Anda di halaman 1dari 22

AKUNTANSI LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT

MAKALAH
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Akuntansi Sektor Publik

Disusun Oleh :
Ari Suseno

1203967

Maryam Khoirotunnisa

Arif Rahman

1203496

Muhamad Radinal Ramdhan 1200113

Della Anggita

1206142

Muhammad Asykarullah

1204241

Enggar Tri Hardian

1204180

Mustikawan Irham P.

1203499

Faesal Fazlurahman

1200603

Non Rafqa Sarah S.

1206162

Febrina Lastiar H.

1204057

Riri Risnawati

1200380

Gamelia Kirana

1203929

Tami Nisita Rahmani

1205847

Gibran Haeroni

1206438

Tsabiturrijal Abdurrahman

1206302

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2014

1206589

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha


Penyayang. Kami panjatkan puji dan syukur

Kepada-Nya, karena berkat

lindungan dan karunia-Nya kami dapat mengerjakan tugas ini dengan baik. Tak
lupa shalawat serta salam kami limpahkan kepada baginda Nabi Muhammad
SAW, yang telah memberi kita petunjuk dalam menjalankan perintah Allah SWT
yang mana salah satunya adalah menuntut ilmu. Juga tak lupa kepada pihak-pihak
lain yang telah membantu dalam terselesaikannya tugas ini.
Walau kami sudah mengerjakan tugas ini dengan sebaik-baiknya, kami
mohon maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan. Karena kami
masih dalam tahap belajar, adapun kepada yang terhormat Ibu Aristanti
Widyaningsih, SE. M.Si. kami ucapkan beribu terimakasih, berkat dialah kami
dapat menemukan ilmu-ilmu baru yang mungkin belum kami dapat di bangku
kuliah.
Dari berbagai usaha kami, setidaknya dapat menuangkan ide kami masingmasing sehingga dapat menjadi karya tulis, mudah-mudahan apa yang telah kami
buat ini dapat bermanfaat. Kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam pembuatan tugas ini.

Bandung, Desember 2014


Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR ISI.............................................................................................. ii
BAB I...................................................................................................... 1
PENDAHULUAN....................................................................................... 1
1.1

Latar Belakang............................................................................... 1

1.2

Tujuan......................................................................................... 2

BAB II..................................................................................................... 3
KAJIAN PUSTAKA.................................................................................... 3
2.1
Pengertian Lembaga Swadaya Masyarakat dan Akuntansi Lembaga Swadaya
Masyarakat............................................................................................. 3
2.1.1

Pengertian Lembaga Swadaya Masyarakat......................................3

2.1.2

Pengertian Akuntansi Lembaga Swadaya Masyarakat.........................4

2.2

Sifat dan Karakteristik Lembaga Swadaya Masyarakat..............................5

2.3

Sistem Akuntansi Keuangan Dan Akuntansi Biaya LSM............................7

2.3.1

Sistem Akuntansi Keuangan LSM.................................................7

2.3.2

Penerapan Sistem Akuntansi Biaya LSM.......................................12

2.4

Akuntabilitas Dan Transparansi Lembaga Swadaya Masyarakat.................16

2.5

Jenis Jenis Lembaga Swadaya Masyarakat...........................................18

2.6

Dasar Hukum Lembaga Swadaya Masyarakat.......................................19

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Dengan adanya perubahan pada segmen kualitas laporan keuangan dengan

diberlakukannya standar IFRS (International Financial Reporting Standard)


yang diberlakukan mulai tahun 2011. Maka setiap instansi, organisasi, lembaga
swadaya, dan berbagai lembaga lain sibuk mempelajari aturan baru dalam
penyajian laporan keuangan terbaru, yang mana tentu membutuhkan waktu dan
pemahaman tiap orang akan berbeda. Maka dari itu perlu adanya kerjasama
setiap pihak yang terlibat di dalamnya baik itu pemerintah, perusahaan,
pengusaha, dan lain-lain.Adapun di sektor yang memegang peranan penting
untuk negara kini yaitu sektor publik, yang dikatakan merupakan sektor
penting yang harus diawasi, tentu pengawasan tersebut harus dilakukan secara
berkelanjutan.
Yang menjadi sorotan jelas LSM (lembaga Swadaya Masyarakat) yang
menjadi aspirasi rakyat dalam menghadapi kekuasaan pemerintah yang kadang
tidak berlaku adil. Sehingga di jaman yang modern ini perlu adanya suatu
kajian mengenai pengungkapan dana yang dimiliki LSM, sebab itu akan
menjadi bukti dan kekuatan menghadapi tuntutan hukum. Karena bisa saja
disalahgunakan oleh orang atau pihak yang tidak bertanggungjawab.
Oleh karena itu perlu adanya suatu sistem didalamnya untuk mengawasi
jalannya suatu LSM selama beroperasi, adapun salah satu indikatornya adalah
Laporan keuangan sebuah LSM. Maka dari itu sudah seharusnya ada UndangUndang (UU) / ketentuan yang membahas mengenai LSM tersebut.
Sehingga perlu bagi semua pihak untuk mengetahui bagaimana isi dan
kelengkapan LSM dari sudut keuangan/keekonomian. Untuk itu ada baiknya
agar kita tahu seperti apa Sistem Akuntansi dan Anggaran yang dijalankan oleh
sebuah LSM itu sendiri.
1

