Anda di halaman 1dari 43

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kita panjaktan kepada Tuhan semesta alam, Allah SWT,
yang dengan segala karuniaNya, makalah Tentang “Sepuluh Ringkasan dan
Ulasan Novel Indonesia” ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam
tak lupa kita haturkan kepada Nabi Besar Muhammad saw, keluarga sahabat serta
para pengikutnya yang senantiasa istiqamah dalam mengemban risalahnya.

Terima kasih Penyusun sampaikan kepada berbagai pihak yang telah


memberikan kontribusi dalam penyelesaian Makalah ini. Terutama kepada Bapak
Dosen Pembimbing.
Isi Makalah ini tentu masih banyak kelemahan, oleh karena itu diharapkan
kepada para mahasiswa, dosen serta pihak-pihak yang berkepentingan dapat
memberikan masukan dalam rangka perbaikan pedoman ini dikemudian hari.

Mudah-mudahan sedikit yang kami bisa sumbangkan ini, akan dicatat oleh
Allah SWT sebagai bagian dari amal sholeh Penyusun dan akan menjadi ilmu
yang bermanfaat, yang senantiasa akan mengalirkan pahala bagi orang-orang yang
mengajarkannya.

Garut, November 2009

Penyusun

Daftar Isi
Kata Pengantar .................................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................................. ii
Pembahasan
1. Salah Asuhan ........................................................................................... 1
2. Katak Hendak Jadi Lembu ....................................................................... 6
3. Layar Terkembang ................................................................................... 11
4. Belenggu .................................................................................................. 16
5. Aki ............................................................................................................ 20
6. Pertemuan Jodoh ...................................................................................... 24
7. Di Atas Puing-Puing ................................................................................ 29
8. Pelabuhan Hati ......................................................................................... 32
9. Wanita Itu Adalah Ibu .............................................................................. 37
10. Telepon ................................................................................................... 41
Daftar Pustaka ..................................................................................................... 44
1. SALAH ASUHAN
Pengarang : Abdul Muis (1886 - 17 Juli 1959)
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1928; Cetakan XIX, 1990

H anafi adalah pemuda pribumi asal Minangkabau. Sesungguhnya, ia


termasuk orang yang sangat beruntung dapat bersekolah di Betawi sampai
tamat HBS (Hoogere Burger School). Ibunya yang sudah janda, memang berusaha
agar anaknya kelak menjadi orang pandai, melebihi sanak keluarganya yang lain.
Oleh karena itu, ia tidak segan-scgan menitipkan Hanafi pada keluarga Belanda
walaupun untuk pembiayaannya ia harus meminta bantuan mamaknya, Sutan
Batuah. Setamat HBS, Hanafi kembali ke Solok dan bekerja sebagai klerek di
kantor Asisten Residen Solok. Tak lama kemudian, ia diangkat menjadi komis
(hlm. 27).

Pendidikan dan pergaulan yang serba Belanda, memungkinkan Hanafi


berhubungan erat dengan Corrie Du Busse, gadis Indo-Perancis. Hanafi kini
merasa telah bebas dari kungkungan tradisi dan adat istiadat negerinya. Sikan,
pemikiran, dan cara hidupnya, juga sudah kebarat-baratan. Tidaklah heran jika
hubungannya dengan Corri ditafsirkan lain oleh Hanafi karena ia kini sudah
bukan lagi sebagai orang "inlander". oleh arena itu, ketika Corrie datang ke Solok
dalam rangka mengisi liburan sekolahnya, bukan main senangnya hati Hanafi. Ia
dapat berjumpa kembali dengan sahabat dekatnya.

Hanafi mulai merasakan tumbuhnya perasaan asmara. Sikap Corrie


terhadapnya juga dianggap sebagai "gayung bersambut kata berjawab". Maka,
betapa terkejutnya Hanafi ketika ia membaca surat dari Corrie. Corrie
mengingatkan bahwa perkawinan campuran bukan hanya tidak lazim untuk
ukuran waktu itu, tetapi juga akan mendatangkan berbagai masalah. "...Timur
tinggal Timur, Barat tinggal Barat, tak akan dapat ditimbuni jurang yang
membatasi kedua bahagian itu" (hlm. 59). Perasaan Corrie sendiri sebenarnya
mengatakan lain. Namun, mengingat dirinya yang Indo—dan dengan sendirinya
perilaku dan sikap hidupnya juga berpijak pada kebudayaan Barat— serta Hanafi
yang pribumi, yang tidak akan begitu saja dapat melepaskan akar budaya
leluhurnya.

Dalam surat Corrie selanjutnya, ia meminta agar Hanafi mau memutuskan


pertalian hubungannya itu (hlm. 61). Surat itu membuat Hanafi patah semangat. la
pun kemudian sakit. Ibunya berusaha menghibur agar anak satu-satunya itu, sehat
kembali. Di saat itu pula ibunya menyarankan agar Hanafi bersedia menikah
dengan Rapiah, anak mamaknya, Sutan Batuah. Ibunya menerangkan bahwa
segala biaya selama ia bersekolah di Betawi, tidak lain karena berkat uluran
tangan mamaknya, Sutan Batuah. Hanafi dapat mengerti dan ia menerima Rapiah
sebagai istrinya.

Kehidupan rumah tangga Hanafi dan Rapiah, rupanya tak berjalan


lempang. Hanafi tidak merasa bahagia, sungguhpun dari hasil perkawinannya
dengan Rapiah, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki, Syafei. Lagi pula,
semua teman-temannya menjauhi dirinya. Dalam anggapan Hanafi, penyebab
semua itu tak lain adalah Rapiah. Rapiah kemudian menjadi tempat segala
kemarahan Hanafi. Walaupun diperlakukan begitu oleh Hanafi, Rapiah tetap
bersabar.

Suatu ketika, setelah mendamprat Rapiah, ia duduk termenung seorang diri


di kebun. Ibunya menghampiri anaknya dan berusaha menyadarkan kembali
kelakuan anaknya yang sudah lewat batas itu. Nanrtun, Hanafi justru
menanggapinya dengan cara cemooh. Di saat yang sama, tiba-tiba seekor anjing
gila menggigit tangan Hanafi.
Dokter segera memeriksa gigitan anjing gila pada tangan Hanafi. Dokter
menyarankan agar Hanafi berobat ke Betawi. Anjuran dokter itu sangat
menyenangkan hatinya. Sebab, bagaimanapun, kepergiannya ke Betawi itu
sekaligus memberi kesempatan kepadanya untuk bertemu kembali dengan Corrie.

Suatu peristiwa yang sangat kebetulan terjadi. Dalam suatu kecelakaan


yang dialami Corrie, Hanafi yang sedang berada di Betawi, justru menjadi
penolong Corrie. Pertemuan itu sangat menggembirakan keduanya. Corrie yang
sudah ditinggal ayahnya, mulai menyadari bahwa sebenarnya ia memerlukan
sahabat. Pertemuan itu telah membuat Hanafi mengambil suatu keputusan. Ia
bermaksud tetap tinggal di Betawi. Untuk itu, ia telah pula mengurus kepindahan
pekerjaannya. Setelah itu, ia mengurus surat persamaan hak sebagai bangsa Eropa.
Dengan demikian, terbukalah jalan untuk segera menceraikan Rapiah, sekaligus
meluruskan jalan baginya untuk mengawini Corrie.

Semua rencana Hanafi berjalar. lancar. Namun, kini justru Corrie yang
menghadapi berbagai persoalan. Tekadnya untuk menikah dengan Hanafi
mendapat antipati dari teman-teman sebangsanya. Akhirnya, dengan cara diam-
diam mereka melangsungkan pernikahan.

Sementara itu, Rapiah yang resmi dicerai lewat surat yang dikirim Hanafi,
tetap tinggal di Solok bersama anaknya, Syafei, dan ibu Hanafi.

Adapun kehidupan rumah tangga Hanafi dan Corrie tidaklah seindah yang
mereka bayangkan. Teman-teman mereka yang mengetahui perkawinan itu, mulai
menjauhi. Di satu pihak menganggap Hanafi besar kepala dan angkuh; tidak
menghargai bangsanya sendiri. Di lain pihak, ia menganggap Corrie telah
menjauhkan diri dari pergaulan dan kehidupan Barat. Jadi, keduanya tidak lagi
mempunyai status yang jelas; tidak ke Barat, tidak juga ke Timur. Inilah awal
malapetaka dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Kehidupan rumah tangga mereka kini terasa bagai bara api neraka dunia.
Corrie yang semula supel dan lincah, kini menjadi nyonya yang pendiam.
Kemudian Hanafi, kembali menjadi suami yang kasar dan bengis. Bahkan, Hanafi
selalu diliputi perasaan syak wasangka dan curiga. Lebih-lebih lagi, Corrie sering
dikunjungi Tante Lien, seorang mucikari.

Puncak bara api itu pun terjadi. Tanpa diselidiki terlebih dahulu, Hanafi
telah menuduh istrinya berbuat serong. Tentu saja, Corrie tidak mau dituduh dan
diperlakukan sekehendak hati suaminya. Maka, dengan ketetapan hati, Corrie
minta diceraikan. "Sekarang kita bercerai, buat seumur hidup.... Bagiku tidak
menjadi kependngan, karena aku tidak sudi menjadi istri lagi dan habis perkara"
(hlm. 183).

Setelah itu, Corrie meninggalkan Betawi dan berangkat ke Semarang. la


bekerja di sebuah panti asuhan.

Segala kejadian itu membuat Hanafi menyadari bahwa sebenarnya istrinya


tidak bersalah. la menyesal dan mencoba menyusul Corrie. Namun, sia-sia. Corrie
tetap pada pendiriannya.

Perasaan berdosa makin menambah beban penderitaan Hanafi. Di tambah


lagi, teman-temannya makin menjauhi. Hanafi dipandang sebagai seorang suami
yang kejam dan tidak bertanggung jawab. Dalam keadaan demikian, barulah ia
menyesal sejadi-jadinya. la juga ingat kepada ibu, istri, dan anaknya di Solok.

