Anda di halaman 1dari 53

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT.

Tirta Daya Rinjani

BAB VI
PERENCANAAN PLTMH
6.1.

UMUM

Perencanaan PLTMH Batu Bedil mencakup perencanaan bangunan sipil,


peralatan

hidromekanikal

dan

elektrikal,

peralatan

pembangkit

(generating equipment), jaringan transmisi 20 kV, dan jalan akses.


Perencanaan bangunan sipil terdiri dari weir, intake, sand trap basin,
headrace, head pond, penstock, pintu pembilas, pintu intake, tailrace dan
power house. Sedangkan peralatan pembangkit meliputi turbin, generator,
trafo, switchgear, sistem kontrol dan trasmisi mekanik. Selanjutnya
perencanaan jaringan transmisi, dan outdoor switching-structure.
6.2.

KRITERIA DISAIN

Desain bangunan sipil dan pemilihan peralatan yang sesuai untuk PLTMH
Batu Bedil berdasarkan pada kriteria sebagai berikut:
- PLTMH Batu Bedil merupakan mikrohidro dengan konsep run off river.
Dengan konsep run off river ini maka penggunaan air untuk keperluan
pembangkit tidak menggangu aliran maupun fungsi sungai. Aliran air
sekedar disadap untuk menggerakan turbin dan dikembalikan lagi ke
aliran Sungai Jangkok. Buangan air dari Tailrace PLTM Sesaot disadap
kemudian melalui intake PLTMH Batu Bedil aliran air diarahkan turbin
PLTMH Batu Bedil setelah itu dikembalikan lagi ke Sungai Jangkok. Bak
Pengarah berfungsi untuk mengarahkan air ke waterway, bukan untuk
menampung air.
- Bangunan sipil didisain sesuai dengan standard perencanaan bangunan
untuk mikrohidro dengan mempertimbangkan:
Kekuatan bangunan.
Sedapat mungkin menggunakan material setempat kecuali semen
dan besi.
Konstruksi dapat dikerjakan secara semi manual dan seminimal
mungkin menggunakan alat berat.
- Pipa pesat ditempatkan 30 cm di atas dasar bak penenang untuk
menghindarkan masuknya batu atau benda-benda yang tidak diijinkan
terbawa memasuki turbin, karena berpotensi merusak runner turbin.
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-1

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


- Pipa pesat ditempatkan pada jarak minimum 4 x D (diameter pipa
pesat) dari muka air untuk menjamin tidak terjadi turbulensi dan
pusaran yang memungkinkan masuknya udara bersama aliran air di
dalam pipa pesat
- Material penstock adalah Spiral Welded pipe dengan panjang segmen
disesuaikan dengan ketersediaan di pasaran. Penyambungan penstock
dilakukan dengan metoda las listrik di lokasi.
- Penentuan jenis turbin mengacu pada standard perencanaan minihidro
sesuai dengan debit disain dan net head yang direncanakan.
- Penentuan jenis generator sinkron mengacu kepada

standard

perencanaan mini hidro sesuai dengan range daya yang tersedia di


pasaran. Pertimbangan dan spesifikasi generator yang dijadikan kriteria
utama dalam desain adalah:
Barang mudah didapatkan di pasaran, ketersediaan barang dipasar
dan importir dapat dijamin.
Suku cadang (AVR dan bearing khususnya) mudah didapatkan di
pasaran dan cara penggantiannya mudah dilakukan.
Garansi efisiensi pada full load minimum = 0,95.
- Perencanaan jenis controller mengacu kepada standard perencanaan
minihidro sesuai dengan

range daya yang tersedia di pasaran.

Pertimbangan dan spesifikasi controller yang dijadikan kriteria utama


adalah pemasangan dan perawatan mudah dilakukan, plug and play
system,

tidak

memerlukan

setting

di

lapangan

pada

commissioning.
6.3.

PERENCANAAN DASAR BANGUNAN SIPIL

Sehubungan dengan model cascading yang memanfaatkan tail race


dari PLTM Sesaot maka perencanaan bangunan sipil yang terdapat
pada PLTMH Batu Bedil terdiri dari :
1. Saluran pembawa (waterway), terdiri dari:
a. Bangunan pengambilan (intake)
b. Kolam pengendap pasir (sand trap basin)
c. Saluran hantar (headrace)
d. Bak penenang (headpond)
e. Pipa pesat (penstock)
f. Saluran pembuang (tailrace)
2. Rumah pembangkit (power house)
3. Peralatan hidromekanikal.
Skema layout PLTMH dapat dilihat pada gambar di bawah
ini:
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-2

saat

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

Gambar 6.1 Layout Sistem PLTMH


6.3.1 Saluran Pembawa (Waterway)
Waterway atau saluran pembawa PLTMH Batu Bedil ditempatkan
disebelah kanan Sungai Sesaot. Komponen waterway meliputi, intake,
sand trap basin, headrace, head pond, penstock, dan tailrace. Saluran
pembawa mengikuti kontur dari sisi bukit untuk tetap mempertahankan
elevasi saluran (beda tinggi) sesuai dengan kriteria kemiringan yang
diijinkan.
6.3.2 Bangunan Pengambilan (Intake)

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-3

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


Bangunan pengambilan (intake) yang dimaksud disini meliputi trastrack,
saluran, dan pintu pengambilan. Bangunan pengambilan direncanakan
dengan membuat lapisan saluran dari pasangan batu disebelah sungai
(hulu weir) dilengkapi dengan kisi penyaringan sampah (trash rack) dan
pintu pengambilan.
Di bagian depan saluran dipasang kisi penyaringan sampah yang
terbuat dari plat baja. Pintu pengambilan direncanakan sebanyak 2 buah
yang berukuran lebar 1,50 m. Pintu tersebut dapat dibuka dan ditutup
sesuai kebutuhan, jika diperlukan air untuk pembangkitan maka pintu
dibuka dan jika operasi pembangkitan dihentikan maka pintu ditutup.
Kondisi perencanaan
a)
b)
c)
1.

Debit rencana maximum


: 5.00 m3/det
Debit rencana minimum
: 0.75 m3/det
Elevasi ambang saluran pengambilan
: EL.+ 184.10 m
Perencanaan Pintu Pengambilan
Bangunan pengambilan di rencanakan menggunakan 2 pintu ulir
double stang dengan lebar 1,50 m dan menggunakan 1 pilar
dengan lebar masing-masing pilar 0.60 m. dengan elevasi
pengambilan +184,100
Tinggi bukaan pintu bangunan pengambillan:
Qn .a.b.

2.g .z

Dimana
:
Qn
= Debit Rencana (m3/dtk)

= Koefisien debit
= 0,80 (untuk bukaan di bawah
permukaa air
a
b
z

dengan kehilangan tinggi energy)


= Tinggi bukaan
= lebar bukaan pintu ( = 3.00 m)
= kehilangan energy pada bukaan (antara 0.15 - .030 =

diambil 0.30 m)
g
= percepatan gravitasi
Perhitungan:
Qn .a.b.

2.g .z

5,00 0,80 a 3,00

2,00 9,81 0,3 0

5,00
0,80 3,00 2,00 9,81 0,30

0,86 m

Dimensi balok pintu pengambilan.


Dimensi balok pengambilan sebagai berikut:
Lebar pintu
: 1,50 x 2 = 3.00 m
Lebar teoritis
: 1,50 (2 x 0,10) = 3,20 m
Tebal papan kayu : 0,20 m

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-4

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


Berat jenis kayu
Berat jenis air
Berat jenis baja
Gambar 6.10 Pintu

: 80 kg/cm2
: 1 ton/m2 = 0,001 kg/cm2
: 7800 kg/cm2
Pengambilan

P
P2
1

Tinggi muka air untuk


P1 v1 2/2g
= h1 . w
aliran
tenggelam
2
= 1,08 x 1 =Aliran
1,08 ton/m
tak tenggelam
P2
= h2 . w
= 0,80 x 1 = 0,80 ton/m2
sungai P2
H1 h1= 1,08 0,80 xH
2
h2
h2
a 1,08 0,80 x0.20pengambilan
0,188t / m 1,88kg / cm 2
=
2
Momen yang timbul
= 1/8 x q x L2
= 1/8 x 1,88 x 30002
= 21150,00 kg/cm
W (momen kelembaman) = 1/6 x t2 x h
Dimana h adalah lebar kayu yang di tinjau yaitu : 20 cm
W
= 1/6 x t2 x 20
= 3,33 t2

Menentukan tebal pintu :


P

5287,50kgcm
M
80,00
W
3,33t 2

266,67t 2 5287,50kgcm
t 4,45cm 5,00cm

Sehingga ukuran kayu yang di gunakan 5/20

Ukuran stang pengangkat pintu:


Lebar pintu
Diameter (D)
Tinggi pintu(hp)
F stang
Momen inersia(i)
Tekanan (PI)
P2
Tekanan air

