Anda di halaman 1dari 18

26

Askep Hipertensi Pada Keluarga

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hipertensi merupakan salah satu penyakit system kardiovaskuler yang banyak dijumpai di
masyarakat. Hipertensi bukanlah penyakit menular, namun harus senantiasa diwaspadai.
Tekanan Darah tinggi atau Hipertesi dan arteriosclerosis (pengerasan arteri) adalah dua kondisi
pokok yang mendasari banyak bentuk penyakit kardiovaskuler. Lebih jauh, tidak jarang tekanan
darah tinggi juga menyebabkan gangguan ginjal.Sampai saat ini, usaha-usaha baik mencegah
maupun mengobati penyakit hipertensi belum berhasil sepenuhnya, karena adanya faktor-faktor
penghambat seperti kurang pengetahuan tentang hipertensi (pengertian, tanda dan gejala, sebab
akibat, komplikasi) dan juga perawatannya. Saat ini, angka kematian karena hipertensi di
Indonesia sangat tinggi.

Oleh karena perlu di galakkan pada masyarakat mengenai pengobatan dan perawatan Hipertensi.
Diharapkan dengan di buatnya Asuhan Keperawatan keluarga resiko tinggi hipertensi ini dapat
mengurangi angka kesakitan dan kematian karena hipertensi dalam masyarakat khususnya dalam
keluarga.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat melaksanakan asuhan keperawatan keluarga dengan hipertensi
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan materi askep keluarga dengan hipertensi diharapkan mahasiswa dapat:
a.

Memahami konsep hipertensi pada keluarga

b. Melakukan pengkajian pada keluarga dengan hipertensi


c.

Membuat analisa data dari hasil pengkajian

d. Merumuskan diagnosa keperawatan pada keluarga dengan hipertensi


e.

Menentukan rencana keperawatan sesuai dengan diagnosa

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Hipertensi Dalam Keluarga
Asuhan keperawatan keluarga menurut Salvicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya 1978,
perawatan kesehatan keluarga adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan
atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau kesatuan yang di rawat dengan sehat sebagai
tujuan melalui perawatan sebagai sarana atau penyalur.

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal. Seseorang dianggap mengalami
hipertensi apabila tekanan darahnya lebih tinggi dari 140 mmHg sistolik atau 90 mmHg diastol.
(Elisabet Corwin, hal. 356).

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 bagian yaitu: (Mansjoer Arif,dkk,1999


hal. 518)
1.

Hipertensi Essensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya disebut juga
Hipertensi Idiopatik.
Terdapat sekitar 95 % kasus. Faktor resiko dari hipertensi essensial adalah:

a.

Usia

b. Jenis kelamin
c.

Riwayat keluarga

d. Obesitas
e.

Serum lipid

f.

Diet

g. Perokok
2. Hipertensi Sekunder atau Hipertensi Renal
Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebabnya spesifik diketahui seperti penyakit ginjal, hipertensi
vaskuler renal, hiper aldosteronisme, sindrom chausing, hipertensi yang berhubungan dengan
kehamilan dan lain-lain.

Klasifikasi Hipertensi (JNL, 1997) : The sixt Report of Join National Committee on Prevention
1997 dikutip oleh Mansjoer Arif, dkk, 1999 hal 519, dapat dilihat dalam tabel berikut :
Klasifikasi

Systole

Diastole

Normal

< 130

< 85

b. Perbatasan

130 139

85 89

c.

Hipertensi tingkat I

140 159

90 99

d. Hipertensi tingkat 2

160 179

100 109

> 180

> 110

a.

e.

Hipertensi tingkat 3

Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala bila demikian, gejala
baru ada setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak atau jantung. Gejala lain yang sering
ditemukan adalah sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdenging, mata berkunang-kunang
dan pusing. (Mansjoer Arif, dkk, 1999).

