Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
Setiap makhluk hidup senantiasa memenuhi kebutuhan dasar dalam
hidupnya. Kebutuhan dasar manusia di antaranya adalah pemenuhan fungsi
pengunyahan, penelanan dan bicara. Fungsi tersebut dapat dipenuhi dengan
adanya sistem pengunyahan atau dikenal dengan sistem mastikasi. Sistem
mastikasi merupakan satu unit kompleks fungsional yang peran utamanya
meliputi gerakan kebutuhan dasar tersebut.1,2
Fungsi sistem mastikasi dijalankan oleh komponen tulang rahang. Secara
lengkap, sistem mastikasi melibatkan berbagai struktur, termasuk gigi dan
jaringan periodontal, tulang, sendi temporomandibula (TMJ), ligamen dan otot
pengunyahan.1,2
Setiap gerakan pengunyahan senantiasa berkoordinasi dengan prinsip
mencapai fungsi semaksimal mungkin serta menghindari kerusakan seminimal
mungkin. Masing-masing struktur sistem pengunyahan dapat mengalami kondisi
abnormal. Kondisi tersebut tidak hanya berpengaruh pada struktur itu sendiri
tetapi dapat menyebabkan terganggunya sistem mastikasi yang sangat kompleks.1,2
Sebagai praktisi kesehatan, dalam hal ini khususnya sebagai dokter gigi,
pengetahuan dasar mengenai struktur dan sistem pengunyahan secara menyeluruh
sangatlah penting dalam rangka melakukan diagnosa dan rencana perawatan yang
tepat.1,2,3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI GNATOLOGI
Gnatologi berasal dari bahasa Yunani, gnathos yang berarti rahang dan
ology yang berarti pengetahuan atau ilmu. Menurut Dr. Harvey Stallard,
gnatologi berarti "studi rahang". Sedangkan menurut Dr. Baverly B. Mc Collum,
Bapak Gnatologi, serta menurut Perhimpunan Gnatologi internasional, Gnatologi
adalah ilmu yang mempelajari tentang faktor biologis mekanisme mastikasi yang
mencakup morfologi, anatomi, histologi, fisiologi, patologi dan terapi rongga
mulut khususnya rahang dan gigi serta hubungan vital organ tersebut dengan
bagian tubuh lain. 3,4,5
Dalam Kamus Kedokteran Dorland, definisi Gnatologi adalah ilmu
pengetahuan yang membahas tentang sistem pengunyahan (mastikasi) secara
keseluruhan, mencakup morfologi, anatomi, histologi, fisiologi, patologi dan cara
pengobatan. Menurut Clayton A. Chan, DDS MI CCMO, Direktur Pusat
Gneuromuscular Dentistry & Orthopedic Occlusal Advancement, gnatologi
adalah ilmu yang mempelajari rahang, termasuk fisiologi, gangguan fungsi, dan
perawatannya.6,7
Menurut Dr. Charles Stuart, seorang penemu besar di bidang Gnatologi,
Gnatologi merupakan pengetahuan yang berkelanjutan, Gnatologi adalah ilmu
yang menjadikan seorang dokter gigi mampu merestorasi, melindungi dan
menjaga gigi-geligi manusia. Di dalam jurnal Gnatologia IT, dikatakan bahwa
Gnatologi adalah ilmu tentang rahang dan masalah hubungan mandibula.6,8
2.2 KONSEP DASAR GNATOLOGI

Dari berbagai definisi Gnatologi di atas, dapat diketahui bahwa konsep


dasar Gnatologi meliputi faktor biologis mekanisme mastikasi yang mencakup
morfologi, anatomi, histologi, fisiologi, patologi dan terapi rongga mulut
khususnya rahang dan gigi serta hubungan vital rongga mulut dengan bagian
tubuh lain secara keseluruhan. Sistem mastikasi adalah unit fungsional tubuh yang
bertanggung jawab dalam proses pengunyahan, penelanan, dan bicara. Selain itu,
sistem ini juga berperan utama dalam pengecapan dan pernafasan. Struktur sistem
mastikasi terdiri atas gigi geligi, tulang, sendi, ligamen dan otot pengunyahan.
Komponen tersebut berada di bawah regulasi sistem kontrol neurologis. Sistem
mastikasi merupakan unit yang sangat kompleks. Pengetahuan anatomi fungsional
dan biomekanisnya sangat penting dalam memahami konsep dasar Gnatologi. 3,6,7
Gigi-geligi terdiri atas mahkota dan akar, Akar gigi tertanam dalam tulang
alveolar, didukung oleh adanya ligamen periodontal yang merentang dari
permukaan sementum akar menuju tulang alveolar, ligamen periodontal tidak
hanya melekatkan gigi pada soket tulang, tetapi juga membantu menahan daya
kunyah pada tulang ketika gigi berkontak fungsional. Dalam hal ini, jaringan
periodontal berperan sebagai shock absorber. 1,9
Gigi permanen terdistribusi secara merata di dalam lengkung tulang
maksila dan mandibula. Gigi rahang atas tersusun pada prosessus alveolaris
maksila yang bersatu dengan bagian depan bawah kranium. Gigi rahang bawah
tersusun pada prosessus alveolaris mandibula yang dapat bergerak. Lengkung
maksila sedikit lebih besar dari lengkung mandibula sehingga menyebabkan gigi
rahang atas overlap dengan gigi rahang bawah secara horisontal maupun vertikal
saat oklusi. Susunan dan oklusi gigi-geligi sangat penting dalam fungsi mastikasi,

