Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ Psikologi Perkembangan
Moral”.
Dalam meyelesaikan makalah ini kami telah berusaha untuk mencapai hasil yang
maksimum, tetapi dengan keterbatasan wawasan pengetahuan, pengalaman dan kemampuan yang
kami miliki, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari sempurna.
Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu,
pada kesempatan kali ini kami ingin menyampaikan terima kasih kepada dosen pembimbing mata
kuliah filsafat pendidikan islam dan teman-teman yang bekerjesama untuk menyelesaikan
makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, kami mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan dan sempurnanya makalah ini sehingga
dapat bermanfaat bagi para pembaca.

CURUP, Desember 2009

Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Depan ………………………………………………………… i
Kata Pengantar …………………………………………………………. ii
Daftar Isi ……………………………………………………………….. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang …………………………………………. ..................1
1.2 Perumusan Masalah ……………………………………. ..................1
1.3 Tujuan ………………………………………………….. ..................1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Perkembangan Moral .........……………………………...2
2.2 Teori Perkembangan Moral...............................................…………..3
2.3 Tahap-tahap Perkembangan Moral. ..………………………………..3
2.4 Perkembangan Moral pada Anak ……………………………………5
2.5 Perkembangan Moral pada Remaja………………………………….7
BAB III PENUTUP
3.1 Saran …………………………………………………… …………..9
3.2 Kesimpulan …………………………………………….. …………..9
Daftar Pustaka …………………………………………………………..10
MAKALAH FILSAFAT
PENDIDIKAN ISLAM

Disusun oleh :

Dahlia
Sunsena Wati

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM


NEGERI (STAIN) CURUP
2009
BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Fenomena perkembangan abad mutakhir menghendaki adanya suatu system
pendidikan yang komprehensif. Karena perkembangan masyarakat dewasa ini
menghendaki adanya pembinaan siswa /santri yang dilaksanakan secara seimbagan
antara nilai dan sikap , pengatahuan, kecerdasan , keterampilan , kemampuan
komunikasi, dan kesadaran akan ekologi lingkungan. Dengan kata lain, seimbang
antara IPTEK (Ilmu pengetahuan dan teknologi ) dan IMTAQ (Iman dan Takwa) yakni
meliputi IQ (intelectual Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Social Quotient)
Dengan tujuan menjadikan manusia tidak hanya berintelektual tingggi, tetapi
juga memilki akhlak mulia. Maka adanya suatu penataan pendidikan islam secara
kontemporer. Maka pemakalah akan memaparkan bagaimana penataan islam secara
kontemporer pada madrasah, sekolah islam terpadu dan pesantren.
2. Rumusan masalah
Dari uraian diatas penulis mempunyai rumusan masalah yakni:
a. Bagaimana menata madrasah menurut format pendidikan islam kontemporer ?
b. Bagaimana menata sekolah islam terpadu menurut format pendidikan islam
kontemporer ?
c. Bagaimana menata pondok pesantren menurut format pendidikan islam
kontemporer ?

3. Tujuan
Tujuan Umum :
“Untuk mengetahui islam kontemporer.”
Tujuan Khusus :
1. Untuk mengidentifikasi penataan madrasah menurut format
pendidikan islam kontemporer.
2. Untuk mengetahui penataan sekolah islam terpadu menurut
format pendidikan islam kontemporer.
3. Untuk mengetahui penataan pondok pesantren menurut format
pendidikan islam kontemporer.
4. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah filsafat pendidikan
islam.