Fokus Intervensi Individu


Diagnosa 1 : Resiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik yang
berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang kondisi, pembatasan diet, pengobatan,
faktor resiko.
Intervensi :
1)

Identifikasi faktor-faktor penyebab atau penunjang yang menghalangi.

2)

Bangun rasa percaya dan kekuatan.

3)

Tingkatkan percaya diri dan kemajuan diri yang positif.

4)

Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.

5)

Tingkatkan sikap positif keikutsertaan individu dan keluarga.

6)

Jelaskan dan bicarakan :

a) Proses penyakit
b) Aturan pengobatan
c) Perubahan gaya hidup yang diperlukan
d) Metode untuk memantau kondisi
7)

Jelaskan bahwa perubahan gaya hidup dan kebutuhan belajar akan membutuhkan waktu untuk
integrasi.

8)

Identifikasi rujukan atau layanan komunitas yang diperlukan untuk tindak lanjut.

Diagnosa 2 : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler
serebral.
Intervensi :
1) Pertahankan tirah baring selama fase akut.
2) Berikan tindakan non farmakologi untuk menghilangkan sakit kepala.
3)

Hilangkan/minimalkan aktifitas vasokonstriksi yang dapat meningkatkan rasa sakit kepala,


misalnya mengejan.

4) Bantu pasien untuk ambulasi sesuai kebutuhan.

Fokus Intervensi pada keluarga

Berikut ini intervensi keperawatan keluarga yang dilakukan pada masalah hipertensi sesuai
dengan 5 tugas keluarga:
1) Mengenal masalah kesehatan
Intervensi:
a) Gali pengetahuan keluarga tentang hipertensi
b) Jelaskan pada keluarga tentang pengertian hipertensi
c) Jelaskan pada keluarga mengenai macam-macam penyebab hipertensi
d) Jelaskan pada keluarga tanda dan gejala hipertensi
2) Mengambil keputusan mengenai tindakan yang tepat
Intervensi:
a) Jelaskan akibat-akibat bila hipertensi tidak ditangani dengan tepat
b) Motivasi keluarga untuk mengambil keputusan yang tepat guna menangani hipertensi
c) Beri reinforcement positif atas keputusan keluarga
3) Merawat anggota keluarga yang sakit
Intervensi:
a) Jelaskan pada keluarga tentang perawatan hipertensi
b) Demonstrasikan cara pembuatan obat tradisional untuk hipertensi
c) Beri kesempatan keluarga untuk mendemonstrasikannya

d) Beri reinforcement atas ketrampilan keluarga


4) Memodifikasi lingkungan yang mendukung kesehatan
Intervensi:
Jelaskan tentang pencegahan hipertensi yang dapat dilakukan keluarga di rumah
5) Memanfaatkan fasilitas kesehatan
Intervensi:
a) Jelaskan pada keluarga mengenai tempat pelayanan kesehatan yang dapat digunakan untuk
pengobatan hipertensi
b) Motivasi keluarga untuk mengunjungi tempat fasilitas kesehatan
c) Beri reinforcement (+) atas minat keluarga.

B. Contoh Asuhan Keperawatan Keluarga: Hipertensi


1. Pengkajian
a.

Data Umum
Nama KK
Umur
Alamat
Pekerjaan KK
Pendidikan
Komposisi Keluarga
N Nama Hub. dg
o
KK

Ny. N

Istri

: Tn. A
: 60 Tahun
: Ds. Sukadana RT 05 RW II Kendal
: Petani
: SR
:
Umur L Status
Pendidi Pekerjaa
/ perkawinan kan
n
P
57 th

P Kawin

Tipe Keluarga : Nuklear Family (Keluarga inti)

SR

IRT

Ketera
ngan
imunis
asi
_

Suku Bangsa:
Semua anggota keluarga berasal dari suku Jawa,dengan kultur budaya Jawa. Bahasa yang
digunakan sehari-hari adalah bahasa jawa ngoko halus. Tidak ada pantangan dalam makanan
atau hal-hal yang lain asalkan tidak bertentangan dengan budaya dan agama. Hanya saja
terkadang apabila Ny. N sakit sering pergi ke orang pintar (dukun).

