Anda di halaman 1dari 5

Jenis-jenis cacing untuk pakan burung

Om Kicaupada06/03/2010 pukul 19:19/Comments closed

Cacing saat ini digunakan secara luas oleh para penghobi burung
untuk pakan hewan kesayangan mereka. Sebagaimana kita ketahui, cacing adalah
hewan tingkat rendah karena tak bertulang belakang (invertebrata). Dalam konteks
burung, maka kita akan membahas cacing tanah dan kerabatnya yang biasa
diberikan kepada burung. Nah cacing tanah sendiri termasuk kelas oligochaeta
dengan famili terpenting dari kelas ini adalah Megascilicidae dan Lumbricidae. Oke,
sebelum berbicara lebih jauh tentang manfaat cacing untuk burung, ada baiknya kita
berbicara serba sedikit tentang cacing itu sendiri.
Jenis cacing yang paling banyak diternakkan saat ini berasal dari famili
Megascolicidae dan Lumbricidae dengan genus Lumbricus, Eiseinia, Pheretima,
Perionyx, Diplocardi dan Lidrillus. Dan beberapa jenis yang populer antara lain
adalah Pheretima, Perionyx dan Lumbricus. Ketiga jenis cacing tanah ini menyukai
bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan.
1. Lumbricus. Cacing ini berbentuk pipih dengan jumlah segmen sekitar 90-195 dan
klitelum yang terletak pada segmen 27-32. Jenis ini sering kalah bersaing dengan
jenis lain sehingga tubuhnya lebih kecil. Namun bila diternakkan, besar tubuhnya
bisa menyamai atau melebihi jenis lain.
2. Pheretima. Cacing ini bersegmen sampai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak
pada segmen ke 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan silindris berwarna
merah keunguan. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima antara lain cacing
merah, cacing koot dan cacing kalung.
3. Perionyx. Cacung ini berbentuk gilik berwarna ungu tua sampai merah
kecokelatan dengan jumlah segmen 75-165 dan klitelumnya terletak pada segmen
13 dan 17. Perionyx termasuk cacing agak manja sehingga dalam pemeliharaannya
diperlukan perhatian yang lebih serius.
Cacing jenis Lumbricus rubellus memiliki keunggulan lebih dibanding kedua jenis
yang lain di atas, karena produktivitasnya tinggi (penambahan berat badan, produksi
telur/anakan dan produksi bekas cacing kascing) serta tidak banyak bergerak

Beberapa Manfaat Cacing


Dalam bidang pertanian, cacing menghancurkan bahan organik sehingga
memperbaiki aerasi dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur dan
penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi baik. Keberadaan cacing tanah akan
meningkatkan populasi mikroba yang menguntungkan tanaman. Selain itu juga
cacing tanah dapat digunakan sebagai:
1. Bahan Pakan Ternak
Berkat kandungan protein, lemak dan mineralnya yang tinggi, cacing tanah dapat
dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti unggas, ikan, udang dan kodok.
2. Bahan Baku Obat dan bahan ramuan untuk penyembuhan penyakit.
Secara tradisional cacing tanah dipercaya dapat meredakan demam, menurunkan
tekanan darah, menyembuhkan bronchitis, reumatik sendi, sakit gigi dan tipus.
3. Bahan Baku Kosmetik
Cacing dapat diolah untuk digunakan sebagai pelembab kulit dan bahan baku
pembuatan lipstik.
4. Makanan Manusia
Cacing merupakan sumber protein yang berpotensi untuk dimasukkan sebagai
bahan makanan manusia seperti halnya daging sapi atau ayam.
Bahan pakan unggas yang berprotein tinggi dan berasal dari hewan biasanya cukup
mahal. Cacing tanah merupakan salah satu jawaban di dalam mengatasi
kelangkaan masalah protein hewani untuk unggas.
Kandungan protein cacing
Dari hasil penelitian menunjukkan cacing tanah mempunyai kandungan protein
cukup tinggi, yaitu sekitar 72%, yang dapat dikategorikan sebagai protein murni.
Kalau dibandingkan dengan jenis bahan makanan asal hewan lainnya, misalnya ikan
teri yang biasanya dipakai dalam campuran ransum unggas, mempunyai kandungan
protein protein kasar berkisar antara 58-67% dan bekicot dengan kandungan protein
60,90%, masih jauh lebih rendah dibanding dengan cacing tanah.
Apalagi kalau dibandingkan dengan sumber protein dari bahan tanaman, seperti
bungkil kedele, bungkil kelapa dan lain-lain, rata-rata kandungan proteinnya jauh
lebih rendah dibanding cacing tanah. Demikian pula susunan asam amino yang
sangat penting bagi unggas, seperti arginin, tryptophan dan tyrosin yang sangat
kurang dalam bahan pakan yang lain, pada cacing tanah kandungannya cukup
tinggi. Kandungan arginin cacing tanah berkisar 10,7% tryptophan, 4,4% tyrosin,
2,25%.
Oleh karena itu cacing tanah mempunyai potensi yang cukup baik untuk mengganti
tepung ikan dalam ransum unggas dan dapat menghemat pemakaian bahan dari
biji-bijian sampai 70%. Walaupun demikian, penggunaan cacing tanah dalam
ransum unggas disarankan tidak lebih dari 20% total ransum.