BAB II
PEMBAHASAN

Pendidikan Islam Kontemporer

1. Pondok Pesantren
Pengertian pondok pesantren terdapat berbagai variasinya, antara lain :
Pondok pesantren adalah lembaga keagamaan, yang memberikan pendidikan dan
pengajaran serta mengembangkan dan menyebarkan ilmu agama islam. 1
Pondok pesantren adalah gabungan dari pondok dan pesantren. Istilah pondok,
mungkin berasal dari kata funduk, dari bahasa arab yang berarti rumah penginapan atau hotel.
Akan tetapi di dalam pesantren indonesia, khusunya pulau jawa, lebih mirip
denganpemondokkan dalam lingkungan padepokan, yaitu perumahan sederhana yang dipetak-
petak dalam bentuk kamar-kamar yang merupakan asrama santri. 2 Sedangkan istilah pesantren
secara etimologis asalnya pe-santri-an yang berarti tempat santri. Santri atau murid
mempelajari agama dari seorang Kyai atau Syaikh di pondok pesantren.3
M Dawam Rahardjo (1995: 3) mengungkapkan bahwa pesantren adalah lembaga yang
mewujudkan proses wajah perkembangan sistem pendidikan Nasional. Secara historis
pesantren tidak hanya mengandung makna keislaman an sich, melainkan menampakkan
keaslian (indegeneous) daerah Indonesia; sebab lembaga yang serupa sudah terdapat pada
masa kekuasaan Hindu-Budha, sedangkan Islam meneruskan dan mengislamkannya. 4

1
Ridlwan Nasir, mencari tipologi format pendidikan ideal. Yogyakarta : pustaka pelajar. 2005. hal 80.
2
ibid
3
ibid
4
Sukron abdilah. Pesantren dan tantangan era modern.http//www.google.com access pada 10 desember 2009
Menurut Prof.DR.HA.Mukti Ali, bahwa pondok pesantren adalah tempat untuk
menyeleksi calon-calon ulama kyai. Perkataan ”seleksi” dipegunakann dengan pengertian
bahwa ulama atau kyai itu tidak bisa dididik, juga tidak bisa dididik oleh pondok pesantren.
Tetapi orang menjadi ulama dan kyai itu, dan pondok pesantern adalah tempat untuk
menyeleksi orang-orang yang memang sudah mempunyai bakat ulama atau kyai.5 Beberapa
tokoh islam yang merupakan keluaran dari pesantren diantaranya K.H.A.Dahlan (pendiri
Muhammadiyah), K.H.A.Hasan (tokoh Persatuan Islam), Hasyim Asy’ari (pendiri NU), H.O.S
Tjokroaminoto (pencetus SI), Muhammad Natsir (bekas Perdana menteri), Dien Syamsuddin,
Abdurrahman Wahid, Nurchalis Madjid dan yang lainnya merupakan aktor intelektual yang
dididik oleh lembaga pendidikan Islam seperti Pesantren.6