Gaya pintu ke atas


Berat stang
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-5

= 1.5 x 4 m = 6.00 m
= 3.00 cm
= 1,00 m
= x x D2
= x 3.14 x 3.002
= 7,065 cm2
= 1/64 x 3.14 x 3.002
= 3,974 cm2
= h1 . w
= 1,08 x 1000 = 1080 kg
= h2 . w
= 0,80 x 1000 = 800 kg
=1/2 x (PI+P2) x( Lebar pintu x h pintu ) x w
= x (1080+800) x (1,50 x 1,00) x 1,00
= 5640,00 kg
= F stang x (h pintu) x berat jenis baja.
= 0,0005640 x 1.00 x 7800

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


=5,51 kg.
Berat daun pintu
= h pintu x L pintu x T pintu x berat jenis baja
= 1,00 x 1,50 x 0.08 x 7800
= 3744,00 kg
Berat sambungan
= 20% x berat daun pintu
= 20% x 3744,00
= 748,80 kg
Berat total pintu (GI) = 5,51 + 3744,00 + 748,80
= 4498,31 kg
Koefisien gesek baja alur dengan pintu (f) = 0,40 m
Gaya gesek
= 0,40 x tekanan air.
= 0,40 x 5640,00
= 2256.00 kg
Total (G)
= (GI) + gaya gesek
= 4498,31 kg + 2256.00 kg = 6754,31 kg
Control terhadap tegangan ()
GP int

baja 1400kg / cm 2
FS tan g
6754,31

956,00 1400kg / cm 2
7.065

Gambar 6.11 Detail stang pengangkat pintu pengambilan

Akibat gaya tekan pintu bergerak turun


Jumlah gaya (PK)
= (GI Gaya Gesek)
= (4498.31.00 2256.00)
= 2242.31 kg
Rumus Euler

= PK =

Dimana:

E baja

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-6

2 .E.I
I .K 2
= 2,1 x 106 kg/cm2

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


I
LK

= Momen inersia
= Panjang Tekuk
= 0,50 x L x2
= 0,5 x 1,5 x 2
= 1,060 m
Control terhadap gaya tekuk
PK .LK 2
I
I 7,9848cm 4
2 .E
2242.31 1.06 2

3.14 2 2.1 10 6
1,22 I 7,948cm 4 ok .......
2. Perencanaan saluran intake
Air yang mengalir pada bangunan pengambilan merupakan aliran bebas,
sehingga rumus yang digunakan adalah:
Q =AxV
V =

KR 3 S

Dimana:
Q = debit aliran (m3/dt)
A = luas penampang basah = B.h (m2)
V = kecepatan (m/dt)
R = jari - jari hidrolis = A/P (m)
P = keliling basah = B + 2.h (m)
S = kemiringan dasar saluran
K = koefisien Strikler ( K=70 untuk pasangan beton)
B = lebar dasar saluran (m)
Perhitungan dimensi saluran pengambilan dijelaskan sebagai berikut:
Q
= A V
5.0 m3/det = A x V
A
=bxh
A
= 2.20 x 1.54
= 3.393 m2
V

=K R

=
=
=
=
=
=

70 x R2/3 *0.00081/2
A/p (p= keliling basah)
3.393/p
b + 2h
2.20 + (2 x 1.54)
= 5.285 m
3.393/5.285
= 0.642 m

KR 3 S

V
R
P

=
=
Q
=
5.0 m3/det =
5.0 m3/det =

70 x 0.642 *0.00081/2
1.474 m/det < 3.0 m/dt (Aman)
A V
3.393 m2 x 1.474 m/det
5.0 m3/det Oke.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-7

2/3

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


Hasil perhitungan dengan menggunakan persamaan diatas, direncanakan
saluran pengambilan dengan data teknik sebagai berikut :
- Tipe saluran terbuka berpenampang persegi, saluran beton
- Lebar dasar saluran
= 2.20 m
- Tinggi muka air di saluran
= 1.54 m
- Tinggi saluran
= 1.84 m
- Kemiringan dasar saluran
= 0.0008
- Pintu Intake 2 unit lebar = 1.50 m
- Elevasi muka air
= 185.67 m
- Elevasi dasar intake
= 184.10 m
- Elevasi tanggul
= 185.97 m

1.00 0.20

2.20

0.20 1.00

0.30

+185.960
+185.640

3
1

+184.100

2.60
Gambar 6.12 Penampang intake bagian hulu
6.3.3 Kolam Pengendap Pasir (Sand Trap Bassin)
Untuk menghindari rusaknya turbin akibat gesekan

pasir, maka

diperlukan kolam pengendap pasir. Ukuran kolam pengendap pasir


direncanakan berdasarkan ukuran butir maksimum berdiameter 0,50
mm dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Kolam pengendap pasir harus mempunyai kapasitas cukup untuk
menjamin kecepatan aliran lebih kecil dari kecepatan kritis ukuran
partikel, dalam hal ini partikel dengan diameter 0,50 mm.
b. Untuk menggelontor sedimen pasir berdiameter lebih besar 0.50
mm, maka disediakan saluran penggelontor dan pintu penggelontor
pasir sebanyak 1 (Satu) buah berukuran 1,50 m.
c. Kolam pengendap pasir direncanakan dengan

bentuk

persegi

panjang, dimana bagian hulu kolam dibuat bentuk transisi.


Untuk menjamin kolam dalam kondisi tenang dan menghindarkan
masuknya pasir kedalam saluran penstock, maka kecepatan air dikolam
dibatasi 40 cm/ det.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-8

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

Gambar 6.13 Kantong lumpur (Sand trap basin)


Perencanaan Kantong Lumpur
1. Pendimensian Kantong Lumpur
Data perencanaan:
Diameter butiran sedimen (D)

: 70 m

Berat jenis sedimen (Gs) : 2.70 t/m3


Temperatur air (T)

: 20C

Kemiringan talud (m)

:1:1

Debit pengaliran (Qn)

: 5.00 m3/dt
: 9.81 m/dt2

Gravitasi
a. Ukuran partikel

Diasumsikan partikel yang ukurannya kurang dari 70 m atau 0.07


mm terangkut sebagai sedimen yang melalui saluran.
b. Luas permukaan rata-rata
Pada suhu air 20C dengan diameter butiran (D) = 0.07 mm, maka
kecepatan endap (w) = 0.004 m/dt (KP 02 1986).
L.B

Qn
5.00

= 1250.00 m2
w
0.004

Untuk mencegah aliran tidak meander di dalam kantong, maka L/B >
8.
Karena L/B > 8, maka dapat dihitung : L 8 B 8 B B 1250m 2

1250
B

B 8

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-9

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

B 2 156.25 = B 12.50m
Direncanakan lebar saluran Headpond B = 4.00 m sehingga panjang
saluran Headpond
L
L
8 =
8 = L 32m
B
4
Dipakai L = 32.00 m sehingga dimensi kantong lumpur yang
digunakan 4.00 x 32.00 m.
c. Penentuan In (eksploitasi normal, kantong sedimen hamper penuh)
Asumsi Vn = 0.70 m/dt untuk mencegah vegetasi tumbuh dari
partikel-partikel

besar

tidak

langsung

mengendap

di

hilir

pengambilan (KP-02, 1986).


Qn 4.00

7.14m 2
Vn 0.70

Luas penampang (An) =


Tinggi air (hn) =

An 7.14

1.79m
B
4.00

Direncanakan kantong lumpur berbentuk trapesium dengan b= 4.00


m dan h= 1.79 m dengan kemiringan 1 : 1.
Keliling basah (P) = b 2h 1 m 2 = 4.0 ( 2 1.79 1 12 ) = 9.05 m
Jari-jari hidrolis (R) =

A 7.14

0.789m
P 9.05

Koefisien kekasaran (Ks) = 45


Maka kemiringan saluran (In) didapat:

In

Vn 2
( Rn

Ks )

0.70 2
(0.789

45)

0.000332

Gambar 6.14 Potongan melintang kantong lumpur dalam keadaan penuh


d. Penentuan Is (pembilas, kantong lumpur kosong)
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-10

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


Debit pembilasan (Qs) = 1.2 x Qn = 1.2 x 5.00 = 6.00 m 3dt
Kecepatan pembilasan diambil Vs = 2.00 m/dt
Luas penampang (As) =
Tinggi air (hs) =

Qs 6.00

3.00 m 2
Vs
2.00

As 3.00

0.75m
B
4.00

Keliling basah (P) = b 2h 1 m 2 = 6.0 (2.00 0.75 1 12 ) = 6.12 m


Jari-jari hidrolis (R) =

A 3.00

0.49m
P 6.12

Koefisien kekasaran (Ks) = 45


Maka kemiringan saluran (Is) didapat:

Is

Vs 2
( Rs

Ks )

2.00 2
(0.49

45)

0.00511

Agar pembilasan dilakukan dengan baik maka kecepatan aliran harus dijaga
agar tetap subkritis dimana aliran subkritis mempunyai Fr < 1, maka:
Fr

