Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MAKALAH

IMMUNOLOGI

PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP SISTEM IMUN

KELOMPOK II
NUR ASTUTI
IKA RAHMA DEWI
ASRIANI
RIDHA SYARIAH
RAHMA A. MADANUANG
ERNIAWATI
CITRA A. AMBATODING

(L 221 12 280)
(L 221 12 276)
(L 221 12 004)
(L 221 12 606)
(L 221 12 009)
(L 221 12 260)
(L 221 12 001)

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pengembangan perikanan budidaya di Indonesia berlangsung demikian
pesatnya melalui ekstensifikasi dan intensifikasi. Kondisi ini tentunya akan
memperbesar peluang berjangkitnya wabah penyakit ikan yang menimbulkan
kerugian ekonomis. Rijkers (1981) menyebutkan, bahwa patogen selalu ada dalam
media hidup ikan. Karenanya masalah penyakit infeksi sewaktu-waktu dapat timbul
dalam kegiatan perikanan budidaya dan bahkan pada ikan-ikan di perairan umum.
Beberapa metode yang telah diterapkan dalam mengontrol penyakit antara lain
penggunaan antibiotik atau bahan kimia, vaksin, probiotik, dan imunostimulan.
Penggunaan antibiotik dalam kolam telah mengakibatkan munculnya patogen yang
tahan terhadap antibiotik (antibiotic-resistant pathogen).
Keberhasilan suatu organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi
mencerminkan keseluruhan toleransinya terhadap seluruh kumpulan variabel
lingkungan yang dihadapi organisme tersebut . Artinya bahwa setiap organisme harus
mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungannya. Adaptasi tersebut berupa
respon morfologi, fisiologis dan tingkah laku. Pada lingkungan perairan, faktor fisik,
kimiawi dan biologis berperan dalam pengaturan homeostatis yang diperlukan bagi
pertumbuhan dan reproduksi biota perairan. Logam berat adalah unsur logam dengan
berat molekul tinggi dan merupakan pencemaran lingkungan yang utama. Umumnya,
logam berat yang menyebabkan pencemaran adalah Cd, Cr, Cu, Hg, Pb dan Zn. Ionion logam berat seperti Timbal sangat berbahaya bagi manusia dan organisme akuatik
sebab Timbal cenderung untuk berakumulasi dalam tubuh khususnya pada jaringan
syaraf pusat.
Pemberian immunostimulan merupakan salah satu alternatif cara yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh khususnya meningkatkan sel darah
putih yang memiliki peranan penting dalam pembentukan antibodi dan respon tubuh
yang non spesifik, sehingga dapat terhindar dari serangan infeksi oleh bakteri. Bahan-

bahan untuk immunostimulant telah banyak digunakan yaitu dari jenis bahan kimia.
Penggunaan bahan nabati yang banyak di hewan lebih ramah lingkungan, saat ini
masih belum banyak digunakan.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi respon kekebalan tubuh pada ikan
antara lain: suhu, kondisi stress, keseimbangan nutrisi, pollutan, mikro-nutrien, dan
unsur-unsur immunomodulator. Sangat jelas bahwa kekebalan tubuh sangat beragam,
dan beberapa diantaranya bersifat alamiah sehingga relatif sulit untuk dikendalikan.
Oleh karena itu, pada makalah ini akan dibahas mengenai Kondisi Stress sebagai
salah satu factor yang dapat mempengaruhi respon kekebalan tubuh pada ikan.
1.2. Tujuan
1. Untuk menegtahui salah satu factor yang mempengaruhi system imun pada
ikan;
2. Untuk memehaami pengaruh kondisi stress pada ikan terhadap system imun
ikan itu sendiri;
3. Untuk mengetahui hal-hal apa yang perlu dilakukan agar organism budidaya
jauh dari kondisi stress.

BAB II
PEMBAHASAN

Budidaya ikan baik ikan air tawar, payau maupun laut sering mengalami
hambatan berupa penyakit terutama penyakit infeksius yang disebabkan oleh patogen
baik berupa parasit, cendawan, bakteri, dan virus. Salah satu langkah yang dipandang
cukup efisien dalam mencegah terjadinya penyakit ini adalah melalui vaksinasi.
Organisme yang divaksin termasuk ikan akan memberikan respons kekebalan setelah
divaksin, respons kekebalan ini yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk
mencegah terjadinya infeksi patogen yang dapat menyebabkan ikan mengalami sakit.
Selama dua puluh tahun terakhir budidaya komersial telah mengalami
ekspansi boros dalam hal utilisasi produksi dan sumber daya. Ikan dan udang
memenuhi kebutuhan protein sebagai sumber energi yang berharga saat ini. Strategi
kebudayaan yang beragam menyebabkan pergeseran pertanian skala kecil untuk
produksi global skala besar. Sebagai intensifikasi dan praktik manajemen telah
meningkat itu memicu terjadinya berbagai jenis stres. Stres membawa perubahan
fisiologis bagi kesehatan itu terkait dengan dan aspek imunologi dari ikan (Sharma,
1991).
Stres

