Anda di halaman 1dari 1

Sistem reproduksi oligochaeta

Cacing tanah bereproduksi secara seksual. Umumnya bersifat hermafrodit, tetapi cacing
ini tidak melakukan pembuahan sendiri, melainkan secara silang. Dua cacing yang
melakukan kawin silang menempelkan tubuhnya dengan ujung kepala berlawanan. Alat
kelamin jantan mengeluarkan sperma dan diterima oleh klitelium cacing pasangannya.
Pada saat bersamaan klitelium mengeluarkan mukosa kemudian membentuk kokon.
Sperma bergerak ke alat reproduksi betina dan disimpan di reseptakel seminal. Ovum
yang dikeluarkan dari ovarium akan dibuahi oleh sperma. Selanjutnya, ovum yang telah
dibuahi masuk ke dalam kokon. Telur bersama kokon akan keluar dari tubuh cacing dan
menjadi individu yang baru. Telur menetas setelah tiga minggu dan dapat menghasilkan
2-20 lebih secara sekaligus bayi cacing.

Sistem reproduksi polychaeta


Polychaeta memiliki kelamin terpisah. Perkembangbiakannya dilakukan secara seksual.
Pembuahannya dilakukan di luar tubuh dan terutama di dalam air. Telur yang telah
dibuahi akan menjadi larva yang disebut trakofora. Zigot-trakofora-juvenil. Pada
reproduksi aseksual, tubuh melakukan epitoksi (pembentukan individu reproduktif) dan
hewan menjadi tampak 2 bagian.

Sistem reproduksi hirudinea


• Monoceous
• ♂: 4-12 ps testis. 1 ps ductus spermaticus.
• ♀: 2 ovarium & Oviduct yg berhub dgn kel albumin & vagina dimedian yg bermuara di
blkng porus genitalia ♂
• Tdk ada tkt larva
• Lintah mbtk kokon yg mgd telur yg telah dibuahi & kokon akan diletakkan dlm
air/tanah.