V
gh

2.00
9.81 0.75

0.737 1.00 AMAN

Gambar 6.15 potongan melintang kantong lumpur dalam keadaan kosong

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-11

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

Gambar 6.16 potongan memanjang kantong lumpur


Dari hasil perhitungan di atas diperoleh dimensi kantong lumpur sebagai
berikut:
Lebar dasar kantong lumpur (B) = 4.00 m
Panjang saluran kantong lumpur (L) = 32.00 m
Kemiringan talud kantong lumpur (m) = 1 : 1
Kapasitas pintu pengambilan debit untuk PLTMH (Qn) = 5.00 m 3/dt
Kapasitas pintu pengambilan debit untuk pengurasan (Qs) = 6.00 m 3/dt
Kemiringan permukaan air di kantong lumpur pada Qn (In) = 0.000332
Kemiringan dasar kantong lumpur (Is) = 0.00511
Kecepatan aliran pada saat pengurasan (Vs) = 2.00 m/dt
Kecepatan pada saat normal yaitu (Vn) = 0.70 m/dt
Tinggi air saat kondisi penuh (hn) = 1.79 m
Tinggi sedimen saat pengurasan (hs) = 0.75 m

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-12

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

pintu pengambilan

kantong lumpur
dinding
pengarah rendah

pintu
pengambilan

saluran
primer

dinding
pengarah rendah

tampungan sedimen

pintu
pengambilan

Gambar 6.17 Denah dan Potongan Memanjang Kantong Lumpur


2. Pengecekan Efisiensi Kantong Lumpur
a.

Volume Kantong Lumpur


Karena tidak ada pengukuran sedimen, maka berdasarkan KP-02 dapat
diambil besarnya sedimen yang harus diendapkan 0.5 dari volume
air yang mengalir melalui kantong lumpur. Dianjurkan pula bahwa
sebagian besar (60-70%) dari pasir halus atau partikel dengan diameter
0.06-0.07 mm terendapkan.
o

Waktu pembilasan satu minggu sekali

T 7 24 3600 604800 detik


o

Volume kantong lumpur


V 0.0005 Qn T

0.0005 5.00 604800 1512.00 m3


b.

Perhitungan Diameter Partikel yang Dapat Dikuras oleh Kantong Lumpur


Besarnya gaya erosive pada saat pengurasan kantong lumpur:
g hc Ic

Dimana:

= Besarnya tractive force pada saat pengurasan (N/m2)

= Berat jenis air (kg)

= Gaya gravitasi (m/dt2)

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-13

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


hc

= Tinggi air di kantong lumpur pada kondisi pengaliran kritis

untuk pengurasan
bahan sedimen di kantong lumpur (m)
Ic

= Kemiringan dasar kantong lumpur

Sehingga:
g hc Ic

1000 9.81 0.75 0.00511 37.60 N/m2


Dari grafik Shields, dapat diketahui bahwa partikel yang masuk ke
kantong lumpur dengan diameter sama atau lebih kecil dari 20 mm
akan dapat terkuras.

1.0
0.8

100
80

0.6
0.5
0.4

60
50
40

0.3

30

BERGERAK

0.2

20

0.10
0.08

10
8

cr = 800d
d > 4.10

-3

6
5
4

0.03

0.02

TIDAK BERGERAK

U.cr

0.6
0.5
0.4

cr

0.006
0.005
0.004

1.0
0.8
N/m

0.01
0.008

cr dalam

u.cr =

U
g( )
C

dalam m/dt

0.06
0.05
0.04

0.003

0.3

0.002

0.2
Ps = 2.650 kg/m 3

0.001
0.01

Gambar 6.18

2
3 4 5 6 8 0.1
d dalam milimeter

3 4 5 6 8 1.0

3 4 5 6 8 10

4 5 6 8 100

0.1

Tegangan geser kritis dan kecepatan geser kritis sebagai

fungsi besarnya butir untuk s = 2.650 kg/m3 (pasir)


c. Efisiensi Pengurasan Kantong Lumpur
Perhitungan kecepatan aliran air di kantong lumpur pada saat kantong
lumpur kosong endapan. Kecepatan aliran di kantong lumpur dalam
keadaan tidak berisi bahan endapan (kosong endapan) adalah sebagai
berikut:
Dengan panjang kantong lumpur (L) = 32.00 m dan kedalaman air
rencana (hn) = 1.79 m serta kecepatan aliran (Vn) = 0.70 m/dt, maka
kecepatan mengendap rencana (Wo) sebagai berikut:
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-14

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


hn
L
hn Vn 1.79 0.70

Wo

0.039 m/dt
Wo Vn
L
32.00
Berdasarkan

diagram

hubungan

antara

diameter

ayak

dengan

kecepatan endap untuk air tenang, diameter yang sesuai adalah


sebesar d0 = 0.066 mm
Efisiensi pengendapan butiran dapat dihitung sebagai berikut:
W

= 0.004 m/dt

Wo

= 0.039 m/dt

Vo

= 0.70 m/dt

W
0.004

0.10
Wo 0.039
W
0.004

0.00057
Vo
0.7
Dari diagram Camp, diperoleh efisiensi sebesar 90%. Jadi butiran dengan
diameter 0.07 mm akan diendapkan 90% di kantong lumpur.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-15

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


a. pengaruh aliran turbulensi terhadap sedimentasi
aliran masuk

aliran keluar

daerah sedimentasi
b.efisiensi sedimentasi partikel-patikel individual untuk aliran turbulensi
1.0
0.9

W
Wo

2.0

0.8

1.5
1.2
1.1
1.0
0.9
0.8

0.7
0.6

0.7

0.5

0.6
0.5

0.4

0.4

efisiensi

0.3

0.3

0.2

0.2

0.1

0.1

0
0.001

6 8
0.01

0.1

6 8

1.0

W/vo

Gambar 5.19 Diagram Camp


d. Perhitungan Hidrolis pada Pintu Pengurasan kantong Lumpur
Karena pada pintu penguras kantong lumpur digunakan 2 (dua) buah
pintu dengan lebar 1.60 m dengan pilar setebal 0.60 m akan terjadi
penyempitan. Oleh karena itu luas penampang basah pada pintu
penguras kantong lumpur harus ditambah dengan cara menurunkan
dasar kantong lumpur tersebut sebagai berikut:
Luas penampang basah kantong lumpur pada saat pengurasan:
b hs n bf hf

Dengan:
b

= Lebar dasar kantong lumpur (m)

hs

= Tinggi air kritis di kantong lumpur (m)

hf

= Tinggi air di pintu penguras kantong lumpur (m)

= jumlah penguras kantong lumpur

sehingga:
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-16

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


b hs n bf hf

4.00 0.75 2 1.50 hf


3.00 3.00hf

hf

= 1.00 m

dengan demikian maka dasar kantong lumpur di tempat pintu pengurasan


diturunkan = 1.00 0.75 = 0.25 m
6.3.4 Saluran Hantar (Headrace)
Headrace merupakan bagian dari waterway yang berfungsi untuk
menghantarkan air dari Sand trap basin sampai bangunan headpond.
Headrace direncanakan sebagai saluran terbuka berpenampang segi
empat dengan aliran bebas. Alur headrace dipilih berdasarkan kondisi
topografi dan mempertahankan kebutuhan beda tinggi.

Gambar 6.20 Saluran pembawa (Headrace)


Konstruksi

saluran

direncanakan

dari

Beton

bertulang.

Untuk

meningkatkan stabilitas sisi kiri dan kanan headrace ditimbun kembali


sampai permukaan saluran dan perkuatan tebing dengan kontruksi
bronjong. Kecepatan aliran pada saluran penghantar direncanakan
sedemikian rupa untuk mencegah sedimentasi akibat kecepatan
rendah maupun penggerusan tanah akibat kecepatan tinggi. Kecepatan
aliran yang diijinkan dalam saluran ditetapkan dengan asumsi ukuran
butir material sedimen 0.2-0.3 mm. Kecepatan aliran yang diijinkan
dalam perencanaan ini adalah :

Kecepatan maksimum
: 3.0 m/dt untuk saluran beton
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-17

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


2.0 m/dt untuk saluran pasangan batu
tanpa plesteran

Kecepatan minimum

: 0.3 m/dt untuk saluran pasangan batu

plesteran
0.5 m/dt untuk saluran tanpa
pasangan/plesteran
Kondis perencanaan
a) Debit rencana maksimum
: 5.00 m3/dt
b) Debit rencana minimum : 0.92 m3/dt
Metode perhitungan
Air yang mengalir pada headrace merupakan aliran bebas, sehingga
rumus yang digunakan adalah:
Q
= A V
V

Dimana
Q
A
V
R
P
I
n
b

:
=
=
=
=
=
=
=
=

KR 3 S

debit aliran
luas penampang basah = B.h (m2)
kecepatan (m/dt)
jari jari hidrolis = A/P (m)
keliling basah = B + 2.h (m)
kemiringan dasar saluran
koefisien kekasaran Strickler ( = 70) untuk beton
lebar dasar saluran (m)

Perhitungan
Perhitungan dimensi saluran dijelaskan sebagai berikut:
Q
= A V
A
=bxh
A
= 2.20 x 1.54 = 3.393 m2
V
V
R
P
R
V

