Anda di halaman 1dari 8

Ikhtisar Disfagia pascastroke.

Abstrak
Disfagaia berakibat buruk pada sebagian besar pasien stroke akut. Meskipun,
kebanyakan akan membaik dalam 2 minggu, beberapa orang yang mengalami gangguan
menelan akan beresiko mengalami pneumonia, malnutrisi, dehidrasi, dan secara signifikan
berimbas pada kualitas hidupnya. Makalah ini mendiskusikan ruang lingkup, beban penyakit,
dan alat yang dipakai dalam skrining dan evaluasi resmi dari disfagia. Yang paling sering dan
yang baru-baru ini dikembangkan untuk terapi intervensi yang mungkin berguna sebagai
terapi pada populasi juga didiskusikan.
Kata Kunci
Disfagia, Stroke, Menelan.
Perkenalan
Untuk sebagian besar orang dari 6,2 juta orang yang dapat bertahan hidup setelah
terkena stroke 1. Di US satu dari yang pertama melewati rintangan dalam perjalanan untuk
memperbaiki disfungsi menelan. Disfagia tidak hanya meningkatkan morbiditas dan
mortalitas setelah stroke teapi juga secara signifikan berimbas pada kualitas hidupnya ketika
mereka tidak dapat makan siang bersama dengan keluarga dan temantemannya. Terapi dan
evaluasi secara cepat dilakukan untuk gangguan menelan dapat mengurangi dampak dari
komplikasi sekunder dan mempercepat kembalinya mereka pada kehidupan sosial semula.
Epidemiologi
Pada orang yang dapat bertahan hidup setelah stroke terdapat lebih dari 50% yang
mengalami disfagia2. Beruntungnya kebanyakan dari pasien ini membaik fungsi menelannya
dalam kurun waktu 7 hari, dan hanya 11-13% yang tersisa difagianya setelah 6 bulan.3,4 salah
satu penelian melaporkan bahwa 80% dari pasien yang mempunyai disfagia berkepanjangan
membutuhkan sarana alternatif dari pemberian makan enteral.
Yang paling ditakuti dari komplikasi disfagia setelah stroke adalah pneumonia
aspirasi. Disfagia dikenali saat pemeriksaan klinis berhubungan dengan meningkatnya 17%
pada kejadian dari infeksi pulomoner dibandingkan dengan merka yang tidak disfagia (33%
dibanding 16% secara berurutan).6 pada penelitian mortalitas yang sama didapatkan lebih dari
30% pada orang yang dapat bertahan hidup setelah stroke dengan disfagia. Dehidrasi dan
malnutrisi juga biasa didapatkan pada pasien degan disfagia, terutama mereka yang
mendapatkan diet yang di modifikasi atau pengurangan kandungan air dalam makananya.
Satu penelitian melaporkan 49% dari orang yang dapat bertahan hidup setelah stroke
mengaku ke pusat rehabilitasi setelah mengalami malnutrisi, dan malnutrisi tersebut
berhubungan dengan disfagia. 7 Gordon et al (1987) melaporkan bahwa sekitar 58% dari
orang yang selamat dari stroke akut dengan disfagia mempunyai tanda-tanda dehidrasi
(konsentrasi urea mencapai 10 mmol/l atau lebih tinggi) dibandingkan dengan 32% dengan
mereka yang tidak disfagik.
Disfagia dapat berdampak negatif pada kualitas hidupnya. Hanya 45% dari pasien
dengan disfagia dapat makan dengan nikmat, dan 41% dari pasien dengan disfagia

mengalami kekhawatiran atau panik saat waktu makan.


