Anda di halaman 1dari 7

A.

Pendahuluan
Sekolah belum berhasil membina peserta didik menjadi lulusan yang
bermoral. Sisi afektif peserta didik teramat lemah bahkan cenderung
mengkhawatirkan pihak keluarga, sekolah, dan masyarakat. Padahal tujuan
utama orang tua menyekolahkan anak adalah agar mereka kelak menjadi pribadi
yang berakhlak, disamping berilmu dan terampil.
Sikap menyimpang peserta didik masih sering terjadi, seperti
tawuran/kekerasan, memakai narkoba, seks bebas, membolos, tidak
mengerjakan PR, dan seterusnya. Sikap-sikap tersebut bertentangan dengan
tujuan pendidikan. Sekolah pun dianggap gagal sebagai institusi pendidikan yang
bertujuan mencerdaskan, menerampilkan, dan mengembangkan segi afektif dan
moral siswa.
Survey yang dilakukan oleh Harvard Seminar Participans mengenai
keinginan dan kebutuhan warga USA terhadap pendidikan umum atau sekolahsekolah
di Amerika Serikat menunjukkan hasil: 16 persen ilmu pengetahuan, 32
persen keterampilan, dan 52 persen nilai, (Reeves, 2002: 76). Kita juga memiliki
harapan yang sama dengan warga Amerika di atas, bahwa di samping cerdas
dan terampil, keluaran sekolah harus berakhlak, yaitu pribadi yang menjunjung
tinggi nilaiperlu diingat bahwa dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP), 40 persen menekankan moral.
Perhatian terhadap pentingnya masalah nilai ini tercantum dalam UU No.
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 Poin 1,
bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Pengelolaan budaya sekolah yang baik merupakan solusi dari
permasalan di atas. Budaya sekolah dapat dipelajari dari manifes-manifes yang
muncul dalam bentuk-bentuk perilaku dan simbol-simbol karakteristik sekolah.
Artikel ini bertujuan mengkaji konsep budaya sekolah secara teoritis.
B. Pembahasan
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991: 149) mendefinisikan budaya
dalam dua pandangan, pertama, hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi)
manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat; kedua, menggunakan
pendekatan antropologi, yaitu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai
makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta
pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.
Kotter dan Heskett (1992: 3-4) menulis bahwa budaya adalah the
qualities of any specific human group that are passed from one generation to the
next. Keduanya juga mengutip makna budaya menurut American Heritage
Dictionare, the totality of socially transmitted behavior patterns, arts, beliefs,
institutions, and all other product of human work and thought characteristics of a
community or population.
Manajemen Budaya Sekolah untuk Mengembangkan Nilai 2
Deal dan Peterson (1990: 4) mengartikan budaya sekolah sebagai Deep
patterns of values, beliefs, and traditions that have formed over the course of the
schools history.
Dari beberapa pengertian tentang budaya di atas, dapat disimpulkan
bahwa budaya sekolah adalah pengetahuan dan hasil karya cipta komunitas
sekolah yang berusaha ditransformasikan kepada peserta didik, dan dijadikan
pedoman dalam setiap tindakan komunitas sekolah. Pengetahuan dimaksud
mewujud dalam sikap dan perilaku nyata komunitas sekolah, sehingga

menciptakan warna kehidupan sekolah yang bisa dijadikan cermin bagi siapa
saja yang terlibat di dalamnya. Contoh sederhananya adalah kebiasaan murid
mencium tangan guru dan rutinitas senam/olah raga pada Jumat di sekolah.

