Anda di halaman 1dari 40

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap rasa syukur kehadirat allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat serta hidayatnya sehingga Penyusun telah berhasil
menyelesaikan Makalah Tentang “Sepuluh Ringkasan dan Ulasan Novel
Indonesia” ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam tak lupa kita
haturkan kepada Nabi Besar Muhammad saw, keluarga sahabat serta para
pengikutnya yang senantiasa istiqamah dalam mengemban risalahnya.

Terima kasih Penyusun sampaikan kepada berbagai pihak yang telah


memberikan kontribusi dalam penyelesaian Makalah ini. Terutama kepada Bapak
Dosen Pembimbing.

Tak ada gading yang tak retak, begitu kata pepatah. Demikian juga dengan
Penyusun, sekalipun Makalah ini telah selesai melalui proses dan review yang cukup
lama, namun masih terbuka kemungkinan adanya beberapa kekurangan di dalamnya.
Oleh karena itu, masukan, kritik dan saran sangat kami harapkan untuk lebih
menyempurnakan isi Makalah ini pada kesempatan mendatang.

Mudah-mudahan sedikit yang kami bisa sumbangkan ini, akan dicatat oleh
Allah SWT sebagai bagian dari amal sholeh Penyusun dan akan menjadi ilmu yang
bermanfaat, yang senantiasa akan mengalirkan pahala bagi orang-orang yang
mengajarkannya.

Garut, November 2009

Penyusun

Daftar Isi
Kata Pengantar .................................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................................. ii
Pembahasan
1. Belenggu .................................................................................................. 1
2. Aki ............................................................................................................ 6
3. Pada Sebuah Kapal .................................................................................. 11
4. Kemelut Hidup ......................................................................................... 16
5. Wanita Itu Adalah Ibu .............................................................................. 20
6. Pertemuan Jodoh ...................................................................................... 24
7. Menyongsong Badai ................................................................................ 29
8. Di Atas Puing-Puing ................................................................................ 32
9. Pelabuhan Hati ......................................................................................... 37
10. Wanita itu Adalah Ibu .............................................................................. 41
Daftar Pustaka ..................................................................................................... 44
1. BELENGGU

Pengarang : Armijin Pane (18 agustus 1908-6 Februari


1970)
Penerbit : Dian Rakyat
Tahun : 1940; Cetakan XIII, 1988

D okter Sukartono (Tono) adalah seorang dokter yang bijaksana. la tak


pernah meminta bayaran apabila mengetahui pasiennya adalah orang tidak
mampu hingga ia dikenal sebagai dnkter yang dermawan. Selain itu, ia
mempunyai sifat ramah : terhadap siapa saja yang dikenalnya.

Namun, karena kesibukannya sebagai dokter, Tono hampir tak mempunyai


waktu untuk memberi perhatian kepada Tini (Sumartini), istrinya. Tini yang
merasa tidak mendapat perhatian dari suaminya, mencari kesibukan di luar rumah.
Akibat kesibukan mereka, Tono dan Tini jarang mempunyai waktu bersama-
sama. Hal ini menimbulkan akibat lain, mereka tidak dapat mengkomunikasikan
pikiran masing-masing. Masalah-masalah yang timbul sering hanya dipikirkan
sendiri-sendiri sehingga timbul kesalahpahaman yang sering menimbulkan
pertengkaran yang mewarnai rumah tangga mereka.

Pandangan Tono dan Tini juga berbeda dalam hubungan suami-istri. Tono
berpendapat, tugas seorang wanita adalah mengurus anak, suami, dan segala hal
yang berhubungan dengan rumah tangga. Sebaliknya, Tini menginginkan adanya
persamaan hak antara pria dan wanita. Bahkan, ia menganggap pria sebagai
saingan, sekalipun terhadap suaminya. Akibat pandangannya itu, Tini melupakan
tugasnya sebagai seorang istri.

Sebenarnya, penyebab utama ketidak harmonisan hubungan suami-istri itu


terletak pada tidak adanya rasa saling mencintai di antara mereka. Tono
memperistri Tini karena kecantikan, kecerdasan, dan keceriaan wanita itu yang
dianggap pantas menjadi pendamping seorang dokter seperti dirinya. Bahkan,
Tono tidak mempedulikan keadaan Tini yang tidak perawan lagi ketika menikah.
Di lain pihak, Tini bersedia menjadi istri Tono karena ia ingin melupakan masa
lalunya yang kurang baik. Ia berharap, dengan menjadi istri yang baik, masa
lalunya yang dianggap aib dapat terhapus. Akan tetapi, aib itu selalu membayangi
kehidupannya hingga menimbulkan rasa rendah diri dalam diri Tini.

Kekacauan rumah tangga Tono dan Tini diperburuk dengan hadirnya


orang ketiga, yang memperkenalkan diri sebagai Nyonya Eni. Nyonya Eni
sebenarnya bernama Yah (Siti Rohayah alias Siti Hayati). la seorang penyanyi
keroncong dan juga seorang wanita panggilan. Dahulu, Yah adalah tetangga dan
teman sekolah Tono. Diam-diam, ia mencintai Tono dan mendambakannya
menjadi suaminya. Namun, kemudian, ia menjadi korban kawin paksa dan
akhirnya ia melarikan diri hingga terjerumus dalam lembah kenistaan.

Ketika Yah mengetahui alamat Tono, ia berpura-pura sakit dan memanggil


dokter itu. Berkat pengalamannya bertemu dan bergaul dengan banyak laki-laki,
Yah dapat memikat Tono dalam pelukannya. la mengetahui kelemahan Tini yang
membutakan pikiran dan perasaan terhadap keinginan laki-laki. Kemudian Yah
melimpahkan kasih sayangnya. Bagi Tono, curahan kasih sayang Yah itu tak ia
rasakan dari istrinya sendiri.

Kehadiran Yah bagi dokter itu, justru seolah-olah menemukan kembali


kehangatan cinta yang selama ini ia dambakan. Yah menjadi curahan perasaan
dan keluh-kesahnya. la mulai merasakan, sebuah cinta mulai bersemi di hatinya.
Akhirnya, tempat tinggal perempuan itu menjadi rumah kedua Tono.

Lambat-laun, hubungan gelap mereka diketahui juga oleh Tini. Lalu, tanpa
sepengetahuan suaminya, ia mendatangi wanita yang telah merebut suaminya. Ia
penasaran, macam apakah sosok perempuan itu. "Tini mulai tertarik hatinya. Patut
Tono tertarik. Tidak benar ia penyanyi keroncong, tingkah lakunya tertib. Sambil
merasa heran demikian diikutinya Yah naik tangga, diturutnya ajakan Yah supaya
duduk" (him. 142).

Menghadapi perilaku dan sikap Yah yang begitu santun dan tertib itu, Tini
merasa malu sendiri. Perasaan marah dan cemburu yang dibawanya dari rumah,
luluh sudah, dan berbalik mengagumi perempuan itu. Ia menyadari kelebihan
Yah. la juga menyadari kekurangannya selama ini, telah menyia-nyiakan Tono,
suaminya. Dengan ikhlas Tini menyatakan kerelaannya menerima kenyataan itu;
rela Yah merebut suaminya.

Apa yang ia ketahui tentang Yah dan kenyataan yang ia hadapi dalam
hubungan suami-istri, Tini kemudian membicarakan persoalan itu dengan
suaminya. Betapa terkejut Tono melihat sikap istrinya yang demikian. la berusaha
untuk menahan istrinya agar tetap mau bersamanya. Namun, sikap Tini tetap tak
berubah. Perpisahan suami-istri itu rupanya tak terelakkan lagi. Sungguhpun berat
bagi Tono untuk bercerai dari istrinya, ia sendiri tak dapat memaksakan
kehendaknya. la terpaksa merelakan kepergian istrinya walaupun Tono masih
tetap berharap agar hubungan mereka baik kembali. Kapan pun Tono akan tetap
bersedia menerima Tini kembali.

Sekepergian sang istri, Tono bermaksud mengunjungi Yah di rumahnya.


Namun, betapa terkejutnya Tono, wanita yang selalu menjadi curahan hatinya itu,
kini tak ada lagi. Yah pergi ke New Caledonia. Pergi meninggalkan cinta sang
dokter yang selalu mendambakan kehangatan hidup berumah tangga.

Di sana, di sebuah kapal yang membawanya ke negeri baru, Yah tercenung


sendiri. "Rohayah berbalik ... di sana gelap juga, tapi semangatnya tahu, di
sanalah, lautan lepas, di sana dunia Iain, memang dunia baru, tapi sunyi ... Tono
tidak ada di sana, di New CaIedonia ..." (him. 162).

Tono kini sendiri. Yah telah pergi ke dunia yang baru. Tini juga pergi ke
Surabaya mengabdikan dirinya menjadi pengurus panti yatim piatu di kota itu.

Sungguhpun kini Tono sendiri, ia tidak hanyut dalam kesedihan yang


berlarut-larut. la menekuni bidangnya; mengabdikan diri dalam penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat.

***

S ejauh ini, para pengamat sastra Indonesia selalu menempatkan novel ini
sebagai novel terpenting yang terbit sebelum perang. Sejak kemunculan yang
pertama, 1940, novel ini banyak memperoleh berbagai tanggapan dan pujian.
Semula novel ini ditolak oleh Penerbit Balai Pustaka karena isinya dianggap tidak
sesuai dengan kebijaksanaan Balai Pustaka. Baru pada tahun 1940, penerbit Dian
Rakyat—milik Sutan Takdir Alisjahbana—menerbitkan novel ini yang ternyata
mendapat sambutan luas berbagai kalangan. Novel ini juga dipandang sebagai
novel pertama Indonesia yang menampilkan gaya arus kesadaran (stream of
consciousness).

