Anda di halaman 1dari 12

A.

Pendahuluan

Pada dasarnya agama tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan manusia, karena
bagaimana juga manusia membutuhkan kontrol diri dan pengawasan agama. Hadirnya
agama sangat berperan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat
yang tidak bisa dipecahkan secara empiris dengan adanya keterbatasan kemampuan dan
ketidak pastian dari manusia.
Menurut Hendro Puspito, fungsi agama itu adalah penyelamatan, pengawasan
sosial, dan memupuk persaudaraan. Oleh karna itu, jika fungsi agama berjalan dengan
baik, masyarakat dapat merasa aman,stabil dan sejahtera. Namun, karena agama yang di
anut oleh manusia tidak hanya satu, maka tentu saja klaim kebenaran masing-masing
agama yang di anut setiap orang akan muncul ke permukaan. Jika klaim itu dihadapkan
pada penganut agama lain, maka sudah dapat di duga akan terjadi benturan antar
penganut agama.
B. Pengertian Agama
Menurut Hendro Puspito ,agama adalah suatu jenis sistem social yang dibuat oleh
penganut penganutnya yang berproses pada kekuatan-kekuatan non-empiris yang
dipercayainya dan didayagunakannya untuk mencapai keselamatan bagi mereka dan
masyarakat luas umumnya. Dalam kamus sosiologi, pengertian agama ada tiga macam,
yaitu
(1) kepercayaan pada hal-hal yang spiritual
(2) perangkat kepercayaan dan praktik-praktik spiritual yang di anggap sebagai tujuan
tersendiri.
(3) idiologi dalam hal-hal yang bersifat supranatural.
Sementara itu, menurut Thomas F. ODea mengatakan bahwa agama adalah
pendayagunaan sarana-sarana supra-empiris untuk maksud-maksud non-empiris atau
supra-empiris.1Dari beberapa definisi di atas, jelas tergambar bahwa agama suatu hal
yang dijadikan sandaran penganutnya ketika terjadi hah-hal yang berada di luar
1

Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000, hlm 129

jangkauan dan kemampuannya karena sifatnya yang supra-natural sehingga diharapkan


dapat mengatasi masalah-masalah yang non-empiris.
Banyak definisi yang bias di jadikan pengertian dari agama itu sendiri. Dengan
singkat definisi agama menurut sosiologi adalah definisi yang empiris. Sosiologi tidak
pernah memberikan definisi agama yang evaluative. Sosiologi angkat tangan mengenai
hakikat agama, baik dan buruknya agama dan agama-agama yang tengah diamatinya.2
Agama dipandang oleh penganutnya sebagai sumber moral dan nilai. Sementara
disisi lain dianggap sebagai sumber konflik. Sebagaimana pendapat Jhon Efendi bahwa
agama pada suatu waktu memproklamasikan kedamaian, jalan menuju keselamatan,
persatuan, dan persaudaraan, namun pada waktu rang lain menampakkan sebagai suatu
yang di anggap menyebar konflik.
B.

Agama dan Keragaman Sosial


Dalam konteks hidup bermasyarakat, keragaman sosial atau yang sering disebut

dengan pluralisme, seringkali menjadi persoalan sosial yang dapat mengganggu integritas
masyarakat. Beberapa pandangan menunjukkan, pluralisme dipahami sebagai salah-satu
faktor yang menimbulkan konflik-konflik sosial, baik bertolak demi satu kepentingan
keagamaan yang sempit, maupun bertolak dari supremasi budaya kelompok masyarakat
tertentu. Pandangan demikian ada benarnya, karena di banyak negara terjadi kasus
kekerasan masa yang dilatarbelakangi oleh persoalan-persoalan pluralisme ini. Dalam
kehidupan moderen sekarang ini, masalah pluralisme harus mendapat perhatian yang
serius.
Keragaman sosial, baik dalam kelompok budaya maupun pemikiran (perbedaan
pendapat) adalah bagian dari sunnah Allah Bahkan dapat dikatakan, bahwa kehidupan
ini ada karena dibangun di atas keragaman. Oleh karena itu penyelesaian implikasi
negatif dari pluralisme tidak mungkin mengingkari pluralisme itu sendiri. Tetapi yang
harus dilakukan adalah membangun pemahaman yang utuh dan mengembangkan sikap