Agama:
Semua anggota keluarga beragama Islam, taat menjalankan sholat. Sholat dilakukan dengan
berjamaah dan selalu membaca Al Quran setelah sholat. Tiap malam selalu sholat tahajud.
Tahun ini rencana mau naik Haji. Menurut keluarga Tn.A, Daging babi tidak boleh dimakan.
Status Sosial ekonomi keluarga
Keluarga Tn.A termasuk keluarga dengan ekonomi menengah ke atas.Hasil keuntungan toko
500ribu perbulan. Hasil pertanian jika panen bisa mencapai 10juta terutama apabila musim
tembakau. Biaya makan tiap hari 30ribu, listrik 80ribu. Dengan perabot rumah yaitu TV 24 inci,
kulkas 2 pintu, sofa, dispenser, kompor gas, radio, sepeda dll. Selain itu menyewakan barangbarang untuk hajatan.

Aktivitas rekreasi keluarga


Kelurga Tn A beraktivitas rekreasi dengan menonton Tv dan mendengarkan radio. Sambil
bercengkrama. Dan tidak pernah pergi ke tempat rekrasi atau jalan-jalan ke Mall.

b. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga


Tahap Perkembangan keluarga saat ini :
Tahap perkembangan Tn. A untuk saat ini berada pada tahap perkembangan keluarga usia
pertengahan
Tugas perkembangan kelurga yang belum terpenuhi :
Tugas perkembangan keluarga pada usia pertengahan yang belum terpenuhi adalah belum dapat
memodifikasi lingkungan kesehatan.ini dapat diketahui dari pernyataan Tn. A bahwa Tn.A suka
makan asin dan berlemak.
Riwayat keluarga inti :
Dalam keluarga Tn. A, Tn. A menderita hipertensi 190/100 mmHg tapi tidak merasakan pusing
ataupun keluhan lainnya. Tn. A jarang melakukan kontrol ke pelayanan kesehatan dan belum
pernah opname di Rumah Sakit. Ny. N tidak mempunyai riwayat kesehatan yang bermasalah.
Riwayat Kesehatan Sebelumnya;
Ayah dari Tn. A menderita penyakit hipertensi dan adik dari Tn . A yang berumur 55 th
menderita stroke. Dalam keluarga Tn. A tidak ada yang mempunyai penyakit menular.

c.

Pengkajian Lingkungan
Karakteristik rumah
Jenis bangunan rumah Tn. A bersifat permanent dengan ukuran 11x5 m2, dengan lantai keramik
yang terdiri dari 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 tempat sholat dan ruang makan
serta 1 ruang keluarga. Dan mempunyai toko yang terletak di samping rumah dengan ukuran 3x5
m2. Ventilasi rumah baik dengan 1 jendela tiap ruangan, kecuali ruang tamu mempunyai 2
jendela, kondisi rumah bersih dan tertata rapi. Pembuangan sampah ada di belakang rumah,
kondisi air bening tidak berbau. Setiap hari lantai disapu, kadang-kadang dipel.