1.2

Tujuan
Diharapkan dengan makalah ini bisa disimpulkan keterangan sebagai

berikut :
1. Pengertian lembaga swadaya masyarakat dan akuntansi lembaga swadaya
masyarakat.
2. Sifat dan karakterikstik akuntansi lembaga swadaya masyarakat.
3. Sistem akuntansi keuangan dan akuntansi biaya lsm.
4. Akuntabilitas dan transparansi lembaga swadaya masyarakat.
5. Jenis-jenis LSM
6. Dasar hukum untuk LSM

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Lembaga Swadaya Masyarakat dan Akuntansi Lembaga


Swadaya Masyarakat
2.1.1

Pengertian Lembaga Swadaya Masyarakat


Lembaga

Swadaya

Masyarakat

(disingkat

LSM)

adalah

sebuah organisasi yang didirikan oleh perorangan ataupun sekelompok


orang

yang

secara

sukarela

yang

memberikan

pelayanan

kepada masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan


dari kegiatannya.
Organisasi ini bukan menjadi bagian dari pemerintah ataupun negara.
Oleh karena itu, organisasi ini dikenal juga dengan organisasi non
pemerintah. Sesuai dengan namanya organisasi non pemerintah ini
bersifat mandiri yaitu tidak ada berhubungan langsung secara struktur
maupun koordinasi dengan pemerintah.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) adalah suatu organisasi yang dibentuk oleh
sekelompok orang dimana mereka memiliki kesatuan visi misi diantara
perbedaan yang ada seperti ras, agama, suku, dll untuk mencapai suatu
tujuan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat secara umum serta
tidak ditujukan untuk mencari suatu keuntungan (nirlaba) tertentu.
Organisasi ini memiliki kesamaan dalam organisasi publik lainnya seperti
dalam hal perencanaan dan pengelolaan serta pertanggungjawaban
kepada pihak yang terkait dengan organisasi tersebut juga dengan
masyarakat secara umum yang menjadi sasarannya.
Organisasi non pemerintah atau LSM memang tidak memiliki
hubungan dengan pemerintah. Namun, dalam kegiatannya secara tidak

24

langsung LSM telah banyak membantu program pemerintah. Seperti,


Palang Merah Indonesia (PMI). PMI telah banyak membantu pemerintah
dalam mengumpulkan golongan darah secara sukarela dari masyarakat.
Contoh lain seperti Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI)
yang telah mengampanyekan kegiatan KB selama puluhan tahun sebelum
pemerintah mendirikan BKKBN. Perguruan Taman Siswa telah
mendirikan sekolah sekolah berfaham kebangsaan sebelum Republik
tercinta resmi diproklamirkan. Dari contoh contoh diatas dapat dilihat
bahwa LSM banyak membantu pemerintah dalam menjalankan
programnya serta LSM mampu menjadi mitra yang saling memperkuat
dalam pelakasaan program yang dijalankan pemerintah. Bukan hanya
seperti ancaman yang marak diperbincangkan pada saat ini. Meskipun
sumber dana yang dimiliki oleh LSM berasal dari masyarakat biasa dan
beberapa donatur lainnya.

2.1.2

Pengertian Akuntansi Lembaga Swadaya Masyarakat


Akuntansi adalah proses pengidentifikasian, pengakuan, pencatatan,

dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari suatu organisasi yang


dijadikan sebagai informasi dalam rangka pengambilan keputusan
ekonomi oleh pihak-pihak yang memerlukan. (American Accounting
Association , 1966)
Dari definisi diatas, Akuntansi berperan sebagai penyedia informasi
khususnya informasi keuangan yang akan digunakan untuk pengambilan
keputusan

ekonomi

oleh

para

pengambil

keputusan

dengan

mempertimbangkan setiap informasi yang dihasilkan tersebut.


Akuntansi LSM juga harus memiliki suatu perhitungan keuangan yang
jelas dan transparan dengan memperhitungkan setiap biaya ekonomi dan
biaya sosial yang harus dikeluarkan. Akuntansi LSM merupakan suatu
aktifitas yang harus dilakukan secara tepat untuk menghasilkan sesuatu
yang efisien menimbang segala kegiatan LSM bertujuan untuk urusan
urusan yang berhubungan dengan publik.