Jika mencari lembaga pendidikan yang asli Indonesia dan berakar kuat dalam
masyarakat, tentu akan menempatkan pesantren di tangga teratas. Namun, ironisnya lembaga
yang dianggap merakyat ini ternyata masih menyisakan keberbagaian masalah dan diragukan
kemampuannya dalam menjawab tantangan zaman, terutama ketika berhadapan dengan arus
modernisasi. Untuk mengubah image yang agak miring ini tentunya memerlukan proses yang
panjang dan usaha tidak begitu mudah.
Proses modernisasi telah menguatkan subjektivitas individu atas alam semesta, tradisi,
dan agama. Manusia dalam subjektivitas dengan kesadarannya dan dalam keunikannya telah
menjadi titik acuan pengertian terhadap realitas. Manusia memandang alam, sesama manusia,
dan Tuhan mengacu pada dirinya sendiri. Manusia juga menjadi bebas dalam merealisasikan
kehidupannya tanpa campur tangan kekuatan lain di luar dirinya sendiri. Modernitas sebagai
periode sejarah yang khas dan superior telah membuat orang percaya bahwa zaman modern
lebih baik, lebih maju, dan memiliki referensi kebenaran lebih banyak dari zaman sebelumnya.
Selain itu, modernitas menciptakan sikap optimisme dan berbagai kualitas positif tentang masa
depan serta kemajuan menjadi tema utama peradaban sejarah umat manusia (Fahrizal A.
Halim, 2002: 19-20). 7
Dalam tradisi pesantren terdapat kaidah hukum yang menarik untuk diresapi dan
diaplikasikan oleh pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mesti merespon tantangan dan
5
Nasir. Op. cit. 83
6
Sukron. lOc. cit
7
ibid
“kebaharuan” zaman. Kaidah itu berbunyi, “Al-Muhafadzatu ‘ala al-qadim al-ashalih wa al-
akhzu bi al-jadid al-ashlah”, artinya: melestarikan nilai-nilai Islam lama yang baik dan
mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Hal ini berarti pesantren patut memelihara nilai-
nilai tradisi yang baik sembari mencari nilai-nilai baru yang sesuai dengan konteks zaman agar
tercapai akurasi motodologis dalam mencerahkan peradaban bangsa. 8
Ulil Abshar Abdalla (2000) mengatakan bahwa jika tradisi besar Islam yang
direproduksi dan diolah kembali, umat Islam akan memeroleh keuntungan yang besar sekali,
di antaranya adalah memiliki “tradisi baru” yang lebih baik. Pesantren ketika tampil dengan
wajah baru akan menimbulkan apa yang disebut oleh Cak Nur dengan psychological striking
force (daya gugah baru). 9
Untuk itu, tidak layak kiranya jika para pengelola pesantren mengabaikan arus
modernitas sebagai penghasil nilai-nilai baru yang baik – meskipun ada sebagian yang buruk –
kalau pesantren ingin maju untuk mengimbangi perubahan zaman. Namun, jika tidak mau
maju sedikit pun di era yang serba maju ini, silahkan menutup diri dari nilai-nilai baru dan
peliharalah nilai-nilai lama yang telah ketinggalam zaman.
Persoalan ini tentu saja berkorelasi positif dengan konteks pengajaran di pesantren. Di
mana, secara tidak langsung mengharuskan adanya pembaharuan (modernisasi)-kalau boleh
dikatakan demikian-dalam pelbagai aspek pendidikan di dunia pesantren. Misalnya, mengenai
kurikulum, sarana-prasarana, tenaga administrasi, guru, manajemen (pengelolaan), sistem
evaluasi dan aspek-aspek lainnya dalam penyelenggaraan pendidikan di pesantren.
Jika aspek-aspek pendidikan seperti di atas tidak mendapatkan perhatian yang
proporsional untuk segera dimodernisasi, atau minimal disesuaikan dengan kebutuhan dan
tuntutan masyarakat, tentu akan mengancam survival pesantren di masa depan. Masyarakat
(baca: kaum muslimin Indonesia) akan semakin tidak tertarik dan lambat laun akan
meninggalkan pendidikan pesantren, kemudian lebih memilih institusi pendidikan yang lebih
menjamin kualitas output-nya.
Pada taraf ini, pesantren berhadap-hadapan dengan dilema antara tradisi dan
modernitas. Ketika pesantren tidak mau beranjak ke modernitas, dan hanya berkutat dan
mempertahankan otentisitas tradisi pengajarannya yang khas tradisional, dengan pengajaran

8
ibid
9
ibid
yang melulu bermuatan al-Qur’an dan al-Hadis serta kitab-kitab klasiknya, tanpa adanya
pembaharuan metodologis, maka selama itu pula pesantren harus siap ditinggalkan oleh
masyarakat.10
Pengajaran Islam tradisional dengan muatan-muatan yang telah disebutkan di muka,
tentu saja harus lebih dikembangkan agar penguasaan materi keagamaan anak didik (baca:
santri) dapat lebih maksimal, di samping juga perlu memasukkan materi-materi pengetahuan
non-agama dalam proses pengajaran di pesantren.11
Dengan tidak meninggalkan ciri khas lokal, pesantren juga mesti merespon
perkembangan zaman dengan cara-cara yang kreatif, inovatif, dan transformatif. Alhasil,
persoalan tantangan zaman modern yang secara realitas seakan menciptakan segala produk
yang menyibakkan tirai-tirai batas ruang dan waktu seperti dalam gejala global media
infromasi dapat dijawab secara akurat, tuntas dan tepat.
Pondok pesantren yang ideal adalah pondok pesantren yang mampu mengantisifasi
adanya pendapat yang mengatakan bahwa alumni pondok pesantren tidak berkualitas. Oleh
sebab itu, sasaran utama yang diperbaharui adalah mental, yakni mental manusia dibangun
hendaknya diganti dengan mental membangun.12 Adapun ciri mental membangun adalah :
1. sikap terbuka, kritis, suka menyelidiki, bukan mentalitas mudah menerima tradisi,
takhayul atau otoritas modern sekalipun, di samping itu juga mau di kritik.
2. melihat ke depan.
3. lebih sabar, teliti, dan lebih tahan bekerja.
4. mempunyai inisiatif dalam mempergunakan metode baru.
5. bersedia bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang lebih modern, misalnya
koperasi, perbankan, dan lainnya.13
Dengan memperbaharui mental ini, maka sudah barang tentu berakibat pembaharuan
kurikulum pondok pesantren. Karena sampai saat ini, sebagian sistem pendidikan dan
pengajaran pondok pesantren lebih banyak ditekankn pada agama, mental dan intelek.
Pendidikan berhubungan dengan ketrampilan kerja tangan belum mendapat perhatian. Oleh
sebab itu, perlu adanya peningkatan dalam memberikan pelajaran-pelajaran yang