Karakteristik tetangga dan komunitas


Lingkungan rumah Tn. A mayoritas sebagai petani tiap pagi berangkat ke sawah dengan naik
sepeda. Sedangkan transportasi yang berada di desa Tn. A adalah angutan pedesaan.
Mobilitas geografis keluarga
Keluarga Tn. A belum pernah berpindah tempat, apabila ada anggota keluarga yang sakit
menggunakan transportasi sepeda motor atau angkutan untuk mencapai tempat pelayanan
kesehatan.
Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Dalam keluarga Tn A sering dikunjungi oleh anaknya. Dan kesempatan ini digunakan oleh
keluarga untuk saking bercerita dan bersenda gurau. . Hubungan keluarga Tn. A dengan tetangga
tampak baik dan harmonis. Ny. N ikut dalam perkumpulan PKK RT setiap bulan sekali dan
pengajian seminggu sekali setiap hari kamis. Tn. A juga ikut perkumpulan RT setiap bulan
sekali serta aktif mengikuti Yasinan setiap malam Jumat.
System Pendukung Keluarga
Anggota keluarga Tn. A yang sehat adalah Ny. N, apabila ada keluarga Tn. A akan berobat
dengan menggunakan sepeda motor, apabila ada salah satu anggota keluarga yang sakit maka
anggota yang lain memberikan dorongan atau mengingatkan serta mengantar untuk berobat ke
pelayanan kesehatan. Sedangkan masyarakat menjenguk apabila ada anggota keluarga Tn. A
yang sakit.

d. Struktur Keluarga
Pola komunikasi keluarga
Dalam berkomunikasi sehari-hari Tn. A dan anggota keluarga menggunakan bahasa Jawa dengan
komunikasi secara verbal. Dan kalau ada masalah dimusyawarahkan. Setiap anggota keluarga
menerima dan menghargai hasil keputusan terakhir. Akan tetapi pengambil keputusan adalah Tn.
A selaku kepala rumah tangga

Struktur Peran
Peran formal
Tn. A mampu menjalankan perannya sebagai kepala keluarga, Ny. N juga mampu menjalankan
perannya sebagai Ibu rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, manager
keuangan.dan membantu mencari tambahan nafkah dengan menjaga toko.
Peran Informal
setiap anggota keluarga berperan sebagai pendorong jika ada salah satu anggota keluarga yang
bermasalah, sebagai sahabat bagi semua anggota keluarga dan sebagai penghibur apabila ada
anggota keluarga yang sedang bersedih.
Nilai atau norma keluarga
Nilai yang dianut keluarga adalah saling menghormati antar anggota keluarga yang satu dengan
yang lain, mengormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Menurut Ny, M semau
anggota keluarga berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, nilai yang ada
dikeluarga merupakan gambaran diri dari agama yang dianut, tidak terlihat adanya konflik dalam
nilai.
Keluarga Tn. A mempunyai persepsi bahwa penyakitnya sudah biasa dan tidak dirasakan
sehingga jarang kontrol.
e.

Fungsi Keluarga
Fungsi Afektif
Keluarga Tn. A tampak sangat harmonis, antar anggota keluarga saling menghargai dan
menghormati. Tn. A menerapkan disiplin yang tinggi terhadap anaknya yang sudah
menikah.Sehingga menjadikan anaknya brhasil dalam pendidikannya dan bahagia dalam rumah
tangganya bersama istri dan anaknya.
Fungsi Sosialisasi
Hubungan antara anggota keluarga tampak baik dimana anak dan menantu beserta cucu-cucunya
menjenguk Tn. A sekeluarga. Tn. A menerapkan disiplin yang tinggi pada anaknya baik disipil
waktu maupun disiplin dalam janji. Kluarga tn.A mengikuti adapt dan norma yang ada di
masyarakat.
Fungsi Perawatan Kesehatan
Makan sehari 3 kali berupa nasi, lauk pauk, sayuran, buah dan susu (4 sehat lima sempurna).
Sedang pola istirahat pada keluarga Tn. A : Tn. A tidur jam 23.00 dan bangun jam 04.00 serta
tidak pernah tidur siang. Ny. N tidur jam 23.00 bangun jam 04.30 dan tidak pernah tidur siang
karena harus menjaga toko.
Keluarga Tn. A kurang mengenal masalah karena Tn. A sering makan yang asin dan berlemak
serta jarang control ke pelayanan kesehatan. Keluarga Tn. A belum dapat mengambil keputusan
untuk mengatasi masalah kesehatan, hal ini bisa dilihat Tn. A jarang Kontrol. Apabila ada
anggota keluarga yang sakit langsung dibawa ke pelayanan kesehatan.

