit.

Langkah 10
Bilas dengan air yang mengalir sedang.

Langkah 11
Celupkan ke dalam larutan asam asetat 0,5%

Langkah 12
Keringkan preparat, dan preparat siap untuk
diperiksa.

Romanowsky
Apabila proses pewarnaan herhasil dengan baik, maka pada hasil pewarnaan
tersebut akan tampak dengan jelas sel-sel darah (Tabel 6.2).
Tabel 6.2 Hasil Pewarnaan dengan Metode Romanowsky
Komponen Sel

Warna

Komponen Sel

Warna

Inti Sel
Kromatin
Anak inti
Sitoplasma
Eritroblast
Eritrosit
Retikulosit
Limfosit
Metamielosit
Monosit
Mielosit
Neutrofil
Promielosit
Basofil

Ungu
Biru muda
Biru tua
Ungu tua
Biru keabu-abuan
Biru
Merah muda
Biru keabu-abuan
Merah muda
Merah muda-oranye
Biru
Biru

Granule
Promielosit
Basofil
Eosinofil
Neutrofil
Granulasi toksik
Trombosit
Benda Inklusi lain
Auer body
Cabot Ring
Howell-Jolly body
Dohle body

Merah atau ungu


Ungu kehitaman
Merah-oranye
Ungu
Biru tua
Ungu
Ungu
Ungu
Ungu
Biru muda

Beberapa faktor penyebab hasil pewarnaan tdak balk dapat dilihat pada label 6.3

Tabel 6.3 Faktor Penyebab Hasil Pewarnaan Tidak Baik


Hasil Pewarnaan
Terlalu biru

Penyebab
Salah mempersiapkan stok.

Konsentrasi eosin terlalu rendah.

Larutan stok terpapar sinar terang.

Penggunaan batch pewarna terlalu


banyak.

Larutan pewarna terkontaminasi.

Waktu pewarnaan terlalu singkat.

Apusan terlalu tebal

- Larutan pewarna terlalu asam.


Waktu yang tidak tepat dalam

Terlalu ungu

menggunakan larutan bufer.


- Perbandingan Azure B : eosin Y
tidak tepat.

Hasil pewarnaan pucat

Larutan pewarna terkontaminasi.

pH bufer terlalu rendah.

Pencucian dengan bufer terlalu kuat.


Larutan pewarna kadaluwarsa.

Terlalu banyak menggunakan


pewarna.

Persiapan larutan stok tidak tepat

Larutan pewarna terkontaminasi.

Granula neutrofil Tidak terwarnai


Granule neutrofil berwarna biru

- Temperatur yang terlalu tinggi.


Kekurangan Azure B
Terlalu banyak Azure B

tua/hitam (pseudotoksik)
Anomali pewarna lainnya

Larutan pewarna terkontaminasi metal

Warna tertinggal pada slide


Latar belakang biru

dan garam
Larutan pewarna tidak disaring
- Fiksasi tidak sempurna.

Pewarnaan Peroksidase

Sampel tidak segera difiksasi.

