Anda di halaman 1dari 10

Pada praktikum ini dilakukan pengujian sampel dengan membandingkan ketelitian

1.
2.

penggunaan pipet piston dan pipet gelas serta pengukuran konsentrasi sampel dengan
menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui tingkat
ketelitian mana yang lebih baik antara pipet piston dan pipet gelas, yang mana akan
berpengaruh pada pengukuran spektrofotometer konsentrasi sampel. Sampel yang digunakan
adalah KMNO4. Alasan penggunaan kalium permanganat karena sampel tersebut memiliki
serapan maksimum pada panjang gelombang 546 nm sehingga mudah dalam pengukurannya.
Salah satu hal yang penting di ingat adalah untuk menganalisis secara spektrofotometri UVVIS
diperlukan panjang gelombang maksimal. Alasan
panjang
gelombang
harus
maksimal, yaitu :
Pada panjang gelombang maksimal tersebut perubahan absorbansi untuk setiap konsentrasi a
dalah yang paling besar.
Di
sekitar panjang gelombang maksimal,
bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hokum Lambert beer akan terpenuhi.
Spektrofotometer UV-Vis (Ultra Violet-Visible) adalah salah satu dari sekian banyak instrumen yang
biasa digunakan dalam menganalisa suatu senyawa kimia. Spektrofotometer umum digunakan
karena kemampuannya dalam menganalisa begitu banyak senyawa kimia serta kepraktisannya
dalam hal preparasi sampel apabila dibandingkan dengan beberapa metode analisa (Herliani, 2008).
Pengukuran menggunakan alat spektrofotometri UV-Vis ini didasarkan pada hubungan antara
berkas radiasi elektromagnetik yang ditransmisikan (diteruskan) atau yang diabsorpsi dengan
tebalnya cuplikan dan konsentrasi dari komponen penyerap. Berdasarkan hal inilah maka untuk
dapat mengetahui konsentrasi sampel berdasarkan data serapan (A) sampel, perlu dibuat suatu
kurva kalibrasi yang menyatakan hubungan antara berkas radiasi yang diabsorpsi (A) dengan
konsentrasi (C) dari serangkaian zat standar yang telah diketahui (Henry dkk, 2002).

Kafein merupakan senyawa kimia alkaloid terkandung secara alami pada lebih dari 60 jenis
tanaman terutama teh (1- 4,8 %), kopi (1-1,5 %), dan biji kola(2,7-3,6 %) (Misra et al, 2008). Kafein
(1,3,7-Trimethylxanthine) adalah kerabat mehylxantin yang secara luas tersebar di banyak jenis
tumbuhan. Kafein juga dimanfaatkan manusia sebagai produk makanan dan minuman seperti teh,
kopi dan coklat. Dalam bidang farmasi, kafein biasanya digunakan untuk pengobatan jantung,
stimulant pernapasan dan juga sebagai peluruh kencing (Yu dkk, 2009). Kafein berbentuk serbuk
atau hablur bentuk jarum mengkilat biasanya menggumpal, putih, tidak berbau dan rasa pahit. Agak
sukar larut dalam air dan dalam etanol (95%) p, mudah larut dalam kloroform p, sukar larut dalam
eter p (Dirjen POM, 1979). Memiliki rumus struktur sebagai berikut:
Struktur Parasetamol
Parasetamol atau asetaminofen adalah turunan a-para-aminophenol memiliki khasiat sebagai
analgesik, antipiretik, dan aktivitas antiradang yang lemah. Parasetamol merupakan analgesik nonopioid sering dicoba pertama untuk pengobatan gejala berbagai tipe sakit kepala termasuk migrain
dan sakit kepala tipe tensi (Sweetman, 1982). Parasetamol (C8H9NO2) mengandung tidak kurang
dari 90% dan tidak lebih dari 110% dari jumlah yang tertera pada etiket Pemerian parasetamol
berupa serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit. Kelarutan, larut dalam 70 bagian air, 7

bagian (85%), 13 bagian aseton P, 40 bagian gliserol dan 9 bagian propilenglikol P serta larut dalam
alkali hidroksida (Dirjen POM, 1979).

Asam asetilsalisilat mempunyai nama sinonim asetosal, asam salisilat asetat dan yang paling terkenal
adalah aspirin. Serbuk asam asetil salisilat dari tidak berwarna atau kristal putih atau serbuk granul
kristal yang berwarna putih.. Nilai titik lebur dari asam asetil salisilat adalah 135oC. Asam
asetilsalisilat larut dalam air (1:300), etanol (1:5), kloroform (1:17) dan eter (1:10-15, Asam
asetilsalilsilat larut dalam larutan hidroksida dan karbonat (Dirjen POM, 1979).
C. Alat dan Bahan
1.

Alat

Alat-alat yang digunakan pada percobaan kali ini yaitu:

Labu takar 100 mL

Pipet ukur 25 mL

Filler

Statif dan Klem

Buret

Lumpang dan alu

Gelas kimia

Spektrofotometer uv

Timbangan analitik

Batang pengaduk

Pipet tetes

Botol semprot

Erlenmeyer

2.

Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan kali ini yaitu:

Sediaan obat Poldanmig

Bahan obat murni (asetosal, parasetamol dan kofein)

Etanol 95%

Akuades

Alumunium foil

D. Prosedur Kerja
1.

Pembuatan larutan standar

Bahan Obat Murni (Parasetamol, Kofein)


-

Ditimbang masing-masing 0,5 mg

Ditambahkan etanol 5 ml

Diencerkan dalam 100 mL dengan aquadest dalam labu takar 100 mL

Digojok hingga larut

Larutan Standar :
Paarsetamol 5 mg/ml
Kofein 5 mg/ml
Bahan Obat Murni (Asetosal)
-

Ditimbang 0,25 mg

Ditambahkan etanol 5 ml

Diencerkan dalam 100 mL dengan aquadest dalam labu takar 100 mL

Digojok hingga larut

Larutan Standar :
Asetosal 2,5 mg/ml

2.
Larutan Standar
-

Dibuat dalam 5 macam konsentrasi (1, 2, 3, 4 dan 5)

- Diukur absorbansi dari masing-masing konsentrasi pada = 297 (asetosal), = 305,8


(parasetamol) dan 301,6 (kofein)
-

Dibuat kurva standar dan persamaan garisnya

Hasil Pengamatan
Pembuatan Kurva Kalibrasi

3.

Penentuan kadar asetosal, parasetamol dan kofein dalam sediaan

Bahan obat (serbuk poldanmig)


-

Ditimbang sebanyak 0,1 mg

Dilarutkan sampai 100 Ml dengan etanol 70%

Diukur absorbansi pada = 297 (asetosal), = 305,8 (parasetamol) dan = 301,6 (kofein)

Ditentukan kadarnya menggunakan persamaan kurva standar

Hasil Pengamatan

E.

Hasil Pengamatan

1.

Kurva Penentuan Panjang Gelombang Maksimal

a. Asetosal
maks = 297 nm
b.

Paracetamol

maks = 305,8 nm

c.

Kafein

maks = 301,6

2.

Kurva hubungan Konsentrasi vs Absorbansi

a.

Asetosal

b.

Paracetamol

c.

Kafein

3.

Tabel hasil Pengamatan

a. Larutan standar
No.

Nama bahan
maks (nm)
Konsentrasi (mg/mL)
Absorbansi
1
Asetosal
297
0,5
1
1,5
2
2,5
1,267
1,408
1,551
1,598
1,649
2
Paracetamol
305,8
1
2
3
4
5
1,815
1,823
1,838
1,946
1,85
3

Kafein
301,6
1
2
3
4
5
1,452
1,634
1,721
1,756
1,742

b.

Larutan sampel

No.
Nama bahan
maks (nm)
Konsentrasi (mg/mL)
Absorbansi
1
Asetosal
297
2,8243
1,764
2
Paracetamol
305,8
1.3795
1,6
3
Kafein

301,6
3,6844
1,723
c.

Perhitungan

a.

Asetosal

Konsentrasi sampel (y) = 2,824


y

= 0,095x + 1,208

2,824 = 0,095x + 1,208


0,095x = 2,824- 1,208
x

=
= 17,01

b.

Parasetamol

Konsentrasi sampel (y) = 1,380


y

= 0,019x + 1,796

1,380 = 0,019x + 1,796


0,019x = 1,380- 1,796
x

=
= 21,894

c.

Kofein

Konsentrasi sampel (y) = 3,684


y

= 0,070x + 1,450

3,684 = 0,070x + 1,450


0,070x = 3,984- 1,450
x

=
= 31,914

F.

Pembahasan

Pada percobaan ini dilakukan penentuan kadar campuran multikomponen asetosal, parasetamol,
dan kofein yang terdapat dalam sediaan obat poldanmig dengan menggunakan spektrofotometri
ultraviolet. Prinsip dasar Spektrofotometri UV-Vis adalah serapan cahaya. Bila cahaya jatuh pada