Keluarga Tn. A kurang tahu bagaimana memodifikasi lingkungan kaitannya dengan pola makan
dalam keluarga tersebut.
Keluarga Tn. A jarang menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada yaitu Puskesmas,
dokter swasta ataupun bidan untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada pada keluarga.

Fungsi reproduksi
Jumlah anak keluarga Tn. A satu, saat ini sudah berkeluarga dan tinggal bersama istrinya. Dulu
pada saat masa muda, setelah melahirkan anak pertamanya Ny. N menggunakan KB suntik.
Setelah 5 tahun brhenti menggunakan KB.
Fungsi ekonomi
Dalam memenuhi kebutuhan makan, keluarga Tn. A sering makan makaan yang berlemak,
walaupun diselingi denganmakanan yang lain. Pakaian yang penting bersih, beli baju setahun
sekali kalau mau lebaran. Keluarga Tn. A mempunyai rumah sendiri.Apabila sakit Tn. A jarang
kontrol ke RS karena merasa bahwa penyakitnya merupakan hal yang biasa.Sedangkan Ny.M
apabila sakit pergi ke RS, tetapi lebih sering pergi ke orang pintar ( dukun ) apabial telah berobat
tidak sembuh.
f.

Stress dan Koping Keluraga


Stresor jangka pendek dan jangka panjang.
Stresor pendak : Yang menjadi pemikiran keluarga saat ini adalah merasa ditinggal oleh anak
satu-satunya. Kadang merasa sepi dan sendiri apabila anak dan cucunya tidak datang
menjenguknya.
Stresor jangka panjang : Bagaimana jika tiba-tiba meninggal tetapi tidak ada anak
disampingnya.
Strategi koping yang di gunakan
Apabila ada masalah di selesaikan dengan cara musyawarah dan mufakat. Dan dicari jalan yang
terbaik serta tidak lupa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Kemampuan keluarga dalamberespon terhadap stressor
Keluarga tidak bisa apa-apa, hanya bisa menuggu anak dan cucunya datang. Dan mengusir
kesepiannya dengan berjualan di toko untuk mengisi kesibukannya.

g. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik
TD
N
RR
BB/TB
Rambut
Konjungtiva
Sklera

Tn A
190/100mmHg
96x/mt
20x/mt
60 kg/160 cm
Beruban, tidak ada
ketombe
Tidak anemi
Tidak ikterik

Ny. N
120/80 mmHg
92x/mt
24x/mt
55 kg/ 155cm
Beruban, tidak ada
ketombe
Tidak anemi
Tidak ikterik

Hidung

Tidak ada secret, simetris

Telinga
Mulut

Tidak keluar seruman


Mukosa bibir lembab,
tidak sariawan
Tidak ada pembesaran
kelenjar tiroid dan limfe
Tidak ada keluhan
Tidak ada bunyi nafas
yang abnormal
Irama jantung teratur dan
tampak jelas
Datar, ada bising
usus20x/mt, tidak nyeri
tekan
Tidak edema, apabila
berjalan tampak tertatih
dan lambat
Bersih, sawo matang,
tampak keriput dan
kering
Cukup baik
Tidak ada keluhan

Leher
Dada:
Paru
Jantung
Abdomen

Ekstremitas

Kulit

Turgor kulit
Keluhan

Tidak ada secret,


simetris
Tidak kelaur serumen
Mukosa bibir lembab,
tidak sariawan
Tidak ada pembesaran
kelenjar tiroid dan limfe
Tidak ada keluhan
Tidak ada bunyi nafas
paru yang abnormal
Irama jantung teratur
Datar, ada bising usus
25x/mt, tidak nyeri
tekan
Tidak edema, berjalan
agak trtatih dan lambat
Bersih, sawo matang,
tampak keriput dan
kering
Cukup Baik
Tidak ada keluhan

h. Harapan Keluarga
Harapan keluarga Tn A pada petugas kesehatan adalah Mendapatkan infornasi yang berguna
bagi kesehatan anggota keluarganya.
2. Analisa Data
Data
DS :
Tn. A mengatakan tidak tahu
tentang penyakitnya dan tidak
merasakan keluhan apa-apa.
Keluarga merasa masalah ini
merupakan hal yang biasa.
DO :
TD = 190/100 mmHg,
N : 72 x/mt,
RR : 20 x/mt,
S : 37 C.
DS:
Tn. A mengatakan suka makanan
yanga asin dan berlemak.
Apabila kambuh keluarga hanya