Terdapat antikoagulan heparin

Pewarnaan peroksidase digunakan untuk membedakan jenis leukosit karena


dengan pewarnaan biasa hasilnya kurang memuaskan, terutama pada sel muda
atau sel yang abnormal. Hal ini disebabkan karena granula dalam sel seri
granulosit dan monosit mengandung peroksidase, sedangkan sel jajaran limfosit
tidak. Salah satu cara yang sering digunakan untuk membedakan sel jajaran
granulosit dan monosit dari jajaran limfosit, yaitu berdasarkan ada atau tidaknya
peroksidase melalui pewarnaan menurut Sato-Sekiya.
Pewarnaan Cara Sato Sekiya
Untuk membuat pewarna cara Sato diperlukan tiga macam larutan, yaitu:
1. Larutan kupri sulfat : CuS04. 5aq 0,5 g, aquades ad 100 mL.
2. Larutan benzidin : benzidin basa 0,2 g digerus bersama beberapa tetes air
dalam mortar porselen sampai halus sekali, kemudian ditambahkan 200 mL
aquades, mula mula sedikit demi sedikit. Larutan ini harus jenuh. Saring
dan tambahkan 0,25 mL H2O2 3%. Simpan dalam botol cokelat dalam
keadaan gelap, larutan ini tahan sampai 6 bulan.
3. Larutan safranin : salranin 1 g, ayuades ad 100 mL.
Cara Pewarnaan Sato-Sekiya
1. Letakkan sediaan yang telah kering dan yang tidak difiksasi di atas rak.
2. Genangi sediaan tersehut dengan larutan kupri sulfat selama 1/2 -1 menit.
3. Tuang larutan tersebut dari slide; jangan dibilas.
4. Genangi sediaan dengan larutan benzidin selama 2 menit.
5. Bilas baik-baik.
6. Untuk pewarnaan pembanding, gunakan larutan safranin selama 1 menit
7. Bilas baik baik dan biarkan mengering.
Plasma dan sel jajaran granulosit menjadi biru, sedangkan granulanya yang
berisi peroksidase, menjadi hijau-biru. Akan tetapi, tidak semua sel jajaran
granulosit herwarna hijau-biru. Mieloblast yang belum mempunyai peroksidase
tidak akan memperlihatkan granula yang berwarna hijau-biru. Monosit juga

mempunyai granula yang peroksiclase positif, tetapi granula tersebut kecil-kecil.


Sel-sel jajaran limfosit yang peroksidase negatif akan tampak merah. Trombosit
tidak kelihatan sama sekali, sedangkan eritrosit hanya nampak berupa bayangbayang yang tidak jelas. Benzidin sebagai reagen dalam laboratorium klinik,
semakin lama semakin kurang dipakai karena sifatnya yang karsinogen. Pulasan
peroksidase menurut Elias tidak menggunakan benzidin melainkan kloronaftol.
Sudan Black
Zat warna sudan black mewarnai granula leukosit yang mengandung lemak.
Antara sudanofilia dengan reaksi peroksidase positif terdapat korelasi positif
Untuk membuat pewarna sudan black, diperlukan beberapa zat sebagai berikut :
1. Larutan sudan black : 0,5 g sudan black B dicampur dengan 100 mL etanol
absolut. Larutan didiamkan selama dua hari, dikocok beberapa kali, kemudian
disaring.
2. Larutan dapar : Fenol 16 g; etanol absolut 30 mL, Na2HPO4.12aq 0,3 g, daaquades 100 mL.
3. Larutan kerja : Dibuat segar dari 60 mL larutan sudan black dan 40 mL dari
larutan dapar. Sebelum dipakai, disaring terlebih dahulu.
Cara Pewarnaan
1. Sediaan apus difiksasi menggunakan trap formaldehida dalam wadah tertutup,
misalnya dalam cawan petri, selama 10 menit.
2. Genangi sediaan dengan larutan selama 30 menit.
3. Bilas sediaan dengan etanol absolut.
4. Bilas dengan air.
5. Pewarnaan tanding menggunakan larutan safranin 0,1%.
Hasil Pulasan. Granula yang mengandung lemak akan bcrwarna hitam.
Periodic Acid Schiff (PAS)

Pewarnaan ini ditujukan untuk mengenali sel-sei dalam seri limfosit yang
mengandung glikogen. Pada reaksi redoks ini, glikogen akan dioksidasi oleh asam
periodat (periodic acid) menjadi aldehida, kemudian aldehida bereaksi dengan
reagen Schiff membentuk warna merah.
Larutan yang dibutuhkan:
1. Larutan asam periodat: H104.2aq 1 g; aquades 100 mL.
2. Reagen Schiff, yaitu : fuchsin basic 1 g dimasukkan ke dalam 400 mL air
mendidih, biarkan mendingin sampai 50C, kemudian disaring.
3. Tambahkan 1 mL tionil klorida. Simpan di tempat gelap selama 24 jam.
4. Tambahkan 2 g karbo adsorben, kocok, kemudian saring. Simpan di lemari es
dalam botol gelap.
5. Larutan pulasan tanding : hematoksilin 2 g; aquades 100 mL.
Cara Pewarnaan
1. Sediaan apusan difiksasi dengan uap formaldehida dalam cawan petri tertutup
selama 10 menit.
2. Bilas dengan air selama 15 menit.
3. Genangi sediaan dengan larutan asam periodat selama 30 menit.
4. Bilas dengan air, kemudian bilas dengan aquades.
5. Genangi dengan reagen Schiff selama 30 menit.
6. Bilas dengan air, kemudian bilas lagi dengan aquades selama 5 menit.
7. Genangi dengan larutan pulasan tanding selama 10 menit.