menghindari makan dengan yang lain karena disfagia.9

lebih dari 1/3 dari pasien

Fisiologi Menelan
Menelan membutuhkan makanan yang lewat melalui mulut kemudian melalui
esofagus dan masuk ke perut tanpa memperdulikan struktur yang berada didekatnya: Rongga
hidung, laring, dan traktus respiratorius bawah. Proses ini dimulai setelah makanan masuk
dan dapat dibagi dengan empat tahap berdasarkan lokasi dari bolus makanan tersebut.13
1. Tahapan Persiapan Oral : mempersiapkan bolus makanan untuk didorong ke faring.
2. Tahapan Dorongan Oral : lidah mendorong bolus bergerak melalui tenggorokan ke
dalam faring.
3. Fase Faringeal: Struktur dari faring mendorong bolus memasuki sfingter esofagus
paling atas.
4. Fase Esofagus : gerakan persitaltik esofagus dan gravitasi mendorong bolus melewati
sfingter esofagus bagian bawah kemudian masuk ke lambung.
Lebih lengkapnya dari fisologi menelan dapat di temukan pada riview yang dilakukan
oleh Ceccone dan Di Piero, Miller, dan Matsuo dan Palmer. 10-12
Tahapan Oral
Saat terdapat bolus cair akan ditelan itu di tahan diantara bagian dorsal lidah dan
bagian lunak dari palatum untuk mencegah rembesan ke faring sampai siap untuk ditelan.
Saat proses dorongan ujung dari lidah menyentuh bagian keras dari palatum di belakang gigi
anterior atas danpermukaan lidah bergerak keatas. Area penyatuan lidah dan palatum meluas
ke posterior dan meremas bolus cair ke orofaring.
Saat menggunakan kontras, ketika makan makanan padat, lidah bergerak kebelakang
dan memutar permukaannya menjadi satu sisi kemudian mendorong makanan kembali ke
regio molar dan menempatkannya pada permukaan occlusal untuk dikunyah (juga dikenal
dengan transport tahap 1). Saat proses mengunyah struktur oral bekerja untuk melembutkan
dan mengecilkan ukuran bolus sehingga siap untuk proses Tahapan faringeal. 14-16 diantara
proses mengunyah partikel yang telah mencapai ukurandan konsistensi yang diinginkan
didorong ke arah permukaan dorsal lidah dan di transfer ke orofaring (Transport tahap 2).17
partikel ini dapat berakumulasi untuk beberapa detik sampai semua partikel bolus
mempunyai karakteristik ukuran dan konsistensi yang diinginkan tercapai dan tahap faringeal
dari menelan mengambil alih.
Tahap Faringeal
Transport faringeal membutuhkan banyak koordinasi dan hampir terjadi pada saat yang
bersamaan.18-20
1. Palatum yang lunak eleveasi dan menutup nasofaring.
2. Permukaan faringeal lidah mendorong kebelakang ketika dinding faringeal
berkontraksi untuk meremas bolus turun. Faring berkontraksi secara sekuel dari atas
kebawah, 21 dan memendek secara vertikal untuk mengurangi volume bolus. 22

3. Hyoid dan laring bergerak ke arah superior dan naterior ketika lipatan epiglotis
kebelakang untuk menyegel vestibula laring.gerakan ini untuk melindungi jalan nafas.
23

4. Lipatan vokal menutup glotis 24-26 dan memotong dari proses bernafas untuk 0.4-1.0
detik untuk mencegah aspirasi.
5. Sfingter esofagus atas terbuka dengan kombinasi dari relaksasi cricofaringeus
(Sfingter esofagus atas menutup dengan kontraksi ototnya sendiri secara aktif), otot
suprahyoid berkontraksi, dan gaya gravitasi menghasilkan gerakan bolus turun. 23,29
Tahap Esofageal
Sekalinya bolus melewati sfingter esofagus atas, gerakan peristaltik dan gaya gravitasi
membut bolus tersebut turun dan melewati sfingter esofagus bawah dan kemudian makanan
sampai di lambung.