=K R

2/3

=
=
=
=
=
=
=

70 x R *0.00081/2
A/p (p= keliling basah)
3.393/p
b + 2h
2.20 + (2 x 1.54) = 5.285 m
A/P
3.393/5.285 = 0.642 m

KR 3 S

= 70 x 0.6422/3 *0.00081/2
= 1.474 m/det < 3.0 m/dt (Aman)
Q
= A V
5.0 m3/det = 3.393 m2 x 1.474 m/det
5.0 m3/det = 5.0 m3/det Oke.
Hasil perhitungan dengan menggunakan persamaan diatas, direncanakan
saluran headrace dengan data teknis sebagai berikut :
- Lebar dasar saluran
= 2.20 m
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-18

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


-

Tinggi muka air


Tinggi saluran
Kemiringan dasar saluran =
Elv MA Operasional
=
Elv. MA Min. Ops.
=
Elv. Dasar saluran
=
Elv. Tanggul saluran
0.20

0.20

2.20

1.50

0.25

1.84

1.50

= 1.54 m
= 1.84 m
0.0008
+ 185.62 m
+ 184.54 m
+ 184.09 m
= + 185.92 m

2.60

Gambar 6.21 Tipikal Penampang Headrace


6.3.5 Bak Penenang (Head Pond)
Head pond direncanakan dengan struktur beton bertulang yang
dimaksudkan

untuk

mengurangi

kecepatan

aliran

dari

headrace

sebelum masuk ke penstock. Head pond dilengkapi dengan trashrack


untuk menghalangi benda masuk ke dalam penstock, serta penguras
yang

dilengkapi

terkumpul.
Head pond

juga

dengan

pintu

dilengkapi

untuk

dengan

membuang
pelimpah

sedimen

untuk

yang

membuang

kelebihan air yang masuk ke head pond atau pada saat turbin ditutup.
Fungsi head pond adalah sebagai berikut:
a) Menyediakan sebuah resevoir dengan permukaan bebas yang dekat
dengan mekanisme pengaturan debit.
b) Menyuplai tambahan air yang dibutuhkan selama naiknya kebutuhan
beban hingga kecepatan aliran di headrace meningkat sampai kondisi
yang tetep (steady).
c) Menyimpan air selama terjadi pengurangan beban hingga aliran di
headrace menurun sampai kondisi yang tetap (steady).
d) Menjamin modulasi muka air akibat perubahan beban baik dengan
nilai yang besar maupun kecil.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-19

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

Gambar 6.22 Bak Penenang (Headpond)

Kriteria desain Bak Penenang (Head pond):


Volume bak 10 20 kali debit yang masuk untuk menjamin aliran
steady di pipa pesat dan mampu meredam tekanan balik pada saat

penutupan aliran pipa pesat.


Bak penenang direncanakan dengan menetapkan kecepatan vertikal

partikel sedimen 0.03 m/dt.


Pipa pesat ditempatkan

15 cm di atas bak penenang untuk

menghindarkan masuknya batu atau benda-benda yang tidak diijinkan

terbawa mesuk ke turbin karena berpotensi merusak runner turbin.


Pipa pesat ditempatkan pada jarak minimum 4 x D (diameter pipa
pesat) dari muka air untuk menjamin tidak terjadi turbulensi dan
pusaran yang memungkinkan masuknya udara bersama aliran air di

dalam pipa pesat.


Bak penenang dilengkapi trash rack untuk mencegah sampah dan
benda-benda yang tidak diinginkan memasuki pipa pesat bersama

aliran air.
Bak penenang

dilengkapi

pelimpas

yang

direncanakan

untuk

membuang kelebihan debit pada saat banjir. Bangunan bak penenang


dan saluran pembawa direncanakan terjaga ketinggian permukaan

pada saat banjir sampai maksimum 25% dari debit desain.


Dimensi bak penenang (Head Pond):
-Lebar dasar head pond sama dengan tiga kali lebar dasar saluran
-Panjang head pond sama dengan dua kali lebar dasar head pond

Perhitungan dimensi headpond


PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-20

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


-

Lebar dasar saluran headpond


B = 3 x Bsaluran
= 3 x 2.20 = 6.60 m diambil B = 7.00 m
- Panjang saluran headpond
L = 2 x Bhead pond
= 2 x 7 = 14 m diambil L = 30 m
- Jarak minimum penempatan pipa pesat dari muka air pada head pond
H=4xD
= 4 x 1.7 = 6.8 m diambil H = 7.00 m

Perencanaan Pelimpah Headpond


Pelimpah berfungsi untuk membuang kelebihan air pada bangunan
headpond. Debit yang melalui pelimpah dapat dihitung dengan rumus
(Soedibyo, 2003):

Q CL H

Dimana:
Q

= debit yang lewat pelimpah (m3/dt),

= koefisien limpahan,

= lebar efektif ambang pelimpah (m),

= tinggi air diatas ambang pelimpah (m).

Perhitungan
Data perencanaan:
Debit rencana = 5.00 m3/dt
Tinggi jagaan

= 0.40 m

Koefisien debit = 2.00

Q CL H

5.00 2.0 L 0.40

L 9.88m Diambil L = 23.00 m


Direncanakan saluran headpond dengan data teknis sebagai berikut :
- Lebar dasar saluran
= 7.00 m
- Tinggi saluran
= 7.00 m
- Panjang saluran
= 30.00 m
- Lebar pelimpah
= 23.00 m
- Elevasi MA operasional
= + 185.54 m
- Elv. MA Minimum Ops
= + 184.46 m
- Elevasi dasar headpond
= + 179.49 m
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-21

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


- Elevasi penstock bagian bawah = + 181.49 m
- Elevasi penstock bagian atas
= + 179.79 m

P in tu U li r B = 1.00 m

12.91

15.00

0.80

0.50

Tra srac k Ve rtikal

0. 30

+17 0.680

0.80

1. 90

12.91

15.00

P in tu U li r B = 0.60 m

Pintu
5.64Ulir B = 1.00 m
Trasrack Vertikal

0.50

P in tu P en ga mb il an 1 .6 0 x 1.60

5.79

Pintu Ulir B = 0.60 m


0.60

Pintu Pengambilan 1.60 x 1.60

5.79

5.64
+16 8.470

1.90

10.00

0.30

+170.680

6.63

22.57

P ip a Pe ns to ck d ia. 2.30

+168.470

+16 3.380

2.30

0.40

6.63

Pipa Penstock dia. 2.30

22.57
+163.380

2.30

0.40

10.00

0.40

0.40

Gambar 6.23 Tipikal Penampang Head pond


6.3.6 Trash Rack
Kriteria desain trash rack dijelaskan sebagai berikut:
1. Trash rack tidak boleh terbuat dari bambu atau kayu. Trash rack
dibuat dengan menggunakan besi pejal dengan diameter 4 mm atau
beli plat dengan ketebalan minimum 3 mm.
2. Trash rack dipasang di intake dan saluran pembawa awal dengan
bukaan yang relative lebar tergantung pada karakter ukuran sampah
dengan bukaan minimal 5 cm dan maksimal 10 cm.
3. Inlet penstock harus menggunakan trash rack yang lebih sempit
bukaannya. Bukaan atau jarak antar besi disesuaikan dengan ukuran
nozzle turbin.
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-22

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


4. Trash rack harus mampu menahan tekanan air karena adanya
penyumbatan pada kondisi penuh.
5. Kemiringan trash rack paling tidak adalah 70 derajat dari dataran
sehingga memudahkan untuk pembersihan.
6. Trash rack harus bisa dilepas dari struktur sipil untuk akses
perbaikan dan pembersihan.
Pada PLTMH Batu Bedil digunakan trashrack dari besi dengan tebal 4 mm
dengan sudut kemiringan trash rack 75o.