10
ibid
11
ibid
12
Nasir, op. cit. hal 88
13
ibid
menimbulkan ketrampilan kerja tangan sehingga dapat melahirkan tenaga-tenaga produsen
bukan tenaga-tenaga konsumen. Kemudian Gus Dur berpendapat bahawa dalam melakukan
modernisasi dan dinamisasi pesantren perlu adanya langkah-langkah sebagai berikut. Pertama,
perlu adanya perbaikan keadaan di pesantren yang didasarkan pada proses regenerasi
kepemimpinan yang sehat dan kuat. Kedua, perlu adanya persyaratan yang melandasi
terjadinya proses dinamisasi tersebut.14 Oleh sebab itu usaha-usaha pembaharuan sitem
pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren hendaknya :
• Mengubah kurikulum supaya berorientasi kepada kebutuhan masyarakat.
Masyarakat indonesia kini sedang membangun dan terus akan membangun.
• Mutu guru-gurunya hendaknya ditingkatkan, juga prasarana pendidikan
diperbaharui.
• Hasil usaha pembaharuan memakan waktu panjang oleh sebab itu jangan cepat-
cepat menyimpulkan pondok pesantren tidak penting di usahakan
pembangunan dan pembaharuannya.
• Kyai sebagai pemilik dan sekaligus pemimpin pondok pesantren hendaknya
tetap terus menaruh perhatian dan sikap positif terhadap usaha pembaharuan
dan pembangunan pondok pesantren.15

2. Sekolah Islam Terpadu


Seperti diketahui khalayak umum, sekolah Islam Terpadu (IT) berbasis pada
keterpaduan antara ilmu sains dan Islam. Dalam kurikulum dicantumkan Tahfizul Qur’an atau
mata pelajaran menghafal Al Qur’an serta sisipan muatan spiritual dalam mata pelajaran
umum.16
Pendidikan tahfidzul Qur’an tradisional masih diselenggarakan oleh TPA (Taman
Pendidikan Al Qur’an).Namun seiring dengan makin tersibuknya siswa siswi SD, SMP, dan
SMA membuat mereka tak lagi sempat dan mau pergi ke TPA. Sedangkan untuk menghafal
Al Qur’an secara menyeluruh dan khusus harus dilakukan di podok pesantren yang belum
mengakomodir kebutuhan mereka memperdalam ilmu sains secara bersamaan. Sedangkan

14
Abuddin Nata,tokoh-tokoh pembaharuan pendidikan islam di indonesia.jakarta : raja grafindo persada.2005.hal
15
Nasir, loc. Cit.
16
http://dzikrina22.multiply.com/journal/item/79/79/ sekolah islam terpadu
keluarga pengafal al-qur’an di indonesia bisa dihitung dengan jari.17.
.
Lalu di tengah krisis para hafidz yang sekaligus ilmuan mulailah muncul sekolah-
sekolah Islam Terpadu yang mengakomodir pada siswa-siswi menghafal Al Qur’an sekaligus
belajar mata pelajaran sekolah pada umumnya. Memang mata pelajaran Tahfidz tidak menjadi
yang utama tapi disamakan porsinya dengan mata pelajaran lain seperti matematika, bahasa
inggris, dan IPA namun kontinuitasnya membuat mata pelajaran Tahfidzul Qur’an yang
diajarkan di sekolah menjadi penting dan berarti.Di beberapa sekolah mata pelajaran Tahfidz
diajarkan setiap hari. Setidaknya dalam 1 tahun bersekolah di TKIT siswa menghafal 1 juz
(juz 30), SDIT memasuki juz 29 dan 28 serta murojaah (mengulang kembali), dan saat SMP
dan SMA diharapkan sisiwa mampu menguasai 5 juz al-qur’an. 18
Seiring dengan berjalannya waktu dan pesatnya sekolah berbasis IT maka semakin
banyaklah penghafal Qur’an (belum taraf seluruhnya, hanya sebagian juz saja). Walaupun
begitu sekolah IT mampu mengembalikan budaya menghafal Al Qur’an di tengah masyarakat
Indonesia yang lebih mengutamakan dan menghargai pendidikan akademis. Semisal kita
hitung ada 30 sekolah islam terpadu yang lulusannya mampu mengusai 1 juz (juz 30 saja)
maka akan memberi kontribusi 900 penghafal Al Qur’an per tahun (1 sekolah diasumsi
meluluskan setidaknya 30 siswa setiap tahun).19