Pada tahun 1969, novel ini memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintah


Indonesia. Menurut Prof. Liang Liji, dalam makalahnya "Pengajaran dan
Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia di Tiongkok" yang dibawakan dalam
Kongres Bahasa Indonesia V, 28 Oktober 1988, Belenggu, bersama Bila Malam
Bsrtambah Malam dan Jalan Tak Ada Ujung sudah diterjemahkan ke dalam
bahasa Cina. Pada tahun 1989, John H. McGlynn, juga menerjemahkan Belenggu
ke dalam bahasa Inggris dengan judul Shackles yang diterbitkan Yayasan Lontar,
Jakarta.

Studi mengenai novel ini pernah dilakukan Ign. Sumarno (FS UGM, 1971)
sebagai bahan penelitian sarjana mudanya. Penelitian yang lebih mendalam
dilakukan M. Saleh Saad (FS UI, 1963), Robert A. Crawford (University of
Melbourne, 1971), The Shackles of Doubt: Armijn Pane and His Art, serta J
Angles (Australian National University, Canberra, 1988) berjudul "The Fiction of
Armijn Pane." Pada tahun 1982, R. Carle (RFJ, Berlin) membuat tafsiran atas
novel Belenggu dalam penelitiannya yang berjudul "Die Gedankkliche Exposition
des Romans Belenggu von Armijn Pane." Pada tahun 1988, J. Djoko S.
Passandaran (FKIP, Universitas Palangkaraya) meneliti novel Belenggu sebagai
novel eksistensial.

Hingga kini, berbagai ulasan dan tanggapan, baik berupa makalah ilmiah
maupun artikel, masih banyak yang membahas novel ini, dengan berbagai tafsiran
dan sudut pandang.

Novel Belenggu yang pertama kali muncul di majalah Pujangga Baru, No.
7, 1940 ini sebenarnya ditulis Armijn Pane, tahun 1938. Pada tahun 1965, novel
ini terbit dalam edisi bahasa Melayu di Kuala Lumpur dan hingga kini terus
mengalami cetak ulang.
2. AKI

Pengarang : Idrus (21 September 1921-18 Mei 1979)


Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1949
P enyakit TBC yang diidap Aki menyebabkannya seperti orang yang sudah
tua. Dalam usia yang baru berumur 29 tahun, lelaki kurus kering ini tampak
seperti berumur 42 tahun. Biasanya, keadaan orang seperti itu disebabkan masa
mudanya yang habis dengan main perempuan jahat. Selain itu, bentuk tubuhnya
yang bongkok membuat Aki menjadi bahan tertawaan yang mengasyikkan. Akan
tetapi, ternyata hal itu tak dilakukan teman-temannya di kantor. Bahkan, mereka
sangat hormat kepada orang yang di mata mereka adalah orang yang berhati lurus
dan bertingkah wajar.

Penyakit TBC yang diderita Aki itu suatu ketika mencapai titik kritis.
Puncaknya adalah ketidak bernafasan Aki untuk beberapa saat. Sebagai istri setia,
Sulasmi terkejut melihat kenyataan yang menimpa suaminya. la kalap. Akan
tetapi, tak lama kemudian suaminya siuman, bahkan sebuah senyum tersungging
di bibirnya. Di antara senyuman itu, Aki mengatakan dengan pasti bahwa ia akan
mati pada tanggal 16 Agustus tahun depan. la berharap Sulasmi mau menyediakan
segala perlengkapan yang diperlukan untuk menghadapi hari kematiannya itu.

Rekan-rekan Aki di kantor menganggap lelaki itu sudah gila. Tidak


terkecuali anggapan kepala kantornya. la yang sudah merencanakan kenaikan
pangkat dan gaji Aki, tidak percaya kepada omongan pegawai kesayangannya itu.
Diselidikinya tingkah laku lelaki itu, tetapi Aki memang tidak gila. "Di sini
didapatinya Aki sedang bercakap-cakap dengan seorang bawahannya tentang
pekerjaan. Sep itu seketika lamanya memperhatikan cakap Aki, tapi satu kata pun
tiada menandakan bahwa Aki telah gila. la pergi ke meja Aki, diperhatikannya
pekerjaan Aki yang sedang terbentang di atas meja. Pekerjaan itu tiada cacatnya"
(him. 17).

Hari kematian yang dikatakan Aki telah tiba. Semua orang bersiap-siap.
Akbar dan Lastri, anak-anak Aki, meminta izin tidak bersekolah. Pegawai-
pegawai kantor menghiasi mobil kantor dengan bunga-bungaan. Kepala kantor
berlatih menghapalkan pidato yang kelak akan dibacakan di kubur Aki. Lelaki itu
sendiri memakai pakaian terbagus yang dimilikinya untuk menyambut Malaikatul
maut yang akan menjumpainya pukul tiga sore nanti.

Ketika pukul tiga telah lewat, Sulasmi memberanikan diri untuk melihat
suaminya. Dilihatnya mata suaminya yang tertutup rapat. Lalu, dipanggilnya
nama Aki berulang-ulang, tetapi tak ada jawaban. Dengan diiringi tangis, Sulasmi
berlari ke luar kamar untuk menemui orang-orang yang menungguinya. Tahulah
para penunggu itu bahwa Aki telah meninggal. Saling berebut mereka masuk ke
kamar Aki. Akan tetapi, mereka terkejut dan berlarian dari kamar ketika melihat
Aki sedang merokok. "Tiada seorang pun yang berani mengatakan, apa yang
dilihat mereka dalam kamar itu. Mereka puntang-panting lari meninggalkan
rumah Aki. Dan yang belum masuk kamar, karena keinginan hendak tahu yang
amat besar, menjulurkan kepalanya juga, tapi segera pun mereka lari puntang-
panting keluar. Sehingga akhirnya semua pegawai itupun meninggalkan rumah
Aki secepat datangnya" (him. 36).

Sulasmi bersyukur bahwa Aki tidak mati. Ternyata, Aki hanya tertidur dan
tebangun karena keributan pegawai-pegawai teman sekantornya.

Entah mengapa, sejak peristiwa itu Aki selalu terlihat sehat. la tampak lebih
muda dari usia yang 42 tahun. Lalu, sebagai pengganti kepala kantor yang telah
meninggal tiga tahun yang lalu, ia terlihat atraktif. Bahkan, Aki kembali
bersekolah di fakultas lukum, bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa yang
usianya jauh di bawah Aki. Tentang hidup? Lelaki yang telah sembuh dari TBC
ini ingin hidup lebih lama lagi. la mgin hidup seratus tahun lagi. Separuh
hidupnya akan diabdikan sebagai pegawai dan separuh hidupnya lagi akan
dipergunakan sebagai akademikus.

***

D alam sejarah kesusastraan Indonesia, Idrus dikenal sebagai pengarang yang


menampilkan gaya penulisan yang menurut H.B. Jassin sebagai
kesederhanaan baru (nieuwc zakcUjheid)—Ajip Rosidi menyebut gaya ini dengan
istilah gaya-menyoal-baru (nieuwe zakelijkhcids stijl) yang serba sederhana.
Gaya penulisan demikian itu, umumnya tampak kuat dalam cerpen-cerpen Idrus
yang paling awal.

"Yang paling baik ialah roman pendeknya yang berjudul Aki, 1950 (sic/)".
Demikian Teeuw (1980: 221) mengomentari novel Idrus ini. Selanjutnya Teeuw
mengatakan, "buku kecil ini menarik terutama karena leluconnya yang ringan,
yang dibiarkan berkembang sepenuhnya karena temanya yang tidak bersifat real
itu."

Dalam perjalanan novel Indonesia, tema yang ditampilkan Idrus dalam Aki
memang dapat dikatakan baru. Seseorang dapat menentukan saat
kematiannya yang dipercayai oleh orang-orang di sekelilingnya, adalah
hal yang aneh dan lucu. jadi, ada kesan bahwa Idrus ingin mengejek orang-
orang yang sangat ketakutan menghadapi kematian. Padahal, maut pasti
datang tanpa seorang pun tahu kapan waktunya.

3. PADA SEBUAH KAPAL

Pengarang : Nh. Dini (29 Februari 1936)


Penerbit : Gramedia
Tahun : 1973; Cetakan IV, 1985
P ada umur tiga belas tahun, Sri ditinggal wafat ayahnya. Meskipun ayahnya
bukan seorang pelukis terkenal, Sri sangat mengagumi orang tuanya. la
merasa kehilangan orang yang dianggapnya luar biasa itu. Ibunya kemudian
menghidupi anak-anaknya dengan membatik dan berjualan kue. Wanita itu
mendidik anak-anaknya dengan keras dan kuno meskipun berhati baik.

Selepas SMA, Sri bekerja sebagai penyiar RRI di kota tempat tinggalnya,
Semarang. Kesibukannya sebagai penyiar mengakibatkan Sri mengurangi
kegiatan menari. Tiga tahun bekerja menimbulkan rasa bosan dalam dirinya.
Ketika ia melihat kesempatan menjadi pramugari udara, ia melamar. Setelah lulus
dalam ujian seleksi di kotanya, ia dipanggil ke Jakarta untuk ujian selanjutnya.
Hasil tes di Jakarta membuatnya kecewa, ia tak lulus dalam tes itu. Noda di paru-
parunya menyebabkan ia tak diterima. la diminta datang ke Jakarta untuk
mendapat penjelasan. Empat bulan kemudian Sri datang ke Jakarta untuk
menerima penjelasan dari jawatan yang menangani tes itu. Di jawatan itu ia
mendapat pekerjaan lain, yakni bekerja sebagai wartawan dalam majalah yang
diterbitkan perusahaan itu. Akan tefapi, ia menolak kesempatan itu dan memilih
menjadi penyiar di RRI Jakarta. .