pertama kali digunakan dalam konteks biologis oleh endokrinologi

Hans Selye pada 1930-an. Stres juga dapat disebut sebagai kehidupan semua makhluk
hidup. Stres tingkat rendah dapat berbahaya dan bahkan menguntungkan. Tingkat
sters yang tinggi untuk waktu yang lebih lama menimbulkan masalah kesehatan
sedangkan sebagian besar ikan dapat mentolerir kondisi lingkungan. Stres diinduksi
oleh perubahan lingkungan dan yang membuat individu lebih rentan terhadap
perubahan lingkungan lebih lanjut. Hal ini memainkan peran yang sangat penting
dalam kerentanan terhadap penyakit dan hasil dari proses penyakit. Meskipun stres
telah didefinisikan dalam berbagai cara, komponen dasar secara universal yang sama.

Tipe stressor
Stresor adalah salah satu sarana yang menjadikan ikan stress. Banyak stres
telah diidentifikasi bahwa stress mempengaruhi budidaya. Beberapa diantaranya
sangat mudah ndikendalikan dan tidak membutuhkan biaya yang banyak.
Eksternal dan Internal Stresor:
Stressor eksternal adalah hasil dari kondisi yang merugikan fisik (seperti sakit
atau suhu panas atau dingin) atau lingkungan psikologis stres (seperti kondisi kerja
yang buruk atau hubungan yang kasar).
Stressor internal juga dapat fisik (infeksi dan penyakit lainnya, peradangan)
atau psikologis (misalnya khawatir intens tentang peristiwa berbahaya yang mungkin
atau mungkin tidak terjadi).
Akut dan kronis stres:
Stres akut adalah reaksi terhadap ancaman langsung. Ancaman ini dapat
terjadi dalam keadaan apapun. Ancama langsung ini seperti dalam hal penanganan,
pelindung, transportasi, agresi, kebisingan, getaran dll Namun, dalam sebagian besar
kasus setelah fase akut telah berlalu, kembali tingkat hormon stres ke biasa yang
disebut sebagai respons relaksasi.
Stres kronis memiliki konsekuensi jangka panjang. Stres kronis umumnya
dipengaruhi oksigen terlarut rendah, suhu yang tidak memadai, pH tidak seimbang,
fluktuasi salinitas, logam berat, patogen, organik terlarut tinggi, padatan tersuspensi
tinggi, kekeruhan, racun dll.
Stresor budidaya dapat dibagi menjadi 4:
Campur tangan manusia (yaitu Prosedural)
Perubahan ekstrim dalam lingkungan fisik (yaitu Fisik)
Pencemaran air (yakni Kimia)
Interaksi Hewan (yakni Biologi)
Sebuah tingkat stressor yang masih muda tidak terlalu memberi dampak
terhadap lingkungan. Stresor yang hadir dalam kombinasi mungkin jinak sendiri
tetapi menjadi ancaman yang jauh lebih besar karena mereka hadir bersama-sama.

Pada hewan yang sehat ini mungkin tidak menimbulkan masalah, tetapi bisa
menciptakan masalah serius bagi hewan-hewan yang membawa patogen lain. Ada
banyak pengamatan seperti apa tingkat parameter kimia air tertentu yang bermasalah.
Snieszko adalah orang pertama yang berteori bahwa inang-patogen dan lingkungan
keterkaitan yang berlaku untuk ikan (dan dengan ekstensi untuk udang) penyakit.
STRES RESPON
Ikan menjalani serangkaian perubahan biokimia dan fisiologis dalam upaya
untuk mengimbangi tantangan dari lingkungannya. Jumlah dari semua perubahan tadi
disebut sebagai Stres Response. Tanggapan akut adalah respon adaptif yang
menyediakan ikan dengan cara-cara untuk mengatasi stressor untuk mempertahankan
keadaan normal atau homeostatis nya. Dampak stres abadi Terlalu berat atau panjang
dapat dilihat pada pertumbuhan, ketahanan terhadap penyakit, kemampuan
reproduksi dan kualitas produk berharga akhir.
Fisiologi Stres Response:
Tanggapan diprakarsai oleh Central Nervous System (CNS) dimulai dengan
pelepasan corticotrophin releasing Hormone (CRH) atau corticotrophin releasing
Factor (CRF) dari hipotalamus di otak. The CRF merangsang sel corticotrophic untuk
mengeluarkan adenocorticotrophin (ACTH). The Beredar ACTH, pada gilirannya
merangsang jaringan interrenal (adrenal korteks homolog) terletak di ginjal untuk
sintesis dan melepaskan kortikosteroid, terutama kortisol, ke dalam sirkulasi untuk
distribusi untuk menargetkan jaringan.
Kondisi stress
Stress sangat berpengaruh terhadap status kesehatan ikan. Stress dapat
disebabkan oleh faktor biologis, kimiawi maupun fisik. Imunodepresi diketahui
sebagai faktor sekunder yang berpengaruh terhadap respon suatu organsime terhadap
stress. Banyak hal dalam proses produksi ikan yang dapat mengakibatkan stress
seperti transportasi, kepadatan, penanganan/sorting, dan kualitas air yang buruk dapat
mengakibatkan respon stress terhadap ikan. Apabila terjadi stress, ikan akan bereaksi
dengan mensekresi hormon stress (corticosteroids) dalam jumlah yang cukup tinggi,
dan hormon tersebut diketahui sebagai unsur immunosuppresive. Hormon