Saraf Kontrol dari Menelan


Secara normal, kontrol dari menelan membutuhkan fungsi dari batang otak, di bagian
ganglia basalis, thalamus, sistem limbik, cerebellum, dan kortiko motorik dan sensorik (Tabel
1). Sistem ini mengontrol afferen dan efferen, mempersiapkan dan mendahulukan, proses
secara sadar dan otomatis. Lebih dari 30 otot terlibat dalam proses menelan dan dikoordinasi
secara kompeks oleh jaringan saraf yang belum sepenuh ya difahami.
Pola pembangkit pusat (PPP) dari menelan berada di area nukleus traktus solitarius
(NTS), foramasi retrikuler, dan nukleus ambiguus (NA) di bagian rostral dan ventrolateral
dari medula. 30-32 ini merupakan jaringan intrasaraf yang mengendalikan waktu dari proses
menelan dan mehubungkan sensor dan proses suprameduler afferent dengan efferent. 30
Ransang sensorik berasal dari mekanoreseptor dan thermoreseptor yang berada pada
rongga mulut, faring dan laring ke PPP telah ditunjukkan dengan mempengaruhi inisiasi
menelan, fasilitisasi dan perlindungan jalan nafas. 30-32 sinap saraf sensorik yang berada di
rongga mulut dalam nukleus sensorik trigeminal, ketika saraf sensorik faringeal dan laringeal
berpindak ke cabang dari CN.IX, X dan XI ke sinap NTS. 35
Bagian ventral premotor neuron PPP tersambung dengan CN V, VII dan XII dan CN
IX dan X di NA.31 waktu dari output motorik bervariasi tergantung dari karakteristik bolus.36
Secara fungsional, sambungan koordinat periferal ini mempunyai fase yang berbeda dari
proses menelan. Untuk singkatnya, umpan balik periferal menghambat dari proses menelan
fase esofageal saat fase faringeal. NTS meregulasi sensasi dan menggenerasi pola, dengan
NA dan motor nucleus dorsalis mengendalikan efferen motorik untuk fase faringeal dan
esofageal.37 bagian ventromedial dari NTS mungkin bertanggung jawab untuk
menyeiramakan fase faringeal dan esofageal.37 Semenjak area ini merupakan area yang
krusial sebagai generasi pola, stroke Wallenberg yang terjadi pada area meduler lateral dapat
menyebabkan disfagia yang biasanya parah dan berakhir pada aspirasi. 34,38 lesi ini berimbas
pada PPP dan CN yang terlibat dalam proses menelan; dapat berupa paralisis atau kelemahan
ipsilateral faring, laring, dan palatum bagian lunak; dan inisiasi dan koordinasi dari fase
faringeal dari proses menelan. Terutama, penelitian elektrofisiologikal mendemonstrasikan

bahwa pada kejadian akut saat tidak tersambungnya dari pusat kontralateral menelan juga
berlangsung kejadian seperti itu.
Beberapa struktur supratentorial berhubungan dengan menelan. Pada stroke, ukuran
yang tidak terkena pada kotikal menean dapat diprediksi dengan tanda disfagia. 39
Inisiasi secara sadar dari proses menelan membutuhkan input motorik kortikal. 33,40, 41 Kortek
motorik dan premotorik mengendalikan proses menelan secara bilateral tetapi tetapi asimetris
42
dengan tidak ada kejelasan letralitas antara kanan dan kiri. 43 Perbaikan dari stroke
supratentorial yang menyebabkan disfagia telah dibuktikan keterkaitannya dengan
kompensasi dari reorganisasi korteks. 44
Suprabulbar Palsy berkaitan juga dengan disfagia, disatria, disfonia, kehilangan
gerakan lidah secara volunter, gerakan wajah dan emosi yang labil, mungkin disebabkan dari
infark lakuner bilateral atau sklerosis amyothropic lateral. Disfagia pada pasien ini
berkorelasi dengan lesi pada ganglia basal yang mengakibatkan buruknya pemicu ransang
menelan dan kendali dari sfingter esofagus bagian atas.
Lesi pada periventriculer kiri substansia putih dapat lebih mengganggu kebiasaan
menelan dibandingkan dengan yang dikanan.46 perpindahan dari fase Oral ke Faringeal dapat
secara signifikan terganggu pada pasien dengan stoke subkortikal murni.46 PET (positron
emisson topography) menampilkan proses menelan yang asimetris berhubungan dengan
lokus di bagian orbitofrontal kortek kanan, premotor mesial kotek kiri dan cingulae,
caudolateral kortek sensorimotorik kanan, insulae anterior kanan, medial cerebellum bilateral
dan korteks temporopolar bilateral dengan sinyal terkuat berada pada kortek sensorimotorik,
insulae dan cerebellum.47
Leopold dan Daniels (20120) telah mendokumentasikan bagian dari lokasi orak yang
digunakan pada saat proses menelan.40