24

Setiap organisasi memiliki tujuan yang berbeda beda. LSM memang


bertujuan untuk pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat tanpa
mengarapkan suatu keuntungan (nirlaba) tertentu. Namun, tidak menutup
kemungkinan ada beberapa LSM yang memiliki tujuan keuangan secara
kebetulan. Misalnya, jika LSM tersebut tidak memiliki sumber dana yang
jelas dan pasti, maka secara kebetulan LSM tersebut akan mencari donatur
dan berupaya untuk mencari sumber dana lainnya

2.2

Sifat dan Karakteristik Lembaga Swadaya Masyarakat


Akuntansi LSM berbeda dengan Akuntansi lainnya, dikarenakan LSM
sifat dan karakteristik organisasi LSM tergolong ke dalam organisasi nirlaba
serta organisasi lainnya yang profit oriented dapat dilihat dengan
membandingkan

tujuan

organisasi,

sumber

pendanaan,

pola

pertanggungjawaban, struktur keorganisasian, dan anggaranya.


Tujuan LSM yaitu memperoleh laba tetapi memberikan pelayanan dan
menyelengarakan seluruh aktivitas yang terkait dengan pemberian dana oleh
sebuah lembaga donor yang dibutuhkan maupun yang telah menjadi kegiatan
rutin dalam LSM bersangkutan. Sementara tujuan akuntansi dalam LSM
adalah untuk:
1. Memberikan informasi yang diperlukan dalam mengelola secara tepat,
efisien, dan ekonomis atas suatu kegiatan serta alokasi sumber daya
yang dipercayakan kepada organisasi. Tujuan ini terkait dengan
pengendalian pengelolaan.
2. Memberikan informasi yang memungkinkan pengelola organisasi
untuk melaporkan pelaksanaan tanggung jawabnya mengelola secara
tepat dan efektif program beserta penggunaan sumber daya menjasi
wewenangnya, disamping untuk melaporkan kepada public atau
lembaga pemberi dana hasil operasi organisasi. Tujuan ini terkait
dengan akunbilitas.

24

Informasi Akuntansi bermanfaat sebagai salah satu pedoman dalam


pengambilan keputusan, terutama untuk membantu pengurusan organisasi
dalam melakukan alokasi sumber daya. Informasi Akuntansi juga digunakan
menetukan biaya suatu program atau kegiatan beserta kelayakannya, baik
secara ekonomis maupun teknis.
Manfaat informasi Akuntansi maka pengurus organisasi dapat menetukan
biaya operasional yang akan diberikan kepada masyarakat sasarannya,
menetapkan biaya standar, dan harga yang akan dibebankan kepada LSM
bersangkutan.
Sumber pembiayaan LSM berasal dari lembaga donor dan sumbangan
pihak tertentu. Pertanggungjawaban organisasi LSM merupakan bagian
terpenting dalam menciptakan kredittibilitas pengelolaan yang dijalankan,
ditujukan kepada lembaga atau pihak pemberi dana. Secara kelembagaan
struktur organisasinya tidak terlalu formal.
LSM memiliki keunggulan dibandingkan jenis organisasi lain. Goran
Hayden menggambarkan keunggulan tersebut sebagai berikut :
1. LSM dekat dengan kaum miskin dan punya organisasi terbuka yang
memudahkan informasi keatas.
2. LSM mempunyai staff yang bermotivasi tinggi.
3. LSM mempunyai efektifitas biaya serta bebas dari korupsi.
4. LSM cukup kecil, terdesentralisasi, luwes dan mapan menerima
feedback dari proyek yang dipromosikan.
5. LSM lebih mampu mendorong penggunaan jasa-jasa pemerintah yang
lebih baik.

24

2.3

Sistem Akuntansi Keuangan Dan Akuntansi Biaya LSM.


2.3.1

Sistem Akuntansi Keuangan LSM


Menurut PSAK NO. 45 Tentang Standar Akuntansi untuk Entitas
Nirlaba,

dasar

tuntutan

akuntabilitas,

yang

dalam

hal

ini

pertanggungjawaban keuangan terhadap segala aktivitas pada semua


organisasi LSM adalah PSAK No. 45 mengenai pelaporan keuangan
organisasi nirlaba. Karakteristik organisasi nirlaba berbeda dengan
organisasi bisnis. Dimana perbedaan utama yang mendasar adalah cara
organisasi itu memperoleh sumber dana yang dibutuhkan untuk
melakukan

berbagai

aktivitas

operasionalnya.