Akibat tekanan batin yang berkelanjutan, Hanafi jatuh sakit. Pada saat itu
datang seorang temannya yang mengatakan tentang pandangan orang
terhadapnya. Ia sadar dan menyesal., la kembali bermaksud minta maaf kepada
Corrie dan mengajaknya rujuk kembali. la pergi ke Semarang. Namun rupanya,
pertemuannya dengan Corrie di Semarang merupakan pertemuan terakhir. Corrie
terserang penyakit kolera yang kronis. Sebelum mengembuskan napasnya, Corrie
bersedia memaafkan kesalahan Hanafi. Perasaan sesal dan berdosa tetap membuat
Hanafi sangat menderita. Batinnya goncang. ia jatuh sakit kembali.

Setelah sembuh, Hanafi bermaksud pulang ke kampungnya. la ingin minta


maaf kepada ibunya dan Rapiah, istrinya. Di samping itu, ia juga ingin melihat
keadaan anaknya sekarang. la berharap agar anaknya kelak tidak mengikuti jejak
ayahnya yang sesat.
Dengan kebulatan hatinya, berangkatlah Hanafi kembali ke tanah
kelahirannya.

***

N ovel pertama Abdul Muis ini, secara tematik tidak lagi memasalahkan adat
kolct yang sering sudah tidak sejalan lagi dengan kemajuan zaman,
melainkan jelas hendak mempertanyakan kawin campur antarbangsa. Dilihac dari
perkembangannya sejak Sitti Nurbaya, tampak jelas adanya pergeseran tema;
persoalannya tidak lagi kawin adat (Marah Rusli), kawin antarsuku (Adinegoro),
tetapi kawin antarbangsa. Ternyata, persoalannya tidak sederhana; ia menyangkut
perbedaan adat-istiadat, tradisi, agama, budaya, serta sikap hidup yang tidak
gampang begitu saja ditinggalkan.

Pada tahun 1969, novel ini memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintah,


bersama tiga novel lainnya, yaitu Sitti Nurbaya, Belenggu, dan Atheis. Tahun
1972, novel ini diangkat ke layar perak oleh Asrul Sani dengan Dicky Zulkarnaen
sebagai pemeran Hanafi.

Kajian dan penelitian terhadap novel ini pernah dilakukan oleh Djajanto
Supra (FS "JI, 1969), sedangkan Pamusuk Eneste (FS UI, 1977) meneliti dalam
kaitannya dengan ekranisasi (Karya Sastra dalam Film) yang secara mendalam
membandingkannya pula jengan novel Anak Perawan di Sarong Penyamun
(1941) karya Sutan Takdir Alisjahbana, dan novel Aiheis (1949) karya Achdiat
Karta Mihardja. Peneliti lain adalah Jamil Bakar, dan kawan-kawan (Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1985) yang khusus membicarakan novel
ini. Adapun Sri H. Wijayanti (FS UI, 1989), membandingkan Salah Asuhan
dengan novel Malaysia, Mencari Istri.

Menurut Liang Liji (1988), Salah Asuhan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
Cina, dan merupakan novel terjemahan Lris di Tiongkok. Adapun menurut
Morimura Shigeru (1988), mahaguru Osaka University of Foreign Studies,
Jepang, Salah Asuhan juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang.
2. KATAK HENDAK JADI LEMBU

Pengarang : Nur Sutan Iskandar


Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1935; Cetakan V, 1978

Z akaria adalah seorang haji yang kaya-raya. Ia mempunyai anak tunggal


bernama Suria. Sejak kecil Suria hidup berkecukupan dan selalu dimanjakan
ayahnya. Dengan didikan yang seperti itu, ia justru menjadi seorang anak yang
pongah dan sombong. Bahkan, sifat dan tabiatnya yang buruk itu terbawa sampai
masa akhir hayatnya.

Haji Hasbullah, teman karib Haji Zakaria, termasuk seorang haji yang
kaya-raya pula. la pun mempunyai seorang anak gadis satu-satunya, bernama
Zubaedah (Edah). Zubaedah berparas cantik dan berbudi baik. Ayah Zubaedah
telah memilihkan calon suaminya, Raden Prawira, yang berpangkat manteri polisi.
Akan tetapi, suatu ketika Haji Zakaria datang kepada Haji Hasbullah, memohon
agar Zubaedah dinikahkan dengan Suria. Haji Hasbullah tak dapat menolak
permintaan teman karibnya itu. Maka, pernikahan Suria dan Zubaedah
dilaksanakan.

Perkawinan yang tanpa didasari rasa cinta sama cinta itu justru membaua
petaka bagi Zubaedah. Kesempatan bagi Suria adalah setelah ayahnya meninggal
dunia. la berfoya-foya dengan harta peninggalan ayahnya itu. Selama tiga tahun,
ia pun meninggalkan Zubaedah yang baru melahirkan anaknya yang pertama,
Abdulhalim.

Ketika harta ayahnya telah ludes, Suria kembali pada Zubaedah. la


mengakui bahwa perbuatannya selama ini telah salah. Pada waktu itu Suria telah
bekerja sebagai juru tulis di kantor asisten di kabupaten. Penghasilannya yang
kecil selalu tak mencukupi kebutuhan keluarganya. Maka, Abdulhalim terpaksa
dibawa kakeknya dan disekolahkan di sekolah Belanda, lalu dilanjutkan ke
sekolah bergengsi di Bandung. Sementara itu, anak Suria terus bertambah. Kedua
adik Abdulhalim bernama Saleh dan Aminah. Oleh Suria, keduanya disekolahkan
di HIS. Itu semua dilakukan Suria hanya karena ia ingin dipandang dan dihomati
masyarakat. Layaknya orang mengatakan "besar pasak daripada tiang". Utang
Suria semakin bertumpuk. Untuk menutupi utang-utang suami dan biaya sekolah
anak-anaknya, Zubaedah sering berkirim surat pada ayahnya, meminta agar
dikirimi uang.

Seringkali terjadi pertengkaran mulut antara Zubaedah dan Suria.


Zubaedah tak kuat lagi menahan malu kepada para penagih yang selalu datang ke
rumahnya. Namun, Suria sendiri bersikap tak acuh menghadapi kenyataan itu.
Bahkan, ia kini ingin naik pangkat ketika didengarnya ada lowongan klerek. Hal
itu ia ceritakan kepada istrinya bahwa beberapa hari yang lalu ia mengirim
permohonan untuk mengisi lowongan itu. Ia begitu yakin atasannya akan
berusaha menolongnya. "Tak usah mengeluh juga, Edah," ujarnya, "kalau sudah
keluar surat angkatan akang jadi klerk, tentu klerk kelas 1, tak perlu kita disokong
ayah dari Rasik lagi. Dengan sekejap saja kita sudah lebih dari pada manteri polisi
yang tertua dinasnya" (hlm. 89).

Utang Suria terus menggunung. Apalagi karena Suria berani mengambil


barang-barang lelangan atasannya. Maka, untuk melunasi utang-utang itu, Suria
jadi gelap mata. la "telan" uang kas di kantornya. Perbuatannya itu diketahui oleh
atasannya. Kemudian, ketika Suria dipanggil atasannya, ia bahkan mengajukan
permohonan berhenti bekerja.

Rupanya, Suria telah merencanakan sebelumnya. Dalam pikirannya,


setelah berhasil menggelapkan uang kas, ia akan membawa istri dan anak-anaknya
pindah ke rumah Abdulhalim yang kini telah bekerja dan telah pula berkeluarga.
Suria mengirim surat kepada anaknya dan mengutarakan maksudnya itu. Sebagai
seorang anak yang ingin membalas budi orang tua, Abdulhalim sama sekali tak
merasa berkeberatan dengan keinginan ayahnya. Mulai saat itu, Suria tinggal di
rumah anaknya.
Orang tua itu rupanya benar-benar tak tahu diri. la tetap bersikap seperti
tuan rumah layaknya. Adapun Abdulhalim dan menantunya dianggapnya sebagai
anak yang harus patuh pada orang tua, sekalipun Abdulhalim sebagai kepala
rumah tangga. "...Patutkah seorang menantu menghinakan mertuanya, patutkah
seorang perempuan berkata sekasar itu terhadapku, bekas manteri kabupaten?
Sudah salah ayahmu mengawinkan Abdulhalim dengan anak jaksa kepala itu.
Mengharapkan gelar dan paras saja. Coba diturutkan nasihatku dahulu:
dikawinkan Abdulhalim dengan anak wedana, yang telah jadi guru di Tasik itu,
tentu takkan begini jadinya" (hlm. 164).

Tak kuasa Zubaedah melihat tingkah laku suaminya yang sering


mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Hal itu pula yang membuat kehidupan
rumah tangga anaknya mulai sering diwarnai percekcokan. Bagi Zubaedah,
keadaan demikian sungguh membuatnya tidak enak hati. Bagaimanapun, sebagai
seorang ibu, ia ingin melihat anaknya hidup bahagia. Kebahagiaan anaknya, justru
terganggu oleh ulah Suria yang merasa bebas berbuat sekehendak hati terhadap
anaknya. la menyesalkan sikap suaminya. "Sesal Zubaedah terhadap Suria
semata-mata, dan sesal tak putus itulah yang mendatangkan penyakit kepadanya"
(hlm. 166). Tekanan batin yang mendatangkan penyakit itu pula yang
mengantarkan Zubaedah mengembuskan napasnya yang penghabisan. la
meninggal di hadapan semua kaum keluarganya.

Kematian istrinya telah membuat Suria merasa sangat malu terhadap


kelakuannya sendiri. Ia telah mengganggu ketenteraman rumah tangga anaknya. la
pula yang menyebabkan istrinya menderita hingga maut menjemputnya. Perasaan
malu yang tak tertanggungkan itu, memaksa Suria mengambil keputusan; ia pergi
entah ke mana. Pergi bersama kesombongan dan keangkuhannya. Menggelandang
membawa sifatnya yang tak juga berubah.

***

N ovel Katak Hendak jadi Lembu ini, termasuk salah satu novel terbaik yang
dihasilkan Nur Sutan Iskandar. Agak mengherankap bahwa pengarang
kelahiran Sumatra Barat ini, mampu menulis novel yang begitu kuat
menghadirkan latar tempat dan latar sosial masyarakat Pasundan. Latar tempatnya
memang terjadi di daerah Jawa Barat. Hampir semua tempat di seputar jawa Barat
—Cirebon, Tasikmalaya, Sumedang, dan Bandung—berikut panorama alamnya
dilukiskan dengan amat meyakinkan. Begitu pula perilaku dan sikap para
bangsawan berikut sebutan-sebutan yang khas Sunda.

