Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

Diare merupakan keluhan yang sering ditemukan pada dewasa. Diare didefinisikan
sebagai buang air besar yang tidak berbentuk atau dalam konsistensi cair dengan frekuensi yang
meningkat, umumnya frekuensi >3 kali/hari, atau dengan perkiraan volume tinja >200 gr/hari.

1-

Diare akut jika durasinya kurang kurang dari 2 minggu, diare persisten jika durasinya antara 2-4

minggu, dan diare kronik jika durasi lebih dari 4 minggu. 2 Statistik populasi untuk kejadian diare
kronis belum pasti, kemungkinan berkaitan dengan variasi definisi dan sistem pelaporan, tetapi
frekuensinya cukup tinggi. Di USA, prevalensinya berkisar antara 2-7%. Diare kronik bukan
suatu kesatuan penyakit, melainkan suatu sindrom yang penyebab dan patogenesisnya
multikompleks.

BAB II
STATUS MEDIK
A. Identitas Pasien
Nama Pasien

: Tn. R

Umur

: 23 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Jl. Intan, 03/01, kel. Sudimara Pinang, Tangerang

Pekerjaan

: Tidak bekerja

Status

: Belum menikah

Pendidikan

: SLTP

Agama

: Islam

No. RM

: 957348

B. Anamnesis
Anamnesa dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 11 September 2011, pukul 22.00
1. Keluhan utama

: lemas seluruh badan sejak 2 hari SMRS

2. Riwayat penyakit sekarang:

Sejak 2 hari SMRS, pasien merasa lemas seluruh badan, tangan dan kaki masih bisa
digerakkan, tidak ada bibir mencong maupun bicara kacau. Nafsu makan menurun, sehari makan
2x sebanyak 3 sendok makan, tidak ada mual maupun muntah, tidak ada sakit perut.
Sebelumnya pasien mengeluh diare sejak 4 bulan SMRS, konsistensi feses berwarna kuning
disertai lendir, kadang disertai darah berwarna merah segar. Frekuensi BAB lebih dari 10x/hari
sebanyak gelas aqua tiap kali BAB. Ampas lebih banyak dari cairannya. Tidak terdapat
demam, tidak ada sakit perut. Pasien tidak pantang dalam makan, pasien dapat minum susu
maupun makanan berlemak tanpa menimbulkan BAB mencret sebelum sakit. Tidak pernah
riwayat feses berwarna dempul maupun berminyak. Tidak ada konstipasi sebelum munculnya
BAB mencret, maupun rasa tidak lampias setelah BAB. Tidak ada riwayat jatuh terduduk
sebelumnya. Tidak ada berkeringat berlebih maupun penurunan berat badan. Selama 4 bulan ini,
pasien mengeluh lendirnya sering keluar walaupun tanpa feses. Lendir bewarna bening dan
berbau amis. Pasien juga mengeluh nyeri saat BAB, terutama saat BAB akan keluar. 2 bulan
sebelum diare, pasien mengeluh tidak bisa BAB, kemudian beobat ke dokter umum dan diberi
obat, tapi pasien tidak tahu obat apa. Keluhan kemudian membaik, pasien bisa BAB tapi hanya
sedikit. Pasien mengatakan tiap kali BAB bentukya seperti kotoran kambing. Selama 4 bulan ini,
pasien mengeluh berat badan menurun drastis (36 kg). Keluhan semakin lama semakin memberat
dalam 2 hari SMRS, dimana pasien semakin merasa lemas dan nafsu makan semakin menurun.
Batuk tidak ada, sariawan lama tidak sembuh tidak ada, tattoo di tubuh tidak ada, kebiasaan
minum alcohol tidak ada. BAK lancar tanpa keluhan, nyeri berkemih tidak ada. Pasien masih
mau minum 600cc per hari. Pasien mengatakan di daerah lipat pahanya terdapat benjolan, tapi
pasien tidak mengeluh sakit didaerah tersebut.

3. Riwayat penyakit dahulu:


-

Hipertensi (-)

DM (-)

Sakit ginjal (-)

Alergi (-)

Asma (-)

Sakit jantung (-)

Hemoroid (+)

Keganasan (-)

Batuk lama (-)

TB (-)

Sakit kuning (-)

Dirawat di rumah sakit (-)

Operasi (-)

4. Riwayat penyakit keluarga:


-

Hipertensi (+): ibu pasien

DM (-)
4

Sakit ginjal (-)

Alergi (-)

Asma (-)

Sakit jantung (-)

Keganasan (-)

5. Riwayat kebiasaan dan sosial ekonomi:


-

Pasien belum menikah, saat ini tinggal dengan ibunya

Riwayat di lingkungan yang menderita TB (-). Tidak ada yang menderita keluhan seperti
ini

Pasien sering merokok, tapi sudah berhenti semejak sakit. Tidak pernah minum alcohol.
Tidak pernah mengonsumsi narkoba. Tidak pernah transfusi darah. Tidak pernah
mengonsumsi obat tertentu secara rutin.

C. Pemeriksaan Fisik
1. Status generalis
a. Keadaan umum

: Sakit sedang

b. Kesadaran

: Compos Mentis

c. Tinggi badan

: 165 cm

d. Berat badan

: 59 kg
5

e. IMT

: 21,67 kg/cm2

f. Keadaan gizi

: cukup

2. Tanda vital
a. Tek.darah

: 120/90 mmHg

b. Nadi

: 96 x/mnt

c. Suhu

: 36,50C

d. Pernafasan

: 20 x/mnt

3. Kulit
a. Warna

: Sawo matang

b. Jaringan parut

: Tidak ada

c. Pigmentasi

: Tidak ada

d. Suhu raba

: Hangat

e. Lembab/kering

: Lembab

f. Turgor

: Cukup

g. Ikterus

: (-)

h. Edema

: Tidak ada

i. Lain-lain

: (-)

4. Kepala

: Normosefali, rambut hitam, rambut tidak mudah rontok

5. Mata
Pemeriksaan

Kanan

Kiri

Konjungtiva pucat

(-)

(-)

Sklera ikterik

(-)

(-)

Exophtalmus

(-)

(-)

6. Telinga

: Normotia, secret -/-

7. Hidung

: Sekret -/-, deviasi septum (-)

8. Tenggorokan

: Faring hiperemis (-), tonsil T1-T1 tenang

9. Leher

: JVP 5-2cmH2O, trakea terletak di tengah, kelenjar tiroid tidak

membesar
10. Jantung
a. Inspeksi

: Iktus kordis tidak tampak

b. Palpasi

: Iktus kordis teraba di ICS V 1 jari medial garis midclavicula

sinistra
c. Perkusi

: Pinggang jantung dalam batas normal.