Hasil Pewarnaan PAS


Granula dan organel lain pada sel yang mengandung glikogen akan berwarna
merah, ini disebut sebagai PAS positif. Sel-sel seri limfosit menunjukkan warna
merah yang tegas. Selain glikogen polisakarida, mukopolisakarida dan
mukoprotein juga menjadi berwarna merah oleh PAS.

Fosfatase

Alkalin,

Leukosit

Alkalin

Fosfatase

(Leukocyte

Alkaline

Phosphatase, LAP)
1. Pewarnaan ini ditujukan untuk membedakan granula dari berbagai jenis
leukosit bergranula. Warna timbul karena adanya enzim dalam granula dan
sitoplasma.
2. Pewarnaan ini juga dapat digunakan untuk membedakan antara leukositosis
yang terjadi pada leukemia granulositik kronis dan leukositosis oleh penyebab
lainnya.
3. Untuk membuat sediaan apusan, sebaiknya menggunakan darah kapiler,
meskipun darah vena dengan antikoagulan heparin atau oksalat juga dapat
dipakai, asalkan sediaan apus segera dibuat setelah pungsi vena.
4. Antikoagulan EDTA akan mengganggu pewarnaan oleh fosfatase alkalin.
Reagen yang diperlukan untuk membuat pewarna fosfatase alkalin (menurut
Kaplow) adalah sebagai berikut:
1. Larutan fiksasi: formalin (formaldehida 40%) sebanyak 10 mL, metanol
absolut 90 mL. Simpan dalam lemari es (pada freezer). Sebelum dipakai,
sesuai kebutuhan ditempatkan dalam bagian pendingin supaya suhu larutan
itu mencapai suhu sekitar 5C.
2. Larutan stok propandiol : 2-amino-2-metil-1,3-propandiol sebanyak 10,5 g;
aquades 500 mL Larutan stok propandiol ini berkadar 0,2 M dan harus
disimpan dalam lemari es.
3. Larutan kerja propandiol yang berfungsi sebagai dapar : Larutan stok
propandiol 0,2 M 25 mL, larutan HCl 0,1 N 5 mL, dan aquades sampai 100
mL. pH larutan ini harus sama dengan 9,75 dan larutan ini harus disimpan
juga dalam lemari es.
4. Larutan substrat pH 9,5-9,6: Natrium alfa-naftil fosfat 35 mg, fast blue RR 35
mg; larutan kerja propandiol 35 mL; kemudian disaring. Larutan ini harus
dalam keadaan segar, tidak boleh menunda menggunakannya.

5. Larutan hematoksilin (menurut Harris). Membuat larutan ini sulit, namun


tersedia dalam kemasan siap pakai.
Cara Pewarnaan
1. Sediaan apus digenangi larutan perekat yang bersuhu sekitar 5C selama 30
detik.
2. Bilas dengan air mengalir selama 10 detik.
3. Genangi sediaan dengan larutan substrat selama 15 menit.
4. Bilas dengan air mengalir selama 10 detik.
Hasil Pulasan
Adanya foslatase alkalin dalam leukosit ditandai dengan timbulnya warna cokelat,
yaitu dari cokelat muda sampai hampir hitam. Untuk menilai derajat kepositifan,
maka dilakukan dengan skor 0-4 sebagai berikut :
Skor 0 : Leukosit, neutrofil yang tidak terwarnai.
Skor 1 : Warna cokelat sangat muda merata di dalam plasma, sedikit
granula berwarna.
Skor 2 : Warna cokelat lebih tua merata yang granula berwarna.
Skor 3 : Warna lebih tegas dan granula lebih banyak.
Skor 4 : Warna tegas dengan granula saling berdekatan berwarna sangat
Dengan mengamati 100 granulosit, masing-masing diberi skor dengan
tersebut di alas. Kemudian jumlahkan skor seratus leukosit. jika jumlah skor lebih
banyak dari seratus, maka disebut aktivitas LAP tinggi. Skor antara 20-70
termasuk normal, sedangkan skor kurang dari 15 adalah rendah. Pada umumnya
leukosit : yang disebabkan infeksi menghasilkan skor tinggi, sedangkan leukemia
granulolistik kronis menghasilkan skor rendah.
Membuat Apusan Memakai Kaca Penutup