Organisasi

itu

memperoleh sumber daya dari lembaga donor dan para penyumbang


lainnya. Jadi dalam organisasi nirlaba, transaksi yang jarang atau tidak
akan pernah terjadi dalam organisasi bisnis manapun akan muncul.
Namun, dalam praktek orgabisasi nirlaba, berbagai bentuk sulit
dibedakan dengan organisasi bisnis pada umumnya.
Pada beberapak bentuk organisasi nirlaba, meskipun tidak ada
kepemilikan, organisasi tersebut mendanai kebutuhan modalnya dari
utang dan kebutuhan operasinya dari pendapatan atau jasa yang
diberikan kepada publik. Akibatnya, pengkuran jumlah, saat kepastian
arus kas masuk menjadi ukuran kinerja penting bagi para pengguna
laporan keuangan organisasi tersebut.
Para pengguna laporan keuangan organisasi nirlaba, dalam hal ini
LSM, memiliki kepentingan bersama yang tidak berbeda dengan
organisasi bisnis, yakni untuk menilai:
1. Jasa yang diberikan oleh LSM dan kemampuannya untuk terus
memberikan jasa tersebut.
2. Cara pengelolah pelaksaan dan pertanggungjawabannya.
3. Aspek kinerja pengelolah.
Kemampuan organisasi untuk terus memberikan jasa dikomunikasinya
melalui laporan keuangan yang menyediakan informasi mengenai
aktiva, kewajiban, aktiva bersih, dan informasi mengenai hubungan di
antara unsur-unsur tersebut. Laporan ini harus menyajikan secara

24

terpisah aktiva bersih baik yang terikat maupun yang tidak terikat
penggunanya.

Pertanggungjawaban

pengelolah

mengenai

kemampuannya mengelolah sumber daya organisasi yang diterima dari


para penyumbang disajikan melalui laporan aktivitas dan laporan arus
kas. Laporan aktivitas harus menyajikan informasi melalui perubahan
yang terjadi dalam kelompok aktiva bersih. Pernyataan ini bertujuan
untuk mengatur pelaporan keuangan organisasi nirlaba, yang dalam ini
adalah organisasi LSM. Denga adanya standar pelaporan, laporan
keuangan organisasi tersebut diharapkan dapat lebih muda dipahami,
memiliki relevansi dan memiliki daya banding yang tinggi.
A. Metode pencatatan akrual
Tujuan dari pelaporan keuangan LSM adalah menyediakan informasi
yang berguna untuk pengambilan keputusan, disamping untuk
menunjukan akuntabilitas suatu organisasi terhadap sumber daya
terpecaya dengan:
a. Menyediakan informasi mengenai sumber-sumber, alokasi, dan
penggunaan sumber daya keuangan.
b. Menyediakan informasi mengenai bagaimana organisasi LSM
menadai aktivitasnya dan memenuhi persyratan kasnya.
c. Menyediakan informasi yang berguna dalam mengevaluasi
kemampuan organisasi LSM untuk menandai aktivitasnya dana
untuk memenuhi kewajiban secara komitmennya.
d. Menyediakan informasi mengenai kondisi
keuangan suatu
organisasi LSM dan perubahan di dalamnya.
e. Menyediakan informasi menyeluruh yang

berguna

dalam

mengevaluasi kinerja organisasi LSM dari segi biaya jasa, efisiensi


dan pencapaian tujuan.
Laporan keuangan LSM juga memainkan peranan preduktif dan
prospektif yang menyediakan informasi yang berguna dalam
memprediksi banyaknya sumber daya yang disyaratkan untuk operasi

24

berkelanjutan, sumber daya yang dapat dihasilkan oleh operasi


berkelanjutan, dan resiko berasosiasi serta ketidakpastian.
Laporan keuangan dapat juga menyediakan informasi kepada
pemakainya , seperti:
a. Menidentifikasikan apakah sumber daya telah didapatkan dan
digunakan sesuai dengan anggaran yang ditetapkan.
b. Mengidentifikasi apakah sumber daya telah didapatkan dana
digunakan sesuai dengan persyaratan, termasuk data keuangan yang
ditetapkan oleh pengambil kebijakan di masing-masing LSM.
Untuk mencapai tujuannya, laporan keuangan LSM harus disusun atas
dasar akrual. Dengan dasar ini pengaruh transaksi dan peristiwa lain
diakui pada saat terjadinya (dan bukan pada saat kas atau secara kas
diterima atau dibayar) serta dicatat dalam catatan akuntansi serta
dilaporkan dalam laporan keuangan periode bersangkutan. Laporan
keuangan LSM yang disusun atas dasar akrual akan memberikan
informasi kepada pemakai tidak hanya transaksi masa lalu yang
melibatkan penerimaan dan pembayaran kas di masa depan serta
sumber daya yang mempresentasikan kas yang akan diterima di masa
depan. Oleh karena itu, laporan keuangan LSM menyediakan jenis
transaksi masa lalu dan peristiwa lainnya yang paling berguna bagi
pemakai dalam pengambilan keputusan.
Laporan Keuangan LSM biasanya disusun atas dasar kelangsungan
usaha organisasi LSM dan dalam melanjutkan usahanya di masa
depan. Oleh karena itu, organisasi ini diasusikan tidak bermaksud atau
berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala
pelayanannya.