Guru sebagai Teladan


Proses pendidikan terarah pada peningkatan penguasaan pengetahuan,
kemampuan, keterampilan, pengembangan sikap dan nilai-nilai dalam rangka
pembentukan dan pengembangan diri peserta didik, (Sukmadinata, 2007: 25);
Menurut Sukmadinata (2006: 195), Tujuan utama kegiatan guru dalam mengajar
ialah memengaruhi perubahan pola tingkah laku para siswanya.
Dalam KBM setiap guru bertindak sebagai pendidik. Bertutur dan bertindak
selalu yang baik. Guru tidak menghukum secara fisik, tapi dengan teguran dan
nasihat; sesekali member hadiah bagi siswa yang berprestasi. Kita diingatkan, If
we wish to establish morality, we must abolish punishment, (Brumbaugh &
Lawrence, t.th.: 114).
Di kelas guru memahami bahwa semua peserta didik sama, sehingga tidak
cenderung pada anak-anak tertentu. Perilaku guru di kelas sangat penting dan
berpengaruh bagi peserta didik, apalagi berkaitan dengan pendidikan moral.
Ormord (2003: 136) menulis, Many aspects of moral thinking and moral behavior
are apparently influenced by observation and modeling.
Para peserta didik akan hidup dalam masyarakat, karena itu para guru
perlu mengkomunikasikan persoalan sosial, etik, dan konsekuensi politis dari
suatu perbuatan, (Pinar, 2004: 16). Guru menyadari bahwa esensi pendidikan
adalah menjadikan peserta didik yang bermoral dan religious. Bahkan menurut
Whitehead (1957: 26), The essence of education is that it be religious.
Para pendidik memberikan pendidikan kepada para peserta didik dengan
apa yang mereka perlihatkan, katakan, perbuat, berikanseharusnya dalam
pergaulan pendidikan, para pendidik hanya memperlihatkan hal-hal positif, yang
ingin tumbuh dan berkembang pada peserta didik, (Sukmadinata, 2007: 29).
Proses pendidikan moral itu kadang tidak disadari oleh guru, padahal
mereka telah menjalankannya. Hal ini seperti ditulis Kohlbergh (1981: 6),
Although moral education has a forbidding sound to teachers, they constantly
practice it. They tell children what to do, make evaluations of childrens behavior,

and direct childrens relations in the classrooms. Some times teachers do these
things without being aware that they are engaging in moral education, but the
children are aware of it.
Beberapa aspek penting pendidikan dalam teladan ditulis Ajami (2006:
131), yaitu:
1. Manusia saling memengaruhi satu sama lain melalui ucapan, perbuatan,
pemikiran, dan keyakinan.
2. Perbuatan lebih besar pengaruhnya dibanding ucapan.
3. Metode teladan tidak membutuhkan penjelasan.
Umar bin Utbah berkata kepada guru anaknya: Hal pertama yang harus
Anda lakukan dalam mendidik anakku adalah memperbaiki dirimu sendiri, karena
Manajemen Budaya Sekolah untuk Mengembangkan Nilai 3
matanya melihatmu. Kebaikan baginya adalah apa yang kau lakukan, dan
keburukan adalah apa yang kau tinggalkan, (Ajami, 2006: 132).
Dikatakan: carilah guru yang baik agamanya untuk mengajar anakmu,
karena agama anak tergantung pada agama gurunya. Rasulullah Saw. adalah
teladan utama bagi muslimin, QS Al-Ahzab: 21. Ia teladan dalam keberanian,
konsisten dalam kebenaran, pemaaf, rendah hati dalam pergaulan dengan

tetangga, pada sahabat, dan keluarganya. Demikianlah, pendidik harus


meneladani Rasulullah Saw.
Dalam syair Arab disebutkan, Perbuatan satu orang di hadapan seribu
orang lebih baik dibanding perkataan seribu orang di hadapan satu orang (Filu
rajulin f alfi rajulin khairun min qauli alfi rajulin fi rajulin). Betapa kita
membutuhkan pendidik yang saleh dalam akhlak, perbuatan, sifat, yang bisa
dilihat oleh muridnya sebagai contoh. Ajami (2006: 133) menulis, Para murid
bisa lupa perkataan pendidik, tapi mereka tidak akan pernah melupakan sikap
dan perbuatannya.
Al-Quran mencela orang-orang yang mengatakan apa yang tidak mereka
kerjakan, Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan
sesuatu yang tidak kamu kerjakan? QS Ash-Shaf: 2. Jangan melarang sesuatu
sedangkan engkau melakukannya, aib besar jika engkau melakukannya (L
tanha an khuluqin wa tatiya mitslahu run alaika idz faalta adzmu).
Demikian syair Arab melukiskan. Hal senada diungkapkan dalam QS Maryam:
28.
Menurut Carr dan Wellenberg (Kohlberg, 1981: 8) guru bisa meningkatkan
sistem nilai dengan melakukan beberapa hal berikut ini:
1. Be a good teacher.
2. Help young people to asses conflict situation and to gain in sight into the
development of constructive values and attitudes. Situations arise daily in
which pupils can receive praise that will reinforce behavior that
exemplified desired values.
3. Show young people how to make generalizations concerning experience
through evaluation and expression of desirable values.
4. Help student acquire and understanding of the importance of values that
society considers worthwhile.
5. Aid children to uphold and use positive values when confronted by
adverse pressure from peers.
Sia-sia seorang guru mengajarkan kebaikan jika ia sendiri bukan sosok
pribadi yang baik. Pribadi guru yang baik mengajar dan mendidik dengan
perkataan dan perilakunya di hadapan murid, disengaja maupun tidak disengaja.
Disadari ataupun tidak, peserta didik selalu belajar dari figur guru dan orangorang
yang dianggapnya baik. Dengan demikian, harus ada banyak sosok guru,
kepala sekolah, orang tua, yang benar-benar baik dan saleh, sehingga mereka
selalu belajar nilai-nilai dan perilaku baik dari sebanyak mungkin figur. Anak-anak
membutuhkan contoh nyata tentang apa itu yang baik melalui sikap dan perilaku
orang-orang dewasa. Hal ini lebih mudah dan efektif bagi anak-anak dibanding
sekedar ucapan dan tulisan.
Perkembangan Moral
Peck dan Havighurst mendasarkan teorinya atas pandangan psiko-sosial
mengenai motivasi moral manusia. Mereka mendapatkan lima tipe kepribadian
yang berbeda-beda, yakni tipe:
1. Amoral (anak itu ego-sentris, fokusnya pada dirinya sendiri).
Manajemen Budaya Sekolah untuk Mengembangkan Nilai 4
2. Expedient (ia patuh, belum ada sistem moral internal).
3. Conformist (ia menyesuaikan diri, takut akan ditolak dan tak diterima, ia
menerima sistem moral dalam kelompok sosialnya).
4. Irrational conscientious (ia mempunyai sistem moral yang tak fleksibel
dalam penerapannya, ia berpegang dengan ketat pada kode moralnya
dan tak rela menyimpang sedikitpun orang lain).
5. Rational altruistic (ia mengembangkan sistem moral yang tinggi
sehingga rela berkorban bagi kepentingan orang lain), (Cronbach, 1954:
578-587).

