Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS

Seorang Anak Laki-Laki


dengan Keluhan Nyeri
Perut
Raysa Angraini (030.10.233)
Mohammad Haikal B. (030.10.181)

IDENTITAS
Nama

: An. Muhammad Fiqih Febrian

Umur

: 5 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki


Alamat

: PHP pengasinan blok 04/3. Rawa Lumbu

Agama

: Islam

Suku

: Sunda

Status

: Belum menikah

Pekerjaan

: Siswa

Pendidikan

: TK

Tanggal masuk RS : 28 Oktober 2014

ANAMNESIS
Keluhan Utama
Nyeri perut sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS)

Keluhan Tambahan
Mual, muntah, demam,dan diare

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke UGD RSUD Kota Bekasi pada tanggal 28 Oktober
2014 dengan keluhan nyeri perut kanan sejak 3 hari SMRS. Keluhan
muncul tiba-tiba dan dirasakan terus-menerus. OS juga mengalami
demam sejak 3 hari SMRS. OS mual dan muntah 2 hari SMRS.
Muntah berisi makanan, tidak terdapat darah. Os juga mengeluh
diare sesampainya di UGD RSUD Bekasi. Diare sebanyak 2 kali,
sebanyak kurang lebih satu gelas. Feses berisi ampas, tidak ada
lendir, dan darah

ANAMNESIS
(29 Agustus 2014)

Riwayat Penyakit Dahulu


OS tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. OS
belum pernah dirawat inap di rumah sakit.

Riwayat Penyakit Keluarga


Keluarga tidak ada yang mengalami hal serupa.

Riwayat Kebiasaan
OS mengaku BAB lancar rutin setiap hari. Selalu
makan makanan berserat. OS jarang jajan di luar
rumah.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Tanda Vital
Mata

Kesan sakit
Kesadaran
Kesan gizi

: tampak sakit sedang


: compos mentis
: baik

Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Nadi
: 64x/menit
Frekuensi pernafasan : 18x/menit
Suhu
: 36,80c

Refleks cahaya (+/+) isokor, Konjungtiva


anemis (-/-), sklera ikterik (-/-).

Telinga

Bentuk normal, nyeri tekan auricular (-/-), sekret


(-/-).

Hidung

Bentuk normal, septum deviasi (-), sekret(-),


pernafasan cuping hidung (-).

Mulut

Bibir tampak pucat, mukosa mulut pucat (-).

Leher

Tidak terdapat pembesaran tiroid dan kelenjar


getah bening.

PEMERIKSAAN FISIK
Thorax
Cor
Inspeksi
: tidak tampak ictus cordis
Palpasi :
ictus cordis teraba setinggi ICS V 2cm medial dari garis
midclavicularis
Perkusi : Batas kanan jantung pada garis sternalis kanan setinggi ICS III
dan IV
Batas kiri jantung pada 2cm medial dari garis midclavikularis kiri setinggi
ICS V
Auskultasi : S1 S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Pulmo
Inspeksi
: pergerakan nafas simetris kiri dan kanan, retraksi sela iga (-)
Palpasi
: vokal fremitus simetris
Perkusi
: suara sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Suara nafas vesikuler, ronchi (-), wheezing (-)

PEMERIKSAAN FISIK
ABDOMEN

EKSTRIMITAS

Inspeksi : tampak buncit, sagging of the


flanks (-), smilling umbilicus (-),
eflorosensi bermakna (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi : supel, nyeri tekan (+) di
kwadran kanan bawah, tidak terdapat
pembesaran lien dan hepar.
Perkusi : suara timpani, shifting dullness
(-), nyeri ketuk (+) di seluruh perut

Edema tungkai(-)
Akral hangat keempat ekstrimitas (+)

PEMERIKSAAN LAB
(28 OKTOBER 2014)

PEMERIKSAAN LAB

PEMERIKSAAN LAB

PEMERIKSAAN LAB

PEMERIKSAAN LAB

PEMERIKSAAN LAB

DIAGNOSIS
DIAGNOSIS KERJA
Peritonitis akut e.c. Apendisitis perforata

DIAGNOSIS BANDING
Demam Tifoid
Gastroenteritis

PENATALAKSANAAN
Rawat inap
IVFD RL 14 tpm
Injeksi ceftriaxon 1x1gr/IV

Sanmol 3x150mg/IV
Ranitidin 2x1/3 amp
Zinkid 2xI cth
Probiokid
Rencana operasi 29 oktober 2014

FOLLOW-UP
(30 Oktober 2014)

: Os masih merasa nyeri di daerah jahitan. Mual (-), muntah (-), BAB (-), BAK lancar.