Coverslip Method. Metodc ini harus dilakukan kering dan bersih, serta penutup
yang dipakai harus yang tipis (nomor 0) sehingga dapat diperiksa dengan lensa
imersi.
Cara membuat apusan menggunakan metode ini adalah sebagai berikut :
1. Sediakan 2 kaca yang dipegang masing-masing dengan sebelah tangan pada
ujung ujungnya secara berdampingan.
2. Sentuh setetes darah kecil (diameter kira-kira 1 mm) dengan kaca penutup
yang dipegang oleh ibu jari dan jari telunjuk dengan tangan kiri.
3. Kaca penutup lain yang dipegang jari jari tangan kanan ditempatkan segera
di atas kaca penutup pada tangan kiri, sedemikian sehingga kaca tersebut
membuat bintang bersudut delapan. Darah akan melebar oleh daya
kapilaritas.
4. Sesaat sebelum darah itu herhenti tersebar, pisahkan kedua kaca penutup
dengan cara menarik kedua kaca penutup.
5. Biarkan sediaan kering di udara.
Cara ini memberi penyebaran leukosit yang lebih baik dibandingkan sediaan apus
yang dibuat dengan dua kaca objek. Akan tetapi, harus diperhatikan besarnya
tetesan, untuk itu perlu pengalaman yang cukup. Tetesan yang terlalu besar
menghasilkan apusan yang terlalu tebal, demikian pula sebaliknya.

Gambar 6.1 Coverslip method.


Melakukan Pemeriksaan Apusan Darah Tepi
Morfologi Apusan Darah Tepi
Apusan darah tepi pada dasarnya dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu:
1. Kepala, adalah bagian tempat darah diteteskan sebelum dilakukan apusan.
2. Ekor, bagian ujung preparat atau akhir apusan.
3. Badan, bagian yang berada di antara kepala dengan ekor.
4. Pulas tanding dengan larutan hematoksilin selama 4 menu.
5. Bilas dengan air mengalir selama 10 detik.
6. Biarkan sediaan mengering di udara.
Pembagian Zona Apusan Darah Tepi
Apabila diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran lemah (lensa objektif
10x), terdapat pembagian menjadi enam zona berdasarkan populasi (distribusi)
eritrosit.
Zona I ( Irregular Zone).
Distribusi eritrosit tidak teratur, ada yang bergerombol sedikit atau banyak
(tidak selalu sama pada masing-masing preparat). Zona ini kirakira 3% dari
seluruh badan preparat.
Zona II (Thin Zone).
Distribusi entrosit tidak teratur, saling bertumpukan (overlap) atau
berdesakan. Zona ini meliputi kira-kira 14%.
Zona III (Thick Zone).
Distribusi eritrosit saling bergerombol lebih rapat dibandingkan zona II,
bertumpukan, dan berdesakan, yang merupakan daerah paling luas. Zona ini
meliputi kira-kira 45% dari seluruh badan preparat.

Zona IV (Thin Zone).