Henderson (1960: 114) menulis, We can find the basis for morality in our
own natures, in the conduct necessary to realize our best potentialities and the
kind of society in which man could live as man. Peserta didik pada dasarnya
mengetahui nilai-nilai moral, tugas pendidik adalah menguatkan dan
membimbing mereka agar cenderung pada kebaikan, menghindari dan
mencegah keburukan.
Kompetensi Siswa
Melalui belajar di sekolah dengan dibantu guru peserta didik dapat
memiliki banyak kompetensi. Kompetensi ini yang akan menjadikannya pribadi
mandiri, mampu bekerja, dan berkepribadian matang dan baik. Kompetensi
membuat seseorangsecara tidak langsungpercaya diri, kuat, dan
memperoleh kehidupan yang layak.
Kompetensi siswa adalah kemampuan siswa sebagai hasil belajar.
Belajar memiliki lima dimensi sebagaimana dikatakan Marzano (1988: 16), yaitu:
a. dimensi sikap-sikap dan persepsi-persepsi positif terhadap belajar;
b. dimensi penguasaan dan pengintegrasian pengetahuan;
c. dimensi perluasan dan penghalusan pengetahuan;
d. dimensi penggunaan pengetahuan secara bermakna;
e. dimensi kebiasaan-kebiasaan berpikir produktif.
Jarvis (1983: 35) mengungkapkan tiga elemen kompetensi, yaitu:
1. pengetahuan dan pemahaman, mencakup disiplin akademik, elemen
psikomotor, hubungan interpersonal, dan nilai-nilai moral;
2. keterampilan-keterampilan, mencakup melaksanakan prosedur-prosedur yang
bersifat psikomotorik dan berinteraksi dengan orang lain;
3. sikap-sikap profesional, mencakup pengetahuan tentang profesionalisme,
komitmen emosi terhadap profesionalisme, dan kesediaan untuk bertindak
secara profesional.
Lebih lanjut UNESCO (Delors, 1997) menekankan pentingnya empat pilar
yang harus dilakukan dalam semua proses pendidikan, yaitu:
a. belajar untuk mengetahui (learning to know);
b. belajar untuk berbuat (learning to do);
c. belajar untuk mandiri (learning to be);
d. belajar untuk hidup bersama (learning to live together).
Budaya Sekolah
Sekolah harus menanamkan sejak dini nilai-nilai utama pada siswa,
sehingga kelak mereka mampu mengamalkan nilai-nilai utama tersebut dalam
kehidupan nyata di masyarakatapa pun profesi mereka. Menurut Kohlberg
(Crain, 2000: 165), Wanted to see people advance to the highest possible stage
of moral thought. The best possible society would contain individuals who not
Manajemen Budaya Sekolah untuk Mengembangkan Nilai 5
only understand the need for social order, but can entertain visions of universal
principles, such as justice and liberty.
Bruner (1973: 52) menulis, For the limits of growth depend on how a
culture assist the individual to use such intellectual potential as he may posses.
Aktivitas, program, dan lingkungan sekolah harus mengajarkan pada siswa
tentang nilai-nilai utama, sehingga mereka bukan hanya tahu baik-buruk, tetapi
menjalankannya dalam kenyataan dan interaksi sehari-hari di sekolah. Gustafson
(1970: 7) menulis, Morality cannot remain merely an intellectual exercise; it must
be put to the test, and children must see it put to the test by themselves and by
others around them in and out of the schools...Morality is put to the test every day

