Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pada tahun- tahun terkahir ini bangsa Indonesia sedang mengalami beberapa
masa transisi kepemimpinan baru, dimana dalam dua periode kepemimpinan baru ini
Indonesia mengalami kenaikan bahan bakar minyak. Kenaikan bahan bakar minyak
mengakibatkan harga bahan pangan secara signifikan mengalami kenaikan. Keadaan
yang demikian berdampak terhadap pola konsumsi makan masyarakat Indonesia
akibatnya terjadi penurunan status gizi anak yang salah satu diantaranya di tandai
dengan penyakit busng lapar (marasmus kwashiorkor).
Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi, atau
nutrisinya di bawah standar rata-rata. Status gizi buruk dibagi menjadi tiga bagian,
yakni gizi buruk karena kekurangan protein (disebut kwashiorkor), karena kekurangan
karbohidrat atau kalori (disebut marasmus), dan kekurangan kedua-duanya. Gizi
buruk ini biasanya terjadi pada anak balita (bawah lima tahun) dan ditampakkan oleh
membusungnya perut (busung lapar).
Gizi buruk sendiri adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan
kekurangan zat gizi, atau dengan ungkapan lain status gizinya berada di bawah
standar rata-rata. Zat gizi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori.
Gizi buruk (severe malnutrition) adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai
oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari
proses terjadinya kekurangan gizi menahun
Busung lapar (hongeroedeema/marasmus kwashiorkor) adalah bengkak
(oedema) pada bagian tubuh (biasanya perut) akibat keadaan yang terjadi karena
kekurangan pangan dalam kurun waktu tertentu pada suatu wilayah, sehingga
mengakibatkan kurangnya asupan zat gizi yang diperlukan. Keadaan ini dapat terjadi
pada semua golongan umur (Depkes, 2005). Busung lapar adalah tingkat terakhir dari
kelaparan, terutama akibat kekurangan protein dalam waktu lama.
Tanda-tanda klinis pada busung lapar merupakan campuran dari beberapa
gejala klinik kwashiorkor dan marasmus. Makanan sehari-hari tidak cukup
mengandung protein dan juga energi untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita
demikian disamping menurunnya berat badan < 60% dari normal memperlihatkan

tanda-tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit, sedangkan


kelainan biokimiawi terlihat pula (Depkes RI, 2000).
Berdasarkan data Departemen Kesehatan tahun 2004 pada tahun 2003 terdapat
sekitar 25,5% ( 5 juta balita kurang gizi) yang terdiri dari 19,2% (3,5 Juta balita
tingkat gizi kurang) dan 8,5% (1,5 juta anak tingkat gizi buruk). Anak balita (0-49
bulan) mengalami pertumbuhan fisik yang cepat sekali, termasuk berat badan,
perkembangan otak dan peningkatan daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit
infeksi. Disisi lain pada masa pertumbuhan ini anak sangat rentan terhadap penyakit
yang mengakibatkan kematian.
Awal tahun 2007, Departemen Kesehatan melaporkan ada 1,7 juta balita yang
berstatus gizi buruk tersebar di seluruh Indonesia. Depkes juga memperkirakan ada 5
dari 18 juta balita di negeri ini berstatus gizi kurang. Mereka inilah, pada balita yang
sebetulnya sedang dalam masa emas pertumbuhan, yang terancam bakal kehilangan
masa depan sebagai generasi yang hilang.
Anak yang mengalami gizi buruk disebabkan oleh beberapa hal sebagai
berikut penyebab langsung yaitu tidak mendapat makanan bergizi seimbang pada usia
balita dan penyakit infeksi dan penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan
keluarga, pola pengasuhan anak serta pelayanan kesehatan dan lingkungan (Dinkes
Propsu, 2006).
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat disusun perumusan masalah
sebagai berikut : bagaimana pengaruh faktor gizi pada patogenesis penyakit busung
lapar (marasmus kwashiorkor)

1.3

Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui tentang gizi buruk
2. Mengetahui tentang penyakit busung lapar (marasmus kwashiorkor)
3. Mengetahui pengaruh gizi pada patogenesis penyakit busung lapar (marasmus
kwashiorkor)
NB:
1) Latar belakang minta tolong diliat lagi udah bener belum? (rifa belum masukin
masalah patogenesis penyakit karena belum ketemu)
2) tujuan masih bisa berubah, rifa gatau isi materinya apa aja jadi belum bisa nulis
lengkap tujuannya