Gambar 6.24 Trash rack


6.3.7 Pipa Pesat (Penstock)
Pipa pesat (penstock) adalah saluran tertutup (pipa) yang mengalirkan
air dari bak penenang (head pond) menuju turbin yang ditempatkan di
rumah pembangkit (power house). Perencanaan pipa pesat mencakup
pmilihan material, diameter, tebal dan jenis sambungan. Pemilihan
metrial berdasarkan pertimbangan kondisi operasi, aksessibility, berat,
system penyambungan dan biaya. Diameter pipa pesat dipilih dengan
pertimbangan keamanan, kemudahan proses pembuatan, ketersediaan
material dan tingkat rugi-rugi (friction losses) seminimal mungkin.
Ketebalan penstock dipilih untuk menahan tekanan hidrolik dan surge
pressure yang dapat terjadi.
Penstock terbuat dari baja bermutu tinggi membawakan aliran air dari
head

pond

ke

turbin

dalam

kondisi

tekan

untuk

keperluan

pembangkitan. Pemilihan diameter penstock ditentukan berdasarkan


kebutuhan diameter ekonomis dan batasan aliran maksimum. Penstock
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-23

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


dilengkapi dengan thrust block beton pada kedua ujungnya, yaitu pada
head pond dan sebelum masuk ke powerhouse dan pada lintasan yang
berbelok. Penstock dilengkapi dengan airvent, untuk mengurangi vortex
pada head pond dan menghindari kemasukan udara pada penstock.
Penstock dilindungi Beton Bertulang untuk mengurangi muat susut
penstock karena perubahan temperatur. Antara turbin dan penstock
dipasang butterfly valve, agar aliran air ke arah turbin dapat ditutup
rapat apabila diperlukan perawatan turbin.
Perencanaan Penstock
1. Dimensi Pipa Pesat
Kondisi Perencanaan:
-

Debit rancangan Q
= 5.00 m3/dt (2 unit turbin)
Panjang penstock (L) = 144.00 m
Tinggi terjun bruto
(Hgross) = 16.81 m
Tinggi terjun desain (Hnett)
= 14.31 m

Diameter ekonomis pipa pesat ditentukan sebagaimana persamaan


berikut, (Gordon dan Penman) :
Dp

= 0.72 x Qp0.5

Dimana:
Dp

= diameter pipa pesat (m)

Qp

= Debit maksimum untuk satu pipa pesat (m3/det)

Perhitungan
Diameter pipa utama:
Dp pokok

= 0.72 x 5.000.5 = 1.61 m diambil 1.70 m

Diameter pipa percabangan:


Dp pokok

= 0.72 x 2.500.5 = 1.14 m diambil 1.30 m

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-24

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

Gambar 6.25 Pipa Pesat (Penstock)


Tebal plat pipa pesat:
tp

PD

+
=

dimana:
tp

= tebal plat (mm)

= tinggi terjun desain (m)

= tekanan air dalam pipa pesat (kg/cm 2)


= 0.1 x Hdyn

Hdyn

= 1.2 x H (m)

= tegangan ijin plat = 1300 (kg/cm 2)

= efisiensi sambungan las (0.9 untuk pengelasan dengan inspeksi


x-ray dan 0.8
untuk pengelasan biasa)

= korosi plat yang diijinkan (1-3 mm)

Perhitungan:
Hdyn
= 1.2 x Hn = 1.2 x 14.31 = 17.172 m
P

= 0.1 x Hdyn = 0.1 x 17.172 = 1.7172 kg/cm2 = 171.72 kg/mm2

= 1.70 m = 1700 mm

= 1300 kg/cm2 = 130000 kg/mm2

= 2.00 mm

PD
171.72 1700
+ =
+ 2 = 4.8 mm = 6.00 mm
=

130000 0.8

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-25

tp

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


Menurut Technical Standart for Gates and Penstock tebal plat minimum
tidak boleh kurang dari 6 mm, dengan diameter yang besar plat pipa
penstock yang ada di pasar adalah dengan ketebalan minimum 10 mm
sehingga dalam perencanaan PLTMH Batu Bedil ini digunakan tebal plat
penstock adalah 10 mm.

2.30
3.20

2.30

0.60

0.30

2.90

2.30

2.30
0.30

2.30

2.30

0.30

Gambar 6.26 Sketsa Perencanaan Penstock

2. Stabilitas Pipa Pesat


1. Kontrol Tekanan maksimum akibat water hammer
Tekanan balik akibat tertahannya aliran air oleh penutupan katup akan
berinteraksi dengan tekanan air yang menuju inlet valve sehingga
terjadi tekanan tinggi yang dapat merusak penstock.
Konstanta Allievi:
P

2g H

<1

=
1 D 2

(Mosonyi, 1991)

Dimana:

= kecepatan rambat gelombang tekanan (m/dtk)

= tekanan hidrostatik (m)

= kecepatan rata-rata dalam air (m/dtk)

Rumus pendekatan:
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-26

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

1000

D
50 k tp

dengan harga

(Mosonyi, 1991)

k = 0.5 untuk baja


k = 1 untuk besi tuang

Perhitungan:

5.00
Q

=
= 2.20 m/dtk
A
1 1.70 2

1000

< 1
=
2g H

1.70
50 0.5 0.008

= 72.23 m/dtk

72.23 2.22

2 g 14.31

= 0.571 < 1

Karena P < 1, maka tekanan akibat water hammer tidak banyak


mempengaruhi

stabilitas

pipa

pesat

tersebut,

sehingga

tidak

diperlukan surge stank.


Atau cara lain control terhadap water hammer
Perlambatan atau percepatan aliran di pipa pesat akibat penutupan dan
pembukaan mendadak katub inlet turbin menimbulkan gelombang tekanan
di pipa pesat. Besarnya gelombang tekanan berbanding lurus dengan
kecepatan rambatan dari hasil gelombang tekanan dan kecepatan aliran.

To =

2xL
a

dimana,
- To = periode ulang pipa pesat/fluida yang bergerak dari turbin ke
kolam
penenang dan sebaliknya, detik
- L = panjang pipa pesat = 42 m
- a = kecepatan gelombang, m/det
Menghitung a,
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-27

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


1420

a =

1000 kD
1+

Et
Ref : buku Micro Hidro Power Source book A Practical Guide to Design and
Implementation in Developing Countries.
dimana,
= 2,1 x 104

= modulus bulk

= Diameter pipa pesat = 1700

E
t

= modulus of elasticity of pipe = 2,1 x 106


= tebal pipa pesat = 10 mm

kgf/c
mm

1420

a =

1+

1000 x 2,1 x 104 x 1.7


2,1 x 106 x 10
= 864,3 m/det

Ketika penutupan valve tiba-tiba (suddenly stop) maka dihitung menggunakan


Persamaan :
Ps = a *
dimana,
Ps
a

= panjang gelombang tekanan maksimum (m)


= kecepatan gelombang (m/det)

v
(m/det)
g
maka,

= perubahan kecepatan aliran didalam pipa berdiameter 1.7 m


= percepatan gravitasi (m/det2)
Ps = 864,3 x 2.21
9.81
= 193.82 m

Ketebalan pipa hasil perhitungan empiris tersebut diatas terhadap tegangan


yang terjadi/gaya-gaya yang bekerja pada pipa pesat yaitu gaya static, gaya
dinamik (water hammer) sebesar 193.82 meter.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-28

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

H Water hammer =
193.82 m

Muka air
Penstock

H static = 16.81 m

Gambar 6.27 Pipa Pesat


Rumus :
W
P=
nxtxL
dimana :
W = Ws + W
dimana,
P
W
Ws
Wh
n
dan kanan)
t
L

= tegangan yang bekerja di pipa pesat (kg/cm 2)


= gaya yang bekerja terhadap pipa pesat (ton)
= gaya static head = H static x BJ air = 16.81 ton
= water hammer = H water hammer x BJ air = 193.82 ton
= jumlah dinding pipa pesat yang menahan (kiri
=2
= tebal pipa pesat (1 cm)
= panjang pipa pesat yang menahan (100 cm)
W = 16.81 ton + 193.82 ton
= 210.64 ton
210.64
P=
2 x 1 x 100
= 1.0532 ton/cm2
P = 1053.2 kg/cm2

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-29

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

Kekuatan yang bekerja pada pipa pesat adalah 961 kg/cm 2 dengan tebal pipa
pesat 10 mm, baja tebal 10 mm sebesar 1600 kg/cm 2.
Jadi tegangan yang bekerja pada pipa pesat lebih kecil dari kekuatan sigma
baja yang diijinkan (aman) sehingga tidak diperlukan surge tank
Pipa pesat dari baja ada 2 kriteria:
1. Pipa kecil apabila : P x D < 10000 kg/cm
Maka pipa tidak perlu pakai sabuk/beugel
2. Apabila : P x D > 10000 kg/cm
Maka pipa memerlukan beugel perkuatan
P

= tekanan air

Hdyn
10

kg/cm2

Dimana:
D

= diameter pipa

Hdyn = tinggi terjun dinamis


Perhitungan
= 1.68 kg/cm2

P x D = 1.68 kg/cm2 x 170 cm = 285.6 kg/cm < 10000 kg/cm


Karena P*D

< 10000 kg/cm2 , maka digunakan pipa jenis pertama

yaitu pipa kecil tanpa sabuk atau beugel.


