Anda di halaman 1dari 8

PELVIC INFLAMMATORY DESEASE

UniversitasAndalas

Oleh :

DR. Hj. DESMIWARTI, SpOG (K)

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR M DJAMIL
PADANG 2013

PENYAKIT RADANG PANGGUL

Saat ini hampir 1 juta wanita mengalami penyakit radang panggul yang
merupakan infeksi serius pada wanita berusia 16-25 tahun. Lebih buruk lagi, dari 4
wanita yang menderita penyakit ini, 1 wanita akan mengalami komplikasi seperti
nyeri perut kronik, infertilitas (gangguan kesuburan), atau kehamilan abnormal.
Terdapat peningkatan jumlah penyakit ini dalam 2-3 dekade terakhir berkaitan
dengan beberapa faktor, termasuk diantaranya adalah peningkatan jumlah PMS dan
penggunaan kontrasepsi seperti spiral. 15% kasus penyakit ini terjadi setelah
tindakan operasi seperti biopsi endometrium, kuret, histeroskopi, dan pemasangan
IUD (spiral). 85% kasus terjadi secara spontan pada wanita usia reproduktif yang
seksual aktif.
A. Definisi
Penyakit radang panggul atau Pelvic Inflamatory Disease (PID) adalah suatu
kumpulan peradangan pada saluran genital bagian atas oleh berbagai
organisme, yang dapat menyerang5 endometrium, tuba fallopi, ovarium maupun
miometrium secara perkontinuitatum maupun secara hematogen ataupun
sebagai akibat hubungan seksual.

B. Etiologi
Peradangan biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, dimana bakteri masuk
melalui vagina dan bergerak ke rahim lalu ke tuba fallopi. 90-95% kasus PID
disebabkan oleh bakteri yang juga menyebabkan terjadinya penyakit menular
seksual ( misalnya klamidia, gonore, mikoplasma, stafilokokus, streptokokus ).
Infeksi ini jarang terjadi sebelum siklus menstruasi pertama, setelah menopause
maupun selama kehamilan. Penularan yang utama terjadi melalui hubungan
seksual, tetapi bakteri juga bisa masuk kedalam tubuh setelah prosedur
kebidanan/ kandungan ( misalnya pemasangan IUD, persalinan, keguguran,
aborsi dan biopsi endometrium).

C. Faktor Resiko
Wanita yang aktif secara seksual dibawah usia 25 tahun berisiko tinggi untuk
mendapat penyakit radang panggul. Hal ini disebabkan wanita muda
berkecenderungan untuk berganti-ganti pasangan seksual dan melakukan
hubungan seksual tidak aman dibandingkan wanita berumur. Faktor lainnya
yang berkaitan dengan usia adalah lendir servikal ( leher rahim ). Lendir servikal
yang tebal dapat melindungi masuknya bakteri melalui serviks (seperti gonorea),
namun wanita muda dan remaja cenderung memiliki lendir tipis sehingga tidak
dapat memproteksi masuknya bakteri.

Faktor risiko lainnya adalah:

Riwayat penyakit radang panggul sebelumnya

Pasangan seksual beganti-ganti atau lebih dari 2 pasangan dalam 30 hari

Wanita dengan infeksi oleh kuman penyeba PMS

Menggunakan douche (cairan pembersih vagina) beberapakali dalam


sebulan

Penggunaan IUD (spiral) meningkatkan risiko penyakit radang panggul,


risiko tertinggi adalah saat pemasangan terutama apabila sudah terdapat
infeksi dalam saluran reproduksi sebelumnya

D. Faktor Predisposisi

Wanita tanpa perlindungan kontrasepsi (kondom) dengan seksual aktif/


multipartner

Pemakaian IUD yang terlalu lama

Berbagai tindakan medis intra uterin

Pernah menderita penyakit menular seksual

E. Gejala
Gejala biasanya muncul segera setelah siklus menstruasi. Penderita merasakan
nyeri pada perut bagian bawah yang semakin memburuk dan disertai oleh mual
atau muntah. Biasanya infeksi akan menyumbat tuba fallopi. Tuba yang
tersumbat bisa membengkak dan terisi cairan. Sebagai akibatnya bisa terjadi
nyeri menahun, perdarahan menstruasi yang tidak terartur dan kemandulan.