: Tanda Vital

TD : 120/80 mmHg
Nadi : 64x/menit
Pernafasan : 18x/menit
Suhu : 36,7 0C
CA (-/-), SI (-/-), Thorax : DBN, Abdomen: datar, supel, NT (+), timpani, Ekstrimitas : DBN

: Post appendictomi per laparotomi-Peritonitis akut e.c appendisitis perforasi

: infus RL 14 tpm
ceftriaxon 1x1gr (2)
Sanmol 3x1 cth

Ranitidin 2x 1/3 amp


Zinkid 2x1
Probiokid 2x1

PROGNOSIS
Ad vitam

: dubia ad bonam

Ad functionam

: dubia ad bonam

Ad sanationam : ad bonam

APENDISITIS
PERFORASI
TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI
Appendix terlihat pada minggu
ke-8 kehamilan sebagai suatu
tonjolan pada Caecum
Vaskularisasi Appendix berasal
dari percabangan A. ileocolica
Panjang Appendix pada orang
dewasa bervariasi antara 2-22
cm, dengan rata-rata panjang
6-9 cm
Variasi lokasI yang akan
mempengaruhi lokasi nyeri
perut yang terjadi apabila
Appendix
mengalami
1,2

DEFINISI
Apendisitis Akut:
suatu radang yang timbul secara
mendadak pada apendiks dan merupakan salah satu
kasus akut abdomen yang paling sering ditemui.

Apendisitis Perforasi: pecahnya apendiks yang sudah


ganggren yang menyebabkan pus masuk ke dalam
rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum. Pada
dinding appendiks tampak daerah perforasi dikelilingi
oleh jaringan nekrotik.

EPIDEMIOLOGI &
ETIOLOGI
Epidemiologi:

Pada semua umur

Insidens teringgi kelompok umur 20-30 tahun

Insidens laki-laki= perempuan, kecuali pada umur 20-30


tahun laki-laki > perempuan

Etiologi

Obstruksi lumen merupakan penyebab utama apendisitis.


Sumbatan dapat disebabkan oleh hiperplasia jaringan limfe,
fekalit, tumor apendiks, dan juga cacing askaris. Erosi
membran mukosa apendiks dapat terjadi karena parasit
seperti Entamoeba histolytica, Trichuris trichiura, dan
Enterobius vermikularis

PATOGENESIS
Obstruksi lumen (fekalit, tumor, dll)

Mukus yg diproduksi akan mengalami bendungan

Peningkatan tekanan intra lumen/ dinding apendiks

Aliran darah berkurang

Edema dan ulserasi mukosa Apendisitis akut fokal

Terputusnya aliran darah

Nyeri epigastrium

Obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri menembus dinding

Peradangan peritoneum

Apendisitis supuratif

Aliran arteri terganggu


Nyeri di daerah
kanan bawah

Infark dinding apendiks

Gangren

Dinding apendiks rapuh


Infiltrat

Infiltrat apendikularis

Perforasi

Apendisitis perforasi

DIAGNOSIS

Gambaran Klinis:

Rasa sakit di daerah epigastrum, daerah periumbilikus, di seluruh


abdomen atau di kuadran kanan bawah
Anoreksia, mual, dan muntah
Demam tidak tinggi (kurang dari 380C), kekakuan otot, dan konstipasi.