in schools, and we teachers are often found wanting in it. Ketika siswa terbiasa
dengan perilaku, sikap, dan ucapan yang utama di sekolah, maka nilai-nilai
utama bisa menjadi budaya bagi mereka, yang tidak akan mudah luntur oleh
terpaan budaya-budaya negatif. Sebaliknya, budaya utama tersebut akan
menjadi modal berharga bagi kehidupan siswa kelak. Karena, budaya luhur akan
membawa pada keberhasilan dan bahkan kebahagiaan.
Para pengembang kurikulum harus memerhatikan aspek moral, seperti
ditulis John D. McNeil (1977: 213-4), People are becoming increasingly aware
that without a moral base, no governmental, technological, or material approach
to these issues will suffice. Hence, curriculum developers, too, are animated by
an undercurrent of moral concern. Penanaman nilai bisa dilakukan melalui
pengintegrasian nilai ke dalam kurikulum. Karena itu, para guru harus diberi
pemahaman atau pelatihan tentang cara mengintegrasikan nilai tersebut ke
dalam setiap materi pelajaran. Dengan demikian, guru berada di garda depan
penyadaran dan pengembangan nilai.
Manifestasi dan Karakteristik Budaya Organisasi
Kotter dan Heskett (1997: 5) mengungkapkan bahwa budaya organisasi
muncul dalam dua tingkatan, yaitu tingkatan yang kurang terlihat, berupa nilainilai
yang dianut oleh anggota kelompok yang cenderung bertahan meskipun
anggotanya sudah ganti. Nilai-nilai ini sangat sukar berubah dan anggota
organisasi seringkali tidak menyadari karena banyaknya nilai. Tingkatan yang
lebih terlihat berupa pola gaya perilaku organisasi, yakni orang-orang yang baru
masuk terdorong untuk mengikutinya.
Luthan (1981: 563) menyebutkan bahwa karakteristik budaya organisasi
meliputi peraturan-peraturan perilaku yang harus dipenuhi, norma-norma, nilainilai
yang dominan, filosofi, aturan-aturan, dan iklim organisasi. Dengan
demikian, dapat dipahami bahwa budaya dapat diamati, ditelaah, dipelajari, dan
dikembangkan untuk kepentingan kemajuan suatu organisasi melalui berbagai
manifestasi budaya dan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya.
Unsur-unsur dalam Budaya Organisasi Sekolah
Caldwell dan Spink (1993: 69) menyebutkan beberapa unsur budaya
organisasi sekolah, sebagai berikut:
Perwujudan
konseptual/verbal
1. Tujuan sekolah
2. Kurikulum
3. Bahasa
4. Perumpamaan
5. Kisah organisasi
6. Tokoh-tokoh organisasi
7. Struktur organisasi
Manajemen Budaya Sekolah untuk Mengembangkan Nilai 6
Perwujudan dan
simbolisasi
visual/ material
1. Fasilitas dan
perlengkapan
2. Benda-benda dan momen
3. Hiasan dan semboyan
4. Seragam
Perwujudan
perilaku
1. Ritual
2. Upacara