Masalah
Risiko ggn.
Perfusi jaringan

Etiologi
Ketidakmampuan
keluarga mengenal
masalah

ketidak
efektifan
penatalaksanaan
program

Ketidakmampuan
keluarga merawat
anggota keluarga
yang sakit.

memberikan obat gosok atau


terapeutik.
kerokan. Jarang periksa ke Yan
Kes
DO:
Makanan terasa asin
Tn. A tidak mau minum obat dan
tidak mau periksa , TD : 190/ 100
mmHg, RR : 20 x/mt, N : 72 x/mt
3. Diagnosa Keperawatan
1) Resiko gg perfusi jaringan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah
2) Ketidak efektifan keluarga dalam penatalaksanaan program terapeutik berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota kelurga yang sakit.
Skoring
Resiko gg perfusi jaringan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal
masalah
No

kriteria

skore

bobot

jumlah

total

pembenaran
Apabila masalah
yang dialami Tn
A berkelanjutan
maka akan
mengakibatkan
suatu masalah
yang semakin
fatal yaitu stroke
Masalah dapat
mudah diubah
karena dalam
hal ini keluarga
belum mengenal
masalah dan
jarang pergi ke
YanKes
sehingga
diharapkan
dengan
pendekatan yang
baik dari
petugas bisa
mengubah
kebiasaan diet
makanannya dan
dengan bantuan

Sifat masalah :
Ancaman
kesehatan

2/3 x 1

2/3

Kemungkinan
masalah dapat
diubah :Masalah
mudah diubah

2/2 x 1

Potensi untuk
dicegah : cukup

2/3 x 1

2/3

Menonjolnya
masalah :
Masalah tidak
dirasakan

0/1

peran serta
anggota
keluarga
Masalah belum
berat walaupun
Tn.A tidak
merasakan
keluhan apaapa, tetapi TD
Tn.A apabila
tidak
mendapatkan
tindakan akan
membahayakan
Tn.A tidak
merasakan
keluhan apaapa.Dan
keluarga
menganggap
masalah ini hal
yang biasa

Jumlah

Ketidakefektifan keluarga dalam penatalaksanaan program terapeutik berhubungan dengan


ketidakmampuan kelurga dalam merawat anggota keluarga yang sakit hipertensi

No

kriteria

skore

bobot

jumlah

total

Pembenaran
Masalah adalah
actual sudah
terjadi untuk itu
perlu tindakan
perawatan,
sehingga tidak
berdampak pada
masalah lain
(stroke)
Masalah dapat
dicegah untuk
lebih parah, dan
membutuhkan

Sifat masalah:
actual

3/3 x 1

Kemungkinan
masalah dapat
diubah: sebagian

x2

Potensial untuk
dicegah: cukup

2/3 x 1

2/3

Menonjolnya
masalah tidak
dirasakan

0x1

peran serta
keluarga yang
amat besar,
dalam merubah
perilaku
pemenuhan
nutrisi, ada
tenaga
kesehatan
yang akan
membina.
Masalah belum
berat, dan
membutuhkan
waktu untuk
mengubah
kebiasaan
keluarga
Anggapan
keluarga, bahwa
masalah Ht ini
adalah masalah
yang biasa dan
oleh Tn.A tidak
dirasakan

Jumlan

Prioritas masalah keperawatan


1) Ketidakefektifan keluarga dalam penatalaksanaan program terapeutik berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit.
2) Resiko gg perfusi jaringan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal
masalah