http://zahrinalia.wordpress.com/2013/01/22/4 -agama dan masyarakat

arif dalam menyikapi perbedaan. Sehingga perbedaan akan menjadi kekuatan yang
sinergis, saling mengisi dan melengkapi dalam membangun peradaban masa depan.
Sikap agama terhadap pluralisme sangat jelas. Ajaran Islam mengakui adanya
pluralisme dalam berbagai aspek. Bahkan memberikan krangka sikap etis yang tegas. AlQuran sendiri menyatakan secara eksplisit, bahwa sengaja manusia diciptakan
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar merka saling mengenal dan menghargai. AlQuran juga menyatakan bahwa perbedaan warna kulit dan bangsa harus diterima sebagai
kenyataaan yang positif, yang merupakan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah.
Dalam ayat lain ditegaskan, tentang kemajemukan pandangan dan cara hidup diantara
manusia yang tidak perlu menimbulkan kegusaran, akan tetapi hendaknya dipahami.
Sebagai pangkal tolak dorongan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, karena tuhan
sendirilah yang akan menerangkan sebab-sebab manusia berbeda nanti ketika kita
kembali kepada Nya.
Pengakuan ajaran Islam secara positif terhadap keagamaan tersebut dilanjutkan
dengan penjelasan sikap etis yang harus dikembangkan untuk mengeliminir implikasi
negatifnya. Hal demikian dapat dilihat penegasan al Quran yang perlu mencari titik temu
dalam menghadapi pluralisme. Sikap toleransi ini dalam sejarah dakwah Nabi pernah
dicontohkan dengan jelas, ketika berhadapan dengan kelompok lain di Madinah.
Menghadapi pluralistik masyarakat Madinah ini Nabi berusaha mencari titik temu
berbagai golongan dengan terlebih dahulu mengakui eksistensi mereka. Keterangan
demikian dapat dikaji dalam dokumen yang populer disebut Konstitusi Madinah
Sunnah demikian lalu diteruskan oleh khalifah Umar r.a. dalam menghadapi penduduk
Yerussalem yang kemudian dikenal sebagai Piagam Aelia
Agama-agama lain, misalnya dalam Kristen, terdapat kecenderungan pemikiran
yang sama dalam menghadapi persoalan pluralisme. Sebelumnya terdapat persoalan
teologis yang menjadi kendala utama dalam pengembangan dialog antaragama lain.
Persoalan tersebut berhubungan dengan ajaran Sateriologi (tentang konsep
keselamatan di luar kristus) Sebelum konselin Vatikan II, terdapat penafsiran yang salah
tentang kalimat extra ecelisian nulla salus (di luar gereja tidak memperoleh

keselamatan). Dengan diterbitkannya naskah Nostra Aetate, gereja katholik Roma


mengakui eksistensi agama-agama lain.
Dilihat dari prespektif teologi agama-agama terhadap pengakuan yang positif
terhadap pluralisme, sehingga terdapat titik singgung yang dipertemukan. Tetapi
persoalan yang seringkali timbul dan menyebabkan dialog agama-agama mengalami
hambatan lebih banyak berkaitan dengan persoalan interpretasi. Interpretasi ajaran-ajaran
agama seringkali mengarah kepada klaim kebenaran yang mutlak. Apalagi ketika
dimanfaatkan oleh kepentingan subyektif.
Dalam rangka kontekstualisasi agama, interpretasi menjadi satu kebutuhan yang
mendesak yaitu upaya pemakaian doktrin-doktrin agama yang lebih demokratis
disamping pendewasaan sikap keberagamaan. Sikap demokratis akan tercermin sebagai
kearifan dalam menafsirkan ajaran agama, serta pengembangan sikap eksternal ketika
berhadapan dengan pemeluk-pemeluk agama lain. Sikap semacam inilah yang oleh
Nurcholis Majid disebud dengan cara beragama al hanifiyyah al samhah, yaitu sikap
beragama yang lapang dan terbuka.
Dalam kehidupan kebangsaan Indonesia yang ditandai adanya pluralisme agama,
sikap demokratis tersebut diatas perlu dikembangkan. Upaya penghapusan konflikkonflik dan kekerasan antar agama menuju kehidupan bersama yang damai. Upaya ini
dapat dilakukan dengan pola mengembangkan beragama dan menyelesaikan persoalanpersoalan kemanusiaan universal dari prespektis agama.
Dengan demikian, keragaman masyarakat khususnya aspek agama tidak lagi dilihat
sebagai ancaman, tetapi sebagai potensi untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Dalam kehidupan demokrasi, sebagaimana dalam pandangan teori struktur sosial,
pluralisme justru sangat diperlukan sebagai salah satu prasyarat bagi tumbuhnya
demokrasi dalam masyarakat modern. Dan dilihat dari sudut pandang ini, Indonesia
mempunyai potensi besar untuk berkembang menjadi masyarakat moderen yang
demokratis dan religius.
C. Agama dan Indikasi Konflik