Keadaannya sama dengan zona IV. Distribusi eritrosit tidak teratur, saling
bertumpukan (overlap) dan berdesakan (distortion). Zona ini meliputi kirakira 18%.
Zona V (Even Zone/Regular zone) .
Distribusi eritrosit tersebar merata, tidak saling bertumpukan atau berdesakan,
sehingga bentuknya masih utuh. Zona ini meliputi 11%.
Zona VI (Very Thin One)
Merupakan daerah yang terletak di ujung preparat, bersebelahan dengan
daerah ekor. Distribusi eritrosit agak longgar dibandingkan populasi pada
zona II atau IV Zona ini meliputi kira-kira 9%.
Pemeriksaan Apusan Darah Tepi dengan Berbagai Pembesaran
Berdasarkan tujuan pengamatan, ADT sebaiknya diamati dengan pembesaran
lensa okular 10x, dan secara berturut-turut dengan pembesaran lensa objektif :
1. Pemeriksaan 4x (scanner);
2. Pemeriksaan 10x (pembesaran lemah);
3. Pemeriksaan 40x (pembesaran kuat),
4. Pemeriksaan 100x (dengan minyak emersi).
Pemeriksaan dengan Pembesara 4x
1. Mengetahui apusan darah. Misalnya, apusan yang terlalu tipis, terlalu tebal,
dan sebagainya, apakah memenuhi syarat apusan yang baik.
2. Mengetahui kemungkinan adanya sel-sel ganas dengan cepat. Sel-sel ganas
pada umumnya menggumpal, morfologinya tergantung pada jenis sel ganas
tersebut Megakariosit kadang-kadang ditemukan pada pasien anak-anak
karena anak-anak biasanya menangis pada saat pengambilan darah.
3. Adanya kernungkinan trombosit yang menggumpal, maka pemeriksaan
taksiran jumlah trombosit tidak dapat dilakukan.
4. Ditemukannya sel epitel yang umumnya juga menggumpal sehingga dapat
mengacaukan dengan sel ganas.

5. Bekuan fibrin yang berwarna ungu, dan benang fibrin yang herwarna merah
muda.
6. Mikrofilaria, sering disalahartikan sebagai benang fibrin.
7. Autoaglutinasi.
Pemeriksaan dengan Pembesaran 10x
1. Melihat adanya formasi rouleaux.
2. Taksiran jumlah leukosit (antara 25-40/lapang pandang).
3. Adanya parasit malaria, khususnya gametosit.
4. Sel mieloid yang berukuran besar, misalnya pada anemia megaloblastik.
Pemeriksaan dengan Pembesaran 40x
1. Taksiran jumlah leukosit (10-15 sel / lapang pandang), dalam hal ini 1
leukosit mewakili 20.000 sel/mL.
2. Hitung jenis leukosit, bagi yang telah berpengalaman pada umumnya dapat
mengetahui jenis sel leukosit cukup dengan pembesaran ini. Bila ditemukan
adanya kelainan morfologi sel, maka pemeriksaan dilakukan dengan
pembesaran 100x (dengan minyak emersi).
Pemeriksaan dengan Pembesaran 100x
1. Mempertegas temuan dari pembesaran 40x.
2. Menilai kualitas pewarnaan.
3. Pemeriksaan hitung jenis leukosit.
4. Pemeriksaan morfologi leukosit.

Pemeriksaan Apusan Darah Tepi secara Mikroskopis


Secara mikroskopis, pada apusan darah tepi pada dasarnya dapat dilakukan
pengamatan terhadap:

Eritrosit
1. Ukuran
2. Bentuk
3. Warna
4. Ada atau tidak adanya benda inklusi
5. Susunan set antara satu dengan yang lain
Leukosit
1. Hitung jenis
2. Taksiran jumlah
3. Bentuk-bentuk abnormal
Trombosit
1. Taksiran jurnlah trombosit
2. Bentuk-bentuk abnormal
Eritrosit
Intensitas warna menjadi panduan kasar terhadap kandungan Hb dalam eritrosit.
Istilah

normokromik,

hipokromik,

dan

hiperkromik

digunakan

untuk

menggambarkan warna eritrosit. Normokromik mengacu pada intensitas


pewarnaan yang normal. Bila kandungan Hb berkurang, daerah central pallor
menjadi lebih besar dan lebih pucat. Hal ini dikenal sebagai hipokromia. Pada
anemia megaloblastik, karena sel-sel darah merah yang lebih besar dan karenanya
lebih tebal, maka intensitas warna kurang penting. Pada sferositosis herediter, selsel juga hiperkromik. Kehadiran sel hipokromik dan sel normokromik dalam ADT
yang sama disebut anisokromia. Ini adalah ciri khas dari anemia sideroblastik,
tetapi juga ditemukan beberapa minggu setelah terapi besi untuk anemia defisiensi
besi, atau pada anemia hipokromik setelah mendapat transfusi sel normal. Lihat
pembahasan pada bagian Kelainan Morfologi Eritrosit.
Leukosit