Skrining Disfagia
Skrining disfagi dilakukan untuk memperkirakan kemungkinan dari aspirasi (nampak
atau tidak) sebelum terjadi komplikasi seperti pneumonia, dehidrasimalnutrisi, atau obstruksi
jalan nafas. Berbagai macal alat klinis mempunyai variasi sensitivitas dan spesivitas (tabel 2).
Beberapa dari tes tersebut digunakan tidak hanya untuk skrening, tetapi juga untuk menilai
perawatan yang dibutuhkan. Kebanyakan alat ukur menilai sedikit dari gejala klinis utama
dan/atau tes menelan air. Daniels et al. (1997) mengusulkan tes skrining tanpa adanya tes
menelan air, tetapi sensitivitas dan spesifitasnya dapat dibandingkan dengan tes lain yang
didalamnya terdapat tes menelan air.48 Skrining ini dianggap positif apabila terdapat dua dari:
1) disfonia, 2) disatria, 3) muntah yang abnormal, 4) batuk dikehendaki abnormal, 5) batuk
setelah menelan, atau 6)suara berubah setelah menelan. Toronto Bedside Swallowing
Screening Test (TOR-BSST) bukan hanya merupakan alat skrining tetapi juga menilai dari
sensasi faringeal.
Riview sistematik pada bedside screening test, Bours et al mengusulkan tes menelan
air dikombinaksikan dengan Pulse oxymetri dengan titik akhir dari batuk, disfonia, dan batuk
sebagai metode untuk mengetahui pasien dengan dysfagia dan aspirasi.50,51

Dalam upaya untuk memvalidasi skrining spesifik untuk disfagia, Antonios et al


(2010) telah mengusulkan untuk menggunakan Modified Mann Assessment of Swallowing
Ability(MMASA).52 Pada penemuan terdahulu menyarankan bahwa MMASA ini valid dan
sesuai untuk pasien dapat bertahan dari stroke dengan disfagia.

Evaluasi Diagnostik dari Disfagia: Instrumen penilaian dan bedside


Mungkin instrumen penilaian dan bedside telah dikembangkan untuk diagnosis dan
terapi dari disfagia pascastroke. Alat ini akan mendapatkan data tentang tekanan, jarak,
kekuatan dari gerakan struktural, proteksi jalan nafas, sensasi, efisinsi dan efektifitas dalam
proses menelan.53
Alat evaluasi disfagia dapat digolongkan secara luas dari pencitraannya (Ultrasound,
Videofluroscopy, evaluasi menelan menggunakan endoskpi serat optik dengan dan tanpa tes
sensorik) dan tanpa pencitraan (alat penilaian bedside, manometri faringeal)
Penilaian Klinis Bedside
Carnaby-Mann dan Lenius (2008) mendefinisikan penilaian klinis bedside sebagai
riwayat klinis, dan meliputi pemeriksaan klinis dari struktur anatomis rongga mulut, faring
dan laring. Sebagai tambahan, pemeriksaan neurologis terutama pemeriksaan fungsi sensorik
dan motorik, kognitif, perilaku, kemampuan bahasa, dan tes menelan harus dilakukan jika
terdapat indikasi klinis.54,55 Pemeriksaan klinis bedside itu murah, tidak infasif, dan mudah
dilakukan oleh ahli terapi wicara. Pada evaluasi awal menyediakan pondasi dimana rencana
terapi dapat disintesa.56,57
Meskipun evaluasi klinis menyediakan informasi penting, sensitivitas dan spesifitas
untuk mengidentifikasi resiko oaspirasi secara umum rendah.58-60 banyak dari alat penilaian
klinis di usulkan untuk pemeriksaan disfagia.61-64 Secara ringkas alat untuk evaluasi menelan
yang sering digunakan termasuk fitur, dan data validasinya dapat dilihat pada Tabel 3.
Penelitian Videofluorographic dari Menelan (PVFM)
PVFM juga dikenal dengan modifikasi dari penelitian proses menelan menggunakan
barium (PPB), yang merupakan gold standar untuk evaluasi dari disfagia orofaringeal.65,66
PVFM biasanya dilakukan oleh ahli terapi wicara dan fisisian (fisiatris atau radiologis), dan
akan menggambarkan dari aliran bolus, fisiologi proses menelan, dan invasi jalan nafas
secara nyata. Kemampuan untuk mengobservasi dari tahap orofaringeal saat proses menelan
memungkinkan seorang klinisi untuk menggolongkan kelainan mekanisme menelan. PVFM
juga memungkinkan seorang klinisi untuk mengobservasi pentingnya hubungan antara
menelan, konsistensi makanan, posisi, dan ventilasi.53,66 Protokolnya telah dideskipsikan oleh
Logemann etl al (1993) terus diikuti dengan pengaturan klinis yang paling banyak.67- proses
tersebut melibatkan anteriorposterior dan lateral dari tahap oral-faringeal, dengan pergerakan
yang diperlambat memungkinkan untuk menggolongkan mekanisme menelan dan letak
kelainannya. Pada tampilan lateral memungkinkan dilakukan penilaian dari waktu singgah,
penundaan bolus, dan problem fisiologis. Gambaran dari anterior akan menampilan
keasimetrisan dari valekula dan sinus piriformis, dan gambaran abduksi/adduksi dari plika
vokalis. Terutama penelitian untuk mengukur efisiensi dan kecepatan menelan dan
mendefinisikan pola pergerakan dari rongga mulut, faring dan laring. Dengan mengetahui