Melihat kandungan protein pada cacing ini, maka cacing memang bagus untuk
diberikan kepada burung. Burung apa saja, selama mau makan cacing, boleh saja
diberi cacing.
Selama ini, burung yang sangat suka dengan cacing adalah anis kembang (AK)
dan anis merah (AM). Namun demikian pada prakteknya, cacing juga sering
diberikan untuk burung lain selama burung itu suka memakannya. Perlu
digarisbawahi bahwa kesukaan burung pada cacing, termasuk masalah kebiasaan
yang bisa dibentuk atau dilatih. Artinya, burung yang tidak doyan cacing, bisa dilatih
sedikit demi sedikit agar mau cacing, terutama adalah burung-burung pemakan
serangga dan/atau buah. Sedangkan burung pemakan biji, kebanyakan memang
tidak
suka
cacing.
Sedangkan jenis cacing yang bisa diberikan kepada burung antara lain adalah:
1. Cacing Kristal atau cacing merah (lumbricus rabbelus)

Cacing kristal
Cacing ini biasa digunakan sebagai pakan ikan louhan, dan sering dijual dalam
kantong plastik yang diberi media serbuk sagu dan tanah. Cacing kristal juga biasa
digunakan sebagai umpan mancing dan kesukaan ikan-ikan bersisik seperti wader,
tawes, lokas, jelawat, grass karp dan mujair. Ikan-ikan rawa juga senang dengan
umpan ini di antaranya ikan sepat, betik, gurameh serta ikan oportunis yaitu ikan
lele. Cacing ini dapat tumbuh sampai 10-15 cm dan berwarna merah-coklat gelap.
2. Cacing Bayam (eisenia sp)

Cacing bayam
Cacing ini biasa hidup di pematang-pematang swah atau juga di sayuran yang
membusuk sehingga sering disebut cacing bayam. Dapat tumbuh sampai 40 cm
panjangnya dan warnanya merah pucat. Selain disuka burung, cacing ini disuka oleh
ikan gabus, betutu, jambal, baung dan lele. Karena cacing ini termasuk besar, maka
untuk pemberiannya kepada burung perlu dipotong-potong dulu.
3. Cacing Tanah (lumbricus terestris)

Cacing tanah
Cacing ini di daerah jawa disebut cacing uker, karena biasanya akan melengkung
atau mlungker (bahasa jawa) bila dipegang. Cacing ini mempunya segmen-segmen
yang jelas, warna hitam gelap sampai abu-abu, hidup di tanah membuat liang
mempunyai diameter batang tubuh yang paling besar diantara cacing lainnya dan
karenanya juga perlu dipotong-potong dulu untuk diberikan kepada burung.
4. Cacing Fosfor (lumbricus sp)

Cacing fosfor atau cacing posphor


Cacing ini kalau dipencet akan mengeluarkan getah putih yang sangat lengket di
tangan dan karena mengandung phospor, cairan ini akan terlihat menyala di malam
hari. Ciri khas cacing ini adalah warna tubuhnya merah kecoklatan. Cacing ini
termasuk lincah gerakannya sehingga kadang perlu dimatikan (dengan dipukulpukulkan ke kayu) sebelum diberikan kepada burung. Cacing jenis banyak
dibudidayakan untuk digunakan sebagai bahan baku obat. Cacing ini dapat
berukuran sampai 30 cm. (Sumber:poultryindonesia.com, alfaqirbinmiskin.blogspot,
dan beberapa sumber lainnya).