Batas atas jantung ICS II garis parasternal sinistra
Batas kiri jantung di ICS V 1 jari medial garis midclavicula
sinistra
7

Batas kanan jantung di ICS IV garis parasternal dekstra


d. Auskultasi

: S I dan II regular, murmur (-), gallop (-)

11. Paru
Pemeriksaan

Kanan

Kiri

Inspeksi depan

Tidak terdapat kelainan

Tidak terdapat kelainan

Inspeksi belakang

Tidak terdapat kelainan

Tidak terdapat kelainan

Palpasi depan

Fokal fremitus teraba sama

Fokal fremitus teraba sama

Palpasi belakang

Fokal fremitus teraba sama

Fokal fremitus teraba sama

Perkusi depan

Sonor

Sonor

Perkusi belakang

Sonor

Sonor

Auskultasi depan

Suara nafas vesikuler

Suara nafas vesikuler

Rhoncii (-)

Rhoncii (-)

Wheezing (-)

Wheezing (-)

Suara nafas vesikuler

Suara nafas vesikuler

Rhoncii (-)

Rhoncii (-)

Wheezing (-)

Wheezing (-)

Auskultasi belakang

12. Abdomen
a. Inspeksi

: Tampak datar

b. Palpasi

: Turgor baik, supel, nyeri tekan epigastrium (+), hepar dan lien

tidak teraba, ballottement (-), nyeri ketok CVA (-)


8

c. Perkusi

: Timpani, shifting dullness (-), chess board phenomenon (-)

d. Auskultasi

: Bising usus (+) meningkat

13. Ekstremitas
Pemeriksaan

Kanan

Kiri

Atas

Akral hangat

Akral hangat

CRT <2 detik

CRT <2 detik

Clubbing finger (-)

Clubbing finger (-)

Edema (-)

Edema (-)

Refleks fisiologis (+)

Refleks fisiologis (+)

Refleks patologis (-)

Refleks patologis (-)

Akral hangat

Akral hangat

CRT <2 detik

CRT <2 detik

Edema (-)

Edema (-)

Refleks fisiologis (+)

Refleks fisiologis (+)

Refleks patologis (-)

Refleks patologis (-)

Bawah

14. KGB:
-

Leher

: tidak teraba membesar

Axilla

: tidak teraba membesar

Inguinal

: teraba membesar, multiple, paling besar ukuran 2x2 cm, lunak,

mobile, nyeri (-)


15. Anus:
RT: Tonus sfingter ani baik, mucosa licin, ampula tidak kolaps, nyeri (+). Sarung tangan:
lendir (+), darah (+)
D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan

Nilai rujukan

Hasil
9/9/11

HEMATOLOGI
Hemoglobin

13,2-17,3 g/dl

14.6

Hematokrit

3-45 %

42

Leukosit

5.0-10.0 ribu/ul

6.7

Trombosit

150-440 ribu/ul

391

Eritrosit

4.40-5.90 juta/ul

5.78

VER

00.0-100.0 fl

72.9

HER

26.0-34.0 pg

25.3

KHER

32.0-36.0 g/dl

34.6

RDW

11.5-14.5 %

12.2

0-34 U/l

14

VER/HER/KHER/RDW

KIMIA KLINIK
FUNGSI HATI
SGOT

10

SGPT

0-40 U/l

Ureum darah

20-40 mg/dl

19

Creatinin darah

0.6-1.5 mg/dl

0.8

70-140 mg/dl

96

Natrium

135-147 mmol/l

143

Kalium

3.10-5.10 mmol/l

3.79

Klorida

95-108 mmol/l

104

FUNGSI GINJAL

DIABETES
Glukosa sewaktu
ELEKTROLIT

SERO IMUNOLOGI
Golongan darah

A/Rh (+)

Rontgen Thorax:
CTR <50%
Infiltrat -/Perselubungan di apex +/+

11

E. Resume
Pasien Tn.R, laki-laki, 23 tahun, datang dengan keluhan lemas seluruh badan sejak 2 hari SMRS.
Terdapat penurunan nafsu makan. 4 bulan SMRS, pasien mengeluh diare dengan lendir dan
darah. Nyeri pada saat BAB. Terdapat penurunan berat badan dalam 4 bulan terakhir. Terdapat
benjolan di daerah lipat paha multiple, paling besar ukuran 2x2 cm, lunak, mobile, tidak nyeri
saat ditekan. Tonus sfingter ani baik, mucosa licin, ampula tidak kolaps, nyeri (+). Sarung
tangan: lendir (+), darah (+). Pada rontgen thorax didapatkan perselubungan di kedua apex.
F. Diagnosis Kerja
1. Diare kronik ec suspek proses spesifik
2. Dispepsia intake sulit
3. Limfadenopati ec suspek TB

12

G. Diagnosis Banding
1. Diare kronik ec suspek amoebiasis
2. Diare kronik ec suspek ca colon
3. Limfadenopati ec suspek keganasan
H. Rencana Pemeriksaan
-

LED, DPL+diff count

Tes mantoux

Pemeriksaan feses lengkap + darah samar

BTA feses

Pemeriksaan hemostasis (PT, APTT)

Biopsi KGB

I. Penatalaksanaan
-

Diet biasa 1700 kkal/hari

IVFD RL/8 jam

IVFD aminofluid/24 jam

Metronidazol drip 3x500 mg iv

Parasetamol 3x500 mg k/p


13

Ciprofloxacin 2x400 mg iv

Inj.Ranitidin 2x1 ampul

J. Prognosis
Ad vitam

: dubia ad bonam

Ad fungsionam

: dubia ad bonam

Ad sanationam

: dubia ad bonam

K. Follow up
Tang

12/9/11

13/9/11

14/9/11

15/9/11

16/9/11

gal
S

BAB

cair, BAB

kotoran padat kotoran

cair, BAB

cair, BAB

cair, BAB

cair,

padat kotoran

padat kotoran

padat kotoran

padat

lendir sedikit, lendir sedikit,

lendir

sedikit, lendir sedikit, lendir sedikit,

(+), darah (+), (+), darah (+), (+), darah (+) (+), darah (+) (+), darah (+)
anus

terasa anus

sakit.

sakit.

Nafsu

makan Nafsu

berkurang,
mual

terasa berkurang, anus berkurang,


terasa sakit.
makan Nafsu

berkurang,
(-), mual

muntah (-)

muntah (-)

Lemas (-)

Lemas (-)

makan

anus

(-), (-), muntah (-)


Lemas (-)

terasa anus

sakit.

berkurang, mual Nafsu

berkurang,
terasa

sakit.
makan Lemas (-)

baik, mual (-),


muntah (-)
Lemas (-)

Muncul
benjolan 1
bulan

yl

di
14

Muncul

Muncul

benjolan

Muncul

benjolan

Muncul

benjolan

benjolan 1

1bulan yl di 1bulan yl di 1bulan

selangkangan

yl

di bulan

yl

di

selangkangan

selangkangan

selangkangan

selangkangan

CM/TSS

CM/TSS

CM/TSS

CM/TSS

CM/TSS

TV:

TV:

TV:

TV:

TV:

120/80mmHg,

120/80mmHg,

120/80mmHg,

120/80mmHg,

120/80mmHg,

88x/mnt,

84x/mnt,

88x/mnt,

86x/mnt,

90x/mnt,

36,80C,

36,60C,

36,60C, 20x/mnt 36,40C,

20x/mnt

20x/mnt

Mata:

Mata:

Konj.pucat

Konj.pucat

-/-,SI -/-

-/-,SI -/-

20x/mnt

20x/mnt

Konj.pucat

Mata:

Mata:

-/-,SI -/-

Konj.pucat

Konj.pucat

-/-,SI -/-

-/-,SI -/-

Mata:

Leher: JVP 5-2

Leher: JVP 5-2 Leher: JVP 5-2 cmH2O


cmH2O
Paru:

cmH2O
SN Paru:

36,60C,

Paru:

Leher: JVP 5-2 Leher: JVP 5-2


SN

cmH2O

SN vesikuler, rh-/-, Paru:

cmH2O
SN Paru:

SN

vesikuler, rh-/-, vesikuler, rh-/-, wh -/-

vesikuler, rh-/-, vesikuler, rh-/-,

wh -/-

wh -/-

wh -/-

Jantung: BJ I-II

wh -/-

Jantung: BJ I- Jantung: BJ I- reg, m (-), g (-)

Jantung: BJ I- Jantung: BJ I-

II reg, m (-), g II reg, m (-), g

II reg, m (-), g II reg, m (-), g

(-)

(-)

Abdomen: BU
(+)

normal,

(-)

(-)

15

Abdomen: BU Abdomen: BU chess


(+)

normal, (+)

chess

normal, phen (-), NT (-)

board chess

board

phen (-), NT phen (-), NT


(-)

(-)

Ekst:

Akral

CRT hangat,

<2 detik

Ekst:

Akral

hangat, CRT <2

CRT

<2 detik

KGB: benjolan
di

(+)

normal, (+)

chess

inguinal,

multiple,

inguinal, di

multiple,

Ekst:

Ekst:

<2 detik

KGB: benjolan
inguinal,

inguinal, multiple,

mobile, nyeri (-) multiple,

ukuran terbesar

ukuran terbesar 2x2

2x2

2x2

cm,

cm,

cm, lunak, mobile,

lunak, mobile, lunak, mobile,

lunak, mobile, nyeri (-)

nyeri (-)

nyeri (-)

nyeri (-)

CRT

CRT <2 detik

ukuran terbesar ukuran terbesar


cm, 2x2

Akral

Akral hangat,

hangat,

inguinal, 2x2 cm, lunak, di

multiple,

board

phen (-), NT phen (-), NT (-)

KGB: benjolan KGB: benjolan ukuran terbesar KGB: benjolan di


di

normal,

board chess

(-)

detik

Akral Ekst:

hangat,

board Abdomen: BU Abdomen: BU

RT: TSA baik,


mukosa

licin,

ampulla tidak
kolaps,

ST:

lendir

(-),

darah (A

Diare

krnnik Diare kronik ec Diare kronik ec Diare kronik ec Diare kronik ec


16

ec susp proses susp

proses susp

proses susp

proses susp

proses

spesifik

spesifik

spesifik

spesifik

spesifik

dd/amoebiasis

dd/amoebiasis

dd/amoebiasis

dd/amoebiasis

dd/amoebiasis

dd/ca colon

dd/ca colon

dd/ca colon

dd/ca colon

dd/ca colon

Dispepsia

Dispepsia

Dispepsia

Dispepsia

Anemia

intake sulit

intake sulit

intake

Anemia

Anemia

mikrositik

mikrositik

hipokrom

ec hipokrom

sulit intake

sulit mikrositik

perbaikan

selesai

hipokrom

Anemia

Anemia

ec mikrositik

mikrositik
ec hipokrom

ec

perdarahan
GIT

perdarahan

perdarahan

hipokrom

ec Limfadenopati

GIT

GIT

perdarahan GIT

Limfadenopati

Limfadenopati

Limfadenopati

susp.TB

susp.TB

susp.TB

Limfadenopati

dd/keganasan

dd/keganasan

dd/keganasan

susp.TB

perdarahan

susp.TB

GIT

dd/keganasan

dd/keganasan
p

RDx/
-

RDx/
LED,

RDx/
LED,

RDx/
LED,

RDx/
LED,

LED,

DPL+d

DPL+d

DPL+dif

DPL+d

DPL+di

iff

iff

f count

iff

ff count

count

count

Tes
mantou

Tes
mantou

count

Tes
mantoux

Tes

Tes
mantou

mantou
17

x
-

Pemeri

x
-

hasil

Pemeri

ksaan

ksaan

feses

feses

lengkap

lengkap

+ darah

+ darah

samar

samar

Tunggu

x
-

Pemerik
saan
feses
lengkap
+ darah

Pemeri

x
-

Pemeri

ksaan

ksaan

feses

feses

lengkap

lengkap

+ darah

+ darah

samar

samar

samar
-

Pemeri

ksaan

ksaan

hemost

hemost

asis

asis

(PT/AP

(PT/AP

TT)
-

TT)

Biopsi

al
-

1700

Biopsi

KGB

Diet

KGB

kkal/ha
ri
-

RL/8

IVFD

dilakuk
an

1700

kkal/hari
IVFD

Diet
biasa

1700

Biopsi

sudah

IVFD
RL/8

jam
Diet

RTh/

RTh/
-

Biopsi

RTh/

Diet
biasa

BTA
feses

KGB

BTA

Biopsi

feses
-

feses
-

BTA

feses

KGB
-

BTA

biasa

KGB
RTh/

norm

BTA
feses

Pemeri

jam

RTh/
-

Diet
biasa
1700
kkal/ha
ri

IVFD
18

biasa

aminofl

aminofl

ri

1700

uid/24

uid/24

RL/8

kkal/ha

jam

jam

jam

IVFD

ri

RL/8
jam
-

IVFD
aminofl
uid/24

jam
-

Metron

drip

Metroni

Metroni

IVFD

dazol

dazol

aminofl

RL/8

drip

drip

uid/24

jam

3x500

3x500

jam

mg iv

mg iv

IVFD
-

Paraseta

Metroni

Paraset

dazol

uid/24

mol

amol

drip

jam

3x500

3x500

3x500

mg k/p

mg k/p

mg iv

Metroni
-

Ciproflo

Ciprofl

3x500

dazol

mg iv

drip

xacin

oxacin

amol

3x500

2x400

2x400

3x500

mg iv

mg iv

mg iv

mg k/p

Paraset
amol
3x500

mg k/p
-

IVFD

IVFD

aminofl

idazol

kkal/ha

Ciprofl

mg iv

Inj.Ranit

Ciprofl

amol

idin 2x1

oxacin

3x500

ampul

2x400

mg k/p

oxacin
2x400

Paraset

Paraset

mg iv

Ciprofl
oxacin
19

Inj.Ran

2x400

itidin

mg iv

2x1

ampul

Inj.Ran
itidin
2x1
ampul

Tangg 19/9/2011

20/9/2011

21/9/2011

22/9/2011

23/9/2011

al
S

BAB

cair, BAB

cair, BAB

cair, BAB

cair, BAB

cair,

kotoran

padat kotoran

padat kotoran

padat kotoran

padat kotoran

padat

sedikit,

lendir sedikit,

lendir sedikit,

lendir sedikit,

lendir sedikit,

lendir

(+), darah (+) (+), darah (+) (+), darah (+) (+), darah (+) (+), darah (+)
berkurang, anus berkurang, anus berkurang, anus berkurang, anus berkurang, anus
terasa sakit.

terasa sakit.

terasa sakit.

terasa sakit.

terasa sakit.