baik antara gigi yang bersebelahan maupun dengan gigi antagonis pada rahang
yang berlawanan. Posisi gigi tidak hanya ditentukan oleh lebar lengkung gigi dan
ukuran gigi itu sendiri, tetapi juga ditentukan oleh jaringan lunak di sekitarnya. 1,3
Sebuah garis yang melewati puncak bonjol bukal dan tepi insisal gigi pada
rahang bawah kemudian dilanjutkan pada gigi di seberangnya maka akan
terbentuk dataran yang disebut dataran oklusi. Oklusi diartikan sebagai kontak
gigi-geligi pada rahang atas dan gigi-geligi pada rahang bawah. Oklusi sentrik
adalah oklusi dimana gigi-geligi berkontak antar bonjol secara maksimum. Oklusi
ideal merupakan hubungan antara semua gigi yang susunannya sempurna pada
rahang dan memiliki hubungan anatomi yang normal satu sama lain. 1,2,3
Komponen tulang yang berperan dalam sistem mastikasi adalah maksila,
mandibula, dan temporal yang menopang mandibula ketika berartikulasi dengan
kranium. Maksila tersusun atas dua tulang yang menyatu pada sutura midpalatal.
Tulang ini membentuk langit-langit dan menyediakan tempat untuk tertanamnya
geligi rahang atas. Gigi rahang atas merupakan komponen stasioner dalam sistem
pengunyahan. Mandibula adalah tulang yang mendukung gigi bawah tanpa
memiliki perlekatan dengan kranium. Mandibula dihubungkan dengan tulang
tengkorak melalui suatu sendi yang dinamakan sendi temporomandibula (TMJ).1,2
Pemahaman mengenai tipe dan lokasi kontak gigi yang terjadi ketika
pergerakan mandibula merupakan hal yang penting. Pergerakan mandibula dari
posisi antar bonjol yang menghasilkan kontak gigi disebut eksentrik. Pergerakan
eksentrik dasar terdiri atas gerakan protrusi, laterotrusi dan retrusi. 1,2,9
Rotasi adalah proses mengelililingi sumbunya, pergerakan tubuh pada
porosnya. Pada sistem mastikasi, gerakan rotasi terjadi ketika mulut membuka dan
menutup, bergerak dengan kondilus sebagai porosnya. Rotasi sumbu horisontal

disebut hinge movement dimana porosnya disebut hinge axis. Gerakan ini
merupakan gerakan rotasi murni. Gerakan mandibula yang mengelilingi sumbu
frontal terjadi ketika satu kondilus bergerak ke anterior meninggalkan terminal
hinge positin, sedangkan pada kondilus yang berlawanan pada terminal hinge
position. Gerakan mandibula pada poros sagittal terjadi ketika satu kondilus
bergerak ke bawah dan kondilus yang lain tetap pada terminal hinge position.
Gerakan transalasi dapat diartikan sebagai gerakan dimana pada setiap titik
mandibula bergerak secara simultan dengan kecepatan dua arah yang sama.
Gerakan ini terjadi ketika mandibula bergerak ke depan. Pergerakan mandibula
yang tepat oleh sistem otot saat berfungsi diperlukan untuk menggerakkan gigi
secara efisien satu sama lain. Pergerakan mandibula terjadi sebagai rangkaian
gerakan kompleks yang saling terkait, Pergerakan ini ditentukan oleh aktifitas
yang simultan dari kedua sendi temporo mandibula. 1,2,9