Tujuh bulan setelah Sri tinggal di Jakarta, ibunya meninggal dunia. Sri
pulang ke Semarang. Beberapa hari kemudian ia kembali ke Jakarta meneruskan
pekerjaan dan kegiatan menarinya. Kepandaiannya menari membawa Sri menari
di istana pada hari-hari bersejarah dan penyambutan tamu-tamu negara.

Di antara pemuda yang mengelilinginya dan mengharapkan cintanya, Sri


memilih seorang perwira penerbang bernama Saputro. Dia dan Saputro
merencanakan akan menikah. Secara lahir dan batin, keduanya telah menjalani
kehidupan sebagai suami-istri meskipun belum resmi. Akan tetapi, kenyataan
berbicara lain. Sri harus menghadapi peristiwa pahit: Saputro gugur, jatuh
bersama pesawat yang ditumpanginya. Sri hancur hatinya. la istirahat ke Yogya.
Carl, seorang petugas yayasan yang membantu mahasiswa-mahasiswa di negeri-
negeri berkembang, mendekati Sri. Namun, ia menolak cinta Carl seperti ia
menolak cinta Yus, seorang pelukis.
Akhirnya, Sri memutuskan menerima lamaran Charles Vincent, seorang
diplomat di kedutaan Perancis. la tidak mempedulikan reaksi keluarganya yang
tak menyetujui perkawinan itu. Mulanya, Sri tertarik kepada pria itu karena
budinya halus dan mengerti perasaannya, tetapi beberapa waktu kemudian barulah
tampak sifat asli Vincent. Pria itu keras terhadap Sri dan merasa tak mau disaingi
oleh ketenaran istrinya sebagai penari. Pertengkaran sering terjadi di antara
mereka, bahkan kelahiran anak pertama, ternyata tak mengurangi percekcokan.

Ketika keluarga Vincent mendapat cuti ke Perancis, Charles memutuskan


perjalanan terpisah dengan istrinya. Sri diminta naik kapal laut, sedangkan ia
sendiri melakukan perjalanan dengan pesawat.

Sri menemukan kembali eksistensi dan kebebasannya di kapal yang


membawanya ke Perancis. Di kapal ini, ia bertemu dengan Michel, pelaut yang
menaruh hati padanya. Akhirnya, terjadilah hubungan intim—bahkan terlalu intim
—selama perjalanan itu.

Sebelum bertugas di kapal, Michel pernah menjadi tentara. Ia ikut


berjuang membela dan merebut negerinya, Perancis, dari tangan jajahan Jerman.
Setelah kembali ke Perancis, Michel Dubanton, menikah dengan Nicole.
Perkawinan yang diresrui keluarganya ini, ternyata tidak membahagiakan Michel
meskipun sudah dikaruniai dua orang anak. Nicole mempunyai sifat cemburu
yang berlebihan terhadap suaminya, apalagi suaminya tampan dan lebih muda
daripada dirinya.

Dalam perjalanan kali ini, Michel jatuh hati pada seorang nyonya muda
yang dikenalnya sebagai nyonya Vincent, yang tak lain adalah Sri. la merasa
bahagia ketika nyonya muda itu memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
Michel menemukan kelembutan dan kasih sayang pada diri Sri. Sebaliknya, Sri
menemukan kasih sayang dan pengertian dari Michel. Hubungan intim kedua
insan yang kesepian itu tetap berlanjut setelah mereka tiba di Perancis. Michel
sering menulis surat kepada Sri ketika dalam pelayaran, dan Sri sering menunggu
Michel dalam kerinduan ketika pria pujaannya sedang berlayar.
Sri makin merasakan perbedaan antara Michel dan suaminya, Charles,
ketika ia berkumpul kernbali dengan keluarganya. Dari pergaulannya dengan adik
Charles, Sri mengetahui tabiat suaminya yang mau menang sendiri—sekalipun
terhadap istrinya— "Kehidupanku selama hampir empat tahun dengan Charles
cuma berisi duri-duri yanr mengilukan. Aku bahkan kadang-kadang berpikir
siapakah sebenarnya yang kukawim itu. ...Aku selalu takut mendapat teguran.
...Dan ketika itulah aku melihat Michel, ketika aku merasakan sentuhannya, tetap
lembut dalam gelagak nafsunya, aku mencintainya" (hlm. 179), kata Sri tentang
dua lelaki itu.

Kemudian Sri dan suaminya kembali ke Jepang. Hubungan rumah tangga


mereka masih diliputi ketegangan. Permintaan Sri untuk bercerai, tak ditanggapi
oleh suaminya. Itulah yang sering membuat Sri merasa tersiksa. Dalam saat-saat
yang demikian itu, Michel merupakan sosok lelaki yang mampu memberikan
kesejukan. la menemukan kebahagiaan pada diri lelaki pelaut itu. "Michel yang
mengerti kesanggupanku untuk menjelajah keragaman dunia cinta yang tak
terputuskan" (hlm. 217).

Ketika masa tugas Charles Vincent habis, ia berniat memboyong istri dan
anak-anaknya dari Jepang ke Perancis. Kabar itu didengar oleh Michel dari
seorang kawannya dalam perjalanan. Michel kemudian membatalkan niatnya
untuk bekerja di darat di Yokohama, setelah mendengar kabar itu. la mengajukan
permohonan untuk tetap bekerja sebagai pelaut dan meminta berlayar tidak terlalu
jauh dari Paris. "Kerja darat di Yokohama kubatalkan. Dan sesudah masa liburku
habis perjalanan pendek ini nanti ingin mendapatkan pelayaran-pelayaran yang
singkat dan selalu dekat dengan Perancis," (hlm. 349) katanya. Itulah rencana
yang telah diputuskan Michel. la mengambil keputusan itu, agar ia dapat terus
berdekatan dengan Sri.

***

H ampir semua pengamat sastra Indonesia mengomentari novel Pada Sebuah


Kapal sebagai novel terpenting di antara karya-karya Nh. Dini. Terpenting,
tidak hanya karena novel ini menampilkan dua pencerita, Sri (Bagian satu: Penari)
dan Miche. (Bagian dua: Pelaut)—yang kemudian dipandang sebagai novel
beralur ganda, sesudah Hulubalang Raja—tetapi juga secara tema dianggap masih
punya hubungan dengan tema-tema yang sejak Sitti Nurbaya selalu dipersoalkan,
yakni kedudukan wanita dari perkawinan. Dalam Pada Sebuah Kapal, Sri ddak
har.ya bebas menentukan pilihannya tetapi juga merasa mempunyai hak yang
sama dengan kaum pria, yang sering me-lakukan penyelewengan. Dalam hal ini,
penyelewengan yang terjadi antara Sri dan Michel merupakan wujud
ketidakbahagiaan rumah tangga masing-masing. Hubungan gelapnya sama sekali
tak membuat Sri merasa berdosa; bahkan ia merasa menemukan kebahagiaan pada
diri kekasihnya, Michel, dan bukan pada diri suaminya. Hal itu pun yang
dirasakan oleh Michel.

Studi terhadap novel ini, antara lain, pernah dilakukan oleh Agung Ardni
Matararr (FS UI, 1979) yang berjudul "Dunia dan Pengucapan Nh. Dini" yang
didalamnya secara cermat menghitung waktu penceritaan untuk menentukan sifat
alur novel ini; berapa jumlah kata pada bagian "Penari" dan berapa jumlah kata
pada bagian "Pelaut". Lukman Hakim (FKIP Muhammadiyah, 1975) meneliti
novel ini secara cukup mendalam; sebuah lagi yang meneliti novel ini dilakukan
Paulus Yos Adi Riyadi (FS Unud, 1977). Penelitian lain yang berhubungan
dengan Pada Sebuah Kapal, antara lain Asih Heryana (FSUI, 1981) berjudul
"Tokoh-tokoh Wanita dalam Novel Indonesia Mutakhir", dan Th. Sri Rahayu
Prihatmi (Pustaka Jaya, 1977); sedangkan yang khusus meneliti novel ini dalam
hubungannya pusat pengisahan (focus of narration) dan penokohannya dilakukan
oleh Kismarmiati (FS Undip, 1981). Para peneliti asing atau yang dilakukan di
luar negeri, misalnya A. Bellis berjudul "Writting in the margin: Characterization
of Women in Nh. Dini's Novel" (Sydney, 1984), A.B. Soeradinata dalam "Nh.
Dini's Treatmen of Male Character in Her Novel" (Melbourne), dan Tineke
Hellwig dalam "Autobiografie en Roman bij Nh. Dini" (Leiden, 1982).

Novel ini pertama kali diterbitkan tahun 1973 oleh penerbit Pustaka Jaya
hingga cetakan ketiga. Sejak tahun 1985 (cetakan keempat) diterbitkan oleh
Gramedia.
4. KEMELUT HIDUP

Pengarang : Ramdan K.H


Penerbit : Pustaka Jaya
Tahun : 1977

A bdurrahman adalah seorang kepala kantor pada instansi perburuhan.


Jabatan itu seharusnya membuat Abdurrahman bisa hidup enak, tidak
terlalu dipusingkan oleh masalah ekonomi, yang biasanya menjadi masalah pokok
bagi orang yang lebih rendah jabatannya daripada dia; tetapi kenyataannya lain.
Perekonomian keluarga Abdurrahman morat-marit. Hanya untuk memenuhi
kebutuhan makan dan minum sehari-hari saja, keluarga itu harus mengutang ke
sana kemari. Hal itulah yang menyebabkan Susana, putri Abdurrahman,
mengambil jalan pintas. Susana tak tahan dengan kehidupan seperti itu. la ingin
seperti tetangga-tetangganya, punya uang, punya mobil, dan bisa main ke mana ia
suka. Jalan yang paling cepat untuk mendapatkan semua itu hanya dengan cara
memanfaatkan tubuh dan kecantikannya. Keadaan itulah yang menjadi pangkal
sengketa antara Abdurrahman dan Ina, istrinya. Ketidak harmonisan senantiasa
mewarnai kehidupan mereka.