Dalam hal tersebut, tersirat pengarangnya hendak melakukan kritik


terhadap priayi atau bangsawan Sunda yang terlalu membanggakan
kebangsawanannya hingga tak mau bekerja keras dan lebih suka dilayani segala
sesuatunya. Hal tersebut tampak jelas dari gambaran sosok pribadi Suria. Jadi,
dalam hal ini, Nur Sutan Iskandar tidak lagi memasalahkan kawin adat, melainkan
sikap dan perilaku bangsawan Sunda yang hanyut oleh obsesi kebangsawanannya.

Studi mengenai karya Nur Sutan Iskandar, lihat ulasan pada ringkasan
Hulubalang Raja.
3. LAYAR TERKEMBANG

Pengarang : S. Takdir Alisjahbana


Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1937; Cetakan XVIII, 1988

T uti adalah putri sulung Raden Wiriaatmadja. la dikenal sebagai seorang


gadis yang berpendirian teguh dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi
wanita. Watak Tuti yang selalu serius dan cenderung pendiam, sangat berbeda
dengan adiknya, Maria. la seorang gadis yang lincah dan periang.

Suatu hari, keduanya pergi ke pasar ikan. Ketika mereka sedang asyik
melihat-lihat akuarium, mereka bertemu dengan seorang pemuda. Pertemuan itu
berlanjut dengan perkenalan. Pemuda itu bernama Yusuf, seorang Mahasiswa
Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Ayahnya adalah Demang Munaf, tinggal di
Martapura, Sumatra Selatan.

Perkenalan yang tiba-tiba itu menjadi semakin akrab dengan diantarnya


Tuti dan Maria pulang. Bagi Yusuf, pertemuan itu ternyata berkesan cukup
mendalam. la selalu teringat kepada kedua gadis itu, dan terutama Maria. Kepada
gadis lincah inilah perhatian Yusuf lebih banyak tertumpah. Menurutnya, wajah
Maria yang cerah dan berseri-seri serta bibirnya yang selalu tersenyum itu,
memancarkan semangat hidup yang dinamis.

Esok harinya, ketika Yusuf pergi ke sekolah, tanpa disangka-sangka ia


bertemu lagi dengan Tuti dan Maria di depan Hotel Des Indes. Yusuf pun
kemudian dengan senang hati, menemani keduanya berjalan-jalan. Cukup hangat
mereka bercakap-cakap mengenai berbagai hal.

Sejak itu, pertemuan antara Yusuf dan Maria berlangsung lebih kerap.
Sementara itu, Tuti dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak
sudah bukan lagi hubungan persahabatan biasa.

Tuti sendiri terus disibuki oleh berbagai kegiatannya. Dalam Kongres Putri
Sedar yang berlangsung di Jakarta, ia sempat berpidato yang isinya membicarakan
emansipasi wanita; suatu petunjuk yang memperlihatkan cita-cita Tuti untuk
memajukan kaumnya.

Pada masa liburan, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura.


Sesungguhnya, ia bermaksud menghabiskan masa liburannya bersama keindahan
alam tanah leluhurnya. Namun, ternyata, ia tak dapat meaghilangkan rasa
rindunya kepada Maria. Dalam keadaan demikian, datang pula kartu pos dari
Maria yang justru membuatnya makin diserbu rindu. Berikutnya, surat Maria
datang lagi. Kali ini mengabarkan perihal perjalanannya bersama Rukamah,
saudara sepupunya yang tinggal di Bandung. Setelah membaca surat itu, Yusuf
memutuskan untuk kembali ke Jakarta, kemudian menyusul sang kekasih ke
Bandung. Setelah mendapat restu ibunya, pemuda itu pun segera meninggalkan
Martapura.

Kedatangan Yusuf tentu saja disambut hangat oleh Maria dan Tuti. Kedua
sejoli itu pun lalu melepas rindu masing-masing dengan berjalan-jalan di sekitar
air terjun di Dago. Dalam kesempatan itulah, Yusuf menyatakan cintanya kepada
Maria.

Sementara hari-hari Maria penuh dengan kehangatan bersama Yusuf, Tuti


sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku.
Sungguhpun demikian, pikiran Tuti tidak urung diganggu oleh keinginannya
untuk merasakan kemesraan cinta. Ingat pula ia pada teman sejawatnya, Supomo.
Lelaki itu pernah mengirimkan surat cintanya kepada Tuti.

Ketika Maria mendadak terkena demam malaria, Tuti menjaganya dengan


sabar. Saat itulah tiba adik Supomo yang ternyata disuruh Supomo untuk meminta
jawaban Tuti perihal keinginannya untuk menjalin cinta dengannya. Sungguhpun
gadis itu sebenarnya sedang merindukan cinta kasih seseorang, Supomo
dipandangnya sebagai rukan lelaki idamannya. Maka, segera ia menulis surat
penolakannya.

Sementara itu, keadaan Maria makin bertambah parah. Kemudian


diputuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Ternyata, menurut keterangan
dokter, Maria mengidap renyakit TBC. Dokter yang merawatnya menyarankan
agar Maria dibawa ke rumah penyakit TBC di Facet, Sindanglaya, Jawa Barat.

Perawatan terhadap Maria sudah berjalan sebulan lebih lamanya. Namun,


keadaannya tidak juga mengalami perubahan. Lebih dari pada itu, Maria mulai
merasakan kondisi kesehatan yang makin lemah. Tampaknya, ia sudah pasrah
menerima kenyataan.

Pada suatu kesempntan, di saat Tuti dan Yusuf berlibur di rumah Ratna
dan Saleh di Sindanghya, di situlah mata Tuti mulai terbuka dalam memandang
kehidupan di pedesaan. Kehidupan suami-istri yang melewati hari-harinya dengan
bercocok tanam itu, ternyata juga telah mampu membimbing masyarakat
sekitarnya menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Keadaan tersebut benar-
benar telah menggugah alam pikiran Tuti. la menyadari bahwa kehidupan mulia;
mengabdi kepada masyarakat, tidak hanya dapat dilakukan di kota atau dalam
kegiatan-kegiatan organisasi, sebagaimana yang selama ini ia lakukan, tetapi juga
di desa atau di masyarakat mana pun, pengabdian itu dapat dilakukan.

Sejalan dengan keadaan hubungan Yusuf dan Tuti yang belakangan ini
tampak makin akrab, kondisi kesehatan Maria sendiri justru kian
mengkhawatirkan. Dokter yang merawatnya pun rupanya sudah tak dapat berbuat
lebih banyak lagi. Kemudian, setelah Maria sempat berpesan kepada Tuti dan
Yusuf agar keduanya tetap bersatu dan menjalin hubungan rumah tangga, Maria
mengembuskan napasnya yang terakhir. "Alangkah bahagianya saya di akhirat
nanti, kalau saya tahu, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-
kasihan seperti kelihatan kepada saya dalam beberapa hari ini... Inilah permintaan
saya yang penghabisan, dan saya, saya tidak rela selama-lamanya, kalau
kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain" (hlm. 209).
Demikianlah pesan terakhir almarhum, Maria. Lalu, sesuai dengan pesan tersebut,
Yusuf dan Tuti akhirnya tidak dapat berbuat lain, kecuali melang-sungkan
perkawinan karena cinta keduanya memang sudah tumbuh bersemi.

***
K arya penting ketiga di antara roman-roman sebelum perang menurut
anggapan umum, ialah Layar Terkembang..." demikian tulis Teeuw (Sastra
Baru Indonesia I, 1980). Sebagian besar kritikus sastra, antara lain, Ajip Rosidi,
Zuber Usman, Amal Hamzah, H.B. Jassin, maupun Teeuw, menyebut novel Layar
Terkenibang sebagai novel bertendensi. Di antaranya juga ada yang berpendapat
bahwa sikap dan pemikiran tokoh Tuti lebih menyerupai sebagai sikap dan
pemikiran S. Takdir Alisjahbana, khususnya dalam usaha mengangkat harkat
kaum wanita (Indonesia). Tokoh Tuti yang digambarkan sebagai wanita modem
yang aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, memang tidak sedikit melontarkan
gagasan progresif. la juga selalu merasa terpanggil untuk ikut terjun memajukan
bangsanya sendiri, khususnya kaum wanita.

Mengenai tahun terbit novel ini, Pamusuk Eneste, Ajip Rosidi, H.B. Jassin,
dan Teeuw menyatakan bahwa novel ini terbit tahun 1936. Namun, pada cetakan
VII (1959) dan cetakan XVIII (1988) tertulis bahwa cetakan pertama tahun 1937.

Pada tahun 1963, novel ini terbit dalam edisi bahasa Melayu di Kuala
Lumpur dan hingga kini masih terus dicetak ulang.

Studi mengenai novel ini pernah dilakukan Mariam binti Hj. Ismail (1973) dan
Moh. Basir bin Haji Noor (1975) keduanya merupakan studi sarjana muda FS
Unas. Sebelum itu, Noer Islam Moenaf (FS UI, 1961) melakukan penelitian
terhadap novel itu sebagai bahan skripsi sarjananya. Adapun Somi Moh. Hatta
(FKIP UI, 1961) lebih banyak memaparkan kepujanggaan Alisjahbana secara
cukup lengkap. Hal yang juga pernah dilakukan A. H. Johns (1959), guru besar
yang kini mengajar di Australian National University.

4. BELENGGU

Pengarang : Armijin Pane (18 agustus 1908-6 Februari


1970)
Penerbit : Dian Rakyat
Tahun : 1940; Cetakan XIII, 1988
D okter Sukartono (Tono) adalah seorang dokter yang bijaksana. la tak
pernah meminta bayaran apabila mengetahui pasiennya adalah orang tidak
mampu hingga ia dikenal sebagai dnkter yang dermawan. Selain itu, ia
mempunyai sifat ramah : terhadap siapa saja yang dikenalnya.

Namun, karena kesibukannya sebagai dokter, Tono hampir tak mempunyai


waktu untuk memberi perhatian kepada Tini (Sumartini), istrinya. Tini yang
merasa tidak mendapat perhatian dari suaminya, mencari kesibukan di luar rumah.
Akibat kesibukan mereka, Tono dan Tini jarang mempunyai waktu bersama-
sama. Hal ini menimbulkan akibat lain, mereka tidak dapat mengkomunikasikan
pikiran masing-masing. Masalah-masalah yang timbul sering hanya dipikirkan
sendiri-sendiri sehingga timbul kesalahpahaman yang sering menimbulkan
pertengkaran yang mewarnai rumah tangga mereka.