Dalam wacana, teori konflik beranggapan bahwa bahwa masyarakat adalah suatu
keadaan konflik yang berkesinambungan diantara kelompok dan kelas serta cenderung
kearah perselisian, ketegangan. dan perubahan. Masyarakat menjadi lahan untuk
menumbuhkan konflik. Diantara factor yang mempengaruhi kearah itu bias bermacammacam, diantaranya, factor ekonomi, factor social, factor politik, dan factor agama.
Pada dasarnya, apabila dilihat atau merujuk dari Al-Quran, bahwa indikasi
yangmenjelaskan adanya factor konflik yang ada di masyarakat. Secara tegas Al-Quran
menyebutkan telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan
tangan manusia. Seperti dalam surat Al-Rum ayat 41:

telah tampakkerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan


tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).
Ayat ini bisa dijadikan argumentasi bahwa penyebar konflik sesungguhnya adalah
manusia itu sendiri. Oleh karena itu, dalam pembahasan ini akan melihat dari segi
penganut agamanya, bukan agamanya. Penganut suatu agama adalah manusia, dan
manusia adalah sebagian dari masyarakat. Oleh karena itu, benar bahwa masyarakat akan
menjadi lahan adanya konflik.
Mengapa pembicaraan ini dimulai dari penganut agamanya. Penganut agama adalah
orang yang meyakini dan mempercai suatu ajaran agama. Keyakinannya itu akan
melahirkan bentuk perbuatan baik dan buruk, dan dalam term islam disebut amal
perbuatan. Darimana mereka meyakini bahwa suatu perbuatan itu baik atau buruk.
Keyakinan ini dimiliki dari rangkaian proses memahami dan mempelajari ajaran agama
itu. Oleh karena itu, setiap penganut akan berbeda dan memiliki kadar interprestasi yang
bergam dalam memahami ajaran agamanya, sesuai dengan kemampuannya masingmasing. Akibat perbedaan pemahaman itu saja, cikal bakal konflik tidak bisa dihindarkan
. Dengan demikian, pada sisi ini agama memiliki potensi yang dapat melahirkan berbagai

bentuk konflik. Konflik seperti ini adalah konflik intra agama atau disebut juga konflik
antar mazhab, yang diakibatkan oleh perbedaan pemahaman terhadap ajaran agama.
Konflik social bisa dikatakan telah setua peradaban manusia itu sendiri. Setiap
benturan antar kepentingan terjadi, disitulah muncul peluang konflik sosial. Banyak pakar
ilmu social telah mengulas masalah konflik social ini berdasarkan sudut pandang yang
beragam. Agus Maladi Irianto dan Mudjahirin Thohir dalam penelitiannya yang
dibukukan dengan judul Membangun Rasa damai di Atas Bara mengklasifikasikan
konflik sosial di Indonesia menjadi dua tipe, yaitu konflik vertical dan horizonta.l3 Kedua
tipe ini bisa berjalan sendiri-sendiri , namun terkadang juga bisa saling terkait. Konflik
vertical dan horizontal dapat terjadi atas dua alasan. Pertama, ketidakmampuan Negara
mengelola berbagai kepentingan masyarakat Indonesia yang majemuk. Kedua,
keterlibatan Negara (pemerintah) bersikap berat sebelah dalam rangka memaknai
konstalasi kepentingan mereka ketika berlawanan dengan kepentingan publik. Sebagai
contoh yang diangkat dalam penelitian ini adalah di daerah Pekalongan dan Semarang.
Meskipun sama-sama daerah pesisir, namun menunjukkan tipe konflik yang berbeda. Di
Pekalongan terjadi konflik terbuka karena kebudayaan dominan (kebudayaan pesisir)
tersosialisasi dalam kehidupan kewirausahaan dan militansi keislaman yang egalitarian.
Ketika pranata yang berdasarkan pada watak kewirausahaan dan keislaman diusik, maka
dengan mudah mengemulsi dan mengukuhkan emosionalitas massa untuk melawan.
Perlawanan ini dikeams dalam idiom jihad, yang merupakan aba-aba untuk melawan
penguasa yang lalim (yang dalam kasus ini dialamatkan kepada partai tertentu yang
menjadi penguasa).
Para ahli teori konflik lebih lanjut berpendapat bahwa konflik terjadi diantara
organisasi. Dengan kata lain, organisasi-organisasi berusaha menggunakan kekuatan
mereka untuk meraup keuntungan sendiri. Gejala-gejala yang menyebabkan terjadinya
konflik, yakni:

http://abdulwahidilyas.wordpress.com/2010/08/26/agama-dan-konflik-sosial

1. Ketidaksefahaman (lagi) pada anggota kelompok tentang tujuan masyarakat yang


semula menjadi pegangan kelompok.
2. Norma-norma sosial tidak membantu anggota masyarakat lagi dalam mencapai tujuan
yang telah disepakatinya.
3. Norma-norma dalam kelompok dan yang dihayati oleh anggotanya bertentangan satu
sama lain.
4. Sanksi sudah menjadi lemah bahkan tidak lagi dilaksanakan dengan konsukuen.
5. Tindakan anggota masyarakat sudah bertentagan dengan norma-norma kelompok.
Pada dasarnya masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk. Marilah pertama
kali kita mengingat kembali beberapa karakteristik yang dapat kita kenali sebagai sifat
dasar dari suatu masyarakat majemuk sebagaimana yang dikemukakan oleh Van Den
Berghe, yakni:
1. Terjadinya segmentasi ke dalam bentuk kelompok-kelompok yang seringkali memiliki
kebudayaan, atau lebih tepat subkebudayaan, yang berbeda satu sama lain.
2. Memiliki struktur social yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat
non komplementer.
3. Kurang mengembangkan konsensus di antara para anggota masyarakat tentang nilainilai sosial bersifat dasar.
4. Secara relatif seringkali terjadi konflik di antara kelompok satu dengan kelompok yang
lain.
5. Secara relatif integrasi social tumbuh di atas paksaan (coercion) dan saling
ketergantungan didalam ekonomi.
6. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok-kelompok lain.4

D. Cara Penyelesaian Konflik

http://fahmi4h3.blogspot.com/2013/04/sara-agama-dan-konflik-sosial.html

Pada sisi ini dirasakan perlunya memandang istilah toleransi beragama. Sebab,
setiap agama mengajarkan kasih sayang dan toleransi . sebenarnya, cara pemahaman dan
pengamalan para penganut ini yang sering kali membuat ajaran tersebut menjadi kabur.
Di bawah ini ada beberapa penting dan stategis untuk memupuk jiwa toleransi beragama
dan membudayakan hidup rukun antar umat beragama. Langkah-langka berikut paling
tidak aakan meminimalkan kalau tidak bisa menghilanngkan konflik agama. Langkahlangkah tersebut ialah:
1. Menonjolkan segi-segi persamaan beragama, tidak memperdebatkan segi-segi
perbedaan dalam beragama
2. Melakukan kegiatan sosial yang melibatkan para pemeluk agama yanng bebeda.
3. Mengubah orientasi pendidikan agama yang menekankan aspek sektoral fiqhiyah
menjadi pendidikan agama yang beroriantasi pada pengembangan aspek
universal-rabbaniyah.
4. Meningkatkan pembinaan individu yng mengarah kepada terbentuknya pribadi
yang memiliki budipekerti yang luhur dan berakhlakul karimah
5. Menghindari jauh-jauh sikap egoisme dalam beragama sehingga mengklaim diri
yang paling benar.

E. Kesimpulan
Berbagai persoalan yang berkaitan dengan agama sesungguhnya bukan karena
agama yang gagal dalam mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan manusia, tetapi para
pemeluk agamalah yang gagal dalam memahami dan memaknai agama yang dianutnya.
Selanjutnya untuk melihat lebih objektif terhadap berbagai persoalan yang berkaitan
dengan agama, maka agama harus dilihat dari dua dimensi. Pertama, agama sebagai
sebuah keyakinan yang dianut oleh sekelompok orang, baik secara individual maupun
kelompok. Kedua, agama sebagai sebuah fenomena sosial. Agama sebagai sebuah
keyakinan, akidah kemudian direduksi sebagai sebuah fenomena sosial. Kalau itu terjadi
maka akan timbul masalah, terutama masalah interpretasi dari kalangan yang berasal dari
luar lingkungan sebuah agama. Sebaliknya juga agama sebagai sebuah fenomena sosial
kemudian diinterpretasi sebagai doktrin agama itu sendiri sehingga timbul tudingan
agama sebagai penyebab kerusuhan.

DARTAR PUSTAKA

Kahmad Dadang, Sosiologi Agama, PT.Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000.


http://zahrinalia.wordpress.com/2013/01/22/4 -agama dan masyarakat
http://fahmi4h3.blogspot.com/2013/04/sara-agama-dan-konflik-sosial.html

AGAMA DAN KONFLIK SOSIAL


Memenuhi Tugas Makalah ini Disusun Guna
Mata Kuliah Sosiologi Agama
Dosen Pengampu: Ahmad Abbas Mustofa M. Ag

Disusun Oleh: Kelompok IV

Miftahus Solihah

PRODI ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR


JURUSAN USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU
2013