Saat yang ditakutkan Abdurrahman datang juga. la harus melepaskan


jabatannya sebagai kepala kantor. la pensiun. Itu berarti penghasilannya sebagai
pensiunan akan sangat tak berarti. la harus mencari pekerjaan baru yang tidak
mungkin didapatkannya di kotanya. la harus mencari pekerjaan di Jakarta,
walaupun terpaksa harus meninggalkan anak dan istrinya di Bandung. Dengan
mengandalkan sarjana ekonominya—yang baru saja diraihnya—, ia berkeyakinan
akan cepat mendapat pekerjaan.

Rupanya Tuhan sedang menguji Abdurrahman. Kemelut demi kemelut


senantiasa menimpa diri dan keluarganya. Setelah menjalani pensiun, lelaki itu
didera masalah lain. Mariun, pamannya, mengambil alih semua warisan yang
bukan haknya. Abdurrahman yang juga merupakan ahli waris tidak puas dengan
perlakuan yang tidak adil dari adik ibunya itu. la berusaha menggugat lewat jalur
hukum. Belum beres masalah yang satu, ia harus menerima kenyataan lain;
Aminah, putrinya yang ketiga, dipulangkan dari tugas belajarnya di Negeri
Belanda. Selain tidak biasa dengan kehidupan di Belanda, rupanya Aminah hamil
akibat perbuatan dengan pacarnya sebelum ia pergi ke Belanda.

Kenyataan itu dihadapi oleh Abdurrahman dengan tabah. Niatnya semula


untuk mencari pekerjaan tetap dilakukannya. Secara kebetulan, Asikin—adiknya
lain ibu— pulang dari Jepang dan menawarkan pekerjaan kepada Abdurrahman
untuk mengawasi pembangunan rumah Asikin di Kebayoran Baru. Tentu saja ia
tak menolak pekerjaan itu, walaupun menurut pandangan orang-orang ia
diperlakukan oleh adik tirinya sebagai bawahan.
Hari demi hari berlalu dengan meninggalkan kepahitan. Abdurrahman jadi
seperti terbiasa menghadapi kejadian-kejadian yang menimpa dirinya. Ia tetap
tabah. Juga seperti ketika ia dipanggil Tini—ibu tirinya—yang memberitahukan
bahwa Ina telah serong dengan Sukanda—suami Tini. Tini sendiri sangat kecewa
dan tidak menyangka kalau kejadian tersebut menimpa dirinya. Keputusan Tini
adalah mutlak: ia menceraikan suaminya. Hal seperti itu sulit bagi Abdurrahman,
ia tak bisa mengambil keputusan yang sama dengan Tini.

Kejadian tersebut ternyata berbuntut lain. Asikin memecat Abdurrahman


dari pekerjaannya. Keputusan ini tidak terlepas dari perintah Tini, ibunya.

Kehidupan Abdurrahman jadi bertambah menyedihkan. la hidup


menumpang pada Fulia, adiknya. Dalam ketermenungan memikirkan hari esok,
Susana datang menemuinya. Abdurrahman sangat bahagia bertemu dengan
anaknya yang telah berubah sama sekali itu. Dengan kedatangan Susana, ia dapat
sedikit melupakan kemalangannya. Abdurrahman bahkan berterima kasih kepada
anaknya yang memberinya uang dan mau membiayai pengobatan Aminah yang
tak kunjung sembuh.

Adanya sedikit uang pemberian Susana mendorong Abdurrahman untuk


mengurus masalah warisan yang masih terkatung-Katung. Sepulang dari
mengurus warisan di Tasikmalaya, bus yang ditumpangi Abdurrahman menabrak
pohon. Hampir semua penumpang meninggal. Untung Abdurrahman selamat,
meskipun menderita cedera berat.

Saat Abdurrahman tergeletak di rumari sakit, datang berita yang


menggembirakan bahwa ia mendapat panggilan kerja di Cibinong. Setelah
sembuh, dengan optimisme yang besar—walaupun kedatangannya telah melewati
batas waktu yang ditentukan— Abdurrahman datang ke Cibinong. Ia sungguh
kecewa begitu mengetahui jabatannya telah diduduki orang lain. Ia bertambah
sedih sewaktu mendengar penjelasan dari bagian personalia bahwa ia tidak dipilih
karena ada yang mengabarkan bahwa ia meninggal dalam kecelakaan yang
menimpanya. Orang yang mengabarkan berita bohong itu adalah orang yang kini
menduduki jabatan yang seharusnya ditempati oleh Abdurrahman, yaitu
Suhendar, temannya sendiri.

Abdurrahman akhirnya pulang dengan tangan hampa, dengan sejuta


harapan yang tak terpenuhi. Namun, keluguannya, sikapnya yang gampang
percaya, serta rasa optimisme tak mampu menyurutkan tekadnya untuk mendapat
pekerjaan. "Saya mesti dapatkan pekerjaan. Mesti, tekadnya. Besok saya akan
turun lagi ke jalan untuk mencari pekerjaan. la tetap tawakal. Mengapa nasibnya
begini tidak dipikirkanya" (hlm. 139).

***

S emula naskah novel ini berjudul Tawakal yang berhasil memenangkan


hadiah Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan Dewan
Kesenian Jakarta tahun 1975. Tahun 1977 diterbitkan dengan judul Kemelut
Hidup. Dilihat dan isi ceritanya, kedua judul itu memang mewakili; kemelut yang
berturut-turut menimpa diri Abdurrahman, sama sekali tidak membuatnya putus
asa. Abdurrahman yang jujur dan polos itu tetap tawakal, tidak menyerah pada
keadaan yang terus dirundung kemelut.

Tahun 1978, sutradara Asrul Sani mengangkat novel ini ke layar perak
dengan judul yang sama.

Studi terhadap novel ini pernah dilakukan oleh Metta Rosiati dan Haryono
(ke-duanya dari FS Undip), serta Nasrudin dan Pranoto Hartono (keduanya dari
FS UGM).
5. WANITA ITU ADALAH IBU

Pengarang : Sori Siregar (12 November 1939)


Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1982

M eninggalnya Laura membuat Hezan merasa begitu sangat kehilangan


seseorang yang dicintainya. Cinta Hezan yang mendalam terhadap
istrinya itu menyebabkan ia bertekad untuk tidak mempunyai istri lagi. Dengan
hidup tetap menduda, ia merasa tidak mengkhianati cintanya kepada almarhumah.
Begitu pula ia merasa sanggup membesarkan putri tunggalnya, Prapti, tanpa perlu
mengakhiri status dudanya. Yang penting baginya, ia dapat menumpahkan kasih
sayangnya kepada putrinya seorang.
Sungguhpun demikian, Hezan juga tidak dapat membohongi dirinya
sendiri bahwa sesungguhnya ia begitu kesepian. Bertahun-tahun sejak istrinya
meninggal, ia merasakan kesepian itu. Namun, ia juga tidak ingin Prapti
mengetahui apa yang selama ini ia pendam dengan penuh kegelisahan.

Kesepian yang dirasakan Hezan makin terasa mengganggunya setelah


Prapti menikah dengan Tonton. Mitos untuk mempertahankan diri sebagai suami
yang setia, justru makin menggelisahkannya, apabila ia ingat kemunafikannya
selama ini. Di depan anaknya,Hezan berperan sebagai ayah yang taat beragama
dan setia mencintai almarhumah. Namun, di balik itu, Hezan mencari kepuasan
lewat perempuan-perempuan lain. Jadilah duda itu hidup seolah-olah dalam dua
dunia; sebagai ayah yang ideal di mata putrinya, dan sebagai lelaki yang butuh
kehangatan tubuh perempuan, di hadapan hati nuraninya sendiri.

Sebelum itu, Prapti sendiri pernah mengusulkan agar ayahnya menikah


lagi. Namun ternyata, Hezan sendiri menanggapinya secara lain; dengan kawin
lagi, ia khawatir hal itu justru merupakan pengkhianatan terhadap cintanya kepada
istrinya, almarhumah. "Aku sebenarnya tidak tahu, gagasan yang dikemukakan
Prapti kepadaku... Yang jelas aku terkejut dengan saran yang diajukan Prapti.
Betapa tidak. Setelah lima belas tahun mendampinginya dan membesarkannya
setelah kepergianmu, Prapti menyarankan kepadaku agar aku mencari
penggantimu" (hlm.21). Begitulah, Hezan seolah-olah hendak mengadukan
persoalannya kepada Laura, almarhumah.

Apa yang dirasakan Hezan, dirasakan pula oleh Prapti berkenaan dengan
usul agar ayahnya mencari pengganti ibunya. "Aku malah telah berbuat lebih
jauh. Meminta ayah untuk mencari pengganti Ibu. Sampai di mana sebenarnya
cintaku pada Ibu? Mungkin cintaku terlalu besar kepada ayah, yang membuatku
melupakan Ibu" (hlm. 34).

Bagi Hezan, dalam perkembangannya kemudian, persoalannya bukan lagi


pada kekhawatirannya mengkhianati cinta kepada istrinya, melainkan
kemunafikannya sendiri. Pada mulanya Hezan beranggapan bahwa tak ada artinya
perkawinannya nanti jika hanya karena hendak menghindari dosa. Karena
bagaimanapun juga, perkawinannya itu mesti dilandasi oleh perasaan cinta.
Padahal cintanya sudah tumpah pada Laura. "Yang jelas aku tidak akan bisa
menganggap istri baru seperti Laura. Cintaku kepada Laura tidak akan dapat
kualihkan kepadanya. Lalu, apa artinya perkawinan tanpa cinta?" (him. 49). Itulah
yang membuat Hezan lebih suka melakukan hubungan gelap—tanpa nikah—
daripada harus kawin, yang berarti mengalihkan cintanya dari Laura kepada
wanita yang dinikahinya.