Lemas (-)

Lemas (-)

Lemas (-)

Lemas (-)

Muncul

Muncul

Muncul

Muncul

Muncul

benjolan 1

benjolan 1 benjolan 1 benjolan 1 benjolan 1


bulan

yl

di bulan

yl

di bulan

yl

di bulan

yl

di

bulan

yl

di

selangkangan

selangkangan

selangkangan

selangkangan

selangkangan

CM/TSS

CM/TSS

CM/TSS

CM/TSS

CM/TSS

TV:

TV:

TV:

TV:

TV:
20

120/80mmHg,

120/80mmHg,

120/80mmHg,

120/80mmHg,

120/80mmHg,

80x/mnt,

86x/mnt,

90x/mnt,

90x/mnt,

88x/mnt,

36,80C,

36,40C,

36,70C,

36,80C,

36,50C,

20x/mnt

20x/mnt

20x/mnt

20x/mnt

20x/mnt

Mata:

Mata:

Mata:

Mata:

Mata:

Konj.pucat

Konj.pucat

Konj.pucat

Konj.pucat

Konj.pucat

-/-,SI -/-

-/-,SI -/-

-/-,SI -/-

-/-,SI -/-

-/-,SI -/-

Leher: JVP 5-2 Leher: JVP 5-2 Leher: JVP 5-2 Leher: JVP 5-2 Leher: JVP 5-2
cmH2O
Paru:

cmH2O
SN Paru:

cmH2O
SN Paru:

cmH2O
SN Paru:

cmH2O
SN Paru:

SN

vesikuler, rh-/-, vesikuler, rh-/-, vesikuler, rh-/-, vesikuler, rh-/-, vesikuler, rh-/-,
wh -/-

wh -/-

wh -/-

wh -/-

wh -/-

Jantung: BJ I-II Jantung: BJ I-II Jantung: BJ I-II Jantung: BJ I-II Jantung: BJ I-II
reg, m (-), g (-)

reg, m (-), g (-)

reg, m (-), g (-)

reg, m (-), g (-)

reg, m (-), g (-)

Abdomen: BU Abdomen: BU Abdomen: BU Abdomen: BU Abdomen: BU


(+)
chess

normal, (+)
board chess

phen (-), NT (-)


Ekst:

normal, (+)
board chess

phen (-), NT (-)

Akral Ekst:

normal, (+)
board chess

phen (-), NT (-)

Akral Ekst:

normal, (+)
board chess

phen (-), NT (-)

Akral Ekst:

normal,
board

phen (-), NT (-)

Akral Ekst:

Akral

hangat, CRT <2 hangat, CRT <2 hangat, CRT <2 hangat, CRT <2 hangat, CRT <2
detik

detik

detik

detik

detik
21

KGB: benjolan KGB: benjolan KGB: benjolan KGB: benjolan KGB: benjolan
di

inguinal, di

multiple,

inguinal, di

multiple,

inguinal, di

multiple,

inguinal, di

multiple,

inguinal,

multiple,

ukuran terbesar ukuran terbesar ukuran terbesar ukuran terbesar ukuran terbesar
2x2

cm, 2x2

cm, 2x2

cm, 2x2

cm, 2x2

cm,

lunak, mobile, lunak, mobile, lunak, mobile, lunak, mobile, lunak, mobile,

nyeri (-)

nyeri (-)

nyeri (-)

nyeri (-)

nyeri (-)

Diare kronik ec susp

Diare kronik ec susp

Diare kronik ec susp

Diare

Diare kronik ec susp ca

proses

amoebiasis dd/ca colon

amoebiasis dd/ca colon

colon

Anemia

Anemia

Anemia

spesifik

dd/amoebiasis

colon

dd/ca

colon

mikrositik

hipokrom
Anemia

kronik ec ca

mikrositik

hipokrom

ec

perdarahan GIT

mikrositik

hipokrom

ec

perdarahan GIT

perdarahan GIT

ec

keganasan

hipokrom

ec

perdarahan

ec
Limfadenopati

mikrositik

Limfadenopati

ec

keganasan

GIT

ec

keganasan

masalah selesai
Limfadenopati

Limfadenopati susp.TB

Limfadenopati

ec

keganasan

dd/keganasan
P

RDx/

RDx/

RDx/

LED,

LED,

RDx/

LED,

LED,

LED,

DPL+diff

DPL+diff

DPL+diff

DPL+diff

DPL+diff

count

count

count

count

count

Tes
mantoux

RDx/

Tes
mantoux

negatif

lengkap

Pemeriksaa
n

feses

lengkap

darah samar

Pemeriksaa

feses

feses

lengkap

darah samar

Pemeriksaa

feses

lengkap

darah samar

feses

lengkap

darah samar

Pemeriksaa
n

Pemeriksaan

normal

Kolonoskop
i

Kolonoskop
i

Kolonoskop

22

Kolonoskop

Petanda
tumor CEA

tumor CEA

BTA feses
RTh/

RTh/
Diet

sudah

kkal/hari

Biopsi KGB
anak

RTh/

sebar

biasa

oma

1700

kkal/hari

IVFD RL/8

RTh/

jam

IVFD

Diet

biasa

Metronidaz
ol

3x500

mg

Ciprofloxaci

aminofluid/

iv

Ciprofloxaci

Parasetamol
3x500

mg

k/p

Parasetamol

k/p

n 2x400 mg

Ciprofloxaci
n 2x400 mg
iv

n 2x400 mg
iv

Metronidaz
ol

Ciprofloxaci

drip

3x500 mg iv

n 2x400 mg
iv

mg

IVFD

24 jam

drip

Parasetamol

k/p

mg

k/p

IVFD RL/8

mg iv

Metronidaz
ol

jam

Parasetamol
3x500

drip

3x500 mg iv

Metronidazo
l drip 3x500

3x500 mg iv

3x500

Metronidaz
drip

IVFD

24 jam

IVFD

24 jam

3x500 mg iv

kkal/hari

24 jam

aminofluid/

aminofluid/

1700

aminofluid/

IVFD RL/8

IVFD

IVFD RL/8
jam

jam

ol

24 jam

tumor CEA

IVFD RL/8

aminofluid/

Petanda

biasa

kkal/hari

biasa

kkal/hari

jam

adenokarsin

Diet
1700

dilakukan

Diet
1700

biasa

1700

Diet

RTh/

Kolonoskop
i

Biopsi KGB

Petanda

23,6

darah samar

BTA feses

Parasetamol
3x500

mg

k/p

23

Ciprofloxaci
n 2x400 mg
iv

Tanggal

26/9/2011

BAB cair, kotoran padat sedikit, lendir (+), darah (+) berkurang, anus terasa
sakit.
Muncul benjolan 1 bulan yl di selangkangan