2. Tekanan lingkar akibat tekanan hidrostatik

PR

tp

(kg/cm2)

Dimana:
P

= Tekanan air dalam pipa pesat (kg/cm 2)


= 0.1 x Hdyn = 0.1 x (1.2H)

= Tinggi terjun desain (m) = 95 % x Gross head

= Luas basah = 0.5 (D + )

= diameter dalam pipa (m)

Tp = tebal plat (mm)


PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-30

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

= korosi plat yang diijinkan (1-3 mm)

= efisiensi sambungan las = 0.85

Perhitungan:
R

= 0.5 (1.70 + 0.002) = 0.85 m = 85.10 cm

1.53 85.10
2
2
1.0 0.2 0.80 = 405.61 kg/m < 1300 kg/m .. OK

6.3.8 Tailrace
Tailrace adalah saluran terbuka untuk melewatkan air yang keluar dari
draft tube menuju ke sungai. Tailrace direncanakan berupa saluran
terbuka dengan bentuk segi empat. Perencanaan tailrace dengan
memperhatikan kondisi topografi, geologi dan Sungai Sesaot.
Saluran pembuangan ini berfungsi untuk mengalirkan debit air yang
keluar dari turbin untuk kemudian di buang ke sungai. Mengingat
kemungkinan adanya perubahan yang mendadak dari debit turbin air.
Air yang mengalir pada tailrace merupakan aliran bebas, sehingga
rumus yang digunakan adalah:
Q
= A V
V

KR 3 S

Dimana :
Q
= debit aliran
A
= luas penampang basah = B.h (m2)
V
= kecepatan (m/dt)
R
= jari jari hidrolis = A/P (m)
P
= keliling basah = B + 2.h (m)
I
= kemiringan dasar saluran
n
= koefisien kekasaran Strickler ( = 70) untuk beton
b
= lebar dasar saluran (m)
Perhitungan
Perhitungan dimensi saluran dijelaskan sebagai berikut:
Q
= A V
A
=bxh
= 10.00 x 0.42
= 4.231 m2
P
= b + 2h
= 10.00 + (2 x 0.42)
= 10.846 m
R
= A/P
= 4.231/10.846
= 0.390 m
2

V
V

KR 3 S

=
= 70 x 0.3902/3 *0.0011/2

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-31

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

Q
5.00
5.00

=
=
=
=

1.182 m/det < 3.0 m/dt (Aman)


A V
4.231 m2 x 1.182 m/det
5.00 m3/det

Direncanakan saluran tailrace dengan data teknis sebagai berikut :


- Lebar dasar saluran
= 10.00 m
- Tinggi muka air
= 0.50 m
- Tinggi saluran
= 2.00 m
- Kemiringan dasar saluran = 0.001
- Elevasi poros turbin
= + 170.29 m
- Elevasi MA tailrace max. = + 167.79 m
- Elevasi MA min.
= + 167.19 m
- Elevasi dasar tailrace
= + 166.19 m
- Elevasi bak tailrace
= + 166.00 m

Gambar 6.27 Saluran Pembuang (tailrace)


6.4 PERENCANAAN TURBIN DAN GENERATOR
6.4.1 Perencanaan Turbin
Turbin air berperan untuk mengubah energi air (energy potensial,
tekanan dan energi kinetik) menjadi energi mekanik dalam bentuk
putaran poros. Putaran poros turbin ini akan diubah oleh generator
menjadi tenaga listrik. Berdasarkan prinsip kerjanya, turbin air
dibagi menjadi dua kelompok:
1. Turbin impuls (cross-flow, pelton & turgo)
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-32

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


Untuk jenis ini tekanan pada setiap sisi sudut gerak runnernya
pada bagian turbin yang berputar sama. Pada turbin impuls air
disemprotkan ke mangkok-mangkok turbin.
2. Turbin reaksi
Untuk jenis ini, digunakan untuk berbagai keperluan dengan
tinggi terjun menengah. Pada turbin reaksi baling-baling dari
turbin berputar bersama-sama dengan air lalu turun ke bawah
melalui pipa isap menuju ke saluran pembuang.

Tahapan perencanaan turbin dijelaskan sebagai berikut:


1. Tinggi Terjun (Head)
Dari data perencanaan dapat ditentukan tinggi jatuh bruto (H g) sebagai
berikut:
Elv. MA Headpond
Elv. MA Tailrace

= 185.54 m
= 168.73 m

Tinggi jatuh gross (Hg)


Q (debit)

= 16.81 m

= 5.00 m3/detik

Dari data hidrologi dan tinggi jatuh dapat dibaca dari grafik menentukan
jenis turbin yang dipakai. Dari grafik tersebut didapat turbin tipr Francis
dan Kaplan.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-33

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

2. Kehilangan Tinggi Terjun (Head Loss)


Perhitungan kehilangan energi pada intake kemudian saluran hingga
saluran pembuangan merupakan salah satu tahapan yang diperlukan
dalam penentuan tinggi jatuh bersih (H netto) maupun daya yang dapat
dibangkitkan. Terdapat dua macam kehilangan energi pada saluran
tertutup (penstock), yaitu major losses

dan minor losses. Mayor losses

adalah kehilangan energy yang timbul akibat gesekan dengan dinding pipa.
Sedangkan minor losses diakibatkan oleh tumbukan dan turbulensi, misal
terjadi saat melewati kisi-kisi (trashrack), perubahan penampang, belokan
dan lain-lain.

Kehilangan energy akibat mayor losess


a. Gesekan dinding penstock
he

= f

L V2

D 2g

dimana:
f

= koefisien gesekan dinding pipa = 0.015

= diameter pipa (m) = 1.70 m

= kecepatan aliran dalam pipa (m/dt) =

2.204 m/dt
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-34

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


L

= panjang pipa (m) = 144 m

= percepatan gravitasi (m/dt2) = 9.81m/dt2

Perhitungan

Q
5.00
Q
=
=
= 2.204 m/dt
2
A
0.25 D
0.25 1.70 2

he

= f

2
L V2

= 0.015 144 2.204 = 0.315 m


D 2g
1.70 2 9.81

Kehilangan energi akibat minor losess


a. Kisi-kisi (Trashrack)
= K

he

Vo 2
sin
2g

dimana:
K

= koefisien penampang kisi, (bentuk segiempat nilai K =

2.42)
t

= tebal kisi = 0.8 (cm)

= celah antar 2 elemen (cm)

= diameter pipa (m)

= kecepatan air dalam pipa (m/dt)

= percepatan gravitasi (m/dt2)

= Sudut kemiringan trash rack

Perhitungan
V=

Q
5.00
Q
=
=
= 2.204 m/dt
2
A
0.25 D
0.25 1.70 2

he =

Vo 2
0.8
sin = 2.42

2g
5.2

0.121 m
b.

Inlet penstock
he

= k

V2
2g

dimana:

k = 0.5 untuk bentuk persegi


k = 0.05 untuk bentuk lingkaran

Perhitungan
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-35

2.204 2
sin 45.00
2 9.81

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

Q
5.00
Q
=
=
= 2.2 m/dt
2
A
0.25 D
0.25 1.70 2

he

= k

V2
2.2 2
= 0.05
= 0.0123 m
2g
2 9.81

c. Belokan
he

= Kb

V2
2g

dimana:
Kb

= koefisien kehilangan tenaga karena

belokan
V

= kecepatan aliran dalam pipa (m/dt)

= percepatan gravitasi (m/dt2)

Tabel 6.3 Koefisien Kb sebagai fungsi sudut belokan

Kb

20
0.05

40
0.14

60
0.36

80
0.74

90
0.98

Perhitungan
Besaran sudut belokan, koefisien kehilangan akibat belokan serta
besarnya

kehilangan

akibat

belokan

untuk

belokan sebagai berikut :


Tabel 6.4 Kehilangan energi akibat belokan

Kb
he

4.59
0.05
0.012
4

5.52
0.05
0.0124

Total kehilangan energi akibat belokan:


He

= 0.0248 m

d. Oulet penstock
he

= k

V2
2.204 2
= 0.05
= 0.0124 m
2g
2 9.81

e. Losses lainnya
1% dari Gross Head = 0.1681 m
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-36

masing-masing

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


Total kehilangan energi
He = 0.315 + 0.121 + 0.0123 + 0.0248 + 0.0124 + 0.1681
= 2.4823 m
3. Tinggi Terjun Bersih (Net Head)
Tinggi terjun bersih adalah tinggi terjun yang dapat digunakan untuk
menggerakkan turbin, yaitu pada elevasi tinggi terjun pada MA headpond
dikurangi dengan elevasi muka air

tailrace dikurangi total kehilangan

tinggi terjun.
Perhitungan
1. Elevasi muka air Headpond
2. Elevasi muka air Tailrace

= 185.54 m
= 168.60 m

3. Tinggi terjun bruto (Hg)

= 185.54 168.60 = 16.81 m

4. Kehilangan tinggi (Head Losess)


b. Mayor Losess
Gesekan dinding pipa

= 0.315 m

c. Minor Losess
Kisi-Kisi (Trashrack)

= 0.121 m

Inlet Penstock

= 0.911 m

Belokan

= 0.0248 m

Outlet Penstock

= 0.0124 m

Losses lainnya

= 0.1681 m

Total Head Losess (He)


5. Tinggi terjun bersih (Hnett)

= 2.4823 m
= Hg - He
= 16.81 2.4823 = 14.31 m

Hg = 16.81 m
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-37

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

Hnet = 14.31 m

Gambar 6.29 Penentuan Tinggi Jatuh Bersih (Net Head)


4. Tahapan Perencanaan Turbin
Tahapan dalam perencanaan turbin dijelaskan sebagai berikut:
1. Daya turbin
Daya yang dihasilkan turbin dapat dihitung dengan persamaan:
Pt