Belakangan, munculnya Nuning, sosok wanita yang sedikit banyak


mengingatkannya kepada Laura, mulai mencairkan sikap Hezan dalam hal
keengganannya untuk menikah lagi. la mulai merasakan sesuatu yang lain, dan ia
merasa cintanya tumbuh kembali. "Cinta kita adalah cinta tua.... Aku akan
melupakan semua perasaan yang terpendam ini. Kalau kau memang telah
ditakdirkan untuk menjadi milikku, kau tidak akan pernah bisa dirampas oleh
siapa saja" (hlm. 121). Nuning pula yang kemudian ia tetapkan sebagai calon
istrinya yang baru. Sementara Prapti sendiri telah menemukan sosok ibunya pada
diri Nuning Maka, tidak ada alasan baginya untuk menolak Nuning sebagai ibu
tirinya. Apalagi, perempuan yang sudah mulai berumur itu pur. merasakan hal
yang sama: "Datanglah, datanglah sekali lagi. Aku akan membukakan pintu ini
lebar-lebar untukmu" (hlm, 123).

***

N ovel ini sebenarnya lebih banyak mengungkapkan konflik batin seorang


ayah yang merasa kesepian setelah istri tercintanya meriinggal dunia.
Bertahun-tahun ia menduda, hanya karena ingin mcncurahkan perhatian dan kasih
sayang kepada putri tunggalnya. Namun, di balik itu semua, sesungguhnya ia
telah membangun topeng kemunafikan. Di luar, duda itu mencari kchangatan
kepada perempuan lain, tanpa diketahui sedikit pun oleh putrinya. Jadi, seputar
itulah persoalan yang dikembangkan dalam novel ini.

Yang menarik dalam novel ini adalah adanya usaha pengarang untuk
mengangkat konflik psikologis yang terjadi pada diri para tokohnya. Pertentangan
batin pada diri sang ayah atau anak (Prapti) cukup menarik karena persoalannya
memang tidaklah sesederhana yang diduga.

Novel ini meraih Hadiah Perangsang Kreasi Sayembara Mengarang Roman


Devvan Kesenian Jakarta pada tahun 1978.

6. PERTEMUAN JODOH

Pengarang : Abdul Muis


Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1932; Cetakan V, 1964

R atna, seorang murid Frobelkweeschool, secara tak sengaja berkenalan


dengan pemuda Suparta dalam kereta yang membawanya dari Jakarta ke
Bandung. Suparta berusaha mencarikan tempat duduk buat gadis itu, yang semula
dipenuhi barang-barang milik sepasang suami-istri Tionghoa. Di Stasiun Cimahi,
suami-istri Tionghoa itu ditahan polisi karena ditemukan membawa candu.

Perkenalan tersebut rupanya berkesan cukup dalam bagi sepasang anak


muda itu. Suparta pun berkesempatan untuk mengantarkan gadis itu sampai ke
halaman sekolahnya. Selanjutnya, mereka sepakat untuk meneruskan hubungan
lewat surat.

Beberapa bulan kemudian, Suparta yang murid Stovia itu, melalui sepucuk
surat, mengutarakan niatnya untuk memperistri Ratna. Meskipun tidak secara
tegas, Ratna menyambut baik niat Suparta. la bersedia juga menghabiskan masa
liburannya di Surnedang untuk sekaligus berkenalan secara baik-baik dengan
keJuarga pemuda itu. "Ibu Suparta termasuk golongan 'menak baheula', yaitu
orang tua turunan bangsawan yang masih berpegang teguh alam keadaan dan adat
lembaga zaman dahulu" (hlm. 29).

Sambutan ibu Suparta ternyata tidak begitu ramah. Ratna kecewa pada sikap
Nyai Raden Tedja Ningrum yang memandangnya dengan cemooh setelah tahu
bahwa Ratna turunan orang kebanyakan saja. Ibu Suparta juga bahkan sengaja
menyinggung-nyinggung nama gadis lain yang dianggapnya lebih pantas untuk
anaknya, yang tak lain adalah teman sekelas Ratna di Frobelkweeschool.

Ratna kemudian bertekad untuk melupakan Suparta. Berita pertunangan


Suparta dengan Nyai Raden Siti Halimah alias "Dewi Dekok" tidak membuatnya
putus asa. Namun, kemalangan lain terpaksa pula harus ia terima. Usaha
pembakaran kapur ayahnya, Tuan Atmadja, bangkrut. Akibatnya, Ratna terpaksa
memutuskan keluar dari sekolahnya.

Cobaan-cobaan itu tidak membuat Ratna patah semangat. la pun kemudian


berusaha mencari pekerjaan. Gaji yang ia terirna sebagai pelayan toko,
digunakannya untuk membiayai sekolah adiknya, Sudarma. Namun, baru empat
bulan ia bekerja, toko itu harus ditutup atas perintah pengadilan. Ratna kembali
melamar pekerjaan di kantor advokat. Namun, ia terpaksa mengurungkan niatnya
karena si advokat itu berusaha menggodanya. Dalam kebingungan, ia lewat di
depan sebuah rumah besar. Pikirannya kemudian muncul, untuk menjadi
pembantu rumah tangga. la pun menjadi pembantu Tuan dan Nyonya Kornel.

Sementara itu, Suparta yang sudah menjadi dokter berusaha mcnjumpai


Ratna kembali. la kehilangan jejak kekasihnya itu. la juga menyesalkan
ketidaksetujuan ibunya terhadap keinginannya untuk memperistri Ratna. Namun,
ketika sikap keras hati ibunya itu melunak, Suparta justru kehilangan jejak Ratna.
Berkat pertolongan direktris Frobelkweeschool, dokter muda itu memperoieh
alamat orang tua Ratna di Tagogapu. Ternyata, di rumah orang tua Ratna, Suparta
juga tak menjumpai gadis itu. Orang tua Ratna yang melihat kesungguhan Suparta
merasa tersentuh hatinya sehingga mereka rriemberitahukan alamat Ratna di
Kebon Sirih. Alangkah terkejutnya Suparta ketika mendengar bahwa Ratna sudah
berangkat ke Jakarta bersama adiknya pagi itu, sedangkan pemilik rumah tempat
Ratna menumpang tidak mengetahui tujuan kakak beradik itu ke Jakarta.

Dalam pada itu, selama Ratna menjadi pembantu keluarga Kornel, berbagai
cobaan harus diterimanya dengan tabah. Kehadirannya dalam keluarga itu tidak
luput dari rasa iri Jene, pembantu yang juga bekerja pada keluarga Kornel. Hingga
pada suatu ketika, Ratna dituduh mencuri perhiasan Nyonya Kornel atas fitnah
Jene. Ratna kemudian dibawa ke kantor polisi. Ketika para polisi yang
menjaganya lengah, Ratna melarikan diri, kemudian terjun ke sungai di sekitar
jembatan Kwitang. Beruntung, nyawanya masih dapat diselamatkan. Dalam
keadaan sekarat, ia dibawa ke rumah sakit.

Sangat kebetulan bahwa dokter yang merawat Ratna adalah Suparta.


Pertemuan itu tentu saja membesarkan hati kedua belah pihak. Keyakinan Suparta
bahwa Ratna tidak bersalah, ikut mempercepat kesembuhan wanita muda itu.
Untuk rnemulihkan nama baik Ratna, dokter muda itu menyiapkan seorang
pengacara terkenal untuk mendam-pingi gadis pujaannya di pengadilan. Sebab,
bagaimanapun, Ratna masih harus ber-urusan dengan penegak hukum.

Di pengadilan terbukti bahwa Ratna tidak bersalah. Pencuri perhiasan


Nyonya Kornel ternyata adalah A mat, kekasih Jene. Pembantu keluarga Kornel
yang bernama Jene itu diduga diperalat oleh kekasihnya. Pengadilan juga
memutuskan bahwa Amat bersalah dan diganjar lima tahun penjara. Sementara
itu, Jene tidak dikenakan hukum-an walaupun sebenarnya harus dituntut.

Sidang pengadilan juga telah mempertemukan Ratna dengan Sudarma,


adiknya, schattcr pegadaian Purwakarto yang bertindak sebagai saksi pertama.
Lalu, atas ke-sepakatan Suparta dan Sudarma, Ratna disuruh beristirahat di sebuah
paviliun "Bidara Cina". Gadis itu tidak dii/inkan bertemu dengan sembarang
orang, kecuali Suparta yang setiap sore datang memeriksa kesehatannya. Lambat-
laun kesehatan Ratna mulai puiih. la juga mulai dapat mengingat-ingat segala
sesuatunya, termasuk hubungannya dengan Suparta.

Begitu Ratna meninggalkan tempat peristirahatannya, Suparta melamarnya.


"Dokter Suparta sendiri yang berkehendak, supaya nikah dilangsungkan hari
ini, ..." (hlm. 155). Tuan Atmadja sekeluarga berkumpul di rumah Sudarma
menyelenggarakan pesta perkawinan Ratna dengan Dokter Suparta.

Kebahagiaan pengantin baru itu bertambah lagi ketika mereka pulang ke


Tagogapu. Rumah ayah Ratna kini lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Keadaan Tuan Atmadja sekarang sudah lebih baik lagi berkat bantuan kedua
anaknya. Kini, pengantin baru itu menempati sebuah rurnah besar, bersebelahan
dengan rurnah orang tua Ratna. Rumah itu sengaja dibangun Suparta sebagai
hadiah perkawinan bagi istrinya.