CM/TSS
TV: 120/80mmHg, 86x/mnt, 36,50C, 20x/mnt
Mata: Konj.pucat -/-,SI -/Leher: JVP 5-2 cmH2O
Paru: SN vesikuler, rh-/-, wh -/Jantung: BJ I-II reg, m (-), g (-)
Abdomen: BU (+) normal, chess board phen (-), NT (-)
Ekst: Akral hangat, CRT <2 detik
KGB: benjolan di inguinal, multiple, ukuran terbesar 2x2 cm, lunak,
mobile, nyeri (-)

Diare kronik ec ca colon


Limfadenopati ec keganasan

RDx/

LED, DPL+diff count

Kolonoskopi

RTh/

24

Diet biasa 1700 kkal/hari

IVFD RL/8 jam

IVFD aminofluid/24 jam

Metronidazol drip 3x500 mg iv

Parasetamol 3x500 mg k/p

Ciprofloxacin 2x400 mg iv

Pemeriksaan

Tanggal 12/9/11

Gambaran Darah Tepi


Eritrosit

Mikrositik hipokrom

Leukosit

Kesan jumlah menurun, morfologi normal

Tombosit

Kesan jumlah dan morfologi normal

Kesan

Anemia

Saran

mikrositik

hipokrom

dengan

leukopenia
SI, TIBC, feritin

Pemeriksaan

Nilai rujukan

Hasil
25

12/9/11
HEMATOLOGI
Hemoglobin

13,2-17,3 g/dl

12,3

Hematokrit

3-45 %

37

Leukosit

5.0-10.0 ribu/ul

3.6

Trombosit

150-440 ribu/ul

254

Eritrosit

4.40-5.90 juta/ul

5.09

LED

37.0

VER/HER/KHER/RDW
VER

00.0-100.0 fl

72.5

HER

26.0-34.0 pg

24.1

KHER

32.0-36.0 g/dl

33.2

RDW

11.5-14.5 %

13.4

Basofil

0-1%

Eosinofil

1-3%

Netrofil

50-70%

53

Limfosit

20-40%

30

Monosit

2-8%

13

Luc

<4,5

Retikulosit

0,5-1,5%

0.3

Natrium

135-147 mmol/l

141

Kalium

3.10-5.10 mmol/l

3.67

Klorida

95-108 mmol/l

103

HITUNG JENIS

ELEKTROLIT

26

Pemeriksaan

Nilai rujukan

Hasil
13/9/2011

HEMOSTASIS
APTT

27,4-39,3 detik

32,0

APTT kontrol

35,2

PT

11,3-14,7 detik

14,1

PT kontrol

13,5

INR

1,06

Hasil biopsi KGB tanggal 20/9/2011:


Makroskopik:
Dilakukan FNAB benjolan inguinal kiri 4 buah slide dan kanan 2 buah slide hapusan.
Mikroskopik:
Sediaan hapusan aspirat FNAB region inguinal bilateral sangat seluler
Terdiri dari sel-sel berinti besar, sangat pleomorfik, kromatin besar, menggumpal, hiperkromatik,
anak inti mencolok, sitoplasma banyak, basofilik, beberapa sel berinti bizarre. Sel tersebar
27

difuse, sebagian berkelompok membentuk struktur asiner, latar belakang serabut jaringan ikat,
eritrosit dan limfosit mature.
Kesan:
Anak sebar keganasan, jenis adenokarsinoma.

Hasil pemeriksaan tanggal 20/9/2011:


Tes mantoux: negative

Pemeriksaan

Nilai rujukan

Hasil
22/9/2011

HEMATOLOGI
Hemoglobn

13,2-17,3 g/dL

13,2

Hematokrit

33-45%

41

Lekosit

5,0-10,0 ribu/uL

7,1

Trombosit

150-440 ribu/uL

440

Eritrosit

4,40-5,90 juta/uL

5,69

VER

80,0-100,0 fl

72,8

HER

26,0-34,0 pg

23,2

KHER

32,0-34,0 g/dl

31,9

RDW

11,5-14,5 %

13,9

VER/HER/KHER/RDW

HITUNG JENIS
28

Basofil

0-1 %

Eosinofil

1-3 %

Netrofil

50-70 %

67

Limfosit

20-40 %

25

Monosit

2-8 %

Luc

<4,5

140-300 u/l

283

Natrium

135-147 mmol/l

142

Kalium

3,10-5,10 mmol/l

3,90

Klorida

95-108 mmol/l

102

Kalsium total

8,80-10,30 mg/dl

9,50

<=5 ng/mL

23,60

JANTUNG
LDH
ELEKTROLIT DARAH

PETANDA TUMOR
CEA

Pemeriksaan

Hasil
23/9/2011

MAKROSKOPIK
Konsistensi

Lunak

Warna

Coklat

Unsur lain
Nanah

Negative

Lendir

Negative

Darah

Negative
29

MIKROSKOPIK
Lekosit

0-1/LPB

Eritrosit

4-6

Lemak

Negative

E. Coli

Negative

E. Histolytica

Negative

Amilum

Negative

Serat otot

Negative

Serat tumbuhan

Negative

Telur cacing

Negative

Lain-lain

Negative

30

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah
padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam.
Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 4 minggu.
Klasifikasi
Klasifikasi diare kronik berdasarkan penyebabnya terdiri dari:
Diare inflamasi.
Diare Inflamasi ditandai dengan adanya demam, nyeri perut, fases yang berdarah dan berisi
lekosit serta lesi inflamasi pada biopsy mukosa intestinal. Mekanisme inflamasi ini dapat
bersamaan dengan malabsorbsi dan meningkatnya sekresi intestinal.
Pada pasien tanpa penyakit sistemik, adanya fases yang berisi cairan atau darah tersamar
kemungkinan suatu neoplasma kolon atau proktitis ulcerative.

31

Terjadinya diare kronik yang berdarah dapat disebabkan oleh Collitis Ulcerativa atau Chrons
Disease. Diare yang terjadi pada IBD penyebabnya adalah kerusakan absorbs permukaan epitel
dan pelepasan kedalam sirkulasi oleh sekretagogue seperti leukotriens, prostaglandins, histamin
dan sitoksin lain yang merangsang sekresi intestinal atau system saraf enteric. Kolonoskopi dapat
melihat menyempitnya lumen, ulcerasi, perubahan inflamasi difus dan karakteristik mukosa
telengiektasi yang dapat menyebabkan perdarahan berat.
Diare juga terjadi sebagai hasil malabsorbsi asam empedu yang disebabkan oleh inflamasi ileal
atau pertumbuhan bakteri dari striktur instestinal atau stasis.