= Hn Q g

Data:
Hn

= 14.31 m

= 5.00 m3/dt

= 0.85

Perhitungan
Pt

= Hn Q g
=

14.31 5.00 9.81 0.85

= 596.01 kWatt

2. Putaran spesifik turbin


Kecepatan

spesifik

(Ns)

adalah

kecepatan

putar

turbin

yang

menghasilkan daya sebesar satuan daya pada tinggi terjun (H netto) satu
satuan panjang.
Persamaan Kpordze & Wamick, 1983:
Ns

2283
Hnetto 0.486

Ns

2283
Hnetto 0.486

; untuk turbin Kaplan (Schweiger and Gregory)


=

2283
14.310.486

= 626.419 rpm

3. Putaran turbin

Hn 5 4

= Ns
1

2
P

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-38

14.315 4

626.419
1
596.01 2

= 714.147 rpm

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

4. Estimasi putaran lari (Runway speed)


Yaitu perhitungan kemampuan putaran turbin.
Nr/N

= 0.63 (Ns)0.2

Nr

= 0.63 x 626.4190.2 x 714.147 = 1631.1775 rpm

5. Dimensi Runner Turbin


Untuk penghitungan Dimensi Runner Turbine Kaplan adalah dengan
rumus
= 84,6 K u

H
Ns

Dimana : Ku adalah Ratio Putaran Turbine


Rumus Penghitungan Ku untuk Turbine Kaplan adalah
Ku =

0.0252 Ns

0.0252 626.419

Diameter Runner = 84,6 1,972

= 0.0252 x 78.249 = 1.972

14,31 = 1,0075 m
626,419

6. Pengaturan/Regulation
Peningkatan kecepatan setelah beban penuh.
a. Perhitungan parameter pipa pesat

Waktu Refleksi (Tr)


i

Tr

= 2

Li
ai
1

ai

1
Di

ew ep t

(detik)

Dimana:

= massa jenis air = 1000 kg/m3

= tebal pipa = 10.00 mm

Di

= diameter pipa = 1.70 m

Ep

= Young Modulus baja = 2.1 x 1011 N/m3

Ew

= Young Modulus air = 2.0 x 109 N/m3

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-39

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


Perhitungan

ai =

1
Di

ew
ep
t

1
1.70

1000

9
11
2 10 0.01
2 10

= 734.37

detik
i

= 2

Tr

Li
112
= 2
= 0.31 detik
ai
734.37

Waktu percepatan start air (Tw)


Tw

i
Qr
Li

g Hn
Am

Dimana:
Qr

= Debit (m3/dt)

Hr

= Tinggi terjun (m)

Am

= Luas Penampang Pipa


= 0.25 x x d2 = 0.25 x 3.14 x 1.702 = 2.27 m2

Perhitungan
Tw

i
Qr
Li
5.00
112 .00

=
= 1.76 detik
g Hn
Am
9.81 14.31
2.27

b. Peningkatan tekanan dinamik maksimum


hw

Tw
1.76
=
= 5.70 > 1.00
0.31
Tr

c. Waktu penutupan minimal (Tf)

Tw Tr

H
2 ; syarat Tf > 3Tr
Hr

Tf

= Kc

Kc

= faktor koreksi turbin = 3.7

Tf

Tw Tr
1.76 0.31

3
.
7

Kc

=
16.8
2
H
2 =
14.31

Hr

= 7.1 detik > 3 x 0.31 = 0.93

5. Pemilihan Tipe Turbin

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-40

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


Pada tahap awal, pemilihan jenis turbin dapat diperhitungkan dengan
mempertimbangkan parameter-parameter khusus yang mempengaruhi
system operasi turbin yaitu:
1. Tinggi jatuh efektif (net head) dan debit yang akan dimanfaatkan untuk
operasi turbin.
2. Daya (power) yang diinginkan berkaitan dengan head dan debit yang
tersedia.
3. Kecepatan putaran turbin yang ditransmisikan ke generator.
Ketiga faktor di atas dinyatakan sebagai kecepatan spesifik turbin (Ns).
Dari kecepatan spesifik dapat diketahui jenis turbin yang akan digunakan.
Data-Data:
Hbruto = 16.81 m
Hnetto = 14.31 m
Q

= 5.00 m3/dt

Pt

= 596.01 kWatt

Ns

= 626.419 rpm
Tabel 6.5 Hubungan Turbin untuk Berbagai Variasi Head
Jenis Turbin
Pelton

Variasi Head (m)


50 < H > 1300

Turgo

50 < H > 250

Cross Flow
Francis
Propeller and Kaplan

3 < H > 250


10 < H > 350
2 < H > 40

Tabel 5.6 Kecepatan Spesifik untuk Bermacam-macam Tipe Turbin


Jenis Turbin
Pelton

Ns (Specific speed) (rpm)


12 30

Turgo

20 70

Cross Flow

20 80

Francis

80 400

Propeller and Kaplan

340 1000

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-41

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


Dengan nilai Ns = 626.419 rpm dan Nilai Net Head = 14.31 m, maka
berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa tipe turbin yang ideal
untuk digunakan pada PLTMH Batu Bedil adalah Turbin jenis Propeller atau
Kaplan.

Gambar 6.30 Contoh Turbine Tipe Kaplan


Bagian-bagian utama turbin:
1. Wicked Gate, yang menerima air dari pipa pesat dan mengarahkan
aliran air ke turbin.
2. Blades, adalah Bagian dari turbine yang berputar (Runner)
3. Pipa

pelepas

air,

yang

meneruskan

air

dari

turbin

ke

pembuangan.

6.4.2 Perencanaan Generator


Pemilihan generator tergantung pada putaran generator:
1. Generator dengan kecepatan putar rendah
Biasanya berukuran besar, berat dengan efisiensi rendah.
2. Generator dengan kecepatan putar tinggi
Berukuran lebih kecil, lebih ringan dengan efisiensi lebih kecil.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-42

saluran

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


Secara umum ada dua jenis generator yaitu generator sinkron dan
generator induksi. Pada PLTMH Batu Bedil digunakan jenis generator
sinkron. Generator ini bekerja pada kecepatan yang berubah-ubah. Untuk
menjaga kecepatan generator tetap digunakan speed governor elektronik.
Efisiensi generator sinkron umumnya meningkat sebanding dengan
kapasitasnya, dari 65% untuk daya 1 kVA sampai 90% untuk daya 20 kVA.
Berdasarkan karakteristik turbin yang digunakan, maka dalam pemilihan
generator perlu mempertimbangkan penyesuaian kecepatan turbin dengan
kecepatan generator.

Jumlah katub magnetik pada generator dihitung

dengan rumus:
P

120 f
N

Dimana:
P

= Jumlah kutub magnetik generator

= Frekuensi generator

= Kecepatan putar generator

Kecepatan putar generator dianggap sama dengan kecepatan putar turbin


= 714.147 rpm
Frekuensi generator yang tersedia dipasaran adalah 50-60 Hz, maka
diambil 50 Hz. Sehingga:
P

120 f
120 50
=
= 8.40 = 8 buah
714.15
N

Jenis yang dipilih adalah generator sinkron dengan daya 20 kVA, kecepatan
putar generator 714.147 rpm dengan faktor daya 0.8. Tegangan yang
dihasilkan adalah 400 Volt.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-43

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

Gambar 6.31 Contoh Spesifikasi Generator

Gambar 6.32 Contoh Generator Controler


6.4.3 Daya yang Dihasilkan PLTMH
Daya yang dapat dipakai diperhitungkan terhadap overall efisiensi. Tenaga
listrik yang dapat dibangkitkan dihitung dengan rumus,
P = x g x Q x Hn
Dimana :
P : Besaran tenaga yang dibangkitkan (Watt)

: Efisiensi dari turbin, generator dan transformator masingmasing 0.85 ; 0.915 dan 0.99

g : Percepatan gravitasi ( 9.81 m/det2)


Q : Debit rencana ( 5.00 m3/det)
Hn

: Tinggi jatuh neto (efektiv) = 14.31 m

Tenaga listrik yang dapat dibangkitkan adalah :


PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-44

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


P = x g x Q x He
= 0.85 x 0.915 x 0.99 x 9.81 x 5.00 x 14.31
= 540.45 kWatt
Kapasitas Terpasang Pembangkit 2 x 275 kW (550 kW)
6.5 GEDUNG PEMBANGKIT (POWER HOUSE)

Secara umum gedung pembangkit (Power House) merupakan bangunan


yang digunakan sebagai wadah peralatan dari Turbin dan utilitinya.
Gedung pembangkit terdiri dari 2 zona Bassement (Sub Structure/
dibawah permukaan tanah) dan Zona Bangunan di atas permukaan tanah
(Upper Structure).
Gedung pembangkit didisain dengan dimensi lebar 12.5 m, panjang 20
m, dan tinggi 7,5 m (di atas) dan 2 m dibawah tanah. Sedangkan bahan
yang digunakan sebagai sktuktur adalah Beton