B. Karakteristik kualitasti laporan keuangan LSM :


1) Dapat dipahami

24

Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan


keuangan LSM adalah kemudahannya untuk segera dipahami oleh
pemakainya.
2) Relevan
Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi
kebutuhan

pemakai

dalam

proses

pengambilan

keputusan.

Informasi dianggap memiliki kualitas relevan kalau dapat


mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu
mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini, atau masa depan,
menegaskan, atau mengkoreksi hasil evaluasi di masa lalu.
3) Materialitas
Informasi dipandang material kalau kelalaian untuk mencantumkan
atau

kesalahan

mempengaruhi

dalam

mencatat

pengambilan

informasi

keputusan

tersebut

ekonomi

dapat

pemakai

berdasarkan laporan keuangan. Materialitas tergantung pada


besarnya pos atau kesalahan yang dinilai sesuai dengan situasi
khusus dari kelalaian dalam mencantumkan (omission) atau
kesalahan

dalam

mencatat

(misstatment).

Oleh

karenanya,

materialitas lebih merupakan suatu ambang batas atau titik pemisah


daripada suatu karakteristik kualitatif pokok, yang harus dimiliki
agar informasi dipandang berguna.
4) Keandalan atau realibilitas
Agar bermanfaat, informasi juga harus andal. Informasi memiliki
kualitas yang andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan,
kesalahan material, dan dapat diandalkan oleh pemakainya sebagai
penyajian yang tulus dan jujur (faithful representation) dari yang
seharusnya disajikan, atau yang secara wajar diharapkan dapat
disajikan.
5) Penyajian judul
Laporan posisi keuangan harus menggambarkan dengan jujur
transaksi serta peristiwa lainnya dalam bentuk aktiva, kewajiban,
dan ekuitas organisasi LSM, pada tanggal pelaporan yang
memenuhi kriteria pengakuan.
6) Substansi mengungguli bentuk

24

Substansi transaksi atau peristiwa lain tidak selalu konsisten


dengan apa yang tampak dari bentuk hukum.
7) Netralitas
Informasi harus dapat diarahkan pada kebutuhan umum pemakai,
dan tidak bergantung pada kebutuhan serta keinginan pihak
tertentu. Penyajian informasi tidak boleh ditujukan untuk
menguntungkan beberapa pihak dan mendefinisikan pihak lain
yang mempunyai kepentingan yang berlawanan.
8) Pertimbangan sehat
Pertimbangan sehat mengandung unsure-unsur kehati-hatian saat
melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga
aktiva atau pendapatan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan
kewajiban atau biaya tidak dinyatakan terlalu rendah. Namun
demikian, pengguanaan pertimbangan sehat tidak diperkenankan
pembentukan cadangan tersembunyi atau provisi yang berlebihan,
dan sengaja menetapkannya lebih tinggi atau lebih rendah,
sehingga pelaporan keuangan LSM menjadi tidak netral, yang
akhirnya tidak memiliki kualitas yang andal.
9) Kelengkapan
Informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan
materialitas dan biaya. Kesenjangan untuk tidak mengungkapkan
akan mengakibatkan penyesatan informasi, sehingga laporan
keuangan

tidak

dapat

diandalkan

menurut

kualitas

kelengkapannya.
10) Dapat dibandingkan
Pemakai harus dapat memperbandingkan laporan keuangan
organisasi LSM selama beberapa periode untuk mengidentifikasi
kecenderungan posisi keuangan dan kinerja keuangan. Pemakai
juga harus dapat memperbandingkan laporan keuangan organisasi
LSM untuk mengevaluasi posisi keungan, kinerja, serta perubahan
posisi keungan secara relative. Oleh karena itum pengukuran dan
penyajian dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang

24

serupa, harus dilakukan secara konsisten antarperiode organisasi


LSM yang sama atau yang berbeda.
C. Siklus Akuntansi Keuangan LSM
Pada hakikatnya, orang belum dapat dikatakan paham dalam
menyusun laporan keuangan jika belum memahami siklus
akuntansi.