Diare Osmotik.
Diare osmotic terjadi jika cairan yang dicerna tidak seluruhnya diabsorbsi oleh usus halus akibat
tekanan osmotic yang mendesak cairan ke dalam lumen intestinal. Peningkatan volume cairan
lumen tersebut meliputi kapasitas kolon untuk reabsorbsi, nutrient, dan obat sebagai cairan yang
gagal dicerna dan diabsorbsi. Pada umumnya penyebab diare osmotic adalah malabsorbsi lemak
atau karbohidrat. Malabsorbsi protein secara klinik sulit diketahui namun dapat menyebabkan
malnutrisi atau berakibat kepada defisiensi spesifik asam amino. Variasi kelainan ini
dihubungkan dengan malabsorbsi dan maldigesti. Maldigesti intraluminal terjadi karena
insufisiensi eksokrin pancreas jika kapasitas sekresi berkurang sampai 90%. Keadaan ini terjadi
pada pancreatitis kronik, obstruksi duktus pancreas, kolestasis, dan bacterial overgrowth.
Diare osmotic dapat terjadi akibat gangguan pencernaan kronik terhadap makanan tertentu.
Kelainan congenital spesifik seperti tidak adanya hidrolase karbohidrat atau defisiensi lactase
pada laktosa intolerans dapat juga menyebabkan diare kronik. Pasien dengan celiac sprue
32

ditandai dengan gangguan pertumbuhan, otot kecil, distensi abdomen, defisiensi besi, retardasi,
dan anoreksia. Pada tropical sprue ditandai dengan malabsorbsi dan perubahan histologik usus
halus berupa atrofi villus, hiperpasia kripta, kerusakan epitel permukaan dan infiltrasi
mononuclear ke lamina propria.
Malabsorbsi intestinal (Whipple disease) manifestasi berupa artralgia, demam, menggigil,
hipotensi, limfadenopati, dan keterlibatan system saraf. Reseksi intestinal yang luas dapat
menyebabkan short bowel syndrome berupa steatore akibat tidak adekuatnya absorbs,
menurunya transit time, dan short bowel sindrom adalah efek osmotic cairan non absorbsi,
hipersekresi gaster, dan beberapa penyebab dari pertumbuhan bakteri.
Diare Sekretori.
Diare sekretori ditandai oleh volume feses yang besar oleh karena abnormalita cairan dan
transport elektrolit yang tidak selalu berhubungan dengan makanan yang dimakan. Diare ini
biasaya menetap dengan puasa. Pada keadaan ini tidak ada malabsorbsi larutan. Osmolalitas
feses dapat diukur dengan unsure ion normal tanpa adanya osmotic gap pada feses.
Diare sekretori berat dapat terjadi pada reseksi atau bypass dari ileum distal sedikitnya 100 cm.
Diare terjadi akibat stimulasi sekresi kolon oleh garam empedu dihidroksi yang absorbsinya pada
illeum terminal (diare kolerik). Dengan mencegah kontraksi kandung empedu dan membawa
sejumlah besar empedu ke intestine melalui puasa dapat mengeliminasi diare ini. Asam empedu
yang menyebabkan diare dapat terjadi sesudah kolisistektomi karena kehilangan kapasitas
penyimpanan dari kandung empedu.

Perubahan Motilitas Intestinal (Altered Intestinal Motility).


33

Diare ini disebabkan oleh kelainan yang menyebabkan perubahan motilitas intestinal. Kasus
paling sering adalah Irritable Bowel Syndrome. Diare ini ditandai dengan adanya konstipasi,
nyeri abdomen, dan rasa tidak sempurna dalam defaksi. Pada beberapa pasien dijumpai
konstipasi dengan kejang perut yang berkurang dengan diare, kemungkinan disebabkan kelainan
motilitas intestinal. Diare yang banyak dan inkontinen sering terjadi pada pasien Diabetes tipe I
yang dihibungkan dengan neuropati berat, nefropati dan ertinopati. Faktor tambahan termasuk
pertumbuhan sekunder bakteri terhadap dismotilitas intestinal, insufisiensi eksokrin pancreas,
celiac sprue (jarang), traumatic neurophaty.

Patofisiologi
Beberapa hal yang dapat menyebabkan diare adalah: (1) Menurunnya absorbsi normal larutan
dalam air, (2) Meningkatnya sekresi elektrolit kedalam lumen intestinal, (3) Adanya absorbsi
yang buruk secara osmosis larutan aktif di lumen usus, (4) Meningkatnya motilitas intestinal, (5)
Penyakit Inflamasi yang menghasilkan darah, pus dan mucus.
Diare sekretori biasanya disebabkan abnormalitas baik absorbsi maupun sekresi elektrolit. Diare
sekretori secara normal berhubungan dengan meningkatnya camp inttraselular. Meningkatnya
camp disebabkan oleh rangkaian kejadian yang dimulai dengan adanya molekul penanda.
Sesudah molekul penanda mengkomplekskan permukaan reseptor sel, suatu G-protein diaktivasi
kedalam membran sel dan menstimulasi produksi cAMP. Meningkatnya camp menghambat
absorbsi NaCL dan menstimulasi sekresi klorida tanpa merubah mekanisme transport lainnya.
Hal ini membuat toksin yang labil dalam keadaan panas seperti basil kolera, menyebabkan diare
dengan meningkatnya camp intraseluler tanpa merusak permukaan mukosa.

34

Kelainan Usus Halus yang menyebabkan atrofi villi seperti celiacsprue sering dihubungkan
dengan sekresi yang abnormal dari elektrolit. Hal ini disebabkan tidak memadainya permukaan
absortif dari sekresi kripta normal.
Asam empedu yang tidak diabsorbsi dan asam-asam lemak dapat menstimulasi sekresi ion dalam
kolon, menyebabkan diare massif yang berlanjut walaupun dalam keadaan puasa. Pada diare ini
yang menoonjol adalah air dan elektrolit. Osmolalitas fecal secara keseluruhan dapat dihitung
dengan mengukur Na+,K+,CL, dan HCO3- dengan gap larutan fecal (osmolalitas plasma
2(Na+ + K+) mendekati nol.

Diare osmotic disebabkan oleh akumulasi larutan yang sulit diserap dalam lumen intestinal.
Terdapat tiga mekanisme utama yang menyebabkan hal ini. (1) Makan larutan yang sulit
diabsorbsi seperti laktulosa, SO4-2, PO4-3atau Mg2+, (2) Malabsorbsi secara menyeluruh, (3)
Kegagalan mengabsorbsi komponen diet yang spesifik seperti lactose.
35

Diare osmotic dapat dicegah secara sempurna melalui puasa dengan mengeliminasi intake
larutan yang menyebabkan diare.