Pandangan Tono dan Tini juga berbeda dalam hubungan suami-istri. Tono
berpendapat, tugas seorang wanita adalah mengurus anak, suami, dan segala hal
yang berhubungan dengan rumah tangga. Sebaliknya, Tini menginginkan adanya
persamaan hak antara pria dan wanita. Bahkan, ia menganggap pria sebagai
saingan, sekalipun terhadap suaminya. Akibat pandangannya itu, Tini melupakan
tugasnya sebagai seorang istri.

Sebenarnya, penyebab utama ketidak harmonisan hubungan suami-istri itu


terletak pada tidak adanya rasa saling mencintai di antara mereka. Tono
memperistri Tini karena kecantikan, kecerdasan, dan keceriaan wanita itu yang
dianggap pantas menjadi pendamping seorang dokter seperti dirinya. Bahkan,
Tono tidak mempedulikan keadaan Tini yang tidak perawan lagi ketika menikah.
Di lain pihak, Tini bersedia menjadi istri Tono karena ia ingin melupakan masa
lalunya yang kurang baik. Ia berharap, dengan menjadi istri yang baik, masa
lalunya yang dianggap aib dapat terhapus. Akan tetapi, aib itu selalu membayangi
kehidupannya hingga menimbulkan rasa rendah diri dalam diri Tini.
Kekacauan rumah tangga Tono dan Tini diperburuk dengan hadirnya
orang ketiga, yang memperkenalkan diri sebagai Nyonya Eni. Nyonya Eni
sebenarnya bernama Yah (Siti Rohayah alias Siti Hayati). la seorang penyanyi
keroncong dan juga seorang wanita panggilan. Dahulu, Yah adalah tetangga dan
teman sekolah Tono. Diam-diam, ia mencintai Tono dan mendambakannya
menjadi suaminya. Namun, kemudian, ia menjadi korban kawin paksa dan
akhirnya ia melarikan diri hingga terjerumus dalam lembah kenistaan.

Ketika Yah mengetahui alamat Tono, ia berpura-pura sakit dan memanggil


dokter itu. Berkat pengalamannya bertemu dan bergaul dengan banyak laki-laki,
Yah dapat memikat Tono dalam pelukannya. la mengetahui kelemahan Tini yang
membutakan pikiran dan perasaan terhadap keinginan laki-laki. Kemudian Yah
melimpahkan kasih sayangnya. Bagi Tono, curahan kasih sayang Yah itu tak ia
rasakan dari istrinya sendiri.

Kehadiran Yah bagi dokter itu, justru seolah-olah menemukan kembali


kehangatan cinta yang selama ini ia dambakan. Yah menjadi curahan perasaan
dan keluh-kesahnya. la mulai merasakan, sebuah cinta mulai bersemi di hatinya.
Akhirnya, tempat tinggal perempuan itu menjadi rumah kedua Tono.

Lambat-laun, hubungan gelap mereka diketahui juga oleh Tini. Lalu, tanpa
sepengetahuan suaminya, ia mendatangi wanita yang telah merebut suaminya. Ia
penasaran, macam apakah sosok perempuan itu. "Tini mulai tertarik hatinya. Patut
Tono tertarik. Tidak benar ia penyanyi keroncong, tingkah lakunya tertib. Sambil
merasa heran demikian diikutinya Yah naik tangga, diturutnya ajakan Yah supaya
duduk" (him. 142).

Menghadapi perilaku dan sikap Yah yang begitu santun dan tertib itu, Tini
merasa malu sendiri. Perasaan marah dan cemburu yang dibawanya dari rumah,
luluh sudah, dan berbalik mengagumi perempuan itu. Ia menyadari kelebihan
Yah. la juga menyadari kekurangannya selama ini, telah menyia-nyiakan Tono,
suaminya. Dengan ikhlas Tini menyatakan kerelaannya menerima kenyataan itu;
rela Yah merebut suaminya.
Apa yang ia ketahui tentang Yah dan kenyataan yang ia hadapi dalam
hubungan suami-istri, Tini kemudian membicarakan persoalan itu dengan
suaminya. Betapa terkejut Tono melihat sikap istrinya yang demikian. la berusaha
untuk menahan istrinya agar tetap mau bersamanya. Namun, sikap Tini tetap tak
berubah. Perpisahan suami-istri itu rupanya tak terelakkan lagi. Sungguhpun berat
bagi Tono untuk bercerai dari istrinya, ia sendiri tak dapat memaksakan
kehendaknya. la terpaksa merelakan kepergian istrinya walaupun Tono masih
tetap berharap agar hubungan mereka baik kembali. Kapan pun Tono akan tetap
bersedia menerima Tini kembali.

Sekepergian sang istri, Tono bermaksud mengunjungi Yah di rumahnya.


Namun, betapa terkejutnya Tono, wanita yang selalu menjadi curahan hatinya itu,
kini tak ada lagi. Yah pergi ke New Caledonia. Pergi meninggalkan cinta sang
dokter yang selalu mendambakan kehangatan hidup berumah tangga.

Di sana, di sebuah kapal yang membawanya ke negeri baru, Yah tercenung


sendiri. "Rohayah berbalik ... di sana gelap juga, tapi semangatnya tahu, di
sanalah, lautan lepas, di sana dunia Iain, memang dunia baru, tapi sunyi ... Tono
tidak ada di sana, di New CaIedonia ..." (him. 162).

Tono kini sendiri. Yah telah pergi ke dunia yang baru. Tini juga pergi ke
Surabaya mengabdikan dirinya menjadi pengurus panti yatim piatu di kota itu.

Sungguhpun kini Tono sendiri, ia tidak hanyut dalam kesedihan yang


berlarut-larut. la menekuni bidangnya; mengabdikan diri dalam penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat.

***

S ejauh ini, para pengamat sastra Indonesia selalu menempatkan novel ini
sebagai novel terpenting yang terbit sebelum perang. Sejak kemunculan yang
pertama, 1940, novel ini banyak memperoleh berbagai tanggapan dan pujian.
Semula novel ini ditolak oleh Penerbit Balai Pustaka karena isinya dianggap tidak
sesuai dengan kebijaksanaan Balai Pustaka. Baru pada tahun 1940, penerbit Dian
Rakyat—milik Sutan Takdir Alisjahbana—menerbitkan novel ini yang ternyata
mendapat sambutan luas berbagai kalangan. Novel ini juga dipandang sebagai
novel pertama Indonesia yang menampilkan gaya arus kesadaran (stream of
consciousness).

Pada tahun 1969, novel ini memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintah


Indonesia. Menurut Prof. Liang Liji, dalam makalahnya "Pengajaran dan
Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia di Tiongkok" yang dibawakan dalam
Kongres Bahasa Indonesia V, 28 Oktober 1988, Belenggu, bersama Bila Malam
Bsrtambah Malam dan Jalan Tak Ada Ujung sudah diterjemahkan ke dalam
bahasa Cina. Pada tahun 1989, John H. McGlynn, juga menerjemahkan Belenggu
ke dalam bahasa Inggris dengan judul Shackles yang diterbitkan Yayasan Lontar,
Jakarta.

Studi mengenai novel ini pernah dilakukan Ign. Sumarno (FS UGM, 1971)
sebagai bahan penelitian sarjana mudanya. Penelitian yang lebih mendalam
dilakukan M. Saleh Saad (FS UI, 1963), Robert A. Crawford (University of
Melbourne, 1971), The Shackles of Doubt: Armijn Pane and His Art, serta J
Angles (Australian National University, Canberra, 1988) berjudul "The Fiction of
Armijn Pane." Pada tahun 1982, R. Carle (RFJ, Berlin) membuat tafsiran atas
novel Belenggu dalam penelitiannya yang berjudul "Die Gedankkliche Exposition
des Romans Belenggu von Armijn Pane." Pada tahun 1988, J. Djoko S.
Passandaran (FKIP, Universitas Palangkaraya) meneliti novel Belenggu sebagai
novel eksistensial.

Hingga kini, berbagai ulasan dan tanggapan, baik berupa makalah ilmiah
maupun artikel, masih banyak yang membahas novel ini, dengan berbagai tafsiran
dan sudut pandang.

Novel Belenggu yang pertama kali muncul di majalah Pujangga Baru, No.
7, 1940 ini sebenarnya ditulis Armijn Pane, tahun 1938. Pada tahun 1965, novel
ini terbit dalam edisi bahasa Melayu di Kuala Lumpur dan hingga kini terus
mengalami cetak ulang.
5. AKI

Pengarang : Idrus (21 September 1921-18 Mei 1979)


Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1949
P enyakit TBC yang diidap Aki menyebabkannya seperti orang yang sudah
tua. Dalam usia yang baru berumur 29 tahun, lelaki kurus kering ini tampak
seperti berumur 42 tahun. Biasanya, keadaan orang seperti itu disebabkan masa
mudanya yang habis dengan main perempuan jahat. Selain itu, bentuk tubuhnya
yang bongkok membuat Aki menjadi bahan tertawaan yang mengasyikkan. Akan
tetapi, ternyata hal itu tak dilakukan teman-temannya di kantor. Bahkan, mereka
sangat hormat kepada orang yang di mata mereka adalah orang yang berhati lurus
dan bertingkah wajar.

Penyakit TBC yang diderita Aki itu suatu ketika mencapai titik kritis.
Puncaknya adalah ketidak bernafasan Aki untuk beberapa saat. Sebagai istri setia,
Sulasmi terkejut melihat kenyataan yang menimpa suaminya. la kalap. Akan
tetapi, tak lama kemudian suaminya siuman, bahkan sebuah senyum tersungging
di bibirnya. Di antara senyuman itu, Aki mengatakan dengan pasti bahwa ia akan
mati pada tanggal 16 Agustus tahun depan. la berharap Sulasmi mau menyediakan
segala perlengkapan yang diperlukan untuk menghadapi hari kematiannya itu.