3. Belajar mengajar
4. Prosedur operasional
5. Peraturan, tata tertib,
hadiah, sangsi
6. Dukungan sosial dan
psikologis.
Segala hal (fisik dan non-fisik) yang ada di sekolah merupakan wujud
atau cermin jati diri para pendiri, pemimpin, dan pengelola sekolah. Sekolah perlu
menegaskan pencapaian karakter atau nilai apa saja yang harus dimiliki siswa
setelah belajar selama 6 atau 3 tahun. Hanya dengan cara ini efektivitas sebuah
sekolah bisa diukur.
Fungsi Budaya Organisasi
Robbins (1990: 253) mencatat lima fungsi budaya organisasi, yaitu:
1. membedakan satu organisasi dengan organisasi lainnya,
2. meningkatkan sense of identity anggota,
3. meningkatkan komitmen bersama,
4. menciptakan stabilitas sistem sosial, dan
5. mekanisme pengendalian yang terpadu dan membentuk sikap dan
perilaku karyawan.
Kecuali lima hal di atas, fungsi budaya organisasi adalah:
6. memberikan petunjuk kepada anggota bagaimana bersikap dan
berperilaku;
7. menguji kemampuan pemimpin;
8. meningkatkan daya saing organisasi;
9. memberikan arah atau tujuan organisasi.
Pembentukan dan Pengelolaan Budaya Organisasi
Pada awal kemunculannya, budaya organisasi mengacu pada visi
pendirinya yang dipengaruhi oleh cita-cita internal dan tuntutan eksternal yang
melingkupinya. Pada hakikatnya suatu budaya adalah sebuah fenomena
kelompok. Oleh karena itu, dalam menelaah proses terbentuknya budaya
organisasi tidak dapat dilepaskan dari proses kelompok. Selain itu, proses
kemunculan budaya organisasi memakan waktu yang cukup lama dan pada
umumnya melibatkan seorang tokoh (manajer puncak) yang mengintroduksikan
visi dan misi kepada stafnya, kemudian dijadikan acuan oleh seluruh anggota
kelompok. Secara umum, proses kemunculan budaya organisasi pada periode
early growth dilukiskan seperti pada Gambar berikut.
Pola Umum Proses Kemunculan Budaya
PIMPINAN PUNCAK
Manajemen Budaya Sekolah untuk Mengembangkan Nilai 7
Top manajer atau manajer pada suatu perusahaan yang baru, mengembangkan
dan berusaha mengimplementasikan visi/ filosofi dan/atau arah strategi usaha.

PERILAKU ORGANISASI
Mengimplementasikan pekerjaan. Orang-orang menjalankan tugas dibimbing
oleh filsafat/strategi.

HASIL
Dipandang dari berbagai segi. Organisasi berhasil, dan keberhasilan itu terus
berkesinambungan selama bertahun-tahun.

BUDAYA
Suatu budaya muncul akibat dari visi, dan strategi serta pengalaman yang telah
dimiliki orang-orang dalam mengimplementasikannya.
Sumber: Diadaptasi dari Kotter dan Heskett (1992: 8)

Terbentuknya budaya organisasi berangkat dari filsafat yang dimiliki oleh


pendiri organisasi, selanjutnya budaya tersebut digunakan sebagai kriteria dalam
mempekerjakan karyawan. Tindakan manajemen puncak menentukan iklim
umum dari perilaku yang dapat diterima dan tidak. Bagaimana karyawan harus
disosialisasikan akan tergantung pada tingkat keberhasilan yang dicapai dalam
mencocokkan nilai-nilai karyawan baru dengan nilai-nilai organisasi dalam proses
seleksi maupun pada preferensi manajemen puncak oleh metode-metode
sosialisasi.
Di sekolah, karakter atau budaya tertentu yang ingin diterapkan mungkin
muncul pertama kali dari kepala sekolah atau pimpinan puncaknya. Akan tetapi,
budaya tersebut harus didiskusikan dengan anggota yang lainnya. Diskusi antara
pimpinan dan guru serta staf akan memunculkan kesepakatan tentang budaya
apa saja yang ingin ditransformasikan kepada para siswa sebagai anak didik.
Bagaimana strategi pembudayan dan penyediaan fasilitasnya akan mudah
dirumuskan melalui diskusi yang melibatkan banyak pihak di sekolah.
Selanjutnya, sekolah perlu menyiapkan langkah-langkah evaluasi implementasi
budaya tersebut. Keberhasilan penanaman karakter akan sangat tergantung
pada konsistensi program, ketepatan pembelajaran dan metodenya, fasilitas
sekolah, dan keteladanan dari kepala sekolah, guru, dan staf.
C. Kesimpulan
Di antara tugas utama sekolah adalah mengembangkan karakter siswa
melalui kurikulum, pembelajaran, program, lingkungan, dan keteladanan. Setelah
2-3 tahun, karakter tersebut akan menjadi budaya sekolah. Budaya sekolah
terkait karakter tertentu tidak statis, melainkan harus terus dikembangkan sesuai
dengan tuntutan perkembangan zaman dan masyarakat, serta kemajuan
teknologi-informasi. Sekolah harus tegas menunjukkan karakter apa saja yang
ingin dikembangkan, sehingga masyarakat pengguna mampu memilih dan
bahkan mengontrol ketercapaian penanaman karakter tersebut. Sekolah
seharusnya bisa mengajak semua pihak (termasuk stakeholder) untuk saling
bekerjasama mewujudkan lahirnya budaya sekolah yang fokus pada karakter
tertentu. Dengan demikian, upaya sekolah tersebut tidak merupakan sebuah
utopia di tengah kelangkaan dan hilanynya karakter bangsa yang kita cintai