Gambar 2.1 Sendi Temporomandibula (TMJ)10


Sendi temporomandibula (Temporomandibular Joint/TMJ) adalah daerah
dimana mandibula berartikulasi dengan kranium. Sendi ini merupakan sendi yang
paling kompleks pada tubuh manusia. TMJ berada di depan telinga. TMJ dibentuk
oleh kondilus mandibula yang berkontak dengan fossa mandibularis tulang
5

temporal. Fossa tersebut memiliki eminensia pada margin anterior yang disebut
eminensia artikularis. Eminensia membantu mencegah terjadnya dislokasi TMJ.
Di antara kondilus dan fossa mandibularis terdapat jaringan ikat yang dinamakan
diskus artikularis. 1,2,11
Sistem neurologis mengatur aktifitas pengunyahan dengan sistem
neuromuskular yakni melalui nervus dan muskulus. TMJ diinervasi oleh cabang
nervus mandibularis sebagai inervasi aferen. Inervasi pada TMJ berasal dari
nervus aurikulo-temporalis yang meninggalkan nervus mandibularis di belakang
persendian kemudian naik secara lateral lalu ke atas melewati regio persendian
posterior. Vaskularisasi TMJ didominasi oleh arteri temporalis superfisial di
posterior, arteri meningeal tengah di anterior dan arteri maksilaris interna di
posterior. Ligamen pada TMJ dibentuk dari jaringan ikat kolagen. TMJ didukung
oleh tiga ligamen fungsional, yakni ligamen kolateral, ligamen kapsular dan
ligamen temporo-mandibular. Selain itu, terdapat juga ligamen tambahan, yaitu
ligamen spheno-mandibular dan ligamen stylo-mandibular. 1,2,8,11

Gambar 2.2 Ligamen12


Pergerakan TMJ merupakan proses kompleks dimana otot yang berfungsi
untuk menutup rahang lebih banyak karena pembukaan rahang lebih besar
dipengaruhi oleh gravitasi. Otot yang terlibat dalam pergerakan TMJ dikenal

sebagai otot pengunyahan, meliputi otot masseter, otot temporalis, otot pterygoid
medialis dan otot pterygoid lateralis.1,2,9,11

Gambar 2.3 Otot-otot pengunyahan12


Pada saat sistem mastikasi tidak berfungsi dengan baik dapat terjadi
gangguan. Gangguan tersebut dapat meliputi gangguan mandibula, oklusal, rasa
sakit karena disfungsi sendi temporomandibula, gangguan maupun rasa sakit
pada otot-otot wajah, kranio-mandibular, maupun kranio-servikal-mandibular
yang dapat bermanifestasi sebagai sindrom, masalah, disfungsi, maupun keadaan
patologis lainnya.1,2,11,13
Kumpulan gejala yang mempengaruhi TMJ, otot pengunyahan, dan/ atau
struktur pengunyahan disebut dengan temporomandibular disorders (TMDs) atau
kelainan sendi temporo mandibula. TMDs merupakan kondisi yang menyebabkan
keluhan Orofacial Pain pada bidang kedokteran gigi, biasanya bersifat kronis.
Prevalensi TMDs sekitar 20-75%, sedangkan jumlah orang yang melakukan
perawatan hanya 2-4%. TMDs biasanya terjadi pada usia 20-40 tahun, baik pada
laki-laki maupun perempuan dengan rasio 1:1. TMDs secara klinis bervariasi,
biasanya terdiri atas 6 kelompok gejala :

1. Kelemahan otot wajah (Masseter, temporalis, medialis atau pterygoid lateral,


leher dan bahu )
2. Rasa sakit (pada kepala, leher dan bahu)
3. Bunyi sendi (kliking, krepitasi, grinding)
4. Locking, terbuka (dislokasi), tertutup (tidak dapat membuka mulut secara
penuh)
5. Keluhan telinga
6. Efek psikososial. 1,2,11,13
Etiologi TMDs bersifat multipel dan kompleks. Sampai tahun 1992,
penelitian klinis sulit untuk menelaah kelompok spesifik dari subtipe TMDs. Hal
ini disebabkan karena kurangnya indeks diagnostik yang valid dan reliabel dalam
mendiagnosa subtipe yang berbeda dari TMDs. Penelitian kriteria diagnosa TMDs
menghasilkan perangkat diagnosa yang valid dan reliabel. Terapi konservatif yang
dikatakan berhasil sebanyak 68-95%. Terapi tersebut diantaranya fisioterapi dan
program latihan, terapi cognitive behavioral kompres hangat pada otot
pengunyahan, penggunaan alat intra oral atau pembedahan. 1,2,11,13
2.2 SEJARAH GNATOLOGI
Istilah gnatologi lahir pada pertengahan awal tahun 20-an. Istilah ini
pertama kali diajukan oleh Dr. Harvey Stallard dari San Diego (AS). Adapun yang
dikenal sebagai Bapak Gnatologi adalah Dr. Baverly B. Mc Collum. Pada tahun
1924, beliau menemukan metode positif pertama menempatkan Hinge Axis serta
mendirikan perhimpunan gnatologi (Gnathological Society).4
8