Sebelum mengevaluasi leukosit pada ADT dengan pewarnaan Romanowsky,


pertama tama harus ditentukan bahwa ADT ini dibuat dengan baik, distribusi sel
seragam, dan pewarnaan sel memuaskan. Pertama dilakukan scan daerah
penghitungan slide pada daerah badan, bagian tepi feather edge, di mana monosit,
neutrofil, darn sel-sel abnormal besar (jika ada) cenderung tidak terwakili secara
proporsional Dengan persiapan coverslip, distribusi yang tidak merata ini agak
jarang terjadi. Sel yang mencurigakan terdeteksi pada pembesaran 100x dan
dikonfirmasi pada daya yang tinggi. Karena eritrosit berinti, makrofag, granulosit
matang, sel-sel limfoic belum matang, megakariosit, dan sel-sel abnormal
biasanya tidak ditemukan dalam darah, maka harus dicatat jika ada. Pada pasien
dengan leukopenia, mungkin perlu untuk mengonsentrasikan leukosit dengan
disentrifugasi. Buffy coat berisi terutama leukosit dan trombosit. Leukosit yang
tidak dapat diklasifikasikan harus ditempatkan bersama dalam satu kelompok tak
dikenal. Dalam beberapa kondisi. terutama leukemia, banyak dari leukosit tak
dikenal mungkin ada. Selama prosedur penghitungan diferensial leukosit,
morfologi eritrosit dan trombosit juga diperhatikan. dan diperkirakan jumlah
trombositnya. Konsentrasi absolut dari masing-masing jenis leukosit adalah
persentase dikalikan dengan jumlah leukosit total. Peningkatan konsentrasi mutlak
adalah peningkatan mutlak, sedangkan peningkatan persentase adalah peningkatan
yang relatif.
Artefak
Sel yang rusak atau leukosit yang rusak merupakan proporsi kecil sel berinti
dalam darah normal. Sel-sel tersebut mungkin merupakan sel yang rapuh.
biasanya limfosit yang telah rusak ketika membuat ADT. Sel-sel tersebut
cenderung lebih banyak bila ada limfositosis atipik, misalnya pada leukemia
limfositik kronis dan pada leukemia akut. Dalam waktu setengah jam, inti
neutrofil mungkin mulai membengkak, dengan beberapa kehilangan struktur
kromatin. Sitoplasma vakuola muncul, terutama pada monosit dan neutrofil.
Lobulasi inti sel muncul pada sel mononuklear, adanya celah yang dalam bisa
menyebabkan inti menyerupai daun semanggi (segmentasi radial dari inti atom,

sel Rieder). Akhirnya, kehilangan sitoplasma dan inti tampak sebagai artefak.
Perubahan degeneratif terjadi lebih cepat dalam darah oksalat daripada darah
EDTA. Dengan peningkatan konsentrasi EDTA. akan muncul lebih cepat, seperti
yang terjadi ketika dievakuasi ke dalam tabung koleksi yang tidak terisi lengkap
sehingga konsentrasi EDTA menjadi lebih tinggi.
Sel Endotel
Sel endotel dari dinding pembuluh darah dapat muncul pada tetesan pertama pada
pengambilan darah kapiler, dan jarang muncul dalam darah vena. Sel tersebut
memiliki pola kromatin retikular yang belum matang dan mungkin dikelirukan
dengan histiosit atau untuk sel tumor. Segmentasi inti terjadi pada penggunaan
darah oksalat yang berbeda dibandingkan dengan granulosit, tampak menyerupai
daun semanggi. Dalam darah oksalat, perubahan meningkat dapat terjadi dalam
satu atau dua jam. Perubahan jarang terjadi dengan antikoagulan lain, termasuk
EDTA.
Vakuolisasi
Vakuola dapat berkembang pada inti dan sitoplasma leukosit, terutama monosit
dan neutrofil dari darah dengan antikoagulan EDTA. Vakuola mungkin
berhubungan dengan pembengkakan pada inti dan hilangnya granula dari
sitoplasma.
Pseudofagositosis
Kadang-kadang, limfosit kecil, atau lebih sering eritrosit, akan berada di atas
granulosit atau monosit, dan dengan demikian akan tampak seolah-olah tertelan.
Posisi sebenarnya dari sel-sel tersebut dapat dicurigai karena. akan tampak lebih
tajam di atas sel yang lebih besar.
Sumber Kesalahan dalam Diferensial Leukosit
Bahkan dalam ADT yang dibuat sempurna, dapat terjadi kesalahan pada hitung
diferensial karena distribusi yang acak. Dengan demikian, berdasarkan diferensial
dengan menghitung 100 sel, jika monosit adalah 5% satu hari dan menjadi 10%