Sayangnya kebanyakan siswa sekolah IT tak melanjutkan jenjang yang lebih tinggi di
sekolah yang sama, ada yang memilih sekolah negeri karena dipandang lebih memiliki
prospek ke depan. Siswa yang meninggalkan bangku sekolah IT memiliki kesulitan dalam
memelihara hafalannya karena budaya menghafal al qur’an tidak di bawa ke rumah rumah
mereka. Maka tak heran banyak siswa lulusan IT yang menurun jumlah hafalannya padahal
pernah menguasai 5 juz lancar diluar kepala.

Terlepas dari hal itu kita harus mengakui pentingnya sekolah IT dalam membumikan Al
Qur’an di Indonesia. Perannya sebagai lembaga sekolah formal yang diakui pemerintah dalam
hal mutu juga patut menjadi pelajaran bagi sekolah sekolah islam pada umumnya. Dalam
17
ibid
18
ibid
19
ibid
menghadapi era global tentu kebutuhan akan ilmuan yang tak hanya pandai dalam hal
akademis tapi juga dalam akhlaq dan spiritualitasnya menjadi kebutuhan yang pokok. Karena
teknologi yang berkembang sedemikian pesatnya takkan mampu mengubah peradaban
manusia menjadi lebih baik tanpa individu-individu yang memiliki keterpaduan pengetahuan
sains dan Islam.
3. Madrasah

Madrasah adalah tempat pendidikan yang memberikan pedidikan dan pengajaran yang
berada di bawah naungan Departemen Agama. Yang temasuk kedalam kategori madrasah ini
adalah lembaga ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, Mu’allimin, Mu;allimat serya diniyyah.
Madrasah tidak lain adalah kata Arab untuk sekolah, artinya tempat belajar. Istilah
madrasah ditanah Arab ditujukan untuk semua sekolah secara umum, namun di indonesia
ditukan untuk sekolah-sekolah islam yang mata pelajaran utamanya adalah mata pelajaran
agama islam. Lahirnya lembaga ini merupakan kelanjutan sistem di dunia pesantren yang di
dalamnya terdapat unsur-unsur pokok dari suatu psantren. Sedangkan pada sistem madrasah,
tidak harus ada pondok, masjid dan pengajian kitab-kitab islam klasik. Unsur-unsur yang
diutamakan di madrasah adalah pimpinan, guru, siswa, perangkat keras, perangkat lunak, dan
pengajaran mata pelajaran islam.
Lahirnya lembaga ini merupakan kelanjutan sistem pendidikan pesantern gaya lama,
yang dimodifikasikan menurut model penyelenggaraan sekolah-sekolah umum dengan sistem
klasikal. Di samping memberikan pengetahuan agama, diberikan juga pengetahuan umum
sebagai pelengkap. Inilah ciri madrasah pada mula berdirinya di indonesia sekitar akhir abad
ke-19 atau awal abad ke-20. sesuai denagn falsafah Negara Indonesia, maka dasar pendididkan
madrasah adlah ajaran agama islam, falsafah Negara pancasila dan UUD 1945.20
Bertitik tolak dari prinsipmadrasah ini, maka pendidikan dan pengajarannya diarahkan
untuk membentuk manusia pembangunan yang pancasilais yang sehat jasmani dan rohani,
memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kreatifitas dan penuh
tenggang rasa, dapat menyburkan sikap demokrasi, dan dapat mengembagkan kecerdasan
yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama
manusia sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam UUD 1945.