Pada tahun 1927, Harvey Stallard mengetahui bahwa gigi mengarahkan


penutupan dan posisi oklusi mandibula. Pada tahun 1930, Dr.Charles Stuart dan
Dr.Mc Collum mengembangkan artikulator semi-adjustable pertama yang dikenal
dengan Gnatoskop Mc Collum. Pada tahun 1933, Stuart yang telah menjadi
pimpinan perhimpunan Mc Collum melakukan apapun, mulai dari memperbaiki
teknik, mempelajari prinsip-prinsip, melakukan penemuan dan mendesain. Beliau
menciptakan alat pencatat friksi rahang untuk mencatat pergerakan mandibula
pada suatu piringan di luar muka. 4
Pada tahun 1934, dengan bantuan Dr.Stuart, Mc Collum memproduksi alat
Gnatograf Mc Collum. Pada tahun yang sama, dalam pertemuan alumni U.S.C.,
Dr. Stuart mendemonstrasikan pencatat gerakan mandibulanya. Pergerakan
tersebut kemudian dijelaskan oleh Posselt sebagai Envelope Motion. Pada malam
setelah presentasi, pada saat menuju rumahnya, Stuart menyadari bahwa dia dapat
membuat alat pencatatan, dengan memasangnya pada pasien itu sendiri, mencatat
pergerakan

mandibula,

kemudian

dipindahkan

pada

artikulator.

Beliau

menciptakan dan mendemonstrasikannya pada Konferensi Pacific Coast Dental


pada tahun 1935 di Long Beach, California. Hal ini menumbuhkan daya tarik
dalam perkembangan ilmu baru Gnatologi. 4
Pada tahun 1939 Mc Collum dan Stuart mempublikasikan sebuah laporan
penelitian yang merupakan hasil penelitian selama 14 tahun. Laporan ini
memberikan kontribusi yang besar dalam perkembangan gnatologi. Dr.Everitt
Payne, yang juga adalah anggota perhimpunan gnatologi tersebut bekerja sebagai
teknisi laboratorium Mc Collum untuk mendapatkan oklusi seimbang bilateral
pada lilin. Beliau membuat semua kiat pengecoran dengan sempurna, namun

pengetahuannya tentang morfologi gigi tidak sebanding. Everitt adalah orang


yang menemukan teknik penambahan lilin yang kita gunakan sekarang. 4
Dr. Mc Collum menderita stroke parah pada tahun 1949 dan setelah itu
tidak lagi melanjutkan aktivitasnya di kedokteran gigi. Setelah perang, Dr.Stuart
merangkum penelitiannya dalam bidang kedokteran gigi. Setelah Mc Collum
mengalami stroke, tidak ada seorang pun yang aktif mengajar gnatologi. Dr.Dave
Shooshan dari Pasadena memberi semangat kepada Stuart untuk menyelesaikan
produksi artikulator dan alat pencatatnya. Banyak dokter gigi berkontribusi dalam
pembuatan artikulator, sejumlah alat pencatat dan face bow pada tahun 1955. 4
Dr.Stuart dan Dr.Stallard bekerjasama mengajar Oklusi Organik. Dr.Stuart
mengatakan bahwa beliau mengutip teknik penambahan wax dari Everitt Payne
dan konsep cusp-fossa dari Good Lord untuk mempelajari oklusi organik. Beliau
kurang menyenangi mengajar sebagai dosen di tahun 1950-an. Beberapa orang
pun kemudian mulai mengajar gnatologi. Dr.Ray Contino yang pertama, lalu
diikuti Peter K. Thomas yang mengajar prinsip gnatologi pada kelompok belajar
di seluruh dunia. Seiring perkembangannya, banyak dokter gigi muda dari
Amerika Serikat datang untuk belajar pada ahli. Mereka bahkan mengundang para
ahli untuk datang ke negara mereka untuk memberikan kursus. 4
Pada awal tahun 1960-an, Gnatologi berkembang dan ditetapkan pada
pertemuan internasional di Meksiko. Kongres pertama Akademi Internasional
Gnatologi diadakan di Meksiko pada tahun 1964 yang dikoordinir perhimpunan
Meksiko oleh Dr. Mrs. Chuck Eller. Pertemuan berikutnya diadakan di San Diego
pada tahun 1965. Harvey Stallard dan Bob Mercer menangani program
pendidikan ketika Chuck dan Gloria Eller menangani berbagai pertemuan ilmiah.
Dr.Chuck Eller bersama istrinya Gloria bekerja sangat baik dalam menangani
10

