Anda di halaman 1dari 3

TUGAS

BAHASA INDONESIA

Pradaniati Farida S.
26020111130036

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

Kerang Laut Raksasa Makin Langka


KONAWE, KOMPAS.com - Populasi kerang laut raksasa atau kima di sekitar
perairan Sulawesi Tenggara makin langka akibat maraknya perburuan terhadap
hewan dilindungi itu. Hingga saat ini, pemerintah belum memiliki langkah
konservasi apapun untuk melestarikan hewan yang berperan vital dalam
keseimbangan ekosistem laut dangkal itu.
Ketua Konservasi Taman Laut Kima Toli-toli, Habib Nadjar Buduha,
mengatakan, perburuan kima (Tridacna) di wilayah pesisir timur Sultra sudah
terjadi sejak lama. Kima diburu untuk diambil dagingnya dan cangkangnya
sebagai hiasan, kata Habib saat ditemui di pusat konservasi kima yang
didirikannya secara swadaya di Kabupaten Konawe, Sultra Minggu (8/5/2011).
Dari temuan-temuannya di lapangan, selain nelayan lokal, banyak pula nelayan
asing yang berkedok mencari ikan namun sebenarnya berburu kima di perairan
Sultra hingga Sulawesi Tengah. Seringkali saat menyelam, kami tinggal
menemukan cangkang-cangkangnya saja di dasar laut, ujar Habib.
Kondisi itu disesalkan Habib. Pasalnya, di wilayah perairan Indonesia hidup tujuh
dari sembilan jenis kima yang ada di dunia. Dua di antaranya merupakan yang
paling langka di dunia, yakni Tridacna gigas dan Tridacna derasa yang sekarang
hanya tersisa di perairan Sulawesi hingga Papua, katanya.
Ukuran kima bervariasi mulai dari sekepalan tangan orang dewasa hingga bisa
tumbuh mencapai panjang 1,3 meter dan berbobot 250 Kg. Harga daging kima
yang mencapai 150 dollar AS per Kg di pasaran internasional membuatnya
menjadi komoditas incaran.
Karena itu, Habib berharap pemerintah pusat bisa segera turun tangan untuk
melindungi biota laut ini. Pemerintah negara-negara lain di Asia, seperti Malaysia,
Thailand, Filipina, hingga Australia sudah melakukan konservasi kima. Hanya
Indonesia yang belum, ujarnya.
Kima memegang peranan penting dalam ekosistem laut dangkal karena ia menjadi
filter alami air laut dan cangkangnya menjadi tempat hidup berbagai biota
terumbu karang. Telur dan anak-anak kima juga menjadi sumber makanan bagi
ikan-ikan laut.
Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Bidang Pengawasan Dinas Kelautan dan
Perikanan (DKP) Sultra Ridwan Bolu mengakui terbatasnya jumlah personil
maupun anggaran untuk mengawasi perburuan kima tersebut.

DKP Sultra hanya bisa menggelar patroli laut sekali dalam sebulan di satu
kabupaten/kota. Dengan jumlah 12 kabupaten/kota di Sultra, maka DKP hanya
bisa menggelar satu kali patroli di setiap kabupaten dalam setahun.
Ridwan menambahkan, selain kendala teknis itu, banyak pula masyarakat yang
belum paham tentang status kima sebagai hewan yang dilindungi. Banyak nelayan
yang mengambil kima untuk konsumsi sehari-hari, ujarnya.
Untuk mengatasi kendala itu, Ridwan menyatakan pihaknya mengadopsi sistem
pengawasan berbasis masyarakat. Masyarakat didorong membentuk kelompokkelompok untuk mengawasi wilayah lautnya. Saat ini sudah terbentuk 80
kelompok di seluruh Sultra, katanya.
Sumber: Kompas.com
Kritik
Paragraf kedua baris pertama:
Seharusnya ada imbuhan kata bahwa setelah kata mengatakan
Paragraf ketiga baris ketiga:
Kata kami tinggal diganti kami hanya
Paragraf keempat baris ketiga:
Penulisan spesies Tridacna gigas dan Tridacna derasa SALAH, seharusnya
di-italic, seperti Tridacna gigas dan Tridacna derasa