Pendekatan Diagnostik
a. Anamnesis
Anamnesis yang lengkap sangat penting dalam assessment penderita dengan diare kronik.
Gejala mengarah dugaan organic jika didapatkan diare dengan durasi kurang dari 3 bulan,
predomian nocturnal atau kontinyu disetai penurunan berat badan yang signifikan. Malabsorpsi
sering disertai dengan steatore dalam volume yang besar. Bentuk inflamasi dan sekretorik kolon
ditandai dengan pengeluaran tinja yang cair disertai dengan darah atau lendir. Factor resiko
spsifik yang meningkatkan dugaan diare organic antara lain:
1. Riwayat keluarga: terutama keganasan, penyakit celiac, inflammatory bowel disease
2. Riwayat operasi sebelumnya: reseksi ileum dan kolon kaan menyebabkan diare
karena penurunan jumlah permukaan absorpsi, peningkatan malabsorpsi karbohidrat
dan lemak, penurunan transit time, malabsorpsi asam empedu. Pertumbuhan bakteri
berlebih juga dapat terjadi pada situasi ini, terutama pada operasi bypass seperti pada
operasi lambung dan bypass jejunoileal pada obesitas. Diare kronis juga dapat terjadi
setelah cholesystektomy melalui mekanisme peningkatan transit usus, malabsorpsi
asam emedu dan peningkatan siklus enterohepatik asam empedu.
3. Penyakit sistemik tirotoksikosis, diabetes mellitus, penyakit kelanjar adrenal, dan
sklerosis sistemik dapat menjadi predisposisi diare melalui berbagai mekanisme

36

termasuk efek endokrin, disfungsi autonomic, pertumbuhan bakteri berlebih di usus


halus, dan pemakaian obat-obatan.
4. Alcohol diare banyak terjadi pada pemakai alcohol. Mekanismenya meliputi transit
usus yang cepat dan penurunan aktifitas disakaridase usus.
5. Obat-obatan: lebih dari 4% kasus diare kronis terjadi karena obat-obatan, terutama
produk yang mengandung magnesium, antihipertens, non steroid anti inflammatory
drugs (NSAIDs), theohyline, antibiotic, antiaritmia, dan anti neoplastik agen.
6. Pemakaian antibiotic dan infeksi Clostridium dificille
7. Defisiensi lactase
8. Penderita dengan infeksi HIV/AIDS
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik lebih berguna untuk menentukan keparahan diare daripada menemukan
penyebabnya. Demam dan tanda lain toksisitas perlu dicari. Pemeriksaan fisik abdomen dengan
melihat dan meraba distensi usus, nyeri terlokalisir atau merata, pembesaran hati atau massa, dan
mendengarkan bising usus. Tanda limfadenopati menandakan AIDS atau limfoma. Tanda-tanda
arthritis mungkin dijumpai pada inflammatory bowel disease. Pemeriksaan rectum dapat
memperjelas adanya inkontinensia feses.
c. Pemeriksaan awal
Tes darah.

37

Abnormalitas seperti laju endap darah yang tinggi, anemia, albumin darah yang rendah
memperkuat dugaan adanya penyakit organic. Penapisan dasar untuk dugaan malabsorpsi
meliputi hitung darah lengkap, urea, dan elektrolit, tes fungsi hati, vitamin B12, folat, calcium,
feritin, laju endap darah, c-reaktif protein, tes fungsi tiroid.

Tes serologi untuk penyakit Celiac.


Penyakit Celiac merupakan penyebab enteropati usus kecil terbanyak di negara barat, yang
ditandai dengan diare karena steatore dan malabsorpsi.
Pemeriksaan feses.
Pemeriksaan feses dibedakan menjadi tes spesifik dan tes non spesifik. Pemeriksaan spesifik
diantaranya tes untuk enzim pancreas seperti elastase feses. Pemeriksaan non spesifik
diantaranya osmolalitas feses dan perhitungan osmotic gap mempunyai nilai dalam membedakan
diare osmotic, sekretorik, dan diare factitious. Osmolalitas feses yang rendah <290 mosmol/kg
menandakan kontaminasi urin, air, atau intake cairan hipotonik berlebihan. Osmolalitas cairan
feses sama dengan serum jika pasien menggunakan laksansia, diare osmotic atau diare
sekretorik. Osmotic gap dapat dipergunakan untuk memperkirakan peranan elektrolit dan non
elektrolit dalam terjadinya retensi air didalam lumen intestinal. Pada diare sekretorik elektrolit
yang tidak diabsorpsi mempertahankan air dalam lumen, sedangkan pada diare osmotic
komponen non elektrolit menyebabkan retensi air. Osmotic gap pada diare osmotic >125
mosmol/kg, sedangkan pada diare sekretorik <50 mosmol/kg.
38

Pada diare kronik dengan dugaan penyebab agen infeksius dilakukan kultur feses dan
pemeriksaan mikroskopis infeksi oleh protozoa seperti amoeba dan giardia lamblia dapat
menimbulkan diare yang kronis. Pemeriksaan tinja segar dalam 3 kali ulangan untuk menemukan
telur, kista, parasit.
Pemeriksaan darah samar digunakan untuk skrining keganasan.
d. Pemeriksaan penunjang
Enteroskopi dan kapsul endoskopi.
Enteroskopi diindikasikan untuk perdarahan gastrointestinal tersamar (occult bleeding) yang
tidak ditemukan pada endoskopi konvensional, untuk diagnostic radiologis pada kecurigaan lesi
jejnum atau ileum, utuk evaluasi penderita dengan malabsorpsi dan diare.
Kapsul endoskopi ditujukan untuk diagnosis kondisi saluran cerna seperti perdarahan,
malabsorpsi, nyeri perut, penyakit Chrons, enteritis infeksius, celiac sprue, dan ulserasi yang
diinduksi obat.
Sigmoidoskopi dan kolonoskopi.
Sigmoidoskopi rigid tanpa persiapan dapat dilakukan pada penderita rawat jalan untuk menilai
rectum dan feses. Fleksibel sigmoidoskopi lebih dipilih karena dapat mencapai sigmoid dan
kolon desenden sekaligus melakukan biopsi untuk pemeriksaan histopatologi.
Kolonoskopi diperlukan untuk screening dan diagnostic kondisi seperti colitis mikroskopik dan
limfositik.
Tes non invasive untuk malabsorpsi.
39

Pemeriksaan untuk malabsorpsi meliputi pengukuran substansi tidak terserap dalam darah, urine,
atau deteksi bahan tersebut dalam feses. Untuk malabsorpsi lemak dilakukan pemeriksaan lemak
feses dengan pengukuran lemak tidak tersera pada feses tampung selama 3 hari.

40

Pengobatan
Pengobatan untuk diare kronis tergantung etiologi spesifik, bisa bersifat kuratif, supressif, atau
empiris. Jika penyebabnya dapat ditentukan maka dilakukan terapi kuratif, seperti reseksi pada
karsinoma kolorektal. Pada diare karena pertumbuhan bakteri belebih di usus halus, diterapi
dengan antibiotika. Pilihan adalah tetrasiklin, dapat juga diberikan metronidazole, ciprofloxacin,
doxsiklin, atau amoksisilin. Diare dapat dikontrol dengan supressi terhadap mekanisme yang
mendasari meliputi eliminasi lactose dari diet pada diare karena defisiensi lactase, eliminasi
gluten pada celiac sprue, adsorvent agent seperti cholestiramin pada malabsorpsi garam empedu,
penghambat pompa proton seperti omeprazole pada hipersekresi lambung pada kasus
gastrinoma.