Rekan-rekan Aki di kantor menganggap lelaki itu sudah gila. Tidak


terkecuali anggapan kepala kantornya. la yang sudah merencanakan kenaikan
pangkat dan gaji Aki, tidak percaya kepada omongan pegawai kesayangannya itu.
Diselidikinya tingkah laku lelaki itu, tetapi Aki memang tidak gila. "Di sini
didapatinya Aki sedang bercakap-cakap dengan seorang bawahannya tentang
pekerjaan. Sep itu seketika lamanya memperhatikan cakap Aki, tapi satu kata pun
tiada menandakan bahwa Aki telah gila. la pergi ke meja Aki, diperhatikannya
pekerjaan Aki yang sedang terbentang di atas meja. Pekerjaan itu tiada cacatnya"
(him. 17).

Hari kematian yang dikatakan Aki telah tiba. Semua orang bersiap-siap.
Akbar dan Lastri, anak-anak Aki, meminta izin tidak bersekolah. Pegawai-
pegawai kantor menghiasi mobil kantor dengan bunga-bungaan. Kepala kantor
berlatih menghapalkan pidato yang kelak akan dibacakan di kubur Aki. Lelaki itu
sendiri memakai pakaian terbagus yang dimilikinya untuk menyambut Malaikatul
maut yang akan menjumpainya pukul tiga sore nanti.
Ketika pukul tiga telah lewat, Sulasmi memberanikan diri untuk melihat
suaminya. Dilihatnya mata suaminya yang tertutup rapat. Lalu, dipanggilnya
nama Aki berulang-ulang, tetapi tak ada jawaban. Dengan diiringi tangis, Sulasmi
berlari ke luar kamar untuk menemui orang-orang yang menungguinya. Tahulah
para penunggu itu bahwa Aki telah meninggal. Saling berebut mereka masuk ke
kamar Aki. Akan tetapi, mereka terkejut dan berlarian dari kamar ketika melihat
Aki sedang merokok. "Tiada seorang pun yang berani mengatakan, apa yang
dilihat mereka dalam kamar itu. Mereka puntang-panting lari meninggalkan
rumah Aki. Dan yang belum masuk kamar, karena keinginan hendak tahu yang
amat besar, menjulurkan kepalanya juga, tapi segera pun mereka lari puntang-
panting keluar. Sehingga akhirnya semua pegawai itupun meninggalkan rumah
Aki secepat datangnya" (him. 36).

Sulasmi bersyukur bahwa Aki tidak mati. Ternyata, Aki hanya tertidur dan
tebangun karena keributan pegawai-pegawai teman sekantornya.

Entah mengapa, sejak peristiwa itu Aki selalu terlihat sehat. la tampak lebih
muda dari usia yang 42 tahun. Lalu, sebagai pengganti kepala kantor yang telah
meninggal tiga tahun yang lalu, ia terlihat atraktif. Bahkan, Aki kembali
bersekolah di fakultas lukum, bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa yang
usianya jauh di bawah Aki. Tentang hidup? Lelaki yang telah sembuh dari TBC
ini ingin hidup lebih lama lagi. la mgin hidup seratus tahun lagi. Separuh
hidupnya akan diabdikan sebagai pegawai dan separuh hidupnya lagi akan
dipergunakan sebagai akademikus.

***

D alam sejarah kesusastraan Indonesia, Idrus dikenal sebagai pengarang yang


menampilkan gaya penulisan yang menurut H.B. Jassin sebagai
kesederhanaan baru (nieuwc zakcUjheid)—Ajip Rosidi menyebut gaya ini dengan
istilah gaya-menyoal-baru (nieuwe zakelijkhcids stijl) yang serba sederhana.
Gaya penulisan demikian itu, umumnya tampak kuat dalam cerpen-cerpen Idrus
yang paling awal.
"Yang paling baik ialah roman pendeknya yang berjudul Aki, 1950 (sic/)".
Demikian Teeuw (1980: 221) mengomentari novel Idrus ini. Selanjutnya Teeuw
mengatakan, "buku kecil ini menarik terutama karena leluconnya yang ringan,
yang dibiarkan berkembang sepenuhnya karena temanya yang tidak bersifat real
itu."

Dalam perjalanan novel Indonesia, tema yang ditampilkan Idrus dalam Aki
memang dapat dikatakan baru. Seseorang dapat menentukan saat
kematiannya yang dipercayai oleh orang-orang di sekelilingnya, adalah
hal yang aneh dan lucu. jadi, ada kesan bahwa Idrus ingin mengejek orang-
orang yang sangat ketakutan menghadapi kematian. Padahal, maut pasti
datang tanpa seorang pun tahu kapan waktunya.

6. PERTEMUAN JODOH

Pengarang : Abdul Muis

Penerbit : Balai Pustaka

R atna, seorang murid Frobelkweeschool, secara tak sengaja berkenalan


dengan pemuda Suparta dalam kereta yang membawanya dari Jakarta ke
Bandung. Suparta berusaha mencarikan tempat duduk buat gadis itu, yang semula
dipenuhi barang-barang milik sepasang suami-istri Tionghoa. Di Stasiun Cimahi,
suami-istri Tionghoa itu ditahan polisi karena ditemukan membawa candu.

Perkenalan tersebut rupanya berkesan cukup dalam bagi sepasang anak


muda itu. Suparta pun berkesempatan untuk mengantarkan gadis itu sampai ke
halaman sekolahnya. Selanjutnya, mereka sepakat untuk meneruskan hubungan
lewat surat.

Beberapa bulan kemudian, Suparta yang murid Stovia itu, melalui sepucuk
surat, mengutarakan niatnya untuk memperistri Ratna. Meskipun tidak secara
tegas, Ratna menyambut baik niat Suparta. la bersedia juga menghabiskan masa
liburannya di Surnedang untuk sekaligus berkenalan secara baik-baik dengan
keJuarga pemuda itu. "Ibu Suparta termasuk golongan 'menak baheula', yaitu
orang tua turunan bangsawan yang masih berpegang teguh alam keadaan dan adat
lembaga zaman dahulu" (hlm. 29).

Sambutan ibu Suparta ternyata tidak begitu ramah. Ratna kecewa pada sikap
Nyai Raden Tedja Ningrum yang memandangnya dengan cemooh setelah tahu
bahwa Ratna turunan orang kebanyakan saja. Ibu Suparta juga bahkan sengaja
menyinggung-nyinggung nama gadis lain yang dianggapnya lebih pantas untuk
anaknya, yang tak lain adalah teman sekelas Ratna di Frobelkweeschool.

Ratna kemudian bertekad untuk melupakan Suparta. Berita pertunangan


Suparta dengan Nyai Raden Siti Halimah alias "Dewi Dekok" tidak membuatnya
putus asa. Namun, kemalangan lain terpaksa pula harus ia terima. Usaha
pembakaran kapur ayahnya, Tuan Atmadja, bangkrut. Akibatnya, Ratna terpaksa
memutuskan keluar dari sekolahnya.

Cobaan-cobaan itu tidak membuat Ratna patah semangat. la pun kemudian


berusaha mencari pekerjaan. Gaji yang ia terirna sebagai pelayan toko,
digunakannya untuk membiayai sekolah adiknya, Sudarma. Namun, baru empat
bulan ia bekerja, toko itu harus ditutup atas perintah pengadilan. Ratna kembali
melamar pekerjaan di kantor advokat. Namun, ia terpaksa mengurungkan niatnya
karena si advokat itu berusaha menggodanya. Dalam kebingungan, ia lewat di
depan sebuah rumah besar. Pikirannya kemudian muncul, untuk menjadi
pembantu rumah tangga. la pun menjadi pembantu Tuan dan Nyonya Kornel.

Sementara itu, Suparta yang sudah menjadi dokter berusaha mcnjumpai


Ratna kembali. la kehilangan jejak kekasihnya itu. la juga menyesalkan
ketidaksetujuan ibunya terhadap keinginannya untuk memperistri Ratna. Namun,
ketika sikap keras hati ibunya itu melunak, Suparta justru kehilangan jejak Ratna.
Berkat pertolongan direktris Frobelkweeschool, dokter muda itu memperoieh
alamat orang tua Ratna di Tagogapu. Ternyata, di rumah orang tua Ratna, Suparta
juga tak menjumpai gadis itu. Orang tua Ratna yang melihat kesungguhan Suparta
merasa tersentuh hatinya sehingga mereka rriemberitahukan alamat Ratna di
Kebon Sirih. Alangkah terkejutnya Suparta ketika mendengar bahwa Ratna sudah
berangkat ke Jakarta bersama adiknya pagi itu, sedangkan pemilik rumah tempat
Ratna menumpang tidak mengetahui tujuan kakak beradik itu ke Jakarta.

Dalam pada itu, selama Ratna menjadi pembantu keluarga Kornel, berbagai
cobaan harus diterimanya dengan tabah. Kehadirannya dalam keluarga itu tidak
luput dari rasa iri Jene, pembantu yang juga bekerja pada keluarga Kornel. Hingga
pada suatu ketika, Ratna dituduh mencuri perhiasan Nyonya Kornel atas fitnah
Jene. Ratna kemudian dibawa ke kantor polisi. Ketika para polisi yang
menjaganya lengah, Ratna melarikan diri, kemudian terjun ke sungai di sekitar
jembatan Kwitang. Beruntung, nyawanya masih dapat diselamatkan. Dalam
keadaan sekarat, ia dibawa ke rumah sakit.

Sangat kebetulan bahwa dokter yang merawat Ratna adalah Suparta.


Pertemuan itu tentu saja membesarkan hati kedua belah pihak. Keyakinan Suparta
bahwa Ratna tidak bersalah, ikut mempercepat kesembuhan wanita muda itu.
Untuk rnemulihkan nama baik Ratna, dokter muda itu menyiapkan seorang
pengacara terkenal untuk mendam-pingi gadis pujaannya di pengadilan. Sebab,
bagaimanapun, Ratna masih harus ber-urusan dengan penegak hukum.

Di pengadilan terbukti bahwa Ratna tidak bersalah. Pencuri perhiasan


Nyonya Kornel ternyata adalah A mat, kekasih Jene. Pembantu keluarga Kornel
yang bernama Jene itu diduga diperalat oleh kekasihnya. Pengadilan juga
memutuskan bahwa Amat bersalah dan diganjar lima tahun penjara. Sementara
itu, Jene tidak dikenakan hukum-an walaupun sebenarnya harus dituntut.

