Anda di halaman 1dari 16

PRINSIP HUKUM UMUM

EKONOMI INTERNASIONAL
Hanif Nur Widhiyanti, S.H.,M.Hum.

Tambahan teks berwarna merah dari


Bu Afifah Kusumadara

PENDAHULUAN
Di dalam praktek HEI diakui adanya eksistensi kaidahkaidah atau aturan dasar (standart), namun mengenai
apa saja yang menjadi standart tersebut, hingga saat
ini di antara para sarjana belum terdapat kesepakatan.
Kaidah-kaidah dasar ini merupakan hasil dari perkembangan

hubungan ekonomi internasional yang telah berkembang dan


berlangsung sejak berabad-abad lama-lamanya sebagai
prinsip klasik HEI.

Pada pokoknya terdapat 2 prinsip kebebasan, yaitu :


1) kebebasan berkomunikasi/transportasi (mis. Freedom of
the high seas)
2) kebebasan berdagang, dan disebut sebagai prinsip klasik
HEI

Prinsip-Prinsip Fundamental HEI


Kaidah Dasar Minimum (Minimum Standards)
Kaidah Dasar Perlakukan Sama/ Timbal Balik (Identical Treatment/
Reciprocity)
Kaidah Dasar Perlakukan Nasional (National Treatment)
Kaidah Dasar Most Favoured Nation (MFN)
Kaidah Dasar Mengenai Kewajiban Menahan Diri Untuk Tidak
Merugikan Negara Lain
Kaidah Dasar Tindakan Pengaman : Klausul Penyelamat (Safeguards
and Escape Clause)
Kaidah Dasar Mengenai Prefensi Negara Sedang Berkembang
Kaidah Dasar Mengenai Penyelesaian Sengketa Secara Damai
Kaidah Dasar Kedaulatan Negara Atas Kekayaan Alam, Kemakmuran
Dan Kehidupan Ekonominya
Kaidah Dasar Kerja Sama Internasional
Kaidah Transparansi

Minimum Standards
Merupakan kaidah utama dalam HEI.
Satu-satunya kaidah yang telah berkembang menjadi
suatu aturan hukum kebiasaan internasional umum
(general international customary law).
Menurut kaidah ini, adalah kewajiban negara untuk
seidikitnya memberikan jaminan perlindungan kepada
pedagang atau pengusaha asing atau harta miliknya.
Dalam perkembangannya, kaidah ini banyak
dicantumkan dalam perbagai perjanjian internasional

Identical Treatment (atau Reciprocity)

Sejarahnya dulu raja bersepakat untuk secara timbal balik memberikan para
pedagang mereka perlakukan yang sama (identik). Apabila raja A, misalnya
mengenakan pajak sebanyak 5% kepada pengusaha dari kerajaan B, maka raja B
pun akan mengenakan pajak 5% kepada pengusaha yang sama dari kerajaan A.

Saat ini, kaidah dasar ini lebih dikenal dengan istilah resiprositas (reciprocity).

Perlakuan sama biasanya tertuang dalam suatu perjanjian, baik bersifat multilateral
maupun bilateral.

Kaidah resiprositas misalnya tampak dalam Preambule Perjanjian GATT :


Being desirous of contributing to these objectives by entering into reciprocal and
mutually advantageous arrangements directed to the substantial reduction of
tariffs and other barriers to trade and to the elimination of discriminatory
treatment in international commerce.