Mengapa

demikian? Akuntansi,

pada

dasarnya,

merupakan suatu proses pengelolahan informasi yang akan


menghasilkan keluaran berupa informasi akuntansi yang salah
satunya adalah laporan keuangan. Adapun alur proses akuntansi
adalah:
1. Pencatatan dan penggolongan (dalam jurnal)
2. Peringkasan (dalam akun-akun buku besar)
3. Penyajian dalam bentuk laporan keuanga, yaitu laporan posisi
keuangan/ neraca, laporan atus kas, dan laporan aktivitas LSM
2.3.2

Penerapan Sistem Akuntansi Biaya LSM.


1. Definisi Akuntansi Biaya LSM
Akuntansi

biaya

adlah

prose

pencatatan,

penggolongan,

peringkasan, dan penyajian biaya pembuatan produk atau jasa serta


penjualannya dengan cara-cara dan penafsiran terhadapnya.
Proses Akuntansi biaya harus memperhatikan karakteristik
akuntasni keuangan dan manajemen organisasi. Proses Akuntansi
biaya meliputi:
a. Pihak luar (eksternal), yaitu memenuhi karakteristik Akuntansi
keuangan yang merupakan bagian dari akuntasi.
b. Pihak dalam ( internal), yaitu memenuhi karakteristik Akuntansi
manajemen yang merupakan bagian dari Akuntansi manajemen.
2. Siklus Akuntansi Biaya LSm.
Bukti Akuntansi biaya LSM sangat dipengaruhi oleh siklus
kegiatan LSM tersebut. Siklus kegiatan LSM dimulai dengan
pembelian barang atau perlatan dan jasa berdasarkan kegiatan

24

program yang telah ditentukan. Tujuan Akuntansi biaya adalah


untuk menyajikan peralatan serta pelaksanan program LSM
tersebut.
3. Klasifikasi Biaya LSM.
Proses dan sistematika Akuntansi biaya dapat dipecahkan
melalui rincian tahap sebagai berikut:
a. Pemahaman mengenai penegrtian biaya.
b. Klarifikasi dan identifikasi biaya yang terjadi di LSM ke
dalam kategori tertentu dengan pendekatan ABC system.
c. Pembuatan konsep perhitungan biaya baru yang akurat dan
informative.
d. Pensimulasi aplikasi model perhitungan biaya.
Perhitungan dalam system pembiayaan dilakukan dalam 2
tingkatan

dasar,

yakni

pengumpulan

dan

penetapan.

Pengumpulan biaya (cost accumulation) adalah pengumpulan


data biaya dengan berbagai cara dan menggunakan sarana
system Akuntansi. Penetapan biaya ( cost assignment) sebuah
istilah yang meliputi: penelusuran atau tracing pengumpulan
biaya pada objek biaya dan pengalokasian kumpulan biaya, di
mana ada biaya objek.
Dari sudut pandang perencanaan dan pengendalian, cara yang
paling

berguna

untuk

mengklarifikasikan

biaya

adalah

berdasarkan perilaku biaya. Perilaku biaya (cost behavior)


berarti bagaimana biaya akan bereaksi terhadap perubahan
tingkat aktivitas lembaga.
Biaya diklasifikasikan ke dalam 2 kategori, yaitu:
1. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tidak
terpengaruhi oleh perubahan kegiatan organisasi. Biaya
tetap mempunyai sifat sebagai berikut:
a. Jumlah totalnya tidak berubah wlaupun kegiatan
berubah.

24

b. Biaya per unit semakin kecil apabila kegiatan semakin


besar
2. Biaya variable merupakan biaya yang jumlah totalnya
dipengaruhi oleh perubahan kegiatan. Biaya variable
mempunyai sifat:
a. Jumlah totalnya ikut berubah secara prposional ketika
kegiatan organisasi berubah.
b. Biaya per unit tidak berubah walaupun kegiatan berubah.
3. Biaya semi variable merupakan biaya yang memiliki unsure
tetap dan variable didalamnya.
4. Biaya langsung adalah biaya yang dipengaruhi secara tidak
langsung oleh adanya

program atau kegiatan yang

direncanakan.
5. Biaya tidak langsung adalah biaya yang tidak terpengaruhi
secara langsung oleh adanya program atau kegiatan.