glukokortikoid menghambat kerja interleukin yang sangat berperan dalam proses


pematangan sel B menjadi sel plasma penghasil antibodi. Respon stress akan diikuti
dengan penurunan kadar limfosit dalam darah, dan juga di dalam organ-organ limfoid
(Tatang, 2012).
Beberapa respon (stress alarms) yang terjadi apabila ikan mengalami tekanan:
(1). Peningkatan gula darah akibat sekresi hormon dari kelenjar adrenalin. Persediaan
gula, seperti glycogen dalam hati dimetabolisme sebagai persediaan energi untuk
emergensi. (2). Osmoregulasi kacau akibat perubahan metabolisme mineral. Pada
kondisi tersebut, ikan air tawar cenderung mengabsorbsi air dari lingkungan (overhydrate). Ikan air laut cenderung kehilangan air dari dalam tubuh (dehydrate).
Kondisi ini perlu energi ekstra untuk memelihara keseimbangan osmoregulasi. (3).
Pernafasan meningkat, tensi darah meningkat, dan persediaan sel darah merah
direlease ke sistem resirkulasi, dan (4). Respon inflamasi ditekan oleh hormon yang
dikeluarkan dari kelenjar adrenalin (Tatang, 2012).
Dari beberapa respon fisiologis tersebut di atas, sehingga akan sangat jelas
bahwa kondisi stress sangat berpengaruh terhadap respon kekebalan pada tubuh ikan,
pengaruh langsung yang terjadi antara lain: (1). Stress mengakibatkan perubahan
kimiawi pada mukus yang berakibat menurunnya efektivitas pertahanan kimiawi
terhadap infeksi patogen. (2). Handling stress menyebabkan mukus terlepas dari
tubuh ikan, sehingga menurunkan kemampuan proteksi kimiawi, fungsi osmoregulasi
(pada saat yang sama sangat dibutuhkan), menurunkan potensi pelumasan sehingga
ikan perlu energi lebih banyak untuk berenang, dan mengacaukan pertahanan fisik
terhadap infeksi patogen, dan (3). Chemical stress (i.e. Pengobatan penyakit ikan)
sering merusak mukus yang berakibat hilangnya pertahanan kimiawi mukus,
menurunnya fungsi osmoregulasi, fungsi pelumasan, dan pertahanan fisik mucus
(Tatang, 2012).

BAB III
KESIMPULAN

Kondisi stress sangat berpengaruh terhadap respon kekebalan pada tubuh


ikan, pengaruh langsung yang terjadi antara lain: (1). Stress mengakibatkan
perubahan kimiawi pada mukus yang berakibat menurunnya efektivitas pertahanan
kimiawi terhadap infeksi patogen. (2). Handling stress menyebabkan mukus terlepas
dari tubuh ikan, sehingga menurunkan kemampuan proteksi kimiawi, fungsi
osmoregulasi (pada saat yang sama sangat dibutuhkan), menurunkan potensi
pelumasan sehingga ikan perlu energi lebih banyak untuk berenang, dan
mengacaukan pertahanan fisik terhadap infeksi patogen, dan (3). Chemical stress (i.e.
Pengobatan penyakit ikan) sering merusak mukus yang berakibat hilangnya
pertahanan kimiawi mukus, menurunnya fungsi osmoregulasi, fungsi pelumasan, dan
pertahanan fisik mucus.

DAFTAR PUSTAKA

Ellis, A.E. (Ed.). 1988. Fish Vaccination. Academic Press, San Diego.
Rijkers, G.T. 1981. Introduction to fish immunology. Develop. and Comp. Immunol.
hal 5: 527-534
Sharma, B. B., and Dash, G. 1991. Influence of Stress on Immune System of Fish.
Department of Aquatic Animal Health.Faculty of Fishery Sciences, West
Bengal University of Animal and Fishery Sciences. Kolkata - 700094, West
Bengal, India
Tatang. 2012. Faktor yang berpengaruh terhadap Sistem Immunitas Ikan. http://
suksesmina. wordpress.com. Diakses pada hari Kamis, 2 Oktober 2014.