***

N ovel kedua Abdul Muis, Pertemuan Jodoh ini menurut Teeuw merupakan
roman peralihan. Bukan saja karena pengarangnya merupakan hasil
perkawinan antar-pulau, tetapi karena hampir seluruh hayatnya ia tinggal di Jawa
(Sastra Baru Indonesia 1, 1980). Pertemuan Jcdoh tidak lagi berccrita tentang
pemuda-pemudi Minangkabau, tetapi tentang pemuda bangsawan Sunda dengan
gadis Sunda keturunan orang kebanyakan, Ibu Suparta yang "menak baheula"
akhirnya kalah oleh keinginan anaknya yang tidak lagi kukuh mempertahankan
adat tradisi kemenakannya atau kebangsa-wanannya.

Seperti juga pada.Salah Asuhan, jalinan peristiwanya disajikan secara


meyakinkan. Perwatakan tokoh-tokoh ceritanya juga tampil meyakinkan. Tokoh-
tokoh yang tidak terpelajar, misalnya, dalam dialognya menggunakan kata-kata
bahasa Betawi. Dengan demikian, Pertemuan Jodoh boleh dikatakan merupakan
pengamatan pengarangnya terhadap lingkungan sekitarnya setelah ia lama berada
di Jawa, terutama di Bandung (Abdul Muis pernah bekerja sebagai klerek di
Departemen Buderwijs en Eredienst dan menjadi wartawan di Bandung).
Studi mengenai novel ini pernah dilakukan oleh Jalal Ahmad bin Abdullah
(FS UI, 1962) dan Shaaban bin Abu (FS Unas, 1974). Menurut Shaaban novel ini
merupakan lanjutan dari Salah Asuhan. Kajian lebih mendalam dilakukan oleh K.
Karmana Mah-mud (FS UGM, 1984) dalam tesis S2-nya yang berjudul "Tinjauan
Roman Pertemuan Jodoh atau Dasar Pendekatan Strukturalisme dan Semiotik".

7. MENYONGSONG BADAI

Pengarang : Luwarsih Pringgoadisuryo (1930)


Penerbit : Pustaka Jaya
Tahun : 1970; Cetakan II, 1982

T anpa merundingkannya dengan Dai (Damayanti), Dokter Mokhtar (ayah


Dai) memutuskan untuk mengirim anaknya ke tempat Bu Sri di kota. Dai
tidak bisa menerima kepntusan ayahnya ini, tetapi mau tak mau ia harus
menjalankan keputusan itu. Dai merasa dibuang dari rumahnya. la merasa
disingkirkan oleh ayahnya sendiri, orang yang selama ini menjadi ayah yang
dihormati sekaligus sahabat. "la tak dapat lagi menyelami jalan pikiran ayah.
Bertambah hari ayahnya bertambah merupakan tanda tanya baginya. Pada
beliaulah seharusnya saudara-saudaranya mencari pokok pangkal kesalahan.
Ketentraman rumah tentu akan tetap terpelihara andaikata ayah tidak beristri lagi"
(hlm. 6). la menjadi kehilangan tempat berpijak.

Di tempatnya yang baru—pondokan Bu Sri—Dai harus tinggal berempat


sekamar. Disebabkan oleh pengaruh hatinya yang sedang galau, ia memberikan
kesan yang kurang enak terhadap rekan-rekan sekamarnya. Sikapnya yang dingin
dan tak acuh menimbulkan salah paham dengan Yan, salah seorang rekan
sekamarnya, dan terjadilah pertengkaran. Berkat penanganan Bu Sri yang
bijaksana, pertengkaran itu dapat dilerai dan hubungan di antara anak pondoknya
berangsur-angsur baik, juga penuh kekeluargaan.

Tak berapa lama kemudian, Dai dapat menyesuaikan dirinya untuk tinggal
di rumah Bu Sri. Kegembiraannya mulai pulih, apalagi setelah ia berkenalan
dengan Pramono, teman sekolahnya. Dai dan Pram mempunyai hobi yang sama:
keduanya suka pada kesegaran dan keindahan alam. Mereka sering berjalan-jalan
bersama.

Selain Pram, pemuda yang sering datang mengunjungi Dai adalah Hariadi,
teman sedesanya. Hanadi yang semula pertamanya mendapat simpati dari
penghuni pondokan Bu Sri karena kepandaiannya bergaul dan kelincahannya
berbicara, lama-kelamaan tidak disukai oleh gadis-gadis itu setelah pemuda
tersebut berbuat kurang ajar kepada Dai. Hal tersebut makin membuat Dai
membandingkan Hariadi dengan Pramono. Pram yang dikenalnya ternyata telah
bekerja untuk membantu orang tuanya. Kenyataan ini membuat hubungan
keduanya semakin akrab.

Sementara itu, hubungan Dai dengan ayahnya masih belum membaik. la


belum dapat memaafkan ayahnya yang beristri lagi—setelah ibu Dai meninggal—
dan mengirim Dai ke tempat Bu Sri. Bu Sri berusaha menyadarkannya bahwa
ayahnya membutuhkan Istri untuk ketenangannya, untuk memelihara semangat
kerjanya, dan juga untuk kelangsungan hidupnya. Bu Sri juga menasihati Dai
bahwa tak ada gunanya membenci ibu tirinya, Bu Sam, yang dianggap mengambil
kedudukan almarhumah ibunya. "Sungguh Dai, engkau sendiri tidak akan
tertolong dengan membenci orang. Menambah beban hidupmu belaka" (hlm. 70).
Dai diminta oleh Bu Sri untuk memahami bahwa hidup bukan hanya menerima
dan memberi, tetapi "Demi kepenltingan kesempurnaan hidup kekeluargaan yang
kau diidam-idamkan itu, engkau tidak keberatan untuk lebih banyak
memberi, ..."(hlm. 72), termasuk memberi tempat dalam hidupnya untuk ibu
tirinya.
Lambat-laun timbul pengertian dalam diri Dai terhadap tindakan ayahnya. la
menyambut dengan gembira ketika ayahnya menengok ke tempat Bu Sri.
Hubungan ayah dan anak itu akhirnya dapat berbaik kembali.

Beberapa waktu kemudian, Dai selesai menempuh ujian akhir. Setelah lulus
ia merencanakan akan melanjutkan sekolah di Jakarta, sementara pacarnya, Pram,
akan melanjutkan sekolah di Bogor. Namun, sebelum ia mendengar hasil
ujiannya, datang kabar dari desa bahwa ayahnya sakit keras. Selain rasa khawatir
akan kesehatan ayahnya, rasa rindu kepada desa kelahirannya mendorongnya
mengambil keputusan itu.

Sampai di rumahnya, ia bertemu dengan Bu Sam. Rasa bencinya telah


pupus. Ia kembali ke rumahnya dengan perasaan gembira, dapat berkumpul
kembali dengan ayah dan adik-adiknya.

***

S ebuah novel yang bercerita tentang wanita dan ditulis oleh pengarang wanita.
Persoalannya juga datang karena wanita. Belakangan, persoalannya juga
berhasil ditengahi oleh wanita. Maka, kloplah novel ini bercerita tentang dunia
wanita.

Awalnya bermula dari dikirimnya tokoh Damayanti ke kota oleh ayahnya.


Namun/ Damayanti menganggap bahwa hal itu sebagai tindak pengusiran; bahwa
dirinya diasingkan agar berjauhan dengan ayahnya yang sebenarnya sangat ia
cintai. Kesalah-pahaman itu seolah-olah memperoleh pembenaran ketika ayahnya
menikah lagi— setelah beberapa lama ia menduda—dengan Bu Sam. Damayanti
protes. la tidak mau menerima sosok ibu tiri. Saat itu, tampil kembali Bu Sri—ibu
pondokannya yang arif dan hampir selalu berperan sebagai penengah—. Tokoh
inilah yang dapat meyakinkan Damayanti agar manjadi wanita yang bijaksana dan
berpikiran luas. Kenyataannya, Damayanti dan ibu tirinya dapat menjalin
hubungan dengan baik. Maka, pupus sudah prasangka buruk Damayanti terhadap
ayahnya dan juga ibu tirinya.
Novel pengarang wanita yang kini menjabat Kepaia Pusat Dokumentasi dan
Informasi Ilmiah LIP1 ini, terbit pertama kali tahun 1970 oleh penerbit
Pembangunan Jakarta. Pada tahun ituiah, novel ini memperoleh Hadiah Utama
Sayembara UNES-CO/IKAPI. Baru pada tahun 1982, novel ini diterbitkan oleh
Pustaka Jaya sebagai cetakan kedua.

Sebelum itu, Luwarsih juga telah menghasilkan dua novel, yaitu Tati
Takkan Putus Asa (Pustaka Jaya, 1957), dan Lain Sekarang Lain Esok (Pustaka
Jaya, 1973). JSIovel terakhirnya adalah Yang Muda Yang Menentukan (Grafiti
Press, 1989).

8. DI ATAS PUING-PUING

Pengarang : Th. Sri Rahayu Prihatmi (7 Mei 1944)


Penerbit : Pustaka Jaya
Tahun : 1978

Y ayuk bertemu dengan teman semasa kecilnya, Arini. Kemudian Arini


menyerahkan catatan hariannya kepada Yayuk yang berisi tragedi
kehidupannya.

Catatan harian itu dimulai dengan kegalauan Arini karena kegoncangan


dalam rumah tangganya. Kebahagiaannya bersama suami dan tiga anaknya
terganggu dengan hadirnya Retno, muhd suarninya.

Sang suami, Hardi, akhirnya memutuskan untuk memperistri Rctno dan


memohon kepada Arini agar bersedia dimadu. "Terimalah ia sebagai adikmu"
(hlm. 41), kata Hardi suatu ketika. Kedua orang tua dan bibi Arini menolak dan
berontak. la tak mau dimadu, meskipun sesungguhnya ia masih mencintai Hardi.