Sidang pengadilan juga telah mempertemukan Ratna dengan Sudarma,


adiknya, schattcr pegadaian Purwakarto yang bertindak sebagai saksi pertama.
Lalu, atas ke-sepakatan Suparta dan Sudarma, Ratna disuruh beristirahat di sebuah
paviliun "Bidara Cina". Gadis itu tidak dii/inkan bertemu dengan sembarang
orang, kecuali Suparta yang setiap sore datang memeriksa kesehatannya. Lambat-
laun kesehatan Ratna mulai puiih. la juga mulai dapat mengingat-ingat segala
sesuatunya, termasuk hubungannya dengan Suparta.

Begitu Ratna meninggalkan tempat peristirahatannya, Suparta melamarnya.


"Dokter Suparta sendiri yang berkehendak, supaya nikah dilangsungkan hari
ini, ..." (hlm. 155). Tuan Atmadja sekeluarga berkumpul di rumah Sudarma
menyelenggarakan pesta perkawinan Ratna dengan Dokter Suparta.

Kebahagiaan pengantin baru itu bertambah lagi ketika mereka pulang ke


Tagogapu. Rumah ayah Ratna kini lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Keadaan Tuan Atmadja sekarang sudah lebih baik lagi berkat bantuan kedua
anaknya. Kini, pengantin baru itu menempati sebuah rurnah besar, bersebelahan
dengan rurnah orang tua Ratna. Rumah itu sengaja dibangun Suparta sebagai
hadiah perkawinan bagi istrinya.

***

N ovel kedua Abdul Muis, Pertemuan Jodoh ini menurut Teeuw merupakan
roman peralihan. Bukan saja karena pengarangnya merupakan hasil
perkawinan antar-pulau, tetapi karena hampir seluruh hayatnya ia tinggal di Jawa
(Sastra Baru Indonesia 1, 1980). Pertemuan Jcdoh tidak lagi berccrita tentang
pemuda-pemudi Minangkabau, tetapi tentang pemuda bangsawan Sunda dengan
gadis Sunda keturunan orang kebanyakan, Ibu Suparta yang "menak baheula"
akhirnya kalah oleh keinginan anaknya yang tidak lagi kukuh mempertahankan
adat tradisi kemenakannya atau kebangsa-wanannya.
Seperti juga pada.Salah Asuhan, jalinan peristiwanya disajikan secara
meyakinkan. Perwatakan tokoh-tokoh ceritanya juga tampil meyakinkan. Tokoh-
tokoh yang tidak terpelajar, misalnya, dalam dialognya menggunakan kata-kata
bahasa Betawi. Dengan demikian, Pertemuan Jodoh boleh dikatakan merupakan
pengamatan pengarangnya terhadap lingkungan sekitarnya setelah ia lama berada
di Jawa, terutama di Bandung (Abdul Muis pernah bekerja sebagai klerek di
Departemen Buderwijs en Eredienst dan menjadi wartawan di Bandung).

Studi mengenai novel ini pernah dilakukan oleh Jalal Ahmad bin Abdullah
(FS UI, 1962) dan Shaaban bin Abu (FS Unas, 1974). Menurut Shaaban novel ini
merupakan lanjutan dari Salah Asuhan. Kajian lebih mendalam dilakukan oleh K.
Karmana Mah-mud (FS UGM, 1984) dalam tesis S2-nya yang berjudul "Tinjauan
Roman Pertemuan Jodoh atau Dasar Pendekatan Strukturalisme dan Semiotik".

7. DI ATAS PUING-PUING

Pengarang : Th. Sri Rahayu Prihatmi (7 Mei


1944)

Penerbit : Pustaka Jaya

Y ayuk bertemu dengan teman semasa kecilnya, Arini. Kemudian Arini


menyerahkan catatan hariannya kepada Yayuk yang berisi tragedi
kehidupannya.

Catatan harian itu dimulai dengan kegalauan Arini karena kegoncangan


dalam rumah tangganya. Kebahagiaannya bersama suami dan tiga anaknya
terganggu dengan hadirnya Retno, muhd suarninya.
Sang suami, Hardi, akhirnya memutuskan untuk memperistri Rctno dan
memohon kepada Arini agar bersedia dimadu. "Terimalah ia sebagai adikmu"
(hlm. 41), kata Hardi suatu ketika. Kedua orang tua dan bibi Arini menolak dan
berontak. la tak mau dimadu, meskipun sesungguhnya ia masih mencintai Hardi.

Pertemuan kembali Arini dengan Hendra, bekas pacarnya, yang masih


mencintainya, tetapi tidak dicintainya itu, menggodanya untuk lari dari rumah.
Mereka pun meninggalkan Yogya dengan membawa serta Neni, anak bungsu
Arini. Arini dan Hendra hidup bersama tanpa nikah di Jakarta dalam sebuah
kamar sewaan sederhana berdin-ding bambu.

Hendra tidak berhasil mendapat pekerjaan di Jakarta, sehingga Arini harus


mencari nafkah sebagai karyawan perusahaan menjahit. la sempat lupa pada
kepahitan hidup yang baru dilaluinya, sampai datang berita dari Yogya yang
memintanya agar pulang karena Iwan, anak keduanya yang dititipkan pada orang
tuanya, menderita sakit keras.

Di Yogya Arini dan Hendra bertemu kembali dengan suami, orang tua, dan
anak-anak Arini. Terjadi pembicaraan singkat. Akhirnya diputuskan agar Arini
boleh hidup bersama Hendra beserta Iwan dan Neni, sementara Ita, anak
sulungnya, tinggal bersama Hardi dan Retno.

Hendra kembali lebih dahulu untuk mencari pekerjaan. Arini menunggu


sampai Iwan seuibuh dari sakitnya. Selama penantian itu, ternyata Hardi masih
membujuk Arini agar kembaii padanya, namun Arini tetap menolak untuk
dimadu, Bahkan rayuan Hardi membuat Arini semakin membencinya.

"Kukira aku telah berhasil mematikan segala pertalianku dengannya lewat


jalan menyuburkan perasaan benciku padanya. Dan semakin benci pula aku..."
tulis Arini dalam catatan hariannya (hlm. 74).

Nasihat dari Pastor Paroki agar Arini bersabar dan meninggalkan "jalan
sesat"-nya pun tidak bisa mengubah keputusannya. Undangan pertemuan dari
mertuanya juga ditolak. la tetap pada keputusannya untuk meninggalkan Yogya
dan menempuh hidup baru di Jakarta. Hal itu dilaksanakannya segera setelah Iwan
sembuh dan Hendra berhasil memperoleh pekerjaan.

Di Jakarta "keluarga baru" Arini tidak lagi menempati kamar sempit karena
Hendra telah sanggup mengontrak rumah sederhana yang masih berdinding
bambu. Meskipun mereka hidup kekurangan, Arini merasa lebih tentram.
Perhatian-perhatian kecil dari Hendra, seperti pemberian kado ulang tahun, mulai
menumbuhkan rasa cintanya lagi. Arini mengungkapkan dalam catatan hariannya:

"Dan aku merasakan ketentraman rumah tangga yang sempurna ketika


duduk bersama 'suami'-ku dikelilingi anak-anak. Kupeiuki anakku sementara
'suami'-ku meletakkan tangannya di bahuku. Rambutku pun mesra menyentuh
dadanya" (hlm. 82).

Pada suatu ketika Hendra mengajak Arini mengunjungi orang tua Hendra di
Semarang. Arini yang semula menolak karena merasa malu sebagai orang yang
"penuh dengan dosa", akhirnya bersedia ikut. Ternyata orang tua Hendra merestui
hubungan mereka meskipun hanya berlandaskan surat kawin catatan sipil tanpa
persetujuan gereja.

Arini kemudian hamil dan melahirkan bayi perempuan. Meskipun ayahnya


masih tampak belum memberi maaf, Arini cukup senang ketika kedua orang
tuanya datang menjenguk.

Setelah dua tahun hidup bersama, Arini dan Hendra bisa membangun rumah
sendiri. Mereka sekeluarga mulai mengecap kebahagiaan.

Sampai di sini catatan harian Arini selesai dibaca Yayuk, namun cerita
belum berakhir. Sebuah telegram sampai ke tangan Yayuk yang berisi berita
kematian Hendra karena kecelakaan pesawat. Karena kesibukan keluarganya, baru
setengah tahun kemudian Yayuk bisa mengunjungi Arini. Pertemuan antara
mereka membangkitkan keharuan.

Yayuk membuka kembali catatan harian Arini. Setelah kematian Hendra,


ternyata Hardi masih juga mencoba membujuk Arini agar kembali kepadanya.
Sekali lagi Arini menolak. Nasihat bibinya juga tidak menggoyahkan
keputusannya; tidak bisa me-nerima poligami.

Dua tahun kemudian Arini mengunjungi Yayuk. la bercerita bahwa anak-


anaknya tinggal bersama nenek mereka, sedangkan ia sendiri melanjutkan usaha
menjahitnya. Kisah cerita Arini pun kembali berulang. la menjalin cinta dengan
seorang duda beranak dua. Namun, karena duda itu juga beragama Katolik,
mereka tidak mungkin menikah di gereja. Keluarga Arini juga tidak ada yang
menyetujuinya untuk menikah lagi. Akhirnya Arini harus menerima nasib hidup
"di atas puing-puing" sebagai janda dengan anak-anak yang harus tetap menjadi
tanggung jawabnya.

***

N ovel ini mendapat rekomendasi dari Dewan Juri Sayembara Mengarang


Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976 sebagai karangan yang layak
diterbitkan untuk bacaan biasa. Bentuk novel ini sebenarnya cukup rumit,
mengingat adanya catatan harian yang justru merupakan salah satu bagian penting
dalam keseluruhan cerita berbingkai itu, temanya juga sebenarnya cukup
problematik; perkawinan yang dilihat dari kaca mata agama Katolik. Walaupun
pengarangnya sendiri tampak tidak hendak melakukan kritik atas aturan
perkawinan menurut ajaran agama Katolik, terkesan pula hendak
mempertanyakannya kapan sebuah perkawinan mulai menghadapi keretakan.
Ternyata pilihan "hidup bersama" tanpa ikatan perkawinan, juga dapat
menimbulkan masalah, apalagi jika dilihat dari norma-norma kemasyarakatan.
Dalam hal inilah Teeuw (1989: 194—195) mengomentarinya sebagai tema yang
patut mendapat perhatian.
8. PELABUHAN HATI

Pengarang : Titis Basino P.I. (17 Januari


1939)

Penerbit : Pustaka Jaya

C inta Rani yang begitu besar kepada Ramelan, seorang mahasiswa fakultas
teknik, telah membuat gadis itu rela berkorban demi mewujudkan harapan
cintanya itu. la rela membiayai kuliah kekasihnya sampai Ramelan menyelesaikan
studihya dan menjadi insinyur, la juga nekat lari dari orang tuanya, kemudian
kawin dengan Ramelan secara sederhana. Dari upahnya menerima jahitan,
semuanya dapat berjalan sesuai dengan rencana,

Masa-masa bahagia pun mereka rasakan. Ramelan kemudian bekerja di


berbagai proyek, di sarnping mengajar di beberapa perguruan -tinggi. Satu per
satu anaknya lahir; "Dua anak laki-laki yang beringas dan dua gadis manis yang
cerdik" (hlm. 8). Mereka hidup dalam curahan kebahagiaan di sebuah rumah
sederhana.