berbagai pertemua ilmiah sejak tahun 1964 sampai dengan 1995. Chuck terpilih
sebagai ketua perhimpunan untuk Amerika dari tahun 1973-1997. 4
Pengaruh Vic Lucia, Frank Celenza, Ernie Granger dan Arthur Khan dari
Perhimpunan Gnatologi Timur-Utara menghasilkan pertemuan ilmiah pada tahun
1969 di NewYork. Penghargaan BB Mc Collum ditetapkan pada pertemuan ini.
Penerima medali pertama adalah Dr. Harvey Stallard. 4
Pada tahun 1999 pertemuan ilmiah diadakan di Sea Island, Georgia dan
tahun 2001 di Seattle, Washington. Pada tahun 2003 diadakan di Santa Fe, New
Meksiko. Ilmu Gnatologi telah berkembang di seluruh dunia. Induk organisasi
Akademi Gnatologi Internasional adalah Perhimpunan Amerika, kemudiaan
diikuti Perhimpunan Eropa, Amerika Latin, Australia dan Asia. 4

11

BAB III
PEMBAHASAN
Dr. Harvey Stallard sebagai pencetus pertama istilah gnatologi,
menyatakan bahwa gnatologi adalah studi rahang, mencakup hubungan
sebenarnya yang terjadi antara gigi dan pergerakan kondilus. 4
Adapun yang dikenal sebagai Bapak Gnatologi adalah Dr. Baverly B. Mc
Collum dan yang mendirikan Perhimpunan Gnatologi (Gnathological Society).
Menurut Dr. Mc Collum dan perhimpunan tersebut, gnatologi didefinisikan
sebagai ilmu yang mempelajari tentang faktor biologis mekanisme mastikasi yang
mencakup morfologi, anatomi, histologi, fisiologi, patologi dan terapi rongga
mulut khususnya rahang dan gigi serta hubungan vital organ tersebut dengan
bagian tubuh lain. 4,6
Gnatologi erat kaitannya dengan penyakit periodontal, otot, gigi dan sendi
mandibula yang merupakan bagian penting dalam praktek kedokteran gigi. Setiap
dokter gigi harus mempelajari gnatologi agar memperoleh pemahaman mendalam
mengenai sistem stomatognatik sehingga menjadikannya mampu melakukan
diagnosa yang lebih baik dan melakukan perawatan yang tepat dan hasil yang
maksimal dengan memperhatikan kesehatan pasien secara komprehensif. 1,2,3

12

BAB IV
KESIMPULAN
Gnatologi tidak dapat dipisahkan dari peranan seorang dokter gigi.
Seorang dokter gigi harus mempelajari gnatologi untuk memperoleh pemahaman
mendalam mengenai sistem mastikasi sehingga mampu melakukan diagnosa dan
perawatan pasien dengan memperhatikan system mastikasi sebagai satu kesatuan.
Gnatologi erat hubungannya dengan kondisi gigi dan jaringan periodontal, otot,
serta sendi mandibula. Apabila menemui kasus berupa gangguan pada salah satu
struktur sistem mastikasi maka cara pandang terhadap suatu kasus tidak menjadi
sempit lagi tetapi menjadi terkait dengan kesehatan sistem mastikasi secara
umum. Selain itu apabila menemui kasus berupa gangguan pada struktur sistem
mastikasi pada daerah selain rongga mulut dapat mendeteksi faktor penyebabnya
di dalam rongga mulut.3,6
Gnatologi adalah ilmu pengetahuan yang harus dimiliki untuk menjadikan
seorang dokter gigi yang dapat merestorasi, melindungi, dan mempertahankan
gigi-geligi manusia dengan memperhatikan kondisi kesehatan pasien secara
umum, khususnya kesehatan sistem stomatognatik. Untuk dokter gigi saat ini dan
di masa yang akan datang, wajib memahami konsep dasar Gnatologi secara
komprehensif. Pemahaman tentang ilmu Gnatologi tersebut harus diaplikasikan
dalam praktek sehari-hari.3,6

13

14