Infeksi bisa menyebar ke struktur di sekitarnya, menyebabkan terbentuknya


jaringan parut dan perlengketan fibrosa yang abnormal diantara organ-organ
perut serta menyebakan nyeri menahun. Di dalam tuba, ovarium maupun
panggul bisa terbentuk abses (penimbunan nanah). Jika abses pecah dan
nanah masuk rongga panggul, gejalanya segera memburuk dan penderita bisa
mengalami syok. Lebih jauh lagi bisa terjadi penyebaran infeksi ke dalam darah
sehingga terjadi sepsis.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:

Keluar cairan dari vagina dengan warna, konsistensi dan bau yang
abnormal

Demam

Perdarahan menstruasi yang tidak teratur atau spotting ( bercak-bercak )

Kram karena menstruasi

Nyeri ketika melakukan hubungan seksual

Nyeri setelah melakukan hubungan seksual

Nyeri punggung bagian bawah

Kelelahan

Nafsu makan berkurang

Sering berkemih

Nyeri ketika berkemih

F. Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik, dilakukan
pemeriksaan panggul dan perabaan perut. pemriksaan lainnya yang biasa
dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan cairan dari serviks,
kuldosentesis (intraperiton dr fornix post), laparoskopi, USG panggul.

G. Dampak PID

Infertilitas

Kehamilan ektopik

Persalinan prematur

H. Penatalaksanaan
PID tanpa komplikasi bisa diobati dengan antibiotik dan penderita tidak perlu
dirawat. Jika terjadi komplikasi atau penyebaran infeksi, maka penderita harus
dirawat di rumah sakit.

PEMBAGIAN PID
1. Menurut cara terjadinya :
a. Radang

panggul

akut

ok

GO

(60%),

streptococcus/staphylococcus
b. Radang panggul kronis ok TBC.
2. Menurut lokasi terjadinya :
a. Parametritis
b. Endometritis (akut.kronis); metritis
c. Salphingitis/oofaritis/salphingo oofaritis
d. Pelvio peritonitis
3. Menurut Etiologinya : (hubungan sexual) cara masuk kuman :
a. Infeksi oleh kuman : N, gonorhea, clamidia trichomonas,
mycoplasma honitis.
b. Infeksi ok tindakan seperti :
-

Pemasangan IUD

Pertubasi (cek tuba pake co2)

Curettase

Histero salphingografi (HSG)

Abortus provocatus

Pembedahan ginekologis

PID AKUT
Kriteria Diagnosis :
An/

: -

Badan terasa panas tinggi, sakit kepala, malaise.

- Nyeri perut bagian bawah dan daerah pelvis


- Vaginal discharge, sering yang purulenta
Pe/ : : -

NT (+) perut bagian bawah

- NT (+), NG (+) (pada genitallia interna, cx) bisa unilateral dan bilateral
- Daerah adnexa teraba kaku
- Mungkin teraba masa dengan fluktuasi
- Suhu axilla > 390C
Pem Penunjang : USG
DD/ :

1. Appendicitis akut
2. Abortus septik
3. Tumor ovarium yang terinveksi/ torsi kista ovarii
4. K.E.T/ UTI/ Endometriosis

Penanganan :
1. Berobat Jalan bila : KU baik, nyeri abd minimal., suhu axilla < 390C
Th/ :

AB Broad spektrum, angkat AKDR,AG,cara berbaring posisi fowler.


(kpala agak tinggi)

2. Perawatan di RS bila : KU kurang, nyeri abd. hebat, suhu axilla > 39 0C


Th/ : -

Posisi Fowler ; pemberian cairan IV untuk mencegah dehidrasi

- NGT bila kembung dan ileus


- AB broad spektrum
- Kolpotomi dan drainage cairan melalui CD (bila CD fluktuasi (+)).
- Laparotomi eksplorasi bila konservatif gagal.
- Pada tubo-ovarial-abses konservatif 3 hari, masa akan me <
laparotomi
- Pemantauan/evaluasi KU dengan klinis, lab dan USG

PID KRONIS ATAU REKURENS


Kriteria diagnosis
An/

: -

Ada riw adneksitis akut /inf pelfik lainnya/ inf post partum/inf post
ab.

PE/

Dispareunia

Infertilitas

: -

Suhu subfebril, takikardi

NG (+) (pada genitalia interna) tetapi lebih ringan

Dapat teraba masa pada daerah adneksa/parametrium, terdapat


penebalan dan kaku di daerah ini.

Labor/ : -

Leukositosis (bila infeksinya aktif)

DD/

Th/

: -

LED
KET yang lama

Endometriosis

Appendicitis kronis

: -

Berobat jalan : - Ab dan - Diatermik


Perawatan di RS : bila akan dilakukan tindakan operatif seperti
laparotomi eksplorasi apabila konservatif gagal

DAFTAR PUSTAKA

1. Hill JB. Pelvic Inflammatory Disease. December 2009. Diunduh dari


http://www.emedicine.com/med/topic3221.htm.
2. Berek JS, Adashi EY, Hillard PA. NovaksGynecology. Maryland:
William & Wilkins, 1996.
3. PenyakitRadangPanggul. Dalam : Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R,
Wardhani WI, Setiowulan W, editor. KapitaSelektaKedokteran. Edisi 3.
Jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius, 2008. hal. 267-70.
4. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, editor. Ilmu Kandungan.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1994.