dimana, kapan, dan seberapa banyak aspirasi yang terjadi saat penelitian klinis dapat
dievaluasi efektifitasnya dari perencanaan rehabilitasinya.
Baru-baru ini, sebuah protokol telah dikembangkan untuk di standarisasi dari
PVFM.66 Implementasi penggunaan PPB dikembangan untuk mengidentifikasi seberapa berat
gangguan menelan tersebut terjadi saat proses PVFM.

Evaluasi Endoskopi Serat Optik saat Menelan (ESOM)


Evaluasi Endoskopi Serat Optik saat Menelan (ESOM) biasanya melengkapi
kekurangan dari PVFM.68-71 ESOM itu aman dan dapat dilakukan oleh ahli otolaryngologi
dan/atau ahli terapi wicara sendirian. 72, 73 ESOM lebih sensitif dibandingkan PVFM dalam
menilai penundaan awal proses menelan, sisa bolus di faring, dan aspirasi. 74-76
Pemeriksaan dengan ESOM menggunakan endoskopi yang lentur untuk mengevaluasi
saat statis dan dinamis dari anatomi faringeal, ada tidaknya serta pengaturan dari sekresi
orofoaringal, dan perbedaan dari proses menelan antara bolus padat dan cair.77
Proses menelan, durasi peralihan, masuknya bolus dan aspirasi, jumlah menelan untuk
membersihkan bolus di rongga orofaring, dan proses menutupnya jalan nafas dicatat. Area
dari trans-nasal sepanjang dasar dari hidung sampai ujung dari area basis uvula atau ujung
dari epiglotis. Hal ini memungkinkan untuk dilakukannya visualisasi dari dasar lidah, dinding
samping dan posterior laringeal, sinus piriformis, dan endolaring.
Pada pertengahan tahun 1990-an Aviv et al mengenalkan endoskopi dengan serat
optik untuk menilai ransang sensorik dari proses menelan (ESOMRS). ESOMRS ini mirip
dengan ESOM, tetapi melibatkan kendali dari dorongan udara untuk dimungkinkannya
penilaian secara objektif dari sensor laringofaringeal. Dorongan udara meningkatkan tekanan
sampai menimbulkan reflek adduksi laring (RAL). Normalnya RAL telah stabil pada tekanan
4.0 mmHg.79 Fungsi dari RAL masih dipertanyakan kegunaannya oleh beberapa peneliti.
Sensasi laringeal diukur saat ESOMRS dan bukan merupakan faktor penting dalam
pengukuran proses menelan saat pemberian makan.81 Secara prospektif, koparasi acak dari
ESOMRS dan PVFM menunjukkan kemampuan yang sama dalam mencegah terjadinya
pneumonia akibat aspirasi.82
Beberapa pendukung dari ESOM dan ESOMRS merasakan bahwa tes ini melampau
gold standar dari PVFM. Bagaimanapun juga, perlu diperhatikan bahwa ketika terjadi
kelainan sensasi dan pita suara dapat dinilai dengan sangat baik menggunakan ESOM, tetapi
penilaian pada segmen oral dan laringeal sangat buruk. PVFM adalah cara terbaik untuk
menilai segmen ini. Dengan demikian, PVFM dan ESOM/ESOMRS mempunyai aplikasi
klinis yang berbeda.80
Manometri Faringeal
Manometri faringoesofageal digunakan untuk menilai fungsi fisiologis dari sfingter
atas esofagus, gerakan peristaltik dari esofagus, dan tekanan intrabolus. Manometri esofageal
merupakan gold standar dalam menilai fungsi motorik esofagus. Bagaimanapun juga, ini
bukan merupakan alat diagnostik primer untuk disfagia pada stroke, dan hanya dapat
dilakukan ketika riwayat, videoflurografi, atau endoskopi gagal untuk membuktikan