K 250, untuk atap

digunakan asbes bergelombang dengan kuda-kuda dari rangka baja dan


pondasi setempat. Power house dilengkapi dengan sistem ventilasi,
sistem penyediaan air bersih, sistem pemadam kebakaran, dan sistem
drainase.
6.6 PEKERJAAN HIDROMEKANIKAL
Peralatan hidromekanikal PLTMH Batu Bedil terdiri dari pintu ulir,
trashrack dan penstock, seperti dalam Tabel berikut:
Tabel 6.8 Daftar Peralatan Hidromikanikal PLTMH Batu Bedil
No

Macam Alat

Pintu Pembilas

Trashrack

Pintu

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-45

Lokasi

Bendung
Kantong
lumpur
Headpond
Intake
Headpond
Headpond

Jumlah

Pengger
ak

Manual

Manual

Keterangan
Pintu Ulir lebar 1.50
m
Pintu Ulir lebar 1.40
m
Pintu Ulir lebar 1.00
m

Pintu Ulir lebar 1.50


m
Pintu Ulir lebar 1.40
m

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

Pipa pesat

Expansion
Joint

Pintu Ulir lebar 1.00


m
Diameter 1.70 m
panjang 112.00 m

1 line 1
bifarcation
7

Penstock

6.7 PERALATAN PEMBANGKIT


Peralatan utama pembangkit pada PLTMH Batu Bedil terdiri dari turbin,
generator, trafo, switchgear, sitem kontrol dan proteksi, dan peralatan
batu lainnya yang dilengkapi dengan peralatan operasional dan
peralatan pendukung.
Peralatan pendukung terdiri dari overgead travelling crane, diesel
engine generating set dan alat pemadam kebakaran juga akan dipasang
di gedung PLTMH.
6.7.1 Turbin
Tipe turbinyang digunakan pada PLTMH Batu Bedil adalah Tipe
Turbin Kaplan, dengan daya terpasang

2 x 275 (550) kW dengan

data teknis sebagai berikut:


Tipe turbin

: Kaplan

Jumlah

: 2 unit

Debit rencana (Q) : 5.00 m3/det


Head Netto (Hn)

: 14.31 m

Rate Power (P)

: 596.01 kWatt

Efisiensi

: 85%

Spesifik runway (Ns)

: 626.42 rpm

Rated speed (N)

: 714.15 rpm

Runaway speed (Nr)

: 1.631.18 rpm

6.7.2 Generator
Generator direncanakan menggunakan generator horizontal tipe
three-phase synchronous. Data teknis generator PLTMH Batu Bedil
adalah sebagai berikut:
Rated power

: 540.45 kWatt

Rated voltage

: 400 V

Rated Current

: 900 A

Rated speed
Runaway speed
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-46

: 714.15 rpm
: 1.631.18 rpm

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


Frequency

: 50 Hz

Power factor

: 0.8

Generator disusun oleh stator, rotor, bearing, ring header dan


carbon brush.
Kapasitar terpasang : 2 x 275 (550) kW

6.7.3 Governor
Governor direncanakan menggunakan electronic hidroulik yang
terintegrasi dengan PLC. Governor dapat mengoperasikan turbin
selama start up (speed control), parallel operation (frecquency
control,power control dan water level control), isolated operation
(frequency control). Kontrol over speed dengan pickup yang
langsung menggerakan solenoid untuk menutup secara emergency.
Data teknik governor adalah sebagai berikut:
Capacity

: 600 Kg.M

Range of adjustment opening time

:2

30 second

Normal closing / opening time

:2

30 second

Operating oil pressure

: 25 Mpa

Power supply

: AC 220V; DC 220V

Pemanen speed drop

:0

10

6.7.4 Travo
Dua buah travo dipasang pada PLTMH Batu Bedil, data teknik
sebagai berikut:
Rated power
Rated voltage

: 600 kVA dan 50 kVA


: 400 V/ 20 KV dan 20 kV/ 400 kV

6.7.5 Switchgear
Switchgear 20 kV yang akan dipasang terdiri dari:
a. Outgoing PLN to Transmission Line (First Pole)
b. Incoming transformer No. 1 (400 V/ 20 kV; 800 kVa)
c. Outgoing PLN transformer No. 2 (600 / 400V; 100 kVA)
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-47

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


6.8 JARINGAN DISTRIBUSI TEGANGAN MENENGAH 20 KV
Jaringan distribusi tegangan menengah 20 kV untuk menyalurkan daya
listrik dari powerhouse ke jaringan PLN terdekat dengan menggunakan
overhead kabel sepanjang .
Jaringan distribusi meliputi:
a. Pemasangan travo untuk masing-masing powerhouse
b. Pemasangan tiang dan kabel jaringan menengah 20 kV untuk Power
House
c. Grounding disekeliling masing-masing power house power house
d. Low voltage lighting arrester termasuk bracketing, grounding dan
clamping accessories.
e. Switchgear incoming, outgoing dan metering 20 kV
f. Metering.
g. Panjang jaringan distribusi adalah 650 m

6.33 Jaringan Distribusi Tegangan

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-48

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

Gambar Distribusi Jaringan Udara Tegangan Menengah dari lokasi PLTM


Batu Bedil ke Jaringan eksisting PLTM Sesaot yang berjarak 650 meter.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-49

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani

Gambar Distribusi Jaringan Udara Tegangan Menengah 20 kV


6.9 SINGLE LINE DIAGRAM

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-50

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


Untuk PLTMH Batu Bedil dengan 2 unit turbin ditampilkan dalam single
line diagram di bawah ini :

6.10

JALAN AKSES

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-51

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


Jalan akses merupakan salah satu komponen pekerjaan fasilitas penting
dalam suatu perencanaan proyek pembanguan PLTMH. Rencana jalan
akses yang menghubungkan lokasi bendung

ke jalan raya sepanjang

1600 m dan jalan akses yang menghubungkan lokasi Power House


sepanjang 100 m.
Jalan akses ini akan dipergunakan untuk mobilisasi alat dan material
konstruksi serta untuk pengangkutan peralatan hidromekanikal dan
pembangkit.
Perencanaan trase jalan mempertimbangkan:
a. Jenis lalu lintas yang akan menggunakan jalan
b. Keadaan topografi daerah topografi yang dilalui
c. Kondisi daerah sekitarnya.
Kriteria perencanaan trase jalan :
Klasifikasi Jalan
= Jalan dipegununguan
Kecepatan Rencana
= 30 km/jam
Lebar Perkerasan
=3m
Lebar Bahu Jalan
= 2 x 0.5 m
Lereng Melintas Perkerasan = 4%
Lereng Melintang Bahu
= 6%
Miring Tikungan Maksimum = 10%
Jari-jari Lengkung Minimum = 30 m
Perencanaan alinemen Vertikal
Perencanaan alinemen vertikal jalan dengan mempertimbangkan :
a. Landai maksimum yang diijinkan
b. Volume
galian
dan
timbunan
agar
diusahakan
hampir
c.

sama/seimbang
Memungkinkan direncanakan system drainase yang baik untuk
mengalirkan air.

Kriteria perencanaan alinemen vertikal jalan :


Landai Maksimum
= 12%
Jari - jari Minimal
= 135 m
Panjang Minimum Lengkung Vertikal
= 240 m
Jarak Pandang Henti (minimum)
= 30 m
Jarak Pandang Menyiap (minimum)
= 80 m
Super Elevasi Jalan
Nilai superelevasi untuk perencanaan jalan adalah sebagai berikut :
Tabel 7.1 Nilai Superelevasi
No
1
2
3

Kondisi
Kondisi
R > 60m
30 m < R 60 m

Struktur Perkerasan
PT. Nusantara Rekayasa Cipta
VI-52

N (%)
2
5
6

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. Tirta Daya Rinjani


Jenis perkerasan yang digunakan adalah perkerasan lentur berupa aspal.
Metode

perencanaan

tebal

struktur

perkerasan

mengacu

pada

peraturan Direktorat Jendral Bina Marga, yang tertuang dalam SKBI NO.
2.3. 26-1987. Dalam perencanaan ini, ditetapkan CBR sub grade
minimal adalah 4% Sehingga diperoleh DDT = 4,3 serta dengan
menggunakan FR = 0,5, IPT = 2,LER = 10,Ipo 2,5 diperoleh IPT = 4.
IPT
=4
IPT
= a1 D1 + a2 D2 + a3 D3
4
= 0,26 x 5 cm + 0,12 x 15 cm + 0,11 x D3
D3
= 8,18 cm
Digunakan tebal lapisan minimum D3 = 10 cm
Bahan lapisan permukaan menggunakan aspal macadam dengan
tebal 5 cm.
Lapisan pondasi menggunakan batu pecah kias C dengan tebal 15 cm
dan lapisan pondasi bawah menggunakan sirtu putaran kias C dengan
tebal 10 cm.

Tipikal Tampang Melintang Jalan

Gambar 7.1 Penampang Melintang Jalan


Tipikal Tampang Melintang Jalan Pada Tikungan

PT. Nusantara Rekayasa Cipta


VI-53