Pertemuan kembali Arini dengan Hendra, bekas pacarnya, yang masih


mencintainya, tetapi tidak dicintainya itu, menggodanya untuk lari dari rumah.
Mereka pun meninggalkan Yogya dengan membawa serta Neni, anak bungsu
Arini. Arini dan Hendra hidup bersama tanpa nikah di Jakarta dalam sebuah
kamar sewaan sederhana berdin-ding bambu.
Hendra tidak berhasil mendapat pekerjaan di Jakarta, sehingga Arini harus
mencari nafkah sebagai karyawan perusahaan menjahit. la sempat lupa pada
kepahitan hidup yang baru dilaluinya, sampai datang berita dari Yogya yang
memintanya agar pulang karena Iwan, anak keduanya yang dititipkan pada orang
tuanya, menderita sakit keras.

Di Yogya Arini dan Hendra bertemu kembali dengan suami, orang tua, dan
anak-anak Arini. Terjadi pembicaraan singkat. Akhirnya diputuskan agar Arini
boleh hidup bersama Hendra beserta Iwan dan Neni, sementara Ita, anak
sulungnya, tinggal bersama Hardi dan Retno.

Hendra kembali lebih dahulu untuk mencari pekerjaan. Arini menunggu


sampai Iwan seuibuh dari sakitnya. Selama penantian itu, ternyata Hardi masih
membujuk Arini agar kembaii padanya, namun Arini tetap menolak untuk
dimadu, Bahkan rayuan Hardi membuat Arini semakin membencinya.

"Kukira aku telah berhasil mematikan segala pertalianku dengannya lewat


jalan menyuburkan perasaan benciku padanya. Dan semakin benci pula aku..."
tulis Arini dalam catatan hariannya (hlm. 74).

Nasihat dari Pastor Paroki agar Arini bersabar dan meninggalkan "jalan
sesat"-nya pun tidak bisa mengubah keputusannya. Undangan pertemuan dari
mertuanya juga ditolak. la tetap pada keputusannya untuk meninggalkan Yogya
dan menempuh hidup baru di Jakarta. Hal itu dilaksanakannya segera setelah Iwan
sembuh dan Hendra berhasil memperoleh pekerjaan.

Di Jakarta "keluarga baru" Arini tidak lagi menempati kamar sempit karena
Hendra telah sanggup mengontrak rumah sederhana yang masih berdinding
bambu. Meskipun mereka hidup kekurangan, Arini merasa lebih tentram.
Perhatian-perhatian kecil dari Hendra, seperti pemberian kado ulang tahun, mulai
menumbuhkan rasa cintanya lagi. Arini mengungkapkan dalam catatan hariannya:

"Dan aku merasakan ketentraman rumah tangga yang sempurna ketika


duduk bersama 'suami'-ku dikelilingi anak-anak. Kupeiuki anakku sementara
'suami'-ku meletakkan tangannya di bahuku. Rambutku pun mesra menyentuh
dadanya" (hlm. 82).

Pada suatu ketika Hendra mengajak Arini mengunjungi orang tua Hendra di
Semarang. Arini yang semula menolak karena merasa malu sebagai orang yang
"penuh dengan dosa", akhirnya bersedia ikut. Ternyata orang tua Hendra merestui
hubungan mereka meskipun hanya berlandaskan surat kawin catatan sipil tanpa
persetujuan gereja.

Arini kemudian hamil dan melahirkan bayi perempuan. Meskipun ayahnya


masih tampak belum memberi maaf, Arini cukup senang ketika kedua orang
tuanya datang menjenguk.

Setelah dua tahun hidup bersama, Arini dan Hendra bisa membangun rumah
sendiri. Mereka sekeluarga mulai mengecap kebahagiaan.

Sampai di sini catatan harian Arini selesai dibaca Yayuk, namun cerita
belum berakhir. Sebuah telegram sampai ke tangan Yayuk yang berisi berita
kematian Hendra karena kecelakaan pesawat. Karena kesibukan keluarganya, baru
setengah tahun kemudian Yayuk bisa mengunjungi Arini. Pertemuan antara
mereka membangkitkan keharuan.

Yayuk membuka kembali catatan harian Arini. Setelah kematian Hendra,


ternyata Hardi masih juga mencoba membujuk Arini agar kembali kepadanya.
Sekali lagi Arini menolak. Nasihat bibinya juga tidak menggoyahkan
keputusannya; tidak bisa me-nerima poligami.

Dua tahun kemudian Arini mengunjungi Yayuk. la bercerita bahwa anak-


anaknya tinggal bersama nenek mereka, sedangkan ia sendiri melanjutkan usaha
menjahitnya. Kisah cerita Arini pun kembali berulang. la menjalin cinta dengan
seorang duda beranak dua. Namun, karena duda itu juga beragama Katolik,
mereka tidak mungkin menikah di gereja. Keluarga Arini juga tidak ada yang
menyetujuinya untuk menikah lagi. Akhirnya Arini harus menerima nasib hidup
"di atas puing-puing" sebagai janda dengan anak-anak yang harus tetap menjadi
tanggung jawabnya.
***

N ovel ini mendapat rekomendasi dari Dewan Juri Sayembara Mengarang


Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976 sebagai karangan yang layak
diterbitkan untuk bacaan biasa. Bentuk novel ini sebenarnya cukup rumit,
mengingat adanya catatan harian yang justru merupakan salah satu bagian penting
dalam keseluruhan cerita berbingkai itu, temanya juga sebenarnya cukup
problematik; perkawinan yang dilihat dari kaca mata agama Katolik. Walaupun
pengarangnya sendiri tampak tidak hendak melakukan kritik atas aturan
perkawinan menurut ajaran agama Katolik, terkesan pula hendak
mempertanyakannya kapan sebuah perkawinan mulai menghadapi keretakan.
Ternyata pilihan "hidup bersama" tanpa ikatan perkawinan, juga dapat
menimbulkan masalah, apalagi jika dilihat dari norma-norma kemasyarakatan.
Dalam hal inilah Teeuw (1989: 194—195) mengomentarinya sebagai tema yang
patut mendapat perhatian.
9. PELABUHAN HATI

Pengarang : Titis Basino P.I. (17 Januari 1939)


Penerbit : Pustaka Jaya
Tahun : 1978

C inta Rani yang begitu besar kepada Ramelan, seorang mahasiswa fakultas
teknik, telah membuat gadis itu rela berkorban demi mewujudkan harapan
cintanya itu. la rela membiayai kuliah kekasihnya sampai Ramelan menyelesaikan
studihya dan menjadi insinyur, la juga nekat lari dari orang tuanya, kemudian
kawin dengan Ramelan secara sederhana. Dari upahnya menerima jahitan,
semuanya dapat berjalan sesuai dengan rencana,

Masa-masa bahagia pun mereka rasakan. Ramelan kemudian bekerja di


berbagai proyek, di sarnping mengajar di beberapa perguruan -tinggi. Satu per
satu anaknya lahir; "Dua anak laki-laki yang beringas dan dua gadis manis yang
cerdik" (hlm. 8). Mereka hidup dalam curahan kebahagiaan di sebuah rumah
sederhana.

Lambat-laun penghasilan Ramelan makin meningkat. Secara pasti


kehidupan mereka tak lagi kekurangan. Bahkan sebuah rumah gedung sedang
dipersiapkan secara diam-diam, walaupun Rani sendiri mengetahui rencana itu.

Suatu hari, teman Rani, Sofia, mengundang Rani untuk datang ke


rumahnya. Tanpa sepengetahuan suaminya, Rani memenuhi undangan itu. Sofia
kemudian mengajaknya ke tingkat atas. Dari Sana, tampak ada sebuah rumah
yang sedang dibangun. Letaknya persis bersebelahan-Saat itu, tampak jelas di
hadapan mata Rani; suaminya sedang bergandengan tangan dengan seorang
wanita muda. Sebuah pcmandangan yang mem-buat Rani percaya dan tidak
percaya. Ramelan yang dahulu ditolongnya hingga menjadi insinyur, suaminya
yang sedang mempersiapkan rumah impian untuk dirinya dan keempat anaknya,
di hadapannya kini sedang bermesraan dengan perempuan lain, Inilah awal
keretakan rumah tangga mereka.

Sejak kejadian itu, Rani memutuskan untuk tinggal bersama keempat


anaknya. la tak ingin lagi bertemu dengan laki-laki yang telah mengkhianati
cintanya. Sungguhpun begitu, Ramelan sendiri masih tetap berusaha untuk
membiayai sekolah anak-anaknya.

Untuk mengisi kekosongan dan menambah biaya hidupnya sehari-hari, Rani


kembali membuka usaha jahitan. la mulai terbiasa dengan keadaannya sekarang.
Para pe-langgannya pun dari hari. ke hari makin bertambah. Salah seorang
pelanggannya adalah Laksmi. Wanita cantik itu mulai akrab dengan Rani.

Namun, .rupanya kedukaan Rani harus kembali terulang. Ketika hendak


berbelanja keperluan jahitannya di Blok M, ia melihat Laksmi, pelanggannya itu,
sedang asyik bergandengan tangan dengan Ramelan. Maka, kesimpulan pun jatuh
sudah; Ramelan adalah laki-laki jalang yang selalu berganti-ganti wanita.
Belakangan diketahui bahwa sesungguhnya Ramelan sudah resmi menjadi suami
Laksmi. Namun, bagi Rani sendiri, peristiwa itu makin membuatnya tak lagi perlu
percaya kepada laki-laki.

Dari hasil jerih payahnya selama itu, Rani kemudian merombak rumahnya
dan menambah beberapa kamar untuk disewakan. Dari hasil menyewakan kamar-
kamar itu, kehidupan Rani mulai membaik walaupun bekas suaminya tak pernah
lagi me-ngirimkan uang untuk biaya anak-anaknya sekoiah. Anak-anaknya pun
mulai akrab dengan para penyewa kamar-kamar itu. Namun, rupanya keakraban
itu justru dilihat lain oleh para tetangganya. Gosip buruk pun berkembang hingga
sampai pula ke telinga bekas suaminya.