senyawa, maka sebagian dari cahaya diserap oleh molekul-molekul sesuai dengan struktur dari
molekul senyawa tersebut. Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum UV-Vis tergantung
pada struktur elektronik dari molekul. Spektra UV-Vis dari senyawa-senyawa organik berkaitan erat
dengan transisi-transisi diantara tingkatan-tingkatan tenaga elektronik. Radiasi ultraviolet dan sinar
tampak diabsorpsi oleh molekul organik aromatik, molekul yang mengandung elektron-
terkonjugasi dan atau atom yang mengandung elektron-n, menyebabkan transisi elektron di orbital
terluarnya dari tingkat energi elektron tereksitasi lebih tinggi. Besarnya serapan radiasi tersebut
sebanding dengan banyaknya molekul analit yang mengabsorpsi sehingga dapat digunakan untuk
analisis kuantitatif.
Pemilihan spektrofotometer UV-Vis adalah karena spektrofotometer merupakan instrument analisis
yang tidak rumit, selektif, serta kepekaan dan ketelitiannya tinggi. Selain itu, senyawa asetosal,
parasetamol dan kofein yang akan dianalisis memiliki kromofor pada strukturnya berupa ikatan
rangkap terkonjugasi dan juga merupakan senyawa aromatik karena memiliki gugus aromatik
sehingga memenuhi syarat senyawa yang dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis.
Dalam percobaan ini, metode analisis yang digunakan adalah metode kurva kalibrasi. Dalam metode
ini dibuat suatu larutan standar dari asetosal, parasetamol dan kofein dengan berbagai konsentrasi
dan absorbansi dari larutan tersebut diukur spektrofotometer UV-Vis. Langkah selanjutnya adalah
membuat grafik antara konsentrasi(C) dengan absorbansi (A) yang merupakan garis lurus yang
melewati titik nol dengan slobe = atau = a.b. konsentrasi larutan sampel dapat dicari setelah
absorbansi larutan sampel diukur dan diintrapolasi ke dalam kurva kalibrasi atau dimasukkan ke
dalam persamaan garis lurus yang diperoleh dengan menggunakan program regresi linear pada
kurva kalibrasi.
Karena menggunakan metode analisis kurva kalibrasi maka larutan standar (senyawa murni obat)
dibuat dalam 5 konsentrasi. Dalam percobaan ini dibuat larutan baku dengan konsentrasi masingmasing untuk parasetamol dan kofein yaitu 5; 4; 3; 2; 1; mg/ml dan asetosal dengan konsentrasi 2,5;
2; 1,5; 1; 0,5 mg/ml. Sebelum dilakukan pengukuran serapan, maka masing-masing komponen harus
ditentukan panjang gelombang maksimumnya terlebih dahulu. Alasan penggunaan panjang
gelombang maksimum ( maks) yakni panjang gelombang maksimum memiliki kepekaan maksimal
karena terjadi perubahan absorbansi yang paling besar serta pada panjang gelombang maksimum
bentuk kurva absorbansi memenuhi hukum Lambert-Beer. Dari percobaan ini diperoleh panjang
gelombang maksimum untuk asetosal adalah 297 nm, parasetamol 305,8 nm, dan kofein 301,6 nm.
Larutan blanko yang digunakan adalah etanol. Digunakan blanko etanol karena pelarut yang
digunakan untuk melarutkan sampel adalah etanol. Penggunaan etanol sebagai pelarut dikarenakan
ketiga sampel yaitu asetosal, parasetamol dan kofein hanya sedikit larut dalam air. Seperti diketahui
bahwa ketiga sampel tersebut terdiri dari gugus polar dan gugus nonpolar dimana apabila dilarutkan
dengan air maka hanya bagian polar yang dapat larut. Oleh karenanya maka digunakan pelarut
etanol karena etanol memiliki gugus polar dan non polar sama halnya seperti sampel. Sehingga
bagian yang polar akan melarutkan bagian polar pada sampel dan bagian nonpolar akan melarutkan
bagian nonpolar pada sampel.
Setelah persamaan garis diperoleh maka kadar asetosal, parasetamol dan kofein masing-masing
dapat dihitung. Pengukuran konsentrasi obat dalam sampel berdasarkan hokum lambert-beer.
Hukum Lambert-Beer menyatakan hubungan linieritas antara absorban dengan konsentrasi larutan
analit dan berbanding terbalik dengan transmitan. Dalam hukum Lambert-Beer tersebut ada
beberapa pembatasan, yaitu : Sinar yang digunakan dianggap monokromatis; penyerapan terjadi
dalam suatu volume yang mempunyai penampang yang sama; senyawa yang menyerap dalam

larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain dalam larutan tersebut; tidak terjadi
fluorensensi atau fosforisensi ; serta indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan. Hasil
perhitungan yaitu untuk asetosal besar kadarnya adalah 17,01%, parasetamol 21,894% dan kadar
kofein 31,914%.

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan: Jakarta.

Henry,A. Suryadi MT. Arry Y,. 2002. Analisis Spektrofotometri UV-Vis Pada Obat Influenza Dengan
Menggunakan Aplikasi Sistem Persamaan Linier. KOMMIT. Universitas Gunadarma
Herliani, An an. 2008. Spektrofotometri. Pengendalian Mutu Agroindustri. Program D4-PJJ.
Misra H, D. Mehta, B.K. Mehta, M. Soni, D.C. Jain. 2008. Study of Extraction and HPTLC UV Method
for Estimation of Caffeine in Marketed Tea (Camellia sinensis) Granules. International Journal of
Green Pharmacy: 47-51.

Yu Chi Li, Tai Man Louie, Ryan Summers, Yogesh Kale, Sridhar Gopishetty, and Mani Subramanian,
Two Distinct Pathways for Metabolism of Theophylline and Caffeine Are Coexpressed in
Pseudomonas putida CBB5, JOURNAL OF BACTERIOLOGY, July 2009, p. 46244632 Vol. 191, No. 14.
Center for Biocatalysis & Bioprocessing and Department of Chemical & Biochemical Engineering,The
University of Iowa, Iowa City, Iowa 52242 Received 26 March 2009/Accepted 7 May 2009

Anda mungkin juga menyukai