20
Nasir, loc.cit
Pada masa awal berdirinya, sebagian beasar madrasah di indonesia masih lebih banyak
memberikan ilmu-ilmu keagamaan daripada ilmu-ilmu umum, namun terjadilah perubahan
yaitu setelah keluarnya surat keputusan bersama tiga menteri (SKB 3) yaitu menteri Agama,
menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan menteri Dalam Negeri. Maka semua madrasah
mengubah kurikulumnyamenjadi 30 % bidang studi agama dan 70 % bidang studi umum. Hal
tersebut belaku bagi madrasah yang dikelola oleh departemen Agama dalam hal ii madrasah
negeri, sedangkan madrasah swasta ada beberapa variasi yakni 60 % bidang agama dan 40 %
bidang studi umum.dan ada juaga yang masih tetap yakni 70 % bidang studi agama dan 30 %
bidang studi umum.21 Agar mata pelajaran umum dimadrsah mencapai tingkat yang sama
dengan tingkat mata pelajaran umum disekolah umum, dilakukan peningkatan di bidang :
• Kurikulum
• Buku pelajaran, alat pendidikan lainnya dan sarana pendidikan
umumnya.
• Pengajar.22

Dengan demikian berarti:


a. Eksistensi madrasah sebagai lembaga pendidikan islam menjadi mantap
dan kuat.
b. Pengetahuan umum pada madrasah akan lebih baik.
c. Fasilitas fisik dan peralatan akan lebih disempurnakan.
d. Adanya civil effect dan terhadap ijazah madrasah.
Adapun beberapa cirri dari madrasah adalah :
• Lembaga pendidikan yang mempunyai tata cara yang sama denagn sekolah.
• Mata pelajaran agama islam di madrasah dijadiakan mata pelajaran pokok, di
samping diberikan mata pelajaran umum.
Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan madrasah pemerintah memberi bantuan :
a. Di bidang pengajaran umum
Pengadaan buku-buku pelajaran pokok dan alat-alat pendidikan lainnya.
b. Di bidang pengajaran
21
ibid
22
ibid
Penataran dan perbantuan ngajar.
c. Di bidang sarana fisik
Pembangunan gedung sekolah.23
Menurut Mahmud Yunus sebuah madrasah harus memenuhi tujuan pendidikan islam,
terlihat pada gagasannya yang menghendaki agar lulusan dari madrasah tidak kalah dengan
lulusan penddidikan yang belajar disekolah-sekolah yang sudah maju, bahkan lulusan
pendidikan dari madrasah tersebut mutunya lebih baaik dari lulusan sekolah-sekolah yang
sudah maju. Yaitu, lulusan yang selain dalam bidang ilmu-ilmu umum, juga memiliki
wawasan kepribadian islami yang kuat. Dengan cara demikian para peserta didik dapat meraih
dua kebahagiaan secara seimbang, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat.24

BAB III
PENUTUP
• Kesimpulan dan Saran
Pada penataan pondok pesantren hendaknya :
• Mengubah kurikulum supaya berorientasi kepada kebutuhan masyarakat.
Masyarakat indonesia kini sedang membangun dan terus akan membangun.
• Mutu guru-gurunya hendaknya ditingkatkan, juga prasarana pendidikan
diperbaharui.
• Hasil usaha pembaharuan memakan waktu panjang oleh sebab itu jangan cepat-
cepat menyimpulkan pondok pesantren tidak penting di usahakan
pembangunan dan pembaharuannya.
• Kyai sebagai pemilik dan sekaligus pemimpin pondok pesantren hendaknya
tetap terus menaruh perhatian dan sikap positif terhadap usaha pembaharuan
dan pembangunan pondokk pesantren.
Pada penataan madrasah hendaknya dilakukan peningkatan yang disesuaikan dengan
kebutuhan zaman supaya peserta didiknya tidak hanya memiliki ilmu pengetahuan dibidang

23
ibid
24
Azyumardi. Loc. cit.
agama tetapi juga bidang pengahuan umum yang kedudukan dan fungsinya sama dengan
pendidikan agama untuk itu, hendaknya peningkatan pada bidang:
• Kurikulum
• Buku pelajaran, alat pendidikan lainnya dan sarana pendidikan
umumnya.
• Pengajar

REFERENSI

Abdushomad,adib.2005. mencari tipologi format pendidikan ideal. Yogyakarta : pustaka


pelajar.