pada hari berikutnya, maka besar kemungkinan bahwa perbedaan itu semata-mata
karena kesalahan sampling. Meskipun perbedaannya bisa karena kondisi pasien,
namun hal ini tidak bisa dipastikan karena jumlah sel yang dihitung sedikit. Akan
tetapi, di sisi lain, jika jumlah diferensial mcncapai 500 sel, perbedaan 5-10%
adalah signifikan dengan kondisi pasien. Tentu saja, ini adalah perkiraan minimal
kesalahan yang terlibat dalam penghitungan diferensial karena tidak termasuk
kesalahan mekanik (karena variasi dalam mengumpulkan sampel darah,
pencampuran yang tidak memadai, penyimpangan dalam distribusi yang
tergantung pada jenis dan kualitas ADT, dan pewarnaan yang kurang haik) atau
kesalahan dalam identifikasi sel, yang tergantung pada penilaian dan pengalaman
pengamat. Oleh karena itu, diperlukan ketelitian teknik, serta klasifikasi sel yang
akurat dan konsisten. Dokter yang menafsirkan hasil harus menyadari
kemungkinan sumber kesalahan, terutama kesalahan karena kebetulan dalam
distribusi sel.
Menghitung Diferensial Leukosit secara otomatis
Karena jumlah diferensial leukosit adalah tidak spesifik, kurang presisi, dan
mudah terjadi kesalahan, beberapa peneliu telah menyarankan bahwa mungkin
lebih bijaksana untuk menghentikan penggunaan hitungan diferensial pada pasien
rawat inap untuk skrining tes pada orang dewasa. Otomatisasi diferensial
mengurangi beberapa kesalahan. Idealnya, persyaratan untuk diferensial leukosit
dengan sistem penghitungan otomatis harus mencakup beberapa hal berikut:
1. Distribusi set yang dianalisis harus identik dengan yang ada di darah.
2. Semua leukosit yang biasanya ditemukan pada penyakit darah harus
diidentifikasi secara akurat, atau terdeteksi dan "ditandai" dalam beberapa
cara.
3. Kecepatan proses harus memungkinkan sejumlah besar sel untuk dihitung
sebagai upaya meminimalkan kesalahan statistik.
4. Instrumen harus dengan biaya yang efektif.

Sistem otomatis memiliki keuntungan yang cepat menganalisis jumlah sel


yang lebih banyak dan secara signifikan mengurangi kesalahan statistik dalam
menghitung kekurangannya adalah bila ada sel yang termasuk kategori yang tidak
diklasifikasikan sehingga sulit untuk ditafsirkan, ketika terjadi kondisi yang
abnormal. Akibatnya ADT tetap harus dibuat dan diperiksa.
Pengolahan Pencitraan Digital
Suatu ADT yang dibuat dan diwarnai ditempatkan pada mikroskop bermotor.
Komputer kontrol berfungsi untuk pemindaian slide dan menghentikannya ketika
leukosit berada di lapang pandang. Secara rinci (misalnya, inti set dan ukuran
sitoplasma, densitas, bentuk, warna) tertulis pada kamera televisi, dianalisis oleh
komputer, dan diubah menjadi bentuk digital; karakteristik ini kemudian
dihandingkan dengan bank memori karakteristik berbagai jenis sel tersebut. Jika
pola cocok dengan tipe sel normal, diidentifikasi sebagai "seperti" jika tidak, sel
tersebut diklasifikasikan sebagai tidak dikenal.
Trombosit pada ADT
Dalam film yang terbuat dari darah EDTA dan diwarnai dengan pewarnaan
Romanowsky, trombosit tampak berbentuk bulat atau oval diameter 2-4 m, dan
terpisah antara satu dengan yang lain. Jumlah trombosit dapat diperkirakan dari
ADT tersebut. Rata-rata, jika jumlah trombosit normal, sekitar satu trombosit
ditemukan per 10-30 eritrosit. Pada perbesaran 1000x, ini secara dengann sekitar
7-20 trombosit per lapangan dengan minyak imersi di daerah di mana morfologi
sel merah adalah optimal. Trombosit mengandung granula berwarna ungu halus
yang hiasanya mengisi sitoplasma. Sesekali, butiran terkonsentrasi di pusat
("granulotner) dan dikelilingi oleh sitoplasma pucat ("hialomer"). Beberapa
trombosit