diagnosis pada poin gangguan motorik menelan. Manometri biasanya dilakukan oleh ahli
gasteroenterologi, dan diindikasikan pada disfagia dengan makanan padat yang berhubungan
dengan kegilangan berat badan dan regurgitasi. American Gasteroenterological Association
telah membuktikan secara teknis dari indikasi pengunaan manometri berhubungan dengan
penggunaan alat diasnogtik lain untuk menilai disfagia.56,83
Terapi Disfagia Pasca Stroke
Wawancara menyeluruh, evaluasi klinis menelan, daninstrumen penilaian, klinisi
mengumpulkan informasi mengenai fungsi kognitif pasien, kelemahan fisik, kelemahan
sensorik, dan pengaruhnya untuk permulaan proses menelan. Saat penilaian secara objektif,
kefektifitasan dari strategi kompensasi juga di evaluasi untuk membatu dalam menangani
pola dietnya. Informasi yang dikumpulkan saat penilaian kemudian digukanan untuk
mengembangkan dan merencanakan program rehabilitasi masing-masing individu.
Rehabilitasi disfagia terdiri dari kompensasi dan pendekatan rehabilitatif. Strategi
kompensasi digunakan untuk mengurangi gejala dari disfagia tanpa merubah keadaan
fisiologis, saat pendekatan rehabilitatif di desain untuk memperbaiki firiologi proses menelan
dan memperbaiki keselamatan proses menelan dan toleransi dari diet restriktif yang paling
sedikit.85
Beberapa cara digunakan baik kompensasi dan rehabilitasi, dengan begitu mereka
dapat mengatasi gejala akut gangguan menelan, dan ketika digunakan terus menerus, dapat
meningkatkan fisiologi menelan (Tabel 4). Beberapa tekhnik biasanya digunaka pada
rehabilitasi disfagia. Tekhnik tradisional termasuk latihan penguatan lidah, latihan menahan
lidah, manuver Mandelsohn, menelan menggunakan supraglotis dan superglotis, usaha
menelan maksimal, dan latihan Shaker.86
Setelah menilai secara obyektif, strategi kompensasi dan kombinasi dari terapi
tradisional dimulai. Terapi tradisional secara signifikan meningkatkan fisiologi menelan
dengan setiap latihan mempunyai efek berbeda pada proses menelan. 87
Bagaimanapun juga, ini bisa menjadi hambatan dalam rangka memperbaiki tekhnik
siapapun, selama mereka menggukanakan kombinasi ini.88 Tabel 5 mendeskripsikan terapi
tradisional dan capaian target yang diinginkan secara detil.
Metode umpan balik, seperti EMG sudah digunakan dalam pendekatan terapi
tradisional untuk meningkatkan pola kewaspadaan dan untuk menolong pasien untuk
memodifikasi, memantau, dan performa ketika menjalankan manuver menelan.89 EMG
dilaporkan dapat menaikkan proses dari terapi tradisional pada pasien dengan disfagia
kronis.90 Penelitian retrospekrtif pada orang yang dapat bertahan hidup pasca stroke atau
pasien kanker kepala dan leher, pengunaan umpan balik bilogis dengan pendekatan terapi
tradisional secara signifikan meningkatkan fungsi menelan dan torelansi diet oral, lebih
bermafaat padda orang yang dapat bertahan hidup pasca stroke dibanding pada pasien
kanker.90
Stimulasi Elektrik Neuromuskuler (SENM)
mendapatkan perhatian karena
kontroversi yang menyertainya yaitu capaian hasil terapi untuk disfagia. SENM digunakan
untuk melatih otot-otot faringeal, meningkatkan fungsi menelan, dan memperbaiki
rekoordinasi dari korteks motorik.91 Permsirivanich dkk (2009) melakukan randomized