41

Pengobatan penderita IBD pada prinsipnya bertujuan untuk menurunkan atau menghilangkan
gejala. Pemilihan obat berdasarkan beratnya gejala dan efek samping obat. Terapi berupa 5 ASA
dan kortikosteroid. Khusus pada penyakit Chrons diberikn antibiotika berupa metronidazole,
ciprofloxacin, atau kombinasi. Tropical sprue dengan dugaan penyebab defisiensi nutrisi dan
penyebaran agen infeksius memberikan respon terhadap asam folat dan tetrasiklin. Colitis yang
ditandai penebalan lapisan subepitel kolon dapat diberikan sulfazalazin atau kortikosteroid.
Jika penyebab spesifik maupun mekanisme yang mendasari tidak dapat diketahui, terapi
dilakukan secara empiris. Pada diare cair yang ringan-sedang dapat diberikan golongan opiate
ringan seperti loperamid. Klonidin dapat diberikan untuk mengontrol diabetic diare. Untuk
semua penderita diare kronis, penggantian cairan dan elektrolit merupakan komponen penting
dalam managemen. Untuk kasus dengan steatore kronis diperlukan replacement vitmin larut
dalam lemak.

42

Komplikasi

43

44

Tumor Kolorektal
Tumor kolorektal dibagi dalam dua kelompok, yaitu polip kolon dan kanker kolon.
Epidemiologi
Kanker kolorektal di dunia mencapai urutan ke-4 dalam hal kejadian, dengn jumlah pasien lakilaki sedikit lebih banyak dari perempuan. Penyakit tersebut paling banyak ditemukan di Amerika
Utara, Australia, Selandia Baru, dan sebagian Eropa. Secara global, kejadian kanker kolorektal
meningkat tajam setelah usia 50 tahun. Di Indonesia, cenderung untuk usia lebih muda lebih
rentan terkena kanker kolorektal. Distribusi kanker menurut lokasi di kolon adalah tersering di
rektum, dan terjarang di sekum.
Etiologi
Kanker kolorektal timbul melalui interaksi yang kompleks atara factor genetic dan factor
lingkungan. Factor genetic misalnya pada kasus herediter seperti Familial denomatous Polyposis
(FAP) dan Hereditary Nonpolyposis Colorectal Cancer (HNPC). Sedangkan factor lingkungan
yang berperan: konsumsi diet tinggi lemak, karsinogen, hasil metabolism bakteri, konsumsi
alcohol, diet rendah selenium.
Gambaran klinis
Kanker kolorektal (KKR) umumnya berkembang lamban, keluhan dan tanda-tanda fisik timbul
sebagai komplikasi (obstruksi). Obstruksi parsial awalnya ditandai degan nyeri abdomen.
Sedangkan obstruksi total dapat menyebabkan nausea, muntah, distensi, obstipasi.
45

Tumor yang terletak lebih distal umumnya disertai hematochezia atau darah samar dalam feses,
tapi tumor yang proksimal sering disertai anemia defisiensi besi.
Kanker kolorektal umumnya menyebar ke KGB regional atau ke hati melalui sirkulasi vena
portal. Hati merupakan organ yang paling sering mendapat anak sebar KGB. Metastasis jauh ke
hati dapat menimbulkan nyeri perut, ikterus, dan hipertensi portal.
Diagnosis
Keberadaan kanker kolorektal dapat dikenali dari beberapa tanda seperti: anemia mikrositik,
hematochezia, nyeri perut, berat badan menurun, atau perubahan defekasi. Untuk itu perlu segera
diakukan pemeriksaan endoskopi dan atau radiologi. Temuan darah saar di feses memperkuat
dugaan neoplasia namun bila tidak ada darah samar tidak dapat menyingkirkan lesi neoplasma.
Pengobatan
-

Kemorevensi. OAINS termasuk asprin dianggap berhubungan dengan penurunan


mortalitas KKR berdasarkan data epidemiologi

Endoskopi dan operasi. Umunya polip adenomentasi dapat diangkat degan tindakan
polipektomi. Bila ukuran <5 mm maka pengangkatan cukup degan biopsi atau
elektrokogulasi bipolar. Disamping polipektomi KKR dapat diatasi dengan operasi.
Indikasi untuk hemikolektomi adalah tumor di caecum, kolon asenden, kolon
transversum. Tumor di sigmoid dan rectum proksimal dapat diangkat dengan tindakan
LAR (low anterior resection). Reseksi dengan metastasi di hati dapat memberikan hasl
23-35% rata-rata masa bebas tumor (disease free survival rate)

46

Terapi ajuvan. Sepertiga pasien yang menjalani oerasi kuratif akan mengalai rekurensi.
Kemoterapi ajuvan dimaksudkan untuk menurunkan tingkat rekurensi KKR setelah
operasi.

Prognosis.
Predictor prognosis yang buruk setelah operasi total kanker kolorektal:
Sebaran tumor ke KGB regional
Jumlah KGB regional yang terlibat
Penetrasi tumor ke dinding usus
Diferensiasi yang buruk (histology)
Perforasi
Percepatan tumor ke jaringan sekitar
Invasi ke vena
CEA > 5,0 mg/ml pra operasi
Aneuploidi
Kehilangan kromosom yang spesifik

47

BAB III
ANALISA KASUS

1. Diare kronik ec suspek proses spesifik dd/amoebiasis dd/ca colon


Kasus ini didiagnosis diare kronik atas dasar kriteria dari diare kronik yaitu buang air besar
dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair, kandungan air tinja lebih banyak dari
biasanya, serta berlangsung lebih dari 4 minggu. Termasuk diare inflamsi karena terdapat
salah satu tanda diare inflamasi, yaitu BAB berdarah. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
limfadenopati inguinal yang memungkinkan adanya penyebaran limfogen dari kuman TB
maupun adanya keganasan. Pada foto rontgen didapatkan CTR <50% dgn perselubungan di
apex +/+, tapi hasil tes mantoux (-), juga tidak ada gejala-gejala TB paru, maka dapat
menyingkirkan diagnosis banding suspek proses spesifik. Pada pemeriksaan feses lengkap
48

tidak didapatkan parasit tertentu, sehingga dapat menyingkirkan diagnosis banding


amoebiasis. Hasil biopsi limfadenopati inguinal didapatkan anak sebar adenokarsinoma,
kemudian dilakukan pemeriksaan lanjutan, yaitu petanda tumor CEA untuk mencari lokasi
primer karsinoma tersebut. Didapatkan hasil CEA 23,6 ng/ml. Untuk menentukan letak pasti
dari tumor, maka disarankan untuk dilakukan kolonoskopi.
2. Dyspepsia intake sulit
Pasien dikatakan mengalami dyspepsia intake sulit dikarenakan nafsu makan yang berkurang
dan pada pemeriksaan fisik terdapat nyeri tekan pada epigastrium. Setelah beberapa hari
dirawat, nafsu makan pasien mulai membaik.
3. Limfadenopati ec suspek TB paru dd/suspek keganasan
Terdapat limfadeopati pada regio inguinal, multiple, mobile, dan tidak nyeri tekan.
Kemungkinan disebabkan oleh TB dikarenakan adanya foto rontgen yang mengarah ke TB
paru. Tapi setelah dilakukan biopsi, didapatkan hasil anak sebar adenokarsinoma, maka
limfadenopati ini adalah bentuk metastasis dari suatu keganasan di tempat lain.

49