D. Analisis Biaya LSM


1. Anggaran LSM
Anggaran dapat diinterpretasikan sebagai paket pernyataan
perkiraan penerimaan dan pengeluaran yang diharapkan
akan terjadi selama satu atau beberapa periode mendatang.
2. Prosedur rencana anggaran biaya (RAB)
Pertama buatlah daftar rincian biaya dengan akurat.
Kemudian pisah-pisahkan menjadi item-item yang berbeda,
seperti: gaji, biaya sewa, material, transportasi, komunikasi,
peralatan, pelatihan, dan publikasi. Perhitungan lebih detail
harus ada, jika donaturnya memintanya, dan memasukkan
biaya operasional dalam proposal proyek.
3. Biaya standar

24

Biaya standar adalah biaya yang ditentukan di muka, yaitu


jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membiayai
kegiatan tertentu dengan asumsi kondisi ekonomi, efisiensi,
dan faktor-faktor lainnya.
4. Manfaat biaya standar
Biaya standar akan membantu penyusunan anggaran belanja
program atau kegiatan bagi lembaga yang bersangkutan, ini
berarti biaya standar sangat berpengaruh terhadap proses
pengambilan kegijakan, pengelola lembaga, khususnya
dalam proses penganggaran.
5. Analisis biaya volume laba pada LSM
Sebagai lembaga non-profit, LSM tidak mengenal istilah
laba. Namun dalam hal ini analisis biaya volume laba
digunakan untuk membantu LSM agar tidak mengalami
masalah biaya dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan
program.
E. Laporan Biaya LSM
Laporan biaya LSM dirancang untuk melaporkan apa yang
telah terjadi dengan biaya pelaksanaan kegiatan LSM. Namun
beberapa laporan tidak selalu mengarah pada kegiatan LSM.
Informasi ini berisi laporan yang berasal dari catatan Akuntansi
berupa penerimaan dan pembiayaan.

2.4

Akuntabilitas Dan Transparansi Lembaga Swadaya Masyarakat.


Awalnya, akuntabilitas LSM berkaitan dengan pertanyaan: siapa yang
mereka wakili? Bagaimana kinerja mereka? Akuntabilitas berhubungan bukan
saja dengan pertanyaan bagaimana kinerja yang mereka tampilkan, namun
berkaitan pula dengan pertanyaan apa yang mereka kerjakan dan apa yang
mereka suarakan.
Legitimasi LSM tergantung pada akuntabilitasnya. Legitimasi dapat
diartikan sebagai status tertentu yang dikaruniai dan dirasakan oleh sebuah

24

organisasi pada satu waktu yang telah ditentukan yang memungkinkan


organisasi tersebut beroperasi dengan persetujuan masyarakat, pemerintah,
perusahaan di seluruh dunia (Hgo Slim, By What Authority The Legitimacy
and Accountability of NGO, 2002). Suara akuntabilitas ini harus merespon
dan wilayah interogasi yaitu: veracity (kejujuran) atas apa yang mereka
katakan, dan authority (kewenangan) atas apa yang mereka ucapkan.
A. Pengukuran Akuntabilitas dan Transparansi LSM
Prosedur akuntabilitas tidak dapat secara realistis diharapkan seragam
untuk semua kisaran aktivitas LSM yang luas. Metodologi akuntabilitas
harus dapat dikembangkan secara imajinatif pada setiap konteks ketika
mekanisme tertentu tidak jalan. Meskipun demikian, sistem akuntabilitas
apa pun harus mengakui transparansi sebagai kriteria utama dan spesifik
untuk menyediakan informasi tertentu pada setiap kesempatan.
a) Basic framework
Tuntutan dan akuntabilitas LSM pada masa kini lebih luas dari sekedar
prosedur financial, tetapi lebih kepada melaporkan tentang hubungan,
maksud, tujuan, metode dan dampak, yang memerlukan informasi
kualitatif dan kuantitatif. Proses akuntabilitas harus diawali dengan
mengidentifikasi hak-hak yang terlibat dalam program LSM.
Stakeholder yang relevan dan penyandang tugas atas hak serta isi dari
tugas pada situasi tertentu. Dari analisis tugas dan hak, LSM kemudian
mengidentifikasi tugas spesifiknya dan mengemukakan laporan
tentang hal tersebut sementara tanggung jawab masing-masing
dijalankan.
b) Kepada siapa LSM bertanggung jawab?
Pada beberapa pekerjaan, LSM harus bertanggung jawab terhadap
beberapa kelompok orang yang berbeda, bisa kepada pemegang hak,
beberapa pemegang tugas, stakeholder sekunder, tertier di luar
stakeholder primer yang bertindak sebagai pengamat kritis dan interes.
c) Bagaimana cara mempertanggungjawabkannya?