Rani sendiri tidak mau mempedulikan semua kabar busuk itu. Ramelan
yang mencoba menyuruh Rani untuk tidak lagi menyewakan kamar-kamarnya,
juga tidak digubris. la yakin pada jalannya sendiri yang memang tidak hendak ia
nodai.
Lebih dari dua tahun Rani menjalani kehidupan seperti itu. Sampai
akhirnya, Wastu dan Pragantha, dua mahasiswa fakultas teknik yang sudah sejak
lama tinggal di pondokan Rani, meminta Rani agar menghadiri ujian skripsi
mereka. Tentu saja Rani tidak berkeberatan. Pada hari yang ditentukan, ia datang
ke tempat kedua mahasiswa itu melangsungkan ujian akhirnya. Hasilnya adalah
mereka lulus dan berhak menyan-dang gelar insinyur.

Peristiwa itu bagi Rani, barangkali tidak lebih sebagai peristiwa biasa,
sungguhpun sebelum pulang, ia sempat berjumpa lagi dengan bekas kekasihnya
dahuiu sewaktu ia belum berhubungan dengan Ramelan. Namun, seperti juga
kejadian sehari-hari, ia kembali kepada kesibukannya mengurusi anak-anaknya.

Sore harinya, datang telepon dari Laksmi yang mengabarkan bahwa


Ramelan sakit keras dan kini sedang dirawat di rumah sakit Petamburan. Dalam
keadaan seperti itu, bagaimanapun, hati nurani Rani tak tega melihat bekas
suaminya dalam keadaan demikian. la pun memutuskan untuk menjenguk
bekas suaminya. Saat itu juga ia berangkat bersama keempat anaknya.

Laksmi rupanya sudah menunggu di sana. Kini Rani melihat, betapa orang
yang pernah ia cintai, ayah anak-anaknya itu, hanya terbaring tak berdaya. "Aku
membaca surat Yasin yang ada di tangan kiri dan tangan kananku menggenggam
erat tangan Ramelan. Tanpa kusadari, selama ayat-ayat suci itu kubaca dengan
khusyuk, Ramelan telah berhenti bernapas" (hlm. 129).

Ramelan telah mengakhiri hidupnya di hadapan Rani, bekas istrinya yang


tabah; Laksmi, istri mudanya yang masih menangis, dan keempat anaknya yang
memandang kosong ke arah kegelapan malam. Rani menyongsong keempat
anaknya; melangkah ke masa depan.

***

N ovel karya Titis Basino ini, tampak jelas hendak mengangkat ketabahan
seorang wanita, seorang ibu dengan keempat anaknya. Dengan ketabahan
itu, ia berhasil tidak hanya menjadi kepala keluarga bagi anak-anaknya, tetapi juga
berhasil menjadi induk semang yang baik bagi mereka yang tinggal di
pondokannya. Lebih dari itu, ia juga berhasil membangun citra dirinya sebagai
wanita yang tak mudah goyah oleh cobaan apa pun. Penderitaan yang dialaminya,
telah membuatnya menjadi wanita yang matang, sekaligus menjadi ibu yang
bijaksana.

Sebaliknya, Ramelan yang lupa pada perjuangan istrinya dan gampang


terbawa arus oleh Hmpahan kesuksesannya, akhirnya harus menghadapi
kehidupan yang pendek. Laksmi yang jauh lebih muda daripada Rani, rupanya
tidak sepenuhnya dapat memberi kebahagiaan pada diri Ramelan.

Secara keseluruhan novel ini dibangun oleh jalinan peristiwa yang lancar
dan tidak terlalu rumit. Pesan pengarangnya untuk menampilkan citra wanita
sejati, boleh dikatakan berhasil lewat penokohan yang tidak terlalu kompleks.
10. WANITA ITU ADALAH IBU

Pengarang : Sori Siregar (12 November 1939)


Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1982

M eninggalnya Laura membuat Hezan merasa begitu sangat kehilangan


seseorang yang dicintainya. Cinta Hezan yang mendalam terhadap
istrinya itu menyebabkan ia bertekad untuk tidak mempunyai istri lagi. Dengan
hidup tetap menduda, ia merasa tidak mengkhianati cintanya kepada almarhumah.
Begitu pula ia merasa sanggup membesarkan putri tunggalnya, Prapti, tanpa perlu
mengakhiri status dudanya. Yang penting baginya, ia dapat menumpahkan kasih
sayangnya kepada putrinya seorang.

Sungguhpun demikian, Hezan juga tidak dapat membohongi dirinya


sendiri bahwa sesungguhnya ia begitu kesepian. Bertahun-tahun sejak istrinya
meninggal, ia merasakan kesepian itu. Namun, ia juga tidak ingin Prapti
mengetahui apa yang selama ini ia pendam dengan penuh kegelisahan.

Kesepian yang dirasakan Hezan makin terasa mengganggunya setelah


Prapti menikah dengan Tonton. Mitos untuk mempertahankan diri sebagai suami
yang setia, justru makin menggelisahkannya, apabila ia ingat kemunafikannya
selama ini. Di depan anaknya,Hezan berperan sebagai ayah yang taat beragama
dan setia mencintai almarhumah. Namun, di balik itu, Hezan mencari kepuasan
lewat perempuan-perempuan lain. Jadilah duda itu hidup seolah-olah dalam dua
dunia; sebagai ayah yang ideal di mata putrinya, dan sebagai lelaki yang butuh
kehangatan tubuh perempuan, di hadapan hati nuraninya sendiri.

Sebelum itu, Prapti sendiri pernah mengusulkan agar ayahnya menikah


lagi. Namun ternyata, Hezan sendiri menanggapinya secara lain; dengan kawin
lagi, ia khawatir hal itu justru merupakan pengkhianatan terhadap cintanya kepada
istrinya, almarhumah. "Aku sebenarnya tidak tahu, gagasan yang dikemukakan
Prapti kepadaku... Yang jelas aku terkejut dengan saran yang diajukan Prapti.
Betapa tidak. Setelah lima belas tahun mendampinginya dan membesarkannya
setelah kepergianmu, Prapti menyarankan kepadaku agar aku mencari
penggantimu" (hlm.21). Begitulah, Hezan seolah-olah hendak mengadukan
persoalannya kepada Laura, almarhumah.

Apa yang dirasakan Hezan, dirasakan pula oleh Prapti berkenaan dengan
usul agar ayahnya mencari pengganti ibunya. "Aku malah telah berbuat lebih
jauh. Meminta ayah untuk mencari pengganti Ibu. Sampai di mana sebenarnya
cintaku pada Ibu? Mungkin cintaku terlalu besar kepada ayah, yang membuatku
melupakan Ibu" (hlm. 34).

Bagi Hezan, dalam perkembangannya kemudian, persoalannya bukan lagi


pada kekhawatirannya mengkhianati cinta kepada istrinya, melainkan
kemunafikannya sendiri. Pada mulanya Hezan beranggapan bahwa tak ada artinya
perkawinannya nanti jika hanya karena hendak menghindari dosa. Karena
bagaimanapun juga, perkawinannya itu mesti dilandasi oleh perasaan cinta.
Padahal cintanya sudah tumpah pada Laura. "Yang jelas aku tidak akan bisa
menganggap istri baru seperti Laura. Cintaku kepada Laura tidak akan dapat
kualihkan kepadanya. Lalu, apa artinya perkawinan tanpa cinta?" (hlm. 49). Itulah
yang membuat Hezan lebih suka melakukan hubungan gelap—tanpa nikah—
daripada harus kawin, yang berarti mengalihkan cintanya dari Laura kepada
wanita yang dinikahinya.

Belakangan, munculnya Nuning, sosok wanita yang sedikit banyak


mengingatkannya kepada Laura, mulai mencairkan sikap Hezan dalam hal
keengganannya untuk menikah lagi. la mulai merasakan sesuatu yang lain, dan ia
merasa cintanya tumbuh kembali. "Cinta kita adalah cinta tua.... Aku akan
melupakan semua perasaan yang terpendam ini. Kalau kau memang telah
ditakdirkan untuk menjadi milikku, kau tidak akan pernah bisa dirampas oleh
siapa saja" (hlm. 121). Nuning pula yang kemudian ia tetapkan sebagai calon
istrinya yang baru. Sementara Prapti sendiri telah menemukan sosok ibunya pada
diri Nuning Maka, tidak ada alasan baginya untuk menolak Nuning sebagai ibu
tirinya. Apalagi, perempuan yang sudah mulai berumur itu pur. merasakan hal
yang sama: "Datanglah, datanglah sekali lagi. Aku akan membukakan pintu ini
lebar-lebar untukmu" (hlm, 123).

***

N ovel ini sebenarnya lebih banyak mengungkapkan konflik batin seorang


ayah yang merasa kesepian setelah istri tercintanya meriinggal dunia.
Bertahun-tahun ia menduda, hanya karena ingin mcncurahkan perhatian dan kasih
sayang kepada putri tunggalnya. Namun, di balik itu semua, sesungguhnya ia
telah membangun topeng kemunafikan. Di luar, duda itu mencari kchangatan
kepada perempuan lain, tanpa diketahui sedikit pun oleh putrinya. Jadi, seputar
itulah persoalan yang dikembangkan dalam novel ini.

Yang menarik dalam novel ini adalah adanya usaha pengarang untuk
mengangkat konflik psikologis yang terjadi pada diri para tokohnya. Pertentangan
batin pada diri sang ayah atau anak (Prapti) cukup menarik karena persoalannya
memang tidaklah sesederhana yang diduga.

Novel ini meraih Hadiah Perangsang Kreasi Sayembara Mengarang


Roman Devvan Kesenian Jakarta pada tahun 1978.

Daftar Pustaka
Mahayana M.S, Sofyan O., Dian A. (2000). Ringkasan dan Ulasan Novel
Indonesia Modern. Jakarta : PT Gramedia.