Lambat-laun penghasilan Ramelan makin meningkat. Secara pasti


kehidupan mereka tak lagi kekurangan. Bahkan sebuah rumah gedung sedang
dipersiapkan secara diam-diam, walaupun Rani sendiri mengetahui rencana itu.

Suatu hari, teman Rani, Sofia, mengundang Rani untuk datang ke


rumahnya. Tanpa sepengetahuan suaminya, Rani memenuhi undangan itu. Sofia
kemudian mengajaknya ke tingkat atas. Dari Sana, tampak ada sebuah rumah
yang sedang dibangun. Letaknya persis bersebelahan-Saat itu, tampak jelas di
hadapan mata Rani; suaminya sedang bergandengan tangan dengan seorang
wanita muda. Sebuah pcmandangan yang mem-buat Rani percaya dan tidak
percaya. Ramelan yang dahulu ditolongnya hingga menjadi insinyur, suaminya
yang sedang mempersiapkan rumah impian untuk dirinya dan keempat anaknya,
di hadapannya kini sedang bermesraan dengan perempuan lain, Inilah awal
keretakan rumah tangga mereka.

Sejak kejadian itu, Rani memutuskan untuk tinggal bersama keempat


anaknya. la tak ingin lagi bertemu dengan laki-laki yang telah mengkhianati
cintanya. Sungguhpun begitu, Ramelan sendiri masih tetap berusaha untuk
membiayai sekolah anak-anaknya.

Untuk mengisi kekosongan dan menambah biaya hidupnya sehari-hari, Rani


kembali membuka usaha jahitan. la mulai terbiasa dengan keadaannya sekarang.
Para pe-langgannya pun dari hari. ke hari makin bertambah. Salah seorang
pelanggannya adalah Laksmi. Wanita cantik itu mulai akrab dengan Rani.

Namun, .rupanya kedukaan Rani harus kembali terulang. Ketika hendak


berbelanja keperluan jahitannya di Blok M, ia melihat Laksmi, pelanggannya itu,
sedang asyik bergandengan tangan dengan Ramelan. Maka, kesimpulan pun jatuh
sudah; Ramelan adalah laki-laki jalang yang selalu berganti-ganti wanita.
Belakangan diketahui bahwa sesungguhnya Ramelan sudah resmi menjadi suami
Laksmi. Namun, bagi Rani sendiri, peristiwa itu makin membuatnya tak lagi perlu
percaya kepada laki-laki.
Dari hasil jerih payahnya selama itu, Rani kemudian merombak rumahnya
dan menambah beberapa kamar untuk disewakan. Dari hasil menyewakan kamar-
kamar itu, kehidupan Rani mulai membaik walaupun bekas suaminya tak pernah
lagi me-ngirimkan uang untuk biaya anak-anaknya sekoiah. Anak-anaknya pun
mulai akrab dengan para penyewa kamar-kamar itu. Namun, rupanya keakraban
itu justru dilihat lain oleh para tetangganya. Gosip buruk pun berkembang hingga
sampai pula ke telinga bekas suaminya.

Rani sendiri tidak mau mempedulikan semua kabar busuk itu. Ramelan
yang mencoba menyuruh Rani untuk tidak lagi menyewakan kamar-kamarnya,
juga tidak digubris. la yakin pada jalannya sendiri yang memang tidak hendak ia
nodai.

Lebih dari dua tahun Rani menjalani kehidupan seperti itu. Sampai
akhirnya, Wastu dan Pragantha, dua mahasiswa fakultas teknik yang sudah sejak
lama tinggal di pondokan Rani, meminta Rani agar menghadiri ujian skripsi
mereka. Tentu saja Rani tidak berkeberatan. Pada hari yang ditentukan, ia datang
ke tempat kedua mahasiswa itu melangsungkan ujian akhirnya. Hasilnya adalah
mereka lulus dan berhak menyan-dang gelar insinyur.

Peristiwa itu bagi Rani, barangkali tidak lebih sebagai peristiwa biasa,
sungguhpun sebelum pulang, ia sempat berjumpa lagi dengan bekas kekasihnya
dahuiu sewaktu ia belum berhubungan dengan Ramelan. Namun, seperti juga
kejadian sehari-hari, ia kembali kepada kesibukannya mengurusi anak-anaknya.

Sore harinya, datang telepon dari Laksmi yang mengabarkan bahwa


Ramelan sakit keras dan kini sedang dirawat di rumah sakit Petamburan. Dalam
keadaan seperti itu, bagaimanapun, hati nurani Rani tak tega melihat bekas
suaminya dalam keadaan demikian. la pun memutuskan untuk menjenguk
bekas suaminya. Saat itu juga ia berangkat bersama keempat anaknya.

Laksmi rupanya sudah menunggu di sana. Kini Rani melihat, betapa orang
yang pernah ia cintai, ayah anak-anaknya itu, hanya terbaring tak berdaya. "Aku
membaca surat Yasin yang ada di tangan kiri dan tangan kananku menggenggam
erat tangan Ramelan. Tanpa kusadari, selama ayat-ayat suci itu kubaca dengan
khusyuk, Ramelan telah berhenti bernapas" (hlm. 129).

Ramelan telah mengakhiri hidupnya di hadapan Rani, bekas istrinya yang


tabah; Laksmi, istri mudanya yang masih menangis, dan keempat anaknya yang
memandang kosong ke arah kegelapan malam. Rani menyongsong keempat
anaknya; melangkah ke masa depan.

***

N ovel karya Titis Basino ini, tampak jelas hendak mengangkat ketabahan
seorang wanita, seorang ibu dengan keempat anaknya. Dengan ketabahan
itu, ia berhasil tidak hanya menjadi kepala keluarga bagi anak-anaknya, tetapi juga
berhasil menjadi induk semang yang baik bagi mereka yang tinggal di
pondokannya. Lebih dari itu, ia juga berhasil membangun citra dirinya sebagai
wanita yang tak mudah goyah oleh cobaan apa pun. Penderitaan yang dialaminya,
telah membuatnya menjadi wanita yang matang, sekaligus menjadi ibu yang
bijaksana.

Sebaliknya, Ramelan yang lupa pada perjuangan istrinya dan gampang


terbawa arus oleh Hmpahan kesuksesannya, akhirnya harus menghadapi
kehidupan yang pendek. Laksmi yang jauh lebih muda daripada Rani, rupanya
tidak sepenuhnya dapat memberi kebahagiaan pada diri Ramelan.

Secara keseluruhan novel ini dibangun oleh jalinan peristiwa yang lancar
dan tidak terlalu rumit. Pesan pengarangnya untuk menampilkan citra wanita
sejati, boleh dikatakan berhasil lewat penokohan yang tidak terlalu kompleks.
9. WANITA ITU ADALAH IBU

Pengarang : Sori Siregar (12 November


1939)

Penerbit : Balai Pustaka

M eninggalnya Laura membuat Hezan merasa begitu sangat kehilangan


seseorang yang dicintainya. Cinta Hezan yang mendalam terhadap
istrinya itu menyebabkan ia bertekad untuk tidak mempunyai istri lagi. Dengan
hidup tetap menduda, ia merasa tidak mengkhianati cintanya kepada almarhumah.
Begitu pula ia merasa sanggup membesarkan putri tunggalnya, Prapti, tanpa perlu
mengakhiri status dudanya. Yang penting baginya, ia dapat menumpahkan kasih
sayangnya kepada putrinya seorang.

Sungguhpun demikian, Hezan juga tidak dapat membohongi dirinya


sendiri bahwa sesungguhnya ia begitu kesepian. Bertahun-tahun sejak istrinya
meninggal, ia merasakan kesepian itu. Namun, ia juga tidak ingin Prapti
mengetahui apa yang selama ini ia pendam dengan penuh kegelisahan.
Kesepian yang dirasakan Hezan makin terasa mengganggunya setelah
Prapti menikah dengan Tonton. Mitos untuk mempertahankan diri sebagai suami
yang setia, justru makin menggelisahkannya, apabila ia ingat kemunafikannya
selama ini. Di depan anaknya,Hezan berperan sebagai ayah yang taat beragama
dan setia mencintai almarhumah. Namun, di balik itu, Hezan mencari kepuasan
lewat perempuan-perempuan lain. Jadilah duda itu hidup seolah-olah dalam dua
dunia; sebagai ayah yang ideal di mata putrinya, dan sebagai lelaki yang butuh
kehangatan tubuh perempuan, di hadapan hati nuraninya sendiri.

Sebelum itu, Prapti sendiri pernah mengusulkan agar ayahnya menikah


lagi. Namun ternyata, Hezan sendiri menanggapinya secara lain; dengan kawin
lagi, ia khawatir hal itu justru merupakan pengkhianatan terhadap cintanya kepada
istrinya, almarhumah. "Aku sebenarnya tidak tahu, gagasan yang dikemukakan
Prapti kepadaku... Yang jelas aku terkejut dengan saran yang diajukan Prapti.
Betapa tidak. Setelah lima belas tahun mendampinginya dan membesarkannya
setelah kepergianmu, Prapti menyarankan kepadaku agar aku mencari
penggantimu" (hlm.21). Begitulah, Hezan seolah-olah hendak mengadukan
persoalannya kepada Laura, almarhumah.

Apa yang dirasakan Hezan, dirasakan pula oleh Prapti berkenaan dengan
usul agar ayahnya mencari pengganti ibunya. "Aku malah telah berbuat lebih
jauh. Meminta ayah untuk mencari pengganti Ibu. Sampai di mana sebenarnya
cintaku pada Ibu? Mungkin cintaku terlalu besar kepada ayah, yang membuatku
melupakan Ibu" (hlm. 34).