Pemeriksaan Fisik:
Inspeksi: perut kembung(+) Penonjolan perut kanan bawah
masaa atau abses periapendikuler.

pada

Palpasi: Mc Burney Sign , Rovsing sign, Blumberg sign


Perkusi: Pekak hati menghilang pada perforasi
Auskultasi: Normal, peristaltik (-) pada peritonitis generalisata akibat
apendisitis perforata

Rectal Toucher
Uji Psoas

Uji Obturator
Characteristic
Alvarado Score:

Score

M = Migration of pain to
the RLQ

A = Anorexia

N = Nausea and vomiting

T = Tenderness in RLQ

R = Rebound pain

E = Elevated temperature

L = Leukocytosis

S = Shift of WBC to the left

Total

10

Dinyatakan
appendisitis akut
bila skor > 6 poin

PENATALAKSANAAN
Perawatan Kegawatdaruratan:
Pemasangan infus terapi kristaloid.
Pasien dipuasakan
Analgesik dan antiemetik parenteral untuk kenyamanan pasien.
Antibiotik intravena spektrum luas untuk gram negatif dan anaerob
diindikasikan.

Tindakan Operasi:
Apendiktomi (pemotongan apendiks)
Laparotomi jika apendiks mengalami perforasi

KOMPLIKASI
Massa periapendikuler

Terjadi bila apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau


dibungkus oleh omentum dan/ atau lekuk usus halus.

Apendisitis perforasi
Pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar ke
rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak
awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam

Peritonitis
Bila infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan
timbulnya peritonitis umum.

Pemeriksaan Laboratorium:
Pemeriksaan darah
Pemeriksaan urin

Pemeriksaan Radiologi:
Foto polos abdomen
USG
Barium enema

CT-Scan
Laparoscopi

DAFTAR PUSTAKA
1.
Lally KP, Cox CS, Andrassy RJ, Appendix. In: Sabiston Texbook of
Surgery. 17th edition. Ed:Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL.
Philadelphia: Elsevier Saunders. 2004: 1381-93
2.
Jaffe BM, Berger DH. The Appendix. In: Schwartzs Principles of
Surgery Volume 2. 8th edition. Ed: Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn
DL, Hunter JG, Pollock RE. New York: McGraw Hill Companies Inc. 2005:111934
3.
Way LW. Appendix. In: Current Surgical Diagnosis & Treatment. 11
edition. Ed:Way LW. Doherty GM. Boston: McGraw Hill. 2003:668-72
4.
Human Anatomy 205. Retrieved at October 20th 2011 From: http://www
.talkorigins.org/faqs/vestiges/vermiform_Appendix.jpg
5.
http://www.med.unifi.it/didonline/annoV/clinchirI/Casiclinici/Caso10/Appendicitis1
x.jpg

DAFTAR PUSTAKA
6.
Ellis H, Nathanson LK. Appendix and Appendectomy. In : Maingots
Abdominal Operations Vol II. 10th edition. Ed: Zinner Mj, Schwartz SI, Ellis H,
Ashley SW, McFadden DW. Singapore: McGraw Hill Co. 2001: 1191-222
7
Soybel DI. Appedix In: Surgery Basic Science and Clinical Evidence
Vol 1. Ed: Norton JA, Bollinger RR, Chang AE, Lowry SF, Mulvihill SJ, Pass HI,
Thompson RW. New York: Springer Verlag Inc. 2000: 647-62
8
Prinz RA, Madura JA. Appendicitis and Appendiceal Abscess. In:
Mastery of Surgery Vol II. 4th edition. Ed: Baker RJ, Fiscer JE. Philadelphia.
Lippincott Williams & Wilkins. 2001: 1466-78
9
Hardin DM. Acute Appendicitis: Review and Update. American
Academy of Family Physician News and Publication. 1999;60: 2027-34.
Retrieved at October 20th 2011. From:
http://www.aafp.org/afp/991101ap/2027.html
10. http://www.alkalizeforhealth.net/gifs/naturesplatform.gif
11. Owen TD, Williams H, Stiff G, Jenkinson LR, Rees BI. Evaluation of the
Alvarado score in acute Appendicitis. Retrieved at June 25th 2007. From:
http://www.pubmedcentral.nih.gov/picrender.fcgi?artid=1294889&blobtype=pdf