Prinsip Non Diskriminasi


1. National Treatment
Produk asing (yg legal) harus diperlakukan
sama dengan produk nasional.
Investor asing harus diperlakukan sama dg
investor nasional.
2. Most Favoured Nation
Semua/sesama negara-negara anggota suatu
perjanjian internasional harus diperlakukan
sama oleh anggota yg lain, tidak boleh ada
diskriminasi

National Treatment
Seringkali dianggap sebagai pengejawantahan
dari prinsip non-diskriminasi.
Klausul ini ditemukan dalam berbagai perjanjian
termasuk dalam GATT dan perjanjian perbatasan,
perdagangan dan navigasi.
Klausul ini mensyaratkan suatu negara untuk
memperlakukan hukum yang sama atas barangbarang, jasa-jasa atau modal asing yang telah
memasuki pasar dalam negerinya dengan hukum
yang diterapkan atas produk-produk atau jasa
yang dibuat dalam negeri nya sendiri

Most Favoured Nation (MFN)


klausul MFN ini adalah prinsip non-diskriminasi di antara negara-negara.
Dengan mensyaratkan, suatu negara harus memberikan hak kepada negara
lainnya sebagai halnya ia memberikan hak yang serupa kepada negara
ketiga.

MFN mempunyai 2 bentuk :


1) MFN bersyarat (conditional)
2) MFN tidak bersyarat (unconditional)

Pasal 1 GATT memuat konsep MFN yang tidak bersyarat dan kewajiban
untuk perdagangan barang.
Pada perkembangannya, klausula MFN tidak hanya terbatas pada
perdagangan barang, namun juga diterapkan terhadap perdagangan jasa,
misalnya asuransi dan pelayaran dan dapat pula diterapkan terhadap
perlakukan negara dalam penanaman modal dan aliran modal dalam
berbagai bentuk.

Kewajiban Menahan Diri Untuk Tidak


Merugikan Negara Lain

Merupakan kaidah tambahan

Salah satu contohnya tampak dalam pasal III (1) GATT, bahwa suatu
tindakan tertentu tidak boleh diterapkan sehingga memberikan proteksi
kepada produksi dalam negeri
Salah satu contoh praktek perdagangan tidak jujur dan dianggap dapat
merugikan negara yang lain ialah dumping. Dumping ialah penjualan suatu
produk di luar negeri dengan harga yang lebih rendah daripada harga
produksinya. Larangan dumping diakomodir dalam GATT
Putaran Tokyo 1979 juga mengeluarkan peraturan larangan subsidi
negara-negara yang merugikan secara material (materially injury) produk
industri domestik negara lainnya.
Peraturan ini mensyaratkan kepada negara-negara anggota GATT, suatu
kewajiban untuk menahan diri dan tidak memberikan subsidi-subsidi
tertentu pada tahap awal produksi bagi produk-produknya

Safeguards and Escape Clause


Masyarakat internasional umumnya mengakui, aturan-aturan dalam
perjanjian-perjanjian internasional mengenai hubungan-hubungan
ekonomi kadangkala dirasakan terlalu membebani negara-negara
jika negara ini harus menerapkannya, dikhawatirkan akan menimbulkan
dampak negatif terhadap perekonomian negerinya
akhirnya akan berakibat peraturan-peraturan tersebut menjadi tidak berfungsi

Untuk mengatasinya dibuatlah suatu klausul penyelamat (escape clause


atau safeguard clause).
Biasanya klausul demikian memberikan kemungkinan-kemungkinan
penanggalan bagi negara-negara tertentu, biasanya bagi negara berkembang
atau miskin

Diakomodir dlm pasal XIX GATT


memberikan suatu hak sepihak kepada negara-negara untuk menangguhkan
suatu kewajiban-kewajiban internasional, untuk selama jangka waktu tertentu
penangguhan untuk pembebasan pemberlakukan tarif.
Penangguhan yang demikian itu diperbolehkan hanya dalam hal-hal tertentu
manakala keadaan-keadaan perdagangan internasional akan mengakibatkan
kerugian terhadap industri dalam negeri suatu negara

Safeguards and Escape Clause


(lanjutan)
Tindakan penangguhan pelaksanaan kewajiban
internasional untuk menyelamatkan
ekonomi/industri dlm negeri-nya (safeguard) ,
hanya boleh dilakukan oleh suatu negara, dg
syarat2 :
1. Tindakan safeguard hanya bersifat temporer
2. Negara ybs harus memberikan notifikasi
kepada organisasi ekonomi int
3. Harus bersedia dimonitor oleh OEI tsb. utk
melihat kapan safeguard bisa berakhir