Bagi Hezan, dalam perkembangannya kemudian, persoalannya bukan lagi


pada kekhawatirannya mengkhianati cinta kepada istrinya, melainkan
kemunafikannya sendiri. Pada mulanya Hezan beranggapan bahwa tak ada artinya
perkawinannya nanti jika hanya karena hendak menghindari dosa. Karena
bagaimanapun juga, perkawinannya itu mesti dilandasi oleh perasaan cinta.
Padahal cintanya sudah tumpah pada Laura. "Yang jelas aku tidak akan bisa
menganggap istri baru seperti Laura. Cintaku kepada Laura tidak akan dapat
kualihkan kepadanya. Lalu, apa artinya perkawinan tanpa cinta?" (hlm. 49). Itulah
yang membuat Hezan lebih suka melakukan hubungan gelap—tanpa nikah—
daripada harus kawin, yang berarti mengalihkan cintanya dari Laura kepada
wanita yang dinikahinya.

Belakangan, munculnya Nuning, sosok wanita yang sedikit banyak


mengingatkannya kepada Laura, mulai mencairkan sikap Hezan dalam hal
keengganannya untuk menikah lagi. la mulai merasakan sesuatu yang lain, dan ia
merasa cintanya tumbuh kembali. "Cinta kita adalah cinta tua.... Aku akan
melupakan semua perasaan yang terpendam ini. Kalau kau memang telah
ditakdirkan untuk menjadi milikku, kau tidak akan pernah bisa dirampas oleh
siapa saja" (hlm. 121). Nuning pula yang kemudian ia tetapkan sebagai calon
istrinya yang baru. Sementara Prapti sendiri telah menemukan sosok ibunya pada
diri Nuning Maka, tidak ada alasan baginya untuk menolak Nuning sebagai ibu
tirinya. Apalagi, perempuan yang sudah mulai berumur itu pur. merasakan hal
yang sama: "Datanglah, datanglah sekali lagi. Aku akan membukakan pintu ini
lebar-lebar untukmu" (hlm, 123).

***

Novel ini sebenarnya lebih banyak mengungkapkan konflik batin seorang


ayah yang merasa kesepian setelah istri tercintanya meriinggal dunia. Bertahun-
tahun ia menduda, hanya karena ingin mcncurahkan perhatian dan kasih sayang
kepada putri tunggalnya. Namun, di balik itu semua, sesungguhnya ia telah
membangun topeng kemunafikan. Di luar, duda itu mencari kchangatan kepada
perempuan lain, tanpa diketahui sedikit pun oleh putrinya. Jadi, seputar itulah
persoalan yang dikembangkan dalam novel ini.

Yang menarik dalam novel ini adalah adanya usaha pengarang untuk
mengangkat konflik psikologis yang terjadi pada diri para tokohnya. Pertentangan
batin pada diri sang ayah atau anak (Prapti) cukup menarik karena persoalannya
memang tidaklah sesederhana yang diduga.

Novel ini meraih Hadiah Perangsang Kreasi Sayembara Mengarang


Roman Devvan Kesenian Jakarta pada tahun 1978.
Daftar Pustaka

Mahayana M.S, Sofyan O., Dian A. (2000). Ringkasan dan Ulasan Novel
Indonesia Modern. Jakarta : PT Gramedia.
Telepon

Pengarang : Sori Siregar

Penerbit : Balai Pustaka

D aud bekerja pada sebuah toko di Jakarta. Sebetulnya ia sudah sangat bosan
dengan pekerjaannya. Namun, karena tak ada pekerjaan lain, ia terpaksa
melakukannya juga. Daud mempunyai hobi yang tak biasa, ia gemar sekali
menelepon. Kegemaran yang dimulai dari iseng-iseng itu lama-kelamaan menjadi
semacam kebutuhan. Ia tak peduli kapan, di mana, dan kepada siapa ia
menelepon. Yang penting, apabila hasrat hatinya untuk menelepon sudah
terpenuhi, ia akan segera senang. la seakan terbebas dari beban yang
mengimpitnya.

Demikianlah, telepon yang seharusnya dipergunakan untuk hal-hal yang


baik, berubah fungsinya di tangan Daud. Ia menggunakan telepon untuk
mengancam, menakut-nakuti orang yang diteleponnya walaupun dalam hatinya
tak ada niat jahat. la hanya ingin melampiaskan keinginan—yang tak dapat
dihindarinya—yang timbul sesaat.
Orang yang pertama kali ditakut-takutinya adalah Tajudin, direktur
perusahaan yang telah memecat Burhan, teman Daud. Lalu Ibu Suroso, pelanggan
tetap toko buku tempat Daud bekerja. Daud sangat puas setelah menakut-nakuti
mereka dengan ancaman atau omongan yang sama sekali tak ada faktanya. Pada
malam hari setelah Daud menakut-nakuti mangsanya, ia akan membayangkan
keadaan orang yang menjadi korbannya itu. Kadang-kadang terbersit rasa sesal di
hatinya, apalagi bila yang ditakut-takutinya itu adalah orang yang baik, seperti Ibu
Suroso.

Demikianlah, perbuatan itu dilakukan berulang-ulang, sampai pada suatu


ketika, Lisa—kekasihnya—memergokinya. Daud terpaksa mengakui perbuatan
yang telah dilarang pacarnya itu. Akibatnya, Lisa mengancam akan memutuskan
hubungan mereka. Ancaman Lisa membuat Daud takut dan berjanji sekali lagi
untuk tidak mengulangi perbuatan yang merugikan orang lain itu. Namun, untuk
menghentikan kegemarannya itu, ternyata tidaklah semudah seperti waktu
mengucapkannya; ia tetap menelepon orang-orang yang menurutnya harus
diancam.

Rupanya perasaan Daud tidak selamanya tenang. Hal itu terjadi ketika ia
iseng-iseng menelepon seseorang. Orang yang menerima telepon itu mengaku
sebagai orang yang dimaksud Daud, padahal ia menyebutkan sekadar nama yang
tiba-tiba terlintas begitu saja di kepalanya.

Sejak peristiwa itu Daud mulai dihinggapi rasa gelisah; dan kegelisahan itu
memuncak ketika tanpa diduga ia menerima telepon dari sekretaris Tajudin yang
memberitahukan bahwa Tajudin telah mengetahui siapa yang mengancamnya,
yaitu Daud. Lebih jauh bahkan telah meminta polisi untuk rnenangkap Daud
dengan alasan melakukan ancaman pembunuhan disertai bukti-bukti berupa
rekaman pembicaraan telepon.

Daud mulai menduga-duga bahwa telah terjadi pengkhianatan terhadap


dirinya. la menduga Lisa dan Burhanlah yang melakukannya, karena hanya kedua
orang tersebut yang mengetahui kegemaran Daud. Namun, ternyata bukan
mereka. Lalu siapa?
Dalam kegelisahan itu, Daud mulai menimbang-nimbang untuk
menghentikan ancaman-ancaman lewat telepon, seperti yang disarankan Lisa dan
Situmeang, teman seperantauan Daud. Usaha yang dilakukannya adalah tidak
melakukan kontak telepon dengan siapa pun. Di dalam dirinya telah timbul rasa
ngeri jika melihat telepon. la juga sudah berpikir untuk meminta maaf kepada
orang-orang yang telah menjadi korbannya.

Hal yang tak diduga sama sekali oleh Daud adalah ketika Simangunsong
datang ke rumah kontrakannya di Kebon Kacang. Yang lebih mengejutkan lagi
ketika tiba-tiba ia dipukuli sahabat seperantauannya itu. Simangunsong berang
karena perayaan pernikahan adik sepupunya berantakan akibat ulah seorang
penelepon gelap yang me-ngatakan bahwa di tempat pesta itu terdapat bom yang
sewaktu-waktu dapat meledak. Para undangan tentu saja bubar begitu mendengar
berita yang kemudian terbukti hanya omong kosong itu. Simangunsong
berkesimpulan bahwa penelepon gelap itu tak lain adalah Daud. Padahal bukan.
Kalau bukan Daud, lalu siapa?

Simangunsong lalu mencari informasi siapa pengacau itu. Terungkaplah


bahwa pelakunya seorang wanita yang kehilangan anak yang sedang
dikandungnya. la kesepian di rumahnya yang besar, dan untuk membunuh rasa
sepinya, setiap hari ia menelepon siapa saja. Kegemaran yang sudah menjadi
semacam penyakit itu, kabarnya akan hilang jika wanita itu dikaruniai seorang
anak lagi.

Akan halnya Daud, ia terpaku mendengar cerita Simangunsong itu. Di


dalam benaknya terlintas telepon dari seorang wanita yang nada suaranya begitu
kesepian. Timbul rasa takutnya: apakah dirinya seperti wanita itu? Daud
membayangkan, jangan-jangan dia tidak waras seperti wanita itu. "Daud
merangkul Simangunsong, membenamkan wajahnya ke dada sahabatnya itu dan
tersedu di sana.

... Di tengah-tengah keheningan ruangan itu, suara Simangunsong


terdengar jelas. Tidak. Kau tidak sakit, Daud. Kau tidak sakit'" (him. 96).

***
J udul novel ini, Telepon, mengisyaratkan bahwa akan terjadi komunikasi
antaranggota 1 masyarakat lewat hasil peradaban manusia. Kenyataannya
memang demikian. Namun, berbagai masalah yang mendera manusia; depresi,
kesepian, atau keputusasaan yang banyak melanda masyarakat perkotaan telah
mengubah fungsi telepon sebagai alat pelarian mereka. Kenyataan, dewasa ini
yang terjadi di masyarakat memang demikian. Oleh Sori Siregar sisi negatif
telepon diangkat dalam novelnya ini. Rasa keterasingan dan keterpencilan,
ternyata dapat menjerumuskan seseorang ke dalam lingkaran masalah yang tak
berkesudahan jika ia mencoba menyelesaikan tidak pada tempatnya. Dengan kata
lain, pelarian yang salah sesungguhnya bukanlah usaha penyelesaian, melainkan
justru menambah masalah baru. Atau, bahwa berbagai masalah—sebagai dampak
kemajuan teknologi—sebetulnya pertama-tama ditimbulkan oleh ulah manusia
sendiri.

Novel ini adalah pemenang harapan Sayembara Mengarang Roman yang


diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979.