4. Perencanaan Keperawatan Keluarga

Dx
Ketidakefektifan
keluarga dalam
penatalaksanaan
program
terapeutik
berhubungan
dengan
ketidakmampuan
keluarga dalam
merawat anggota
keluarga yang

Tujuan
Jangka
Jangka Pendek
Panjang
Setelah
Setelah
dilakukan
dilakukan
tindakan
pertemuan 1x
perawatan
20 menit,
selama 1
keluarga
minggu pada mampu:
keluarga,
mengenal
Tn.A dapat
masalah
melakukan
tentang
perawatan
penyakit Ht:
anggota
Keluarga
keluarga
mampu
yang
menyebutkan
mengalami
kembali
masalah
pengertian Ht
kesehatan

Kriteria

Standar

Intervensi

Respon

Ht adalah 1)

verbal

Suatu

Beri
kesempatan
pada keluarga
untuk
menyebutkan
pengertian Ht
Beri
reinforcement
positif atas
jawaban yang
benar
Tanyakan
kembali halhal yang telah
didiskusikan
Beri
kesempatan
keluarga
untuk brtanya
tentang halhal yang
belum diket.
Beri
kesempatan
pada keluarga
untuk
menyebutkan
pengertian Ht
Beri
reinforcement
positif atas
jawaban yang
benar

kenaikan
TD yang
diakibatkan
2)
oleh
adanya
peningkata
3)
n tekanan
dalam
perifer

4)

sakit

5)

6)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Asuhan keperawatan keluarga menurut Salvicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya 1978,
perawatan kesehatan keluarga adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan
atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau kesatuan yang di rawat dengan sehat sebagai
tujuan melalui perawatan sebagai sarana atau penyalur.

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal. Seseorang dianggap mengalami
hipertensi apabila tekanan darahnya lebih tinggi dari 140 mmHg sistolik atau 90 mmHg diastol.
(Elisabet Corwin, hal. 356).

Berikut ini intervensi keperawatan keluarga yang dilakukan pada masalah hipertensi sesuai
dengan 5 tugas keluarga:
1) Mengenal masalah kesehatan
Intervensi:
a) Gali pengetahuan keluarga tentang hipertensi
b) Jelaskan pada keluarga tentang pengertian hipertensi
c) Jelaskan pada keluarga mengenai macam-macam penyebab hipertensi
d) Jelaskan pada keluarga tanda dan gejala hipertensi
2) Mengambil keputusan mengenai tindakan yang tepat
Intervensi:
a) Jelaskan akibat-akibat bila hipertensi tidak ditangani dengan tepat
b) Motivasi keluarga untuk mengambil keputusan yang tepat guna menangani hipertensi
c) Beri reinforcement positif atas keputusan keluarga
3) Merawat anggota keluarga yang sakit
Intervensi:
a) Jelaskan pada keluarga tentang perawatan hipertensi
b) Demonstrasikan cara pembuatan obat tradisional untuk hipertensi

c) Beri kesempatan keluarga untuk mendemonstrasikannya


d) Beri reinforcement atas ketrampilan keluarga
4) Memodifikasi lingkungan yang mendukung kesehatan
Intervensi:
Jelaskan tentang pencegahan hipertensi yang dapat dilakukan keluarga di rumah
5) Memanfaatkan fasilitas kesehatan
Intervensi:
a) Jelaskan pada keluarga mengenai tempat pelayanan kesehatan yang dapat digunakan untuk
pengobatan hipertensi
b) Motivasi keluarga untuk mengunjungi tempat fasilitas kesehatan
c) Beri reinforcement (+) atas minat keluarga.

B. Saran
Makalah ini ditujukan untuk memberikan pemahaman mahhasiswa keperawanan mengenai
asuhan keperawanan pada keluarga dengan hipertensi yang nantinya dapat dilaksanakan dalam
praktik kerja.