mungkin

telah

menurun

konsentrasi

granulanya

(trombosit

hipogranular). Dalam darah EDTA pada individu yang normal, fraksi trombosit
yang melebihi 3 m dengan diameter dan sebagian kecil dan trombosit yang
hipogranular kurang dari 5% jika ADT yang dibuat pada 10-60 menit setelah
darah diambil. jika ADT yang dihuat pada 3 jam setelah darah diambil, maka akan

terjadi peningkatan trombosit hipogranular, dan beberapa di antaranya rusak. Pada


pasien dengan trombositopenia karena faktor imun, trombosit besar (raksasa
trombosit) meningkat jumlahnya. Sel-sel tersebut juga meningkat pada pasien
dengan

sindrom

Bernard-Soulier

dan

pada

mieloptisis

atau

sindrom

mieloproliferatif. Dalam ADT yang terbuat dari darah kapiler, trombosit berbentuk
tidak teratur dengan proyeksi yang tajam dan cenderung mengumpul.
Pemeriksaan Hitung Jenis Leukosit
Jenis leukosit secara sistematis dihitung pada setiap lapang pandang dengan
menggunakan automatic differential cell counter, atau dicatat hingga ditemukan
sejumlah 100 leukosit.

Gambar 6.2 Differential cell counter.

1
2
3
4

Neutrofil
III
IIIII I
IIIII III
IIIII II

Limfosit
IIII
III
II
II

Eosinofil
II

Monosit
I
I

Basofil

5
6
7
8
9
10
Total

IIII
IIIII II
IIIII III
IIIII I
IIIII
IIIII II
61

IIII
III
II
III
IIII
II

I
I
I
29

Hasilnya dilaporkan sebagai berikut :


Eosinofil

: 5%

Basofil

: 0%

Neutrofil

: 61% (sering kali dibedakan antara stab dan segmen)

Limfosit

: 5%

Monosit

: 5%

Refesensi
1. D.H., (ed). 2O0 . Clinical Hematology Theory and Fundamentals of
Hemostasis. 4th ed. Philadelphia: FA Davis. 95-97.
2. Davidsohn I., Henry J.B. Clinical Diagnosis and Management by Laboratory
Methods. 16th ed. Philadelphia: WB Saunders, 1979.
3. Kjeldsberg C., 1982. Knight J. Body Fluids. Chicago: ASCP Press.
4. NCCLS. Collection, Transport, and Processing of Blood Specimens for
Testing Plasma Based Coagulation Assays Approved Guideline, 4th ed.
Wayne, PA: NCCLS, 2003: NCCLS document H21-A4.
5. Adams C. Autocrit II Centrifuge and Adams Microhematocrit II Centrifuge,
Becton. Dickinson and Company, 1976.
6. CAP, 2005. "Surveys and Anatomic Pathology Education Programs".
Hematology, Clini a: Microscopy, and Bodv Fluids Glossary.
7. Ciesla BE, Simpson P 'Evaluation of Cell Morphology and Evaluation of
White Cell and Platelet Morphology. In: Harmening.
8. Sysmex Corporation. Sysmex Ca-1500 System Operators Manual. Kobe,
Japan: Sysmex Corporation, 2001.

9. Turgeon M.L. 1999. Clinical Hematology Theory and Procedures, 3rd ed.
Philadelphia Lippincott, Williams, and Wilkins.
10. Wooldridge- King M. 2000. "Determination of Microhematocrit via
Centrifuge". AAC5 Procedure Manual for Critical Care, 4th ed. Philadelphia:
WB Saunders.
11. Wyrick GJ, Hughes VC. 2002. "Routine hematology methods". In:
Harmening DH. (ed). Clinical Hematology and Fundamentals of Hemostusis.
4th ed. Philadelphia: FA Davis. 571-573.

Anda mungkin juga menyukai