control trial membandingkan SENM dengan teknik terapi tradisional. Kedua terapi
menunjukkan perbaikan fungsi menelan yang terganggu, dengan hasil SENM mempunyai
hasil sedikit lebih baik. 92 Sebaliknya, pada Bulow et al 2008 melakukan penelitian yang
dirandomisasi membandingkan antara SENM dan terapi tradisional, semua subjek mengalami
perbaikan dalam fungsi menelannya, tetapi perbandingan antara kedua kelompok terapi tidak
signifikan. Sebuah penelitian yang dilakukan Ludlow et al(2006) menemukan bahwa
penggunaan stimulasi elektrik di permukaan secara baik dapat mengelevasi hyolaringeal
karena ototnya terlalu lemah atau tidak dapat menembus mukosa cukup dalam untuk
menstimulasi ototnya. 93 Dengan temuan mereka, mereka menganjurkan bahwa stimulasi
elektrik permukaan dapat digunakan untuk pasien dengan kelemahan otot tetapi dapat
mengelevasi laring pada saat menelan, stimulasi elektrik tidak dapat memperbaiki elevasi
laring, dengan hasil ini maka terjadi peningkatan resiko terhadap penghambatan jalan nafas
sehingga mudah terjadi aspirasi. Leelamanit et al.(2002) menemukan bahwa stimulasi
elektrik permukaan berakibat naiknya tingkat elevasi dari laring mungkin diakibatkan dengan
terbukanya cricofaringeal. 94 Karena literatur ini tidak konsisten dalam penyampaiannya,
maka masih belum jelas apakah terapi stimulasi elektrik efektif mengatasi disfagia.
Pada orang yang dapat bertahan hidup setelah stroke, berkurangnya kekuatan lingual
mungkin mempunyai efek yang serius terhadap fungsi menelan. Menurut Hewitt dkk
(2008),menurunnya masa otot lingual dapat tidak berdampak pada dorongan bolus ke
faring.95 Karena ada peningkatan tekanan pada diagnosis dan terapi pada disfungsi laring,
beberapa alat digunakan untuk mengukurkekuatan lidah dan tekanan yang dikeluarkan. Ini
melibatkan Iowa Oral Performance Instrument (IOPI), Tounge Force Measurment System
(TOMS), Kay Elemetrics Swallowing Workstation Lingual Force Transducer, dan Madison
Oral Strenghtening Therapeutic device (MOST). Sebuah penelitian kohort intervensi
prospektif pada orang yang dapat bertahan hidup setelah stroke akut, ditemukan bahwa
program latihan lidah isometrik menggunakan IOPI efektif untuk meningkatkan tekanan
isometrik dari lidah anterior dan posterior, meningkatkan tekanan maksimal dari menelan,
secara signifikan menurunkan sisa bolus, dan memperbaiki nilai dari penetrasi-aspirasi.96
Meskipun memiliki hasil yang positif dari penggunaan RMG, SENM, dan program
latihan lidah isometrik, penelitian harus tetap dilanjutkan untuk memenuhi terapi yang efektif
pada pasien pasca stroke. Bagaimanapun juga, hasil positif ini cukup menjanjikan pada EMG
dan program latihan lidah isometrik. Tindakan ini mempunyai peran penting dalam terapi
kombinasi dengan terapi tradisional untuk merehabilitasi disfagia.