Prefensi Negara Sedang Berkembang


Mensyaratkan perlunya suatu kelonggaran-kelonggaran atas aturanaturan hukum tertentu bagi negara berkembang
negara-negara berkembang ini perlu mendapatkan perlakukan khusus
manakala negara-negara maju berhubungan dengan mereka
misalnya pengurangan bea masuk untuk produk-produk negara sedang
berkembang ke dalam pasar negara maju.

Dasar teori dari sistem prefensi ini :


negara-negara harus diperbolehkan untuk menyimpang dari
kewajiban-kewajiban MFN untuk memperbolehkan mereka guna
mengurangi tingkat tarifnya pada impor-impor barang, manakala
barang-barang tersebut berasal dari negara-negara sedang
berkembang.
Menurut mereka, hal tersebut akan memberikan negara-negara
sedang berkembang suatu keuntungan kompetitif tertentu dalam
masyarakat industri yang menjadi sasaran ekspor.

Kedaulatan Negara Atas Kekayaan Alam,


Kemakmuran Dan Kehidupan Ekonominya
Menurut Castaneda, HEI harus memuat serangkaian
ketentuan, termasuk di dalamnya lembaga-lembaga,
praktek, metoda dan prinsip-prinsip yang mengatur
dan menjamin perlindungan efektif terhadap kekayaan
alam, khususnya kekayaan alam negara sedang
berkembang.
Bahwa masalah kekayaan alam terkait dengan
kedaulatan negara yang memiliki kekayaan alam
tersebut. Untuk itu, prinsip kedaulatan negara atas
kekayaan alamnya, kekayaan dan kehidupan
ekonominya harus diakui, diformulasikan secara hukum
dan dipatuhi.
Namun, pelaksanaan prinsip ini PERLU DIKONTROL dg
prinsip Minimum Standards

Prinsip Dasar Kerja Sama


Internasional

Dasar dari kaidah ini ialah tanggung jawab kolektif (collective


responsibility) dan solidaritas untuk pembangunan dan kesejahteraan bagi
semua negara.
Kewajiban hukum untuk bekerja sama ini mencakup semua bidang ekonomi
internasional.

Kaidah ini tampak dalam pasal 1 ayat 1 Piagam PBB., yang mensyaratkan
kerjasama internasional (international cooperation) dalam memecahkan
masalah-masalah ekonomi internasional, dan pasal ini menjadi tujuan
berdirinya PBB :
The purpose of the United Nations are
3. to achieve international cooperation in solving international problems of
an economic, social, culture or humanitarian character and in promoting
and encouraging respect for human rights and for fundamental freedom
for all without distinction as to race, sex, language or religion.

Transparansi
Setiap kebijakan ekonomi yg diambil oleh
negara anggota organisasi ekonomi
internasional harus bisa diketahui secara
transparan oleh negara2 anggota yg lainnya.
Setiap kebijakan ekonomi tsb harus
dinotifikasikan ke OEI untuk diregistrasikan
sehingga tidak bisa dirubah2 seenaknya.
Perubahan kebijakan ekonomi negara
anggota hrs diketahui & dpt dimonitor OEI

REFERENSI
Hata, Perdagangan Internasional dalam Sistem GATT dan
WTO, Aspek-Aspek Hukum dan Non Hukum, Refika
Aditama, Bandung, 2006
Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional Suatu
Pengantar, Rajawali, 2011.
Huala Adolf dan A. Chandrawulan, Masalah-Masalah
Hukum dalam Perdagangan Internasional, Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 1995.
N. Rosyidah Rakhmawati, Hukum Ekonomi Internasional
dalam Era Global, Bayumedia, Publising, 2006.