24

Stakeholder yang berbeda akan memerlukan laporan dengan cara yang


berbeda-beda. Beberapa orang akan mensyaratkan angka-angka,
sementara yang lainnya menginginkan angka dan dampak. Sementara
yang satu menginginkan banyak detail, yang lain hanya memerlukan
poin-poin utama saja. Jadi akuntabilitas akan memerlukan media yang
berbeda-beda. Proses akuntabilitas harus pula melibatkan stakeholder
kunci melalui pertemuan yang representatif, riset, majelis yang
representatif atau sistem voting. Tetapi dasar umum dari mekanisme
akuntabilitas LSM adalah veracity (kejujuran) dan transparency
(keterbukaan). Apa yang dikatakan LSM tentang dirinya, atau laporan
yang disampaikan, harus layak benar, dapat diperoleh dengan mudah
dan aksesibel bagi semua orang.
d) Bagaimana pemerintah daerah melihat LSM yang akuntabel dan
transparan dari sisi kepentingannya?
Keterlibatan LSM di dalam kegiatan pemerintah daerah sudah
diinisiasi sejak tahun 1990-an, utamanya setelah jatuhnya masa
pemerintahan Orde Baru. Orde Reformasi dianggap telah membuka
katup demokrasi sehingga membuka katup demokrasi sehingga
membuka ruang berbagai actor pembangunan, termasuk kalangan
LSM yang pada masa sebelumnya mendapat intimidasi dan represi
yang keras dari pihak pemerintah. Pada masa rescue, beberapa
program pemerintah pusat yang sebagian besar dananya berasal dari
luar

negeri,

mensyaratkan

adanya

keterlibatan

LSM

dalam

pelaksanaannya. Seiring dengan perubahan paradigma yang menurut


adanya keterlibatan luas dari seluruh aktor pembangunan dan
pengurangan peran pemerintah, maka LSM-LSM mulai diminta untuk
terlibat memberikan masukan dalam perumusan kebijakan publik.
Beberapa hal pokok yang umumnya dijadikan pertimbangan bagi
pemerintah daerah dalam menentukan apakah LSM tersebut akuntabel
dan transparan, di antaranya adalah:
a. Mempunyai legal basis yang jelas.

24

b. Susunan kepengurusan dan alamat yang jelas.


c. Anggota yang cukup kapabel dan kompeten.
d. Platform organisasi yang jelas.
e. Demokratis dalam menentukan kebijakan.
f. Tidak terlalu menggantungka diri kepada dan pemerintah.
g. Kegiatannya tidak dipengaruhi oleh pemberi dana yang bisa
berdampak tidak memiliki sikap dan karakter organisasi yang jelas.
h.Memiliki sistem pertanggungjawaban keuangan yang jelas.

2.5

Jenis Jenis Lembaga Swadaya Masyarakat


Jenis dan kategori LSM Secara garis besar dari sekian banyak organisasi
non pemerintah yang ada dapat di kategorikan sebagai berikut :
a. Organisasi donor, adalah organisasi non pemerintah yang
memberikan dukungan biaya bagi kegiatan ornop lain.
b. Organisasi mitra pemerintah, adalah organisasi non pemerintah
yang melakukan kegiatan dengan bermitra dengan pemerintah
dalam menjalankan kegiatanya.
c. Organisasi profesional, adalah organisasi non pemerintah yang
melakukan kegiatan berdasarkan kemampuan profesional tertentu
seperti

ornop

pendidikan,

ornop

bantuan

hukum,

ornop

jurnalisme, ornop kesehatan, ornop pengembangan ekonomi, dll.


d. Organisasi oposisi, adalah organisasi non pemerintah yang
melakukan kegiatan dengan memilih untuk menjadi penyeimbang
dari kebijakan pemerintah. Ornop ini bertindak melakukan kritik
dan pengawasan terhadap keberlangsungan kegiatan pemerintah
Sebuah laporan PBB tahun 1995 mengenai pemerintahan global
memperkirakan ada sekitar 29.000 ONP internasional. Jumlah di
tingkat nasional jauh lebih tinggi: Amerika Serikat memiliki kirakira 2 juta ONP, kebanyakan dibentuk dalam 30 tahun terakhir.

24

Russia memiliki 65.000 ONP. Lusinan dibentuk per harinya. Di


Kenya, sekitar 240 NGO dibentuk setiap tahunnya.

2.6

Dasar Hukum Lembaga Swadaya Masyarakat


Dasar Hukum LSM Lembaga swadaya masyarakat secara hukum dapat
didirikan dalam dua bentuk: Organisasi Massa, yakni berdasarkan Pasal 16631664 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHP Perdata), serta UU No. 8
Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan ("UU Ormas"). Badan
Hukum, yakni berdasarkan Staatsblad 1870 No. 64, serta UU No. 16 Tahun
2001 tentang Yayasan sebagaimana telah diubah dengan UU No. 28 Tahun
2004 ("UU Yayasan"). Dasar Hukum lainnya adalah Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 44 Tahun 2009 tentang Pedoman Kerja Sama Departemen
Dalam Negeri Dan Pemerintah Daerah Dengan Organisasi Kemasyarakatan
Dan Lembaga Nirlaba Lainnya Dalam Bidang Kesatuan Bangsa Dan Politik
Dalam Negeri.